Anda di halaman 1dari 8

Laporan praktikum ke-4 Hari / tanggal: Senin / 11 Februari 2019

Teknik Laboratorium Nutrisi dan Tempat: Laboratorium Biokimia,


Teknologi Pakan Fisiologi, dan Mikrobiologi Nutrisi
Asisten: Putri Desmarestia D
(D24150031)

SENTRIFUGASI
Cut Mutia Dwi P
D24160126
Kelompok 1

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Campuran dapat tersusun atas beberapa unsur ataupun senyawa.


Komponen-komponen penyusun suatu campuran tersebut dapat dipisahkan
berdasarkan sifat fisika zat penyusunnya. Salah satu metode yang digunakan dalam
pemisahan campuran adalah sentrifugasi. Sentrifugasi ialah proses pemisahan
partikel berdasarkan berat partikel tersebut terhadap densitas layangnya (bouyant
density). Dengan adanya gaya sentrifugal maka akan terjadi perubahan berat
partikel dari keadaan normal pada 1 g (sekitar 9.8 m/s2) menjadi meningkat seiring
dengan kecepatan serta sudut kemiringan perputaran partikel tersebut terhadap
sumbunya. Dalam bentuk yang sangat sederhana sentrifuge terdiri atas sebuah rotor
dengan lubang-lubang untuk meletakkan cairan wadah/tabung yang berisi cairan
dan sebuah motor atau alat lain yang dapat memutar rotor pada kecepatan yang
dikehendaki. Semua bagian lain yang terdapat pada sentrifus modern saat ini
hanyalah perlengkapan yang dimaksudkan untuk melakukan berbagai fungsi yang
berguna dan mempertahankan kondisi lingkungan saat rotor tersebut bekerja
(Hendra 1989).
Pemisahan sentrifugal menggunakan prinsip dimana objek diputar secara
horizontal pada jarak tertentu. Apabila objek berotasi di dalam tabung atau silinder
yang berisi campuran cairan dan partikel, maka campuran tersebut dapat bergerak
menuju pusat rotasi, namun hal tersebut tidak terjadi karena adanya gaya yang
berlawanan yang menuju kearah dinding luar silinder atau tabung, gaya tersebut
adalah gaya sentrifugasi. Gaya inilah yang menyebabkan partikel-partikel menuju
dinding tabung dan terakumulasi membentuk endapan (Zulfikar 2008).
Komponen utama pada proses sentrifugasi ialah instrumen sentrifus, rotor,
dan tabung (wadah sampel). Sedangkan bagian yang sifatnya asesoris umumnya
bergantung mengikuti aplikasi yang akan dilakukan pada proses tersebut. Instrumen
sentrifus, adalah bagian yang menjadi alat penggerak proses sentrifugasi karena
didalamnya memiliki motor yang mampu berputar dan memiliki pengaturan
kecepatan perputaran (Budiman 2010).
Ada empat jenis sentrifuge yaitu mikrosentrifugasi, sentrifugasi kecepatan
tinggi, sentrifugasi dingin, dan sentrifugasi ultra. Sentrifus yang sederhana telah
digunakan dalam biologi dan biokimia untuk mengisolasi dan memisahkan
biomolekul, organel-organel sel, atau sel secara keseluruhan (Rickwood 1984).
Cairan rumen sapi, selain mengandung mikroba rumen dan enzim-enzim
yang disekresikan oleh mikroba rumen, juga mengandung zat-zat makanan hasil
perombakan mikroba rumen dan enzim, serta vitamin-vitamin dan mineral-mineral
yang larut dalam cairan rumen. Pemisahan cairan rumen dengan sentrifugasi akan
menghasilkan bahan padatan yang berasal dari sel-sel mikroba dan nutrien yang
larut di dalam cairan rumen. Bahan tersebut kaya akan protein, asam amino, vitamin
dan mineral (Budiansyah et al. 2011).
Tujuan

Praktikum ini bertujuan mengetahui teknik serta cara untuk menggunakan


alat sentrifuge dengan baik dan benar.

MATERI DAN METODE

Materi

Praktikum ini menggunakan bahan berupa cairan rumen, HgCl2,


formaldehide, akuades dan H2SO4. Peralatan yang digunakan meliputi pipet tetes,
pipet mohr, bulb, alat sentrifugasi (makro dan mikro), botol selai, micro tube,
tabung fermentor, spoit, kertas label, mikro pipet, beaker glass dan timbangan
digital.
Metode

Micro centrifuge
Pembuatan larutan dilakukan dengan mengambil cairan rumen dengan
menggunakan pipet dan bulb sebanyak 100 ml untuk masing-masing 3 botol selai.
Beri label pada tiap botol dengan dengan nama campurannya. Botol pertama diisi
dengan campuran 100 ml cairan rumen dan 4 tetes HgCl2 . Botol kedua diisi dengan
campuran 100 ml cairan rumen dan 4 tetes formaldehide. Botol ketiga diisi dengan
campuran 100 ml cairan rumen dan 4 tetes H2SO4. Selanjutnya masing-masing
campuran diambil sebanyak 1000 µl untuk dimasukkan ke dalam micro tube dan
atur putaran selama 1 menit dengan kecepatan masing-masing 3000, 5000, 8000,
10000, dan 13000 rpm. Setelah itu ambil cairan yang sudah terpisah dengan
endapan menggunakan spoit dan catat volume filtrat yang dihasilkan.
Macro centrifuge
Pembuatan larutan dilakukan dengan mengambil cairan rumen dengan
menggunakan pipet dan bulb sebanyak 100 ml untuk masing-masing 3 botol selai.
Beri label pada tiap botol dengan dengan nama campurannya. Botol pertama diisi
dengan campuran 100 ml cairan rumen dan 4 tetes HgCl2 . Botol kedua diisi dengan
campuran 100 ml cairan rumen dan 4 tetes formaldehide. Botol ketiga diisi dengan
campuran 100 ml cairan rumen dan 4 tetes H2SO4. Selanjutnya ditimbang tabung
fermentor yang diisi dengan masing-masing campuran hingga terisi ¾ bagian
tabung dan dipastikan beratnya sama agar kerja centrifuge seimbang. Putar dengan
kecepatan 3000 rpm dengan waktu 15 menit. Diambil supernatan menggunakan
pipet mohr lalu dicatat volume cairan.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Mikrosentrifugasi dilakukan untuk memisahkan larutan dengan endapan


dalam jumlah yang sedikit. Hasil pengukuran volume cairan rumen yang telah
disentrifugasi menggunakan mikrosentrifuge dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil pengukuran volume cairan rumen menggunakan
mikrosentrifuge.
Perlakuan Kecepatan (rpm)
(ml) 3000 5000 8000 10000 13000
HgCl2 0.55 0.88 0.87 0.9 0.88
Formaldehide 0.9 0.81 0.83 1.0 0.85
H2SO4 0.91 0.85 0.85 0.85 0.9
Makrosentrifugasi dilakukan untuk memisahkan larutan dengan
endapannya dalam jumlah yang cukup besar dibandingkan dengan mikrosentrifuge.
Hasil pengukuran cairan rumen menggunakan makrosentrifuge dapat dilihat pada
Tabel 2.
Tabel 2. Hasil pengukuran cairan rumen menggunakan makosentrifuge
Perlakuan (ml) Kecepatan (3000 rpm)
HgCl2 30.4
Formaldehide 36
H2SO4 33.33

Pembahasan

Komponen utama dalam proses sentrifugasi adalah sentrifus, rotor, dan


tabung. Centrifuge terdiri atas sebuah rotor dengan lubang untuk meletakkan tabung
yang berisi larutan yang akan dipisahkan cairan dan endapannya (Waharawichanant
2010). Terdapat motor yang akan memutar rotor pada kecepatan tertentu. Rotor
menentukan kecepatan yang akan dikerjakan alat sentrifugasi dalam memutar
tabung. Rotor dibagi menjadi 2 kategori yaitu roto sudut tetap dan rotor ayunan
keluar (Putri et al. 2009). Tujuan dari proses ini adalah memisahkan padatan dan
cairan.
Prinsip sentrifus bekerja seperti komedi putar. Prinsipnya yakni dengan
meletakkan sampel pada suatu gaya dengan memutar sampel pada kecepatan tinggi,
sehingga terjadi pengendapan partikel, atau organel-organel sel berdasarkan bobot
molekulnya (Artika 2010). Substansi yang lebih berat akan berada di dasar,
sedangkan substansi yang lebih ringan akan terletak di atas (Miller 2000). Substansi
hasil sentrifugasi terbagi menjadi dua, yaitu supernatan dan pelet. Supernatan
adalah substansi hasil sentrifugasi yang memiliki bobot jenis yang lebih rendah.
Posisis dari substansi ini berada pada lapisan atas dan warnanya lebih jernih.
Sementara pelet adalah substansi hasil sentrifugasi yang memiliki bobot jenis yang
lebih tinggi. Posisisnya berada pada bagian bawah (berupa endapan) dan warnanya
lebih keruh.
Berdasarkan bentuknya, centrifuge dibagi menjadi 2 yaitu micro dan macro
centrifuge. Namun berdasar dengan cara kerjanya proses sentrifugasi dibagi dalam
sentrifugasi diferensiasi dan gradien densitas (Girsang et al. 2003). Sentrifugasi
diferensiasi didasarkan pada perbedaan ukuran partikel yang dengan putaran akan
membuat partikel lebih besar akan cepat mengendap. Perbedaan kepadatan dari
partikel akan menyebabkan pengendapan tercepat diikuti oleh kurang padat dan
partikel yang lebih kecil. Sentrifugasi gradient densitas didasarkan pada pemurnian
organel subselular dan makromolekul. Sentrifugasi ini terdiri atas dua kategori yaitu
zona tingkat dan isoponik. Zona tingkat didasarkan pada ukuran dan massa bukan
kepadatan sedangkan isoponik didasarkan pada kepadatannya.
Alat sentrifugasi memiliki beberapa fungsi diantaranya pemisah, klasifikasi
berdasar ukuran dan densitas, penghilang partikel asing, penebalan konsentrasi cair,
dan pemisah kotoran dengan pengenceran. Alat ini dapat memisahkan padatan dan
cairan dengan prinsip pemisahan menurut fase. Padatan akan terakumulasi kebawah
dibandigkan dengan cairan (Moeksin et al. 2008).
Aplikasi sentrifugasi dapat kita temukan pada beberapa peralatan industri.
Aplikasi tersebut adalah vibro finisher, mesin pompa, mesin pusher centrifuge, dan
centrifuge batch. Peralatan tersebut menggunakan prinsip sentrifugasi dalam
melakukan pengayakan bahan-bahan yang memiliki perbedaan partikel, proses
pencucian, serta proses pemisahan bahan baku.
Berdasarkan hasil didapati perbedaan centrifuge yang digunakan hanya
pada waktu, volume tabung dan jumlah tabung yang dapat digunakan. Macro
centrifuge hanya dapat berisikan 4 tabung dengan kecepatan 3000 rpm waktu 15
menit. Volume yang dapat diletakkan dalam tabung fermentor lebih besar
dibandingkan dengan micro centrifuge. Perlakuan yang diberikan memiliki
perbedaan dalam hasil endapan dan volume cairan yang berbeda. Campuran dengan
menggunakan HgCl2 setiap jenis centrifuge menunjukkan volume supernatan yang
sedikit yang berarti endapan banyak dan campuran formaldehide mendapatkan
cairan yang lebih banyak. jumlah volume cairan rumen yang disentrifuge
menggunakan makrosentrifuge lebih besar dengan kecepatan 3000 rpm
dibandingkan mikrosentrifuge dengan kecepatan yang bervariasi, yaitu 3000 rpm,
5000 rpm, 8000 rpm, 10000 rpm, dan 18000 rpm. Perbedaan jumlah volume yang
diperoleh disebabkan karena pada makrosentrifuge maupun mikrosentrifuge
memiliki kapasitas, kecepatan, dan waktu yang berbeda. Makrosentrifuge memiliki
kapasitas daya tampung yang lebih banyak dan besar, yaitu empat tabung. Waktu
dalam proses sentrifugasi dapat mempengaruhi hasil yang diperoleh.
Macrosentrifuge memiliki waktu yang lebih lama, yaitu selama 15 meit dan jumlah
volume yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan mikrosentrifuge walaupun
dengan kecepatan yang tinggi, yaitu 13000 rpm. Pemisahan yang terjadi lebih
sempurna dan hasil yang diperoleh lebih banyak jika proses sentrifugasi lebih lama
(Fernando 2012).
Penggunaan sentrifuge harus sesuai prosedur. Penempatan tabung pada
sentrifuge diharapkan harus seimbang. Penempatan tabung bagian kiri dan kanan
harus sama beratnya (Syekh 2013). Jika hanya ada satu tabung yang akan diisi dan
menempati bagian kiri maka bagian kanan harus diisikan dengan tabung berisi air
untuk penyeimbang dan begitupun sebaliknya. Hal ini dilakukan untuk menjaga
sentrifuge tetap seimbang sehingga rotor dapat berputar dengan baik dan bahan
tidak tumpah.
Penambahan HgCl2 dalam cairan rumen mengebabkan terhentinya proses
fermentasi dalam rumen (Syapura et al. 2013). Hal ini menunjukkan bahwa tidak
ada aktifits mikroba dala rumen yang bekerja. Formaldehide digunakan sebagai
pelindung pakan dalam proses fermentasi (Suhartanto et al. 2014). H2SO4 dalam
kegunaannya untuk cairan rumen adalah pada proses penentuan kandungan
ammonia (Abdurachman et al 2001). Penambahan H2SO4 dapat digunakan dalam
proses pengukuran VFA total yan terkandung di dalam cairan rumen melalui proses
destilasi (Hugate 1996).

SIMPULAN

Sentrifuge berfungsi memisahkan larutan menjadi dua bagian, yaitu filtrate


dan residu atau endapan. Sentrifuge memiliki beberapa jenis yang berbeda
kegunaannya dalam melakukan proses sentrifugasi dan kecepatan yang bervariasi.
Semakin lama waktu sentrifugasi, maka hasil pemisahan yang didapat lebih banyak.
DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman A. S. 2001. Teknik penyimpanan cairan rumen untuk analisis


amonia. Temu Teknis Fungsional Non Peneliti Balai Penelitian Ternak. 126-
129.
Artika I. M., Safithri M. 2010. Diktat Kuliah Struktur dan Fungsi Subseluler. Bogor
(ID): Departemen Biokimia.
Budiansyah A., Resmi, Nahrowi, Komang G. W., Maggy T. S., Yantyati W. 2011.
Karakteristik endapan cairan rumen sapi asal rumah potong hewan sebagai
feed supplement. JIIP. 14(1): 2-3.
Budiman A. 2010. Metode sentrifugasi untuk pemisahan biodiesel dalam proses
pencucian. Jurnal Riset Industri. 3(3): 173-178.
Fernando R. 2012. Sentrifugasi dan Filtrasi. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Girsang M, et al. 2003. Teknik Sentrifugasi untuk Meningkatkan Penemuan Bakteri
Tahan Asam (BTA) dari Sputum Penderita TBC Melalui Metode Zielh-
Neelsen. Jakarta (ID): Litbang Depkes.
Hendra A. 1989. Teknik pemisahan Dalam Analisis Biologis. Bogor (ID): IPB
Press.
Hugate R. E. 1966. The Rumen and Its Microbes. Cambridge (US): Academic Press.
Miller J. N. 2000. Statistics and Chemometrics for Analytical Chemistry, 4th ed.
Harlow (UK): Prentice Hall.
Moeksin R., Rahmawati Y., Rini P. 2008. Pengaruh penambahan papain terhadap
kualitas vco dengan metode enzimatis, sentrifugasi, dan pemanasan. Jurnal
Teknik Kimia. 1(15): 11-14.
Putri R. I., Fauziyah M., Setiawan A. 2009. Penerapan kontroler fuzzy untuk
pengendalian kecepatan motor induksi 3 fasa pada mesin sentrifugal. J.
INKOM. Vol. 3 No. 1-2.
Rickwood D. 1984. Centrifugation : A Practical Approach. Washington DC (US):
IRL Press.
Suhartanto B., Utomo R., Kustantinah, Budisatria I. G. S., Yusiati L. M. 2014.
Pengaruh penambahan formaldhide pada pembuuatan undergraded protein
dan tingkat seplementasi pada pellet pakan lengkap terhadap aktivtas mikroba
rumen secara invitro. Buletin Peternakan. 38(3) : 141-149.
Syaputra, Bata M., Wardhana, Pratama S. 2013. Peningkatan kualitas jerami padi
dan pengaruhnya terhadap kecernaan nutrient dan produk fermentasi rumen
kerbau dengan feces sebagai sumber inokulum. J. Agripet. 13(2) : 59-67.
Syekh F. 2013. Instruksi Kerja Pemakaian Alat Sentrifusi. Malang (ID): Universitas
Brawijaya, Fakutas Pertanian.
Waharawichanant S. 2010. Centrifugal Separation Process. Chicago (US): The
Scientific Press.
Zulfikar. 2008. Kimia Kesehatan. Jilid 3. Jakarta (ID): Departemen Pendidikan
Nasional.
LAMPIRAN