Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH AQIDAH AKHLAK

Sumber – Sumber TASAWUF

XI MIA 1
KELOMPOK 1 :
SUMBER-SUMBER ILMU TASAUF
Al-Qur`an dan Al-Hadits merupakan kerangka acuan pokok yang selalu dipegang
umat Islam. Kita sering mendengar pertanyaan dalam kerangka landasan dalil naqli ini,
“apa dasar Al-Qur`an dan Al-Hadits nya?” pertanyaan ini sering terlontar dalam benak
pikiran kaum muslimin ketika hendak menerima atau menemukan persoalan-persoalan
baru atau persoalan-persoalan unik yang mereka temui, termasuk dalam pembahasan
tasawuf[1]. Berikut ini merupakan sumber-sumber tasawuf.
A. Al-Qur`An
Al-Qur`an adalah kalam Allah yang tiada tandingannya (mukjizat), diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW., penutup para Nabi dan Rasul dengan perantaraan
Malaikat Jibril, dimulai dengan surat Al-Fatiha dan di akhiri dengan surat An-Naas, dan
ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir (oleh
orang banyak), serta mempelajarinya merupakan suatu ibadah. Dalam Islam Al-
Qur`an adalah hukum tertinggi yang harus ditaati, mengingat bahwa Al-
Qur`anmerupakan firman Allah yang langsung ditransferkan untuk umat manusia yang
sudah melengkapi kitab-kitab samawi sebelumnya. Berikut-berikut dalil-dalil Al-Qur`an
tentang tasawuf, diantaranya:
a. Taubat
Taubat adalah awal tempat pendakian orang-orang yang mendaki
dan maqam pertama bagi sufi pemula. Hakikat taubat menurut arti bahasa adalah
kembali. Kata taba memiliki arti kembali, maka taubat maknanya juga kembali. Artinya,
kembali dari sesuatu yang dicela dalam syari`at menuju sesuatu yang dipuji dalam
syari`at.
Allah SWT berfirman:
]٢٤:٣١[ َ‫َّللا َج ِميعًا أَيُّهَ ال ُمؤ ِمنُونَ لَعَله ُكم تُف ِلحُون‬
ِ ‫َوتُوبُوا ِإلَى ه‬
Artinya: Dan bertobatlah kamu kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman,
agar kamu beruntung. (Q.S An-Nuur: 31).
Bagi Dzu Al-Nun bin Ibrahim Al-Mishri (w. 264H./861M.) taubat itu dilakukan
karena seorang salik mengingat sesuatu dan terlupakan mengingat Allah. Dia kemudian
membagi taubat menjadi taubat kelompok awam dan taubat kelompok khash (awliya`).
Kelompok orang khash melakukan pertaubatan karena dia lupa mengingat Allah
sedangkan kelompok awam bertaubat karena mengerjakan perbuatan dosa. Baginya,
hakikat taubat adalah keadaan jiwa yang merasa sempit hidup diatas bumi karena
kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat[2].
b. Ikhlas
Ustaz Syaikh berkata, ikhlas adalah penunggalan Al-Haqq dalam mengarahkan
semua orientasi ketaatan. Dia dengan ketaatannya dimaksudkan untuk mendekatkan
diri kepada Allah semata-mata tanpa yang lain, tanpa dibuat-buat, tanpa ditujukkan
untuk makhluk, tidak untuk mencari pujian manusia atau makna-makna lain selain
pendekatan diri kepada Allah. Bisa juga diartikan ikhlas merupakan penjernihan
perbuatan dari campuran semua makhluk atau pemeliharaan sikap dari pengaruh-
pengaruh pribadi. Allah SWT berfirman:
]٧:٢٩[ َ‫صينَ لَهُ ال ِدِّينَ ۖ َك َما بَ َدأَ ُكم تَعُودُون‬
ِ ‫قُل أ َ َم َر َربِِّي بِال ِقس ِط ۖ َوأَقِي ُموا ُو ُجو َه ُكم ِعن َد ُك ِِّل َمس ِج ٍد َوادعُوهُ ُمخ ِل‬
Artinya: Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu
(kepada Allah) pada setiap shalat dan sembahlah dia dengan mengikhlaskan ibadah
semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepadanya sebagaimana
kamu diciptakan semula.” (Q.S Al-A`raf: 29).
c. Sabar
Junaid mengatakan, “perjalanan dari dunia menuju akhirat adalah mudah dan
menyenangkan bagi orang yang beriman, putusnya hubungan makhluk disisi Allah
SWT adalah berat perjalanan dari diri sendiri (jiwa) menuju Allah adalah sangat berat,
dan sabar kepada Allah tentu akan lebih berat.” Ia ditanya tentang sabar, lalu dijawab
“menelan kepahitan tanpa bermasam muka.” Allah SWT berfirman:
]٢:٤٥[ َ‫يرة ٌ إِ هَّل َعلَى الخَا ِشعِين‬ َ ِ‫ص ََلةِ ۖ َوإِنه َها لَ َكب‬ ‫َواست َ ِعينُوا بِال ه‬
‫صب ِر َوال ه‬
Artinya: Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.
Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`. (Q.S Al-
Baqarah: 45).
d. Syukur
Menurut satu pendapat, bersyukurnya Allah berarti memberikan pahala atas
perbuatan pelakunya sebagaimana ungkapan bahwa hewan yang bersyukur adalah
hewan yang gemuk karena selalu diberi makanan. Hal ini dapat dikatakan
bahwasannya hakikat syukur adalah memuji (orang) yang memberikan kebaikan
dengan mengingat kebaikannya. Syukurnya hamba kepada Allah adalah memuji
kepada-Nya dengan mengingat kebaikan-Nya, sedangkan syukurnya Allah kepada
hamba berarti Allah memuji kepadanya dengan mengingat kebaikannya. Perbuatan
baik hamba adalah taat kepada Allah, sedangkan perbuatan baik Allah adalah
memberikan kenikmatan dengan memberikan pertolongan sebagai tanda syukur.
Hakikat syukur bagi hamba ialah ucapan lisan dan pengakuan hati terhadap
kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan. Allah SWT berfirman:
]٢:١٥٢[ ‫ون‬ ِ ‫فَاذ ُك ُرونِي أَذ ُكر ُكم َواش ُك ُروا ِلي َو ََّل ت َكفُ ُر‬
Artinya: Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah
kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (Q.S Al-Baqarah: 152).
e. Tawakal
Menurut Abu Nashr As-Siraj Ath-Thusi, yang dimaksud tawakal sebagaimana
yang diungkapkan oleh Abu Bakar Ad-Daqaq adalah menolak kehidupan pada masa
sekarang dan menghilangkan cita-cita pada masa yang akan dating. Hal ini sesuai
dengan apa yang diungkapkan oleh Sahl bin Abdullah bahwa yang dimaksud tawakal
adalah melepaskan segala apa yang dikehendaki dengan menyandarkan diri kepada
Allah SWT. Menurut Abu Ya`qub Ishaq An-Nahl Jauzi, yang dimaksud tawakal adalah
menyerahkan diri kepada Allah SWT dengan sebenarnya sebagaimana yang terjadi
pada Nabi Ibrahim disaat Allah SWT berfirman kepada Malaikat Jibril a.s: Ibrahim telah
berpisah (bercerai denganmu) dirinya telah hilang bersama Allah SWT. Oleh karena itu,
tidak ada yang mengetahui orang yang bersama Allah kecuali Allah SWT. Allah SWT
berfirman:
‫ف َعن ُهم َواستَغ ِفر لَ ُهم َوشَا ِورهُم فِي‬
ُ ‫ب ََّلنفَضُّوا ِمن َحولِكَ ۖ فَاع‬
ِ ‫ظ القَل‬َ ‫ظا َغ ِلي‬ ًّ َ‫َّللا لِنتَ لَ ُهم ۖ َولَو ُكنتَ ف‬ ِ ‫فَبِ َما َرح َم ٍة ِ ِّمنَ ه‬
ِّ ‫َّللا ۖ إِ هن ه‬
]٣:١٥٩[ َ‫َّللاَ ي ُِحبُّ ال ُمت ََو ِكلِين‬ ِ ‫اْلَم ِر ۖ فَإِذَا َعزَ متَ فَت ََوكل َعلى ه‬
َ ‫ه‬
Artinya: Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah
ampun untuk mereka, dan bermusyaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian,
apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh,
Allah mencintai orang yang bertawakal. (Q.S Al-Imran: 159).

B. Al-Hadits
Hadits yang jamaknya ahadits memiliki padanan kata yang cukup beragam. Dari
sisi bahasa, hadits dapat diartikan baru sebagai lawan dari kata qadim (yang berarti
lama, abadi dan kekal). Pengistilahan hadits sebagai ucapan, perbuatan, taqrier dan hal
ihwal tentang Nabi Muhammad dimaksudkan untuk membedakan hadits dengan Al-
Qur`an yang diyakini oleh ahlus sunnah wal jama`ah sebagai firman Allah
yang qadim[3]. Sebagaimana yang diketahui bahwa Al-Hadits merupakan sumber
hukum Islam yang kedua. Sehingga dalam kajian ilmu keagamaan pun Al-Hadits tetap
menjadi rujukan setelah Al-Qur`an. Berikut akan diuraikan hadits-hadits mengenai
tasawuf, mengingat dalam tasawuf hadits juga tergolong sumber kedua.
a. Taubat
Sahabat Anas bin Malik r.a berkata, saya pernah dengar Rasulullah SAW
bersabda:
. ٌ‫ َواِذَا ا َ َحبه هللاُ َعبدًا لَم يَض هُرهُ ذنب‬,ُ‫ب لَه‬ ِ ‫التهائِبُ ِمنَ الذهن‬
َ ‫ب َك َمن ََّلذَن‬
Artinya: Seorang yang tobat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa, dan
jika Allah mencintai seorang hamba, pasti dosa tidak akan membahayakannya. (Hadits
diriwayatkan Ibnu Mas`ud dan dikeluarkan Ibnu Majah sebagaimana tersebut dalam Al-
Jami`ush-Shaghir, Al-Hakim, At-Turmudzi dari Abu Sa`id, As-Suyuthi di Al-Jami`ush-
Shaghir Juz 1, halaman 3385).
b. Ikhlash
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang makna ikhlash, lalu dijawab:
‫ ماهو؟ قال سرمن سري استودعته قلب‬,‫ سألت رب العزة عن اَّلخَلص‬:‫ ما هو؟ قال‬,‫سألت جبريل عليه السَلم عن اَّلخَلص‬ َ
‫من أحببته من عبادي‬
Artinya: Saya bertanya kepada Jibril a.s tentang ikhlash, apa itu? Kemudian dia
berkata, saya bertanya kepada Tuhan tentang ikhlash, apa itu? Dan Tuhan-pun
menjawab, “yaitu rahasia dari rahasia-Ku yang aku titipkan pada hati orang yang Aku
cintai diantara hamba-hamba-Ku. (Hadits dikeluarkan oleh Al-Qazwaini dalam
Musalsalat-nya dari Khudzaifah)
c. Sabar
Dari Aisyah r.a diceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
‫ان الصبر عند الصدمة اَّلولى‬
Artinya: Sabar yang sempurna adalah pada pukulan (saat menghadapi cobaan)
yang pertama. (Hadits riwayat Anas bin Malik dan dikeluarkan Imam Bukhari didalam
“Al-Jana`iz” Bab Sabar 3/138, sedangkan Imam Muslim juga mengelompokkannya
dalam “Al-Jana`iz” Bab Sabar Nomor 626, Abu Dawud di nomor 3124, At-Turmudzi di
nomor 987, dan An-Nasa`I mencantumkan di 4/22).
d. Zuhud
Jika mencermati sirah, sejarah hidup rasul maka akan terpapar dengan jelas bahwa
ada hubungan erat antara pola hidup Rasulullah yang penuh kezuhudan dan
kesederhanaan, dengan kehidupan kaum zuhud di masa permulaan islam, kemudian
kaum sufi sejati setelah mereka yang menempa diri mereka dengan aneka macam
Riya’dhah dengan tujuan memanimalisir tuntutan –tuntutan fisik agar jiwa mereka
mudah menjalankan berbagai macam ibadah, berkomunikasi dengan Allah, d zan
kedekatan dengan-Nya[4].
Nabi SAW bersabda:
‫اذا رايتم الرجل قداوتي زهدا في الدنيا ومن تقا فاقتربوا منه فانه يلقن الحكمة‬
Artinya: Jika diantara kamu sekalian melihat orang laki-laki yang selalu zuhud
dan berbicara benar, maka dekatilah dia. Sesungguhnya dia adalah orang yang
mengajarkan kebijaksanaan. (Hadits disebutkan dalam Al-Kanz Jilid 3 halaman 183
nomor 6069, diriwayatkan oleh Abu Khalad dan Abu Na`im bersama Al-Baihaqi
meriwayatkannya juga darinya, sementara As-Suyuthi menganggapnya lemah didalam
Al-Jami`ush-Shaghir Jilid 1 halaman 84 nomor 635).
e. Wara`
Abu Dzar Al-Ghifari berkata, bersabda Rasulullah SAW.
‫من حسن اسَلم المرء تركه ماَّل يعنه‬
Artinya: Sebagian dari kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan
sesuatu yang tidak berarti. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Malik bin Anas didalam
Muwatha`-nya jilid 2 halaman 903 dalam bahasan “Kebaikan Akhlaq” di bab “Apa-apa
yang datang didalam kebaikan akhlaq.” At-Turmudzi mencantumkannya di nomor 2318-
2319 tentang zuhud di bab nomor 11 dari hadits Anas bin Malik. Ibnu Majah
mencantumkannya di nomor 3976 tentang Fitnah-Fitnah di bab “menjaga lidah supaya
tidak jatuh pada perbuatan fitnah”. At-Turmudzi mengatakan, “Hadits ini adalah
Gharib”).
f. Khowf
Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
‫ ولبكيتم كثيرا‬,‫لو تعلمون مااعلم لضحكتم قليَل‬
Artinya: Seandainya engkau mengetahui apa yang saya ketahui, pasti engkau
akan tertawa sedikit dan menangis banyak. (Hadits diriwayatkan Abu Hurairah dan
dikeluarkan Imam Bukhari 11/273 dalam bahasan Perbudakan di bab sabda Nabi SAW
yang berbunyi: “seandainya kalian mengetahui apa yang saya ketahui tentang iman dan
nazar”, juga di bab “bagaimana sumpah Nabi SAW.” At-Turmudzi meriwayatkannya di
nomor 2314 tentang zuhud)[5].

C. Kehidupan Para Sahabat


Sumber lain yang diacu oleh para sufi adalah kehidupan para sahabat Nabi SAW
yang berkaitan dengan keteguhan iman, ketaqkaan, kezuhudan, dan budi pekerti luhur.
Oleh sebab itu, setiap orang yang meneliti kehidupan kerohanian dalam islam tidak
dapat mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan
kehidupan sufi di abad-abad sesudahnya.
Kehidupan para sahabat dijadikan acuan oleh para sufikarena para sahabat
sebagai murid langsung Rasulullah SAW dalam segala perbuatan dan ucapan mereka
senantiasa mengikuti kehidupan Nabi. Oleh sebab itu, perilaku kehidupan mereka dapat
dikatakan sama dengan perilaku kehidupan Nabi SAW, kecuali dalam hal-hal tertentu
yang khusus bagi Nabi SAW. Setidak-tidaknya kehidupan para sahabat adalah
kehidupan yang paling mirip dengan kehidupan yang dicontohkan oleh nabi SAW. Oleh
karena itu al-Qur’an memuji mereka:
“ orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara
orang-orang muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah
menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya,
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang
besar” (Q.s.9:100).
Karena hal itulah para sufi menjadikan kehidupa para sahabat Nabi sebagai
sumber ke tiga dari ajaran tasawuf. Dengan harapan bias menjadi pengikut yang
sebaik-baiknya agar dapat tergolongkan kepada orang-orang yang mendapatkan ridho
Allha dan surga-Nya seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut diatas.

D. Ijtihad Para Sufi


Ijtihad para sufi dimaksudkan untuk menguraikan pemikiran-pemikiran para sufi
mengenai tasawuf. Dan ini dapat digunakan sebagai sumber hukum ketiga dalam
tasawuf. Berikut tokoh-tokoh sufi beserta pemikiran dan pandangannya dalam kajian
tasawuf, diantaranya:
a. Al-Ghazali
Al-Ghazali lahir pada tahun 450 H. (1058M) di daerah Thus, salah satu kota di
Khurasan yang di warnai oleh perbedaan paham keagamaan. Masa hidup Al-Ghazali
berada pada akhir periode Iklasik (650-1250M.) yang memasuki masa disintegrasi
(1000-1250M.). Dimana masyarakat pada saat itu sedang mengalami masa
kemunduran.
Pemikiran tasawuf Al-Ghazali adalah termasuk dalam model
aliran transendenlisme, yaitu aliran yang masih mempertahankan sendi-sendi dasar
ajaran tauhid dan membedakan adanya dua pola wujud, yakni wajib al-wujud (Tuhan)
danmumkin al-wujud (Makhluk). Bagi aliran ini, tingkat yang tertinggi yang dapat di
capai oleh seorang hamba dalam dunia tasawuf adalah ma’rifat kepada Allah SWT dan
penghayatan kepada alam ghaib serta mendapatkan ilmu laduniyah.
Walaupun aliran ini tidak menggunakan istilah Al-insan Al-kamil,namun
gambaran atau ide dasar tentang Al-insan Al-kamil tetap manjadi dasar ajarannya,yakni
dengan adanya sebutan “wali” atau golongan khawwash. Oleh karena itu, konsep al-
insan al-kamil menurut aliran ini adalah wali Allah, yaitu orang-orang khawwash yang
secara langsung telah mendapat limpahan ilmi ghaib dari Lawh Mahfuzh sehingga ia
dapat berkenalan dengan para malaikat, roh nabi-nabi dan dapat memetik pelajaran
dari mereka, mengetahui suratan nasib yang ada di Lawh Mahfuzh sehingga dapat
mengetahui apa yang akan terjadi dan bahkan ma’rifat kepada Allah.
b. Ibnu `Arabi
Abu Bakar Muhammad ibn Ali Al-Khotami Al-Tho’i Al-Andalusi (1165 -1240M.).
Di Timur ia di kenal dengan sebutan Ibnu’ Arabi, di Barat ia di kenal dengan sebutan
Ibnu Suraqah, Al-Syekh Al-Akbar (Doctor Maximus), Muhyidin bahkan Neoplotinus. Ia
dibesarkan dalam keluarga yang mempunyai tradisi kehidupan sufistik yang kuat.
Tetapi, Ibn `Arabi sendiri dalam pertumbuhannya justru, menempuh pendidikan dengan
tradisi intelektual rasional-filosofis yang kala itu berkembang pesat di wilayah Andalusia
dengan Ibnu Rusyd sebagai tokoh besarnya kala itu.
Dalam pemikiran Ibn `Arabi, Allah adalah Al-Khaliq bagi seluruh alam. Seluruh
yang ada termasuk manusia adalah pancaran iradat Allah (ide Allah). Inilah yang
membawanya kepada sebuah simpulan yang menyatakan bahwa alam ini adalah
esensi dari Allah itu sendiri.
Jalan yang ditempuh seorang salik menurut Ibn `Arabi adalah taubat,
zuhud dan khalwat (keterputusan diri dari seluruh dunia luar baik fisik maupun pikiran
dengan hanya memikirkan Allah dengan zikir dan merasakan kebersamaan dengan-
Nya. Pada konteks ini Ibn `Arabi melihat keniscayaan seorang pembimbing spiritual
(murshid) agar jalan yang ditempuh benar. Ia pernah mengatakan bahwa barangsiapa
menempuh jalan kesufian (suluk) tanpa seorang guru, maka ketauhilah bahwa gurunya
adalah setan. Sebaliknya, bagi salik yang mampu (alim), kehadiran guru justru akan
mengurangi konsentrasi riyadhanya dan membatasi daya fantasi dan imajinasinya
tentang Allah.

Kesimpulan

Sumber pokok tasawuf dalam Islam adalah bermula dari pangkal ajaran agama
Islam itu sendiri. Walaupun sebagian ahli ada yang mengatakan bahwa tasawuf Islam
itu timbul sebab adanya pengaruh dari luar Islam. Dan kata sufi sendiri tidak disebutkan
atau diterangkan dalam Al-Qur`an maupun Al-Hadits. Namun, apabila kita mencari dan
menyelidiki secara seksama pada ayat-ayat Al-Qur`an dan Al-Hadits, maka banyak
sekali didapati dari ayat Al-Qur`an dan Al-Hadits itu yang berfungsi sebagai sumber
tasawuf.
Adapun apa saja sumber-sumber kajian ilmu tasawuf sebagaimana yang
diuraikan diatas bahwa Al-Qur`an dan Al-Hadits selalu mempunyai kedudukan dalam
setiap disiplin ilmu keagamaan. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa sumber-
sumber tasawuf yaitu:
1. Al-Qur`an
2. Al-Hadits
3. Kehidupan Para Sahabat
4. Ijtihad Para Sufi, seperti:
a) Al-Ghazali
b) Ibn `Arabi
c) Dan masih banyak lagi yang lainnya.