Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH ALAT UKUR FISIKA

“Operasi Dasar CRO”


Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
dalam Mata Kuliah Alat Ukur Fisika
Dosen Pengampu: Dr. Karya Sinulingga, M.Si.

Oleh :
Kelompok 1
Mita Suryani Daulay (4193121045)
M. Ali Hamzahas (4191121016)
Putri Amaliyah (4193121019)
FISIKA DIK A 2019

PROGRAM STUDI (S1) PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga Kelompok kami sanggup menyusun
Makalah yang berjudul “Operasi Dasar CRO” ini semaksimal mungkin.
Adapun maksud kami menyusun makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada
Mata Kuliah Alat Ukur Fisika yang telah diamanahkan kepada kami. Kami juga
mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Dr. Karya Sinulingga, M.Si. selaku
Dosen Pengampu Mata Kuliah Alat Ukur Fisika ini.
Kami sadar bahwa makalah ini tentu saja tidak lepas dari banyaknya kekurangan
baik dari segi mutu maupun jumlah dari materi yang dipaparkan. Semua ini murni
didasari oleh keterbatasan yang kami miliki.
Oleh sebab itu, kami membutuhkan masukan dan kritik yang bersifat
membangun yang berasal dari semua pihak, demi perbaikan terhadap makalah
selanjutnya. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 5 November 2019


Penyusun

Kelompok I

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ......................................................................................................i
DAFTAR ISI ......................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................1
A. Latar Belakang ......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah .................................................................................................2
C. Tujuan Masalah .....................................................................................................2
BAB II PENGUKURAN ...................................................................................................3
2.1 Pengertian CRO ...............................................................................................3
2.2 Komponen Utama CRO ..................................................................................3
2.3 Prinsip Kerja CRO...........................................................................................4
2.4 Cara Penggunaan Osiloskop............................................................................5
2.5 Cara mengkalibrasi Osiloskop.........................................................................6
2.6 Pengukuran CRO .............................................................................................7

BAB III PENUTUP ...........................................................................................................8


A. Kesimpulan ............................................................................................................8
B. Saran .....................................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dalam melakukan eksperimen dibutuhkan pengukuran dan alat yang digunakan
di dalam pengukuran yang disebut alat ukur. Dalam kehidupan sehari hari, alat ukur
listrik merupakan peralatan yang diperlukan oleh manusia. Dikarenakan besaran listrik
yaitu: tegangan, arus, daya, frekuensi dan sebagainya tidak dapat kita ukur langsung
karena tidak dapat langsung ditanggapi oleh alat indra kita. Oleh karena itu besaran
listrik tersebut di transformasikan melalui fenomena fisis yang akan memungkinkan
pengamatan melalui indra kita. Proses pengukuran dalam system tenaga listrik
merupakan salah satu prosedur standar yang harus dilakukan. Dikarenakan melalui
pengukuran akan diperoleh besaran-besaran yang diperlukan, baik untuk pengambilan
keputusan instrumental control maupun hasil yang diinginkan oleh seorang user
(pengguna).
Osiloskop atau sering di sebut dengan CRO (Cathode Ray Oscilloscope =
osiloskopsinar katoda) merupakan alat ukur yang di gunakan untuk mengukur tegangan
listrik, beserta frekuensi dan fasenya, sekaligus menampilkan bentuk sinyal dari
tegangan tersebut. Multimeter dapat juga di gunakan untuk mengukur tegangan , namun
tidak dapat di pakai untuk mengamati dari sinyal tegangan. Di sinilah keunggulan
penggunaan CRO dibanding multimeter. Namun yang harus di perhatikan, nilai
tegangan yang terukur oleh multimeter merupakan nilai efektifnya (Veff), sedangkan
nilai tegangan yang terukur dari CRO merupakan nilai puncak (Vpeak), di mana
Vpeak=√2 Veff . Pada dasarnya, CRO merupakan pengeplot (plotter) yang menampilkan
bentuk sinyal terhadap waktu (untuk single trace) atau terhadap sinyal lain (untuk dual
trace). Karna menampilkan bentuk sinyal terhadap waktu, maka osiloskop pada
umumnya di pakai untuk mengamati watak dinamis dari suatu sinyal tegangan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu CRO(Cathode Ray Osscilloscope)?
2. Apa saja komponen utama CRO?
3. Bagaimana prinsip kerja CRO?
4. Bagaimana cara pengoperasian CRO?
5. Bagaimana meng-kalibrasi CRO?
6. Bagaimana mengukur tegangan, arus frekuensi dan sudut fasa menggunakan
CRO?
B. Tujuan Masalah
1. Mengetahui tentang CRO(Cathode Ray Osscilloscope).
2. Mengetahui komponen utama CRO.
3. Mengetahui prinsip kerja CRO.
4. Mempelajari cara mengoperasikan osiloskop.
5. Mengetahui cara mengkalibrasi CRO.
6. Dapat mengukur tegangan, arus frekuensi dan sudut fasa menggunakan CRO

2
BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Pengertian Cathode Ray Oscilloscope (CRO)

Osiloskop sinarkatoda (cathode ray oscilloscope atau CRO) adalah instrument


laboratorium yang sangat bermanfaat dan digunakan untuk pengukuran dan analisa
bentuk-bentuk gelombang dan gejala lain dalam rangkaian-rangkaian elektronik. Pada
dasarnya CRO adalah alat pembuat grafik atau gambar (plotter) X-Y yang sangat cepat
yang memperagakan sebuah sinyal masukkan terhadap sinyal lain atau terhadap waktu.
Plotter ini adalah sebuah bintikcahaya yang bergerak melalui permukaan layar dalam
memberitanggapan terhadap tegangan-tegangan masukkan.
Didalam pemakaian CRO yang biasa, sumbu X atau masukan horizontal adalah
tegangan tanjak (ramp voltage) linear yang dibangkitkan secara internal, atau basis
waktu yang secara periodic menggerakkan bintik cahaya dari kiri kekanan melalui
permukaan layar. Tegangan yang akan diperiksa dimasukkan kesumbu Y atau masukan
vertical CRO, menggerakkan bintik dari atas kebawah sesuai dengan nilai sesaat
tegangan masuk berulang dengan laju yang cukup cepat, gambar akan terlihat sebagai
sebuah pola yang diam pada layar. Dengan demikian CRO melengkapi suatu cara
pengamatan tegangan yang berubah terhadap waktu.
Disamping tegangan, CRO dapat menyajikan gambaran visual dari berbagai
fenomena dinamik melalui pemakaian transducer yang mengubaharus, tekanan,
regangan, temperature, percepatan, dan banyak besaran fisislainnya menjadi tegangan.
CRO digunakan untuk menyelidiki bentuk gelombang, peristiwa transien dan
frekuensi yang sangat tinggi. Pencatatan kejadian ini dapat dilakukan oleh kamera
khusus yang ditempelkanke CRO guna penafsiran kuantitatif.

2.2 Komponen utama CRO


a) Tabung Sinar Katoda (Chatoda Ray Tube) atau CRT.
b) Penguat vertikal (vertical amplifier).
c) Saluran tunda ( Delay line).
d) Generator basis waktu (time base generator)
e) Penguat Horizontal (Horizontal Amplifier).
f) Rangkaian pemicu ( Trigger circuit)

3
g) Sumber Daya ( Power Suplay)

2.3 Prinsip kerja CRO


Prinsip kerja osiloskop yaitu menggunakan layar katoda. Dalam osiloskop
terdapat tabung panjang yang disebut tabung sinar katode atau Cathode Ray Tube
(CRT). Secara prinsip kerjanya ada dua tipe osiloskop, yakni tipe analog (ART - analog
real time oscilloscope) dan tipe digital (DSO-digital storage osciloscope), masing-
masing memiliki kelebihan dan keterbatasan. Para insinyur, teknisi maupun praktisi
yang bekerja di laboratorium perlu mencermati karakter masing-masing agar dapat
memilih dengan tepat osiloskop mana yang sebaiknya digunakan dalam kasus-kasus
tertentu yang berkaitan dengan rangkaian elektronik yang sedang diperiksa atau diuji
kinerjanya.
1. Osiloskop Analog
Osiloskop analog menggunakan tegangan yang diukur untuk menggerakkan
berkas electron dalam tabung sesuai bentuk gambar yang diukur. Pada layar osiloskop
langsung ditampilkan bentuk gelombang tersebut.
Osiloskop tipe waktu nyata analog (ART) menggambar bentuk-bentuk gelombang
listrik dengan melalui gerakan pancaran elektron (electron beam) dalam sebuah tabung
sinar katoda (CRT -cathode ray tube) dari kiri ke kanan.

Osiloskop analog pada prinsipnya memiliki keunggulan seperti; harganya relatif


lebih murah daripada osiloskop digital, sifatnya yang realtime dan pengaturannya yang
mudah dilakukan karena tidak ada tundaan antara gelombang yang sedang dilihat
dengan peragaan di layar, serta mampu meragakan bentuk yang lebih baik seperti yang
diharapkan untuk melihat gelombang-gelombang yang kompleks, misalnya sinyal video
di TV dan sinyal RF yang dimodulasi amplitudo. Keterbatasanya adalah tidak dapat
menangkap bagian gelombang sebelum terjadinya event picu serta adanya kedipan
(flicker) pada layar untuk gelombang yang frekuensinya rendah (sekitar 10-20 Hz).
Keterbatasan osiloskop analog tersebut dapat diatasi oleh osiloskop digital. Sebagai
contoh keseluruhan bidang skala pada Gambar 3 dapat ditutup semua menjadi daerah
yang dapat dilihat oleh mata, misalnya dengan DSO dari Hewlett-Packard HP 54600.
Pada gambar ditunjukkan diagram blok sederhana suatu osiloskop analog.

4
2. Osiloskop Digital
Osiloskop digital mencuplik bentuk gelombang yang diukur dan dengan
menggunakan ADC (Analog to Digital Converter) untuk mengubah besaran tegangan
yang dicuplik menjadi besaran digital.
Dalam osiloskop digital, gelombang yang akan ditampilkan lebih dulu disampling
(dicuplik) dan didigitalisasikan. Osiloskop kemudian menyimpan nilai-nilai tegangan
ini bersama sama dengan skala waktu gelombangnya di memori. Pada prinsipnya,
osiloskop digital hanya mencuplik dan menyimpan demikian banyak nilai dan kemudian
berhenti. Ia mengulang proses ini lagi dan lagi sampai dihentikan. Beberapa DSO
memungkinkan untuk memilih jumlah cuplikan yang disimpan dalam memori per
akuisisi (pengambilan) gelombang yang akan diukur.
Osiloskop digital memberikan kemampuan ekstensif, kemudahan tugas-tugas
akuisisi gelombang dan pengukurannya. Penyimpanan gelombang membantu para
insinyur dan teknisi dapat menangkap dan menganalisa aktivitas sinyal yang penting.
Jika kemampuan teknik pemicuannya tinggi secara efisien dapat menemukan adanya
keanehan atau kondisi-kondisi khusus dari gelombang yang sedang diukur.

2.4 Cara Penggunaan Osiloskop


Sebelum osiloskop bisa dipakai untuk melihat sinyal maka osiloskop perlu
disetel dulu agar tidak terjadi kesalahan fatal dalam pengukuran. Langkah awal
pemakaian yaitu pengkalibrasian. Yang pertama kali harus muncul di layar adalah garis
lurus mendatar jika tidak ada sinyal masukan. Yang perlu disetel adalah fokus,
intensitas, kemiringan, x position, dan y position. Dengan menggunakan tegangan
referensi yang terdapat di osiloskop maka kita bisa melakukan pengkalibrasian
sederhana. Ada dua tegangan referensi yang bisa dijadikan acuan yaitu tegangan persegi
2 Vpp dan 0.2 Vpp dengan frekuensi 1 KHz. Setelah probe dikalibrasi maka dengan
menempelkan probe pada terminal tegangan acuan maka akan muncul tegangan persegi
pada layar. Jika yang dijadikan acuan adalah tegangan 2 Vpp maka pada posisi 1
volt/div (satu kotak vertikal mewakili tegangan 1 volt) harus terdapat nilai tegangan dari
puncak ke puncak sebanyak dua kotak dan untuk time/div 1 ms/div (satu kotak

5
horizontal mewakili waktu 1 ms) harus terdapat satu gelombang untuk satu kotak. Jika
masih belum tepat maka perlu disetel dengan potensio yang terdapat di tengah-tengah
knob pengganti Volt/div dan time/div. Atau kalau pada gambar osiloskop diatas berupa
potensio dengan label "var".
I. Pada saat menggunakan osiloskop juga perlu diperhatikan beberapa hal sebagai
berikut: Memastikan alat yang diukur dan osiloskop ditanahkan (digroundkan),
disamping untuk kemanan, hal ini juga untuk mengurangi suara dari frekuensi
radio atau jala-jala.
b) Memastikan probe dalam keadaan baik.
c) Kalibrasi tampilan bisa dilakukan dengan panel kontrol yang ada di osiloskop.
d) Tentukan skala sumbu Y (tegangan) dengan mengatur posisi tombol Volt/Div
pada posisi tertentu. Jika sinyal masukannya diperkirakan cukup besar, gunakan
skala Volt/Div yang besar. Jika sulit memperkirakan besarnya tegangan
masukan, gunakan attenuator 10 x (peredam sinyal) pada probe atau skala
Volt/Div dipasang pada posisi paling besar.
e) Tentukan skala Time/Div untuk mengatur tampilan frekuensi sinyal masukan.
f) Gunakan tombol Trigger atau hold-off untuk memperoleh sinyal keluaran yang
stabil.
g) Gunakan tombol pengatur fokus jika gambarnya kurang fokus.
h) Gunakan tombol pengatur intensitas jika gambarnya sangat/kurang terang.

2.5 Cara mengkalibrasi Osiloskop


a) Masukan Kabel Power Pada Socket In Put 220 V Yang Terdapat Pada Bagian
Belakang Osiloscope.
b) Masukan Socket Probe Osiloscope Pada Chanel 1 ( X ) atau Chanel 2 ( Y ).
c) Masukan Kabel Power ( Steker ) Pada Stop Kontak.
d) Atur MODE Pada Chanel 1 ( X ) atau Chanel 2 ( Y ).
e) Atur COUPLING Pada AC / DC & SOURCE Pada Chanel 1 ( X ) atau Chanel 2
( Y ).
f) Hidupkan Osiloscope Dengan Menekan Tombol Power & Lampu Indikatorpun
Akan Menyala.

6
g) Kalau Di Layar Osiloscope Belum Ada Tampilan Garis Horisontal Maka Atur
HOLDOFF Pada Posisi AUTO & Pada LEVEL Tombol LOCK Di Tekan.
7. Setelah Ada Tampilan Garis Horisontal Pada Layar Osiloscope Atur Focus &
Intensitas Cahaya Agar Tampilan Gelombang Enak Di Lihat.
8. Hubungkan Ujung Probe Osiloscope Pada Calibrasi ( CAL ), Maka Pada Layar
Akan Tampil Gambar Gelombang ( Gelombang Kotak ).
9. Atur Posisi Vertikal & Horisontal Gelombang Agar Mudah Dalam Melakukan
Penghitungan ( Perioda, frekuensi & Volt Peak to Peak ) Untuk PengKalibrasian
Osiloscope.
10. Atur Volt / Div Pada Posisi 1 V & Time / Div Pada 0,5 mS ( .5 mS ).
11. Tinggi Gelombang Harus 2 Div Karena Pada Kalibrasi Tercatat 2 Vpp, Kalau
Tidak Sampai 2 Vpp Atur Variable Pada Chanel 1 ( X ) atau Chanel 2 ( Y )
Untuk Mengatur Tinggi Gelombang Agar Mencapai 2 Vpp.
12. Panjang 1 Gelombang Penuh Harus 2 Div Horizontal.

2.6 Pengukuran CRO


I. Pengukuran Tegangan
a) Tegangan adalah beda potensial listrik (Volt) antara dua titik pada rangkaian,
biasanya salah satu titiknya adalah titik ground, tapi tidak selalu. Tegangan
diukur adalah tegangan puncak ke puncak (peak-to-peak)

II. Pengukuran arus


a) Untuk mengukur arus tidak dapat dilakukan secara langsung, tetapi harus
ditambahkan resistor (tahanan) yang telah diketahui nilainya, kemudian
dilakukan pengukuran tegangannya. Sesuai dengan hukum Ohm, maka dapat
dihitung nilai arusnya.
b) Pengukuran frekuensi
1
F= 𝑇

c) Pengukuran beda fasa


Φ = arc sin Vo / Vin
Dimana , Vo = Xc / (Rpot + Xc) Vin
Xc = 1 / ( 6,28 f C )

7
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengetahuan Osiloskop sangat penting untuk analisa rangkaian elektronik.
Osiloskop penting bagi para montir alat-alat listrik, para teknisi dan peneliti pada bidang
elektronika dan sains karena dengan osiloskop kita dapat mengetahui besaran-besaran
listrik dari gejala-gejala fisis yang dihasilkan oleh sebuah transducer. Para teknisi
otomotif juga memerlukan alat ini untuk mengukur getaran/vibrasi pada sebuah mesin.
Jadi dengan osiloskop kita dapat menampilkan sinyal-sinyal listrik yang berkaitan
dengan waktu. Dan banyak sekali teknologi yang berhubungan dengan sinyal-sinyal
tersebut.

Contoh kegunaan osiloskop : Mengukur besar tegangan listrik dan hubungannya


terhadap waktu, Mengukur frekuensi sinyal yang berosilasi, Mengecek jalannya suatu
sinyal pada sebuah rangakaian listrik, Membedakan arus AC dengan arus DC,
Mengecek noise pada sebuah rangkaian listrik dan hubungannya terhadap waktu.

B. Saran
Semoga makalah yang kami buat dapat memberikan manfaat pengetahuan tentang
alat ukur dalam fisika. Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam makalah ini.
Oleh karena itu, kami meminta saran dan kritik dari para pembaca untuk
penyempurnaan makalah ini.

8
DAFTAR PUSTAKA

Giancoli, C. Dougas, 1999, FISIKA EDISI KELIMA, Jakarta: Erlangga


Bueche.J Frederick, 2006, FISIKA UNIVERSITAS, Jakarta : Erlangga
Dr.Muhammad B.Pamulih Himka Prasetyo, 2005, Fisika Dasar, Jakarta : Prenada
Media
Tipler. A, paul, 1996, FISIKA UNTUK SAINS DAN TEKNIK, JILID 2, Jakarta:
Erlangga
Freedman, & Young, 2001, FISIKA UNIVERSITAS, Jakarta: Erlangga