Anda di halaman 1dari 27

My Blog SAMPLE PAGE

PENGEMBANGAN Search...

SISTEM INFORMASI
 October 23, 2018  by MARINI KHALISHAH
KHANSA  Leave a comment Recent Posts

Sistem informasi mempunyai peranan yang BLOG DAN


SISTEM DATABASE
sangat penting, semakin pesat perkembangan
PENGENALAN E-
suatu perusahaan maka sistem informasinya juga
LEARNING
mempunyai peranan yang semakin penting.
Tuntutan keberadaan sistem informasi yang TELEKOMUNIKASI,
semakin baik adalah akibat adanya tuntutan INTERNET, DAN
perkembangan perusahaan, perkembangan TEKNOLOGI
teknologi, kebijakan pemerintah, perubahan NIRKABEL
prosedur serta tuntutan kebutuhan informasi. SISTEM
Adapun pengertian pengembangan sistem PENGAMBILAN
informasi, adalah: KEPUTUSAN
IMPLIKASI ETIS
1. Kumpulan kegiatan para analisis sistem, DARI TEKNOLOGI
perancang dan pemakai yang INFORMASI
mengembangkan dan mengimplementasikan
sistem informasi
2. Tahapan kegiatan yang dilakukan selama
Recent Comments
pembangunan sistem informasi
3. Proses merencanakan, mengembangkan
dan mengembangkan dan
mengimplementasikan sistem informasi dan Archives
mmenggunakan metode, teknik dan alat December 2018
bantu pengembangan tertentu. November 2018
October 2018
Pengembangan Sistem Informasi perlu dilakukan, September 2018
hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal:

– Adanya permasalahan-permasalahan
(problems) yang timbul di sistem yang lama. Categories

– Untuk meraih kesempatan-kesempatan Uncategorized


– Adanya instruksi dari pimpinan/ adanya
peraturan pemerintah

Pengembangan sistem informasi dilakukan Meta


melalui beberapa tahap, dimana masing-masing
langkah menghasilkan suatu yang lebih rinci dari Log in
Entries RSS
tahap sebelumnya. Tahap awal dari
Comments RSS
pengembangan sistem umumnya dimulai dengan
WordPress.org
mendeskripsikan kebutuhan pengguna dari sisi
pendekatan sistem rencana stratejik yang
bersifat makro, diikuti dengan penjabaran
rencana stratejik dan kebutuhan organisasi
jangka menengah dan jangka panjang, lazimnya
untuk periode 3(tiga) sampai 5 (lima) tahun.

1. METODE PENGEMBANGAN SISTEM


INFORMASI

Pengembangan sistem informasi adalah


Pengembangan sistem Informasi sering disebut
sebagai proses pengembangan sistem (system
development).

Pengembangan sistem informasi dide nisikan


sebagai aktivitas untuk menghasilkan sistem
informasi bebrbasis computer untuk
menyelesaikan persoalan organisasi atau
memanfaatkan kesempatan (oppurtinities) yang
timbul.

DEFINISI (LANJUTAN)
Sebenarnya untuk  menghasilkan sistem
informasi tersebut terdiri dari :

1. System analisis : upaya mendapatkan


gambaran bagaimana sistem bekerja dan
masalah-masalah apa saja yang ada pada
sistem.

b.System development adalah langkah-langkah


mengembangkan sistem informasi yang baru
berdasarkan gambaran cara kerja sistem dan
permasalahan yang ada

1. METODOLOGI PENGEMBANGAN SYSTEM

            Metodologi pengembangan system adalah


suatu proses pengembangan sistem yang formal
dan persisi yanf mende nisikan serangkaian
aktivitas, metode, best practices, dan tool yg
terautomatisi bagi para pengembang manager
pproyekk dalam rangka mengembangkan dan
merawat sebagian besar atau keseluruhan sistem
informasi atau software >whitten, 2001

MENGAPA PERLU ADANYA PENGEMBANGAN


SYSTEM INFORMASI??

1. Menjamin adanya konsistensi proses


2. Dapat diterapkan dalam berbagai jenis
proyek
3. Mengurangi resiko kesalahan dan
pengambilan jalan pintas
4. Menuntut adanya dokumentasi yang
konsisiten yang harus bermanfaat bagi
personal baru dalam tim proyek.

Pada prinsipnya metodologi dapat dikembangkan


sendiri, bisa juga menggunakan metodologi yang
sudah teruji penerapannya.

 
 

PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN


SYSTEM INFORMASI

Ada beberapa prinsip yang mempengaruhi


pengembanfgan system informasi, yaitu sebagai
berikut :

1. Prinsip 1

Pemilik dan pengguna sistem harus terlibat dalam


pengembangan

– Keterlibatan pemilik pengguna sistem (system


owner dan user) adlah keharusan yang mutlak
untuk keberhasilan pengembangan sistem.

-Pengembangan sistem bertanggung jawab harus


menyediakan waktu yang cukup untuk partisipasi
pemilik dan pengguna sistem dan meminta
persetujuannya untuk setiap langkah analisis dan
pengembangan sistem.

1. Prinsip 2

Gunakan pendekatan pemecahan masalah

-Metodologi yang digunakan dalam


pengembangan sistem berbasis pendekartan
bagaimana memecahkan masalah.

-Langkah-langkah klasik pemecahan masalah


adalah sebagai berikut :

Pelajari dan memahami masalah (


opportunity, atau directive) dan kontak
saham.
De nisikan criteria atau ukuran solusi yg
sesuai
Identi kasi alternative – alternative
solusi dan pilih solusi terbaik
Desain atau implementasikan solusi
Observasi dan evaluasi dampak dari solusi
dan sesuaikan solusi jika diperlukan
Ada kecenderungan untuk melewati
langka-langkah tersebut diatas atau
melakukannya dengan kurang seksama
Akibat yang terjadi kemungkinan adalah :
memecahkan persoalan yang salah, kurang
tepat dalam memecahkan persoalan,
mengambil solusi yang salah sama sekali.

1. Prinsip 3

Tentukan tahapan pengembanfgan

-Pentahapan akan membuat proses


pengembangan yang menjadi aktivitas – aktivitas
yang lebih kecil lebih mudah dikelola dan
diselesaikan.

-Tahapan pembuatan sistem harus dilakukan


dengan urutan top-to-bottom.

1. Prinsip 4

Tetapkan standard untuk pengembangan dan


dokumentasi yang konsisten.

-Standard pengembangan sistem umumnya


menjelaskan tentang : aktivitas, tanggung jawab,
petunjuk dan kebutuhan pendokumentasian, dan
pemeriksaan kualitas.

– Kegagalan pengembangan sistem akibat tidak


tersedianya standard pendokumentasian
merupakan hal yang banyak dijumpai dalam
proyek ini.

1. Prinsip 5

Justi kasi sistem sebagai investasi

-Sistem informasi adalah sebuah investasi.

-Pada investasi harus ada yg diperhatikan.


 

1. Tahapan-tahapan Pengembangan Sistem


Informasi

1. Daur Hidup Pengembangan Sistem

Metode daur hidup ini terdiri dari beberapa


tahapan proses, yaitu: yaitu tahap perencanaan,
analisis, perancangan, penerapan, evaluasi,
penggunaan dan pemeliharaan.

2. Tahap perencanaan sistem informasi

Pada tahap ini, tim pembuat sistem mencoba


memahami permasalahan yang muncul dan
mende nisikannya secara rinci, kemudian
membentuk tujuan pembuatan sistem dan
mengidenti kasi kendala-kendalanya

Tahap ini menjadi sangat penting karena:

1. Permasalahan yang sebenarnya


dide nisikan dan diidenti kasi secara rinci.
2. Pembangunan SI harus diarahkan pada
peningkatan keunggulan kompetitf.
3. Perubahan aliran informasi akan terjadi
secara besar-besaran didalam organisasi.
4. Implementasi teknologi komputer akan
membawa dampak bagi tenaga kerja didalam
organisasi.

Peran manajemen dalam proses perencanaan

1. Memberi umpan balik dan membangun


kerjasama antarindividu dan siapa saja yang
terlibat baik langsung maupun tidak.
2. Manajer bertanggung jawab untuk
membuat kesanggupan guna menyusun
perencanaan SI berbasis komputer, dan jika
saat tiba, maka para pengelola harus siap
untuk mendukung implementasi rencana
tersebut.
3. Tahap analisis sistem informasi

Pada tahap ini tim pembuat sistem akan


menganalisis permasalahan lebih mendalam
dengan menyusun suatu studi kelayakan

Menurut Mc. Leod terdapat 6 dimensi kelayakan

1. Kelayakan teknis
2. Pengembalian Teknis
3. Pengembalian Non-ekonomis
4. Hukum dan Etika
5. Operasional
6. Jadwal

Faktor-faktor pemodelan SI

1. Kelayakan organisasi
2. Memilih kelompok bisnis
3. Melihat kemingkinan-kemungkinan
4. Tingkat kompetisi produk harus dapat
dideteksi dengan baik
5. Lingkungan operasional sistem
6. Sistem harga

4. Tahap perancangan sistem informasi

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam tahap


perancangan, antara lain:

1. Kebutuhan perusahaan.
2. Kebutuhan operator.
3. Kebutuhan pemakai.
4. Kebutuhan teknis.
5. Tahap penerapan sistem informasi

Tahap ini merupakan kegiatan untuk


mengimplementasikan rancangan yang telah
disusun agar dapat diwujudkan. Proses
implementasi untuk prosedur dalam teknologi
komputer akan menggunakan bahasa komputer
Realisasi sistem pada tahap penerapan ini
ditempuh dengan beberapa metode, antara lain:

1. Paket Aplikasi
2. Pengembangan oleh staf sendiri
3. Pengembangan yang dilakukan dengan
kerjasama yang dilakukan dari pihak luar

6. Tahap evaluasi

Pada tahap ini dilakukan uji coba sistem yang


telah selesai disusun.proses uji coba ini
diperlukan untuk memastikan bahwa sistem
tersebut sudah benar.Tahapan proses uji coba,
antara lain:

a.Mengecek alur sistem secara keseluruhan

b.Melakukan penelusuran pada sampel data

c.Pengecekan

7. Tahap penggunaan dan pemeliharaan

Pada tahap ini sistem telah diuji coba dan


dinyatakan lolos dapat mulai digunakan untuk
menangani prosedur bisnis yang sesungguhnya.

Pemeliharaan sistem secara rutin dapat meliputi


penataan ulang database, memback-up dan
scanning virus. Sementara itu pemeliharaan juga
termasuk melakukan penyesuaian-penyesuaian
untuk menjaga kemutakhiran sistem.

1. Model-Model Pengembangan Sistem

 
Secara prinsip metode pengembangan perangkat
lunak bertujuan untuk membantu menghasilkan
perangkat lunak yang berkualitas. Berikut
faktor-faktor yang perlu di cermati dalam
pengembangan perangkat lunak. Metode
pengembangan perangkat lunak (atau disebut
juga model proses atau paradigma rekayasa
perangkat lunak) adalah suatu strategi
pengembangan yang memadukan proses,
metode, dan perangkat (tools). Metode- metode
pengembangan perangkat lunak, memberikan
teknik untuk membangun perangkat lunak yang
berkaitan dengan serangkaian tugas yang luas
yang menyangkut analisis kebutuhan, konstruksi
program, desain, pengujian, dan pemeliharaan.
Pengembangan sistem dapat berarti menyusun
suatu sistem yang baru untuk menggantikan
sistem yang lama secara
keseluruhan/memperbaiki sistem yang telah ada.
Sistem yang lama perlu diperbaiki atau diganti
disebabkan karena beberapa hal, yaitu :

1. Adanya permasalahan-permasalahan
(problems) yang timbul di sistem yang lama.
2. Untuk meraih kesempatan-kesempatan
(opportunities).
3. Adanya instruksi-instruksi (directives).

Metode Pengembangan Perangkat Lunak

1. Model Waterfall

Waterfall merupakan salah satu metode dalam


SDLC yang mempunyai ciri khas pengerjaan
setiap fase dalam watefall harus diselesaikan
terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke fase
selanjutnya. Artinya fokus terhadap masing-
masing fase dapat dilakukan maksimal karena
tidak adanya pengerjaan yang sifatnya paralel.

Fase dalam Metode Waterfall


Tahapan tahapan dari metode waterfall adalah
sebagai berikut :

1. Requirement Analysis

Seluruh kebutuhan software harus bisa


didapatkan dalam faseini, termasuk didalamnya
kegunaan software yang diharapkan pengguna
dan batasan software. Informasi ini biasanya
dapat diperoleh melalui wawancara, survey atau
diskusi. Informasi tersebut dianalisis untuk
mendapatkan dokumentasi kebutuhan pengguna
untuk digunakan pada tahap selanjutnya.

2. System Design

Tahap ini dilakukan sebelum melakukan coding.


Tahap inibertujuan untuk memberikan gambaran
apa yang seharusnyadikerjakan dan bagaimana
tampilannya. Tahap ini membantu dalam
menspesi kasikan kebutuhan hardware dan
sistem sertamende nisikan arsitektur sistem
secara keseluruhan.

3. Implementation

Dalam tahap ini dilakukan pemrograman.


Pembuatan softwaredipecah menjadi modul-
modul kecil yang nantinya akan digabungkan
dalam tahap berikutnya. Selain itu dalam tahap
inijuga dilakukan pemeriksaaan terhadap modul
yang dibuat, apakahsudah memenuhi fungsi yang
diinginkan atau belum.

4. Integration & Testing

Di tahap ini dilakukan penggabungan modul-


modul yangsudah dibuat dan dilakukan pengujian
ini dilakukan untuk mengetahui apakah software
yang dibuat telah sesuai dengandesainnya dan
masih terdapat kesalahan atau tidak.

5. Operation & Maintenance

Ini merupakan tahap terakhir dalam model


waterfall. Softwareyang sudah jadi dijalankan
serta dilakukan pemeliharaan. Pemeliharaan
termasuk dalam memperbaiki kesalahan yang
tidakditemukan pada langkah sebelumnya.
Perbaikan implementasi unitsistem dan
peningkatan jasa sistem sebagai kebutuhan baru

Kapan sebaiknya model water fall digunakan?

Teori-teori menyimpulkan beberapa hal, yaitu:

1. Ketika semua persyaratan sudah dipahami


dengan baik di awal pengembangan.
2. De nisi produk stabil dan tidak ada
perubahan saat pengembangan untuk alasan
apapun seperti perubahan eksternal,
perubahan tujuan, perubahan anggaran atau
perubahan teknologi. Untuk itu, teknologi
yang digunakan pun harus sudah dipahami
dengan baik.
3. Menghasilkan produk baru, atau versi baru
dari produk yang sudah ada. Sebenarnya,
jika menghasilkan versi baru maka sudah
masuk incremental development, yang
setiap tahapnya sama dengan Waterfall
kemudian diulang-ulang.
4. Porting produk yang sudah ada ke dalam
platform

Dengan demikian, Waterfall dianggap pendekatan


yang lebih cocok digunakan untuk proyek
pembuatan sistem baru. Tetapi salah satu
kelemahan paling dasar adalah menyamakan
pengembangan perangkat keras dengan
perangkat lunak dengan meniadakan perubahan
saat pengembangan. Padahal, galat diketahui
saat perangkat lunak dijalankan, dan perubahan-
perubahan akan sering terjadi.

Contoh Penerapan Metode Waterfall

Implementasi waterfall pada sistem pendaftaran


siswa online di SMA 1 Bandung. Di SMA 1
Bandung, sebelumnya, pendaftaran/ registrasi
dilakukan secara tatap muka dating langsung ke
lingkungan sekolah. Sistem akan dibuat
menggunakan bahasa pemrograman PHP, dengan
basis data yang digunakan adalah MySQL yang
dilakukan di perangkat keras PC (personal
computer) dengan sistem operasi Microsoft
Windows XP, Linux, dan lain sebagainya, yang
digunakan untuk mempermudah siswa – siswi
yang ingin mendaftar pada suatu sekolah,
universitas, akademik tanpa harus ke suatu
sekolah yang ingin kita masuki.

Kelebihan metode waterfall

Proses menjadi lebih teratur, urutan


proses pengerjaan menggunakan metode ini
menjadi lebih teratur dari satu tahap ke
tahap yang selanjutnya.
Dari sisi user juga lebih menguntungkan
karena dapat merencanakan dan menyiapkan
seluruh kebutuhan data dan proses yang
akan dipperlukan.
Jadwal menjadi lebih menentu, jadwal
setiap proses dapat ditentukan secara pasti.
Sehingga dapat dilihat jelas target
penyelesaian pengembangan program.
Dengan adanya urutan yang pasti, dapat
dilihat pula progress untuk setiap tahap
secara pasti.

Kelemahan metode waterfall

 
Sifatnya kaku, sehingga susah melakukan
perubahan di tengah proses.
Jika terdapat kekuarangan proses atau
prosedur dari tahan sebelumnya, maka
tahapan pengembangan harus dilakukan
mulai dari awal. Hal ini akan memakan waktu
yang cukup lama. Karena jika proses
sebelumnya belum selesai sampai akhir,
maka proses selanjutnya juga tidak dapat
berjalan. Maka, jika terdapat kekuarangan
dalam permintaan user, proses
pengembangan harus dimulai dari awal.
Membutuhkan daftar kebutuhan yang
lengkap di awal, tapi jarang konsumen bisa
memberikan kebutuhan secara lengkap
diawal.
Untuk menghindari pengulangan tahap
dari awal, user harus memberikan seluruhh
prosedur, data dan laporan yang diinginkan
mulai dari tahap awal pengembangan. Tetapi
di banyak kondisi, user sering melakukan
permintaan si tahap pertengahan
pengembangan sistem.
Dengan metode ini, maka development
harus dilakukan mulai dari tahap awal.
Karena development disesuaikan dengan
design hassil user pada saat tahap awal
pengembangan

2. Model Prototipe

Proto type adalah suatu proses yang


memungkinkan developer membuat sebuah
model software,metode ini baik digunakan
apabila client tidak bisa memberikan informasi
yang maksimal mengenai kebutuhan yang
diinginkannya. Seringkali seorang customer sulit
menentukan input yang lebih terinci, proses yang
diinginkan dan output yang diharapkan hal
tersebut menyebabkan developer tidak yakin
dengan e siensi alogoritma yang di buatnya,
sehingga sulit dalam menyesuaikan sistem
operasi, serta interaksi manusia dan mesin yang
harus diambil. Dalam hal seperti ini, pendekatan
prototype untuk software engineering
merupakan langkah yang terbaik.

Secara ideal prototype berfungsi sebagai subuah


mekanisme untuk mengidentivikasi kebutuhan
software, bila prototype yang sedang bekerja
dibangun pengembangannya harus menggunakan
fragmen-fragmen program yang ada atau
mengaplikasikan alat-alat bantu (contohnya :
report generator, window manager dll) dimana
memungkinkan program yang bekerja untuk
dimunculkan secara cepat. Prototype dibedakan
menjadi 2, yaitu:

1. Paper Prototype, menggambarkan


interaksi manusia dan mesin dalam sebuah
bentuk yang memungkinkan user mengerti
bagaimana interaksi itu terjadi.
2. Working Prototype, adalah prototype
yang mengimplementasikan beberapa bagian
dari fungsi software yang diinginkan seperti
pada pendekatan pengembangan software.

Model ini dimulai dengan :

Pengumpulan kebutuhan developer dan


customer
Menentukan semua tujuan software

Tujuan Prototype

Prototyping model sendiri mempunyai tujuan


yaitu mengembangkan model awal software
menjadi sebuah sistem yang nal.
Proses Prototype

Proses-proses dalam model prototyping yaitu:

Komunikasi terlebih dahulu yang


dilakukan antara pelanggan dengan tim
pemgembang perangkat lunak mengenai
spesi kasi kebutuhan yang diinginkan.
Akan dilakukan perencanaan dan
pemodelan secara cepat berupa rancangan
cepat(quick design) dan kemudian akan
memulai konstruksi pembuatan prototype.
Prototipe kemudian akan diserahkan
kepada para stakeholder untuk dilakukan
evaluasi lebih lanjut sebelum diserahkan
kepada para pembuat software.
Pembuatan software sesuai dengan
prototype yang telah dievaluasi yang
kemudian akan diserahkan kepada pelanggan.
Jika belum memenuhi kebutuhan dari
pelanggan maka akan kembali ke proses awal
sampai dengan kebutuhan dari pelanggan
telah terpenuhi

Sedangkan proses-proses dalam model


prototyping secara umum adalah sebagai berikut:

1. Pengumpulan kebutuhan

developer dan klien akan bertemu terlebih dahulu


dan kemudian menentukan tujuan umum,
kebutuhan yang diketahui dan gambaran bagian-
bagian yang akan dibutuhkan berikutnya

2. Perancangan

perancangan dilakukan dengan cepat dan


rancangan tersebut mewakili semua aspek
software yang diketahui, dan rancangan ini
menjadi dasar pembuatan prototype

3. Evaluasi Prototype
klien akan mengevaluasi prototype yang dibuat
dan digunakan untuk memperjelas kebutuhan
software.

Tahapan-tahapan Prototype

Selain itu, untuk memodelkan sebuah perangkat


lunak dibutuhkan beberapa tahapan di dalam
proses pengembangannya. Tahapan inilah yang
akan menentukan keberhasilan dari sebuah
softwareitu .Pengembang perangkat lunak harus
memperhatikan tahapan dalam metode
prototyping agar software nalnya dapat
diterima oleh penggunanya. Dan tahapan-
tahapan dalam prototyping tersebut adalah
sebagai berikut :

1. Pengumpulan kebutuhan

Pelanggan dan pengembang bersama-sama


mende nisikan format dan kebutuhan
kesseluruhan perangkat lunak,
mengidenti kasikan semua kebutuhan, dan garis
besar sistem yang akan dibuat.

2. Membangun prototyping

Membangun prototyping dengan membuat


perancangan sementara yang berpusat pada
penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan
membuat input dan contoh outputnya).

3. Evaluasi protoptyping

Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah


prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai
dengan keinginan pelanggan. Jika sudah sesuai
maka langkah keempat akan diambil. Jika tidak,
maka prototyping diperbaiki dengan mengulang
langkah 1, 2 , dan 3.

4. Mengkodekan system
Dalam tahap ini prototyping yang sudah
disepakati diterjemahkan ke dalam bahasa
pemrograman yang sesuai.

5. Menguji system

Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat


lunak yang siap pakai, harus dites dahulu
sebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan
dengan White Box, Black Box, Basis Path,
pengujian arsitektur dan lain-lain.

6. Evaluasi Sistem

Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang


sudah jadi sudah sesuai dengan yang diharapkan .
Jika sudah, maka langkah ketujuh dilakukan, jika
belum maka mengulangi langkah 4 dan 5.

7. Menggunakan system

Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima


pelanggan siap untuk digunakan

Kelebihan prototyping

1. Komunikasi akan terjalin baik antara


pengembang dan pelanggan.
2. Pengembang dapat bekerja lebih baik
dalam menentukan kebutuhan setiap
pelanggannya.
3. Pelanggan berperan aktif dalam proses
pengembangan sistem.
4. Lebih menghemat waktu dalam
pengembangan sistem.
5. Penerapan menjadi lebih mudah karena
pemakai mengetahui apa yang
diharapkannya

Kelemahan prototyping
1. Pelanggan kadang tidak melihat atau
menyadari bahwa perangkat lunak yang ada
belum mencantumkan kualitas perangkat
lunak secara keseluruhan dan juga belum
memikirkan kemampuan pemeliharaan untuk
jangka waktu lama.
2. Pengembang biasanya ingin cepat
menyelesaikan proyek sehingga
menggunakan algoritma dan bahasa
pemrograman yang sederhana untuk
membuat prototyping lebih cepat selesai
tanpa memikirkan lebih lanjut bahwa
program tersebut hanya merupakan sebuah
kerangka kerja(blueprint) dari sistem .
3. Hubungan pelanggan dengan komputer
yang disediakan mungkin tidak
mencerminkan teknik perancangan yang baik
dan benar. Dalam setiap metode mempunyai
kelebihan maupun kekurangan, namun
kekurangan tersebut dapat diminimalisir
yaitu dengan mengetahui kunci dari model
prototype tersebut. Kunci agar model
prototype ini berhasil dengan baik adalah
dengan mende nisikan aturan-aturan main
pada saat awal, yaitu pelanggan dan
pengembang harus setuju bahwa prototype
dibangun untuk mende nisikan kebutuhan.
4. Model Rapid Application Development
(RAD)

Rapid Application Development (RAD) adalah


sebuah model proses perkembangan software
sekuensial linier yang menekankan siklus
perkembangan yang sangat pendek. Model RAD
ini merupakan sebuah adaptasi “kecepatan
tinggi” dari model sekuensial linier di mana
perkembangan cepat dicapai dengan
menggunakan pendekatan kontruksi berbasis
komponen. Jika kebutuhan dipahami dengan baik,
proses RAD memungkinkan tim pengembangan
menciptakan “sistem fungsional yang utuh”
dalam periode waktu yang sangat pendek (kira-
kira 60 sampai 90 hari). Karena dipakai terutama
pada aplikasi sistem konstruksi, pendekatan RAD
melingkupi fase – fase sebagai berikut :
bussiness modeling, data modeling, process
modeling, application generation dan testing and
turnover.

Model Pengembangan Sistem Informasi Berbasis


Web

1. Berikut adalah beberapa model


pengembangan informasi berbasis web,
yaitu :

Metode RAD (Rapid Application Development)

Merupakan metode pengembangan


sistem secara linear sequential yang
menekankan pada siklus pengembangan yang
sangat singkat.
Jika kebutuhan dipahami dengan baik,
proses RAD memungkinkan tim
pengembangan menciptakan “sistem
fungsional yang utuh” dalam periode waktu
yang sangat pendek (kira-kira 60-90 hari).
Pemakai sistem dapat mende nisikan
kebutuhan perangkat lunak dengan baik.
Pemakai sistem bersedia meluangkan
waktu yang cukup untuk berkomunikasi
intensif dengan pengembang sehubungan
dengan pengembangan perangkat lunak

Rapid Application Development adalah


seperangkat strategi yang terintegrasi yang ada
dalam suatu kerangka kerja meneyeluruh yang
disebut Information Engineering (IE).

ALASAN MEMILIH METODE RAD

Di dalam memilih metode RAD harus


memperhatikan alasan-alasan berikut ini:
1. Alasan yang Buruk

Apabila menggunakan RAD hanya untuk


menghemat biaya pengembangan suatu
sistem. Hal ini disebabkan karena dengan
menggunakan metode RAD membutuhkan
suatu tim yang mengerti betul

mengenai manajemen biaya. Sebab bila tidak,


maka biaya yang dikeluarkan akan menjadi lebih
besar.

Apabila menggunakan RAD hanya untuk


menghemat waktu pengembangan suatu
sistem. Hal ini disebabkan karena dengan
menggunakan metode RAD membutuhkan
suatu tim yang mengerti betul mengenai
manajemen waktu. Sebab bila tidak maka
waktu yang dibutuhkan akan menjadi lebih
lama.

2. Alasan yang Baik

Apabila menggunakan RAD untuk


mendapatkan suatu desain yang dapat
diterima oleh konsumen dan dapat
dikembangkan dengan mudah.
Apabila menggunakan RAD untuk
memberikan batasan-batasan pada suatu
system supaya tidak mengalami perubahan.
Apabila menggunakan RAD untuk
menghemat waktu, dan kalau memungkinkan
bisa menghemat biaya serta menghasilkan
produk yang berkualitas.

Karena dipakai terutama pada aplikasi sistem


konstruksi, pendekatan RAD melingkupi fase –
fase sebagai berikut :

 
1. Bussiness modeling

Aliran informasi di antara fungsi – fungsi bisnis


dimodelkan dengan suatu cara untuk menjawab
pertanyaan – pertanyaan berikut : informasi apa
yang mengendalikan proses bisnis? Informasi apa
yang di munculkan? Siapa yang memunculkanya?
Ke mana informasi itu pergi? Siapa yang
memprosesnya?

2. Data modeling

Aliran informasi yang dide nisikan sebagai


bagian dari fase bussiness modelling disaring ke
dalam serangkaian objek data yang dibutuhkan
untuk menopang bisnis tersebut. Karakteristik
(disebut atribut) masing – masing objek
diidenti kasi dan hubungan antara objek – objek
tersebut dide nisikan.

3. Prosess modelling

Aliran informasi yang dide nisikan di dalam fase


data modeling ditransformasikan untuk mencapai
aliran informasi yang perlu bagi implementasi
sebuah fungsi bisnis. Gambaran pemrosesan
diciptakan untuk menambah, memodi kasi,
menghapus, atau mendapatkan kembali sebuah
objek data.

4. Aplication generation

RAD mengasumsikan pemakaian teknik generasi


ke empat. Selain menciptakan perangkat lunak
dengan menggunakan bahasa pemrograman
generasi ketiga yang konvensional, RAD lebih
banyak memproses kerja untuk memkai lagi
komponen program yang ada ( pada saat
memungkinkan) atau menciptakan komponen
yang bisa dipakai lagi (bila perlu). Pada semua
kasus, alat – alat bantu otomatis dipakai untuk
memfasilitasi konstruksi perangkat lunak.
5. Testing and turnover

Karena proses RAD menekankan pada pemakaian


kembali, banyak komponen program telah diuji.
Hal ini mengurangi keseluruhan waktu pengujian.
Tetapi komponen baru harus di uji dan semua
interface harus dilatih secara penuh.

Kelebihan RAD

Beberapa keuntungan dalam menggunakan


metode RAD adalah sebagai berikut:

Membeli sistem yang baru memungkinkan


untuk lebih menghemat biaya ketimbang
mengembangkan sendiri.
Proses pengiriman menjadi lebih mudah,
hal ini dikarenakan proses pembuatan lebih
banyak menggunakan potongan-potongan
script.
Mudah untuk diamati karena
menggunakan model prototype, sehingga
user lebih mengerti akan sistem yang
dikembangkan.
Lebih eksibel karena pengembang dapat
melakukan proses desain ulang pada saat
yang bersamaan.
Bisa mengurangi penulisan kode yang
kompleks karena menggunakan wizard.
Keterlibatan user semakin meningkat
karena merupakan bagian dari tim secara
keseluruhan.
Mampu meminimalkan kesalahan-
kesalahan dengan menggunakan alat-alat
bantuan (CASE tools).
Mempercepat waktu pengembangan
sistem secara keseluruhan karena cenderung
mengabaikan kualitas.
Tampilan yang lebih standar dan nyaman
dengan bantuan software-software
pendukung.

Kelemahan RAD

Beberapa kerugian dalam menggunakan metode


RAD adalah sebagai berikut :

Dengan melakukan pembelian belum


tentu bisa menghemat biaya dibanding-

kan dengan mengembangkan sendiri.

Membutuhkan biaya tersendiri untuk


membeli peralatan-peralatan penunjang
seperti misalnya software dan hardware.
Kesulitan melakukan pengukuran
mengenai kemajuan proses.
Kurang e sien karena apabila melakukan
pengkodean dengan menggunakan tangan
bisa lebih e sien.
Ketelitian menjadi berkurang karena tidak
menggunakan metode yang formal

dalam melakukan pengkodean.

Lebih banyak terjadi kesalahan apabila


hanya mengutamakan kecepatan diban-

dingkan dengan biaya dan kualitas.

Fasilitas-fasilitas banyak yang dikurangi


karena terbatasnya waktu yang tersedia.
Sistem sulit diaplikasikan di tempat yang
lain.
Fasilitas yang tidak perlu terkadang harus
disertakan, karena menggunakan komponen
yang sudah jadi, sehingga hal ini membuat
biaya semakin meningkat.

4. Model Spiral
Spiral Model merupakan penggabungan ide
pengembangan berulang (prototyping ) dengan,
aspek sistematis terkendali model air terjun (
waterfall). Model spiral juga secara eksplisit
meliputi manajemen resiko dalam pengembangan
perangkat lunak. Mengidenti kasi risiko utama,
baik teknis maupun manajerial, dan menentukan
bagaimana untuk mengurangi risiko membantu
menjaga proses pengembangan perangkat lunak
di bawah kontrol .

Spiral model dibagi menjadi beberapa framework


aktivitas, yang disebut dengan task regions.
Kebanyakan aktivitas-aktivitas tersebut dibagi
antara 3 sampai 6 aktivitas. Berikut adalah
aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam spiral
model:

1. Customer communication .

Aktivitas yang dibutuhkan untuk membangun


komunikasi yang efektif antara developer dengan
user / customer terutama mengenai kebutuhan
dari customer.

2. Planning .

Aktivitas perencanaan ini dibutuhkan untuk


menentukan sumberdaya, perkiraan waktu
pengerjaan, dan informasi lainnya yang
dibutuhkan untuk pengembangan software.

3. Analysis risk .

Aktivitas analisis resiko ini dijalankan untuk


menganalisis baik resiko secara teknikal maupun
secara manajerial. Tahap inilah yang mungkin
tidak ada pada model proses yang juga
menggunakan metode iterasi, tetapi hanya
dilakukan pada spiral model.
4. Engineering .

Aktivitas yang dibutuhkan untuk membangun 1


atau lebih representasi dari aplikasi secara
teknikal.

5. Construction & Release .

Aktivitas yang dibutuhkan untuk develop


software, testing, instalasi dan penyediaan user
/ costumer support seperti training penggunaan
software serta dokumentasi seperti buku manual
penggunaan software.

6. Customer evaluation .

Aktivitas yang dibutuhkan untuk mendapatkan


feedback dari user / customer berdasarkan
evaluasi mereka selama representasi software
pada tahap engineering maupun pada
implementasi selama instalasi software pada
tahap construction and release.

Adapun kelebihan dan kekurangan dari model


spiral sebagai berikut:

Kelebihan model Spiral :

1. Dapat disesuaikan agar perangkat lunak


bisa dipakai selama hidup perangkat lunak
komputer.
2. Lebih cocok untuk pengembangan sistem
dan perangkat lunak skala besar.
3. Pengembang dan pemakai dapat lebih
mudah memahami dan bereaksi terhadap
resiko setiap tingkat evolusi karena
perangkat lunak terus bekerja selama proses
.
4. Menggunakan prototipe sebagai
mekanisme pengurangan resiko dan pada
setiap keadaan di dalam evolusi produk.
5. Tetap mengikuti langkah-langkah dalam
siklus kehidupan klasik dan memasukkannya
ke dalam kerangka kerja iteratif .
6. Membutuhkan pertimbangan langsung
terhadp resiko teknis sehingga mengurangi
resiko sebelum menjadi permaslahan yang
serius.

Kelemahan model Spiral :

1. Sulit untuk menyakinkan pelanggan bahwa


pendekatan evolusioner ini bisa dikontrol.
2. Memerlukan penaksiran resiko yang
masuk akal dan akan menjadi masalah yang
serius jika resiko mayor tidak ditemukan dan
diatur.
3. Butuh waktu lama untuk menerapkan
paradigma ini menuju kepastian yang absolut

DAFTAR PUSTAKA

Putra, Yananto Mihadi. (2018). Pengembangan


Sistem Informasi. Modul Kuliah Sistem Informasi
Manajemen.  FEB – Universitas Mercu Buana:
Jakarta.

Sidik, Rahman, 2016.


https://goindoti.blogspot.com/2016/08/pengem
bangan-sistem-informasi.html

Jiwanda, Derry. 2013.


http://derryj.blogspot.com/2013/03/pengemban
gan-sistem-informasi.html

Jayana, Rapi, 2017.


http://jayanarapi.blogspot.com/2017/05/model-
model-pengembangan-sistem.html

 Uncategorized
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.

zeeNoble Theme