Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Indonesia kemiskinan merupakan masalah utama dan paling mendasar yang setiap
harinya menjadi perhatian utama bagi pemerintah. Apalagi di Indonesia masih memiliki
masalah yang cukup pelik dalam pemberantasan kemiskinan, tentu saja bukan hanya
Indonesia saja yang memiliki masalah semacam ini, banyak negara yang juga berkutat
dengan masalah kemiskinan, bahkan lebih parah dari Indonesia. Bagi Indonesia yang
merupakan salah satu negara berkembang yang ada di ASEAN masalah kemiskinan
bukan merupakan hal yang baru. Hampir semua periode pemerintahan yang ada di
Indonesia menempatkan masalah kemiskinan menjadi isu pembangunan. Efektivitas
dalam menurunkan jumlah penduduk miskin merupakan pertumbuhan utama dalam
memilih strategi atau instrumen pembangunan. Masalah kemiskinan ini sangatlah
kompleks dan bersifat multidimensional, dimana berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi,
budaya, dan aspek lainnya. Kemiskinan terus menjadi masalah fenomenal di belahan
dunia, khususnya Indonesia yang merupakan Negara berkembang. Kemiskinan telah
membuat jutaan anak tidak bisa mengenyam pendidikan, kesulitan membiayai kesehatan,
kurangnya tabungan dan investasi, dan masalah lain yang menjurus ke arah tindakan
kekerasan dan kejahatan.Setiap negara memiliki anggota masyarakat yang berada di
bawah garis kemiskinan, tentunya di setiap negara permasalahan kemiskinan ini telah
menjadi masalah yang global. Kemiskinan dapat dilihat sebagai kondisi kolektif
masyarakat miskin, atau kelompok orang-orang miskin, dan dalam pengertian ini
keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin. Untuk menghindari stigma ini,
negara-negara ini biasanya disebut sebagai negara berkembang.

Penyebab kemiskinan begitu beragam dalam berbagai negara. Bahkan masalah


kemiskinan seperti ketersediaan kebutuhan pokok merupakan faktor yang sangat krusial
yang dapat menjatuhkan sebuah pemerintahan, Oleh karena itu, wajib hukumnya untuk
mengetahui dan mempelajari lagi tentang pemasalahan kemiskinan ini. Hal ini juga
biasanya ditentukan oleh pemerintah melalui penetapan garis kemiskinan yang
ditentukan dengan ekonomi. Karena tingkat kesejahteraan masayarakat ditentukan oleh
kebijakan ekonomi pemerintah. Jadi kemiskinan bisa juga disebabkan oleh gagalnya
perkembangan ekonomi yang direncanakan pemerintah.

1
Kebutuhan khusus pada masalah ekonomi yang meliputi kemiskinan salah satunya
adalah karena adanya pertemuan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas
seperti produksi, distribusi, dan konsumsi. Namun, seiring dengan berjalannya waktu,
masalah yang timbul pun terus bergeser, hingga munculah sebuah sebutan masalah
ekonomi modern. Di mana, masalah ini dianut oleh para ahli yang mengikuti aliran modern.

Banyak anak banyak rezeki adalah pepatah yang sangat terkenal pada zaman orang tua
dan nenek kakek kita dulu, bahkan sampai sekarang. Itulah kenapa generasi nenek kakek
kita memiliki banyak anak hingga mencapai belasan anak dalam satu keluarga, dan inilah
salah satu alasan mengapa sejak dulu pemerintah melalui BKKBN, gencar
mengkampanyekan sogan “ Dua Anak Cukup “ dan semacamnya untuk mengimbangi
motivasi yang muncul akibat ada pepatah banyak anak banyak rezeki.

Kebutuhan khusus pada masalah ekonomi yang meliputi anak banyak erat kaitannya
dengan beberapa hal seperti penghasilan, pendidikan, kesehatan dan masih banyak hal
lainnya, dalam hal penghasilan apabila tidak mencukupi maka masalah pendidikan dan
kesehatan tidak akan terpenuhi dan akan terabaikan. Bahkan untuk kasih sayang pun
tidak akan didapatkan oleh anak – anak karena kesibukan orang tua dan keluarga dalam
mencari nafkah.

Data yang ada di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2018,
angka ibu melahirkan masih 2,38. Artinya, rata-rata setiap ibu di Indonesia melahirkan tiga
anak. Faktanya 1 orang ibu ada yang memiliki 10 orang anak. Selama ini dalam
masyarakat terpatri kepercayaan, banyak anak banyak rezeki. Benar atau tidak
tergantung kepercayaan masing-masing individu. Anak sendiri merupakan sebuah bentuk
rezeki, Dalam agama Islam sendiri ada hal lain tentang memiliki anak dalam hadits,
"Apabila manusia itu telah mati maka terputuslah dari semua amalnya kecuali tiga perkara
yaitu Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih. Alasan inilah yang dipakai
sebagian orang, dengan memiliki banyak anak, berharap peluang anak yang sholeh-
sholehah semakin banyak.

B. Rumusan Masalah
1. Mengetahui tentang pengaruh kemiskinan di Indonesia
2. Mengetahui tentang pengeruh budaya banyak anak di Indonesia

2
C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengaruh kemiskinan dan budaya banyak anak terhadap masalah
ekonomi di Indonesia

D. Manfaat Penulisan
Diharapkan dapat menjadi tambahan referensi infomasi dan wawasan tambahan terhadap
masalah ekonomi di Indonesia

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Kemiskinan
1. Definisi
Secara umum, kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi saat seseorang atau
sekelompok orang tak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan
dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat (Syawie, 2011).

Sedangkan menurut ideologi konservatif yang berakar pada kapitalisme dan


liberalism abad ke-19. Umumnya kaum konservatif melihat masalah kemiskinan
sebagai kesalahan pada orang miskin sendiri. Mereka cenderung menilai positif
struktur sosial yang sudah ada, maka orang-orang yang miskin dianggap sebagai
orang yang gagal menyesuaikan diri dalam tata sosial yang ada atau bahkan
menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang diharapkan dan yang sudah disetujui
masyarakat. Kaum konservatif senang menyebarluaskan contoh-contoh orang yang
berhasil naik jenjang. Kaum konservatif tidak memandang kemiskinan sebagai
masalah yang serius dan percaya bahwa kemiskinan akan terselesaikan dengan
sendirinya (Wijaya, 2015).

Prinsip kemiskinan yang melihat kepada ukuran melalui pendapatan dan kekayaan
adalah salah satu daripada petunjuk kemiskinan, dan ukuran ini harus diperbaiki
kerana dimensi kemiskinan turut merangkumkan sebab akibat yang jauh lebih besar
impaknya. Pengukuran berdasarkan keupayaan dan keperluan yang mencukupi
mengundang agar usaha membasmi kemiskinan dilihat dalam konteks perbandingan
atau kemiskinan relatif. Pengukuran mengikut kemiskinan relatif bermakna ukuran
keupayaan dan keperluan mencukupi mendorong usaha memperbaiki keadaan hidup
golongan manusia yang relatifnya miskin walaupun dalam masyarakat yang berada
(Khalid, 2016).

Menurut pendapat para ahli dan tokoh mengenai definisi kemiskinan, diantaranya
adalah:
a. Hall dan Miidgley
Menurut Hall dan Midgley pengertian kemiskinan adalah kondisi deprivasi materi
dan sosial yang menyebabkan individu hidup di bawah standar kehidupan yang

4
layak, atau kondisi di mana individu mengalami deprivasi relatif dibandingkan
dengan individu yang lainnya dalam masyarakat.
b. Faturachman dan Marcelinus Molo
Menurut Faturachman dan Marcelinus Molo, pengertian kemiskinan adalah
ketidakmampuan seseorang atau beberapa orang (rumah tangga) untuk
memenuhi kebutuhan dasarnya.
c. Reitsma dan Kleinpenning
Menurut Reitsma dan Kleinpenning pengertian kemiskinan adalah
ketidakmampuan individu untuk memenuhi kebutuhannya, baik yang bersifat
material maupun non-material.
d. Suparlan
Menurut Suparlan arti kemiskinan adalah standar tingkat hidup yang rendah
karena kekurangan materi pada sejumlah atau golongan orang bila
dibandingkan dengan standar kehidupan yang berlaku di masyarakat sekitarnya.
e. Friedman
Menurut Friedman pengertian kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan
untuk memformulasikan kekuasaan sosial berupa asset, sumber keuangan,
organisasi sosial politik, jaringan sosial, barang atau jasa, pengetahuan dan
keterampilan, serta informasi.
f. Levitan
Menurut Levitan, pengertian kemiskinan adalah kekurangan barang dan
pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai standar hidup yang layak.
g. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
Menurut BAPPENAS, arti kemiskinan adalah situasi serba kekurangan karena
keadaan yang tidak dapat dihindari oleh seseorang dengan kekuatan yang
dimilikinya.

2. Klasifikasi Kemiskinan
Secara umum, ada beberapa jenis kemiskinan yang ada di masyarakat. Berikut ini
adalah jenis-jenis dan contoh kemiskinan tersebut:
a. Kemiskinan Subjektif
Jenis kemiskian ini terjadi karena seseorang memiliki dasar pemikiran sendiri
dengan beranggapan bahwa kebutuhannya belum terpenuhi secara cukup,
walaupun orang tersebut tidak terlalu miskin. Contohnya: pengemis musiman
yang muncul di kota-kota besar.

5
b. Kemiskinan Absolut
Jenis kemiskinan ini adalah bentuk kemiskinan dimana seseorang/ keluarga
memiliki penghasilan di bawah standar kelayakan atau di bawah garis
kemiskinan. Pendapatannya tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan,
sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Contoh kemiskinan absolut:
keluarga yang kurang mampu.
c. Kemiskinan Relatif
Jenis kemiskinan ini adalah bentuk kemiskinan yang terjadi karena pengaruh
kebijakan pembangunan yang belum menyentuh semua lapisan masyarakat.
Kebijakan tersebut menimbulkan ketimpangan penghasilan dan standar
kesejahteraan. Contohnya: banyaknya pengangguran karena lapangan
pekerjaan sedikit.
d. Kemiskinan Alamiah
Ini merupakan kemiskinan yang terjadi karena alam sekitarnya langka akan
sumber daya alam. Hal ini menyebabkan masyarakat setempat memiliki
produktivitas yang rendah. Contohnya: masyarakat di benua Afrika yang
tanahnya kering dan tandus.
e. Kemiskinan Kultural
Ini adalah kemiskinan yang terjadi sebagai akibat kebiasaan atau sikap
masyarakat dengan budaya santai dan tidak mau memperbaiki taraf hidupnya
seperti masyarakat modern. Contohnya: suku Badui yang teguh
mempertahankan adat istiadat dan menolak kemajuan jaman.
f. Kemiskinan Struktural
Kemiskinan ini terjadi karena struktur sosial tidak mampu menghubungkan
masyarakat dengan sumber daya yang ada. Contohnya: masyarakat Papua
yang tidak mendapatkan manfaat dari Freeport.

3. Penyebab Kemiskinan
Setelah memahami pengertian kemiskinan dan jenis-jenisnya, maka kita juga perlu
mengetahui apa penyebanya. Berikut ini adalah beberapa faktor penyebab
kemiskinan yang paling umum :
a. Laju Pertumbuhan Penduduk
Angka kelahiran yang tinggi akan mengakibatkan laju pertumbuhan penduduk
suatu negara menjadi besar. Bila laju pertumbuhan ini tidak sebanding dengan
pertumbuhan ekonomi, maka hal ini akan mengakibatkan angka kemiskinan
akan semakin meningkat di suatu negara.
6
7
b. Angka Penangguran Tinggi
Lapangan kerja yang terbatas menyebabkan angka pengangguran di suatu
negara menjadi tinggi. Semakin banyak pengangguran maka angka kemiskinan
juga akan meningkat. Peningkatan angka pengangguran juga dapat
menimbulkan masalah lain yang meresahkan masyarakat. Misalnya munculnya
pelaku tindak kejahatan, pengemis, dan lain-lain.
c. Tingkat Pendidikan yang Rendah
Masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah cenderung tidak memiliki
keterampilan, wawasan, dan pengetahuan yang memadai. Sehingga mereka
tidak bisa bersaing dengan masyarakat yang berpendidikan tinggi di dunia kerja
maupun dunia usaha. Hal ini kemudian membuat angka pengangguran dan
kemiskinan menjadi bertambah.
d. Bencana Alam
Bencana alam merupakan faktor penyebab kemiskinan yang tidak dapat dicegah
karena berasal dari alam. Bencana alam seperti tsunami, banjir, tanah longsor,
dan lain-lain, akan menimbulkan kerusakan pada infrastruktur maupun
psikologis. Peristiwa bencana alam yang besar dapat mengakibatkan
masyarakat mengalami kemiskinan karena kehilangan harta.

4. Tantangan Pengentasan Kemiskinan di Indonesia


Berbagai upaya/strategi pengentasan kemiskinan sebetulnya telah dijalankan oleh
pemerintah setiap tahunnya. Akan tetapi program-program pengentasan kemiskinan
tersebut belum bisa mengatasi kemiskinan secara signifikan. Hal ini bukan karena
program pengentasan kemiskinan yang tidak sesuai, ataupun dana yang
digelontorkan tidak mencukupi. Kegagalan dari berbagai upaya pengentasan
kemiskinan lebih disebabkan oleh permasalahn strktural, dan juga adanya berbagai
kecurangan dalam program pengentasan kemiskinan. Berikut ini beberapa tantangan
yang dihadapi Indonesia dalam pengentasan Kemiskinan (M.Saichudin):
a. Jumlah penduduk miskin yang sangat besar
Proporsi penduduk miskin yang begitu besar menjadi salah satu tantangan
terbesar bagi negara ini. Hal ini karena jumlah penduduk miskin yang besar juga
akan membutuhkan dana yang besar pula dalam upaya mengatasi kemiskinan
tersebut. Sampai akhir tahun 2015, jumlah penduduk miskin di Indonesia
mencapai 28,51 juta orang.
b. Semakin tingginya disparias pendapatan
Kesenjangan pendapatan yang semakin tinggi menjadi catatan buruk dalam
upaya pengentasan kemiskinan. Walaupun sebetulnya negara yang memiliki
8
pemerataan pendapatan yang baik jarang ditemui, sekalipun negara maju.
Namun perlu dijadikan perhatian bahwa pemerataan pendapatan menjadi salah
satu indikator kesejahteraan masyarakat. Di Indonesia sendiri pemerataan
pendapatan masih menjadi persoalan yang besar. Mengingat pada tahun 2015
kesenjangan pendapatan di perkotaan indonesia semakin tinggi. esenjangan
pendapatan yang tinggi menggambarkan bagaimana sumberdaya ekonomi di
Indonesia belum bisa dioptimalkan oleh seluruh masyarakat. seperti kita ketahui
bersama bahwa di Indonesia hanya beberapa orang saja yang bisa merespon
pembangunan dan sumber permodalan. Orang-orang tersebut yaitu para
pengusaha dari golongan menengah keatas. Sementara bagi kelas bawah
termasuk masyarakat miskin tidak memiliki akses untuk hal tersebut. Sehingga
sudah jelas bahwa “yang kaya akan semakin kaya, dan yang miskin akan
semakin miskin”
c. Kecurangan-kecurangan dalam penyelenggaraan
Program pengentasan kemiskinan Salah satu faktor yang menjadikan program
pengentasan kemiskinan gagal yaitu adanya berbagai kecurangan dalam
penyelenggaraannya. Hal ini telah menjadi dilematis karena praktek-praktek
korupsi dilakukan pada program-program kemanusian. Adanya berbagai
kecurangan seperti korupsi, menjadikan dana-dana yang seharusnya
digunakkan untuk membantu dan memberdayakan masyarakat miskin bocor
dan hilang sia-sia.
d. Isolisasi Penduduk miskin terhadap sumber-sumber permodalan
Sering kali masyarakat miskin terkendala dalam mencari pinjaman modal usaha.
Persyaratan yang rumit dan jaminan yang tidak dapat dipenuhi oleh penduduk
miskin membuat mereka tidak dapat mengakses sumber-sumber permodalan.
Sehingga yang sering terjadi adalah tersangkutnya para penduduk miskin pada
pinjaman-pinjaman non-formal dengan bunga yang tinggi seperti rentenir. 5)
e. Tidak mampunya masyarakat miskin dalam beradaptasi dengan program
pembangunan perkembangan zaman
Sejatinya berbagai program pembangunan yang diselenggarakan pemerintah
adalah untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Program bembangunan yang
dijalankan memang secara makro berhasil, yaitu dengan meningkatnya
pertumbuhan ekonomi negara. Namun jika dicermati secara lebih dalam, terlihat
bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut hanya disumbangkan oleh para
pengsaha besar/ menengah ke atas. Karena hanya para pengusaha menengah
keatas lah yang mempu merespon pembangunan misalnya prasarana jalan dan
jembatan. Sementara bagi para pengusaha kecil seperti golongan masyarakat
9
miskin kurang mampu mendapatkan imbas dari pembangunan tersebut. Hal ini
dikarenakan oleh skala usaha yang kecil dengan lingkup lokal sebenarnya
program pembangunan yang paling dibutuhkan adalah bantuan permodalan/
alat-alat produksi
f. Bonus Dermografi
Bonus demografi adalah suatu keadaan dimana jumlah penduduk usia produktif
lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk usia non produktif. Kondisi
demikian, memiliki nilai positif dan keuntungan besar bila dikelola secara
profesional.

Kondisi dimana jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia
non produktif mengandung arti bahwa potensi beban ketergantungan penduduk
akan berkurang apabila kelebihan dari potensi bonus demografi dikelola dan
dimanfaatkan dengan baik.

Proyeksi puncak era bonus demografi Indonesia menurut proyeksi BPS akan
dicapai antara rentang tahun 2025-2030, atau ketika jumlah penduduk usia
produktif Indonesia ada pada angka minimal 70% dari total jumlah penduduk.

Terbukanya lapangan kerja baru merupakan salah satu langkah penting yang
harus dilakukan oleh pemerintah dalam menyambut bonus demografi Indonesia.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan dalam keputusan kebijakan pemerintah
Indonesia terkait penyediakan lapangan pekerjaan baru bagi warga negaranya.
Pemerintah bisa mendorong peningkatan investasi di dalam negeri dengan
mengundang investor asing dari negara maju atau dengan mendorong dan
memfasilitasi masyarakat untuk menjadi enterpreneur (pengusaha) baru.

Program keluarga berencana merupakan salah satu program andalan utama


BKKBN. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
salah satu fungsi keluarga adalah melaksanakan program keluarga berencana.
Fungsi program keluarga berencana adalah untuk menekan jumlah
pertumbuhan keluarga agar tidak melonjak secara drastis dan mudah dikontrol.
Sebab dampak pertumbuhan penduduk yang tidak terkontrol justru bisa
menyebabkan berbagai masalah sosial, seperti meningkatnya angka
pengangguran dan meningkatnya angka tingkat kriminalitas (Pusat Pandang
Web, 2018)
5. Bonus Dermografi dan Peningkatan Kesejahteraan
10
Penurunan Fertilitas memberikan probabilitas terhadap peningkatan Kesejahteraan,
karena ada bonus demografi. Bonus Demografi merupakan demographic divident
atau demographic gift dalam jangka waktu 15 tahun kedepan setelah mereka ikut
Keluarga Berencana memberikan sumbangan terhadap penurunan Dependency
Ratio. Karena tenaga produktif bebannya terhadap tenaga non produktif akan
semakin kecil. Kondisi ini tentu akan memberikan dampak terhadap beban
pemerintah dan masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas
masyarakat.

Bagaimana peran atau dampak terjadinya Bonus Demografi dan bagaimana dapat
hal ini selanjutnya akan memberikan manfaat terhadap peningkatan kesejahteraan
masyarakat?. Untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan diatas dapat dijelaskan
sebagai berikut :

Dengan adanya Bonus Demografi merupakan The Window Of Opportunity melalui


kelahiran tercegah. Ibu-ibu akan banyak mempunyai waktu yang lebih banyak untuk
melakukan hal-hal yang bukan melahirkan dan merawat anak atau masa melahirkan
dan merawat anak lebih pendek. Kenyataan ini akan berpengaruh secara signifikans
terhadap peningkatan kesempatan keluarga untuk melakukan kegiatan produktif.
Kegiatan produktif akan bermuara terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat,
yakni : (1) Meningkatkan motivasi perempuan untuk masuk pasar kerja, (2)
Memperbesar peran perempuan, (3) Tabungan masyarakat, dan (4) Modal manusia
(human capital) tersedia.

Bonus Demografi akan memicu partumbuhan tabungan (Savings), melalui tabungan


ini dapat terbentuk akumulasi kapital untuk investasi dalam peningkatan
pertumbuhan ekononi yang akan memberikan konstribusi terhadap peningkatan
kesejahteraan masyarakat, dalam arti yang lebih besar. Pertumbuhan ekonomi ini
berhubungan dengan penduduk sebagai dampak adanya age dependency model
melalui a birth averted (terhindarnya kelahiran seseorang).

Kelahiran tercegah merupakan initial factors of endowment yang kan menentukan


arah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Williamson mengemukakan Kelahiran
tercegah merupakan faktor yang penting dalam menentukan proses perjalanan dan
kecepatan pertumbuhan ekonomi. Karena dapat meningkatkan propensitas orang
tua untuk menanamkan investasi modal manusia dalam diri anak-anaknya (human
capital accumulation). Lebih lanjut Bloom, Canning dan Sevilla menambahkan bahwa
11
peningkatan harapan hidup telah merubah gaya hidup masyarakat disegala aspek,
yaitu :
a) Sikap dan perilaku masyarakat tentang pendidikan, keluarga, peranan
perempuan (accounting effects dan behavioral effects).
b) Pandangan terhadap manusia lebih meningkat dan dihargai sebagai aset
pembangunan.
c) Hasrat orang tua terhadap investasi pendidikan anak-anaknya, karena
masyarakat meyakini akan hasilnya bagi hari tua anak-anaknya.
d) Apabila perempuan ini dilahirkan oleh generasi yang sudah menganut keluarga
kecil, maka mereka cenderung memiliki keluarga kecil juga. Berarti terjadi
perubahan pola pikir yang positif bagi masyarakat. Perempuan cenderung
memilih untuk mempunyai anak sedikit dan dapat masuk ke pasar kerja atau
memanfaatkan Opportunity Cost (Konadi & Iba, 2011).

Ada beberapa hal yang bisa dilaksanakan untuk memaksimalkan manfaat bonus
demografi di Indonesia sebagai berikut:

a) Mengembangkan kualitas manusia melalui pendidikan dan pelatihan.


Melimpahnya penduduk usia produktif perlu diimbangi dengan kualitas yang
memiliki daya saing. Globalisasi menyebabkan persaingan semakin ketat,
sehingga penduduk usia produktif perlu memiliki keahlian dan keterampilan yang
sejalan dengan kebutuhan industri. Kualitas dan kuantitas pendidikan dan
pelatihan di Indonesia perlu ditingkatkan untuk menciptakan tenaga kerja yang
berkualitas dan berdaya saing, serta sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga
kerja. Pemerintah dapat melakukan revitalisasi dan mengembangkan
pendidikan kejuruan atau vokasi untuk meningkatkan tenaga terampil,
meningkatkan inovasi, dan kreativitas. Penciptaan tenaga terampil melalui
pendidikan non formal juga perlu ditingkatkan melalui pemberian kursus dan
pelatihan di Balai Latihan Kerja.
b) Memperluas pasar tenaga kerja.
Jumlah tenaga kerja yang besar bisa menjadi beban bagi pertumbuhan ekonomi
jika bursa tenaga kerja yang tersedia tidak mampu menampung mereka.
Dampak buruk yang timbul adalah pengangguran yang tinggi, yang pada
gilirannya menyebabkan tingkat kriminalitas semakin tinggi serta meningkatkan
tingkat kemiskinan. Maka pasar tenaga kerja perlu ditingkatkan dan diperluas
agar sebanyak mungkin penduduk usia produktif dapat terserap di pasar tenaga

12
kerja. Hal ini akan meningkatkan produksi dan mendorong pertumbuhan
ekonomi
c) Mengelola pertumbuhan populasi.
Bonus demografi yang ada perlu dijaga dengan baik, sehingga pertumbuhan
populasi perlu dikontrol untuk menjaga agar rasio ketergantungan (dependency
ratio) tetap berada di titik yang optimal. Rasio ketergantungan yang terlalu tinggi
dapat membebani pertumbuhan ekonomi, sehingga perlu dijaga dengan baik.
Hal ini bisa dilakukan salah satunya melalui program Keluarga Berencana (KB).
d) Meningkatkan tingkat kesehatan penduduk.
Penduduk di usia produktif yang tidak sehat tidak akan mendukung produksi dan
akan menghambat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Maka melimpahnya
penduduk usia produktif perlu didukung dengan tingkat kesehatan yang tinggi.
Dalam hal ini, pemerintah dapat mendukung dengan meningkatkan kualitas
asuransi kesehatan dan mengeluarkan kebijakan yang dapat mendukung
kesehatan masyarakat (Setiawan, 2018).

B. Anak Banyak
Paradigma baru tentang pembangunan sudah bergeser pada pentingnya pembangunan
berdimensi pada manusia (people centered development). Banyak ahli yang mengatakan
bahwa penduduk bukan hanya sebagai obyek dari pembangunan tapi sekaligus sebagai
subjek dari pembangunan. Karena disyaratkan bahwa penduduk harus ikut sebagai
subjek maka dibutuhkan peningkatan kualitas sumberdaya manusia agar benar benar
pembangunan yang diinginkan bisa tercapai. Keterlibatan penduduk dalam
pembangunan perekonomian menjadi penting dalam rangka untuk meningkatkan
pendapatan. Kebijakan perluasan kesempatan kerja merupakan suatu kebijakan penting
lainnya dalam pembangunan, karena selain sebagai tolak ukur keberhasilan
pembangunan ekonomi namun berikutnya juga dapat digunakan sebagai ukuran dalam
mencapai kesejahteraan.

Pertumbuhan penduduk yang pesat akan mengakibatkan peningkatan jumlah tenaga


kerja yang pesat pula. Banyak teori dan kerangka empiris telah membuktikan bahwa
tenaga kerja tidak saja dipandang sebagai satu bagian unit dalam penciptaan output
(produksi), namun juga bagaimana kualitas tenaga kerja tersebut berinteraksi dengan
faktor-faktor produksi lainnya untuk menciptakan nilai tambah (Wahyuningsih, 2009). Oleh
karenanya dilakukan upaya yang kuat untuk meningkatkan pemerataan pendapatan
penduduk antara lain dengan penganeragaman peluang kerja yang diciptakan oleh
pemerintah maupun swasta. Agar memperoleh pekerjaan dalam upaya untuk

13
menghasilkan pendapatan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan dan
meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Berdasarkan pengertian yang ada keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk
berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhikebutuhan hidup spiritual dan
materiil yang layak, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,memiliki hubungan yang
sama, selaras, seimbang antara anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.
Dalam membina dan mengembangkan keluarga diperlukan upaya yang menyangkut
aspek keagamaan, pendidikan, kesehatan dan ekonomi, sosial budaya, kemandirian
keluarga, ketahanan keluarga, maupun pelayanan keluarga. Keluarga Sejahtera adalah
keluarga yang dibentuk secara holistik dan terpadu atas semua indikator -indikator yang
membentuknya.

Di zaman dulu kita sering mendengar beberapa filosofi tentang harapan orangtua tentang
anaknya. Ada yang ingin punya anak lelaki seluruhnya, agar suatu saat dapat
meneruskan usaha bapaknya dan menjadi kebanggaan orang tua.Salah satu contoh
lainnya adalah filosofi “banyak anak, banyak rezeki”. Orang tua dahulu beranggapan
memiliki banyak anak akan mendatangkan banyak rezeki karena di saat anak-anaknya
besar nanti, mereka akan sukses dan memiliki penghasilan sendiri serta mendatangkan
banyak uang bagi orangtua nya.

Dewasa ini, semakin berkembangnya kemajuan berpikir, manusia semakinberpikir kritis.


Semakin tinggi sesorang menempuh pendidikan, jalan berpikirnya semakin rasional.
Manusia tak lagi sempat berpikir akan memiliki banyak anak. Mereka berpikir bahwa
nantinya anak hanya akan menjadi beban bagi kondisi ekonominya. Seperti dari biaya
merawatnya, memberi makan, bagaimana ia disekolahkan, dan masih banyak lagi faktor
yang menjadikan anggapan bahwa “banyak anak, banyak masalah”.

Tetapi jika melihat kondisi zaman sekarang seperti di Indonesia yang


tingkat pendidikannya semakin maju, justru seakan berarah lawanan dengan pernyataan
rasional mereka. Orang yang memiliki anak sedikit tetapi berpendidikan tinggi tidak lantas
membuat tingkat kesejahteraan mereka langsung maju. Menurut data Badan Pusat
Statistik yang dikeluarkan pada Februari 2015, sebanyak 400 ribu pemuda Indonesia
yang bertitel sarjana menjadi pengangguran. Besarnya jumlah pengangguran tentu
menjadi salah satu faktor "pincang" nya ekonomi suatu negara. Terlebih bagi kondisi
ekonomi suatu keluarga itu sendiri. Memiliki sedikit anakpun bila tidak dibentuk
kualitasnya maka akan menjadi beban ekonomi keluarga juga
14
Dan anggapan diatas (banyak anak, banyak masalah) terlalu sederhana untuk
disimpulkan, sementara hubungan antara jumlah anak dan tingkat ekonomi tidaklah
sederhana. Di saat kondisi ekonomi kepala keluarga stabil, sementara jumlah anak
bertambah, maka akan menjadi faktor yang besar bagi tingkat ekonomi keluarga.

Di saat kondisi ekonomi memburuk, jumlah anak yang tetap pun akan membuat beban
ekonomi menjadi berat juga,. Dan di saat kondisi ekonomi meningkat, bertambahnya
jumlah anak yang tetap atau lebih sedikit bisa dirasakan menjadi faktor positif dalam
kesejahteraan keluarga. Secara akal sehat, bila punya banyak anak pun mungkin tidak
akan menjadi beban bila peningkatan kondisi ekonominya lebih pesat. Intinya jumlah anak
tidak otomatis berpengaruh pada menurunnya tingkat kesejahteraan bahkan bisa menjadi
faktor pendorong majunya tingkat kesejahteraan keluarga bila dididik menjadi manusia
yang berkualitas.

Data yang ada di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2018,
angka ibu melahirkan ada di angka 2,38. Artinya, rata-rata setiap ibu di Indonesia
melahirkan dua - tiga anak sedangkan BKKBN menargetkan angka kelahiran wanita
subur mencapai 2,1 pada 2025. Selama ini dalam masyarakat terpatri kepercayaan
bahwa banyak anak banyak rezeki. Benar atau tidak tergantung kepercayaan masing-
masing individu. Anak sendiri merupakan sebuah bentuk rezeki, Dalam agama Islam
sendiri ada hal lain tentang memiliki anak dalam hadits, "Apabila manusia itu telah mati
maka terputuslah dari semua amalnya kecuali tiga perkara yaitu Shadaqah jariyah, ilmu
yang bermanfaat dan anak shalih. Alasan inilah yang dipakai sebagian orang, dengan
memiliki banyak anak, berharap peluang anak yang sholeh-sholehah semakin banyak.
Jumlah anggota keluarga sangat menentukan jumlah kebutuhan keluarga.

Semakin banyak anggota keluarga berarti semakin banyak pula jumlah kebutuhan
keluarga yang harus dipenuhi.Begitu pula sebaliknya, semakin sedikit anggota keluarga
berarti semakin sedikit pula kebutuhan yang harus dipenuhi keluarga. Sehingga dalam
keluarga yang jumlah anggotanya banyak, akan diikuti oleh banyaknya kebutuhan yang
harus dipenuhi. Semakin besar ukuran rumahtangga berarti semakin banyak anggota
rumahtangga yang pada akhirnya akan semakin berat beban rumahtangga untuk
memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Demikian pula jumlah anak yang tertanggung
dalam keluarga dan anggota-anggota keluarga yang cacat maupun lanjut usia akan
berdampak pada besar kecilnya pengeluaran suatu keluarga. Mereka tidak bisa
Menanggung biaya hidupnya sendiri sehingga mereka bergantung pada kepala keluarga
15
dan istrinya. Anak-anak yang belum dewasa perlu di bantu biaya pendidikan, kesehatan,
dan biaya hidup lainnya.

Menurut Mantra (2003) yang termasuk jumlah anggota keluarga adalah seluruh jumlah
anggota keluarga rumah tangga yang tinggal dan makan dari satu dapur dengan
kelompok penduduk yang sudah termasuk dalam kelompok tenaga kerja.Kelompok yang
dimaksud makan dari satu dapur adalah bila pengurus kebutuhan sehari-hari dikelola
bersamasama menjadi satu. Jadi, yang termasuk dalam jumlah anggota keluarga adalah
mereka yang belum bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari karena belum bekerja (dalam
umur non produktif) sehingga membutuhkan bantuan orang lain (dalam hal ini orang tua).
Jumlah anak bukanlah faktor besar dari permasalahan ekonomi suatu keluarga. Banyak
faktor yang lebih mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga seperti sifat konsumtif,
tingkat pendidikan, dan yang terpenting bagaimana orang tua membangun akhlaq pada
anak agar menjadi orang yang bermanfaat dan berkualitas di masa depan.

Menurut BKKBN (2015), keluarga dikatakan sebagai keluarga kecil,jika maksimal memiliki
dua anak. Pengkategorian jumlah anak yang diinginkan menjadi:
1. sedikit, apabila keluarga menginginkan anak sebanyak banyaknya memiliki satu anak
2. sedang, apabila keluarga menginginkan anak sebanyak dua anak,
3. banyak, apabila keluarga menginginkan anak sedikitnya memiliki lebih dari dua anak.

Berikut adalah Penyebab Banyaknya Jumlah Anak yang Dimiliki


1. Usia Kawin Pertama
Peristiwa kelahiran tidak terlepas dari masa subur yang dimiliki seorang wanita
(fekunditas). Hal ini berarti kesuburan seorang wanita merupakan kemampuan untuk
berproduksi sehingga akan berpengaruh pada kemampuan melahirkan. Usia kawin
pertama PUS adalah usia dari wanita PUS pada waktu menikah dengan seorang laki-
laki pilihan yang sah sebagai suaminya. Usia perkawinan merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi tingginya jumlah anak yang dimiliki, karena pada
umumnya umur perkawinan usia muda maka frekuensi untuk memiliki anak akan
lebih besar.

Berdasarkan himpunan data oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis oleh
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) pada
tahun 2018, Provinsi Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan jumlah perkawinan
anak tertinggi di Indonesia yaitu 39,53 persen (dari jumlah seluruh perkawinan),
16
sementara Daerah Istimewa Yogyakarta terendah dengan 11,07 persen. Ada
beberapa faktor yang menjadi penyebab tingginya angka perkawinan anak, di
antaranya jumlah tersebut lebih tinggi di area rural urban atau pedesaan atau daerah
selain perkotaan karena faktor ekonomi. Berdasarkan data, persentase perempuan
yang menikah di usia 18 tahun pada 2015 sebesar 17 persen di perkotaan dan 27
persen di pedesaan (BPS, 2018).

2. Pandangan terhadap Nilai Anak dalam Keluarga


Anak adalah harapan keluarga karena anak mempunyaibanyak arti dan fungsi bagi
keluarga. Oleh karena itu mempunyai anak sangat didambakan, baik dalam keluarga
orang desa, maupun orang kota. Nilai anak dalam keluarga mepengaruhi banyaknya
jumlah anak yanga dimiliki oleh setiap keluarga. Tergantung nilai dan fungsi yang
diinginkan orang tua.

17
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau kelompok tidak dapat memenuhi hak-
hak dasarnya dalam upaya mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang
bermartabat. Sedangkan dalam Ideologi Konservatif yang berpegangan pada kapitalisme
dan liberalism abad ke-19. Kaum konservatif memandang bahwa masalah kemiskinan
adalah kesalahan pada orang miskin itu sendiri. Dalam Islam kemiskinan adalah orang
yang ditenangkan oleh kefakiran dan ia adalah orang yang sama sekali tidak memiliki apa-
apa, atau orang yang memiliki sesuatu yang tidak mencukupi kebutuhannya. Seorang
dapat dikatan miskin, dikarenakan kondisi dan situasinya benar-benar telah membuat
geraknya menjadi sedikit lalu mencegahnya untuk bergerak, atau bisa juga berarti orang
yang berdiam diri di rumah saja dan enggan pergi meminta-minta kepada manusia. anyak
orang yang mungkin tidak tergolong (miskin dari segi pendapatan) dapat dikategorikan
sebagai miskin atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan dasar serta rendahnya
indikator-indikator pembangunan manusia. Ketiga, mengingat sangat luas dan
beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antar daerah merupakan ciri mendasar dari
kemiskinan di Indonesia.

Besarnya jumlah pengangguran tentu menjadi salah satu faktor "pincang" nya ekonomi
suatu negara. Terlebih bagi kondisi ekonomi suatu keluarga itu sendiri. Memiliki sedikit
anakpun bila tidak dibentuk kualitasnya maka akan menjadi beban ekonomi keluarga
juga anggapan diatas (banyak anak, banyak masalah) terlalu sederhana untuk
disimpulkan, sementara hubungan antara jumlah anak dan tingkat ekonomi tidaklah
sederhana. Di saat kondisi ekonomi kepala keluarga stabil, sementara jumlah anak
bertambah, maka akan menjadi faktor yang besar bagi tingkat ekonomi keluarga.

B. Saran
Demikian pokok bahasan masalh yang dapat kami paparkan, besar harapan kami agar
makalah ini dapat bermanfaat. Karena keterbatasan kami menyadari makalah ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang membengun sangat diharpkan
agar makalah ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi di masa mendatang

18
DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2018. Pusat Pandang Web. https://pusatpandang.com/pengertian-bonus-demografi-


adalah/ di akses tanggal 1 Nopember 2019

Alma, Buchari. 2009. Pengantar Statistika Sosial, Alfabeta, Bandung.

Arsyad, Lincolin, 2010. Ekonomi Pembangunan, Ghalia Indonesia, Jakarta.

BPS. 2018. Profil Anak Indonesia Tahun 2018. Jakarta : KPPPA

Liansyah, 2012. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Pertumbuhan Penduduk dan Tingkat

Khalid, K. A. (2016). Dilema Kemiskinan: Falsafah, Budaya dan Strategi. Akademia 86(2)

Ksriyati. (n.d.). Kemiskinan dan Penyebabnya di Indonesia.

Konadi, Win & Iba, Zainuddin. 2011. Bonus Demografi Modal Membangun Bangsa yang Sehat
dan Bermartabat. Majalah Ilmiah Unimus. VARIASI, ISSN: 2085- Volume 2 Nomor 6,
Februari 2011

M.Saichudin. (n.d.). Tantangan Pengetasan Kemiskinan di Indonesia.

Maisaroh, S., & Sukhemi. 2011. Pemerdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Budaya
Kewirausahaan Untuk Mengurangi Pengangguran dan Kemiskinan. JEJAK, Volume 4,
Nomor 1.

19
Murdiansyah, I. (2014). Evaluasi Program Pengentasan Kemiskinan Berbasis. Jurnal WIGA
Vol. 4 No. 1

Setiawan, Satria Aji. 2018. Mengoptimalkan Bonus Demografi Untuk Mengurangi Tingkat
Kemiskinan Di Indonesia. Jurnal Analis Kebijakan Vol. 2 No. 2 Tahun 2018

Sholeh, A. (2014). Pertumbuhan Kemiskinan dan Kemiskinan di Indonesia. Syawie, M. (2011).


Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial. Informasi, Vol. 16 No. 03.

Sholeh, Maimun. 2006. Kemiskinan : Telaah dan Beberapa Strategi Penanggulanggannya.

Wijaya, H. (2015). Kemiskinan dan Kelaparan: Berbagai Pandangan dengan Perspektif yang
Berbeda

20

Anda mungkin juga menyukai