Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN RESMI LABORATORIUM TEKNIK KIMIA 1

Solid Liquid Reactor

Huda, Nur, Khusnah, Intan Nikmatul, dan Annas, Ayyub Choirul


Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia

Abstrak---Percobaan Solid Liquid Reactor (LR) ini bertujuan antara kedua fasa zat tersebut, yang dinyatakan dengan
mempelajari kelarutan partikel padat (solid) berbentuk koefisien perpindahan massa yang besarnya dipengaruhi
bola dalam suatu liquid dengan kecepatan pengadukan oleh kecepatan putar propeller. Semakin cepat putaran
yang berbeda dan menentukan koefisien transfer massa propellermaka semakin besar nilai koefisien transfer
antar fasa secara eksperimen serta membandingkannya massanya
secara teoritis. Variabel independen yang digunakan dalam Kata kunci---Coeffiseien mass transfer, impeller, liquid, solid
percobaan ini adalah kecepatan putaran impeller yaitu
sebesar 0, 250, 500, 1000, dan 1500 rpm serta variabel I.PENDAHULUAN
waktu, yaitu 0, 1, 3, 5, 7, dan 9 menit dengan variabel tetap
permen chupa cups yang memiliki kandungan utama Solid-liquid mass transfer merupakan suatu komponen
sukrosa dan air sebanyak 800 mL untuk masing-masing penting pada industri kimia. Hal ini dikarenkan ia memiliki
variabel independen. Prosedur percobaannya dimulai banyak kegunaan dengan konsep transfer massa antara fase
dengan mempersiapkan peralatan dan bahan praktikum. lsolid dan liquid antara lain untuk proses pelarutan, kristalisasi,
Selanjutnya menimbang permen dengan neraca analitik extraksi solid-liquid, fermentasi, dll. Bejana berpengaduk sering
dan mengukur diameter permen tersebut. Selanjutnya digunakan pada proses ini, karena dapat bekerja efektif pada
memasukkan 1 permen ke dalam beaker glass berisi air dan partikel solid dan memiliki rate transfer massa yang baik.
menyalakan mixer dengan kecepatan impeller tertentu Perpindahan massa terjadi pada komponen dalam campuran,
untuk memulai pengamatan. Pengamatan dilakukan setiap berpindah dalam fase yang sama atau dari fase satu ke fase yang
2 menit sekali, yakni dengan mengambil permen dari lain karena adanya perbedaan konsentrasi. Perpindahan massa
larutan untuk ditimbang massanya dan diukur dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh,
diameternya. Pengamatan dilakukan hingga menit ke-10 sedikit gula dimasukkan kedalam air pada akhirnya akan larut
dan diulang untuk variabel kecepatan impeller yang lain. dengan sendirinya dan mendifusi ke seluruh bagian larutan.
Dari percobaan didapatkat hasil metode grafis untuk A. Rumusan Masalah
variabel 0 rpm, 100 rpm, 500 rpm, 1000 rpm dan 1500 rpm Perumusan masalah yang terkait dan dikaji dalam proposal
-5 -5
berturut-turut adalah 1,23774 x 10 m/s; 1,0064 x 10 m/s; praktikum ini sebagai berikut :
-5 -4 -4
3,03426 x 10 m/s; 3,27838 x 10 m/s; dan 3,26244 x 10 m/s. a) Bagaimana pengaruh dari pengadukan berbeda
Metode analitis, untuk variabel 0 rpm, 100 rpm, 500 rpm, terhadap kelarutan suatu benda?
1000 rpm dan 1500 rpm berturut-turut adalah 0; 1,903 x b) Bagaimana menentukan koefisien transfer massa
-3 -3 -3 -3
10 ; 3,011 x 10 ; 3,67 x 10 ; dan 4,118 x 10 m/s. Metode secara eksperimen dengan dibandingkan dengan
teoritis, untuk variabel 0 rpm, 100 rpm, 500 rpm, 1000 rpm perhitungan teoritis?
dan 1500 rpm berturut-turut adalah 0; 0,221755; 0,350976; B. Batasan Masalah
0,427781; dan 0,479906 m/s. dari hasil tersebut didapat Dari permasalahan yang harus diselesaikan di atas maka
kesimpulan kelarutan partikel zat padat (solid) di dalam perlu adanya pembatasan masalah serta ruang lingkupnya agar
liquid digambarkan sebagai kemampuan transfer massa di dalam melakukan analisa nantinya tidak melebar dan
LAPORAN RESMI LABORATORIUM TEKNIK KIMIA 2

mempermudah dalam melakukan analisa, batasan tersebut 3. True density, dalam satuan kg/m3. True density dibagi oleh
yaitu: densitas air, sama dengan specific gravity.
1. Praktikum menggunakan satu macam impeller 4. Bentuk partikel yang diasumsikan berbentuk bola
2. Impeller menggunakan 2 blade 5. Karakteristik permukaan, termasuk area permukaan dan
3. Pelarut menggunakan air tendensitas untuk mengikat muatanstatis dan lain
[2]
4. Pengukuran diameter dilakukan di beberapa waktu sebagainya.
berbeda Pengertian Impeller
C. Tujuan Impeller adalah komponen yang berputar dari pompa sentrifugal
Tujuan praktikum ini adalah : yang berfungsi untuk mentransfer energi dari motor dengan
1. Mempelajari kelarutan partikel padat (solid) berbentuk mempercepat cairan keluar dari pusat rotasi.
bola dalam suatu liquid dengan kecepatan pengadukan Macam-macam agitator (impeller)
yang berbeda. 1. Agitator Jenis Baling-baling (Propeler)
2. Menentukan koefisien transfer massa antar fase secara Propeler merupakan agitator/impeller aliran aksial
eksperimen serta membandingkanya dengan perhitungan berkecepatan tinggi untuk zat cair berviskositas rendah. Propeler
teoritis kecil biasanya berputar pada kecepatan motor penuh, yaitu 1150
D. Manfaat atau 1750 putaran/menit, sedang propeler besar berputar pada
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan proposal 400-800 putaran/menit. Arus yang meninggalkan propeler
praktikum ini antara lain : mengalir melalui zat cair menurut arah tertentu sampai
1. Pengembangan terhadap hub impeller untuk masa dibelokkan oleh lantai atau dinding bejana.
mendatang Jenis yang paling banyak dipakai adalah propeler kapal
2. Dapat mengetahui kinerja dari impeller optimal berdaun tiga, sedang propeler berdaun empat, bergigi, atau dengan
3. Dapat mengetahui treatment yang ideal untuk mendapat rancang lain digunakan untuk tujuan-tujuan khusus. Selain itu,
pelarut yang dinginkan kadang dua atau lebih propeler dipasang pada satu poros, biasanya
dengan arah putaran yang sama. Namun, bisa juga dipasang
II. TINJAUAN PUSTAKA dengan arah yang berlawanan, atau secara tolak/tarik sehingga
menciptakan
Perpindahan massa terjadi pada komponen dalam zone fluida yang sangat turbulen di antara kedua propeler tersebut.
campuran, berpindah dalam fase yang sama atau dari fase satu Pengaduk ini tidak bergantung pada ukuran serta bentuk
ke fase yang lain, hal tersebut dapat terjadi karena adanya tangki. Kapasitas sirkulasi yang dihasilkan besar dan sensitif
perbedaan konsentrasi. Perpindahan massa dapat dijumpai terhadap beban head. Dalam perancangan propeller, luas sudu
pada kehidupan sehari - sehari, seperti, saat gula dimasukkan biasa dinyatakan dalam perbandingan luas area yang terbentuk
ke dalam air pada akhirnya akan larut dengan sendirinya dan dengan luas daerah disk. Nilai nisbah ini berada pada rentang 0.45
terdifusi ke seluruh bagian. Banyak proses pemurnian yang sampai dengan 0.55.
menyangkut perpindahan massa. Seperti contoh dalam proses Pengaduk propeler terutama menimbulkan aliran arah aksial, arus
uranium, larutan garam uranium diekstraksi dengan pelarut aliran meninggalkan pengaduk secara kontinu melewati fluida ke
organik. Selain itu, distilasi pemisahan alkohol dari air juga satu arah tertentu sampai dibelokkan oleh dinding atau dasar
[1]
menyangkut perpindahan massa. tangki.
Hal – hal yang mempengaruhi solid mixing di antaranya: Berikut adalah gambar contoh pengaduk propeler.
1. Distribusi partikel solid, merupakan persentase bahan 2. Agitator Jenis Turbin
dalam range ukuran yang berbeda. Istilah turbin ini diberikan bagi berbagai macam jenis
2. Bulk density, merupakan berat per unit volume dari pengaduk tanpa memandang rancangan, arah discharge ataupun
sejumlah partikel solid, biasanya dalam satuan kg/m3. Bulk karakteristik aliran. Turbin merupakan pengaduk dengan sudu
density tidak konstan dan dapat diturunkan dengan aerasi tegak datar dan bersudut konstan. Pengaduk jenis ini digunakan
atau dapat dinaikkan dengan getaran atau beban mekanik. pada viskositas fluida rendah seperti halnya pengaduk jenis
LAPORAN RESMI LABORATORIUM TEKNIK KIMIA 3

propeler. Pengaduk turbin menimbulkan aliran arah radial dan tannpa gerak vertikal sama sekali. Arus yang bergerak ke arah
tengensial. Di sekitar turbin terjadi daerah turbulensi yang kuat, horisontal setelah mencapai dinding akan dibelokkan ke atas atau
arus dan geseran yang kuat antar fluida. ke bawah. Bila digunakan pada kecepatan tinggi akan terjadi
Salah satu jenis pengaduk turbin adalah pitched blade. pusaran saja tanpa terjadi agitasi.
Pengaduk jenis ini memiliki sudut sudu konstan. Aliran terjadi 4. Agitator Jenis Hellical-Ribon
pada arah aksial, meski demikian terdapat pule aliran pada arah Jenis pengaduk ini digunakan pada larutan pada
radial. Aliran ini akan mendominasi jika sudu berada dekat kekentalan yang tinggi dan beroperasi pada rpm yang rendah pada
dengan dasar tangki. bagian laminer. Ribbon (bentuk seperti pita) dibentuk dalam
Pada dasarnya, turbin menyerupai dayung berdaun sebuah bagian helical (bentuknya seperti baling-balling helicopter
banyak dengan daun-daunnya yang agak pendek, dan berputar dan ditempelkan ke pusat sumbu pengaduk). Cairan bergerak
pada kecepatan tinggi pada suatu poros yang di pasang di pusat dalam sebuah bagian aliran berliku-liku pada bagiam bawah dan
bejana. Daun-daunnya bisa lurus atau lengkung, bisa bersudut naik ke bagian atas pengaduk.
atau vertikal Diameter impelernya biasa lebih kecil dari diameter 5. Agitator Jenis Jangkar / Anchor
dayung, yaitu berkisar antara 30-50% dari diameter bejana. Pengaduk ini mirip dengan jangkar kapal, maka di sebut
Turbin biasanya efektif untuk menjangkau viskositas yang pengaduk jangkar. Ada banyak aplikasi yang dapat dipakai
cukup luas. Di dekat impeler akan terdapat zone arus deras yang agitator yang terintegrasi dengan pengaduk model jangkar ini.
sangat turbulen dengan geseran yang kuat. Arus utamanya Impeler tipe jangkar mampu menyapu permukaan dinding secara
bersifat radial dan tangensial. Komponen tangensialnya menyeluruh dan meng-agitasi sebagian besar batch cairan
menimbulkan vortex ( cekungan ) dan arus putar, yang harus melalui kontak fisik. Dinding pencakar atau scraper dapat
dihentikan dengan menggunakan sekat atau diffuser agar dipasang pada baling impeller jangkar yang berfungsi untuk
impeler itu menjadi sangat efektif. meningkatkan perpindahan panas melalui dinding tangki
Turbin biasanya memiliki empat atau enam daun pengolahan dan mencegah tidak lengketnya bahan baku pada
pengaduk. Turbin dengan daun yang datar memberikan aliran dinding tangki. Untuk menambah ratanya sistim pencampuran
yang radial. Jenis ini juga berguna untuk dispersi gas yang baik, dapat di kombinasikan dengan agitator ulir.
gas akan dialirkan dari bagian bawah pengadukdan akan menuju Kelebihan dari pengaduk jangkar adalah dapat
ke bagian daun pengaduk lalu tepotong-potong menjadi disesuaikan dengan kontur permukaan tangki pengolahan.
gelembung gas. Pengaduk Jangkar dapat di pakai pada pencampuran dalam
Pada turbin dengan daun yang dibuat miring kondisi t laminar dan ditemui dalam aplikasi viskositas tinggi.
o
sebesar 45 , seperti yang terlihat pada gambar 3, beberapa aliran Kombinasi antara pengaduk jangkar, scraper, dan pengaduk
aksial akan terbentuk sehingga sebuah kombinasi dari aliran ulirAplikasi produk yang dapat dipakai pengaduk tipe Jangkar
aksial dan radial akan terbentuk. Jenis ini berguna dalam adalah tinta, cat, saus, adhesive, lem.
suspensi padatan kerena aliran langsung ke bawah dan akan Operasi perpindahan massa dapat diklasifikasikan sebagai
menyapu padatan ke atas. Terkadang sebuah turbin dengan berikut. Kontak langsung dua fase yang tak dapat bercampur.
hanya empat daun miring digunakan dalam suspensi padat. Kategori ini hampir meliputi semua proses perpindahan massa
Pengaduk dengan aliran aksial menghasilkan pergerakan fluida yang sangat penting yaitu sistem dua fase, beberapa komponen
yang lebih besar dan pencampuran per satuan daya dan sangat pada kesetimbangan, kecuali beberapa komposisi fasenya yang
berguna dalam suspensi padatan. berbeda, misalnya uap kesetimbangan kecuali beberapa larutan
3. Agitator Jenis Dayung (Paddle) garam encer yang tidak mengandung garam dan konsentrasi
Pengaduk jenis ini sering memegang peranan penting yang cukup di dalam liquida. Begitu pula solid yang
pada proses pencampuran dalam industri. Bentuk pengaduk ini berkesetimbangan kontak dengan larutan garam baik murni atau
memiliki minimum 2 sudu, horizontal atau vertical, dengan nilai garam tergantung pada komposisi eutektis liquid yang terjadi.
D/T yang tinggi. Paddle digunakan pada aliran fluida laminar, Rate dari perpindahan massa antara solid dengan liquid dapat
transisi atau turbulen tanpa baffle. Pengaduk padel ditulis dengan persamaan:
menimbulkan aliran arah radial dan tangensial dan hampir 𝑚̇ = 𝑘𝐿𝑆 𝐴(𝐶𝑆𝐴𝑇 − 𝐶𝐿 )
LAPORAN RESMI LABORATORIUM TEKNIK KIMIA 4

Untuk sistem batch, dengan neraca massa transient pada Untuk memperoleh nilai dari koefisien transfer perpindahan
solid yang terlarut yang membentuk suatu formasi, persamaan ( 𝑘𝐿𝑠 ), dibutuhkan nilai dari Csat secara eksperimen untuk
di atas dapat dituliskan sebagai berikut : sukrosa, yaitu jika dilarutkan dalam air pada suhu 25 °C
𝑑𝑀 memiliki nilai Csat sebesar 2000 kg/m3.[4]
= −𝑚̇ = −𝑘𝐿𝑆 𝐴(𝐶𝑠𝑎𝑡 − 𝐶𝐿 )
𝑑𝑡 Sementara untuk data difusivitas dari sukrosa di air pada
suhu 25 °C yaitu sebesar 0,56 x 10-5 cm2/s.[2]
Sedangkan neraca massa yang sesuai pada fase cair yaitu:
Boon – long mengembangkan korelasi untuk transfer massa
dari solid tersuspensi kedalam liquida pada agitated vessel
𝑑𝐶
𝑉𝐿 = 𝑚̇ = 𝑘𝐿𝑆 𝐴(𝐶𝑠𝑎𝑡 − 𝐶𝐿 )
𝑑𝑡 𝑆ℎ = 0.046𝑅𝑒 0.283𝐺𝑎0.173𝑈 −𝑜.011 (𝑇⁄𝑑)0.019𝑆𝑐 0.461

Model persamaan ini digabungkan melalui konsentrasi Keterangan persamaan diatas :


liquid dan terlarut sekaligus. Prosedur pencampuran dapat
𝑘𝐿𝑠 𝑑
dituliskan secara sederhana yaitu total solid yang terdistribusi 𝑆ℎ = , Sherwood number
𝐷𝑣
pada fase solid-liquid tetap konstan dalam seketika.
𝑑𝑇𝜔
𝑀0+ 𝑉𝐿 𝐶𝐿0 = 𝑀 + 𝑉𝐿 𝐶𝐿 𝑅𝑒 = ( ) , Reynold number (berdasarkan pada partikel)
𝑣
Persamaan ini dapat dikombinasikan dengan persamaan
𝜌3 𝑔𝑑3
sebelumnya dan dapat menghasilkan prediksi model, namun 𝐺𝑎 = , Gallileo number
𝜇2
sebagai solid yang terlarut, solid tersebut akan berubah ukuran
𝑀
maupun bentuknya. Oleh karena itu luas antar muka harus 𝑈= , konsentrasi solid
𝜌𝑑3
diperhitungkan sebelum model persamaan dapat diselesaikan.
𝜇
Pada analisa ini, efek dari perubahan ukuran partikel terhadap 𝑆𝑐 = , Schmidt number
𝜌𝐷𝑣
koefisien perpindahan massa interfase diabaikan.
T , Diameter bejana (beaker glass)
Solid yang telah terlarut HCl diasumsikan tetap berbentuk
bola dari awal hingga akhir percobaan serta memiliki ukuran d = Diameter partikel[5]
yang sama, berdasarkan asumsi ini massa padatan yang tersisa
di fase padat dengan jari-jari r adalah : III. METODOLOGI
4 A. Variabel Percobaan :
𝑀 = 𝜋𝑟 3 𝜌𝑠 𝑛
3 Pada percobaan Solid Liquid Reactor (LR) ini, variabel
Luas permukaan sebesar: yang digunakan adalah:
2
𝐴 = 4𝜋𝑟 𝑛 1. Variabel tetap yang digunakan antara lain:
a. Jenis bahan baku yang digunakan, yakni permen
Melalui subtitusi persamaan-persamaan sebelumnya maka chupa cups rasa stroberi yang memiliki
diperoleh massa solid berbentuk bola yang tersisa pada setiap kandungan utama sukrosa
saat adalah b. Volume air yang digunakan adalah 800 mL
2 1/3 c. Bentuk impeller yang digunakan bertipe paddle
𝑑𝑀 36𝜋𝑛𝑀 𝑀0 − 𝑀
= −𝑘𝐿𝑆 [ ] [𝐶𝑠𝑎𝑡 − (𝐶𝐿0 + )]
𝑑𝑡 𝜌𝑠 2 𝑉𝐿 2. Variabel bebas yang digunakan antara lain:
Persamaan tersebut dapat diselesaikan secara numerik. Jika a. Lama waktu yang digunakan yaitu 0, 1, 3, 5, 7,
konsentrasi fase cair selalu jauh lebih kecil dibanding dan 9 menit.
konsentrasi jenuhnya (CL< CSAT) maka persamaan diatas dapat b. Kecepatan impeller yang digunakan yakni 0 rpm,
diintegrasikan untuk menghasilkan hubungan antara waktu dan 100 rpm, 500 rpm, 1000 rpm dan 1500 rpm.
[3]
fraksi sisa fase padat. B. Metodologi Percobaan :
1⁄ 3 1. Mempersiapkan peralatan dan bahan percobaan.
𝑀 4𝜋𝑛 3
= [1 − ( ) 𝑘𝐿𝑠 𝐶𝑆𝐴𝑇 𝑡] 2. Mempersiapkan air sebanyak 800 mL.
𝑀𝑜 3𝑀𝑜𝜌𝑠 2
3. Memasukkan air ke dalam beaker glass.
LAPORAN RESMI LABORATORIUM TEKNIK KIMIA 5

4. Menimbang permen dengan neraca analitik dan


mengukur diameter permen.
5. Memasukkan permen ke dalam beaker glass berisi air START
dan menyalakan mixer dengan kecepatan impeller 0
rpm untuk memulai eksperimen.
6. Mengamati perubahan, menimbang massa, dan Menyiapkan alat dan bahan
mengukur diameter permen setiap 2 menit sekali
sampai dengan 9 menit.
Permen dan air
7. Mengulangi langkah percobaan untuk variabel
kecepatan impeller 0 rpm, 100 rpm, 500 rpm, 1000
rpm dan 1500 rpm. Menyiapkan alat dan bahan
C. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
Menimbang permen menggunakan neraca
1. Beaker glass 1000 mL 1 buah
analitik
2. Stopwatch 1 buah
3. Neraca analitik 1 buah
4. Cawan arloji 1 buah Mengisi beaker glass dengan air sebanyak 800 ml
5. Serangkaian impeller 1 buah
6. Sendok plastik 1 buah
Menempatkan beaker glass ke serangkaian
7. Penggaris 1 buah
Bahan yang diperlukan adalah : pengaduk

1. Permen 5 butir
2. Air 4000 ml Memasukkan permen yang telah ditimbang ke beaker
D. Skema Alat glass berisi air

Mengatur kecepatan pengaduk pada 0, 250, 500, 1000

dan 1500 rpm

Melakukan proses pengadukan

2 menit

Gambar III.1 Skema Alat Percobaan

Keterangan : Menimbang masa permen

A : Pengatur kecepatan impeller C : Impeler (d = 2 cm)


B : Beaker glass (diameter 11 cm) D : Sumber listrik
E. Algoritma Percobaan 10 menit

SELESAI
LAPORAN RESMI LABORATORIUM TEKNIK KIMIA 6

IV. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN membuat plot perbandingan anatara massa permen setelah
bereaksi dan massa permen mula–mula dipangkatkan 1/3
Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Koefisien Perpindahan Massa Gambar 4.1 Grafik Hubungan antara (M/M0)1/3 dengan
Kecepatan KLs(m/s) Waktu
Impeller Rata-Rata Rata-Rata
Grafik
(rpm) Analitis Teoritis Dari hasil percobaan (Gambar 4.1), didapat bahwa semakin
0 1,23774 x 10 -5
0 0 lama waktu reaksi maka massa permen yang terlarut semakin
100 1,0064 x 10 -5
1,903 x 10 -3
0,221775 besar, sehingga massa solid lama – lama berkurang. Hal tersebut
500 3,03426 x 10 -5
3,011 x 10 -3
0,350976 menyebabkan nilai (M/M0)1/3 semakin lama semakin kecil.
1000 3,27838 x 10-4 3,67 x 10-3 0,427781
-4 -3
4,5
1500 3,26244 x 10 4,118 x 10 0,479906 4

KLs x 10^-3 (m/s)


3,5
Percobaan Solid Liquid Reactor (LR) bertujuan 3
2,5
Mempelajari kelarutan partikel padat (solid) berbentuk bola
2
dalam suatu liquid dengan kecepatan pengadukan yang 1,5
berbeda dan menentukan koefisien transfer massa antar fase 1
secara eksperimen serta membandingkanya dengan 0,5
0
perhitungan teoritis. Pada percobaan ini variabel yang 0 500 1000 1500
digunakan adalah kecepatan putaran impeller yaitu 0, 100, Kecepatan Impeller (RPM)
500, 1000, dan 1500 rpm. Pengamatan dilakukan setiap 2
menit sekali untuk masing-masing variabel hingga 9 menit. Berdasarkan masing – masing grafik diperoleh regresi linier
Pada percobaan ini untuk setiap variabel digunakan satu dengan slope untuk masing – masing variabel yaitu -0,0162; -
buah permen chuba cups yang mengandung sukrosa dimana 0,0133; -0,0386; -0,0425; dan -0,0427 di mana nilai slope
3
sukrosa sendiri memiliki kelarutan hingga 2000 kg/m dan tersebut adalah :
-10 2 [4] 1⁄
nilai difusivitas sebesar 0,56 x 10 cm /s . Selain itu 4𝜋𝑛 3
−( ) 𝑘𝐿𝑠 𝐶𝑆𝐴𝑇
digunakan air sebanyak 800 mL. 3𝑀𝑜𝜌𝑠 2
Perhitungan dilakukan untuk mengetahui koefisien
perpindahan massa dari fase solid ke fase cair secara grafis, Sehingga nilai kLS dapat dihitung sesuai dengan persamaan yang
analitis dan teoritis. didapatkan pada literatur.[3]
A. Hasil Percobaan secara Grafis
40
Perhitungan pertama dilakukan secara grafis, yaitu dengan
35
KLs (10^-5) m/s

1 30
0,95 25
20
0,9
15
(M/M0)^1/3

0,85
10
0,8 5
0 rpm
0,75 0
100 rpm
0 500 1000 1500
0,7 500 rpm
1000 rpm Kecepatan Impeller (RPM)
0,65
1500 rpm Gambar 4.2 Grafik Koefisie Perpindahan Massa vs Kecepatan
0,6
Impeller secara Grafik
0 2 4 6 8 10
t (menit) Berdasarkan hasil perhitungan secara grafis, dapat
diperhatikan bahwa semakin besar kecepatan putar pengaduk,
LAPORAN RESMI LABORATORIUM TEKNIK KIMIA 7

maka semakin besar pula koefisien perpindahan massa dari rata – rata koefisien perpindahan massa berturut-turut untuk
fase solid ke liquid. Hal ini menunjukkan bahwa perpindahan variabel 0, 100, 500, 1000, dan 1500 rpm adalah 0; 0,221755;
massa akan lebih cepat terjadi bila diaduk dengan kecepatan 0,350976; 0,427781; dan 0,479906 m/s.
yang lebih tinggi. Tetapi terdapat penyimpangan dikarenakan Gambar 4.4 Grafik Koefisien Perpindahan Massa vs
permen yang digunakan sempat menyangkut pada blade 0,6
impeller sehingga pengadukan sedikit berhenti dan
0,5
menyebabkan perhitungan kurang teliti.
0,4

KLs (m/s)
B. Hasil Percobaan secara Analitis 0,3
Perhitungan kedua dilakukan secara analitis. Secara 0,2
analitis, nilai kLS dapat diketahui dengan persamaan berikut : 0,1
𝒌𝑳𝒔 𝒅
𝑺𝒉 = 0
𝑫𝒗 0 500 1000 1500
dimana Sh merupakan korelasi Sherwood yang Kecepatan Impeller (RPM)
menghubungkan antara bilangan Reynold, bilangan Galileo,
Kecepatan Impeller secara Teoritis
Difusivitas, bilangan Schmidt, dan perbandingan antara
diameter tangki dengan diameter partikel. Berdasarkan
Berdasarkan grafik pada Gambar 4.4 terlihat bahwa kLS
perhitungan secara analitis ini, diketahui nilai rata – rata
cenderung berbanding lurus dengan kecepatan impeller. Dapat
koefisien perpindahan massa berturut-turut untuk variabel 0,
diperhatikan pula bahwa semakin besar kecepatan impeller,
100, 500, 1000, dan 1500 rpm adalah 0; 1,903 x 10-3; 3,011 x
maka koefisien perpindahan massa akan semakin besar pula.
10-3; 3,67 x 10-3; dan 4,118 x 10-3 m/s.
Gambar 4.3 Grafik Koefisien Perpindahan Massa vs
D. Analisa Hasil Percobaan
Kecepatan Impeller secara Analitis
Apabila ditarik korelasi antara grafik dan perhitungan
dengan ketiga metode di atas terlihat bahwa ketiganya
Berdasarkan grafik dalam Gambar 4.3, terlihat bahwa kLS
menunjukkan nilai kLS yang berbeda – beda. Namun ketiganya
berbanding lurus. Dapat diperhatikan pula bahwa semakin
menunjukkan korelasi nilai koefisien perpindahan massa dari
besar kecepatan impeller, maka koefisien perpindahan massa
fase solid ke liquid terhadap kecepatan impeller yang semakin
akan semakin besar pula.
membesar seiring dengan kecepatan pengadukan liquid yang
semakin besar. Berdasarkan literatur, nilai kLS akan semakin
C. Hasil Percobaan secara Teoritis
besar dengan bertambahnya kecepatan putaran. Semakin
Perhitungan kLS yang ketiga dilakukan secara teoritis.
bertambah kecepatan putar maka semakin banyak pula yang
Secara teoritis, nilai kLS dapat diketahui juga dengan
bereaksi karena banyak luasan tumbukan antara permen dan
persamaan berikut :
larutan aquadest. Hal ini juga sesuai dengan teori dimana saat
𝑘𝐿𝑠 𝑑
𝑆ℎ = luas permukaan semakin besar maka transfer massa juga
𝐷𝑣
semakin cepat terjadi.
dimana Sh merupakan korelasi Sherwood yang
menghubungkan antara bilangan Reynold, bilangan Galileo,
E. Penyelesaian Problem Statement
Difusivitas, bilangan Schmidt, dan perbandingan antara
Hasil percobaan ini digunakan untuk menyelesaikan
diameter tangki dengan diameter partikel. Perbedaannya
problem statement yaitu menentukan waktu pengadukan
dengan metode analitis adalah bahwa nilai difusivitas partikel
tercepat pada industri susu yang memproduksi 50.000 kaleng
sukrosa dalam air adalah konstan, yang diperoleh dari literatur
dengan volume 250 ml yang mengandung 40 gram sukrosa
sebesar 5,6 x 10-10 m2/s.[4] Sehingga berakibat pada nilai
dengan dengan 𝜏 selama 1 jam. Dengan persamaan
bilangan Schmidt yang juga konstan pada 1436,039
𝑉𝑟𝑒𝑎𝑙 = 𝜏 𝑥 𝑛 𝑥 𝑉
Berdasarkan perhitungan secara teoritis ini, diketahui nilai
LAPORAN RESMI LABORATORIUM TEKNIK KIMIA 8

Maka didapat volume reaktor sesungguhnya adalah 12500


liter. Untuk tangki berpengaduk ruang kosong diasumsikan Bahaya Dampak Penanggulangan
30% didapat dengan persamaan Impeller Tangan Menjauhkan
𝑉𝑙𝑖𝑞𝑢𝑖𝑑 mengenai praktikan tangan saat
𝑉𝑡𝑎𝑛𝑔𝑘𝑖 = ⁄0,7
tangan berdarah pengadukkan
Maka volume tangki sesungguhnya adalah 18000 lter. Scale praktikan
up untuk volume susu dari 800 ml menjadi 12500 liter Menyentuh Kesetrum Menggunakan
meggunakan persamaan saklar dengan sarung tangan
1⁄
𝑉2 3 kondisi tangan pada saat
𝑅=( )
𝑉1 basah praktikum.
Didapat dengan persamaan diatas bahwa faktor scale up
sebesar 25 dengan volume tangki sebesar 18000 liter dan VII. DAFTAR PUSTAKA
kecepatan pengadukan sebesar 1500 rpm. Didapat bahwa [1] Geankoplis, Christie J. 2003. Transport Processes and
semakin cepat kecepatan propeller maka semakin cepat Separation Process Principles (Includes Unit Operations).
pengadukan. 4th edition. New Jersey: Prentice Hall
[2] Perry. 1999. Perry’s Chemical Engineering’s Handbook.
V. KESIMPULAN New York: McGraw Hill
[3] M. Elizabeth Sensel and Kevin J. Myers. 1992. Add some
Dari data dan hasil perhitungan dalam percobaan ini dapat Flavor to your Agitation Experiment. Chem. Eng. Ed. 26 (3).
disimpulkan : p. 156.
1. Kelarutan partikel zat padat (solid) di dalam liquid [4] Sucrose, International Chemical Safety Card 1507. 2003.
digambarkan sebagai kemampuan transfer massa di antara Geneva: International Programme on Chemical Safety.
kedua fasa zat tersebut, yang dinyatakan dengan koefisien [5] S. Boon-Long, C. Laguerie and J.P. Coudere.1987. Mass
perpindahan massa yang besarnya dipengaruhi oleh Transfer from suspended solids to a liquid in Agitated
kecepatan putar propeller. Semakin cepat putaran propeller Vessels. Chem. Eng. Sci., 33. p. 813.
maka semakin besar nilai koefisien transfer massanya.
2. Nilai koefisien perpindahan massa partikel solid (kLS)
permen chupa cups dengan variabel kecepatan putar
propeller, sebagai berikut :
 Metode Grafis
Untuk variabel 0 rpm, 100 rpm, 500 rpm, 1000 rpm dan
1500 rpm berturut-turut adalah 1,23774 x 10-5 m/s;
1,0064 x 10-5 m/s; 3,03426 x 10-5 m/s; 3,27838 x 10-4
m/s; dan 3,26244 x 10-4 m/s.
 Metode Analitis
Untuk variabel 0 rpm, 100 rpm, 500 rpm, 1000 rpm dan
1500 rpm berturut-turut adalah 0; 1,903 x 10-3 ; 3,011 x
10-3; 3,67 x 10-3; dan 4,118 x 10-3 m/s.
 Metode Teoritis
Untuk variabel 0 rpm, 100 rpm, 500 rpm, 1000 rpm dan
1500 rpm berturut-turut adalah 0; 0,221755; 0,350976;
0,427781; dan 0,479906 m/s.

VI. RISK AND ASSESSMENT PERALATAN


LAPORAN RESMI LABORATORIUM TEKNIK KIMIA 9