Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA


MODUL 8 PENGAMATAN ALIRAN DALAM DIAMETER
PIPA YANG BERBEDA

PERIODE 1 (2018/2019)

Kelompok 9
Nama Mahasiswa / NIM : Ihsan Rahmat Ramadhan / 104117060

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS PERENCANAAN INFRASTRUKTUR
UNIVERSITAS PERTAMINA
2018
PENGAMATAN ALIRAN DALAM DIAMETER PIPA YANG BERBEDA
Ihsan Rahmat Ramadhan9*, Muhammad Rezano Abyasa9, Muhammad Taufiqul Mulki 9,
Jeffry Arnold Panggabean9, Irma Yani Siregar9
9
Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Perencanaan Infrastruktur, Universitas Pertamina
*
Corresponding Author : ihsanrahmatr@gmail.com

ABSTRAK
Pada Rabu, 7 November 2018 di gedung Laboratorium Sains dan Teknik Universitas
Pertamina Telah dilakukan praktikum modul Pengamatan Aliran Dalam Diameter Pipa Yang
Berbeda. Pada praktikum ini, mahasiswa akan mengukur kehilangan tenaga suatu fluida yang
mengalir pada dua pipa dengan diameter berbeda namun perlakuan yang sama dan pipa dengan
diameter yang sama namun perlakuan yang berbeda. Headloss ialah setiap fluida yang mengalir
pada suatu aliran perpipaan. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa koefisien kehilangan
tenaga pada diameter pipa yang berbeda memiliki nilai yang sebanding. Semakin besar diameter
pipa yang digunakan maka akan semakin besar koefisien kehilangan tenaga yang berpengaruh,
begitu pula sebaliknya.

Kata kunci : headloss, fluida, pipa, koefisien kehilangan, debit air

ABSTRACT
Wednesday, October 31, 2018 at Pertamina University Science and Engineering
Laboratory building Practicum of Observation of Flow in Different Pipe Diameter has been
carried out. In this practicum, students will measure the values of fluid losses flowing in two pipes
of different diameters but give the same handle and a pipe of same diameters but give different
handle. Based on the results of the practicum, it was found that the power loss coefficients in
different pipe diameters had comparable values. The greater the diameter of the pipe used, the
greater the coefficient loss of power influences, and vice versa.

Keywords: headloss, fluid, pipe, loss coefficient, water discharge


1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Sistem perpipaan adalah sistem yang digunakan untuk


mentransportasi fluida kerja antar peralatan dalam suatu pabrik atau dari
suatu tempat A ke tempat B sehingga proses perpindahan dapat
berlangsung. Sistem perpipaan terus berkembang seiring jalannya waktu.
Pada awalnya manusia mengangkut air dari mata air kerumah
menggunakan ember. Dalam penggunaan sehari-hari kita menggunakan
air yang disediakan perusahaan PAM lalu disalurkan melalui pipa menuju
rumah masing-masing konsumen. Di perindustrian juga menggunakan
pipa untuk pendistribusian fluida ke pabrik pengolahan selanjutnya.
Namun dalam penerapannya, fluida yang mengalir seringkali tidak cukup
deras untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari karena kehilangan
energi saat bergesekan dengan pipa.

1.2. Rumusan Masalah

1. Berapakah nilai koefisien kehilangan jika diameter divariasikan, dan


jika debit divariasikan?
2. Bagaimana perbandingan hasil secara teoritis dan eksperimental
(perbandingan antara debit dengan koefisien kehilangan)?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Dapat mengukur nilai koefisien kehilangan tenaga jika diameter dan


debit divariasikan untuk aliran air pada rangkaian pipa.
2. Dapat menganalisis perbandingan nilai eksperimen dengan nilai
teoritis.

1.4. Teori Dasar

Pipa adalah saluran tertutup yang biasanya memiliki penampang


lingkaran yang digunakan untuk mengalirkan fluida dengan tampang
aliran fluida. fluida yang dialirkan melalui pipa bisa berupa zat cair atau
gas. Tekanan yang dihasilkan bisa lebih besar ataupun lebih kecil dari
tekanan atmosfer. Fluida yang mengalir pada suatu pipa akan memiliki
headloss (kehilangan tenaga) tergantung dari besar diameter dan panjang
pipa yang dilaluinya. Kehilangan tenaga ini disebabkan karena adanya
gesekan fluida dengan permukaan pipa di sepanjang pipa itu sendiri, jika
dimasukkan kedalam persamaan sebagai berikut:

𝐿𝑄2
Hf = K( 𝐷5 ) (8.1)
Dimana:
Hf = kehilangan tenaga
K = koefisien kehilangan
L = panjang pipa 0,7 m (konstan)
Q = debit aliran (m3/s)
D = diameter dalam pipa (m) (0,006; 0,009; 0,010 atau 0,014)

Kehilangan tenaga yang sebenarnya akibat gesekan H1-2 dapat dihitung


dengan menggunakan rumus, sehingga nilai K dapat diketahui dengan
persamaan:

H1−2. 𝐷 5
K= (8.2)
𝐿𝑄 5

2. METODE PENELITIAN

2.1. Alat dan bahan

Alat yang digunakan saat praktikum yaitu jaringan perpipaan


dengan diameter berbeda, bangku hidraulik, gelas ukur, hand pressure
meter, dan stopwatch.
Bahan yang digunakan saat praktikum yaitu fluida berupa air.
2.2. Cara kerja
Jaringan perpipaan disiapkan kemudian sistem dikonfigurasikan untuk
pengujian pipa A dengan katup pengisi dibuka dan ditutup. Katup kontrol
aliran dibuka hingga penuh. Kemudian aliran fluida dibiarkan masuk menuju
H1 dan H2, kehilangan tenaga diukur pada pipa A. Sebelum data pembacaan
diambil, katup tekanan harus diputar dengan memegang katup diatas tangki
volumetrik, lalu katup dibuka pada sambungan sampai semua udara keluar
dari tabung. Aliran yang melalui pipa uji divariasikan dengan mengatur katup
kontrol arus keluaran pada bagian atas atau katup kontrol masuk pada bagian
bawah. Pada setiap perlakuan, kehilangan tenaga diukur dan dicatat dengan
menggunakan hand pressure meter dan debit. Bila karakteristik beda tekan
aliran sudah didapat untuk pipa A, perlakuan lain untuk pipa uji B, C, dan D
dilakukan secara bergantian.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1. Hasil
Panjang Volume (V) Waktu (t) Debit (Q)
Diameter
Pipa (L) H1-2 (m3) (s) (m3/s) K
(D)(m)
(m) (cmH2O) In Out In Out In Out
0,009 0,7 113,3 0,005 0,0007 23,37 4,77 2,139x10-4 1,467x10-4 4,44x10-3
0,014 0,7 88,12 0,005 0,0007 5,73 1,22 8,726x10-4 5,737x10-4 2,06x10-3
0,014 0,7 -141,8 0,005 0,0007 26,16 4,22 1,911x10-4 1,658x10-4 -0,04
3.2. Pembahasan

 Perhitungan Koefisien Kehilangan

H1−2. 𝐷 5 88,2(0,014)5
1. K = = = 2,06𝑥10−3
𝐿𝑄2 0,7(5,74𝑥10−4 )2
H1−2. 𝐷 5 88,2(0,009)5
2. K = = = 4,44𝑥10−3
𝐿𝑄2 0,7(1,46𝑥10−4 )2
H1−2. 𝐷 5 88,2(0,014)5
3. K = = = −0,04
𝐿𝑄2 0,7(1,66𝑥10−4 )2

 Perhitungan Nilai Debit


Diameter 9 mm
𝑉 0,0007 −4
Q𝑜𝑢𝑡 = 𝑡 = 4,77 = 1,467𝑥10 m3/s
𝑉 0,005 −4
Q𝑖𝑛 = = = 2,139𝑥10 m3/s
𝑡 23,37

Diameter 14 mm
𝑉 0,0007 −4
Q𝑜𝑢𝑡 = 𝑡 = 1,22 = 5,737𝑥10 m3/s
𝑉 0,005 −4
Q𝑖𝑛 = = = 8,726𝑥10 m3/s
𝑡 5,73

𝑉 0,0007 −4
Q𝑜𝑢𝑡 = = = 1,658𝑥10 m3/s
𝑡 4,22
𝑉 0,005 −4
Q𝑖𝑛 = = = 1,911𝑥10 m3/s
𝑡 23,16

Diskusi
Berdasarkan hasil percobaan ketika membedakan diameter berbeda maka
diameter yang lebih besar (0,014m) akan memiliki nilai kehilangan lebih besar
dibandingkan dengan diameter yang lebih kecil (0,009m). Sedangkan ketika
debit fluida divariasikan dengan diameter yang sama maka debit fluida yang
lebih besar akan memiliki nilai kehilangan yang lebih kecil karena aliran
fluida bergerak dengan cepat sehingga kehilangan energinya kecil begitu pula
sebaliknya.
KESIMPULAN

Pada praktikum ini dapat disimpulkan bahwa ukuran diameter pipa


berbanding lurus terhadap kehilangan tenaganya begitu pula sebaliknya
sedangkan debit memiliki pengaruh yang berbanding terbalik terhadap
koefisien kehilangan dan sebaliknya. Berdasarkan hasil analisis bahwa nilai
koefisien kehilangan bergantung pada ukuran diameter pipa dan debit air yang
mengalir pada pipa
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Wirman, dkk. 2018. Modul Praktikum Mekanika Fluida I 2018/2019.


Jakarta. Universitas Pertamina.
Yudisaputo, Hendra. 2013, Mei. Kerugian Tinggi-Tekan (Head losses). Diakses
tanggal 11 November 2018 dari:
http://berbagienergi.com/2013/05/11/kerugian-tinggi-tekan-head-losses/
Halliday, D., et al. 2007. Fundamental of Physics 8th Edition. John Wiley & Sons

Munson, Bruce R., dkk , (2013).Fluid Mechanics seventh edition.Asia : PT. Wiley.
LAMPIRAN