Anda di halaman 1dari 13

Laporan Praktikum

BIOKIMIA TANAMAN
Acara II: Protein

Nama : Sufiyanti Puji Lestari


No. Mhs : 20180210133
Gol / Kel : C2 / 2
Tgl Praktikum : 30 April 2019
Assisten : Husama Allauddin, S.P
Co Assisten : Ainuddinn

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2019
Laporan Praktikum Biokimia
Acara 2. Protein

Nama : Sufiyanti Puji Lestari No. Mhs : 20180210133

Gol/Kel : C2/2 Co-ass : Ainuddin

Asisten : Husama Allauddin S.P

I. Tujuan

Menguji kandungan protein dari berbagai jenis bahan.

II. Alat dan Bahan

Alat :

Tabung reaksi Mikropipet Waterbath

Gelas ukur Beker glass Karet

Penjepit Pipit ukur Pipet tetes

Bahan :

Putih telur pekat Larutan HCL

Putih telur encer Air suling


Larutan NaOH 40%
Larutan CuSO4 1%
Larutan millon
III. Cara Kerja

Uji Biuret 1

5 ml putih telur pekat 5 ml putih telur encer

Tambahkan NaOH Masukkan kedalam


40% 8 tetes cairan pekat dan encer

Amati perubahan warna

Tambahkan CuSO Masukkan kedalam


1% 4 tetes cairan pekat dan encer

Gojok dan amati perubahan warna


Denaturasi panas dan pH

Water bath

Siapkan 3 tabung reaksi tambahkan 1N NaOH, 1N HCl masukkan kedalam waterbath


5 ml putih telur pekat dan air suling pada setiap tabung catat setiap 5 menir selama
3x yang paling cepat
menggumpal

Uji Millon

Amati warna
akhir
Tambahkan 2 ml tambahkan 5 tetes larutan millon
putih telur encer dan pekat ke kesetiap tabung, amati selama
dalam tabung 5-10 menit
IV. Hasil Pengamatan
1. Denaturasi Oleh Panas dan pH Ekstrim
No Zat Penggumpalan Pereaksi Setelah Setelah Keterangan
Awal Tengah Akhir Pendinginan Penetralan
1 Larutan + + + HCN 1 N D R Renaturasi
putih telur
pekat
2 Larutan _ + + NaOH 1 N D D Denaturasi
putih telur
pekat
3 Larutan - + + Air suling D D Denaturasi
putih telur
pekat

2. Uji Biuret
No Zat Pereaksi Pengamatan Keterangan
1 Larutan putih telur NaOH 40% Ungu pekat +++++
pekat

2 Larutan putih telur CuSO4 1% Ungu pekat +++++


encer

3. Uji Millon
No Zat Pereaksi Pengamatan Keterangan
1 Larutan putih telur Larutan Millon Merah bata / +++++
pekat 2 ml merah pekat

2 Larutan putih telur Larutan Millon Merah pudar +++


encer 2 ml
V. Dasar Teori
Protein merupakan zat makanan terkomplek yang terdiri dari karbon, hydrogen, oksigen,
nitrogen, sulfur, dan fosfor. Protein biasa disebut zat makanan yang bernitrogen karena termasuk
satu – satunya zat makanan yang mengandung nitrogen. Protein merupakan makromolekul yang
banyak yang dapat ditemui di dalam sel hidup. Dalam hal ini protein berperan penting sebagai zat
pembentuk, transport, katalisator reaksi kimia, hormone, racun, dan sebagainya. Protein memiliki
empat fungsi utama yaitu memperbaiki jaringan yang rusak untuk pertumbuhan jaringan baru,
sebagai enzim, dan sebagai hormone (Mandle, 2012). Menururt sumbernya protein dibagi menjadi
dua golongan yaitu protein nabati dan protein hewani. Protein hewani merupakan protein yang
sempurna karena memiliki kandungan asam amino lisin dan mentionin yang diperlukan dalam
pertumbuhan dan perawatan jarigan (Murtidjo, 2003). Protein hewani satu satunya dapat diperoleh
dari telu ( Watson, 2002).

Struktur protein sendiri merupakan polipeptida, dimana polipeptida merupakan hasil dari
kondensasi dua molekul asam amino. Asam amino mengandung gugus amino (-NH2) dan
karboksil (-COOH). Gugus karboksil bersifat asam karena dapat melepas proton H+, sedangkan
gugus amino bersifat basa karena dapat mengikat proton H+ menjadi NH3+. Maka dari itu, asam
amio bersifat amfoter, dan dalam larutan asam amino membentu ion zwitter (bermuatan ganda).
Pada sintesis kimianya protein pendek dapat disintesis dengan metode sintesis peptide, dimana
untur utamanya menggunakan sintesis organi tekni seperti ligase kimia untuk menghasilkan
peptida dalam hasil yang tinggi. Kimia sintesis ini memungkinkan asam amino non alami menjadi
rantai polipeptida. Sintesis kimia tidak efektif tidak efisien untuk polipeptida lebih dari sekitar 300
asam amino, dan protein menganggap sebagian struktur tersier. Sebagian besar metode sintesis
kimia melanjutkan dari C-terminus N-terminus, sebaliknya reaksi biologis.

Denaturasi protein merupakan perubahan struktur protein akibat pengaruh dari perubahan
suhu, perubahan pH, radiasi, deterjen, dan perubahan jenis pelarut, Protein yang terdenaturasi
hampir seluruhnya mengalami kehilangan fungsi biologis. Sifat protein sangat mudah diketahui
apabila larutan protein secara perlahan dipanaskan hingga mencapai 60 sampai 700C, larutan
tersebut akana menjadi keruh dan membentuk koagulasi berbentuk seperti tali. Produk yang terjadi
tidak akan melarut lagi dengan pendinginan dan tidak membentuk menjadi larutan jernih seperti
semula sebelum dipanaskan. Pengaruh panas tersebut terjadi pada semua protein globular, protein
dalam keadaan alamiahnya disebut protein asli; setelah perubahan menjadi protein terdenaturasi.
Denaturasi merupakan suatu proses dimana terjadi perubahan atau modifikasi terhadap konfirmasi
protein, atau lebih tepatnya terjadi pada struktur tersier maupun kuartenerr dari protein. Penyebab
dari denaturasi sendiri antara lain panas, alcohol, asam, basa, maupun logam berat. Suatu protein
yang terdenaturasi biasanya mengalami pembukaan lipatan pada bagian tertentu, protein juga akan
berkurang larutannya (Estiasih, 2016). Lapisan molekul yang bagian hidrofobik akan mengalami
perubahan posisi dari dalam ke luar, begitupun sebaliknya. Hal itu yang menyebabkan perubahan
kelarutan pada suatu larutan protein.

Menurut Lehninger (1982), ada beberapa metode pengujian protein yaitu :

1. Uji biuret adalah salah satu cara pengujian yang memberikan hasil positif pada senyawa-
senyawa yang memiliki ikatan peptide. Pengujiannya dapat dilakukan dengan cara berikut :
larutan yang mengandung protein ditetesi larutan NaOH, kemudian diberi beberapa tetes
larutan CuSO4 encer. Terbentuknya warna ungu menunjukan hasil positif adanya protein.
2. Uji Xantoprotein, pengujian yang memberikan hasil positif terhadap asam amino yang
mengandung cincin benzene, seperti fenilalanin, tirosin, dan triptofan.
3. Uji Millon, pengujian ini memberikan hasil positif terhadap protein yang mengandung asam
amino yang memiliki gugus fenol, misalnya tirosin. Pereaksi millon terdiri atas larutan
merkuro nitrat dan merkuri nitrrat salam asam nitrat. Protein dengan pereaksi Millon akan
membentuk endapan putih, dan jika dipanaskan warnanya berubah menjadi merah.
VI. Pembahasan
Pada praktikum protein kali ini dilakukan beberapa pengujian pada protein, diantaranya
adalah menggunakan uji biuret I, uji millon, dan denaturasi oleh panas dan pH ekstrim dengan
tujuan mengetahui ada tidaknya denaturasi yang terjadi pada kandungan protein pada bahan yang
diujikan. Sampel yang diujikan yaitu 5 ml putih telur pekat dan putih telur encer yang ditetesi
dengan larutan HC, NaOH, dan air suling pada pegujian denaturasi oleh panas dan pH ekstrim.
Larutan CuSO4 40% dan NaOH 40% pada pengujian uji biuret, dan larutan millon pada pengujian
Millon.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa uji denaturasi oleh
panas dan pH ekstrim menggunakan putih telur pekat setelah ditetesi larutan HCl 1 N pada awalnya
megalami penggumpalan, setelah pemanasan di waterbath 5 menit pertama larutan putih telur
pekat masih tetap utuh menggumpal, begitu pula yang terjadi pada 5 menit terakhir saat
pemanasan. Setelah pemanasan, dilakukan pendinginan selama 5 menit untuk mengetahui apakah
larutan larutan putih telur pekat mengalami denaturasi atau renaturasi, saat pendinginan selesai
ternyata larutan putih telur pekat mengalami denaturasi. Dengan perlakuan terakhir yaitu
penetralan, pada penetralan ini menggunakan larutan NaOH 1 N untuk menetralkan larutan putih
telur pekat dan menghasilkan renaturasi. Hal ini terjadi karena larutan NaOH dapat memulihkan
kembali larutan putih telur pekat yang awalnya menggumpal sehingga menjadi pada bentuk
semula. Pada perlakuan larutan putih telur pekat yang ditetesi oleh NaOH 1 N sama halnya dengan
perlakuan larutan putih telur yang ditetesi oleh HCl 1 N, hanya saja pada saat awal larutan putih
pekat ditetesi oleh NaOH 1 N dan air suling tidak erjadi penggumpalan. Sedangkan pada saat
setelah pemanasan pertama dan kedua mengalami penggumpalan. Saat pendinginan juga terjadi
denaturasi, dan sat penetralan masih tetap sama hasil yang didapatkan yaitu denaturasi. Hal ini
berarti uji protein dari percobaan denaturasi oleh panas dan pH ekstrim sesuai dengan teori, dimana
denaturasi mengalami perubahan struktur fisik yang awalnya cairan menjadi menggumpal.
Pada uji biuret yang telah dilakukan pada putih telur pekat setelah ditetesi NaOH 40%
mengalami perubahan warna menjadi ungu pekat dengan hasil nilai positif pada perlakuan ini yaitu
plus 5 ( + + + + +) dimana artinya kandungan protein pada larutan putih telur pekat sangat kuat.
Sama halnya dengan perlakuan larutan putih telur pekat, larutan putih telur encer yang ditetesi oleh
CuSO4 40% sama terjadi perubahan warna menjadi ungu pekat dengan hasil nilai positifnya plus
5 ( + + + + + ). Dari percobaan tersebut diketahui bahwa semakin kuat intesitas warna ungu yang
dihasilkan akan semakin menunjukkan panjangnya ikatan peptide yang ada. Sesuai dengan teori
yang ada dimana setelah ditetesi larutan NaOH berubah warna menjadi ungu menunjukan adanya
kandungan protein di dalamnya.
Pada uji Millon yang di ujikan pada praktikum ini, dilakukan dua perlakuan yaitu putih
telur pekat 2 ml dan putih telur encer 2 ml yang masing-masing ditetesi larutan millon. Pada
perlakuan larutan putih telur pekat 2 ml yang ditetesi larutan millon menghasilkan perubahan
warna menjadi merah bata / merah pekat dengan hasil uji positifnya plus 5 ( + + + + + ). Sedangkan
pada larutan putih telur encer setelah ditetesi larutan millon berubah warna menjadi merah pudar
dengan hasil uji positifnya plus 3 ( + + + ). Dari hasil tersebut terlihat bahwa larutan putih telur
pekat memiliki kandungan protein yang sangat kuat sedangkan pada larutan putih telur encer hanya
memiliki kandungan proteinnya sedang.

VII. Kesimpulan

Dari praktikum kali ini didapatkan bahwa uji denaturasi pada larutan putih telur pekat
sesuai dengan apa yang ada di literasi bahwasanyya larutan putih telur pekat dengan ditetesi oleh
NaOH dan air suling mengalami denaturasi walaupun telah ditetesi oleh larutan penetralan,
sedangkan larutan putih pekat yang ditetesi HCl yang awalnya mengalami denaturasi menjadi
megalami renaturasi setelah penetesan larutan penetralan. Pada uji biuret dan uji millon didapatkan
hasil sesuai dengan ekspetasi dimana kedua hasil uji tersebut sama sama meiliki kandungan protein
yang sangat kuat hanya saja pada larutan putih telur encer yang ditetesi oleh larutan millon yang
hanya memiliki kandungan proteinnya sedang.
VII. Daftar Pustaka
Etiasih, T. dkk. 2016. Kimia dan Fisik Pangan. Bumi Aksara. Jakarta.
Lehninger. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Mandle, Ari Kuar., Pranita Jain., Shailendra K.S. 2012. Protein Structure Prediction Using Support
Vector Machine. Internasional Journal on Soft Computing (IJSC) Vol.3, No.1
Murtidjo, Bambang Agus.2003. Pemotongan Penanganan Dan Pengolahan Daging Ayam.
Yogyakarta: Kanisius.
Watson, roger. 2002. Anatomi dan fisiologi untuk perawat. Jakarta: egc.

Yogyakarta, 14 April 2019

Asisten Praktikan

( ) ( Sufiyanti Puji L )
LAMPIRAN

1. Denaturasi Oleh Panas Dan Ph Ekstrim


2. Uji Biuret 1

Sebelum ditetesi pereaksi ditetesi NaOH 40% ditetesi CuSO4 1%

3. Uji Millon

Sebelum di tetesi pereaksi setelah ditetesi larutan millon

Anda mungkin juga menyukai