Anda di halaman 1dari 31

Kebudayaan Melayu

SENIN, NOVEMBER 14, 2011 POSTED BY


N.HADIYATI GUNADARMA, ISD, KAMPUS, TUGAS 7 COMMENTS
Manusia adalah makhluk yang diciptakan tuhan sebagai satu-satunya makhluk
yang berbudaya, dimana kebudayaan memiliki pengertian sebagai seluruh
sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan
masyarakat yang dijadikan manusia dengan belajar (Koentjaraningrat)

JJ Honigman dalam bukunya "the world of man" (1959) membedakan gejala


kebudayaan yang bisa ditemui kedalam tiga tahap yaitu Ide, Aktivitas, dan yang
terakhir adalah Artifak atau totalitas dari hasil fisik yang berupa perbuatan, karya
yang bersifat konkret.

MELAYU

Tuah sakti hamba negeri esa hilang dua terbilang


Patah tumbuh hilang berganti takkan melayu hilang di bumi

Orang Melayu memiliki identitas kepribadian pada umumnya yaitu adat-istiadat


Melayu, bahasa Melayu, dan agama Islam. Dengan demikian, seseorang yang
mengaku dirinya orang Melayu harus beradat-istiadat Melayu, berbahasa
Melayu, dan beragama Islam. Maka dari itu jika diperhatikan adat budaya melayu
maka tidak lepas dari ajaran agama Islam seperti dalam ungkapan pepatah,
perumpamaan, pantun, syair, dan sebagainya menyiratkan norma sopan-santun
dan tata pergaulan orang Melayu.

Adat
Aturan-aturan tentang beberapa segi kehidupan manusia yang tumbuh dari
usaha orang dalam suatu daerah yang terbentuk di Indonesia sebagai kelompok
sosial untuk mengatur tata tertib tingkah-laku anggota masyarakatnya. Di
Indonesia, aturan-aturan tentang segi kehidupan manusia itu menjadi aturan
hukum yang mengikat dan disebut hukum adat (Yayasan Kanisius, 1973).

di melayu terdapat tiga jenis adat yaitu adat sebenar adat atau adat yang
memang tidak bisa diubah lagi karena merupakan ketentuan agama , adat yang
diadatkan adalah adat yang dibuat oleh penguasa pada suatu kurun waktu dan
adat itu terus berlaku selama tidak diubah oleh penguasa berikutnya, dan adat
yang teradat adalah konsensus bersama yang dirasakan baik, sebagai pedoman
dalam menentuhan sikap dan tindakan dalam menghadapi setiap peristiwa dan
masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Adat-istiadat yang merupakan pola sopan-santun dalam pergaulan orang Melayu


di Riau sebenarnya sudah lama menjadi pola pergaulan nasional sesama warga
negara. Bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa nasional Indonesia
mengikutsertakan pepatah, ungkapan, peribahasa, pantun, seloka, dan
sebagainya, sehingga tidak mudah untuk mengidentifikasi pepatah dan
peribahasa yang berasal dari Melayu dan yang bukan dari Melayu.

Karakteristik
Orang Melayu sangat identik dengan kesopanan dalam pergaulan dimana bisa
kita lihat dalam sebuah karya sastra melayu :

Hidup sekandang sehalaman


tidak boleh tengking-menengking
tidak boleh tindih-menindih
tidak boleh dendam kesumat

Yang patut dipatutkan


Yang tua dituakan
Yang berbangsa dibangsakan
Yang berbahasa dibahasakan

dan Orang Melayu sangat identik dengan sikap gotong royong yang dapat dilihat
pada :

Lapang sama berlegar


Sempit sama berhimpit
Lebih beri-memberi
Kalau berjalan beriringan

Ciri Khas Budaya Melayu

 Ada Upacara Lingkaran Hidup mulai dari proses pernikahan, kelahiran di 7 bulan
awal yang dikenal dengan nama Lenggang perut, hingga kelahiran bayi dimana
ada pemotongan rambut bayi (aqiqah), kemudian upacara kematian dari 40 hari
hingga 100 hari
 Memiliki tari zapin dan rentak sembilan yang sangat umum dikenal orang
Indonesia
 Seni tenun yang khas dimana dikenal kain songket
 Orang melayu sangat mahir dalam kegiatan berbalas pantun.

Fakta Melayu
orang melayu umumnya di idenditaskan sebagai orang yang tinggal di tanah
melayu, beragama islam, dan melaksanakan adat istiadat melayu, namun
sebenarnya melayu sendiri ibarat rumah yang di isi oleh berbagai macam
penghuni dengan berbagai macam jenis pandangan hidup pula dan tidak harus
orang yang mendiami daerah melayu. dikarenakan dalam perkembangan zaman
melayu memiliki berbagai macam versi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. ADAT ISTIADAT ORANG MELAYU RIAU
1. Pengertian adat istiadan
Sebelum jauh membahas mengenai adat istiadat orang melayu Riau, yang
perlu diketahui adalah arti dari adat istiadat. Adat itu ialah ketentuan – ketentuan
yang mengatur tingkah laku dan hubungan antara anggota masyarakat dalam segala
segi kehidupan.[1]
Adat atau “Urf” berasal dari kata Arab yang berarti perkataan atau perbuatan
yang dilakukan berulang.[2]. Namun dalam kawasan melayu adat mempunyai
pengertian yang berkembang sehingga seakan – akan merubah makna asal bahasa.
Dalam masyarakat Melayu “Adat” dapat diartikan budi pekerti, budi bahasa,
perlakuan yang wajar, sesuatu keadaan yang lazim dan tatatertib ( undang – undang
).[3]
Dari beberapa pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa adat ialah berupa
ketentuan yang ada dalam masyarakat yang bertujuan untuk mengatur kehidupan
masyarakat tersebut.
Istiadat menurut kamus lengkap bahasa Indonesia berarti adat
kebiasaan.[4] Yang mana dalam istiadat ini berarti membiasakan adat yang ada
dalam masyarakat tersebut. Sasaran dari adat istiadat ini ialah manusia sehingga
dapat dikatakan bahwa adat istiadat ialah system nilai yang menjadi panduan dalam
pergaulan yang pantas dalam kehidupan masyarakat maupun bernegara.[5]
Dari beberapa pengertian tentang adat dan istiadat tersebut dapat
disimpulkan arti adat istiadat ialah suatu prilaku yang membiasakan diri taat
kepada adat yang mengatur tatacara kehidupan masyarakat yang telah berlaku
dalam kehidupan masyarakat tersebut.
2. Adat Istiadat dalam Melayu Riau
Adapun adat dalam masyarakat Melayu Riau dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu :
a. Adat Sebenar adat
Yang dimaksud dengan adat sebenar adat, adalah prinsip Adat Melayu yang tak dapat diubah-
ubah. Prinsip tersebut tersimpul dalam Adat bersendikan Syarak. Ketentuan-ketentuan adat yang
bertentangan dengan hukum syarak tak boleh dipakai lagi dan hukum syaraklah yang
dominan.[6]
b. Adat yang diadatkan
Adat yang diadatkan adalah adat yang dibuat oleh penguasa pada suatu kurun waktu dan adat itu
terus berlaku jika tidak diubah oleh penguasa berikutnya. Adat ini dapat berubah-ubah sesuai
dengan perkembangan zaman dan situasi yang mendesak dan dapatlah disamakan dengan
“peraturan pelaksanaan” dari sesuatu ketentuan adat. Perubahan itu terjadi karena untuk
menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan perkembangan pandangan dari pihak
penguasa.[7]
c. Adat yang teradat
Adat ini merupakan konsensus bersama yang dirasakan baik, sebagai pedoman dalam
menentuhan sikap dan tindakan dalam menghadapi setiap peristiwa dan masalah-masalah yang
dihadapi oleh masyarakat. Konsensus itu dijadikan pegangan bersama, sehingga merupakan
kebiasaan turun-temurun. Oleh karena itu, “adat yang teradat” ini pun dapat berubah sesuai
dengan nilai-nilai baru yang berkembang. Tingkat adat nilai-nilai baru yang berkembang ini
kemudian disebut sebagai tradisi.[8]

B. KEPRIBADIAN ORANG MELAYU RIAU


Kepribadian atau personality berasal dari bahasa latin “Persona” yang berarti topeng
atau pemain sandiwara. Secara psikologi yang dimaksud dengan kepribadian adalah
inti sari kejiwaan seseorang atau dengan perkataan lain suatu interaksi biologis
dengan budayanya, sehingga memberikan corak tingkah laku seseorang, sikap –
sikap kata dan pikiran sebagi fenomena yang tampak dari aktifitas kejiwaan dan
penyesuaian dengan kemampuan.[9]
Kepribadian juga diartikan sebagai proses sosialisasi seseorang. Dalam kajian orang
Melayu tidak lepas dari kajian psikologis social yang meliputi sifat – sifat yang
meliputi :
a. Motivasi
Dorongan – dorongan Eros dan Tanathos yang bersivat ambivalensi pada orang
melayu timbul dari dua prinsip sebagaimana menurut freud prinsip itu ialah prinsip
kesenangan dan prinsip kenyataan. Prinsip kenyataan dalam dunia Melayu yang
dibentuk oleh agama dan adat sangat kuat mengekang prinsip kesenangan. Dalam
dunia Melayu menitikberatkan timbang rasa sebagai supra system dan titik berat
sosialisasi dalam adat istiadat menjaga keharmonisan, sedangkan prinsip realitas
adalah ajaran moral dari agama , sopan santun menjaga kejujuran yang berasal dari
ajaran agama.[10]
Orang Melayu Riau pada mulanya suka hidup sederhana bergantung kepada alam
dan menciptakan teknologi terbatas, jarang terdapat kejiwaan hidup dan berjuang
meningkatkan taraf hidup. Orang melayu yang baik selalu merendahkan diri dan
tidak menonjolkan dirinya, tidak mau memaksakan kemauannya jika kemauan itu
bertentangan dengan kemauan oranglain dan senantiasa sahaja sedia berkompromi.
Sikap melayu yang demikian lah yang membuat etnis selain melayu dapat
menguasai atau memimpin kelompok orang Melayu.
b. Proses – proses psikologis
Menurut plato ada tiga sikap dari Orang melayu ialah ;
1. Orang melayu identik dengan sifat tabah, sabar seolah – olah tidak terdapat
jawaban dari aksi yang bagaimanapun menimpa diri mereka,
2. Tidak ada keberanian yang terdapat dalam diri orang melayu, tidak ada ketegasan
dan mereka enggan untuk menghadapi konflik yang menghendaki penasehat –
penasehat yang memerlukan energy dalam jangka waktu yang panjang,
3. Kebijaksanaan semata – mata dipengaruhi oleh agama islam, orang melayu tidak
pernah mengambil pertimbangan – pertimbangan lebih lanjut dan selalu keluar
untuk melepaskan diri dari kesulitan – kesulitan yang diambil.[11]
c. Sikap – sikap
Di dalam ilmu jiwa sikap adalah kognisi – kognisi yang dihadapkan kepada alam
sekitarnya dan sesama manusia. Orang melayu bersifat terbuka terhadap
perkembangan – perkembangan zaman yang ada.
d. Konflik penyelesaian masalah
Orang melayu menyelesaikan konflik masalah mereka dengan cara amuk atau
mengamuk. Amuk adalah suatu sifat melayu yang merupakan curahan konflik yang
tidak lagi terikat kepada super ego. Apabila orang melayu ditekan terus menerus
maka akan membuat mereka mengamuk jika ia sudah tidak mampu lagi menahan
rasa kesabaran terhadap masalah yang menimpa mereka.

[1] S. Budisantoso, Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya,( Pekanbaru :


Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau), hlm.498
[2] Mahdini, Islam dan Kebudayaan Melayu, (Pekanbaru : Daulat Riau, 2003), Cet.
3, hlm.129
[3] Ibid, hlm. 130
[4] Desy Anwar, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Amelia
Computindo), hlm.197
[5] Hidayat, Akulturasi Islam dan Budaya Melayu. ( Badan Litbang dan Diklat
Departemen Agama RI, 2009), hlm.235
[6] S.Budisantoso, Op.Cit, hlm. 499
[7] S.Budisantoso, Op.Cit, hlm. 500

[8] S.Budisantoso, Op.Cit, hlm. 504


[9] S.Budisantoso, Op.Cit, hlm. 469
[10] S.Budisantoso, Op.Cit, hlm. 477
[11] S.Budisantoso, Op.Cit, hlm. 478
Diposting oleh Candi Misbah di 19.39
Pengertian Adat

Adat adalah aturan, kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan terbentuk dari suatu
masyarakat atau daerah yang dianggap memiliki nilai dan dijunjung serta dipatuhi
masyarakat pendukungnya. Di Indonesia aturan-aturan tentang segi kehidupan
manusia tersebut menjadi aturan-aturan hukum yang mengikat yang disebut hukum
adat. Adat telah melembaga dalam dalam kehidupan masyarakat baik berupa tradisi,
adat upacara dan lain-lain yang mampu mengendalikan perilau warga masyarakat
dengan perasaan senang atau bangga, dan peranan tokoh adat yang menjadi tokoh
masyarakat menjadi cukup penting.

Adat merupakan norma yang tidak tertulis, namun sangat kuat mengikat sehingga
anggota-anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat akan menderita, karena
sanksi keras yang kadang-kadang secara tidak langsung dikenakan. Misalnya pada
masyarakat yang melarang terjadinya perceraian apabila terjadi suatu perceraian maka
tidak hanya yang bersangkutan yang mendapatkan sanksi atau menjadi tercemar,
tetapi seluruh keluarga atau bahkan masyarakatnya.
Orang Melayu mengaku identitas kepribadiannya yang utama adalah adat-istiadat Melayu, bahasa
Melayu, dan agama Islam. Dengan demikian, seseorang yang mengaku dirinya orang Melayu harus
beradat-istiadat Melayu, berbahasa Melayu, dan beragama Islam. Dari tiga ciri utama kepribadian
orang Melayu tersebut, yang menjadi pondasi pokok adalah agama Islam, karena agama Islam
menjadi sumber adat-istiadat Melayu. Oleh karena itu, adat-istiadat Melayu Riau bersendikan syarak
dan syarak bersendikan kitabullah. Dalam bahasa Melayu berbagai ungkapan, pepatah,
perumpamaan, pantun, syair, dan sebagainya menyiratkan norma sopan-santun dan tata pergaulan
orang Melayu.

1. Pendahuluan

Orang Melayu menetapkan identitasnya dengan tiga ciri pokok, yaitu berbahasa Melayu, beradat-
istiadat Melayu, dan beragama Islam. Dalam makalah ini, penulis akan mengemukakan beberapa
hal pokok yang berkaitan dengan adat istiadat Melayu Riau.

Seperti diketahui bersama, segala hal yang bersangkutan dengan adat-istiadat Melayu belum
banyak ditulis atau dicatat dengan jelas. Sejak dulu segala ketentuan adat-istiadat disampaikan dari
satu generasi ke generasi berikutnya secara lisan. Saat ini ketentuan adat yang disampaikan hanya
terbatas pada adat sopan-santun saja. Untuk dapat memahami adat-istiadat yang berlaku dalam
pergaulan, perlu diketahui sumbernya terlebih dahulu, yaitu adat yang disebut “adat yang sebenar
adat”. Sebelumnya, akan dibahas pengertian adat.

Buku yang membahas tentang adat sangat banyak, baik yang ditulis oleh ahli Indonesia sendiri
maupun ahli asing. Kata adat juga tercantum dalam kamus-kamus Indonesia (baca: Melayu) dan
ensiklopedi-ensiklopedi. Akan tetapi, penulis berpendapat bahwa semua buku itu belum dapat
menjelaskan adat secara tuntas dan fundamental.

2. Pengertian “Adat” Secara Umum

Banyak orang keliru mengartikan adat, terutama generasi muda. Adat diartikan sama dengan
kebiasaan lama dan kuno. Kalau mendengar kata adat, maka yang terbayang dalam khayalan
adalah orang tua berpakaian daerah, upacara perkawinan, atau upacara-upacara lainnya. Oleh
karena itu, jangan heran jika media massa pun sering keliru, sehingga pakaian daerah disebut
pakaian adat atau rumah yang berbentuk khas daerah disebut rumah adat. Tegasnya, apa yang
berbentuk tradisional dianggap adat.

Dalam Ensiklopedi Umum, kata “adat” diartikan sebagai:

Aturan-aturan tentang beberapa segi kehidupan manusia yang tumbuh dari usaha orang dalam
suatu daerah yang terbentuk di Indonesia sebagai kelompok sosial untuk mengatur tata tertib
tingkah-laku anggota masyarakatnya. Di Indonesia, aturan-aturan tentang segi kehidupan manusia
itu menjadi aturan hukum yang mengikat dan disebut hukum adat (Yayasan Kanisius, 1973).

Pengertian adat di sini sangat terbatas, karena hanya berupa aturan-aturan tentang beberapa segi
kehidupan. Hal ini berbeda dengan pendapat Prof. Dr. J. Prins yang mengatakan, “De adat
overheerste tot voor kort alle terrein van het leven juist wat de plichtenleer idealiter beoogt te doen”
(Prins, 1954). Pendapat Prins ini lebih mendekati pengertian yang sebenarnya, karena ia
mengatakan bahwa adat meliputi semua segi kehidupan dan hanya untuk jangka waktu yang
singkat.

Ensiklopedi Indonesia memberikan uraian yang lebih panjang, tetapi sulit untuk diambil kesimpulan.
Kata adat berasal dari bahasa Arab urf dan Islam telah memberikan corak khusus dalam ketentuan-
ketentuan adat dalam lingkungan pemeluk agama Islam.

Pengertian adat di Riau sendiri adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur tingkah-laku dan
hubungan antara anggota masyarakat dalam segala segi kehidupan. Oleh karena itu, adat
merupakan hukum tidak tertulis dan sekaligus sebagai sumber hukum. Sebelum hukum Barat
masuk ke Indonesia, adat adalah satu-satunya hukum rakyat yang kemudian disempurnakan
dengan hukum Islam, sehingga disebut “adat bersendikan syarak”. Menyatunya adat Melayu
dengan hukum syarak diperkirakan terjadi setelah Islam masuk ke Malaka pada akhir abad ke-14,
sebagaimana diungkapkan Tonel (1920):

Adat Melayu pada mulanya berpangkal pada adat-istiadat Melayu yang digunakan dalam negeri
Tumasik, Bintan, dan Malaka. Pada zaman Malaka, adat itu menjadi Islam karena rajanya pun telah
memeluk Islam.

Ketentuan-ketentuan hukum syarak telah dianggap sebagai adat yang dipatuhi oleh anggota
masyarakat, sehingga sukar untuk membedakan ketentuan-ketentuan yang berasal dari adat murni
dan ketentuan-ketentuan yang berasal dari hukum syarak.

3. Adat Dalam Masyarakat Melayu Riau

Adat yang berlaku dalam masyarakat Melayu di Riau bersumber dari Malaka dan Johor, karena
dahulu Malaka, Johor, dan Riau merupakan Kerajaan Melayu dan adatnya berpunca dari istana,
seperti disebutkan Tonel (1920) dalam bagian lain seperti berikut:

Maka segala adat-istiadat Melayu itu pun sah menurut syarak Islam dan syariat Islam. Adat-istiadat
itulah yang turun-temurun berkembang sampai ke negeri Johor, negeri Riau, negeri Indragiri, negeri
Siak, negeri Pelalawan, dan sekalian negeri orang Melayu adanya. Segala adat yang tidak
bersendikan syariat Islam salah dan tidak boleh dipakai lagi. Sejak itu, adat-istiadat Melayu disebut
adat bersendi syarak yang berpegang kepada kitab Allah dan sunah Nabi.

Dalam bagian lain juga dikatakan:

Adapun negeri Indragiri setelah Raja Narasinga masuk Islam sebab dimenantukan oleh Sultan
Mahmudsyah, Sultan Malaka, maka raja itu pun dirajakan di Indragiri. Mulanya ia ditolak oleh orang
Indragiri, namun karena kedatangan orang Talang di sana yang mengangkatnya sebagai raja, maka
mufakatlah mereka membuat perjanjian. Perjanjian itu menyatakan bahwa orang Talang mengaku
sebagai rakyat Indragiri. Raja pun memberi tahu mereka tentang adat Melayu, sehingga mereka
mufakat untuk memakai adat itu kala mereka hidup di dalam negeri Indragiri. Di dalam kampungnya,
mereka tetap memakai adat mereka. Dengan demikian asal mula adat di negeri Siak dan negeri
Pelalawan itu adalah dari Johor jua. Apabila Raja Kecik menjadikan dirinya raja di negeri Siak yang
disebut Buantan, maka adat itulah yang dipakainya, yang kemudian diwariskan ke semua anak
cucunya, dan daerah taklukannya (Tonel, 1920).

Walaupun kutipan-kutipan di atas diambil dari naskah tulisan tangan yang belum diterbitkan, tetapi
keterangan tersebut dapat dipercaya, karena kenyataan yang dijumpai memang demikian.

Adat Melayu di Riau dapat dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu adat sebenar adat, adat yang
diadatkan, dan adat yang teradat.

a. Adat Sebenar Adat

Yang dimaksud dengan “adat sebenar adat” adalah prinsip adat Melayu yang tidak dapat diubah-
ubah. Prinsip tersebut tersimpul dalam “adat bersendikan syarak”. Ketentuan-ketentuan adat yang
bertentangan dengan hukum syarak tidak boleh dipakai lagi dan hukum syaraklah yang dominan.
Dalam ungkapan dinyatakan:

Adat berwaris kepada Nabi


Adat berkhalifah kepada Adam
Adat berinduk ke ulama
Adat bersurat dalam kertas
Adat tersirat dalam sunah
Adat dikungkung kitabullah

Itulah adat yang tahan banding


Itulah adat yang tahan asak

Adat terconteng di lawang


Adat tak lekang oleh panas
Adat tak lapuk oleh hujan
Adat dianjak layu diumbut mati
Adat ditanam tumbuh dikubur hidup

Kalau tinggi dipanjatnya


Bila rendah dijalarnya

Riaknya sampai ke tebing


Umbutnya sampai ke pangkal
Resamnya sampai ke laut luas

Sampai ke pulau karam-karaman


Sampai ke tebing lembak-lembakan
Sampai ke arus yang berdengung

Kalau tali boleh diseret


Kalau rupa boleh dilihat
Kalau rasa boleh dimakan
Itulah adat sebenar adat

Adat turun dari syarak


Dilihat dengan hukum syariat
Itulah pusaka turun-temurun
Warisan yang tak putus oleh cencang

Yang menjadi galang lembaga


Yang menjadi ico dengan pakaian
Yang digenggam di peselimut
Adat yang keras tidak tertarik

Adat lunak tidak tersudu


Dibuntal singkat, direntang panjang

Kalau kendur berdenting-denting


Kalau tegang berjela-jela
Itulah adat sebenar adat

Dari ungkapan di atas jelas terlihat betapa bersebatinya adat Melayu dengan ajaran Islam. Dasar
adat Melayu menghendaki sunah Nabi dan Al Quran sebagai sandarannya. Prinsip itu tidak dapat
diubah, tidak dapat dibuang, apalagi dihilangkan, itulah yang disebut “adat sebenar adat”.
b. Adat yang Diadatkan

“Adat yang diadatkan” adalah adat yang dibuat oleh penguasa pada suatu kurun waktu dan adat itu
terus berlaku selama tidak diubah oleh penguasa berikutnya. Adat ini dapat berubah-ubah sesuai
dengan situasi dan perkembangan zaman, sehingga dapat disamakan dengan peraturan
pelaksanaan dari suatu ketentuan adat. Perubahan terjadi karena menyesuaikan diri dengan
perkembangan zaman dan perkembangan pandangan pihak penguasa, seperti kata pepatah “Sekali
air bah, sekali tepian beralih”. Dalam ungkapan disebutkan:

Adat yang diadatkan


Adat yang turun dari raja
Adat yang datang dari datuk
Adat yang cucur dari penghulu
Adat yang dibuat kemudian

Putus mufakat adat berubah


Bulat kata adat berganti
Sepanjang hari ia lekang

Beralih musim ia layu


Bertuhan angin ia melayang
Bersalin baju ia tercampak
Adat yang dapat dibuat-buat

(Nyanyian Panjang dan Bilang Undang)

Panuti H. M. Sujiman (1983) menyebutkan syarat dan sifat manusia yang baik dan ideal
berdasarkan pandangan adat Melayu adalah sebagai berikut:

Adapun syarat menjadi raja sekurang-kurangnya memenuhi empat perkara, pertama tua hati betul,
kedua bermuka manis, ketiga berlidah fasih, dan keempat bertangan murah. Demikian syarat bagi
semua raja. Hukum terdiri atas empat perkara juga, pertama hukum yang adil, kedua hukum
mengasihani, ketiga hukum kekerasan, dan keempat berani.

Selanjutnya petuah-petuah yang diajarkan oleh Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Belas juga
memberikan bimbingan bagi anggota masyarakat Melayu tentang seharusnya orang Melayu
bersikap dan bertingkah-laku sesuai dengan yang diinginkan oleh adat Melayu. Gurindam Dua
Belas memuat dua belas pasal. Sebagai gambaran, berikut kutipan pasalnya:

Pasal lima

Jika hendak mengenal orang yang berbangsa


Lihat kepada budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia


sangat memeliharakan yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang yang mulia


Lihat kepada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang berilmu


bertanya dan belajar tidaklah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal


di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai


Lihat kepada ketika bercampur dengan orang ramai

Pasal dua belas

Raja bermufakat dengan menteri


seperti kebun berpagar duri

Betul hati kepada raja


tanda jadi sembarang kerja

Hukum adil kepada rakyat


tanda raja beroleh inayat

Kasihkan orang yang berilmu


tanda rahmat atas dirimu

Hormat akan orang pandai


tanda mengenal kasa dan cindai

Selanjutnya para penguasa (raja) mengatur hak dan kewajiban para kawula menurut tingkat sosial
mereka. Hak-hak istimewa raja dan para pembesar diatur dan diwujudkan dalam bentuk rumah,
bentuk dan warna pakaian, kedudukan dalam upacara-upacara, dan larangan bagi rakyat biasa
untuk memakai atau mempergunakan jenis yang sama. Dengan demikian tercipta ketentuan-
ketentuan yang berisi suruhan dan pantangan. Di samping itu juga tercipta kelas-kelas dalam
masyarakat yang pada umumnya terdiri dari raja dan anak raja-raja, orang baik-baik, dan orang
kebanyakan. Stratifikasi sosial dalam masyarakat Melayu itu telah menciptakan hak dan kewajiban
yang berbeda bagi tiap-tiap tingkatan, sebagaimana kutipan berikut:

Pasal menyatakan, adat Raja-raja Melayu yang tidak boleh dipakai oleh orang luar yaitu, rumah
yang bersayap layang atau jamban dan pagar kampung yang di atasnya tertutup; rumah beranak
keluang dan rumah yang tengahnya berpintu sama; geta yang bersulur bayung lima, tilam berulas
kuning, dan memakai bantal yang bersibar kuning; tikar berhuma kuning dan baju pandakpun, yaitu
baju lepas kuning; tilam pandak dan tudung hidangan kuning; sapu tangan tuala kuning; memakai
kain yang tipis berbayang-bayang; tidak boleh memakai payung di depan istana raja dan tidak boleh
berhasut pada majelis balai raja; tiada boleh membuang sapu tangan kepala di hadapan raja; tidak
boleh duduk bertelekan di hadapan raja; tiada boleh melintangkan keris ketika menghadap raja;
tidak boleh memakai hulu keris panjang yang tutupnya berkunam; tidak boleh membawa senjata
yang tidak bersarung ke hadapan raja besar; di hadapan raja jangan banyak tertawa-tawa dan
berkipas-kipas; jangan menyangkutkan kain, baju, atau sapu tangan di atas bahu di hadapan raja;
tatkala duduk pada majelis, jangan menentang kepada raja; jika raja menyorongkan sesuatu
(makanan atau piala minuman), hendaknya segera disambut dan diletakkan ke bawah, kemudian
disembah kewah duli seraya duduk undur pada tempat kita sambil memberi hormat. Baru kita
minum atau makan. Sebenarnya tidak seperti itu adabnya, melainkan makanlah dengan laku yang
sederhana. Jika menerima pakaian dari baginda sendiri atau dibawa oleh pegawainya, hendaknya
pakailah pakaian itu di hadapan majelis baginda, serta memberi hormat kepada raja. Jika tidak kita
pakai pun boleh, akan tetapi menurut Melayu disebut kurang adab (Sujiman, 1983).

Contoh lain penulis kutip dari kitab Babul Qawaa‘id (1901) dari Kerajaan Siak Sri Indrapura:

Pasal empat

Kuasa melarang orang yang hendak menghadap Sri Paduka Sultan jikalau orang itu naik sahaja
tidak memberi tahu kepada Penghulu Balai waktu Sri Paduka Sultan bersemayam.

Pasal lima

Kuasa melarang dengan keras kepada sekalian orang besar- besar, datuk-datuk, pegawai-pegawai,
jurutulisjurutulis yang bekerja datang ke balai tiada memakai baju kot, seluar pentalon, sepatu, dan
kupiah.

Pasal tujuh

Jikalau hamba rakyat atau siapa juga tiada dikecualikan orangnya hendak menghadap atau datang
ke balai tiada boleh berkain gumbang seperti yang tersebut dalam “Ingat Jabatan” bahagian yang
kesebelas pada pasal lima, maka jika berkain gumbang kuasa Penghulu Balai menghalaunya
dikecuali jikalau orang terkejut di tengah jalan karena hendak meminta pertolongan kepada polisi
apa-apa kesusahannya.

Ungkapan-ungkapan yang dikemukakan di atas adalah “adat yang diadatkan”. Berdasarkan uraian
di atas terlihat bahwa adat mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan kemajuan
zaman. Seorang tokoh ideal di zaman Malaka ialah orang yang telah memenuhi empat sifat dan
empat syarat. Empat sifat dan empat syarat itu di zaman Kerajaan Riau telah disempurnakan oleh
Raja Ali Haji dengan Gurindam Dua Belas yang terdiri dari dua belas pasal dan tiap-tiap pasal
menggambarkan beberapa sifat baik dan tidak baik. Ukuran sopan-santun pada zaman Kerajaan
Malaka telah berkembang pada zaman Kerajaan Siak Sri Indrapura yang menetapkan bahwa
semua pejabat kerajaan diharuskan berpakaian sesuai perkembangan zaman, yaitu baju kot dan
seluar pantalon.

Dalam perjalanan sejarah adat-istiadat Melayu, “adat yang diadatkan” mengalami berbagai
perubahan dan variasi. Hampir dapat dipastikan bahwa adat ini merupakan adat yang paling banyak
ragamnya, sesuai dengan wilayah tumbuh dan berkembangnya. “Adat yang diadatkan” yang
terdapat di daerah Riau beragam, karena di daerah Riau pernah terdapat kerajaan-kerajaan yang
tersebar dari kepulauan sampai ke hulu-hulu sungai. Setiap kerajaan tentu mempunyai corak dan
variasinya yang disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang sejarah, serta pengaruh yang masuk
ke sana.

Jika “adat yang diadatkan” di seluruh wilayah Provinsi Riau dibahas secara mendalam, akan
dijumpai perbedaan dan persamaan antara kerajaan-kerajaan tersebut. Akan tetapi, perbedaannya
hanya terbatas dalam masalah “tingkat adat” saja, sedangkan “adat sebenar adat” tetap sama.
Demikian pula dengan ketentuan-ketentuan dalam upacara, seperti dalam upacara nikah kawin,
upacara yang menyangkut daur hidup, dan sebagainya.

c. Adat yang Teradat

Adat ini merupakan konsensus bersama yang dirasakan baik, sebagai pedoman dalam menentuhan
sikap dan tindakan dalam menghadapi setiap peristiwa dan masalah-masalah yang dihadapi oleh
masyarakat. Konsensus itu dijadikan pegangan bersama, sehingga merupakan kebiasaan turun-
temurun. Oleh karena itu, “adat yang teradat” ini pun dapat berubah sesuai dengan nilai-nilai baru
yang berkembang. Tingkat adat nilai-nilai baru yang berkembang ini kemudian disebut sebagai
tradisi. Dalam ungkapan disebutkan:

Adat yang teradat


Datang tidak bercerita
Pergi tidak berkabar

Adat disarung tidak berjahit


Adat berkelindan tidak bersimpul
Adat berjarum tidak berbenang

Yang terbawa burung lalu


Yang tumbuh tidak ditanam
Yang kembang tidak berkuntum
Yang bertunas tidak berpucuk

Adat yang datang kemudian


Yang diseret jalan panjang
Yang betenggek di sampan lalu
Yang berlabuh tidak bersauh
Yang berakar berurat tunggang

Itulah adat sementara


Adat yang dapat dialih-alih
Adat yang dapat ditukar salin

Pelanggaran terhadap adat ini sanksinya tidak seberat kedua tingkat adat yang disebutkan di atas.
Jika terjadi pelanggaran, maka orang yang melanggar hanya ditegur atau dinasihati oleh pemangku
adat atau orang-orang yang dituakan dalam masyarakat. Namun, si pelanggar tetap dianggap
sebagai orang yang kurang adab atau tidak tahu adat. Ketentuan adat ini biasanya tidak tertulis,
sehingga pengukuhannya dilestarikan dalam ungkapan yang disebut “pepatah adat” atau “undang
adat”. Apabila terjadi kasus, maka diadakan musyawarah. Dalam musyawarah digunakan
“ungkapan adat” yang disebut “bilang undang”. Hal ini dijelaskan dalam ungkapan berikut:

Rumah ada adatnya


Tepian ada bahasanya

Tebing ditingkat dengan undang


Negeri dihuni dengan lembaga
Kampung dikungkung dengan adat
Kayu besar berkayu kecil
Kayu kecil beranak laras

Laut seperintah raja


Rantau seperintah datuk
Luhak seperintah penghulu
Ulayat seperintah batin

Anak rumah tangga rumah


Berselaras tangga turun
Bertelaga tangga naik

Pusaka banyak pusaka


Pusaka di atas tumbuh

Hilang adat karena dibuat


Hilang lembaga karena diikat

Selanjutnya “bilang undang” itu mempunyai sifat-sifat petunjuk, seperti yang tersirat dalam
ungkapan berikut:

Hukum sipalu palu ular


Ular dipalu tidak mati

Kayu pemalu tidak patah


Rumput dipalu tidak layu

Tanah terpalu tidak lembang


Hukum jatuh benar terletak
Gelak berderai timbal balik
Undang menarik rambut dalam tepung
Rambut ditarik tidak putus
Tepung tertarik tidak berserak
Minta wasiat kepada yang tua
Minta petuah kepada yang alim
Minta akal kepada yang cerdik
Minta daulat kepada raja
Minta suara kepada enggang
Minta kuat kepada gajah

Yang hesat diampelas


Yang berbongkol ditarah
Yang keruh dijernihkan
Yang kusut diuraikan

Dari uraian dapat disimpulkan bahwa ketentuan-ketentuan adat yang lebih dikenal sebagai hukum
tidak tertulis telah diwariskan dalam bentuk undang-undang, ungkapan, atau pepatah-petitih.

4. Adat-Istiadat Dalam Pergaulan Orang Melayu Di Riau

Bertolak dari dasar pemikiran diadakannya Seminar Kebudayaan Melayu ini, penulis mencoba
mengemukakan pemikiran sebagai sumbangan dalam penyempurnaan tata-pergaulan nasional.
Berikut satu alenia yang menjadi dasar pemikiran tersebut:

Interaksi sosial antara sesama warga negara dalam masyarakat majemuk itu menuntut kerangka
rujukan (term of reference) maupun mekanisme pengendali yang mampu memberikan arah dan
makna kehidupan bermasyarakat, yaitu kebudayaan yang dapat menjembatani pergaulan sesama
warga negara secara efektif.

Adat-istiadat yang merupakan pola sopan-santun dalam pergaulan orang Melayu di Riau
sebenarnya sudah lama menjadi pola pergaulan nasional sesama warga negara. Bahasa Melayu
yang telah menjadi bahasa nasional Indonesia mengikutsertakan pepatah, ungkapan, peribahasa,
pantun, seloka, dan sebagainya yang hidup dalam masyarakat Melayu menjadi milik nasional dan
dipahami oleh semua warga negara Indonesia. Ajaran, tuntunan, dan falsafah yang diajarkan
melalui pepatah, peribahasa, dan sebagainya itu telah membudaya di seluruh Indonesia, sehingga
tidak mudah untuk mengidentifikasi pepatah dan peribahasa yang berasal dari Melayu dan yang
bukan dari Melayu.

Dalam masyarakat Melayu di Riau, sikap dan tingkah-laku yang baik telah diajarkan sejak dari
buaian hingga dewasa. Sikap itu diajarkan secara lisan dan dikembangkan melalui tulisan-tulisan.
Raja Ali Haji, pujangga besar Riau telah banyak meninggalkan ajaran-ajaran seperti Gurindam Dua
Belas, Samaratul Muhimmah, dan manuskrip-manuskrip lainnya.

Sopan-santun dalam pergaulan sesama masyarakat menyangkut beberapa hal, yaitu tingkah-laku,
tutur-bahasa, kesopanan berpakaian, serta sikap menghadapi orang tua/orang sebaya, orang yang
lebih muda, para pembesar, dan sebagainya. Tingkah-laku yang terpuji adalah yang bersifat
sederhana. Pola hidup sederhana yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia sejalan
dengan sifat ideal orang Melayu. Sebagaimana penggalan dalam kitab Adat Raja-raja Melayu:

Syahdan maka lagi adalah yang dikehendaki oleh istiadat orang Melayu itu dan dibilang orang yang
majelis yaitu apabila ada ia mengada ia atas sesuatu kelakuan melainkan dengan pertengahan jua
adanya. Yakni daripada segala kelakuan dan perbuatan dan pakaian dan perkataan dan makanan
dan perjalanannya, sekalian itu tiada dengan berlebih-lebihan dan dengan kekurangan, melainkan
sekaliannya itu diadakan dengan keadaan yang sederhana jua adanya. Maka orang itulah yang
dibilang anak yang majelis. Tambahan pula dengan adab pandai ia menyimpan dirinya. Maka
tambah-tambahlah landib atau sindib adanya, seperti kata hukuman, “Hendaklah kamu hukumkan
kerongkongan kamu tatkala dalam majelis makan, dan hukumkan matamu tatkala melihat
perempuan, dan tegahkan lidahmu dan pada banyak perkataan yang siasia dan tulikan telingamu
dan pada perkataan-perkataan yang keji-keji”. Maka apabila sampailah seseorang kepada segala
syarat ini ia itulah orang yang majelis namanya (Sujiman, 1983).

Kesederhanaan memang sudah menjadi sifat dasar orang Melayu sehingga terkadang karena
“salah bawa” menjadi sangat berlebihan. Kesederhanaan ini membawa sifat ramah dan toleransi
yang tinggi dalam pergaulan. Kesederhanaan ini digambarkan pula dalam pepatah “Mandi di hilir-
hilir, berkata di bawah-bawah, “Ibarat padi, kian berisi kian runduk” .

Gotong-royong dan seia sekata sangat dianjurkan. Banyak pepatah dan ungkapan yang menjadi
falsafah hidup orang Melayu bertahan sampai sekarang, seperti misalnya:

Berat sama dipikul


Ringan sama dijinjing

Ke bukit sama mendaki


Ke lurah sama menurun

Hati gajah sama dilapah


Hati tungau sama dicecah

Hidup jelang-menjelang
Sakit jenguk-menjenguk

Lapang sama berlegar


Sempit sama berhimpit
Lebih beri-memberi
Kalau berjalan beriringan

Yang dulu jangan menunjang


Yang tengah jangan membelok
Yang di belakang jangan menumit
Yang lupa diingatkan
Yang bengkok diluruskan
Yang tidur dijagakan
Yang salah tegur-menegur
Yang rendah angkat-mengangkat
Yang tinggi junjung-menjunjung
Yang tua memberi wasiat
Yang alim memberi amanat
Yang berani memberi kuat
Yang berkuasa memberi daulat
Kuat lidi karena diikat
Kuat hati karena mufakat

Ungkapan-ungkapan yang menyangkut kebersamaan masih sangat banyak, karena masalah gotong
royong dan kerukunan bersama merupakan masalah penting dalam pergaulan orang Melayu.
Ungkapan-ungkapan itu antara lain tercermin dalam.

a. Tutur-Kata

Dalam bertutur dan berkata, banyak dijumpai nasihat, karena kata sangat berpengaruh bagi
keselarasan pergaulan, “Bahasa menunjukkan bangsa”. Pengertian “bangsa” yang dimaksud di sini
adalah “orang baik-baik” atau orang berderajat yang juga disebut “orang berbangsa”. Orang baik-
baik tentu mengeluarkan kata-kata yang baik dan tekanan suaranya akan menimbulkan simpati
orang. Orang yang menggunakan kata-kata kasar dan tidak senonoh, dia tentu orang yang “tidak
berbangsa” atau derajatnya rendah.

Bahasa selalu dikaitkan dengan budi, oleh karena itu selalu disebut “budi bahasa”. Dengan
demikian, ketinggian budi seseorang juga diukur dari kata-katanya, seperti ungkapan:

Hidup sekandang sehalaman


tidak boleh tengking-menengking
tidak boleh tindih-menindih
tidak boleh dendam kesumat

Pantang membuka aib orang


Pantang merobek baju di badan
Pantang menepuk air di dulang
Hilang budi karena bahasa
Habis daulat karena kuasa
Pedas lada hingga ke mulut
Pedas kata menjemput maut
Bisa ular pada taringnya
Bisa lebah pada sengatnya
Bisa manusia pada mulutnya
Bisa racun boleh diobat
Bisa mulut nyawa padannya

Oleh karena kata dan ungkapan memegang peran penting dalam pergaulan, maka selalu diberikan
tuntunan tentang kata dan ungkapan agar kerukunan tetap terpelihara. Tinggi rendah budi
seseorang diukur dari cara berkata-kata. Seseorang yang mengeluarkan kata-kata yang salah akan
menjadi aib baginya, seperti kata pepatah “Biar salah kain asal jangan salah cakap”.

b. Sopan-Santun Berpakaian

Dari pepatah “Biar salah kain asal jangan salah cakap” juga tercermin bahwa salah kain juga
merupakan aib. Dalam masyarakat Melayu, kesempurnaan berpakaian menjadi ukuran bagi tinggi
rendahnya budaya seseorang. Makin tinggi kebudayaannya, akan semakin sempurna pakaiannya.
Selain itu, sopan-santun berpakaian menurut Islam telah menyatu dengan adat.

Orang yang sopan, pakaiannya akan sempurna, tidak bertelanjang dada, dan lututnya tidak terbuka,
seperti dinyatakan dalam ungkapan:

Elok sanggam menutup malu


Sanggam dipakai helat jamu
Elok dipakai berpatut-patut
Letak tidak membuka aib

Orang Melayu sejak dahulu sudah mengenal mode, terbukti dengan adanya berbagai jenis pakaian,
baik pakaian pria maupun wanita. Demikian pula perhiasan sebagai pelengkap berpakaian. Melayu
mengenal penutup kepala bagi lakilaki yang disebut “tengkolok” atau “tanjak” dengan 42 jenis ikatan.

Pakaian daerah atau pakaian tradisonal Melayu bermacam-macam dan cara memakainya pun
disesuaikan dengan keperluan. Cara berpakaian untuk ke pasar, ke masjid, bertandang ke rumah
orang, atau ke majelis perjamuan dan upacara ada etikanya sendiri-sendiri. Sebagai intermezo,
penulis sajikan beberapa ungkapan mengenai pakaian (Effendy, 1985):

Seluar panjang semata kaki


Goyang bergoyang ditiup angin

Kibarnya tidak lebih sejengkal


Pesaknya tidak dalam amat
Elok sanggam menutup malu

Kalau melangkah tidak menyemak


Kalau duduk tidak menyesak
Kaki diberi awan-awanan
Berkelingking berbenang emas

Bayang membayang pucuk rebung


Tabur bertabur tampuk manggis
Elok dipakai dalam majelis
Sanggam dipakai helat jamu

Patut bertempat nikah kawin


Peratama disebut teluk belanga
Tebuk leher bertulang belut
Cengkam dijalin menjari lipan
Buah baju tunggal-tunggalan

Kalau bulat menelur burung


Kalau bertangkai memudung petai
Atau bermata bagai cincin
Labuhnya sampai segenggam tangan
Lebar dapat kipas berkipas
Lapang tidak menyangkut ranting
Kedua kain tenun-tenunan
Bertabuh berkepala emas
Tabur berserak bunga hutan
Kepala pekat berpucuk rebung
Dipakai dalam helat jamu
Dalam mejelis yang patut-patut

Kalau dibuat kain samping


Kepala kain sebelah kanan
Atau membelit kepala belakang

Kalau dipakai labuh-labuhan


Kepala terletak di belakang

Seperti yang telah penulis ungkapkan pada bagian depan, Kerajaan Siak Sri Indrapura telah
menetapkan cara berpakaian bagi para pejabat yang bekerja di balai (kantor) dan cara berpakaian
rakyat yang datang ke balai dalam Babul Qawa‘id. Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan
bahwa dalam pergaulan orang Melayu di Riau, kesopanan berpakaian tidak boleh diabaikan.

c. Adab dalam Pergaulan

Kerangka acuan adab dan sopan-santun dalam pergaulan adalah norma Islam yang sudah
melembaga menjadi adat. Di dalamnya terdapat berbagai pantangan, larangan, dan hal-hal yang
dianggap “sumbang”. Pelanggaran dalam hal ini menimbulkan aib besar dan si pelanggar dianggap
tidak beradab.

Terdapat beberapa sumbang, yaitu sumbang dipandang mata, sumbang sikap, dan sumbang kata
yang pada umumnya disebut “tidak baik”. Karakter anggota masyarakat dibentuk oleh norma-norma
ini. Dengan demikian tercipta pola sikap dalam pergaulan, seperti sikap terhadap orang tua,
terhadap ibu bapak, terhadap penguasa atau pejabat, terhadap orang sebaya, terhadap orang yang
lebih muda, antara pria dan wanita, bertamu ke rumah orang, dalam upacara, dan sebagainya.
Banyak ungkapan yang kita jumpai di dalam masyarakat Melayu yang digunakan sebagai tuntunan,
di antaranya sebagai berikut (Effendy, 1985):

Guru kencing berdiri


Murid kencing berlari

Kalau menyengat kupiah imam


Akan melintang kupiah makmum

Berseloroh sama sebaya


Berunding sama setara

Bergelut di halaman
Berunding di rumah

Berbuat baik berpada-pada


Berbuat jahat jangan sekali

Yang patut dipatutkan


Yang tua dituakan
Yang berbangsa dibangsakan
Yang berbahasa dibahasakan

Kalau lepas ke halaman orang


Berkata dulu agak sepatah
Memberi tahu orang di rumah

Entah orang salah duduk


Entah orang salah tegak
Entah orang salah kain

Kalau betina turun di tangga


Surut selangkah kita dahulu
Jangan bersinggung turun naik
Kalau haus di kampung orang
Haus boleh minta air
Lapar boleh minta nasi
Tapi terbatas hingga di pintu
Sebelah kaki berjuntai
Sebelah boleh di atas bendul

Di mana bumi dipijak


Di situ langit dijunjung
Di mana air disauk
Di situ ranting dipatah

Karena begitu banyaknya ungkapan, maka tidak mungkin jika semuanya dikemukakan di sini. Yang
jelas, dalam masyarakat Melayu Riau etika pergaulan sangat dipentingkan.

5. Penutup

Dengan kerangka rujukan “adat bersendikan syarak” adat-istiadat Melayu Riau tidak statis dan tidak
menutup diri terhadap perkembangan zaman. Etika pergaulan orang Melayu Riau telah memberikan
saham dalam pergaulan antarwarga Indonesia. Ajaran sopan-santun akhir-akhir ini telah diabaikan,
sehingga kebiasaan ini perlu dipulihkan dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan sekarang,
yakni dengan:
1. Menghidupkan dan menyebarluaskan ungkapan, pepatah, dan sebagainya yang mengandung adab
sopan-santun melalui media cetak dan media massa.
2. Menerjemahkan dan menyebarluaskan pepatah, ungkapan, dan manuskrip yang mengandung
ajaran-ajaran.
3. Menulis buku pelajaran yang mengajarkan adab sopan-santun dengan kerangka rujukan falsafah
dan nilai yang terkandung dalam pepatah, ungkapan, pantun, dan sebagainya, mulai dari tingkat
dasar.

Daftar Pustaka

Effendy, T. 1985. Kumpulan Ungkapan. Naskah yang belum diterbitkan, Pekanbaru.


Hoeve, I. B. van. 1984. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.

Kerajaan Siak. 1901. Babul Qawa‘id. Siak Sri Indrapura: Percetakan Kerajaan Siak Sri Indrapura.

Prins, J. 1954. Adat en Islamietische Plichtenleer In Indonesia. Bandung: W. Van Hoeve


s‘Gravenhage.

Sujiman, P. H. M. 1983. Adat Raja-raja Melayu. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Tonel, T. 1920. Adat-istiadat Melayu. Naskah tulisan tangan huruf Melayu Arab, Pelalawan.
Yayasan Kanisius. 1973. Ensiklopedi Umum. Yogyakarta: Kanisius.

oooOooo

___________________

Makalah ini disampaikan pada Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya”, yang
diselenggarakan di Tanjung Pinang, Riau, Indonesia, pada tanggal 17 – 21 Juli 1985. (Dengan
penambahan hyperlink dari MelayuOnline.com)

Mengingat pentingnya makalah ini, Redaksi MelayuOnline.com memuat ulang dengan penyuntingan
seperlunya.

Kumpulan makalah (prosiding) seminar ini telah dibukukan dengan judul “Masyarakat Melayu dan
Budaya Melayu dalam Perubahan”, dengan editor Prof. Dr. Heddy Shri Ahmisa-Putra, setelah
dilakukan penyuntingan ulang pada klasifikasi dan urutan pada daftar isi, bahasa, maupun
perubahan judul. Editor juga memberikan Wacana Pembuka dan Wacana Penutup serta Kata
Pengantar pada setiap bagian. Diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
(BKPBM), Edisi Eksklusif (Hard Cover), 965 halaman.

Seluruh makalah pada buku tersebut akan dimuat berdasarkan urutan bagian secara bergantian.
Buku tersebut terdiri atas 36 (tiga puluh enam) makalah pilihan yang terbagi dalam 8 (delapan)
bagian yakni, 1) Sejarah dan Keragaman Kesulatanan Melayu; 2) Bahasa Melayu dan Bahasa
Indonesia; 3) Sastra Melayu dan Sastrawan Melayu; 4) Naskah Melayu dan Penelitiannya; 5) Seni
Pertunjukan Melayu; 6) Kepribadian, Adat Istiadat dan Organisasi Sosial Melayu; 7) Teknologi
Melayu; dan 8) Melayu dan Non-Melayu.

Kredit foto : Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu