Anda di halaman 1dari 7

JURNAL TEKNIK ITS Vol. X, No.

X, (2017) ISSN: XXXX-XXXX (XXXX-XXXX Print) 1

Pembuatan Peta Skala 1:5000 Sesuai dengan


Peraturan Kepala BIG Nomor 16 Tahun 2014 pada
BWP Lumajang, Kabupaten Lumajang
Atik Indra Puspita1, Dr. –Ing. Ir. Teguh Hariyanto, M.Sc.2, dan Cherie Bhekti Pribadi, S.T., M.T.3
Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: teguh_hr@geodesy.its.ac.id

Abstrak—Peta Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) merupakan 7 yang menyebutkan bahwa segala aspek kebijakan
peta hasil penjabaran dari Rencana Tata Ruang Wilayah pembangunan yang terkait dengan aspek keruangan harus
(RTRW) yang dituangkan dalam rencana pemanfaatan ruang didasari oleh informasi geospasial yang dapat
kawasan ruang kab/kota. Peta tersebut disusun untuk dipertanggungjawabkan.
menyiapkan perwujudan ruang kota dalam rencana pelaksanaan
Peta dasar merupakan peta yang menyajikan unsur-unsur
proyek pembangunan yang memuat pemanfaatan ruang
kawasan dengan menetapkan blok-blok peruntukan pada alam dan atau buatan manusia, yang berada di permukaan
kawasan fungsional yang dimuat dalam peta rencana berskala 1: bumi, digambarakan pada suatu bidang datar dengan skala,
5000 atau lebih. Dalam penyelenggaraan pembuatan peta RDTR penomoran, proyeksi, dan georeferensi tertentu. Peta dasar
diselenggarakan dengan menggunakan peta dasar dan peta digunakan sebagai acuan dalam pembuatan peta tematik yang
tematik melaui metode spasial yang ditentukan dalam digunakan dalam penyusunan peta rencana tata ruang yang
Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Nomor 16
sesuai dengan ketelitian dan spesifikasi teknis yang meliputi
Tahun 2014 tentang Tata Cara Pengelolaan Peta Rencana Tata
Ruang. Metode penelitian tugas akhir ini menggunakan data kerincian, kelengkapan data dan atau informasi georeferensi
sekunder berupa peta RDTR BWP Lumajang Hasil Perencanaan dan tematik, skala, akurasi, format penyimpanan digital
tahun 2013-2033 dan data citra satelit citra resolusi tinggi termasuk kode unsur, penyajian kartografis mencakup simbol,
Pleiades dengan resolusi spasial 0.5 m yang telah dilakukan warna, arsiran dan notasi serta kelengkapan muatan peta.
proses Orthorektifikasi. Data tersebut dilakukan pengolahan Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) dalam pembutannya
dengan proses spasial yang dilakukan pada Aplikasi ArcGIS
menggunakan peta RBI skala 1:5000, namun jika belum
sehingga didapatkan peta dasar yang yang selanjutnya
digunakan sebagai dasar pembuatan peta RDTR. Dalam tersedia, dapat menggunakan citra satelit resolusi tinggi atau
pembuatan peta RDTR dilakukan proses analisa spasial dengan foto udara sebagai dasar update dan harus dilakukan koreksi
membadingkan kesesuaian data peta Dasar yang telah dibuat secara geometris terlebih dahulu dengan menggunakan survei
terhadap Hasil Perencanaan Peta RDTR BWP Lumajang tahun Ground Control Point (GCP) menggunakan GPS Geodetik
2013-2033. Sehingga didapatkan hasil berupa 36 unsur untuk melakukan koreksi dikarenakan ketelitian skala 1:5000
tutupan lahan peta dasar skala 1:5000 sebanyak 17 harus memiliki maksimal toleransi error sebesar 2,5 meter.
Nomor Lembar Peta (NLP), dan Peta RDTR berupa pola Pleiades merupakan satelit penghasil citra satelit resolusi
ruang yang didapatkan dari hasil pengolahan peta dasar tinggi yang menghasilkan data citra satelit dalam dua moda,
dan berdasarka data rencana pengunaan lahan BWP
yaitu moda pankromatik dan moda multispektral. Citra satelit
Lumajang dengan luas wilayah perkotaan sebesar 3,5
dalam moda pankromatik mempunyai resolusi spasial 0,5
km2.
meter. Citra satelit ini dapat digunakan untuk pembuatan peta
Kata Kunci—BWP, Peta Dasar Skala 1:5000, Peta RDTR skala 1:5000 dengan ketelitian horizontal yang dibutuhkan
sebesar 0.5-2.5m. Pada tahun 2016 BIG telah memberikan
rekomendasi pada pembuatan peta RDTR skala 1:5000
I. PENDAHULUAN kepada 11 kabupaten/kota di Jawa Timur, salah satunya pada
nformasi Geospasial (IG) merupakan alat bantu dalam
Iperumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan atau Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) Lumajang dengan telah
melakukan proses asistensi awal, proses survei Ground
pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang Control Point (GCP) Citra Satelit Resolusi Tinggi (CSRT)
kebumian. IG sangat berguna sebagai sistem pendukung sampai teruji keakurasiannya oleh BIG, kemudian untuk
pengambilan kebijakan dalam rangka mengoptimalkan proses selanjutnya dilaksanakan penyususnan peta dasar
pembangunan, salah satunya di bidang penyusunan rencana sampai penyusunan peta RDTR.
tata ruang. Kebutuhan peta skala besar merupakan salah saatu
Berdasarkan ketentuan RTRW yang dijadikan sebagai
komponen informasi geospasial dasar yang penting,
acuan dasar dalam menentukan BWP Lumajang. BWP
mengingat berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun
dijadikan sebagai dasar batasan wilayah yang dilakukan dalam
2011 tentang Informasi Geospasial (UU IG) Khususnya pasal
melakukan digitasi peta dasar yang diperlukan, dalam
JURNAL TEKNIK ITS Vol. X, No.X, (2017) ISSN: XXXX-XXXX (XXXX-XXXX Print) 2

penentuan BWP ini didapkan dari BAPPEDA Kabupaten 1607-5343, 1607-5328, 1607-5329, 1607-5431,
Lumajang. BWP Lumajang ini mencakup wilayah kecamatan 1607-5417
Lumajang dan Kecamatan Sukodono. 5. Data Digital Elevation Model
Dalam penelitian ini bertujuan untuk melakukan 6. Peta RTRW Kabupaten Lumajang tahun 2008-
pembuatan peta skala 1:5000 yang didasari oleh sumber data 2028.
citra satelit penginderaan jauh Pleiades-1A dengan resolusi Peralatan
spasial 0.5 m yang telah dilakukan proses Orthorektifikasi Perlatan yang digunakan pada penelitian ini meliputi:
yang tealh teruji akurasinya oleh BIG. Serta berdasarkan hasil 1. PC/Laptop untuk pengolahan data citra satelit,
pembuatan peta tersebut dapat dilanjutkan untuk proses analisa data hasil pengolahan, dan penulisan
pembuatan peta pola ruang dan dapat digunakan sebagai data laporan.
acuan dalam melakukan analisa kesesuaian pola ruang RDTR 2. Sistem operasi Windows 8.1 Pro;
BWP Lumajang Tahun 2013-2033 yang telah ada. 3. Microsoft Office untuk penulisan laporan dan
mengolah data angka tabular;
4. Aplikasi ArcGIS untuk pengolahan digitasi, analisa
II. METODOLOGI PENELITIAN spasial.
A. Lokasi Penenlitian C. Tahapan Pengolahan Data
Lokasi penelitian dalam penelitian tugas akhir ini yaitu di Tahapan pengolahan data pada penelitian ini adalah sebagai
Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) Lumajang yang berada di berikut:
Kecamatan Lumajang dan Sukodono, Kabupaten Lumajang,
Jawa Timur.

Gambar 2.1. Lokasi penelitian

Secara administratif terletak pada 8°4’38,87”- 8°9’22,53”


LS dan 113°12’4,458’’- 113°16’30,124” BT dengan luas
wilayah 37,32 km2 yang terdiri dari 13 desa, dimana 6 desa
berada di Kecamatan Sukodono dan 7 lainnya berada di
Kecamatan Lumajang. Gambar 2.2 Diagram Alir Pengolahan Data
B. Data dan Peralatan Berikut ini penjelasan diagram alir pengolahan data :
Data 1. Digitasi Unsur Peta Dasar
Data yang digunakan dalam tugas akhir adalah data Digitasi merupakan proses melakukan interpetasi citra
sekunder yaitu kedalam format file (.shp). Ketentuan umum yang harus
1. Citra satelit Pleiades 1-A dengan ketelitian diperhatikan dalam digitasi peta dasar adalah datum
pankromatik 0.5m dan keteitian multispektral 2 m horizontal yang digunakan yaitu WGS 84/SRGI 2013
dengan zona wilayah 49 S, kesesuaian nama file unsur
di BWP Lumajang yang telah dilakukan
sesuai dengan objek/unsur yang diploting dan penarikan
orthorektifikasi.
garis sesuai dengan kenampakan citra. Digitasi ini
2. Peta RDTRK Hasil Perencanaan BWP Lumajang
dilakukan sesuai dengan formulir Quality Control (QC)
tahun 2013-2033 Digitasi Unsur Peta Rupa Bumi Skala 1:5000
3. Data Validasi Batas Administratif BWP Lumajang (Lampiran 1). Berikut 5 unsur penting dalam pembutan
pada Kecamatan Lumajang dan Kecamatan peta dasar yang meliputi:
Sukodono dari BAPPEDA Lumajang tahun 2016 a. Penggunaan lahan eksisiting (poligon)
4. Peta RBI 1:25.000 NLP 1607-5346, 1607-5342, b. Perairan (poligon dan garis)
JURNAL TEKNIK ITS Vol. X, No.X, (2017) ISSN: XXXX-XXXX (XXXX-XXXX Print) 3

c. Bangunan (poligon) dibuat terkait kesesuaian peruntukan lahan yang


d. Jaringan Jalan (poligon dan garis) digunakan, analisa spasial berupa intersect lokasi yang
e. Toponimi (point) memeliki kesamaan, serta melakukan evaluasi terkait
- Pengolahan kontur, menggunakan data DEM yang penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan RDTR Hasil
diproses menggunakan menu analysis tool pada Perencanaan yang mengacu pada RTRW Kabupaten
software ArcGIS dengan memasukkan interval kontur Lumajang sebagai dasar penyusunan RDTR BWP
sebesar 5 meter. Lumajang. Serta evaluasi terhadap Peraturan Kepala
- Batas administrasi BWP didapakan dari batas BIG No 16 Tahun 2014 untuk melihat kesesuaian
administrasi yang dimiliki oleh BAPPEDA Lumajang. dengan peta yang ada saat ini. Yang selanjutnya
2. Topologi Isi Atribut Peta Dasar dijadikan rekomendasi kepada pihak terkait.
Topologi dilakukan setelah semua proses digitasi unsur
peta dasar telah diselesaikan, topologi ini bertujuan
III. HASIL DAN ANALISA
untuk mengkoreksi kesalahan yang terjadi dalam proses
digitasi peta dasar. Dalam proses topologi ini dilakuka A. Bagian Wilayah Perencaaan (BWP)
sesuai dengan aturan dan formulir QC Topologi Check
dan Atribut Data (Lampiran 2) yang telah ditetapkan Berikut hasil yang menunjukkan wilayah hasil
oleh BIG. Sehingga hasil yang didapatkan tidak perencanaan perkotaan Lumajang yang didapatkan
memiliki kesalahan. berdasarkan hasil validasi batas wilayah dari BAPPEDA
Pengisian atribut peta dasar ini dilakukan dengan Kabupaten Lumajang pada tahun 2016. Menunjukkan
mengisi database file (.shp) hasil digitasi citra sesuai perbedaan luas area yang terdapat pada wilayah perkotaan.
pedoman pengisian yang telah diatur oleh BIG Berdarakan perbedaan tersebut didapatkan data sebagai
sepertiyang ditunjukkan pada tabel 1 tentang formulir berikut:
Tabel 2. LUAS BAGIAN WILAYAH PERENCANAAN LUMAJANG
QC Topologi Check dan Atribut Data.
No Sumber Luas Area (km2)
Tabel 1. PARAMETER ISI ATRIBUT DATA
1 RDTR BWP Lumajang 2013-2033 3,2
No PARAMETER ISI ATRIBUT 2 Validasi BAPPEDA 2016 3,5
Jaringan Jalan (As / Nama, Fungsi, Status 3 Luas tambahan BWP 0,3
1
Garis) Kewenangan, Sumber
2 Jaringan Jalan (Poligon) -
3 Sungai (As / Garis) Nama, Tipe, Sumber B. Peta Dasar
4 Sungai (Poligon) - Dalam pengolahan data dari citra terothorektifikasi pada
Tipe PL Bangunan, Nama,
5 Bangunan
Sumber wilayah BWP Lumajang didapatkan hasil berupa peta
6 Penutup Lahan Klas PL, Nama, Sumber dasar yang digunakan sebagai peta acuan dasar yang
7 Waduk/Danau Nama, Sumber digunakan dalam proses pembuatan peta tematik dan peta
8 Garis Pantai Jenis Deliniasi, Sumber
9 Toponimi Nama Unsur, Sumber
tata ruang.
10 Batas Kab/Kota Definitif/Indikatif, Sumber
Kespakatan Pemda/Indikatif,
11 Batas Kec/Desa
Sumber

3. Pembuatan Peta Tematik format vektor


Pembuatan peta tematik ini dilakukn sesuai dengan
kebutuhan yang dibutuhkan dalam pembutana dan
kebutuhan peta perencanaan, dalam pembuatan ini hanya
dibatasi oleh data yang dibutuhkan dalam pembuatan
peta RDTR saja meliputi pembuatan peta tematik.
Dalam pembuatan peta peta tematik tersebut juga
melihat dari kebutuhan yang dibutuhkan oleh BWP
lumajang dari data RTRW Kabupaten Lumajang yang
meliputi peta persebaran fasilitas umum.
4. Pembuatan Peta RDTR BWP Lumajang Gambar 3.1. Hasil Peta Dasar Penggunaan Lembar BWP
Dalam pembuatan peta RDTR ini mengacu pada Lumajang
peraturan yang dikeluarkan oleh BIG terkait Tata Cara Peta dasar ini memuat semua unsur yang nampak pada
Pengolahan Peta Rencana Tata Ruang yang diatur dalam citra satelit yang meliputi batas administrasi yang telah
Peraturan Kepala BIG No. 16 Tahun 2014 dimana dilakukan validasi batas pada tahun 2016 oleh BAPPEDA
mengatur pembuatan peta rencana tata ruang
Lumajang beserta kepala desa setempat yang masuk dalam
menggunakan peta dasar dan peta tematik melalui
BWP Lumajang. Beriku ini pembagian lembar peta sesuai
metode spasial.
dengan aturan BIG sesuaienagn stdandarpembaian peta
5. Analisa Kesesuaian
Dalam proses analisa tersebut membandingkan data hasil skala1:5000 sebanyak 17 lembar indeks peta.
pembutan peta RDTR Hasil Perencanaan yang telah
JURNAL TEKNIK ITS Vol. X, No.X, (2017) ISSN: XXXX-XXXX (XXXX-XXXX Print) 4

KORAMIL.shp
Ladang.shp
Lahan_Terbuka.shp
Lapangan_Olahraga.shp
Lapas.shp
Makam.shp
Masjid.shp
Pekarangan.shp
Pendidikan_Dasar.shp
Pendidikan_Menengah_Atas.shp
Pendidikan_Menengah_Pertama.shp
Pendopo.shp
Perkebunan.shp
Perkebunan_Campuran.shp
Permukiman.shp
RS.shp
Rumah_Tinggal
samsat.shp
sawah.shp
spbu.shp
Gambar 3.2. Hasil Peta Dasar Penggunaan Lembar BWP stadion.shp
Lumajang sungai.shp
6 Perairan Sungai (As)
Berikut ini merupakn hasil dari digitasi unsur peta dasar Sungai (Poligon)
dalam skala 1:5000 yang ditampilkan dalam lembar 1607- Sungai (Garis Tepi)
7 Toponimi Toponimi
5329C.

Berdasarkan hasil yang telah didapatkan dari proses


pembuatan peta dasar yang dilakukan dengan menganut
pada aturan Modul V Digitasi Unsur Peta Dasar yang
dikeluarkan oleh BIG.
 Digitasi unsur peta rupabumi 2 Dimensi untuk
kategori bangunan dan fasilitas umum harus
memenuhi ketentuan bahwa semua bangunan diplot
sesuai dengan ukuran dan bentuk sebenarnya,
bangunan diplot pada atap bangunan, dan kumpulan
bangunan/gedung yang berjarak rapat antara satu
dengan yang lain dibuat sebagai satu kesatuan, dan
dipisahkan dengan garis sharing boundary.
 Digitasi bangunan dan fasilitas umum terbangun
Gambar 3.3. Hasil Peta Dasar Penggunaan Lembar 1607-5329C
harus rectangel, dimana mengikuti aturan harus
Digitasi unsur peta dasar terdapat dua aturan dasar yang sesuai dengan kenampakan asli bangunan dan
harus dipenuhi dimana dalam aturan mengatur tentang fasilitas umum. Hal ini dikarenakan dalam
ketentuan umum dan hasil digitasi. pemanfaatan pola ruang harus sesuai dengan persil
Tabel 3. UNSUR DIGITASI PETA DASAR BWP LUMAJANG bidang area terbangun.
No Unsur Peta Dasar Parameter  Semua jaringan transportasi yang dapat terlihat pada
1 BWP BWP
citra harus diplot sesuai dengan keadaan sebenarnya.
2 jaringan transportasi Jaringan Jalan (As)
Jaringan Jalan (Poligon) Unsur terpentng dalam digitasi jaringan jalan adalah
Jaringan Jalan (Garis Tepi) pada garis tengahnya (centerline) atau yang disebu
3 Bangunan Bangunan denagn As Jalan. Selain itu terdapat badan jalan
4 Kontur Kontur inteval 5m
5 Penggunaan Lahan Alun-Alun yang digunakan untuk menentukan aspek pengunaa
Awan lahan, setiap badan alan memiliki lebar yang
Bank bervariasi sesuai dengan fungsi jalan yang berbeda,
Gardu_Listrik.shp
Gedung_Olah_Raga.shp
berdasarkan hasil digitasi badan jalan denga lebar
Gereja.shp badan jalan yang bervariasi maka dapat diketahui
Jalan.shp fungsi dari setiap jaringan jalan.
Kantor_Pemerintahan.shp
Kantor_Polisi.shp
 Semua jaringan transportasi yang ada pembatas
Kantor_Swasta.shp tengah atau lebarnya ≥ 0,5 mm x skala peta harus
Kantot_SATPOLPPt.shp diplot 3 garis (2 bahu jalan dan 1 pembatas tengah
Klinik.shp
sebagai centerline). Dalam jaringan jalan apabila
Kolam.shp
Kolam_Renang.shp terdapat jalan yang memili lebar badan jalan ≥ 2,5
JURNAL TEKNIK ITS Vol. X, No.X, (2017) ISSN: XXXX-XXXX (XXXX-XXXX Print) 5

meter maka harus dilengkapi dengan garis tepi Dan berikut ini hasil pembuatan peta RDTR Pola
poligon badan jalan disepanjang badan jalan tersebut. Ruang BWP Lumajang seperti gambar dibawah ini.
 digitasi unsur perairn yang memiliki bentuk tutupan
lahan sebagai luasan/poligon harus menyertakan
garis tepi badan sungai mengikuti alur jalur tepi lebar
sungai.
 Toponim merupakan representasi sebaran objek
penting, fasilitas umum dan sosial. Data toponim
didapatkan dari hasil lapangan dan interpretasi.
Karakteristik data toponim yaitu ditempatkan pada
lokasi yang mewakili objek-objek dan menjelaskan
tidak hanya tipe objek, tetapi sampai pada nama
objek.
 Konsep penutup lahan yang terdapat dalam standar
ini menggunakan pendekatan pengindraan jauh,
sehingga pendefinisian objek penutup lahan Gambar 3.4. Hasil Peta RDTR Tata Guna Lahan BWP
merupakan campuran antara penutup dan Lumajang
penggunaan lahan. Klasifikasi penggunaan/tutupan Dalam proses selanjutnya menghasilkan peta RDTR Pola
lahan yang digunakan adalah klasifikasi tersendiri Ruang BWP Lumajang dalam skala 1:5000 sesuai dengan
yang dibuat secara sederhana yang banyak modul supervisi BIG dengan 17 Nomor Lembar Peta.
mencirikan penggunaan lahan pada area
budidaya/aktifitas manusia dan disesuaikan dengan
kebutuhan pemetaan RDTR yang nanti dibutuhkan.
 Data atribut merupakan keterangan dari sebuah objek
geografis, yang dalam atribut tersebut
memberikan klasifikasi, nama, tipe, dan keterangan
lainnya. Data ini digunakan untuk lasifikasi
penggnaan lahan yang selanjutnya dapat dibedakna
berdasarkan tipepenggunaan lahan. Dalam engisian
ata atriubut ini tidak oleh ada unsur digitasi yang
tidak memiliki keterangan tipe penggunaan lahan.
Selain memudahka dalam pengolahan peta ke tahap
beikutnya, hal ini bertujuan untuk penyipanan
database yang seragam sehingga tidak menimbulkan Gambar 3.7. Hasil Pemagian Peta RDTR Pola Ruang skala
kebingungan dalam penggunaan kebutuhan pemetaan 1:5000
RDTR yang nanti dibutuhkan. Dan berkut ini alah satu lebar Peta RDTR Pola Ruang
C. Peta RDTR Pola Ruang BWP Luajang dengan Lembar 1607-5329C dalam skala
1:5000. Lebar ini menunjukkan bagian wilayah kota yang
Dalam pengolahan data dari citra terothorektifikasi pada
berada di pusat kota Lumajang dengan menunjukka pusat
wilayah BWP Lumajang didapatkan hasil berupa peta
kota Lumajang, dan pusat Kecamatan. Seperti yang
dasar seperti yang dihasilkan pada hasil sebelumnya.
ditampilkan dapa hasil dibawah ini.

Gambar 3.6. Hasil Peta RDTR Pola Ruang 2013-2033 Gambar 3.8. Hasil Peta RDTR Tata Guna Lahan Lembar 1607-
5329C
JURNAL TEKNIK ITS Vol. X, No.X, (2017) ISSN: XXXX-XXXX (XXXX-XXXX Print) 6

Dalam proses pembuatan peta RDTR Pola Ruang Pada pembuatan Peta RDTR ini terjad perbahan
BWP Lumajang tersebut didapatkan hasil penggunaan signifikan sepert yang ditunjukkan dalam tabel 4. Hal
lahan yang ada di wilayah tersebut, dalam pembagian ini dikarenakan adanya perubahan dalam penyusunan
penggunaan lahan tersebut didapatkan pembagian sebagai pola ruang permukiman yang sebelumna meliputi
berikut: perumahan dan pekarangan, namum erdasarkan
Tabel 4. LUAS JENIS RUANG PADA BWP LUMAJANG peraturan penyusunan RTH dimana pekarangan
Pola Ruang Pola Ruang Hasil termasuk dalam fungsi RTH.
Jenis Ruang RDTR 2013-2033 Perencanaan
(M2) (M2)  Peruntukan Lain
Pola ruang peruntukan lain meliputi area ladag dan
Campuran 2856299 -
lahan terbua yang tidak temasuk dalam pertaian dan
Industri Pergudangan 855518 98209 RTH dengan luas sebesa 93.024 m2.
Jalan 192945 733037  RTH
Kesehatan 190073 8066 Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam pembagian
Militer 323900 311250 wilayah sesuai dengan peraturan Menteri Pekerjaan
Umum Nomor 05 Tahun 2008. Luas proporsi RTH
Pendidikan 573736 18085
pada wilayah perkotaan adalah sebebsar minimal 30%
Perdagangan Jasa 2206594 2206594 dari luas kota. RTH ini dibagi kedalam 4 jenis
Perkantoran 624422 624422 pembagian yang termasuk kedalamnya. Meliputi RTH
Permukiman 10754514 3556658 Pekarangan (Pekarangan rumah tinggal, bangunan
Peruntukan Lain 930224 930224
perkantoran, pertokokan, industri, dsb), RTH Taman
dan Hutan Kota, RTH Jalaur Jalan, dan RTH Fungsi
RTH 4093508 9447078
Tertentu (makam, sempadan sungai, sempadan sutt,
Sawah 1509506 10522003 dan sempadan rel kereta api) berikut luas yang RTH
Sawah LP2B 7991529 7991529 yang didapkan dari hasil penggunaan lahan. RTH ini
Stasiun 27473 27473 memiliki luas sebesar 25,8% dengan total luas RTH
sebesar 9,1 km2 .
Sub Terminal 114559 114559
 Sawah
Terminal Barang 65727 65727
Dalam penggunaan tahan sawah dibagi kedalam du
golongan yaitu sawah Lahan Pertanian Pangan
 Campuran Berkelanjutan (LP2B) dan sawah biasa. Dalam
Pola ruang hasil perencanaan tidak didapakan pola pembagian sawah LP2B BWP Lumajang ini
ruang campuran dikarenakan dalam pembagian pola berdasarkan keputusan mentri yang telah disepakati
ruang tersebut fungsi campuran sudah termasuk antar pemerintah Kabupaten Lumajang. Wilayah ini
kedalam fungsi RTH dan permukiman, dimana dalam digunakan sesuai dengan penggunaan lahan yang
pembuatan pola ruang RDTR 2013. Sehingga terdapat pada RDTR Hasil Perencanaan Tahun 2013-
berdasarkan aturan Kementrian PU fungsi tersebut 2033 dengan luas sebebsar 7,9 km2. Dan untuk luasa
tidaklah sesuai dan harus dilakuakn evaluasi dan sawah yang bukan termasuk dalam kategori LP2B
perubahan sesuai dengan aturan tersebut. memliki luas sebesar 10,6 km2 dengan total
 Jalan penggunaan lahan persawahan pada RDTR ini sebesar
Pola ruang jalan mengalami banyak perubahan 18,5 km2 sehingga presentasie penggunaan lahan dalam
sebanyak 540.092 m2 hal tersebut dikarenakan dalam persawahan adalah sebebsar 51%
kondisi eksisiting jalan belum tesajkan secara
keseluruan sesuaidengan peraturan BIG.
 Militer IV. KESIMPULAN
Terdapat perbedaan luas kondisi eksisiting dan kondisi Dalam pembuatan peta skala 1:5000 pada Wilayah
rencana kawasan militer pada tahun 2013 dikarenakan Perkotaan Lumajang sesuai dengan Peraturan Kepala BIG
berdasarkan analisa spasial yang dilakukan luas Nomor 16 Tahun 2014 Tentang Tata Cara Pengelolaan Peta
kawasan militer pada tahun 2013 tersebut tidak Rencana Tata Ruang didapatkan hasil peta dasar dan peta
sepenuhnya merupakan area peruntukan militer, RDTR Tata Guna Lahan. Berdasarkan hasil tersebut dapat
dimana dalam area tersebut terdapat fungsi jalan yang disimpulkan sebgai berikut:
masuk dalam perhitungan area tersebut. Dengan 1) Luas wilayah perkotaan yang digunakan sebagai
demikian terdapat selisih luas yang didapatkan yaitu pembuatan peta dasar dan RDTR sebesar 3,5 km2.
sebesar 13.554 m2. Dan untuk penggunaan lahan 2) Dalam klasifikasi pembutan unsur digitasi peta dasar
kawasan militer sebesar 0.89 %. dalam BWP Lumajang ini termasuk dalam kategori
 Permukiman perkotaan lengkap dengan menampilkan penggunaan
lahan yang variatif dengan sebanyak 36 unsur tutupan
JURNAL TEKNIK ITS Vol. X, No.X, (2017) ISSN: XXXX-XXXX (XXXX-XXXX Print) 7

lahan.
3) Berdasarkah penelitian didapatkan hasil layout peta
Dasar skala 1:5000 dan peta RDTR Pola Ruang dengan
jumlah 17 nomor lembar peta.
4) Pembuatan peta RDTR Tata Guna Lahan BWP Lumajang
berdasarkan data peta dasar dan temtaik serta bedasarkan
data RDTR BWP Lumajang tahun 2013-2033 didapatkan
hasil pembuatan tata ruang dengan data sekunder yang
digunakan yang menghasilkan data tata guna lahan
dengan luas area 3,5 km2 yang dapat digunakan di dalam
Peta RDTR BWP Lumajang.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis A.I.P. mengucapkan terima kasih kepada
Laboratorium Geomarie yang telah menyediakan data Citra
Satelit, BAPPEDA Kaupaten Lumajang yang tealah
menyedakan data sekunder adminstratif BWP Lumajang dan
Pusat Pemetan Tata Ruan dan Atlas BIG yang bersedia
memberikan asistesi hasil pemuatan peta dasar untuk
penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
[1] BIG. (2014). Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Republik
Indonesia Nomor 16 Tahun 2014 Tentang Tata Cara Pengelolaan
Peta Rencana Tata Ruang. Cibinong: Pusat Pemetaan Tata Ruang dan
Atlas.
[2] BIG. (2015). Aspek Perpetaan Untuk Penyusunan Rencana Detail
Tata Ruang (RDTR). Cibinong: Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas.
[3] BIG. (2015). Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial NOmor
15 Tahun 2015 Tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar.
Cibinong: Kepala BIG.
[4] BIG. (2016). Digitas Unsur Peta Dasar Validasi Peta Rencana Tata
Ruang. Cibinong: Sekertariat BIG.
[5] PP. (2013). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun
2013 Tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang. Jakarta:
Kementrian Sekretariat Negara Republik Indonesia.
[6] Purwadhi, S. H. ( 2001). Interpretasi Citra Digital. Jakarta: Grasindo.
[7] Soendjojo, Hadwi. (2012). Karografi. Bandung: Penerbit ITB.
[8] Somantri, Lili. 2009. Teknologi Penginderaan Jauh (Remote Sensing).
Universitas Pendidikan Indonesia.