Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tumbuhan adalah organisme yang memiliki akar, batang, dan daun sejati. Akar, batang
dan daun merupakan organ hasil diferensiasi jaringan. Tumbuhan memiliki sel eukariotik dan
mempunyai kloroplas. Didalam kloroplas terdapat pigmen klorofil. Pada umunya tumbuhan
memiliki klorofil a, klorofil b dan ada juga yang mengandung karoten. Sel-sel tumbuhan
memikili dinding sel yang mengandung selulosa, mengakibatkan tubuhnya kaku. Dalam
klasifikasi dengan system 5 kingdom diantaranya tumbuhan biji namun ditekankan pada
Phanerogamae dan lebih kepada Angiospermae.

Angiospermae merupakan tumbuhan biji tertutup. Hampir semua tumbuhan yang ada di daratan
merupakan angiospermae. Angiospermae dibedakan atas dua kelas yakni dikotil dan monokotil.
Klasifikasi angiospermae menjadi dikotiledon dan monokotiledon didasarkan sejumlah
perbedaan, yaitu perbedaan struktur vegetatif (batang, daun, akar) dan struktur generatif (bunga
dan biji).

B. Rumusan Masalah

1. Apakah tumbuhan angiospermae itu?

2. Terbagi atas apa sajakah tumbuhan angiospermae?

3. Bagaimanakah ciri morfologi dan struktur anatomi angiospermae?

4. Bagaimanakah reproduksi tumbuhan angiospermae

C. Tujuan Masalah

1. Mengetahui apa itu tumbuhan angiospermae

2. Mengetahui pembagian tumbuhan angiospermae

3. Mengetahui ciri morfologi dan struktur anatomi angiospermae

4. Memehami reproduksi tumbuhan angiospermae

BAB II
1
PEMBAHASAN

A. DEFINISI ANGIOSPERMAE

1. Sejarah Angiospermae

Sejarah penemuan Angiospermae tidak terlepas dari penemuanRobert Brown pada tahun
1827 karena, Pada awalnya, nama Angiospermae dimaksudkan oleh Paul Hermann (1690) bagi
seluruh tumbuhan berbunga dengan biji yang terbungkus dalam kapsula, dan dipertentangkan
dengan Gymnospermae sebagai tumbuhan berbunga dengan buah achene atau berkarpela
terbelah. Dalam pengertiannya, keseluruhan buah atau bagiannya dianggap sebagai biji dan
"terbuka". Kedua istilah ini dipakai oleh Carolus Linnaeus dengan pengertian yang sama tetapi
digunakan sebagai nama-nama dari kelas Didynamia.

Ketika Robert Brown pada tahun 1827 menemukan bakal biji yang benar-benar terbuka
(tak terlindung) pada sikas dan tumbuhan runjung, ia memberikan nama Gymnospermae bagi
kedua kelompok tumbuhan ini. Tahun 1851 Wilhelm Hofmeister menemukan perubahan-
perubahan yang terjadi pada kantung embrio dari tumbuhan berbunga (penyerbukan berganda).
Hasil penemuan ini menjadikan Gymnospermae sebagai kelas yang benar-benar berbeda dari
dikotil, dan istilah Angiospermae mulai diterapkan untuk semua tumbuhan berbiji yang bukan
kedua kelompok yang disebutkan Robert Brown. Pengertian terakhir inilah yang masih bertahan
hingga sekarang.

Golongan tumbuhan angiospermae disebut juga tumbuhan berbunga dan masuk ke dalam
divisi Magnoliophyta. Angiospermae dianggap sebagai golongan tumbuhan dengan tingkat
perkembangan yang tertinggi. Tumbuhan berbunga adalah kelompok terbesar tumbuhan yang
hidup di daratan. Namanya diambil dari cirinya yang khas, yaitu menghasilkan organ reproduksi
dalam bentuk suatu bunga. Bunga sebenarnya adalah modifikasi daun dan batang untuk
mendukung sistem pembuahan tertutup. Sistem pembuahan tertutup (dikatakan tertutup karena
bakal biji terlindung di dalam bakal buah atau ovarium) ini juga menjadi ciri khasnya yang lain.
Ciri yang terakhir ini membedakannya dari kelompok tumbuhan berbiji yang lain tumbuhan
berbiji terbuka atau Gymnospermae.

Dari kedua ciri tersebut muncullah nama Anthophyta ("tumbuhan bunga") dan
Angiospermae ("berbiji terbungkus"). Nama lain yang juga dikenakan kepadanya adalah
Magnoliophyta ("tumbuhan sekerabat dengan magnolia"). Nama Angiospermae diambil dari
penggabungan dua kata bahasa Yunani Kuno: αγγειον (aggeion, "penyangga" atau "pelindung")
dan σπερμα (sperma, bentuk jamak untuk "biji") yang diperkenalkan oleh Paul Hermann pada
tahun 1690. Dalam sebagian besar sistem taksonomi modern, kelompok ini sekarang menempati
takson sebagai divisio.

2
Sebagian besar tumbuhan yang kita jumpai dewasa ini termasuk dalam Angiospermae
yang merupakan kelompok tumbuhan yang mendominasi daratan lebih dari 100 juta tahun yang
lalu meliputi 235.000 spesies tumbuhan berbunga. Sebagian besar makanan yang kita konsumsi
berasal dari tumbuhan berbunga dapat berupa akar misalnya wortel, kangkung, bit; buah-buahan
misalnya apel, mangga, pisang, papaya; buah dan biji kacang-kacangan Leguminosae, buah
kariopsis dari padi- padian (Graminae) misalnya padi dan jagung.

2. Pengertian Angiospermae

Tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) berasal dari kata angio yang berarti bunga dan
spermae yang berarti tumbuhan berbiji, jadi Angiospermae adalah tumbuhan berbiji yang
tertutup tertutup. Mengapa dikatakan tumbuhan berbiji tertutup, karena bijinya selalu diselubungi
oleh suatu badan yang berasal dari daun-daun buah yang disebut dengan bakal buah. Kemudian
bakal buah beserta bagian-bagian lain dari bunga akan tumbuh menjadi buah dan bakal biji yang
telah menjadi biji tetap terdapat di dalamnya. Tumbuhan biji tertutup memiliki jumlah spesies
lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan berbiji terbuka, karena anggota Angiospermae
mencakup sekitar 300 famili dan lebih dari 250.000 spesies. Tumbuhan ini banyak ditemukan di
semua daratan dunia ini. Ada banyak factor yang menentukan sehingga angiospermae terdapat di
mana-mana. Di antaranya adalah,

 mampu beadaptasi dan bereproduksi di segala lingkungan

 membentuk buah, bunga dan biji.

Angiospermae terdiri atas satu divisi yaitu Anthophyta (tumbuhan berbunga) yang
merupakan 80% tumbuhan saat ini. Divisi ini dibedakan atas 2 kelas yaitu tumbuhan monokotil/

3
magnoliopsida (sekitar 65.000 spesies) dan tumbuhan dikotil/ liliopsida (sekitar 170.000
spesies). Tumbuhan dikotil dan monokotil dibedakan atas beberapa hal, antara lain: struktur biji
(jumlah kotiledon), struktur bunga, distribusi berkas pembuluh pada batang, dan struktur akar.

Secara umum, tumbuhan berbiji tertutup memiliki ciri yang sama dengan tumbuhan
berbiji terbuka. Keunikan tumbuhan berbiji tertutup terletak pada bijinya yang tersusun oleh
keping lembaga (kotyledon). Keping lembaga pada tumbuhan berbiji tertutup membentuk dua
kelompok tumbuhan, yaitu tumbuhan berbiji tunggal (Monocotyledonae) dan tumbuhan berbiji
berkeping dua (Dicotyledonae).

a) Ciri-ciri Angiospermae

Angiospermae memiliki ciri utama yaitu, bakal bijinya berada di dalam megasporofil yang
termodifikasi menjadi daun buah ( karpel) sehingga serbuk sari harus menembus jaringan daun
buah untuk mencapai bakal biji dan membuahi ovum. Pada umumnya daun dan buah berdaging
tebal, misalnya pada manga, jeruk, dan semangka. Pada kacang-kacangan, misalnya buncis,
kapri, kacang panjang daun buah berupa kulit polong yang tipis. Daun buah berfungsi
melindungi biji agar tidak kekeringan pada saat mengalami dormansi (tidak aktif). Dormansi
yang dimaksud di sini adalah, Dormansi yaitu peristiwa dimana benih mengalami masa istirahat
(Dorman). Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda
perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan
proses tersebut. Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embryo. Biji yang telah
masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang
sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya (Elisa, 2009).

Tubuh dan ukuran angiospermae memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi. Ada yang berupa
tumbuhan berbunga terkecil berdiameter sekitar 2 mm, misalnya wolffia, hingga pohon raksasa
dengan tinggi lebih dari 100 m, misalnya pohon gom. Tubuh Angiospermae terdiri dari akar,
batang, daun dan bunga. Akarnya ada yang serabut da nada pula yang tunggang, ada batang yang
berkambium serta ada pula yang tidak memiliki cambium. Angiospermae memiliki pembuluh
xilem yang diperkuat oleh serat dengan dinding sel tebal dan berlignin. Sedangkan daunnya juga
mempunyai beberapa tipe daun antara lain, lurus, menyirip dan menjari.

b) Ciri Khusus Angiospermae

Tumbuhan berbunga dibedakan dari kelompok lain berdasarkan apomorfi (ciri-ciri


terwariskan) yang khas dikembangkan oleh kelompok ini. Kebanyakan ciri-ciri ini terletak pada
bagian reproduktif. Berikut adalah ciri-ciri tersebut:

o Bunga

Disebut sebagai tumbuhan berbiji tertutup dikarenakan bakal biji yang dimiliki tumbuhan ini
dilindungi oleh daun buah. Pada tumbuhan ini juga telah memiliki bunga yang sesungguhnya,

4
memiliki bentuk dan susunan urat daun yang beranekaragam. Ada daun yang pipih, sempit,
ataupun lebar, dan susunan urat daunnya ada yang menyirip, menjari, melengkung, ataupun
sejajar seperti pita. Alat perkembangbiakan secara generatif berupa bunga. Macam-macam
bunga:

1) Bunga lengkap

Merupakan bunga yang memiliki semua bagian bunga tanpa terkecuali, yaitu tangkai bunga,
kelopak bunga, mahkota bunga, benang sari, dan putik. Contohnya adalah bunga mawar, melati
(Jasminum sambac), dan bunga sepatu.

2) Bunga tidak lengkap

Merupakan bunga yang tidak memiliki salah satu bagian bunga. Contohnya adalah bunga
tanaman rumput-rumputan yang tidak memiliki mahkota bunga.

3) Bunga sempurna

Merupakan bunga yang memiliki benang sari dan putik sekaligus, selain itu juga memiliki
bagian-bagian bunga yang lain. Contohnya adalah bunga sepatu.

4) Bunga tidak sempurna

Merupakan bunga yang hanya memiliki benang sari atau hanya memiliki putik saja, selain itu
juga memiliki bagian-bagian bunga yang lain. Contohnya adalah bunga salak, bunga kelapa,
jagung, dan melinjo. Bunga yang hanya memiliki benang sari biasa disebut juga sebagai bunga
jantan dan bunga yang hanya memiliki putik saja biasa disebut sebagai bunga betina.

o Benang sari

Stamen atau benang sari jauh lebih ringan daripada organ dengan fungsi serupa pada
tumbuhan berbiji terbuka (yaitu strobilus). Benang sari telah berevolusi untuk dapat beradaptasi
denganpenyerbuk dan untuk mencegah pembuahan sendiri. Adaptasi ke arah ini juga
memperluas jangkauan ruang hidupnya.

o Ukuran gametofit jantan sangat tereduksi

Gametofit jantan yang sangat tereduksi (berada dalam serbuk sari dan hanya terdiri dari tiga sel)
sangat membantu mengurangi waktu antara penyerbukan, di saat serbuk sari mencapai organ
betina, dan pembuahan. Selang waktu normal antara kedua tahap tersebut biasanya 12-24 jam.
Pada Gymnospermae waktu yang diperlukan untuk hal tersebut dapat mencapai setahun.

o Karpela menutup rapat bakal biji

5
Karpela atau daun buah rapat membungkus bakal biji atau ovulum, sehingga mencegah
pembuahan yang tidak diinginkan. Sel sperma akan dikontrol oleh putik untuk membuahi sel
telur (ovum). Setelah pembuahan, karpela dan beberapa jaringan di sekitarnya juga akan
berkembang menjadi buah. Buah berfungsi adaptif dengan melindungi biji dari perkecambahan
yang tidak diinginkan dan membantu proses penyebaran ke wilayah yang lebih luas.

o Ukuran gametofit betina sangat tereduksi

Sebagaimana pada gametofit jantan, ukuran gametofit betina juga sangat berkurang menjadi
hanya tujuh sel dan terlindung dalam bakal biji. Ukuran yang mengecil ini membantu
mempercepat perkembangan hidup tumbuhan. Hanya kelompok Angiospermae yang memiliki
perilaku semusim dalam proses kehidupannya. Perilaku ini membuatnya sangat mudah
menjelajah lungkang yang jauh lebih luas.

o Endosperma

Pembentukan endosperma pada biji adalah ciri khas Angiospermae yang sangat mendukung
adaptasi karena melengkapi embrio atau kecambah dengan cadangan makanan dalam
perkembangannya. Endosperma secara fisiologis juga memperkuat daya serap biji akan hara
yang diperlukan tumbuhan muda dalam perkembangannya.

o Fungsi Angiospermae

Angiospermae dibagi menjadi dua kelompok terpisah berdasarkan desain benih mereka.
Monokotil memiliki satu biji seperti jagung. Fitur lainnya adalah mereka memiliki urat daun
yang sejajar satu sama lain, berakar serabut yang keluar bercabang, batang hijau dan ikatan
pembuluh pada akar dan batang. Dikotil memiliki dua bagian biji seperti tumbuhan kacang
adalah contoh yang baik. Jenis Angiospermae memiliki pasangan bunga pada kelipatan empat
atau lima, vena daun bercabang keluar dari satu pusat, satu akar utama dengan akar yang lebih
kecil tumbuh dan beberapa tumbuh dalam pola lingkaran.

o Klasifikasi Angiospermae

Angiospermae dibagi menjadi dua kelas yaitu dikotil dan monokotil. Perbedaan dua kelas ini
adalah :

1. Bentuk akar

- Monokotil : Memiliki sistem akar serabut

- Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang

2. Bentuk sumsum atau pola tulang daun

- Monokotil : Melengkung atau sejajar


6
- Dikotil : Menyirip atau menjari

3. Kaliptrogen / tudung akar

- Monokotil : Ada tudung akar / kaliptra

- Dikotil : Tidak terdapat ada tudung akar

4. Jumlah keping biji atau kotiledon

- Monokotil : satu buah keping biji saja

- Dikotil : Ada dua buah keping biji

5. Kandungan akar dan batang

- Monokotil : Tidak terdapat kambium

- Dikotil : Ada kambium

6. Jumlah kelopak bunga

- Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga

- Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima

7. Pelindung akar dan batang lembaga

- Monokotil : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar lembaga / keleorhiza

- Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil

8. Pertumbuhan akar dan batang

- Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar

- Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar

9. Tipe berkas pengangkut

- Monokotil : Kolateral tertutup

- Dikotil : Kolateral terbuka

B. Pembagian Tumbuhan Angiospermae

7
Angiospermae dibedakan ke dalam dua kelas berdasarkan jumlah kotiledonnya, yakni monokotil
dan dikotil.

Ciri-ciri Angiospermae memiliki bakal biji atau biji yang tertutup oleh daun buah,
mempunyai bunga sejati, umumnya tumbuhan berupa pohon, perdu, semak, liana dan herba.
Dalam reproduksi terjadi pembuahan ganda. Angiospermae dibedakan menjadi dua yaitu
Monocotyledoneae (berkeping satu) dan Dicotyledoneae (berkeping dua).

1. Tumbuhan Berkeping Biji Satu atau monokotil (Monocotyledonae)

Monokotil disebut juga tumbuhan berkeping satu atau tunggal kerena memiliki biji yang
berkecambah dengan satu daun lembaga.

Monokotil meliputi sekitar 65.000 spesies, termasuk di dalamnya tumbuhan graminae, anggrek,
palem, bambu dan lain-lain. Daun, batang, bunga dan akar monokotil bersifat spesifik. Sebagian
besar monokotil memiliki pertulangan daun sejajar, batang dengan berkas pembuluh terbesar,
daun mahkota bunga 3 atau kelipatannya, dan memiliki akar serabut.

Contoh tumbuhan monokotil adalah padi, gandum, dan jagung. Tumbuhan ini memiliki beberapa
ciri, yaitu berakal serabut, batang memiliki ruas-ruas, pertulangan daun sejajar, jumlah mahkoa
bunga atau kelopak adalah tiga atau kelipatannya, dan batangnya tidak bercabang-cabang.

Tumbuhan monokotil memiliki beberapa famili, diantaranya : famili pisang-pisangan


(Musaceae), famili rumput-rumputan (Gramineae atau Poaceae), famili nanas-nanasan
(Bromeliaceae), famili anggrek-anggrekan (Orchidaceae), famili jahe-jahean (Zingiberaceae),
dan famili kelapa (Palmae).

2. Tumbuhan Berkeping Biji Dua / Dikotil (Dicotyledonae)

Sebagian besar Angiospermae yakni sekitar 170.000 spesies dari tumbuhan dikotil. Kelompok
tumbuhan ini meliputi tumbuhan semak, pohon serta banyak tumbuhan yang penghasil makanan.
Ciri-ciri dikotil adalah memiliki 2 kotiledon pada biji; pertulangan daun menjari, berkas
pembuluh pada batang tersusun melingkar, daun mahkota bunga 4, 5 atau kelipatannya, memiliki
sistem akar tunggang

Suku-suku berikut jenis-jenis tumbuhan dikotil diantaranya:

 Suku getah-getahan (Euhorbiaceae), misalnya: singkong, jarak, karet, puring

 Suku polong-polongan (Leguminosae), misalnya: putri malu, petai, flamboyan, kembang


merak, kacang kedelai, kacang tanah

 Suku terung-terungan (Solanaceae), misalnya: kentang, terong, tomat, cabai, kecubung

 Suku jeruk-jerukan (Rutaceae), misalnya: jeruk manis, jeruk bali


8
 Suku kapas-kapasan (Malvaceae), misalnya: kembang sepatu, kapas

 Suku jambu-jambuan (Mirtaceae), misalnya: cengkih, jambu biji, jambu air, jambu
monyet, jamblang

 Suku komposit (Compositae), misalnya: bunga matahari, bunga dahlia, bunga krisan

 Perbedaan ciri pada tumbuhan monokotil dan dikotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang
dimiliki:

NO PERBEDAAN CIRI MONOKOTIL DIKOTIL

1. Bentuk akar Memiliki system akar Memiliki system akar


serabut tunggang

2. Bentuk sumsum dan pola tulang Melengkung atau sejajar Menyirip atau menjari
daun

3. Kaliptrogen/tudung akar Ada tudung akar / kaliptra Tidak terdapat tudung


akar

4. Jumlah keping biji/kotiledon Satu buah keping biji saja Ada dua buah keping biji

5. Kandungan akar dan batang Tidak terdapat cambium Ada cambium

6. Jumlah kelopak bunga Umumnya kelipatan tiga Biasanya kelipatan


empat atau lima

7. Pelindung akar dan batang Ditemukan batang Tidak ada pelindung


tembaga lembaga/koleoptil dan akar kelorhiza maupun
lembaga/kelorhiza keleoptil
8. Pertumbuhan akar dan batang Tidak dapat tubuh
berkembang menjadi Bias tumbuh
membesar berkembang menjadi
mebesar

C. Ciri Morfologi dan Struktur Anatomi Angiospermae

Tubuh tumbuhan terdiri dari akar dan tajuk. Diantara adaptasi yang memungkinkan
tumbuhan dapat hidup di darat adalah kemampuannya untuk mengabsorsi air dan mineral dari
dalam tanah. Menyerap cahaya matahari dan mengambil CO2 dari udara untuk fotosintesis serta
9
kemempuannya untuk hidup dalam kondisi yang kering. Akar dan tajuk saling bergantung satu
sama lain, akar tidak mampu hidup tanpa tajuk, demikian sebaliknya. Karena tidak memiliki
kloroplas dan hidup di tempat yang gelap menyebabkan akar tidak dapat tumbuh tanpa gula dan
nutrisi organic lainnya yang diangkut dari daun yang merupakan bagian dari sistem dari tajuk.

Sebaliknya batang dan daun bergantung pada air dan mineral yang diserap oleh akar.
Akar tumbuhan berfungsi sebagai penompang berdirinya tumbuhan (jangkar), pengabsorpsi air
dan mineral, serta tempat peyimpanan cadangan makanan. Tajuk terdiri dari batang, daun dan
bunga (bunga merupakan adaptasi untuk reproduksi tumbuhan Angiospermae). Batang adalah
bagian tumbuhan yang terletak di atas tanah, mendukung daun-daun dan bunga.

Pada pohon, batang-batang meliputi batang pokok danseua cabang-cabang, termasuk


ranting-ranting yang kecil. Batang mempunyai buku sebagai tempat melekatnya daun, juga
mempunyai ruas yakni jarak diantara dua buku. Daun merupakan tempat utama berlangsungnya
fotosintesis, kendati ada beberapa spesies tumbuhan yang batangnya dapat melakukan
fotosintesis karena mengandung kloroplas. Daun terdiri dari helaian daun yang melebar (lamella)
dan tangkai daun (petiol) yang menghubungkan daun dengan batang. Pada ujung batang terdapat
tunas yang belum berkembang yang disebut tunas ujung. Selain itu di jumpai juga tunas aksilar/
tunas lateral/ tunas samping yang terdapat di ketiak daun, tunas ini biasanya dorman. Pada
banyak tumbuhan, tunas ujung menghasilkan auksin yang dapat menghambat pertumbuhan tunas
aksilar. Fenomena ini disebut dengan dominasi apical yang yang merupakan suatu adaptasi yang
dapat meningkatkan kemampuan tumbuhan untuk memperoleh cahaya. Hal ini sangat penting
apabila kerpatan suatu vegetasi di suatu tempat tinggi.

Pembentukan cabang juga penting untuk meningkatkan sistem tajuk, pada kondisi
tertentu tunas-tunas aksilar akan mulai tumbuh. Beberpa tunas tersebut kemudian berkembang
menjadi cabang-cabang yang menghasilkan bunga dan yang lainnya berkembang menjadi capang
non reproduktif, lengkap dengan ujung tunas, daun-daun dan tunas aksilar. Struktur tubuh
tumbuhan dikotil. Organ tumbuhan yaitu akar, batang, daun, buah, bunga dan biji, seluruhnya
disusun dari jaringan-jaringan yang masing-masing jaringan tersebut mempunyai struktur dan
fungsi yang berbeda-beda. Masing-masing jaringan disusun dari sel-sel yang mempunyai bentuk
dan fungsi yang sama.

Beberapa modifikasi akar dan tajuk. Akar tumbuhan mengalami beberapa modifikasi
antara lain menjadi akar yang menyimpan cadangan makanan (pati) misalnya bit gula atau akar
penyimpan air pada beberapa famili Cucurbitaceae yang tumbuh di daerah kering atau daerah
yang tidak turun hujan dalam waktu yang panjang, akar nafas (pneumatofor) yang dapat
meningkatkan pertukaran gas antara udara dengan akar-akar yang terendam air pada tanaman
bakau/Avicennia nitida, akar udara pada anggrek yang dapat membantu penyerapan air hujan,
akar parasit/haustorium tali putri/Cuscuta sp, dan mikoriza yaitu simbiosis mutualisme antara
akar tumbun dan cendawan.

10
Beberapa modifikasi akar yakni tempat penimbun pati, akar nafas, akar udara,
haustorium, mikoriza. Seperti halnya akar batang dan dun juga mengalami modifikasi untuk
fungsi yang beragam, antara lain rhizome, stolon, runner, umbi batang (tuber), umbi lapis (bulb)
serta umbi kormus (corm). Rhizoma adalah batang yang tumbuh horizontal dalam tanah atau
dekat dengan permukaan tanah, mempunyai ruas-ruas yang pendek dan pada bukunya terdapat
daundaun seperti sisik. Dijumpai akar adventif di sepanjang rhizome, terutama di permukaan
bawahnya. Rhizome dapat relative tebal, berdaging, mereupakan tempat disimpannya cadangan
makanan misalnya pada famili Zingiberaceae (jahe-jahean).

Runner adalah batang yang tumbuh horizontal di atas tanah, umumnya di sepanjang
permukaan tanah, mempunyai ruas panjang misalnya pada tanaman strawberry. Stolon mirip
sengan runner, tetapi biasanya tumbuh tegas di dalam tanah, umumnya di sepanjang permukaan
tanah. Pada kentang, beberapa ujung stolon berkembang membentuk umbi batang. Mata tunas
pada umbi kentang merupakan kuncup yang terdapat pada buku batang, setia mata tunas tersebut
akan mampu berkembang menjadi individu baru. Berbeda dengan umbi kentang, umbi lapis
merupakan kuncup besar yang dikelilingi oleh sejumlah daun berdaging, dengan satu batang
kecil dan pendek pada ujung bawah. Daun berdaging mengandung cadangan makanan. Pada
bawang merah, daun berdangin selalu dikelilingi oleh daun-daun seperti sisik. Umbi lapis juga
dijumpai pada tanaman tulip, lili dan lain-lain. Kormus mirip dengan umbi lapis tetapi bagian
yang membengkak seluruhnya merupakan bagian batang. Helaian daun berbentuk sisik yang
menutupi seluruh permukaan kormus.

Beberapa modifikasi batang yakni stolon pada strawberry, rhizome pada tanaman iris,
umbi kentang, umbi lapis, kormus. Beberapa modifikasi daun antara lain sulur (tendril), duri dan
daun penangkap serangga ditemukan dibeberapa tanaman. Ada beberapa tumbuhan yang
daunnya sebagian atau seluruhnya mengalami modifikasi bentuk sulur. Apabil sulur menyentuh
benda padat misalnya ranting/kawat segera sulur tersebut membelitnya dngan erat. Pada tanaman
lain ada juga petiolnya berubah menjadi sulur. Sulur dijumpai pada famili Cucurbitaceae (waluh-
waluhan), tanaman anggur dan lainnya. Duri yang dijumpai pada kaktus merupakan modifikasi
dari daun. Duri sekaligus berfungsi untuk melindungi tanaman dari hewan pengganggu,
disamping untuk mengurangi kehilangan air dari tumbuhan. Daun penangkap serangga pada
tumbuhan karnivor akan menutup sewaktu serangga tertangkap, selanjutnya serangga tersebut
akan segera dicerna oeleh enzim pencerna dan nutrisinya digunakan tumbuhan untuk
pertumbuhan.

1. Struktur Anatomi Akar

Secara umum struktur anatomi akar tersusun atas jaringan epidermis, sistem jaringan dasar
berupa korteks, endodermis, dan empulur; serta sistem berkas pembuluh. Pada akar sistem
berkas pembuluh terdiri atas xylem dan floem yang tersusun berselang seling. Stuktur anatomi
akar tumbuhan monokotil dan dikotil berbeda.

11
2. Struktur Anatomi Batang

Secara umum batang tersusun atas epidermis yang berkutikula dan kadang terdapat stomata,
sistem jaringan dasar berupa korteksdan empulur, dan sistem berkas pembuluh yang terdiri atas
xylem dan floem. Xylem dan floem tersusun berbeda pada kedua kelas tumbuhan tersebut.
Xylem dan floem tersusun melingkar pada tumbuhan dikotil dan tersebar pada tumbuhan
monokotil.

3. Struktur Anatomi Daun

Daun tumbuhan tersusun atas epidermis yang berkutikula dan terdapat stomata dan trikoma.
Sistem jaringan dasar pada daun monokotil dan dikotil dapat dibedakan. Pada tumbuhan dikotil
sistem jaringan dasar (mesofil) dapat dibedakan atas jaringan pagar dan bunga karang., tidak
demikian halnya pada monokotil khususnya famili graminae. Sistem berkas pebuluh terdiri atas
xylem dan floem yang terdapat pada tulang daun.

D. REPRODUKSI TUMBUHAN ANGIOSPERMAE

1. Reproduksi Seksual (Generatif)

a. Perkembangan Gamet Jantan dan Betina

Tumbuhan dalam siklus hidupnya mengalami pergantian generasi haploid (n) dengan
generasi diploid (2n). Akar, batang daun dan sebagian besar struktur reproduktif tanaman
angiospermae dan gymnospermae lainnya bersifat diploid. Tubuh tumbuhan yang bersifat diploid
dikenal dengan sebutan sporofit. Pada angiospermae sporofit menghasilkan struktur khusus
berupa anter (kotak sari) dan ovule (bakal biji) yang sel-selnya akan mengalami meiosis. Anter
(kotak sari) pada umumnya terdiri atas 4 kantong polen (serbuk sari) yang masing-masing berupa
ruangan memanjang. Pada awal perkembangan anter (kotak sari) mampu berkembang dan
disebut dengan mikrosporofil. Mikrosporofil mengalami pembelahan meiosis, setiap sel
menghasilkan 4 sel haploid yang disebut mikrospora. Selanjutnya mikrospora mengalami
pembelahan meiosis sehingga terbentuk 2 sel yaitu sel tabung dan sel generatif yang berukuran
lebuh kecil.

Kedua sel yang berdampingan tersebut diselubungi oleh lapisan yang tebal dalam suatu
struktur butiran yaitu butir serbuk sari (polen). Bila serbuk sari telah masak, dinding antar (kotak
sari) membuka dan menebarkan butir-butir serbuk sari tersebut. Pada tumbuhan angiospermae
butir serbuk sari berfungsi sebagai gametofit jantan yang menghasilkan gamet jantan yaitu sel-sel
sperma.

Gamet betina berkembang di dalam suatu struktur di sebelah dalam ovari disebut ovul
(bakal biji). Ovul memiliki 1 atau 2 lapis jaringan pelindung yang disebut integumen. Pada
12
bagian ujung ovul, integumen tidak menyambung mengakibatkan terbentuk celah kecil yang
disebut mikropil.

Pada awal perkembangan ovul ini satu sel dalam dinding ovul yang disebut megasporofit
membesar sebagai persiapan pembelahan meiosis. Megasporofit tertanam pada jaringan yang
disebu nuselus. Megasporofit mengalami pembelahan meiosis menghasilkan empat sel yang
berderet: sel-sel ini bersifat haploid dan disebut megaspore. Tiga sel yang dekat dengan mikrofil
mengecil, sedangkan sel yang terjauh dari mikrofil membesar dan kemudian akan berkembang
menjadi kantung embrio, setelah mengalami 3 tahap pembelahan meiosis. Perkembangan
megaspore membentuk kantung embrio melalui beberapa tahap yaitu:

1. Megaspore mengalami 3 kali pembelahan meiosis menghasilkan sebuah kantung embrio


dengan 8 inti.

2. Inti-inti bermigrasi.

3. Terbentuk dinding sel yang menyelubungi inti.

Pada akhir proses tersebut sebuah sel telur dan dua sel sinergid berada pada kantung embrio
yang terdekat dengan mikropil. Dua inti bermigrasi berada pada bagian tengah kantung embrio
disebut inti kutub. Tiga inti berada pada ujung lain kantung embrio bersebrangan dengan
mikropil, membentuk 3 sel antipodal. Kantung embrio merupakan fase gametofit dalam siklus
hidup tumbuhan berbunga, karena intinya bersifat haploid.

b. Pembuahan Ganda pada Angiosperma

Tahap awal yang mendahului proses pembuahan adalah penyerbukan (polinasi), yaitu
pengantaran butir serbuk sari ke kepala putik. Sebagian besar tumbuhan angiospermae
mengandalkan bantuan hewan, serangga, burung atau kelelawar dalam proses penyerbukan.
Namun beberapa tumbuhan seperti rumput-rumputan melakukan penyerbukan dengan bantuan
angin. Setelah penyerbukan, butir serbuk sari yang menempel pada stigma berkecambah
membentuk tabung serbuk sari.

Sel tabung bergerak ke tabung serbuk sari yang menuju bakal buah (ovari). Sementara itu
sel gametofit membelah secara mitosis enghasilkan 2 sel sperma. Saat tabung polen (serbuk sari)
mencapai ovul (bakal biji), ujung tabung menembus kantung embrio melalui mikropil, dan
melepaskan ke 2 sel sperma. Satu sel sperma membuahi sel telur membentuk zigot yang bersifat
diploid (2n), sedangkan sel sperma lainnya membuahi 2 ini kutub sehingga terbentuk sel triploid
(3n). sel ini akan membelah membentuk jaringan penyimpan cadangan makanan yang disebut
endosperm. Selanjutnya endosperm akan menyediakan makanan bagi embrio yang berkembang
dari zigot. Dua peristiwa fusi yang terjadi antar sel sperma dengan sel telur dan sel sperma
13
dengan sel kutub inilah yang dikenal dengan pembuahan ganda pa angiospermae. Sel antipoda
serta sinergid biasanya mengalami degenerasi. Proses pembuahan selanjutnya akan diikuti
dengan perkembangan buah dan biji.

2. Reproduksi Aseksual (Vegetatif)

a. Reproduksi Vegetatif Alami

Bila biji ditanam, tumbuhan yang diperoleh bias jadi memiliki sifat-sifat yang berbeda dari
induknya. Pada proses pebentukan buah dan biji, pollen dari suatu tumbuhan membuai bunga
dari tumbuhan lain, tumbuhan membawa karakter dari kedua tetuanya serta memunculkan
kombinasi karakter yang beragam pada generasi berikutnya. Hal ini berbeda dengan fenomena
yang terjadi pada reproduksi aseksual.

Reproduksi aseksual sering juga disebut dengan reproduksi vegetatif., merupakan tipe
reproduksi yang lazim pada tumbuhan. Reproduksi vegetaif meliputu fragmentasi yaitu
pemisahan bagian tubuh tumbuhan yang diikuti dengan regenerasi membentuk individu utuh.
Umbi bawang putih sesungguhnya merupakan batang di bawah tanah yang berfungsi sebagai
penyimpanan cadangan makanan. Sebuah umbi yang besar terdiri atas bagian-bagian yang
disebut siung (clove). Setiap siung bawang dapat tumbuh menjadi satu individu. Adapun
selubung berwarna putih pada umbi tersebut sebenarnya adalah daun-daun yang memprl pada
batang.

Reproduksi aseksual memiliki beberapa keuntungan. Tumbuhan tertua yang telah mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat membentuk klon yang terdiri dari indiidu-
individu yang merupakan kembaran dari dirinya. Pada masa-masa awal kehidupannyaketurunan
vegetatif yang merupakan fragmen dewasa yang berasal dari tetuanya tidak terlalu beresiko
menghadapi kondisi lingkungan dibandingkan dengan tumbuhan yang berasal dari kecambah.
Reproduksi seksual serta seksual memiliki peranan yang penting dalam evolusi adaptasi
tumbuhan terhadap lingkungan.

b. Reproduksi Vegetatif Buatan

Kemampuan tumbuhan melakukan reproduksi vegetatif telah lama dimanfaatkan


manusia. Cara perbanyakan vegetatif buatan yang paling banyak dilakukan adalah melalui stek,
menurut organ yang digunakan dikenal stek batang, stek akar dan stek daun. Stek batang
merupakan cara paling lazim digunakan, biasa dilakukan terhadap jenis-jenis pohon dan semak.
Stek akar sering dilakukan pada perbanyakan tanaman sukun. Stek daun banyak dilakukan pada
beberpa tanaman hias derupa herba seperti African violet, Begonia, Peperomia serta beberapa
tumbuhan lain yang berdaun tebal.

Selain akar dan batang biasa, modifikasi dari ke dua bagian ini seperti rhizome dan umbi
yang mengandung sekurang-kurangnya 1 mata tunas dapat berkembang menjadi tumbuhan.

14
Tumbuhan baru juga dapat dipeoleh dengan memotong stolon pada tanaman seperti strawberry,
sehingga anakan terpisah dari induknya.

E. Manfaat Angiospermae

Angiosperma telah melayani berbagai macam kegunaan untuk hewan dan manusia sama
selama bertahun-tahun. Tanaman berbunga adalah sumber utama oksigen di planet ini, dan
mereka adalah sumber utama makanan bagi sebagian besar kehidupan di Bumi. Banyak
angiosperma memiliki sifat obat, dapat digunakan untuk membuat pakaian, kayu dan barang-
barang lain. Beberapa tanaman berbunga juga dibudidayakan ketat untuk item dekorasi di kebun
atau memotong karangan bunga.

Tumbuhan Angiospermae dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan manusia,


antara lain sebagai makanan pokok (padi, jagung, ubi jalar, singkong), bahan sayuran (bayam,
katuk, labu siam, kacang panjang), dan bahan obat-obatan (kina, jahe, kunyit, sambiloto, adas).
Namun demikian, ada pula tumbuhan Angiospermae yang merugikan, misalnya rumput yang
tumbuh liar dapat mengganggu pertumbuhan tanaman budidaya pertanian.

BAB III

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Tumbuhan angiospermae merupakan tumbuhan berbiji tertutup, dan merupakan


tumbuhan dengan Golongan tumbuhan Angioipermae disebut juga tumbuhan berbunga dan
masuk ke dalam divisi Magnoliophyta. Angiospermae dianggap sebagai golongan tumbuhan
dengan tingkat perkembangan yang tertinggi.

Angiospermae dibedakan ke dalam dua kelas berdasarkan jumlah kotiledonnya, yakni monokotil
dan dikotil.

Tumbuhan Angiospermae memiliki ciri morfologi yaitu tubuh tumbuhan terdiri dari akar dan
tajuk yang saling bergantung satu sama lain.

Tumbuhan angiospermae bereproduksi dengan dua cara, dengan cara seksual(generative)


dan aseksual(vegetative). Reproduksi aseksual pada angiospermae dikelompokkan mmenjadi
dua, yaitu reproduksi vegetative alami dan buatan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Andriyani,imuth.blogspot.com/.../perbedaan-tanaman-monokotil-dan-dikotil.html.

Anonomus. Angiospermae dan gimnospermae.

Tjitrosoepomo,gembong.2003. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta. Gajah Mada University


Press.

Tjitrosoepomo,gembong.2002. Taksonami Tumbuhan. Yogyakarta. Gajah Mada University


Press.

16