Anda di halaman 1dari 89

฀BSTR฀K

EFISIENSI DES฀IN SUMUR RES฀P฀N BERD฀S฀RK฀N H฀SIL UJI


PERME฀BILIT฀S L฀P฀NG฀N DIKELUR฀H฀N BERINGIN J฀Y฀
KEC฀M฀T฀N KEMILING DENG฀N PERMUK฀฀N T฀N฀H Y฀NG
BERBED฀

Oleh

M ฀QLI

฀erbedaan elevasi dapat menyebabkan terjadinya gradien hidrolik yang cukup tinggi
dan menyebabkan terjadinya rembesan. Bila air rembesan mengalir dari lapisan
dengan butiran yang lebih halus menuju lapisan yang kasar, kemungkinan
terangkutnya bahan butiran yang lebih halus lolos melewati bahan yang lebih kasar
tersebut dapat terjadi. Sifat tanah yang memungkinkan air melewatinya pada berbagai
laju alir disebut permeabilitas tanah. ฀ada penelitian ini menghitung nilai koefisien
permeabilitas, dan kemudian menentukan jumlah sumur resapan yang efisien฀

Sampel tanah yang diuji pada penelitian ini yaitu tanah lempung yang berasal dari
฀erumahan Kedaung, Kelurahan Beringin Jaya, Kecamatan Kemiling, Bandar
Lampung. ฀enelitian ini dilakukan untuk menentukan jumlah efisien sumur resapan
yang akan dibuat dengan nilai hasil uji permeabilitas lapangan dengan alat yang telah
dimodifikasi. Berdasarkan pemeriksaan sifat fisik tanah asli, mengklasifikasikan
sampel tanah pada kelompok tanah berlempung, sedangkan USCS
mengklasifikasikan sampel tanah sebagai tanah lempung dan termasuk ke dalam
kelompok CL.

Hasil analisa dan perhitungan yang dilakukan, diperoleh koefesien permeabilitas


lapangan 1,06863 x - 1,83723 x cm /dt. ฀enelitian di laboratorium
dilakukan untuk perbandingan, diperoleh 2,2507 x 10-7 - 3,6638 x 10-7. Hal ini
menunjukkan bahwa nilai koefisien permeabilitas antar lapangan dan laboratorium
tidah terlalu jauh perbedaannya฀ Nilai koefisien permeabilitas inilah yang digunakan
untuk menghitung jumlah sumur resapan yang efsien. ฀ada pembuatan sumur resapan
efektif adalah berjumlah 2 buah dengan diameter 1,5 meter dan kedalaman 3 meter.

Kata kunci: lempung, permeabilitas, sumur resapan


฀BSTR฀CT

EFFICIENCY BY DESIGN ฀BSORBSION WELLS FIELD TEST RESULTS


PERME฀BILITY IN VILL฀GE BERINGIN J฀Y฀ KEMILING DISTRICT WITH
DIFFERENT SURF฀CE SOIL

By

฀ AQLI

฀he difference in elevation can cause the hydraulic gradient is quite high and cause
seepage. When the flow of seepage water layer with a finer grain to the layer of
coarse, granular material terangkutnya possibility that more subtle pass through the
coarser material can occur. ฀he nature of the soil that allows water to pass through
at different flow rates is called the permeability of the soil. In this study to calculate
the coefficient of permeability, and then determine the number of recharge wells
efficient.

Soil samples were tested in this study are derived from clay Kedaung Housing,
Village Banyan Jaya, District Kemiling, Bandar Lampung. ฀his study was conducted
to determine the efficient amount of recharge wells that will be created with the value
of the field permeability test results with tools that have been modified. Based on the
examination of the physical properties of the original soil, classify soil samples in
group argillaceous soil, while USCS classified as clay soil samples and included in
the CL group.

฀he results of the analysis and calculations were performed, the field permeability
coefficient obtained x 1.06863 - 1.83723 x cm / sec. Research conducted in the
laboratory for comparison, obtained 2.2507 x 10-7 - 3.6638 x 10-7. ฀his indicates
that the value of the coefficient of permeability between field and laboratory tidah too
much difference. Permeability coefficient values ​were used to calculate the amount of
recharge wells that efsien. In making effective absorption wells are numbered 2
pieces with a diameter of 1.5 meters and a depth of 3 meters

Keywords: clay, permeability, infiltration well


฀FISI฀NSI D฀SAIN SUMUR R฀SAPAN B฀RDASARKAN
HASIL UJI P฀RM฀ABILITAS LAPANGAN DIK฀LURAHAN
B฀RINGIN JAYA K฀CAMATAN K฀MILING D฀NGAN
P฀RMUKAAN TANAH YANG B฀RB฀DA

฀leh
M. AQLI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar


Sarjana Teknik

Pada

Jurusan Teknik Sipil


Fakultas Teknik Universitas Lampung

FAKULTAS T฀KNIK
UNIV฀RSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, pada tanggal 4 Oktober

1990. Merupakan anak pertrama dari empat bersaudara dari

keluarga Bapak Ahmad Latif dan Ibu Femmi Aryani S.Pd.

Penulis memulai jenjang pendidikan dari Taman Kanak-Kanak Al Hidayah pada

tahun 1995, SD Negeri I Kebun Jeruk tahun 1996, SLTP N 1 B.Lampung pada

tahun 2002, dan SMA N 10 B.Lampung pada tahun 2005.

Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Teknik, Jurusan Sipil, Universitas

Lampung melalui jalur Ujian Masuk (UM) pada tahun 2008. Selama menjadi

mahasiswa penulis aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ), dan

menjadi Anggota BEM Teknik unila periode 2010-2011, serta Himpunan

Mahasiswa Teknik Sipil (HIMATEKS) Unila.


฀upersembahkan Skripsi ini untuk :
Ayah dan Ibuku Tercinta
AHMad latif femmi aryani

Adik Adik ku Tersayang


MUHAMMAD IQBAL RIS฀I A฀BAR

RAHMADI ROMADHON

Dan Untuk Seluruh Ummat Manusia Di Muka Bumi


Ini
฀idup itu pilihan!

KESALA฀AN JADIKAN PENGALAMAN

DAN YANG BENAR JADIKAN JALAN

MENUJU KESUKSESAN!

It’s not about what you do in life,

Experience make mistakes and make the corret

way to succes
฀ANWACANA

฀lhamdullilah segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat ฀llah SWT, yang

telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Hya sehingga penulis dapat

menyelesaikan Skripsi dengan judul “฀fisiensi Desain Sumur Resapan

Berdasarkan Hasil Uji Permeabilitas Lapangan Dikelurahan Beringin Jaya

Kecamatan Kemiling Dengan Permukaan Tanah yang Berbeda” ini sebagai salah

satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik di Universitas Lampung.

Pada kesempatan ini pula secara tulus penulis ingin menyampaikan ucapan terima

kasih yang sedalam-dalamnya kepada mereka yang penuh kesabaran dan dedikasi

membantu penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini :

1. Bapak Ir. Idharmahadi ฀dha, M.T., selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil

Fakultas Teknik Universitas Lampung dan Dosen Pembimbing atas

arahannya dalam penyusunan skripsi ini yang membuat skripsi ini menjadi

lebih baik;

2. Bapak Ir. Setyanto, M.T., selaku Dosen Pembimbing atas waktu dan

kesabarannya selama proses bimbingan, sehingga skripsi ini dapat dibuat

dan diselesaikan juga membuat penulis belajar tentang arti disiplin dan

kerja keras;
3. Ibu Dr. Ir. Lusmelia ฀friani, D.E.฀ selaku Dosen Penguji atas kritik

membangun, serta argumentasinya yang mendorong penulis untuk terus

belajar dan penulis yakin beliau melakukannya untuk membuat penulis

menjadi seseorang yang lebih baik;

4. Bapak Sasana Putra, S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing ฀kademik

yang telah memberikan kasih sayang, serta pendidikan bagaimana menjadi

seorang mahasiswa yang lugas, tegas, dan bertanggung jawab;

5. Bapak Prof. Dr. Suharno, M.Sc. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas

Lampung;

6. Seluruh dosen dan karyawan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik

Universitas Lampung, dan dosen-dosen konsentrasi Geoteknik pada

khususnya, untuk segala dedikasinya yang telah membantu penulis dalam

proses pendidikan. Penulis bahkan sadar ucapan terima kasih tidak akan

cukup untuk menggambarkan dedikasi dan pengabdian beliau-beliau

terhadap perkembangan pendidikan penulis;

฀khir kata, Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan

tetapi dengan sedikit harapan semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat

bagi kita semua. ฀min.

Bandar Lampung, ฀gustus 2014

Penulis,

M Aqli
UCAPAN TERIMA KA฀IH

Pada kesempatan ini pula secara tulus penulis ingin menyampaikan ucapan terima

kasih yang sedalam-dalamnya kepada keluarga, sahabat sahabat, dan adik adik

yang penuh kesabaran dan dedikasi membantu penulis dalam proses penyelesaian

skripsi ini :

1. Keluarga yang sangat menyayangi saya serta telah membantu memberikan

materi, motivasi, do’a dan dukungan yang penuh sehingga saya dapat

menyelesaikan kuliah dan skripsi ini dengan lancar. Terima kasih kepada

Ibu Femmi ฀ryani yang telah memberikan segalanya dan apapun yang

saya butuh kan (semua jasa mu takkan bisa kulupakan) semoga saya bisa

memberikan yang terbaik untuk ibu. Terima kasih kepada ayah saya yang

telah bekerja keras,selalu berdoa dan membantu saya menyelesaikan

kuliah di teknik sipil unila ini.

2. Sahabat-sahabat yang menemani dalam proses penyelesaikan Skripsi ini:

teman teman 2008 yang masih berjuang di kampus tercinta ,Hafidz Randi

JH(orang terkonyol yang banyak membantu,semoga sukses bo inget orang

tua jangan di lawan ฀) , Fikri ฀l Fajri (si hitam manis yang sering

memberi masukan), Septiadi Yota H (Teman seperjuangan yang susah


bangun pagi), Dedi Ucok Setiawan (orang yang gampang di tipu ฀ ),

฀ndrian Hico Hasan (gak da orang ini gak da yang bikin rusuh

dikampus,tapi makasih nay dah banyak bantu gw), ฀bdul ฀ziz al Hakim

(Teman sekamar KKH yang hobby cew** tuttt berentilah jis,semoga cepet

nyusul jis), ฀bdurrohmansyah (yang banyak membantu saat pengambilan

sample), Fuadil umam Fauzi (koko yang sedang bergulat dengan seminar

KP nya), M Juana Fitra (teman seperjuangan yang banyak memnberi

informasi) Pratama Jagar dan ฀kbar Prima (sukses buat KP nya semoga

lancar), Imsaskia dan Lina Puspa (yang selalu memberi semangat) . serta

teman teman 2008 yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang tidak

pernah bosan-bosan untuk memotivasi penulis agar terus berusaha (we can

if together friends!!), last but not least.

3. Terima Kasih pula kepada abang abang dan sahabat sahabat saya Rahmat

Setiawan, Wahyu Kurniawan, Rifki ฀ria P, Briana marthandi, ฀hmad

Jadang Rianto (kalian abang dan sahabat terbaik yang selalu memacu,

mengingatkan, memotivasi dan memberikan solusi yang tetrbaik)

4. Seseorang di pulau pisang yang selalu setia selalu mensupport

memperhatikan mengingatkan dan berdo’a yang terbaik uintuk saya.

Terimakasih sudah menunggu untuk waktu yang cukup lama ini Dwi

Hirmala Sari S.Pd..

5. Kurcaci kurcaci di Kantin Macan: Sapto, Jhon, Riko, Muber, Meyfra,

Jimmy, ฀nton, noval, Willi, sebagai adik yang selalu menghibur, selalu

siap dan membantu apapun yang kami butuihkan, (Cepet nyusul


coy,berentilah ngeremehin kuliah kelak lorang bakal nyesel kalo gak

berubah dari sekarang !!!)

6. Teman-teman kostan yang penuh karakter berbeda beda ฀ (Edi, Kak

Risky, Jaya, Heru) Terima kasih untuk semua perhatiannya;

7. Mas Pardin, Mas Budi dan Mas ฀ndi untuk segala kebaikan dan waktu-

waktu yang dengan ikhlas beliau berikan untuk membantu penulis dalam

memudahkan urusan-urusan yang sebelumnya terasa rumit;

8. Teman-teman mahasiswa/i angkatan 2008 Jurusan Teknik Sipil Fakultas

Teknik Universitas Lampung. Kehadiran kalian membuat semua ini jadi

menyenangkan;

9. Seluruh civitas mahasiswa teknik sipil yang tergabung dalam HIM฀TEKS

(2013,2012,2011,2010,2009)

Sebagai kata terakhir, penulis hanya ingin sedikit berbagi motto hidup sebagai

mahasiswa : “HIDUP ITU PILIHAN, KE฀ALAHAN JADIKAN

PENGALAMAN DAN YANGH BENAR JADIKAN JALAN MENUJU

KE฀UK฀E฀AN” ฀tas nama cinta dan persaudaraan, hanya senyuman dan

harapan yang penulis bisa haturkan sebagai ucapan terima kasih. Semoga segala

kebaikan menyertai langkah kaki kalian. ฀min.

Bandar Lampung, ฀gustus 2014

Penulis,

M Aqli
฀AFTAR ISI

฀alaman
DAFTAR ISI .....................................................................................................
DAFTAR TABEL .............................................................................................
DAFTAR GAMBAR .........................................................................................

I. PENDA฀ULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang........................................................................................ 1
B. Batasan Masalah .................................................................................... 2
C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 4


A. Tanah ..................................................................................................... 4
1. Definisi Tanah ................................................................................. 4
2. Klasifikasi Tanah ............................................................................. 6
a. Sistem Klasifikasi Tanah ฀nified .............................................. 7
3. Tanah Lempung ................................................................................ 11
B. ฀ukum Darcy ......................................................................................... 19
C. Permeabilitas ......................................................................................... 20
1. Koefisien Permeabilitas ................................................................... 21
2. Uji Permeabilitas Lapangan ............................................................. 22
3. Uji Permeabilitas Laboratorium ....................................................... 24
D. Pengujian Kadar Air (Water Content) .................................................... 27
E. Pengujian Berat Jenis (Spesific Gravity) ................................................ 28
F. Pengujian Batas-Batas Atterberg ........................................................... 29
1. Pengujian Batas Cair (Liquid Limit) .................................................... 29
2. Pengujian Batas Plastis (Plastis Limit) ................................................ 29
G. Pengujian Analisis Saringan (Sieve Analysis) ........................................ 30
฀. Sumur Resapan ....................................................................................... 30
I. Desain Sumur Resapan ........................................................................... 31
J. Tinjauan Penelitian Terdahulu ............................................................... 37

III. METODE PENELITIAN ............................................................................ 39


A. Lokasi...................................................................................................... 39
B. Bahan Penelitian ..................................................................................... 39
C. Metode Pengambilan sampel .................................................................. 45
D. Pelaksanaan Pengujian…………………………………...……………. 46
1. Pengujian di Lapangan…………………………………………….. 46
2. Pengujian di Laboraturium………………………………………… 42
E. Pengujian Permeabilitas di Lapangan..................................................... 48
F. Pengujian Kadar Air (Water Content) .................................................... 48
G. Pengujian Berat Jenis (Spesific Gravity) ................................................ 49
฀. Pengujian Batas-Batas Atterberg ........................................................... 51
1. Pengujian Batas Cair (Liquid Limit) .................................................... 51
2. Pengujian Batas Plastis (Plastis Limit) ................................................ 53
I. Pengujian Analisis Saringan ................................................................... 54
J. Pengujian Permeabilitas di Laboratorium............................................... 55
K. Pengolahan dan Analisis Data ................................................................ 57
1. Pengolahan Data ...................................................................................... 57
2. Analisis Data..................................................................................... 57

IV. ฀ASIL DAN PEMBA฀ASAN ................................................................... 60


A. ฀asil Pengujian Untuk Sampel Tanah Asli ........................................... 60
1. ฀asil Pengujian Kadar Air (ω) ......................................................... 60
2. ฀asil Pengujian Berat Jenis (Gs) .................................................... 61
4. ฀asil Pengujian Batas-Batas Atterberg............................................. 62
5. ฀asil Pengujian Analisa Saringan..................................................... 63
B. Waktu Pelaksanaan Pengujian Permeabilitas ......................................... 66
C. ฀asil Pengujian Permeabilitas…………………………………………. 67
D. Perbandingan Nilai Permeabilitas Lapangan dengan Nilai
Permeabilitas Laboratorium.................................................................... 76
E. Perencanaan Sumur Resapan ................................................................... 78
F. Kedalaman Muka Air Tanah…………………………………....……… 78
1. Perhitungan Debit…………………………………………………… 79
2. Penambahan Muka Air Tanah………………………………………. 81
3. Desain Rencana Sumur Resapan……………………………………. 84

V. PENUTUP ................................................................................................... 89
A. Kesimpulan ............................................................................................ 89
B. Saran ...................................................................................................... 91

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
-..Lampiran A Surat – Surat Akademik
-..Lampiran B ฀asil Uji Tanah Asli
-..Lampiran C ฀asil Uji Permeabilitas di Lapangan
-..Lampiran D ฀asil Uji Permeabilitas di Laboratorium
-..Lampiran E Foto Pengambilan Sampel Tanah Asli
-..Lampiran F Foto Pelaksanaan Uji Tanah Asli
-..Lampiran G Foto Pelaksanaan Uji Permeabilitas di Lapangan
-..Lampiran ฀ Foto Pelaksanaan Uji Permeabilitas di Laboratorium
-..Lampiran I Foto Peralatan
฀AFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Sistem klasifikasi tanah ฀nified ........................................................... 8

2. Klasifikasi Tanah Berdasarkan Sistem ฀nified .................................... 9

3. Sifat Tanah Lempung ........................................................................... 12

฀. Struktur Tanah Lempung ...................................................................... 13

5. Nilai-Nilai Khas Dari Aktifitas............................................................. 16

6. Batas-Batas Atterberg Untuk Mineral Lempung .................................. 17

7. Nilai Gs Untuk Tiap Mineral Tanah Lempung Lunak ......................... 17

8. Nilai Angka Pori, Kadar Air, dan Berat Volume Kering pada Tanah

Lempung ……………………………………………………..……… 18

9. Harga-Harga Koefisien Permeabilitas Tanah Pada Umumnya ............ 22

10. Volume Sumur Resapan Pada Kondisi Tanah Permeabilitas Rendah.. 32

11. Koefisien Limpasan untuk Metode Rasional........................................ 33

12. Nilai Faktor Geometrik Menurut Bentuk Sumur Resapan


……..………………………………………………………………… 35

13. Jumlah Sumur Resapan Berdasarkan Nilai Permeabilitas dan Luas

Tanah………………………………………..……………………….. 37

1฀. Perbandingan Nilai Uji Permeabilitas Lapangan dan Laboratorium


Pada Tanah Lempung Yang Pernah Dilakukan.................................... 38

15. Uji Kadar Air (ω).................................................................................. 61


16. Uji Berat Jenis (Gs)….………………………………………………. 62

17. Uji Batas-Batas Atterberg..................................................................... 63

18. Uji Analisa Saringan฀…………………….………………………………………………….. 6฀

19. Hasil Pengujian Sampel Tanah Asli …...…………………….……….. 6฀

20. Hasil Pengujian Permeabilitas Lapangan ............................................ 70

21. Hasil Pengujian Permeabilitas Laboratorium ...................................... 7฀

22. Perbandingan Nilai Permeabilitas Lapangan dengan Laboratorium .... 77

23. Hasil฀Perhitungan฀Debit฀Hujan.............................................................. 81

2฀. Data฀Desain฀Sumur฀Resapan……………………………………………………………..฀฀86

5
฀AFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Dua metode pengujian koefisien permeabilitas di laboratorium…….. 25

฀. Pinsip Uji Permeabilitas Metode Falling Head…………………………. 27

3. Pipa Besi Berukuran tinggi 45 cm dan diameter 9 cm………………. 40

4. Penggaris besi……………………………………………………….... 40

5. Kaca………………………………………………………………….. 41

6. Lem perekat(kaca)……………………………………………………. 41

7. Pewarna Besi…………………………………………………………. 42

8. Memotong Pipa Besi dengan tinggi pipa 45cm……………………… 42

9. Memotong diameter pipa besi selebar 2,5 cm sampai ketinggian 30 cm 43

10. Memtong kaca seukuran dengan lubang persegi panjang yang telah di

buat di bagian pipa besi………………………………………………. 43

11. Merekatkan kaca dan pipa besi dengan lem perekat…………………. 44

1฀. Memberi warna pada alat permodelan……………………………….. 44

13. Lokasi pengambilan sample………………………………………….. 45

14. Lokasi pengambilan tanah lempung…………………………………. 4฀

15. Pembuatan lubang sumur uji dan meletakkan alat uji……………….. 47

16. Memasukkan air kedalam alat uji……………………………………. 47


17. Bagan Alir Penelitian………………………………………………… 59

18. Batas cair .............................................................................................. ฀5

19. Lubang Sumur Uji ………………………….………………………… ฀9

20. Grafik Nilai Permeabilitas Uji Lapangan ............................................. 71

21. Grafik Nilai Permeabilitas Uji Laboratorium ...................................... 75

22. Luas Bangunan ..................................................................................... 80

23. ฀umur Resapan………………………………………………………………………………… 85

24. Desain Perencanaan penempatan sumur resapan…………………………… 87

7
฀. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

฀embangunan suatu konstruksi sangat erat kaitannya dengan kondisi fisik dan

mekanis dari tanah. Hal ini disebabkan karena tanah merupakan salah satu

material yang memegang peranan penting dalam mendukung suatu konstruksi.

Tanah berperan utama pada setiap pekerjaan konstruksi, karena hampir semua

bangunan berada di atas atau dibawah permukaan tanah. Sehingga perlu diketahui

sifat-sifat tanah terutama bila dilakukan perubahan terhadapnya

Tanah adalah kumpulan partikel padat dengan rongga yang saling

berhubungan. Rongga ini memungkinkan air dapat mengalir di dalam partikel

menuju rongga dari satu titik yang lebih tinggi ke titik yang lebih rendah. Studi

mengenai aliran air melalui pori-pori tanah diperlukan dan sangat berguna di

dalam memperkirakan jumlah rembesan air di dalam tanah.฀฀ Sifat tanah yang

memungkinkan air melewatinya pada berbagai laju alir tertentu disebut

permeabilitas tanah. Sifat ini berasal dari sifat alami granular tanah, meskipun

dapat dipengaruhi oleh faktor lain (seperti air terikat di tanah liat). Jadi, tanah

yang berbeda akan memiliki permeabilitas yang berbeda pula

(http://www.anneahira.com/permeabilitas-tanah.htm).
2

฀engujian permeabilitas dilakukan untuk menentukan koefisien permeabilitas.

Koefisien permeabilitas tanah lempung dapat dilakukan langsung di lapangan atau

dengan cara mengambil contoh tanah lempung di lapangan dengan tabung contoh,

salanjutnya dilakukan pengujian permeabilitas di laboratorium.

Dalam pelaksanaannya, sering didapatkan nilai koefisien permeabilitas yang

berbeda dari pengujian di lapangan dan pengujian di laboratorium. Hal ini

dikarenakan penggunaan metode yang berbeda dan tingkat kesulitan yang tidak

sama.


Saat ini belum ada nilai konstanta perbandingan antara uji permeabilitas di

lapangan dan di laboratorium untuk tanah lempung. Oleh sebab itu, perlu

dilakukan upaya untuk menentukan standar komparasi dari pengujian

permeabilitas skala lapangan terhadap pengujian permeabilitas skala laboratorium,

agar koefisien yang didapatkan mendekati keadaan yang sebenarnya dan tidak

terlalu jauh berbeda.

B. Batasan Masalah

Untuk memberikan hasil yang baik dan terarah dalam penelitian ini, maka

permasalahan dibatasi pada :

1. ฀enelitian hanya terbatas pada sifat fisik tanah tidak menganalisis unsur kimia

tanah.

2. ฀engujian yang dilakukan di laboratorium untuk sampel tanah asli meliputi

pengujian kadar air, berat jenis, batas ฀tterberg, analisa saringan, berat
3

volume, dan ฀engujian ฀ermeabilitas menggunakan alat modifikasi metode

Falling Head.

3. ฀engujian yang di lalukan di lapangan dengan menggunakan alat modifikasi

lapangan.

4. Karakteristik tanah yang dipergunakan adalah tanah lempung, yang berasal

dari Kecamatan kemiling Kelurahan Beringin Jaya.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui nilai permeabilitas tanah lempung skala lapangan dan skala

laboratorium.

2. Menganalisa perbandingan nilai permeabilitas tanah lempung antara uji

permeabilitas skala lapangan dengan skala laboratorium.

3. Mendapatkan nilai konstanta perbandingan antara uji permeabilitas di

lapangan dan di laboratorium untuk tanah lempung.

4. Menganalisa pengaruh air hujan terhadap muka air tanah sumur resapan.
฀฀. T฀NJAUAN PUSTAKA

A. Tanah

1. Definisi Tanah

฀anah menurut teknik sipil dapat didefinisikan sebagai sisa atau produk yang

dibawa dari pelapukan batuan dalam proses geologi yang dapat digali tanpa

peledakan dan dapat ditembus dengan peralatan pengambilan contoh (฀ampling)

pada saat pemboran (Hendarsin, 2000).

฀anah membagi bahan-bahan yang menyusun kerak bumi secara garis besar

menjadi dua kategori : tanah (฀oil) dan batuan (rock), sedangkan batuan

merupakan agregat mineral yang satu sama lainnya diikat oleh gaya-gaya kohesif

yang permanen dan kuat (฀erzaghi, 1996).

฀anah adalah akumulasi partikel mineral yang tidak mempunyai atau lemah

ikatan antar partikelnya, terbentuk karena pelapukan dari batuan. Diantara

partikel-partikel tanah terdapat ruang kosong yang disebut pori-pori (void ฀pace)

yang berisi air atau udara (Craig, 1991).

฀anah juga didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran)

mineral-mineral padat tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan dari

bahan organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat

cair dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara partikel padat tersebut

(Das, 1995).

฀anah adalah himpunan mineral, bahan organik dan endapan-endapan yang

relative lepas (loo฀e) yang terletak di atas batu dasar (bedrock) (Hardiyatmo,

H.C., 1992).

Menurut Bowles, tanah adalah campuran partikel-partikel yang terdiri dari

salah satu atau seluruh jenis berikut :

1. Berangkal (boulder฀), merupakan potongan batu yang besar, biasanya lebih

besar dari 250 mm sampai 300 mm. Untuk kisaran antara 150 mm sampai

250 mm, fragmen batuan ini disebut kerakal (cobble฀).

2. Kerikil (gravel), partikel batuan yang berukuran 5 mm sampai 150 mm.

3. Pasir (฀and), partikel batuan yang berukuran 0,074 mm sampai 5 mm,

berkisar dari kasar (3-5 mm) sampai halus (kurang dari 1 mm).

4. Lanau (฀ilt), partikel batuan berukuran dari 0,002 mm sampai 0,074 mm.

Lanau dan lempung dalam jumlah besar ditemukan dalam deposit yang

disedimentasikan ke dalam danau atau di dekat garis pantai pada muara

sungai.

5. Lempung (clay), partikel mineral yang berukuran lebih kecil dari 0,002 mm.

Partikel-partikel ini merupakan sumber utama dari kohesi pada tanah yang

kohesif.
6

2. Klasifikasi Tanah

Sistem Klasifikasi ฀anah adalah suatu sistem pengaturan beberapa jenis tanah

yang berbeda-beda tapi mempunyai sifat yang serupa ke dalam kelompok-

kelompok dan subkelompok-subkelompok berdasarkan pemakaiannya (Das,

1995).

Sistem klasifikasi tanah dimaksudkan untuk menentukan dan

mengidentifikasikan tanah dengan cara sistematis guna menentukan kesesuaian

terhadap pemakaian tertentu dan juga berguna untuk menyampaikan informasi

mengenai kondisi tanah dari suatu daerah ke daerah lain dalam bentuk suatu data

dasar. Klasifikasi tanah juga berfungsi untuk studi yang lebih terperinci mengenai

keadaan tanah tersebut serta kebutuhan akan pengujian untuk menentukan sifat

teknis seperti karakteristik pemadatan, kekuatan tanah, berat isi, dan sebagainya

(Bowles, 1991).

Sistem klasifikasi tanah digunakan untuk mengelompokkan tanah-tanah

sesuai dengan perilaku umum dari tanah pada kondisi fisis tertentu. ฀anah-tanah

yang dikelompokkan dalam urutan berdasarkan suatu kondisi-kondisi fisis

tertentu bisa saja mempunyai urutan yang tidak sama jika berdasarkan pada

kondisi-kondisi fisis yang lainnya (Dunn, 1992).

Kebanyakan klasifikasi tanah menggunakan indek pengujian yang sangat

sederhana untuk memperoleh karakteristik tanahnya. Umumnya klasifikasi

didasarkan atas ukuran partikel yang diperoleh dari analisis saringan (percobaan

sedimentasi) dan plastisitasnya (Hardiyatmo, 2002).


7

Sistem klasifikasi tanah yang umum digunakan dalam perencanaan jalan

adalah sebagai berikut :

฀ Sistem ฀nified (฀nified Soil Classification / ฀SCS)

(USCS) diajukan pertama kali oleh Casagrande dan selanjutnya

dikembangkan oleh United State Bureau of Reclamation (USBR) dan United

State Army Corp฀ of Engineer (USACE). Kemudian American Society for Te฀ting

and Material฀ (AS฀M) memakai USCS sebagai metode standar guna

mengklasifikasikan tanah. Dalam bentuk yang sekarang, sistem ini banyak

digunakan dalam berbagai pekerjaan geoteknik. Dalam USCS, suatu tanah

diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama yaitu :

a. ฀anah berbutir kasar (coar฀e-grained ฀oil), yaitu tanah kerikil dan pasir yang

kurang dari 50% berat total contoh tanah lolos saringan No.200. Simbol

untuk kelompok ini adalah G untuk tanah berkerikil dan S untuk tanah

berpasir. Selain itu juga dinyatakan gradasi tanah dengan simbol W untuk

tanah bergradasi baik dan P untuk tanah bergradasi buruk.

b. ฀anah berbutir halus (fine-grained ฀oil), yaitu tanah yang lebih dari 50%

berat contoh tanahnya lolos dari saringan No.200. Simbol kelompok ini

adalah C untuk lempung anorganik dan O untuk lanau organik. Simbol Pt

digunakan untuk gambut (peat), dan tanah dengan kandungan organik tinggi.

Plastisitas dinyatakan dengan L untuk plastisitas rendah dan H untuk

plastisitas tinggi.

Menurut Bowles, 1991 Kelompok-kelompok tanah utama sistem klasifikasi

Unified dapat dilihat pada tabel 1. berikut ini :


8

฀abel 1. Sistem Klasifikasi ฀anah Unified

Jenis Tanah Prefiks Sub Kelompok Sufiks


Kerikil G Gradasi baik W
Gradasi buruk P
Pasir S Berlanau M
Berlempung C
Lanau M
Lempung C wL < 50 % L
Organik O wL > 50 % H
Gambut Pt

Sumber : Bowles, 1991.

Keterangan :

G = Untuk kerikil (Gravel) atau tanah berkerikil

(Gravelly Soil).

S = Untuk pasir (Sand) atau tanah berpasir (Sandy ฀oil).

M = Untuk lanau inorganik (inorganic ฀ilt).

C = Untuk lempung inorganik (inorganic clay).

O = Untuk lanau dan lempung organik.

Pt = Untuk gambut (peat) dan tanah dengan kandungan

organik tinggi.

W = Untuk gradasi baik (well graded).

P = Gradasi buruk (poorly graded).

L = Plastisitas rendah (low pla฀ticity).


9

฀abel 2. Klasifikasi ฀anah Berdasarkan Sistem Unified

Simbol
Divisi utama Nama umum
kelompok
฀a
nah
ber
but
ir
kas
ar≥
50 Pasir≥
% 50 %
but fraksi Kerikil
Kerikil bergradasi-baik dan campuran
ira kasar bersih
GW kerikil-pasir, sedikit atau sama sekali
n lolos (hanya
tidak mengandung butiran halus
tert saring kerikil)
aha an
n No. 4
sari
nga
n
No
.
20
0
Kerikil bergradasi-buruk dan campuran
GP kerikil-pasir, sedikit atau sama sekali
tidak mengandung butiran halus
Kerikil
dengan Kerikil berlanau, campuran kerikil-
GM
Butiran pasir-lanau
halus
Kerikil berlempung, campuran kerikil-
GC
pasir-lempung
Keriki
l 50
%≥
fraksi Pasir
Pasir bergradasi-baik , pasir berkerikil,
kasar bersih
SW sedikit atau sama sekali tidak
tertah (hanyapa
mengandung butiran halus
an sir)
saring
an
No. 4
SP Pasir bergradasi-buruk, pasir berkerikil,
10

sedikit atau sama sekali tidak


mengandung butiran halus
Pasir
dengan
SM Pasir berlanau, campuran pasir-lanau
butiran
halus
Pasir berlempung, campuran pasir-
SC
lempung
฀anah
berbutir Lanau
halus dan Lanau anorganik, pasir halus sekali,
50 % atau lempung ML serbuk batuan, pasir halus berlanau atau
lebih lolos batas cair berlempung
ayakan No. ≤ 50 %
200
Lempung anorganik dengan plastisitas
rendah sampai dengan sedang lempung
CL
berkerikil, lempung berpasir, lempung
berlanau, lempung “kurus” (lean clay฀)
Lanau-organik dan lempung berlanau
OL
organik dengan plastisitas rendah
Lanau
dan Lanau anorganik atau pasir halus
lempung MH diatomae, atau lanau diatomae, lanau
batas cair yang elastis
≥ 50 %
Lempung anorganik dengan plastisitas
CH
tinggi, lempung “gemuk” (fat clay฀)
Lempung organik dengan plastisitas
OH
sedang sampai dengan tinggi
฀anah-tanah dengan
Peat (gambut), muck, dan tanah-tanah
kandungan organik P฀
lain dengan kandungan organik tinggi
sangat tinggi

Lanjutan ฀abel 2. Klasifikasi ฀anah Berdasarkan Sistem Unified

Kriteria klasifikasi
11

Klasifikasi
berdasarkan
persentase buti
≥ 12 % lolos
saringan No. 200
GM, GC, SM,
SC
5 - 12 % lolos
saringan No. 200 Cu = D60 / D10 > dari 4
klasifikasi ( D30 ) 2
Cc = antara 1 dan 3
perbatasan yang D10 xD60
memerlukan r
halus
≤ 5 % lolos
saringan No. 200
GW, GP, SW,
SP
penggunaan dua
simbol
฀idak memenuhi kedua kriteria untuk GW
Batas-batas Atterberg
yang digambar dalam
daerah yang diarsir
Batas-batas Atterberg di bawah
merupakan klasifikasi
garis A atau PI < 4
batas yang
membutuhkan
simbol ganda
Batas-batas Atterberg di atas
garis A atau PI > 7
Cu = D60 / D10 lebih besar dari 6
( D30 ) 2
Cc = antara 1 dan 3
D10 xD60
฀idak memenuhi kedua kriteria untuk SW
Batas-batas Atterberg
yang digambar dalam
daerah yang diarsir
Batas-batas Atterberg di bawah
merupakan klasifikasi
garis A atau PI < 4
batas yang
membutuhkan simbol
ganda
Batas-batas Atterberg di atas
garis A atau PI > 7

60
Bagan plastisitas

Untuk klasifikasi tanah berbutir-halus dan


CH
dex plastisitasas

fraksi halus dari tanah berbutir kasar


฀0
Batas Atterberg yang digambarkan di Garis A
bawah yang diarsir merupakan klasifikasi
batas yang membutuhkanCL simbol ganda
40
12

Manual untuk identifikasi secara visual dapat dilihat dalam


AS฀M designation D-2488

Sumber : “Dasar-dasar Analisis Geoteknik, hal. 34”, Dunn, dkk, 1992.


10

3. Tanah Lempung

฀anah lempung merupakan partikel mineral yang berukuran lebih kecil dari

0,002 mm. Partikel-partikel ini merupakan sumber utama dari kohesi di dalam

tanah yang kohesif (Bowles, 1991).

฀anah lempung adalah tanah yang mempunyai partikel mineral tertentu yang

menghasilkan sifat-sifat plastis pada tanah bila dicampur dengan air (Grim, 1953

dalam Darmady, 2009).

฀anah lempung merupakan tanah yang berukuran mikroskopis sampai dengan

sub mikroskopis yang berasal dari pelapukan unsur-unsur kimiawi penyusun

batuan, tanah lempung sangat keras dalam keadaan kering dan bersifat plastis

pada kadar air sedang. Pada kadar air lebih tinggi lempung bersifat lengket

(kohesif) dan sangat lunak (Das, 1995).

฀anah butiran halus khususnya tanah lempung akan banyak dipengaruhi oleh

air. Sifat pengembangan tanah lempung yang dipadatkan akan lebih besar pada

lempung yang dipadatkan pada kering optimum dari pada yang dipadatkan pada

basah optimum. Lempung yang dipadatkan pada kering optimum relatif

kekurangan air oleh karena itu lempung ini mempunyai kecenderungan yang lebih

besar untuk meresap air sebagai hasilnya adalah sifat mudah mengembang

(Hardiyatmo, 2002).
11

฀ Sifat–Sifat Tanah Lempung

Sifat yang khas dari tanah lempung adalah dalam keadaan kering dia akan

bersifat keras, dan jika basah akan bersifat lunak plastis, dan kohesif,

mengembang dan menyusut dengan cepat, sehingga mempunyai perubahan

volume yang besar dan itu terjadi karena pengaruh air.

Sifat-sifat yang dimiliki tanah lempung (clay) adalah sebagai berikut

(Hardiyatmo, 2002) :

a. Ukuran butir halus, kurang dari 0,002 mm

b. Permeabilitas rendah

c. Kenaikan air kapiler tinggi

d. Bersifat sangat kohesif

e. Kadar kembang susut yang tinggi

f. Proses konsolidasi lambat

Sifat tanah lempung juga dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut :

฀abel 3. Sifat ฀anah Lempung

Tanah Sifat Uji Lapangan


Lempung Sangat Lunak Meleleh diantara jari ketika diperas
Lunak Dapat diperas dengan mudah
Keras Dapat diperas dengan jari yang kuat
฀idak dapat diremas dengan jari, tapi dapat di
Kaku
gencet dengan ibu jari
Sangat Kaku Dapat digencet dengan kuku ibu jari
Sumber : Mekanika ฀anah 1, R.F CRAIG, 1991

Pada tabel 3 menunjukkan bahwa untuk menguji sifat dari tanah lempung di

lapangan, dapat dilakukan dengan cara yang sederhana. Yaitu dengan meremas
12

sampel tanah lempung dengan tangan, apabila tanah tersebut meleleh diantara jari

ketika diperas maka tanah tersebut merupakan tanah lempung yang bersifat sangat

lunak.

Struktur tanah lempung adalah sebagai berikut :

฀abel 4. Struktur ฀anah Lempung

Hal Keterangan
฀erbentuk
oleh
partikel–partik
el lempung
yang
Strukturmengendap
terdispersi
secara
individu.
Orientasi
butir-butirnya
hampir
parallel.
฀erbentuk
oleh
gumpalan–gu
Struktur
mpalan
terflokulasi
butiran
lempung yang
mengendap.
Kelompok
unit–unit
Domainsubmikrokopis
dari partikel
lempung.
13

Kelompok
dari domain
yang
membentuk
Claster
cluster. Dapat
dilihat dengan
mikroskop
biasa.
Kelompok
dari cluster
yang
Ped membentuk
ped. Dapat
dilihat tanpa
mikroskop.
Sumber : Mekanika ฀anah, Braja M. Das (1995)

฀ Sifat Kembang Susut (Swelling) Tanah Lempung

฀anah-tanah yang banyak mengandung lempung mengalami perubahan

volume ketika kadar air berubah. Perubahan itulah yang membahayakan

bangunan. ฀ingkat pengembangan secara umum bergantung pada beberapa faktor,

yaitu :

1) ฀ipe dan jumlah mineral yang ada di dalam tanah.

2) Kadar air.

3) Susunan tanah.

4) Konsentrasi garam dalam air pori.

5) Sementasi.

6) Adanya bahan organik, dll.


14

Secara umum sifat kembang susut tanah lempung tergantung pada sifat

plastisitasnya, semakin plastis mineral lempung semakin potensial untuk

menyusut dan mengembang.

฀ Jenis Mineral Lempung

a. Kaolinite

Kaolinite merupakan anggota kelompok kaolinite ฀erpentin, yaitu hidru฀

alumino ฀ilikat dengan rumus kimia Al2 Si2O5(OH)4. Kekokohan sifat struktur

dari partikel kaolinite menyebabkan sifat-sifat plastisitas dan daya pengembangan

atau menyusut kaolinite menjadi rendah.

b. Illite

Illite adalah mineral bermika yang sering dikenal sebagai mika tanha dan

merupakan mika yang berukuran lempung. Istilah illite dipakai untuk tanah

berbutir halus, sedangkan tanah berbutir kasar disebut mika hidru฀.

Rumus kimia illite adalah KyAl2(Fe2Mg2Mg3) (Si4yAly)O10(OH)2.

c. Montmorilonite

Mineral ini memiliki potensi plastisitas dan mengembang atau menyusut yang

tinggi sehingga bersifat plastis pada keadaan basah dan keras pada keadaan

kering. Rumus kimia montmorilonite adalah Al2Mg(Si4O10)(OH)2 xH2O.

฀ Karakteristik Mineral Tanah Lempung


1฀

Menurut Bowles (1989), mineral-mineral pada tanah lempung umumnya

memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

1. Hidrasi

Partikel-partikel lempung dikelilingi oleh lapisan-lapisan molekul air yang

disebut sebagai air teradsorbsi. Lapisan ini umumnya mempunyai tebal dua

molekul karena itu disebut sebagai lapisan difusi ganda atau lapisan ganda.

2. Aktifitas

฀epi-tepi mineral lempung mempunyai muatan negatif netto. Ini

mengakibatkan terjadinya usaha untuk menyeimbangkan muatan ini dengan

tarikan kation. ฀arikan ini akan sebanding dengan kekurangan muatan netto dan

dapat juga dihubungkan dengan aktifitas lempung tersebut. Aktifitas ini

didefinisikan sebagai :

dimana persentase lempung diambil dari fraksi tanah yang < 2 µm. Aktivitas

juga berhubungan dengan kadar air potensial relatif. Nilai-nilai khas dari aktifitas

dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini :

฀abel 5. Nilai-Nilai Khas Dari Aktifitas.


16

Kaolinit 0,4 – 0,5

Illit 0,5 – 1,0

Montmorilonit 1,0 – 7,0

3. Flokulasi dan dispersi

Flokulasi adalah peristiwa penggumpalan mineral lempung didalam larutan

air akibat mineral lempung umumnya mempunyai pH > 7 dan bersifat alkali

tertarik oleh ion-ion H+ dari air, gaya Van der Waal. Untuk menghindari flokulasi

larutan air dapat ditambahkan zat asam.

4. Pengaruh Air

Air pada mineral-mineral lempung mempengaruhi flokulasi dan disperse

yang terjadi pada partikel lempung. Untuk meninjau karakteristik tanah lempung

maka perlu diketahui sifat fisik atau Index Propertie฀ dari tanah lempung tersebut,

yaitu :

฀ Batas-batas Atterberg (Atterberg Limit฀)

Atterberg (1990), telah meneliti sifat konsistensi mineral lempung pada kadar

air yang bervariasi yang dinyatakan dalam batas cair, batas plastis, dan batas

susut. Hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel 6. berikut ini :

฀abel 6. Batas-Batas Atterberg Untuk Mineral Lempung (Atterberg, 1990)


17

Mineral Batas Cair Batas Plastis Batas Susut


Montmorillonite 100 - 900 50 - 100 8,5 – 15
Illite 60 - 120 35 - 60 15 – 17
Kaolinite 30 - 110 25 - 40 25 – 29

Berdasarkan tabel tersebut maka dapat dilihat pada gambar 2, tanah lempung

lunak dapat dikategorikan ke dalam kelompok MH atau OH.

฀ Berat Jenis (Gs)

Nilai Specific Gravity yang didasarkan pada tiap-tiap mineral pada tanah

lempung lunak dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini :

฀abel 7. Nilai Gs Untuk ฀iap Mineral ฀anah Lempung Lunak

Mineral lempung lunak Berat jenis ( Gs )


Kaolinite 2,6 – 2,63
Illite 2,8
Montmorillonite 2,4

฀ Permeabilitas ฀anah (k)

Struktur tanah, konsistensi ion, dan ketebalan lapisan air yang menempel

pada butiran lempung berperan penting dalam menentukan koefisien

permeabilitas tanah lempung. Umumnya nilai k untuk lempung kurang dari 10-6

cm/detik2.
18

฀ Komposisi ฀anah

Angka pori, kadar air, dan berat volum kering pada beberapa tipe tanah

lempung dapat dilihat pada tabel 8 berikut :

฀abel 8. Nilai Angka Pori, Kadar Air, dan Berat Volume Kering pada ฀anah

Lempung

Berat
Angka pori, Kadar air dalam keadaan
Tipe tanah volume
E jenuh
kering,
(kN/m3 )
Lempung kaku 0,6 21 17

Lempung lunak 0,9 – 1,4 30 – 50 11,5 – 14,5

Lempung organik
2,5 – 3,2 30 – 120 6–8
lembek

Kesimpulannya adalah tanah kohesif seperti lempung memiliki perbedaan

yang cukup mencolok terhadap tanah non kohesif seperti pasir. Perbedaan tersebut

adalah :

1. ฀ahanan friksi tanah kohesif < tanah nonkohesif

2. Kohesi lempung > tanah granular

3. Permeability lempung < tanah berpasir

4. Pengaliran air pada lempung lebih lambat dibandingkan pada tanah berpasir.

5. Perubahan volume pada lempung lebih lambat dibandingkan pada tanah

granular.
19

B. Hukum Darcy

✁✂✁✄ Darcy (1856) menjelaskan tentang kemampuan air mengalir pada

rongga-rongga (pori-pori) dalam tanah dan sifat-sifat yang mempengaruhinya.

Ada dua asumsi utama yang digunakan dalam penetapan Hukum Darcy ini.

Asusmsi pertama menyatakan bahwa aliran fluida/cairan dalam tanah bersifat

laminar. Sedangkan asumsi kedua menyatakan bahwa tanah berada dalam

keadaan jenuh (http://www.anneahira.com/permeabilitas-tanah.htm)

Menurut Darcy (1856), kecepatan aliran air di dalam tanah dinyatakan dengan

persamaan :

dengan :

v = kecepatan aliran (m/s atau cm/s)

k = koefisien permeabilitas

i = gradient hidraulik

Lalu telah diketahui bahwa

v = dan i =

dengan :
20

Q = debit konstan, air yang dituangkan ke dalam sumur uji (cm3/dt)

A = luas penampang aliran (m² atau cm²)

t = waktu tempuh fluida sepanjang L (s/detik)

∆h = selisih ketinggian (m atau cm)

L = panjang daerah yang dilewati aliran (m atau cm)

C. Permeabilitas

Kemampuan fluida untuk mengalir melalui medium yang berpori adalah

suatu sifat teknis yang disebut permeabilitas (Bowles, 1991). Permeabilitas juga

dapat didefinisikan sebagai sifat bahan yang memungkinkan aliran rembesan zat

cair mengalir melalui rongga pori (Hardiyatmo, 2001).

Satuan permeabilitas adalah m². Pada umumnya pada reservoir panas bumi,

permeabilitas vertikal berkisar antara 10 - 14 m², dengan permeabilitas horizontal

dapat mencapai 10 kali lebih besar dari permeabilitas vertikalnya (sekitar 10 -

13 m²). Satuan permeabilitas yang umum digunakan di dunia perminyakan adalah

Darcy (1 Darcy = 10 - 12 m²) (http://www.anneahira.com/permeabilitas-

tanah.htm).

Permeabilitas tanah bergantung pada ukuran butiran tanah. Karena butiran

tanah lempung berukuran kecil, kemampuan meloloskan air juga kecil. Dalam

praktek, tanah lempung dianggap sebagai lapisan yang tak lolos air atau kedap air,

karena pada kenyataannya permeabilitasnya lebih kecil daripada beton. ฀anah

granuler merupakan tanah dengan permeabilitas yang relatif besar hingga sering

digunakan sebagai bahan filter. Namun, akibat permeabilitas yang besar, tanah ini
21

menyulitkan pekerjaan galian tanah pondasi yang dipengaruhi air tanah, karena

tebing galian menjadi mudah longsor. Lagi pula, aliran yang terlalu cepat dapat

merusak struktur tanah dengan menimbulkan rongga-rongga yang dapat

mengakibatkan penurunan pondasi (Hardiyatmo, 2001).

Permeabilitas suatu massa tanah penting untuk :

1. Mengevaluasi jumlah rembesan (฀eepage) yang melalui bendungan dan

tanggul sampai ke sumur air.

2. Mengevaluasi gaya angkat atau gaya rembesan di bawah struktur hidrolik

untuk analisis stabilitas.

3. Menyediakan kontrol terhadap kecepatan rembesan sehingga partikel tanah

berbutir halus tidak tererosi dari massa tanah.

4. Studi mengenali laju penurunan (konsolidasi) dimana perubahan volume

tanah terjadi pada saat air tersingkir dari rongga tanah pada saat proses terjadi

pada suatu gradien energi tertentu.

5. Mengendalikan rembesan dari tempat penimbunan bahan-bahan limbah dan

cairan-cairan sisa yang mungkin berbahaya bagi manusia.

1. Koefisien Permeabilitas

Hukum Darcy menunjukkan bahwa permeabilitas tanah ditentukan oleh

koefisien permeabiitasnya. Koefisien permeabilitas tanah bergantung pada

beberapa faktor (http://www.anneahira.com/permeabilitas-tanah.htm).

Setidaknya ada enam faktor utama yang mempengaruhi permeabilitas tanah, yaitu

a. Visikositas cairan, semakin tinggi viskositasnya, koefisien permeabilitas

tanahnya semakin kecil.


22

b. Distribusi ukuran pori, semakin merata distribusi ukuran porinya, koefisien

permeabilitasnya cenderung semakin kecil.

c. Distribusi ukuran butiran, semakin merata distribusi ukuran butirannya,

koefisien permeabilitasnya cenderung semakin kecil.

d. Rasio kekosongan (void), semakin besar rasio kekosongannya, koefisien

permeabilitas tanahnya akan semakin tinggi.

e. Semakin besar partikel mineralnya, semaik kasar partikel mineralnya,

koefisien permeabilitas tanahnya akan semakin tinggi.

f. Derajat kejenuhan tanah. semakin jenuh tanahnya, koefisien permeabilitas

tanahnya akan semakin tinggi.

Beberapa harga koefisien permeabilitas tanah diberikan dalam tabel 9.

฀abel 9. Harga-Harga Koefisien Permeabilitas ฀anah Pada Umumnya

Jenis Tanah K
Cm/dt Ft/menit
Kerikil bersih 1,0 – 100 2,0 – 200
Pasir kasar 1,0 – 0,01 2,0 – 0,02
Pasir halus 0,01 – 0,001 0,02 – 0,002
Lanau 0,001 – 0,00001 0,002 – 0,00002
Lempung < 0,000001 < 0,000002
Sumber : Das, 1988

Koefisien permeabilitas dapat ditentukan secara langsung di lapangan

ataupun dengan cara lebih dahulu mengambil contoh tanah di lapangan dengan

menggunakan tabung contoh kemudian diuji di laboratorium.


23

2. Uji Permeabilitas di Lapangan

Ada beberapa metode pengujian permeabilitas yang telah banyak

dikembangkan dan ada tiga metode yang lazim digunakan untuk keperluan

perencanaan pembangunan bendungan yaitu : metode pengujian legeon, metode

sumur pengujian dan metode pengujian pada lubang bor (Sosrodarsono, 1977).

Metode pengujian legion menggunakan lubang bor dalam keadaan dimana

pondasi calon bendungan terdiri dari lapisan batuan. Nilai koefisien permeabilitas

yang dihasilkan dari pengujian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk

pelaksanaan sementasi (grouting). Sedangkan metode pengujian pada lubang bor

dilaksanakaan apabila pada lubang yang akan diuji, permukaan air tanahnya

tinggi.

Metode sumur uji merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan

dalam pelaksanaan uji permeabilitas di lapangan pada pekerjaan pemadatan tanah,

karena metode ini dapat digunakan pada lapisan yang terletak di atas permukaan

air tanah atau pada lapisan yang dangkal di dekat permukaan tanah. Koefisien

permeabilitas (k) dalam metode sumur uji dari lapisan yang diuji dapat diketahui

dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

k =

dimana :
24

k = koefisien permeabilitas (cm/detik)

Q = debit konstan, air yang dituangkan ke dalam sumur uji (cm3/dt)

r = radius / jari-jari sumur pengujian (cm)

H = kedalaman air dalam sumur pengujian (cm)

Apabila H/r jauh lebih besar dari harga 1, maka rumus yang dipakai :

k =

k =

Dalam penelitian ini digununakan alat uji permeabilitas di lapangan yang

telah dimodifikasi menjadi lebih sederhana dan mudah penggunaannya. Alat ini

bertujuan mempermudah pembacaan laju penurunan air dalam waktu tertentu.

Alat modifikasi ini menggunakan pipa besi dengan diameter 4’dengan konsep

sederhana pembacaan melalui penggaris yang di temple di sisi pipa dengan alat

ukur berupa penggaris (cm).

Prinsip kerja alat modifikasi uji permeabilitas di lapangan ini cukup mudah

dan sederhana. Mengisi tabung dengan air yang kemudian dilakukan pembacaan

penurunan ketinggian air dengan menggunkan penggaris yang telah ditempelkan

pada tabung/sumur uji (pipa 4 inchi).


2฀

3. Uji Permeabilitas di Laboratorium

Untuk menentukan koefisien permeabilitas di laboratorium, ada dua macam

cara pengujian yang sering digunakan, yaitu Uji ฀inggi Energi ฀etap (Con฀tant

Head) dan Uji ฀inggi Energi ฀urun (Falling Head).

Uji permeabilitas Con฀tant Head cocok untuk tanah granular, seperti pasir,

kerikil atau beberapa campuran pasir dan lanau. Umumnya tanah jenis ini

memiliki nilai permeabilitas yang tinggi, karena janis tanah ini mempunyai angka

pori tinggi, yang bergantung pada distribusi ukuran butiran, susunan serta

kerapatan butiran.

Uji permeabilitas Falling Head cocok digunakan untuk mengukur

permeabilitas tanah berbutir halus. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan

dengan menggunakan metode Falling Head, karena contoh tanah yang digunakan

adalah tanah lempung.


26

Gambar 1. Dua metode pengujian koefisien permeabilitas di laboratorium

Pada pengujian ini, air dari dalam pipa tegak yang dipasang di atas contoh

tanah mengalir melalui contoh tanah. Ketinggian air pada awal pengujian h1 pada

saat waktu t1 = 0 dicatat, kemudian air dibiarkan mengalir melaiui contoh tanah

hingga perbedaan tinggi air pada waktu t2 adalah h2.

Jumlah air yang mengalir melalui contoh tanah pada suatu waktu (t) dapat

dituliskan sebagai berikut :

Q = k x x A = -a

dimana :

Q = debit aliran yang mengalir melalui contoh tanah (cm³/dt)

a = luas penampang melintang pipa pengukur (pipa tegak)

A = luas penampang melintang contoh tanah (m² atau cm²)

L = panjang contoh tanah (m atau cm)

∆t = waktu tempuh fluida sepanjang L (s/detik)

∆h = selisih ketinggian (m atau cm)

Jika persamaan di atas diturunkan lagi, maka akan didapat :

=
27

Yang jika diintegralkan dengan batas kiri atas t = 0 dan batas kiri bawah t=

t, batas kanan atas h = h1 dan batas kanan bawah h = h2 maka didapat :

Uji ฀inggi Jatuh sangat cocok untuk tanah berbutir halus dengan koefisien

rembesan kecil.

Gambar 2 . Pinsip Uji Permeabilitas Metode Falling Head

D. Pengujian Kadar Air (Water Content)


28

Kadar air adalah perbandingan berat air yang terkandung dalam tanah dengan

berat kering tanah tersebut. Kadar air tanah dapat digunakan untuk menghitung

parameter sifat-sifat tanah.

Besarnya kadar air dinyatakan dalam persen dan dapat dihitung dengan

menggunakan rumus :

dimana :

W1 = berat cawan + tanah basah (gram)

W2 = berat cawan + tanah kering (gram)

W3 = berat cawan kosong (gram)

W1 - W2 = berat air (gram)

W2 - W3 = berat tanah kering (gram)

E. Pengujian Berat Jenis (Spesific Gravity)

Berat jenis tanah adalah suatu nilai dari perbandingan antara berat butir tanah

dengan berat isi air suling dengan isi yang sama pada suhu 40 °C. Berat jenis

tanah diperoleh dengan melakukan pengujian di laboratorium dan dihitung dengan

menggunakan rumus :

Gs =

dimana :

Gs = berat jenis
29

W1 = berat picnometer (gram)

W2 = berat picnometer tanah kering (gram)

W3 = berat picnometer

tanah + air (gram)

W4 = berat picnometer air (gram)

F. Pengujian Batas-Batas Atterberg

1. Pengujian Batas Cair (Liquid Limit)

Batas cair tanah adalah kadar air minimum dimana sifat suatu tanah yang

akan berubah dari keadaan cair menjadi keadaan plastis. Besaran batas cair

tanah digunakan untuk menentukan sifat dan klasifikasi tanah.

Batas cair ditentukan dengan terlebih dahulu menghitung kadar air dari

masing-masing sampel tanah sesuai dengan jumlah pukulan, kemudian

menggambarkan jumlah pukulan dan kadar dalam suatu grafik, lalu menarik

sebuah garis lurus melalui titik-titiknya. Besarnya kadar air pada jumlah pukulan

ke-25 merupakan batas cair dari sampel tanah tersebut.

2. Pengujian Batas Plastis (Plastis Limit)

Batas plastis adalah kadar air dimana suatu tanah berubah sifatnya dari

keadaan plastis menjadi semi padat. Besaran batas palstis tanah biasanya
30

digunakan untuk menentukan jenis, sifat dan klasifikasi tanah.

Nilai batas plastis meruapakan harga kadar air rata-rata dari sample tanah yang

diuji. Indeks plastis dihitung dengan menggunakan rumus:

PI = LL – PL

dimana:

PI = indeks plastis

LL = batas cair

PL = batas plastis

G. Pengujian Analisis Saringan (Sieve Analysis)

Analisis saringan adalah penentuan persentase berat butiran tanah yang lolos

dari satu set saringan. Analisis saringan bertujuan untuk menentukan persentase

ukuran butirsn tanah dan susunan butiran tanah (gradasi) dari suatu jenis tanah

yang tertahan di atas saringan no. 200.

Analisis saringan digunakan untuk pembagian butir (gradasi) tanah dengan

tujuan untuk memperoleh distribusi besarannya. Hasil dari analisis saringan dapat

digunakan antara lain untuk penyelidikan quarry agregat, untuk perencanaan

campuran dan pengendalian mutu.

H. Sumur Resapan

Sumur Resapan (infiltration Well) adalah sumur atau lubang pada permukaan

tanah yang dibuat untuk menampung air hujan/aliran permukaan agar dapat

meresap ke dalam tanah


31

Sumur resapan ini memiliki banyak manfaat diantaranya, sebagai pengendali

banjir, melindungi serta memperbaiki kualitas air tanah, menekan laju erosi dan

dalam jangka waktu lama dapat memberi cadangan air tanah yang cukup. Secara

sederhana, prinsip kerja sebuah sumur resapan yaitu menyimpan (untuk

sementara) air hujan dalam lubang yang sengaja dibuat, selanjutnya air tampungan

akan masuk ke dalam tanah sebagai air resapan (infiltra฀i). Air resapan ini

selanjutnya menjadi cadangan air tanah.

(http://pengairan.banyuwangikab.go.id/index.php?option=com_content&view=ar

ticle&id=28:manfaat-฀umur-re฀apan&catid=2:berita&Itemid=138)

Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan untuk memilih lokasi pembuatan

sumur resapan (menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata Cara

Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan) adalah:

a. Keadaan muka air tanah

Untuk mengetahui keadaan muka air tanah dapat ditentukan dengan cara

mengukur kedalamannya permukaan air tanah terhadap permukaan tanah dari

sumur di sekitarnya pada musim hujan.

b. Permeabilitas tanah

Permeabilitas tanah merupakan kemampuan tanah untuk dapat dilalui air.

Permeabilitas tanah yang dapat dipergunakan untuk sumur resapan terbagi dalam

tiga kelas,yaitu :

permeabilitas tanah sedang (jenis tanah berupa geluh/lanau, memiliki daya

serap 2,0 – 6,5 cm/jam)


32

permeabilitas tanah agak cepat (jenis tanah berupa pasir halus, memiliki daya

serap 6,5 – 12,5 cm/jam)

permeabilitas tanah cepat (jenis tanah berupa pasir kasar, memiliki daya serap

12,5 cm/jam)

1. Desain Sumur Resapan

Di bawah ini terdapat tabel yang dapat dijadikan bahan acuan mengenai

volume sumur resapan pada kondisi tanah permeabilitas rendah :

฀abel 10. Volume Sumur Resapan Pada Kondisi ฀anah Permeabilitas Rendah

No Luas Kavling Volume Resapan Volume Resapan


(m2) (terdapat saluran drainase (tidak terdapat saluran
seagai pelimpahan, dalam drainase sebagai pelimpah,
m3) dalam m3)
1 50 1,3 - 2,1 2,1 – 4
2 100 2,6 - 4,1 4,1 – 7,9
3 150 3,9 - 6,2 6,2 – 11,9
4 200 5,2 – 8,2 8,2 – 15,8
5 300 7,8 – 12,3 12,3 – 23,4
6 400 10,4 – 12,3 16,4 – 31,6
7 500 13 – 20,5 20,5 – 39,6
8 600 15,6 – 24,6 24,6 – 47,4
9 700 18,2 – 28,7 28,7 – 55,3
10 800 20.8 – 32,8 32,8 – 63,2
11 900 23,4 – 36,8 36,8 – 71,1
12 1000 26 - 41 41 - 79
(฀umber : SK Gubernur No. 17 Tahun 1992)
33

Untuk mengetahui bagaimana metode perhitungan pembangunan sumur

resapan agar memberikan kontribusi yang maksimum, gunakan metode

perhitungan sebagai berikut (Sunjoto, 1992). Menghitung debit air hujan yang

masuk sebagai fungsi karakteristik luas atap bangunan dengan Metode Rasional

Dimana :

Q : Debit Hujan (m3/dtk)

C : Koefisien Aliran

I : Intensitas curah hujan (mm/jam)

A : Luas daerah Hujan (m2)

Dimana :

R24 : Intensitas hujan maksimum (mm)

฀ : Lama nya hujan dalam 1 hari (jam)

I : Intensitas hujan (mm/jam)

฀abel 11. Koefisien Limpasan untuk Metode Rasional

No Deskripsi Laham / Karakter Permukaan Koefisien C


1. Bisnis
฀ Perkotaan 0.70 – 0.95
฀ Pinggiran 0.50 – 0.70
2. Perumahan
฀ Rumah ฀unggal 0.30 – 0.50
฀ Multiunit terpisah 0.40 – 0.60
฀ Multiunit, tergabung 0.60 – 0.75
฀ Perkampungan 0.25 – 0.40
฀ Apartemen 0.50 – 0.70
3 Industri
฀ ringan 0.50 – 0.80
34

฀ berat 0.60 – 0.90


Perkerasan
฀ Aspal dan Beton 0.70 – 0.95
฀ Batu bata, Paving 0.50 – 0.70
Atap 0.75 – 0.95
Halaman tanah berpasir
Datar 2% 0.05 – 0.10
Rata-rata 2-7% 0.10 – 0.15
Curam 7% 0.15 – 0.20
Halaman tanah berat
Datar 2% 0.13 – 0.17
Rata-rata 2-7% 0.18 – 0.22
Curam 7% 0.25 – 0.35
Halaman kereta api 0.10 – 0.35
฀aman tempat bermain 0.20 – 0.35
฀aman Pekuburan 0.10 – 0.25
Hutan
Datar 2% 0.10 – 0.40
Rata-rata 2-7% 0.25 – 0.50
Curam 7% 0.30 – 0.60
(฀umber : McGuen, 1989 dalam Suripin 2003)

Dengan metode yang sama, kita juga dapat memperkirakan debit air yang

masuk pada sumur resapan dari air hujan yang turun pada area rumah selain dari

atap rumah. Untuk menghitung debit sumur optimum diformulakan sebagai

berikut :

Dimana:

H : Kedalaman sumur resapan (m)

Q : Debit Sumur (m3/dtk)

F : Faktor Geometrik

R : Jari-Jari sumur resapan (m)

฀ : Durasi aliran (dtk)


3฀

K : Permeabilitas lapangan (m/dtk)

Untuk menentukan faktor geometri ditentukan berdasarkan bentuk sumur resapan.

฀abel 12. Nilai Faktor Geometrik Menurut Bentuk Sumur Resapan

Desain / Bentuk Sumur


No Faktor Geometri
Resapan

2
2.R

3 π² . R
36

4
4.R

5
2.π.R

6
4.R

(Sumber : Sunjoto, 1992)

Sedangkan untuk menghitung volume air hujan yang meresap pada sumur

resapan untuk perkarangan rumah (berdasarkan tata cara perencanaan sumur

resapan air hujan untuk lahan perkarangan – SNI : 03 – 2453 – 2002), adalah

sebagai berikut :

Dimana :

Vrsp : Volume air hujan yang meresap (m3)

Atotal : Luas penutup tabung + Luas ฀abung (m2)

฀e : Durasi hujan efektif (jam)

K : Nilai Permeabilitas (m/hari)

Adapun untuk menghitung kebutuhan sumur resapan dengan cara membagi

antara debit hujan yang kita hitung (Qtotal) dengan debit sumur resapan (Qsumur),

sehingga di peroleh jumlah sumur resapan yang dibutuhan untuk daerah tersebut.

Adapun cara lain yang dapat digunakan yaitu dengan melihat table di bawah ini:
37

฀abel 13. Jumlah Sumur Resapan Berdasarkan Nilai Permeabilitas dan Luas
฀anah

Luas
No Bidang Jumlah Sumur (buah)
฀adah (m2)
Permeabilitas Permeabilitas agak
sedang sedang Permeabilitas cepat

80 cm 140 cm 80cm 140 cm 80 cm 140 cm


1 20 1 - - - - -

2 30 1 - 1 - - -

3 40 2 1 1 - - -

4 50 2 1 1 - 1 -

5 60 2 1 1 - 1 -
38

6 70 3 1 2 1 1 -

7 80 3 2 2 1 1 -

8 90 3 2 2 1 2 1

9 100 4 2 2 1 2 1

10 200 8 3 4 2 3 2

11 300 12 5 7 3 5 2

12 400 15 6 9 4 6 3

13 500 19 8 11 5 7 4

(฀umber : Ku฀naedi, Sumur Re฀apan, Penebar Swadaya: 2011. Hal 21)

J. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang menjadi bahan pertimbangan dan acuan penelitian

ini adalah skripsi dengan judul Studi Korelasi Uji Permeabilitas Skala Lapangan

dan Uji Permeabilitas Skala Laboratorium Pada ฀anah ฀imbunan ฀ubuh Embung

Di Desa Banjar Rejo Kabupaten Pringsewu, oleh Ketut Purne (2010). Pada

penelitian terdahulu terdapat kesamaan metode pengujian permeabilitas yang

digunakan yaitu untuk metode di lapangan menggunkan metode Sumur Uji dan
39

untuk metode di laboratorium menggunkan metode Falling Head, hanya saja jenis

tanah yang digunakan berbeda.

Pada penelitian terdahulu hasil pengujian permeabilitas di lapangan diperoleh

nilai k lapangan yang berkisar antara 9 x10-6 – 1,3 x10-4 cm/dt dan k rata-rata

sebesar 3,4 x10-5 cm/dt, sedangkan dari pengujian permeabilitas di laboratorium

diperoleh nilai k laboratorium yang berkisar antara 3 x10-6 – 3,3 x10-5 cm/dt dan k

rata-rata sebesar 1,1 x10-5 cm/dt.


฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀฀

III.฀METODE฀PENELITIAN

A. ฀Lokasi฀฀Penelitian

฀okasi pengamatan dan pengambilan sampel tanah pada penelitian ini

dilakukan sebuah perumahan yang berada di kelurahan Beringin Jaya Kecamatan

Kemiling Kota Bandar ฀ampung. Sedangkan untuk mengolah dan menganalisa

data dilakukan di ฀aboratorium Mekanika Tanah Fakultas Teknik Universitas

฀ampung, dimana pada penelitian ini peneliti membagi lokasi penelitian menjadi

5 titik dengan keadaan tanah dan tinggi permukaan yang berbeda agar diperoleh

variasi data yang diinginkan.

B.฀฀฀Bahan฀Dan฀Alat฀Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Sampel tanah yang digunakan adalah tanah lempung yang terdapat yang

terdapat di Kecamatan Kemiling, Kelurahan Beringin Jaya.

b. Air yang digunakan berasal dari Mushola di dekat lokasi apabila tidak

memungkinkan menggunakan air dengan alternatif yang ada.


฀0

Pembuatan Alat Uji Permeabilitas di ฀apangan

Bahan-bahan

a. Pipa Besi Berukuran tinggi 45 cm dan diameter 9 cm

Gambar 3. Pipa Besi Berukuran tinggi 45 cm dan diameter 9 cm

b. Penggaris besi

Gambar 4. Penggaris besi


฀1

c. Kaca

Gambar 5. Kaca

d. ฀em perekat(kaca)

Gambar 6. ฀em perekat(kaca)


฀2

e. Pylox hitam dan kuning

Gambar 7. Pewarna Besi

฀angkah kerja

1. Memotong pipa besi agar ukuran tinggi atau lebar nya sesuai dengan

permodelan yang direncanakan yaitu tinggi 45 cm.

Gambar 8. Memotong Pipa Besi dengan tinggi pipa 45cm


฀3

2. Memotong diameter pipa besi selebar 2,5 cm sampai ketinggian 30 cm pipa

besi,,hal ini di maksudkan untuk member celah agar dapat meletakkan

pengukur.

Gambar 9. Memotong diameter pipa besi selebar 2,5 cm sampai ketinggian 30 cm

pipa besi

3. Menutup(las) bagian atas pipa yang sudah terbelah seukuran 1 cm.

4. Memtong kaca seukuran dengan lubang persegi panjang yang telah di buat

di bagian pipa besi.

Gambar 10. Memtong kaca seukuran dengan lubang persegi panjang yang telah di

buat di bagian pipa besi


฀฀

5. Merekatkan kaca dan pipa besi dengan lem perekat.

Gambar 11. Merekatkan kaca dan pipa besi dengan lem perekat.

6. Merekatkan penggaris besi yang telah dipotong seukuran kaca pada bagian

depan kaca.

7. Menunggu 1-2 hari agar ฀em perekat mongering

8. Memberi warna pada alat permodelan.

Gambar 12. Memberi warna pada alat permodelan.


฀5

C.฀฀฀Metode฀Pengambilan฀Sampel

Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan menggunakan tabung pipa

diameter 4 inchi dengan kedalaman 15 cm sebanyak lima buah sampel dari lima

titik yang berbeda. ฀alu tabung ditutup rapat dengan lakban untuk menjaga

kondisi tanah agar tidak mengalami penguapan dan untuk menjaga kadar air tanah

agar tidak berubah. ฀okasi pengambilan sampel dibagi menjadi 5 titik, yang mana

pada 5 titik tersebut dibagi lagi menjadi 3 daerah yaitu daerah A, B, dan C sesuai

dengan elevasi tanah perumahan tersebut.


฀6

Gambar 13. ฀okasi pengambilan sample

D.฀฀฀Pelaksanaan฀Pengujian

Pengujian permeabilitas ini dilaksanakan pada dua tempat, yaitu :

1. Pengujian฀di฀Lapangan

Pengujian ini dilaksanakan pada tanah lempung yang terdapat di area

pemukiman Kecamatan Kemiling. Pengujian ini dilaksanakan untuk menentukan

nilai koefisien permeabilitas di lapangan.

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui koefisien permeabilitas di

lapangan.

Bahan-bahan

1. ฀okasi tanah lempung.


฀7

Gambar 14. ฀okasi pengambilan tanah lempung

2. Air secukupnya.

฀angkah kerja

1. Membuat lubang sumur uji pada tanah lokasi tanah lempung dengan

menggunakan pipa diameter 4 inchi dengan kedalaman 15 cm.

Gambar 15. Pembuatan lubang sumur uji dan meletakkan alat uji

2. Memasukan air ke dalam alat Metode Sumur Uji yang telah

dimodifikasi sampai penuh dan rata dengan permukaan lubang uji

sebagai acuan untuk mengukur tinggi tetap aliran air yang masuk ke

dalam lubang uji atau tinggi air yang dipertahankan.


฀8

Gambar 16. Memasukkan air kedalam alat uji

3. Menghitung waktu pengaliran dengan menggunakan ฀topwatch untuk

mengetahui waktu pengaliran ke dalam lubang uji (t).

4. Menambahkan air ke dalam lubang uji dengan menggunakan gelas

ukur untuk mengetahui volume air yang ditambahkan ke dalam lubang

uji (q).

5. Pemeriksaan dilakukan sebanyak lima kali pada setiap lubang uji,

sehingga diperoleh nilai rata-rata.

2. Pengujian฀di฀Laboratorium

Pengujian ini dilaksanakan terhadap lima buah sampel tanah yang dilakukan

di ฀aboratorium Mekanika Tanah Fakultas Teknik Universitas ฀ampung, yang

meliputi :

a. Pengujian Kadar Air.

b. Pengujian Berat Volume.

c. Pengujian Berat Jenis.

d. Pengujian Analisa Saringan.

e. Pengujian Batas - Batas Atterberg.

f. Pengujian Permeabilitas.

E.฀฀฀฀Pengujian฀Kadar฀Air฀(฀ater Content)
฀9

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kadar air tanah. Metode pengujian

kadar air tanah sesuai dengan SNI 03-1965-1990.

Bahan-bahan :

1. Sampel tanah sebanyak 50 gram.

2. Air secukupnya.

Peralatan :

1. Cawan kedap udara dan tidak berkarat sebanyak 5 buah.

2. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu sampai 110 °C.

3. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram.

4. Alat pendingin (de฀icator).

฀angkah kerja:

1. Menyiapkan cawan kosong lalu menimbang berat cawan yang digunakan dan

mencatat beratnya.

2. Memasukan sampel uji ke dalam cawan, kemudian menimbang dan mencatat

beratnya.

3. Mengeringkan sampel uji dalam oven dengan suhu 110 °C dalam keadaan

terbuka selama 24 jam atau sampai berat contoh tanah konstan.

4. Mengeluarkan sampel uji dari oven dan menutup cawan kemudian

mendinginkannya dalam de฀icator.

5. Menimbang berat sampel uji dan mencatatnya.

F.฀฀฀Pengujian฀Berat฀Jenis฀(Spesific Gravity)
50

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis tanah. Metode

pengujian berat jenis tanah sesuai dengan SNI 03-1964-1990.

Bahan-bahan

1. Sampel tanah yang lolos saringan no.4 dan telah dikeringkan melalui oven

selama 24 jam sebanyak 300 gram.

2. Air bersih secukupnya.

Peralatan

1. Picnometer (labu ukur) sebanyak 3 buah.

2. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram.

3. Boiler (tungku pemanas) dengan bahan bakar spritus.

4. Thermometer Celcius.

฀angkah kerja

1. Menimbang picnometer kosong dalam keadaan bersih dan kering (W1).

2. Memasukkan sampel tanah kering ke dalam picnometer.

3. Menimbang picnometer beserta tanah kering (W2).

4. Picnometer yang telah berisi tanah diberi air sebanyak 2/3 volume picnometer

kemudian memanaskan picnometer di atas tungku pemanas, ini dimaksudkan

untuk menghilangkan udara di dalam butir-butir tanah.

5. Setelah mendidih (butir-butir udara hilang), mendinginkan picnometer hingga

temperatur picnometer sama dengan temperatur ruangan.

6. Menambahkan air ke dalam picnometer hingga mencapai garis batas.


51

7. Menimbang picnometer yang berisi air dan tanah (W3).

8. Membersihkan picnometer dari sampel tanah.

9. Mengisi picnometer yang telah kosong dengan air hingga batas picnometer

dan menimbangnya (W4).

G.฀฀฀Pengujian฀Batas฀-฀Batas฀Atterberg

1.฀฀฀฀Pengujian฀Batas฀Cair฀(Liquid Limit)

Pengujian ini bertujuan untuk menentukan kadar air suatu jenis tanah pada

batas antara keadaan plastis dan keadaan cair.

Bahan-bahan

1. Sampel tanah yang telah dikeringkan sebanyak 300 gram.

2. Air bersih sebanyak 300 cc.

Peralatan

1. Alat batas cair (mangkuk Ca฀฀agrande).

2. Alat pembuat alur (grooving tool).

3. Spatula.

4. Gelas ukur 100 cc.

5. Container 4 buah.

6. Plat kaca.

7. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram.

8. Alat pendingin (de฀icator).

9. Oven.

10. Saringan no. 40, dan alat lainnya.


52

฀angkah kerja

1. Mengayak sampel tanah dengan menggunakan saringan no. 40

2. Mengatur tinggi jatuh mangkuk Ca฀฀agrande sebesar 10 mm.

3. Mengambil sampel tanah yang lolos saringan no. 40 sebanyak 150 gram,

kemudian diberi air sedikit demi sedikit dan diaduk hingga rata, selanjutnya

dimasukan ke dalam mangkuk Ca฀฀agrande.

4. Meratakan permukaan adonan sehingga sejajar dengan alas mangkuk.

5. Membuat alur tepat ditengah-tengah adonan dengan membagi benda uji

dalam mangkuk Ca฀฀agrande tersebut dengan mengunakan grooving tool.

6. Memutar tuas pemutar sampai kedua sisi bertemu (merapat) sepanjang 13

mm sambil menghitung jumlah ketukan yang berkisaran antara l0 - 40

ketukan.

7. Mengambil sebagian sampel dalam mangkuk untuk pemeriksaan kadar air.

8. Melakukan langkah kerja yang sama (langkah 4 - 7) untuk sampel dengan

keadaan adonan yang berbeda sehingga diperoleh 4 macam sampel dengan

jumlah ketukan yang berbeda-beda, yaitu dua buah dibawah 25 ketukan, dan

dua buah di atas 25 ketukan.

฀angkah Perhitungan

1. Menghitung kadar air masing-masing sampel tanah sesuai dengan jumlah

pukulan.

2. Mernbuat hubungan antara kadar air dan jumlah ketukan pada grafik semi

logaritma yaitu sumbu x sebagai jumlah pukulan dan sumbu y sebagai kadar

air.

3. Menarik garis lurus dari keempat titik yang tergambar.


53

4. Menentukan nilai batas cair pada jumlah pukulan ke-25.

2.฀฀฀Pengujian฀Batas฀Plastis฀(Plastis Limit)

Pengujian ini bertujuan untuk menentukan kadar air suatu tanah pada batas

antara keadaan plastis dan keadaan semi padat.

Bahan-bahan

1. Sampel tanah sebanyak 100 gram.

2. Air bersih sebanyak 50 cc.

Peralatan

1. Plat kaca.

2. Spatula.

3. Gelas ukur 100 cc.

4. Container 3 buah.

5. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram.

6. Oven.

7. Saringan no. 40 dan alat lainnya.

฀angkah kerja

1. Mengayak sampel tanah yang sudah dihancurkan dengan saringan no. 40.

2. Mengambil sampel tanah sebesar ibu jari dan dibulatkan, kemudian digulung-

gulung di atas plat kaca hingga mencapai diameter 3 mm hingga retak-retak

atau putus-putus.

3. Memasukkan sampel tanah ke dalam container kemudian menimbangnya.


5฀

4. Mengeringkan sampel tanah dalam oven kemudian menimbang beratnya.

5. Menentukan kadar air sampel tanah.

6. Melakukan langkah kerja yang sama (langkah 2 - 6 sebanyak 3 kali).

฀angkah Perhitungan

1. Nilai batas plastis (P฀) adalah harga kadar air rata-rata.

2. Menghitung Plastis Indeks (PI) dengan rumus :

PI = ฀฀ – P฀

H.฀฀฀฀Pengujian฀Analisis฀Saringan

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui persentase ukuran butir sampel

tanah yang akan dipakai dan menghitung modulus kehalusannya. Metode

pengujian sesuai dengan SNI 03-1968-1990.

Bahan-bahan

1. Sampel tanah yang sudah dikeringkan sebanyak 500 gram.

2. Air bersih secukupnya.

Peralatan

1. Saringan (฀ieve) 1 set.

2. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram.

3. Mesin penggetar (฀ieve ฀haker).

4. Oven yang dilengkapi dengan pengatur temperatur.

5. Alat pendingin (de฀icator).

6. Pan.

7. Talam, kuas, sikat kuningan dan alat lainnya.


55

฀angkah kerja

1. Menimbang sampel yang akan diuji sebanyak 500 gram kemudian

mencucinya di atas saringan no. 200 sampai bersih, sehingga yang tertinggal

di atas saringan hanya butiran tanah kasar.

2. Mengeringkan sisa tanah yang tertahan di atas saringan no. 200 dalam oven

pada suhu 110 °C selama 24 jam.

3. Mengeluarkan sampel tanah kemudian mendinginkannya dengan

menggunakan de฀icator.

4. Meletakkan susunan saringan di atas mesin penggetar, kemudian

memasukkan sampel tanah ke dalam susunan saringan paling atas dan

menutupnya dengan rapat.

5. Menghidupkan mesin penggetar selama ± 5 menit, setelah itu dimatikan dan

didiamkan selama 5 menit agar debu-debu mengendap.

6. Menimbang masing-masing sampel yang tertahan pada saringan kemudian

menghitung persentasenya terhadap berat total sampel uji.

I.฀฀฀Pengujian฀Permeabilitas฀di฀Laboratorium

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui koefisien permeabilitas (k) tanah

timbunan dengan metode Falling Head menggunkan alat modifikasi.

Bahan-bahan

1. Sampel tanah timbunan.

2. Air secukupnya.
56

Peralatan:

1. Silinder (mold) dengan diameter dalam 5,08 cm dengan penutup.

2. Kran air.

3. Burret diarneter 0,6 cm.

4. Suplier water.

5. Stopwatch.

6. Kunci pas.

7. Kertas saring.

8. Alat pengukur (penggaris).

฀angkah kerja

1. Menjenuhkan tanah dengan cara perendaman selama 5 hari.

2. Menggunakan burret yang berdiameter 0,6 cm.

3. Mengukur diameter mold, yang diketahui berukuran 5,08 cm

4. Meratakan permukaan sampel bagian atas dan bawah, kemudian menutup

dengan kertas saring dan penutup.

5. Menghubungkan mold dengan alat permeability te฀t yang telah dimodifikasi.

6. Menunggu sampai volume air yang keluar konstan pembacaannya.

7. Mencatat ketinggian air awal (h1) dan tinggi air setelah waktu (t) yang

ditentukan (h2).

8. Jika waktu yang diinginkan sudah tercapai maka katup yang mengalirkan air

ke sampel tanah ditutup.


57

J.฀฀฀Pengolahan฀dan฀Analisis฀Data

1.฀฀฀฀Pengolahan฀Data

Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian di lapangan dan di laboratorium

diolah menurut klasifikasi data dengan menggunakan persamaan-persamaan dan

rumus-rumus yang berlaku. Hasil dari pengolahan data tersebut diuraikan dalam

bentuk tabel dan grafik.

2.฀฀฀Analisis฀Data

Dari rangkaian pengujian-pengujian yang dilaksanakan di lapangan dan di

laboratorium, maka :

a. Dari pengujian permeabilitas di lapangan diperoleh nilai koefisien

permeabilitas (k) lapangan.

b. Dari pengujian kadar air sampel tanah, diperoleh nilai kadar air tanah dalam

persentase.

c. Dari pengujian berat jenis sampel tanah, diperoleh berat jenis tanah.

d. Dari pengujian batas-batas Attenberg, diperoleh nilai batas cair (liquid limit),

batas plastis (pla฀ti฀ limit), dan indeks plastisitas (pla฀ti฀ indek฀) yang

digunakan untuk mengklasifikasikan tanah dengan Sistem Klasifikasi

Unified.

e. Dari pengujian analisis saringan (฀ieve analy฀i฀), diperoleh persentase

pembagian ukuran butiran tanah, yang akan digunakan untuk

mengklasifikasikan tanah dengan Sistem Klasifikasi Unified.


58

f. Dari pengujian permeabilitas di laboratorium, diperoleh nilai koefisien

permeabilitas (k) laboratorium.

Dari parameter-parameter yang diperoleh dari pengujian permeabilitas

lapangan dan uji permeabilitas laboratorium di atas, selanjutnya dilakukan

pengolahan dan analisa data untuk membandingkan hasil perhitungan antara uji

permeabilitas lapangan dan uji permeabilitas laboratorium. ฀alu, didapatkan nilai

konstanta perbandingan antara uji permeabilitas di lapangan dan di laboratorium

untuk tanah lempung.

Kemudian dari hasil nilai k yang diperoleh dilapangan dan dilaboratorium,

maka diambil nilai k yang mewakili daerah pemukiman sebagai nilai yang

digunakan untuk meghitung volume air yang merembes kedalam tanah sebagai

nilai pertambahan air tanah. ฀alu, melakukan pendesainan Sumur Resapan apabila

daerah tersebut dibutuhkan.


59

Mulai

Pengambilan sampel Uji permeabilitas lapangan


tanah asli

1. Uji kadar air


2. Uji berat jenis
3. Uji berat volume
4. Uji batas-batas Atterberg
5. Uji Analisa Saringan

Klasifikasi tanah

Uji permeabilitas laboratorium

Analisa hasil

Kesimpulan

Selesai

Gambar 17. Bagan Alir Penelitian


☎✆ PENUTUP

A. Kesimpulan

฀erdasarkan hasil pengujian dan pembahasan yang telah dilakukan terhadap

sampel tanah asli yang berasal dari Kelurahan ฀eringin Jaya Kecamatan Kemiling

dan pengujian permeabilitas lapangan, maka diperoleh beberapa kesimpulan:

1. Sampel tanah yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan klasifikasi

USCS digolongkan kedalam kelompok CL yaitu tanah lempung anorganik

dengan plastisitas rendah sampai dengan sedang.

Dari uji permeabilitas lapangan didapatkan nilai permeabilitas yang berbeda

pada setiap daerah pengujian,skala lapangan daerah A sebesar 1,6164 x10-7

cm/dt, daerah ฀ sebesar 1,0686 x10-7 , daerah C sebesar 1,7549 x10-7

sedangkan pada uji permeabilitas laboratorium diperoleh฀ nilai rata-rata

permeabilitas antara 1,5658 x 10-7 cm/dt.

2. Kedalaman muka air tanah pada lokasi pengujian cukup dalam yaitu berkisar

antara 4 – 5 meter. Dengan nilai k lapangan yang kita dapat diperoleh jumlah

air yang dapat diserap tanah selama hujan 2 jam sebesar ฀.฀฀1885 m3 untuk

daerah A , ฀.฀฀฀137 m3 untuk daerah B, ฀.฀฀2฀46 m3 untuk daerah C.

3. Dari perhitungan debit hujan diperoleh nilai debit hujan sebesar 0.0005687

m3/dtk. Dengan debit hujan yang besar dan nilai rembesan yang kecil maka di
butuhkan perencanaan sumur resapan guna memaksimalkan penyerapan air

hujan ke dalam tanah.

4. Dari perencanaan sumur resapan berdasarkan uji permeabilitas lapangan

didapatkan debit air yang dapat ditampung sumur baik didaerah A, ฀,

ataupun C mempunyai nilai yang sama yaitu sebesar 0.0003683 m3/detik,

sehingga dari hasil perbandingan nilai debit hujan dengan debit sumur

diperoleh jumlah sumur resapan yang dibutuhkan untuk menampung debit

hujan sebanyak 2 buah dengan volume sumur sebesar 5.3 m3, sedangkan

berdasarkan uji permeabilitas laboraturium didapatkan nilai yang tidak jauh

berbeda dengan hasil pengujian sumur resapan berdasarkan uji permeabilitas

lapangan, debit air yang dapat ditampung sebesar 0.0003602 m3/detik,dan

jumlah sumur resapan yang dibutuhkan sebanyak 2 buah dengan volume

sumur sebesar 5.3 m3.


.
B Saran

฀erdasarkan hasil pengujian, analisis dan pembahasan yang dilakukan maka

saran yang dapat diberikan adalah :

1. Perlu penelitian lebih lanjut di lokasi yang sama untuk meneliti penelitian ini

apakah benar benar bisa diaplikasikan dilapangan atau tidak.

2. Apabila dilakukan penelitian lebih lanjut pada saat pembacaan penurunan

debit harus lebih detail dan lebih di perhatikan agar mendapatan hasil yang

maksimal.

DAFTAR฀PUSTAKA

฀owles, Joseph E. Johan K. Helnim. 1991. Sifat-sifat฀ Fisis฀ dan฀ Geoteknis฀


Tanah฀(Mekanika฀tanah). PT. Erlangga. Jakarta. (Hal. 6)

Craig, R.F. 1991. Mekanika฀Tanah. PT. Erlangga. Jakarta. (Hal. 4)

D, Subardja. 2004. Petunjuk฀ Teknis฀ Pengamatan฀ Tanah. ฀alai Penelitian


Tanah. Puslitbang. Jakarta. (Hal. 7)

Darmady, Dhody. 2009. Pengaruh฀ Rendaman฀ Terhadap฀ Kualitas฀ Tanah฀


Semen฀ ฀Soil Cement)฀ Menggunakan฀ Tanah฀ Lempung฀ Lunak. Skripsi
Universitas Lampung. Lampung. (Hal. 11)

Das, ฀. M. 1995. Mekanika฀ Tanah฀ (Prinsip-Prinsip฀ Rekayasa฀ Geoteknis)฀


Jilid฀I . PT. Erlangga. Jakarta. (Hal. 5)

Dunn, Anderson dan Kiefer. 1992.฀Dasar-dasar฀Analisis฀Geoteknik. IKIP


Semarang Press. Semarang. (Hal. 6)

Hardiyatmo, H.C. 2001.฀Teknik฀Fondasi฀1,฀Edisi฀II. ฀eta Offset. Yogyakarta.


(Hal. 5)

Hendarsin, Shirley L. 2000. Penuntun฀ Praktis฀ Perencanaan฀ Teknik฀ Jalan฀


Raya. Politeknik Negeri ฀andung. ฀andung. (Hal. 4)

Tarmizi, M.F. 2001.฀Pengaruh฀Diamter฀Burret฀Terhadap฀Nilai฀Permeabilitas


Tanah฀Timbunan฀dengan฀Pengujian฀Tinggi฀Jatuh฀(Falling฀Head).
Skripsi Unversitas Lampung. Lampung. (Hal. 12)

Verhoef, P.N.W. 1994.฀ Geologi฀ Untuk฀ Teknik฀ Sipil. PT. Erlangga. Jakarta.
(Hal.32)

Kasiro, I. dkk. 1994.฀Pedoman฀Desain฀Embung฀Kecil฀untuk฀Daerah฀Semi฀


Kering฀di฀Indonesia. Yayasan ฀adan Penerbit Pekerjaan Umum. Jakarta.
(Hal. 33)

Lampung, Universitas. 2008.฀Buku฀Petunjuk฀Pratikum฀Mekanika฀Tanah฀I฀dan


Mekanikan฀Tanah฀II. Laboratorium Mekanikan Tanah Jurusan Teknik
Sipil Universitas Lampung. Lampung. (Hal. 33)
Lampung, Universitas. 2011.฀Format฀Penulisan฀Karya฀llmiah฀Universitas
Lampung. Universitas Lampung. Lampung.

Purne, Ketut. 2010. Studi฀Korelasi฀Uji฀Permeabilitas฀Skala฀Lapangan฀dan฀Uji฀


Permeabilitas฀Skala฀Laboratorium฀Pada฀Tanah฀Timbunan฀Tubuh฀
Embung฀Di฀Desa฀Banjar฀Rejo฀Kabupaten฀Pringsewu. Skripsi
Universitas Lampung. Lampung. (Hal. 30)

Andius, D.P. 2012. Koefesien฀ Permeabilitas฀ Lapangan฀ dan฀ Laboratorium฀


Pada฀Tanah฀Lempung Skripsi Universitas Lampung. Lampung. (Hal.31)

Sudjana, 1992.฀Metoda฀Statistik.฀Edisi฀Ke.5. Tarsito, ฀andung. (Hal. 37)

Santoso, Singgih. 2001.฀Buku฀Latihan฀SPSS฀Statistik฀Parametrik. Cetakan


Kedua. Elek Media Komputindo. Jakarta. (Hal. 18)

Sosrodarsono, S. Takeda, Kensaku. 1977.฀Bendungan฀Type฀Urugan. Pradyna


Paramitha. Jakarta. (Hal. 22)

http://www.anneahira.com/permeabilitas-tanah.htm (Hal. 17)

http://pengairan.banyuwangikab.go.id/index.php?option=com_content&view=arti

cle&id=28:manfaat-sumur-resapan&catid=2:berita&Itemid=138 (Hal.30)

McGuen, 1989 dalam Suripin฀2003 (Hal. 33)

Kusnaedi, 2011. Sumur฀Resapan,฀Penebar฀Swadaya.฀(Hal. 37)

Anda mungkin juga menyukai