Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perlakuan suatu sampel dalam ilmu kimia sangatlah beragam. Namun,
keberagaman itu tidak dikarenakan seenaknya mencampur zat-zat bahan
kimia. Akan tetapi, timbul sebagai akibat dari pemerian zat yang akan diuji.
Tiap zat dalam suatu senyawa pasti memiliki sifat tertentu apabila
dicampurkan dengan senyawa lain, dan juga apabila dilarutkan dalam suatu
pelarut, misalnya air, eter, gliserol, dan lain-lain. Pengidentifikasian suatu zat
harus melalui suatu prosedur kerja sebab adanya hasil reaksi (yang mungkin
berbahaya) yang timbul saat dua senyawa atau lebih direaksikan, misalnya
dengan senyawa logam. Salah satu cara untuk melakukan identifikasinya,
khusus pada zat yang mengandung senyawa logam, digunakan suatu teknik
titrasi yang disebut titrasi kompleksometri atau reaksi pembentukan kompleks.
(Basset, 2010)
Metode titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan
seyawa kompleks. Salah satu zat pembentuk kompleks yang sering digunakan
adalah dinatrium etilendiamina tetra asetat (dinatrium EDTA). Dinatrium
EDTA digunakan sebagai titran. Dalam penetapan kadarnya digunakan
beberapa indikator sepeti hitam eriokrom, jingga xilenol, dan biru hidroksi
naftol (Basset, 2010)
Titrasi ini digunakan dalam estimasi garam logam. Etilen diamin asam
tetra asetat (EDTA) adalah titran yang biasa digunakan membentuk stabel 1:1
komplek dengan semua logam efektif. Logam alkali seperti natrium dan
kalium. Logam alkali tanah seperi kalsium dan magnesium bentuk kompleks
yang stabil pada nilai pH rendah dan dititrasi dalam ammonium klorida
penyangga di pH= 10 (Basset, 2010)
Titrasi komleksometri berguna untuk menentukan sejumlah besar
logam. Selektivitas dapat dicapai dengan penggunaan yang tepat dari agen
(penambah agar pengompleks lainnya adalah asam lemah dan basa lemah
yang kestimbangan, dan pengaruh pH pada kstimbangan ini. Kami

1
menjelaskan titrasi ion logam dengan zat pengompleks sangat berguna yaitu
EDTA, faktor-faktor yang mempengaruhi mereka, dan indikator untuk titrasi.
Titrasi EDTA pada kalsium ditambah magnesium umumnya digunakan untuk
memerlukan kesadahan air (Christian, 2004)
Hampir semua logam lainnya dapat secara akurat ditentukan oleh titrasi
kompleksometri. Kompleksometri memainkan peran penting dalam banyak
kimia dan biokimia. Banyak kation akan membentuk kompleks dalam larutan
dengan berbagai zat yang memiliki pasangan elektron baik terbagi (misalnya
pada N,O,S atom dalam molekul) mampu memuaskan bilang koordinasi pada
logam. (Christian, 2004)
Manfaat dari percobaab titrasi kompleksometri adalah dapat
menentukan kadar logam-logam yang ada dalam suatu produk farmasi
sehingga tepat kadar (sesuai standar) dan tidak menjadi toksik serta
membahayakan konsumen (Christian, 2004)
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari percobaan ini adalah bagaimana cara
mengidentifikasi zat dalam suatu sampel serta menetapkan kadarnya dengan
menggunakan prinsip reaksi pembentukan kompleksometri ?
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengidentifikasi zat
dalam suatu sampel serta menetapkan kadarnya dengan menggunakan prinsip
reaksi pembentukan kompleksometri.
1.1 Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat
mengetahui cara dan menetapkan kadar suatu sampel menggunakan prinsip
reaksi pembentukan kompleksometri.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
Titrasi kompleksomteri adalah titrasi berdasarkan pembentukan
senyawa kompleks antar kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu
zat pembentuk komples yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri
adalah garam dinantrium etilen diamin tetra asetat (dinatrium EDTA)
(Sutriono, 2018)
Kestibalan dari senyawa komples yang berbentuk tergantung dari sifat
kation dan pH dari larutan, oleh karena itu titrasi dilkakukan pada pH
tertentu. Pada larutan yang terlalu yang terlalu alkalis perlu diperhitungkan
kemungkinan mengendapnya logam hidroksida. Penetapan titik akhir titrasi
digunakan indikator logam, yaitu yang dapat membentuk senyawa kompleks
dengan ikatan ion logam. Ikatan kompleks antara larutan titer dan ion logam
harus lebih lemah dari pada ikatan kompleks antara larutan titer dan nion
logam. Larutan indikator bebas mempunyai warna yang berbeda dengan
larutan kompleks indikator. Indikator yang banyak digunakan dalam titrasi
kompleksometri adalah erikcromm black T (EBT), jingga xilenoal, dan Biru
hidroksi naftol (Sutriono, 2018)
Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut maka
titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada
dalam larutan tersebut. Titrasi kompleksometri yang berdasarkan
pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar
mengion). Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat
saling mengkompleks membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi-reaksi
pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan
penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu
pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama
akan diterapkan pada titrasi (Hidayanti, 2010)
Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks adalah tingkat kelarutan
tinggi, selain titrasi kompleksometri yang dikenal sebagai kelartometri seperti

3
yang menyambut penggunaan EDTA. Gugus yang terikat pada ion pusat,
disebut ligan (polidentat). Selektivitas kompleks dapat diatur dengan
pengendalian pH= 10 EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri
mempergunakaan indikator yang (Hidayanti, 2010)
Kelebihan titrasi kompleksometri adalah EDTA stabil, mudah larut dan
menunjukkan komposisi kimiawi yang tertantu. Selektivitas kompleks dapat
diatur dengan penegendalian pH misal pada magnesium, krom, kalsium dapat
di titrasi pada pH=11. Etilen diamin asetat (EDTA) sebagai garam natrium
sendii merupakan standar primer sehingga tidak perlu standarisasi lebih
lanjut. Kestabilan kompleks-kompleks logam EDTA dapat diubah dengan
mengubah pH dan adanya zat-zat pengompleks lain. Maka tetapan kestabilan
kompleks EDTA akan berbeda dari nilai yang dicatat pada suatu pH tertentu.
Larutan air EDTA akan memiliki nilai yang berbeda dari nilaiyang telah
dicatat. Kondisi baru ini dinamakan tetapan kestabilan nampak atau tetapan
kestabilan menurut kondisi (Hidayanti, 2010)

4
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum argentometri
sebagai berikut :
3.1.1 Alat
Adapun alat yang digunakan dalam pembuatna dan pembakuan larutan
baku ialah statif dan klem, buret, Erlenmeyer, labu takar, pipet tetes, gelas
kimia.
3.1.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Dinatrium
EDTA 0,05 M, CaCO3, HCl encer, indikator EBT, dapar ammonia pH 10,
MgSO4, ammonium klorida, dan ammonia.
3.2 Prosedur Kerja
3.2.1 Pembuatan Larutan Dinatrium EDTA
Tempatkan 20 ml larutan EDTA 0,05 M dalam gelas kimia 250 ml dan
encerkan hingga 100 ml, tempatkan EDTA yang telah diencerkan kedalam
buret, timbang MgSO4.7H2O kemudian larutkan dalam labu takar 100 ml
menggunaka aqua dm, pipet 25,00 ml larutan tersebut kedalam labu titrasi,
tambahkan 10 ml larutan buffer pH 10,1 sendok kecil EBT dan bilas dinding
labu titrasi dengan aqua dm, titrasi larutan ini dengan EDTA sehingga
warna larutan bberubah menjadi warna biru, lakukan titrasi duplo.
3.2.2 Penentuan kadar kalsium dalam sample
Gerus 1 batang kapur tulis hingga halus menggunakan alu dan mortar,
timbang dengan teliti 0,2 gram kapur yang telah dihaluskan dalam gelas
kimia 100 ml, larutkan kapur dengan menambahkan0,7 ml HCL 6 M
(teteskan pelahan-lahan hingga kapur tepat larut ) sambil diaduk perlahan,
lakukan dalam lemari asam, sering larutan yang diperoleh dan diencerkan di
labu takar 100 ml hingga tanda batas, pipet 10 ml larutan sampel ke dalam
labu titrasi, bilas dengan aqua dm, tambahkan 10 ml larutan buffer pH 10

5
dan 1 sendok kecil indicator EBT, titrasi dengan larutan baku EDTA
sehingga warna larutan berubah menjadi biru, lakukan titrasi duplo.

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
No Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Pembuatan larutan EDTA
- Tempatkan 20 ml larutan EDTA Warna larutan bening
0,05 M dalam gelas kimia 250 ml
dan encerkan hingga 100 ml
- Masukan EDTA yang telah Warna larutan bening
diencerkan kedalam buret
- menimbang MgSO4.7H2O
0,2 gr
- larutkan dalam labu takar
100 ml
menggunaka aqua dm
- ambil larutan MgSO4 dengan
25 ml
menggunakan pipet
- masukan kedalam Erlenmeyer
Warna larutan bening
- tambahkan larutan buffer dengan
Warna larutan ungu
pH 10
Warna larutan biru
- Titrasi larutan MgSO4 dengan
larutan EDTA di duplo
10,6 ml
- Tentukan konsentrasi larutan
EDTA
2. Penentuan kadar kalsium (Ca) dalam
CaCO3
- Timbang kapur sebanyak 0,2 0,2 gr
kapur yang telah dihaluskan
- Larutkan dengan HCL 6M 1 ml
didalam gelas kimia
- Masukan kedalam labu takar 100 100 ml
ml tambahkan aquadest hingga
tanda batas ukur lalu

7
homogenkan. 10 ml
- Masukan larutan CaCO3 yang
telah ditambahkan HCL ke
dalam Erlenmeyer Warna larutan ungu
- Tambahkan larutan buffer
dengan pH 10 dan 1 sendok kecil
indicator EBTA Warna larutan biru
- Titrasi larutan CaCO3 dengan
EDTA 0,55%
- Menentukan kadar Ca dalam
CaCO3
Tabel 4.1 Hasil Praktikum
Perhitungan
1. penentuan konsentrasi larutan EDTA
FP x Mol MgSO4 = [EDTA] x V EDTA x 10-3
FP x mr/gr = [EDTA] x V EDTA x 10-3
25/100 x 0,2/246 = [EDTA] x 7, 53 x 10-3
0,25 x 0,0008 = [EDTA] x 0,0075
[EDTA] = 0,0022/0,0075
[EDTA]= 0,0266
2. Penentuan kadar kalsium (Ca) dalam CaCO3
Mol CaCO3 = FP x [EDTA] x V EDTA x 10-3
= 0,2 x 0,0266 x 5,9 x 10-3
Mol gr % Ca = 0,1 x 0,0266 x 5,9 x 0,001
mr
= 0,00266 x 0,0059
gr = 1,5694 x 100%
1,5 x 10-3 = gr
100%
gr = 1,5 x 10-3
= 1,5 x 0,001
= 0,0015

8
%Ca = gr x 100%
= 0,0015 X 100 %
% Ca = 0,15 %
Jadi, % Ca dalam CaCO3 sebanyak 0,15 %
4.2 Pembahasan
Titrasi kompleksometri adalah titrasi yang berdasarkan atas
pembentukan kompleks yang larut dari reaksi komponen zat uji (logam)
dengan titran (komplekson). Untuk penentuan ion-ion logam ini dengan
pereaksi etilen diamin tetraasetat dinatrium, yang umumnya disebut EDTA
dengan menggunakan indikator terhadap ion logam yang mempunyai sifat
seperti halnya indikator pH pada titrasi asam basa/ dengan dasar
pembentukan kompleks khelat yang digolongkan dalam golongan
komplekson. Faktor-faktor seperti suhu, pelarut, ion lawannya atau zat-zat/
ion-ion pembentuk kompleks lainnya dapat mempengaruhi pembentukan
kompleks khelat.
Percobaan ini bertujuan untuk dapat menganalisis kadar kalsium (Ca)
dengan analisa secara kompleksometri. Bahan yang digunakan adalah
indikator EBT, larutan baku MgSO4 0,01 M,larutan buffer pH=10, cuplikan,
larutan EDTA 0,01 M dan NH3 pekat. Percobaan pertama yaitu pembakuan
larutan EDTA dengan larutan baku MgSO4 0,01 M. Standarisasi merupakan
suatu reaksi asidometri yakni penentuan konsentrasi titran menggunakan
larutan baku primer. Tujuan standarisasi adalah untuk mengetahui konsentrasi
dari EDTA. EDTA perlu distandarisasi terlebih dahulu karena EDTA tidak
stabil dalam penyimpanannya , EDTA merupakan larutan baku sekunder
selain itu EDTA juga digunakan untuk dapat menstabilkan ion logam Mg,
sehibgga konsentrasi EDTA perlu diketahui secara pasti menggunakan
larutan baku primer yaitu MgSO4. Larutan baku primer adalah suatu larutan
yang konsentrasinya dapat langsung ditentukan dari berat bahan murni yang
dilarutkan atau dengan penimbanagan langsung. Sedangkan larutan baku
sekunder adalah larutan yang tidak diketahui konsentrasinya dan
dapatbdiketahui dengan pembakuan menggunakan larutan baku primer.
Adapun syarat larutan baku adalah harus mudah didapat, sederhana dalam
penggunaannya, juga harus stabil sehingga konsentrasinya tidak mudah
berubah. Larutan MgSO4 dimasukkan ke dalam erlenmeyer disebut titrat dan
EDTA di dalam buret disebut titran
Dalam analisis suatu zat kimia digunakan berbagai macam metode.
Salahsatu metode yang di pakai untuk penetapan kadar logam adalah
Kompleksometri. Metode ini didasarkan atas pembentukan senyawa komplek
antara logam denganzat pembentuk komplek. Sebagai zat pembentuk

9
kompleks yang banyakdigunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam
dinatrium etilen diaminatetra asetat (dinatrium EDTA). Kestabilan dari
senyawa komplek yang terbentuktergantung dari sifat kation dan pH dari
larutan, sehingga titrasi harus dilakukan pada pH tertentu. Untuk menetapkan
titik akhir titrasi (TAT) digunakan indikatorlogam, yaitu indikator yang dapat
membentuk senyawa kompleks dengan ionlogam. Ikatan kompleks antara
indikator dan ion logam harus lebih lemahdaripada ikatan kompleks atau
larutan titer dan ion logam. Larutan indikator bebasmempunyai warna yang
berbeda dengan larutan kompleks indikator. Indikatoryang banyak digunakan
dalam titrasi kompleksometri adalah kalkon, asam kalkonkarboksilat, hitam
eriokrom-T dan jingga xilenol. Untuk logam yang dengan cepatdapat
membentuk senyawa kompleks pada umumnya titrasi dilakukan
secaralangsung, sedang yang lambat membentuk senyawa kompleks
dilakukan titrasi kembali. Membentuk senyawa atau kompleks khelat yang
stabil dan larut dalam air.Faktor-faktor yang membuat EDTA ampuh sebagai
pereaksi titrimetriantara lain: selalu membentuk kompleks ketika direaksikan
dengan ionlogam, kestabilannya dalam membentuk kelat sangat konstan
sehingga reaksi berjalan sempurna (kecuali dengan logam alkali), dapat
bereaksi cepat dengan banyak jenis ion logam, telah dikembangkan
indikatornya secara khusus, mudah diperoleh bahan baku primernya dan
dapat digunakan baik sebagai bahan yang dianalisis maupun sebagai bahan
untuk standarisasi Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian
pH,misalnya Mg, Ca, Cr, dan Ba dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA,
Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan indikator yang juga
bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya
mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. Indikator
demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya
adalah Eriochromeblack T, pyrocatechol violet, xylenol orange, calmagit, 1-
(2-piridil-azonaftol), PAN, zincon, asam salisilat, metafalein dan calcein blue.
Pada praktikum ini, kami melakukan proses titrasi kompleksometri.
Titrasi kompleksometri adalah titrasi yang melibatkan reaksi ion logam
dengan zat pengompleks/zat ligand. Dimana zat pengompleks yang
digunakan pada praktikum ini yaitu EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetate)
dan ion logamnya yaitu Ca2+. Sebelum melakukan proses titrasi ini, kami
melakukan proses pembakuan larutan EDTA. Dan sebelum melakukan proses
pembakuan larutan, kami pun membuat larutan yang diperlukan terlebih
dahulu. Larutan EDTA 0,05 M, larutan dapar pH 10 dan larutan indikator
EBT (Eriochrome Black T) sudah tersedia. Maka, kami pun membuat larutan
baku kalsium.

10
Larutan baku kalsium dibuat dari padatan CaCO3 pa, larutan HCl dan
air. Padatan CaCO3 yang digunakan itu pa (pro analys), karena salah satu
syarat larutan standar primer yaitu tingkat kemurniannya pa. Sebelum
dilakukan titrasi Ca dilakukan terlebih dahulu pembakuan larutan EDTA.
Proses pembakuan dilakukan karena EDTA merupakan larutan standar
primer, maka harus distandarisasi terlebih dahulu dengan larutan standar
primer (larutan baku kalsium) sebelum melakukan proses titrasi.
Setelah proses pembuatan larutan baku kalsium, dilakukanlah proses
pembakuan larutan EDTA. Larutan baku kalsium dipipet, kemudian
dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer. Karena, dengan labu erlenmeyer akan
lebih memudahkan dalam proses titrasi, terutama dalam proses pengocokkan.
Setelah itu, ditambah larutan dapar pH 10. Penambahan larutan dapar pH 10
berfungsi supaya suasana dalam keadaan basa ketika melakukan proses titrasi
dan untuk mempertahankan nilai pH. Lalu, ditambahkan aquades. Sebelum
melakukan proses titrasi, ditambahkan indikator EBT. Penambahan indicator
EBT berfungsi sebagai indikator pH. Dengan ditambahkannya indikator
EBT, maka terbentuk CaIn– yang berwarna merah anggur (pink). Jika sudah
terbentuk larutan berwarna ungu, maka proses titrasi antara larutan EDTA
dan larutan baku kalsium dapat langsung dilakukan, Prinsip dan dasar reaksi
penentuan ion-ion logam secara titrasikompleksometri umumnya digunakan
komplekson III (EDTA) sebagai zat pembentuk kompleks khelat, dimana
EDTA bereaksi dengan ion logam yang polivalen seperti Al+3, Bi+3, Ca+2, dan
Cu+2
Dari proses titrasi tersebut, didapatkan konsentrasi EDTA sebesar
0,0266 M. Kemudian, kami melakukan titrasi Ca. Langkah kerja yang
dilakukan sama dengan proses pembakuan larutan EDTA. Hanya terdapat
perbedaan ketika ditambahkannya larutan dapar pH 10. Dimana pada proses
ini, larutan dapar pH 10 yang digunakan lebih banyak 1 mL. Kadar Ca yang
diperoleh dari proses titrasi Ca ini yaitu 0,15 %.
Dalam praktikum juga dilakukan titrasi kesadahan total dari sampel air.
Kesadahan air adalah adanya kandungan mineral-mineral tertentu yang
terdapat di dalam air, pada umumnya mineral itu adalah ion kalsium (Ca) dan
magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Proses titrasi dilakukan
mirip dengan titrasi pembakuan larutan EDTA yaitu menggunakan indicator
EBT dan larutan dapar pH 10. Hanya saja sampel yang digunakan adalah air.
Setelah dilakukan titrasi dan didapatkan titik ekuivalennya, dapat ditentukan
kesadahan total dari air yaitu sebesar 103 ppm. Selain menghitung kesadahan
total, juga dilakukan praktikum untuk menentukan kesadahan tetap air .
Dalam percobaan ini sampel air dipanaskan terlebih dahulu dan disaring
untuk menghilangkan bakteri atau pengotor air lainnya dalam air. Setelah

11
dilakukuan titrasi dan didapatkan titik ekuivalennya,didapatkan kesadahan
tetap dari sampel air yaitu 7,8 ppm. Saat melakukan titrasi dilakukan duplo
berjalan dengan baik sehingga dari kedua percobaan itu menghasilkan 7,8 ml
rata-rata dari duplo yang dilakukan sama halnya dengan perubahan warna
sesuai dengan tuntunan praktikum, yang pertama itu dari pembuatan larutan
EDTA saat di titik ekivalen larutannya berubah warna dari warna larutan
ungu sampai jadi larutan warna biru dengan jumlah larutan yang terpakai 10,6
ml dan dilakukan duplo yang kedua hanya terpakai 5,0 ml larutan saat di titik
ekivalen.

12
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dapat di simpulkan bahwa Titrasi kompleksometri yaitu titrasi
berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam
yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran
dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi–
reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak
sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi.
5.2 Saran
Sebaiknya alat-alat yang ada akan digunakan bisa terjaga mutu dan
kualitasnya agar dapat dilakukan oleh para praktikan, ditambahkan bahan-
bahan yang akan digunakan karena, masih banyak bahan yang belum tersedia.
Dan perlu dilakukan lagi praktikum untuk mengidentifikasi uji yang belum
diketahui.

13
14