Anda di halaman 1dari 24

Teori Akuntansi

“KERANGKA KONSEPTUAL UNTUK AKUNTANSI DAN PELAPORAN


KEUANGAN”

Disusun Oleh:

Lintang Trenggono 11080694217

Ach. Syaiful Nizar 11080694236

Reisha Anindhita 10080694246

S1 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2015
KERANGKA KONSEPTUAL UNTUK AKUNTANSI DAN PELAPORAN
KEUANGAN

Teori akuntansi terdiri atas kerangka-kerangka acuan yang menjadi dasar dari
pengembangan tekhnik-tekhnik akuntansi. Kerangka-kerangka acuan ini, nantinya akan
terutama didasarkan pada penentuan konsep-konsep dan prinsip-prinsip akuntansi.

Adalah suatu konstitusi, suatu sistem koheren dan hubungan antara tujuan dan
fundamental yang dapat mendorong standaryang konsisten dan ang menjelaskan sifat, fungsi
dan keterbatasan akuntansi keuangan dan laporan keuangan

Menyadari akan pentingnya arti tujuan, para profesi akuntansi di Amerika Serikat,
Inggris, Kanada telah melakukan beberapa usaha percobaan untuk merumuskan tujuan dari
laporan keuangan. Di Amerika Serikat, pentingnya pengembangan tujuan pelaporan
keuangan pertama kali diungkapkan oleh laporan dari Study Group on the Objectives of
Financial Statements (Laporan Kelompok Studi mengenai Tujuan Laporan Keuangan) dan
ditekankan lagi oleh usaha yang dilakukan oleh FASB untuk mengembangkan suatu
kerangka atau konstitusi konseptual. Di Inggris, pentingnya tujuan-tujuan ini telah menjadi
sorotan dari publikasi The Corporate Report (Laporan Perusahaan) oleh Institute of
Chartered Accountants in England and Wales. Di Kanada, perhatian akan subjek ini
dipublikasikan dalam Corporate Reporting (Pelaporan Keuangan). Meskipun relatif masih,
semua usaha-usaha yang dilakukan di atas secara langsung mendapat banyak pengaruh dari
Bab 4 dalam APB Statement No.4.
KLASIFIKASI DAN KONFLIK KEPENTINGAN

Perumusan tujuan akuntansi tergantung pada penyelesaian konflik kepentingan yang


terdapat di pasar informasi. Atau lebih spesifik lagi, laporan keuangan yang dihasilkan oleh
interaksi tiga kelompok: perusahaan, pengguna, dan profesi akuntansi.

Perusahaan (firm) membentuk kelompok utama yang terlibat dalam proses akuntansi.
Aktivitas-aktivitas operasional, keuangan, dan luar biasa (atau non-operasional) yang mereka
lakukan menjadi justifikasi dari pembuatan laporan keuangan. Keberadaan dan perilaku
mereka menimbulkan hasil keuangan yang sebagian dapat diukur oleh proses akuntansi.
Perusahaan-perusahaan juga adalah penyedia informasi akuntansi.

Pengguna (user) membentuk kelompok kedua. Pembuatan informasi akuntansi


dipengaruhi oleh kepentingan dan kebutuhan pengguna. Meskipun tidak mungkin untuk
mengumpulkan suatu daftar lengkap para pengguna, namun dapat dipastikan daftar tersebut
akan mencantumkan para pemegang saham, analis keuangan, kreditor, dan badan-badan
pemerintah.

Profesi akuntansi (accounting profession) membentuk kelompok ketiga yang dapat


memengaruhi informasi yang akan dimasukkan ke dalam laporan keuang. Para akuntan
terutama akan bertindak sebagai “auditor” yang bertanggung jawab untuk memverifikasi
bahwa laporan keuangan telah mematuhi prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Interaksi dari ketiga kelompok di atas dapat disajikan dalam sebuah diagram venn,
dimana lingkaran U mencerminkan kepentingan dari para pengguna akan informasi yang
dianggap bermanfaat untuk pengambilan keputusan ekonomi mereka, lingkaran C
mencerminkan kumpulan informasi yang diterbitkan dan diungkapkan oleh perusahaan
(entah ia berada didalam atau diluar batasan dari prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku
umum) dan lingkaran P mencerminkan kumpulan informasi yang dapat dibuat dan
diverifikasi oleh profesi akuntan. Area yang diberi nama I mencerminkan kumpulan
informasi yang dapat diterima oleh semua tiga kelompok tersebut. Dengan kata lain, data-
data ini diungkapkan oleh perusahaan, para akuntan dapat membuat dan memverifikasinya,
dan mereka dianggap relevan oleh pengguna. Area II-VII mencerminkan area-area yang
menjadi konflik kepentingan.
MENUJU KE ARAH PERUMUSAN TUJUAN LAPORAN KEUANGAN

Tujuan laporan keuangan menurut APB Statement No.4

Accounting Research Division dari Accounting Principles Board (APB) dibentuk untuk
memotivasi dilakukannya riset mengenai dalil-dalil dan prinsip-prinsip dasar akuntansi. Bab
4 dari APB Statement No.4 mengklasifikasikan tujuan menjadi tujuan khusus, tujuan umum,
dan tujuan kualitatif, serta menempatkan mereka dibawah suatu kumpulan pembatasan.
Tujuan-tujuan tersebut dapat diringkas sebagai berikut:

1. Tujuan Khusus dari laporan keuangan adalah menyajikan secara wajar dan sesuai dengan
prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum, posisi keuangan, hasil operasi, dan
perubahan-perubahan lainnya dalam posisi keuangan.

2. Tujuan Umum dari laporan keuangan adalah sebagai berikut:


a. Untuk memberikan informasi yang dapat diandalkan mengenai sumber daya ekonomi
dan kewajiban dari perusahaan bisnis agar dapat:
i. Mengevaluasi kelebihan dan kekurangannya;
ii. Menunjukan pendanaan dan investasinya;
iii. Mengevaluasi kemampuan dalam memenuhi komitmen-komitmennya;
iv. Menunjukan berbagai dasar sumber daya bagi pertumbuhannya.

b. Untuk memberikan informasi yang dapat diandalkan mengenai perubahan dalam


sumber daya bersih dari aktivitas perusahaan bisnis yang diarahkan untuk memperoleh
laba agar dapat:
i. Menyajikan ekspektasi pengembalian deviden kepada para investor;
ii. Menunjukan kemampuan operasi perusahaan dalam membayar kreditor dan
pemasok, memberikan pekerjaan bagi karyawan-karyawannya, membayar pajak, dan
menghasilkan dana untuk perluasan usaha;
iii. Memberikan informasi untuk perencanaan dan pengendalian kepada manajemen;
iv. Menyajikan profitabilitas jangka panjang.

c. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk mengestimasi


potensi penghasilan bagi perusahaan.
d. Untuk memberikan informasi lain yang dibutuhkan mengenai perubahan dalam sumber
daya ekonomi dan kewajiban.
e. Untuk mengungkapkan informasi lain yang relevan terhadap kebutuhan pengguna
laporan.

3. Tujuan Kualitatif dari akuntansi keuangan adalah sebagai berikut:


a. Relevansi, yang artinya pemilihan informasi yang memiliki kemungkinan paling besar
untuk memberikan bantuan kepada para pengguna dalam keputusan ekonomi mereka.
b. Dapat Dimengerti, yang artinya tidak hanya informasi tersebut harus jelas, tetapi para
pengguna juga harus dapat memahaminya.
c. Dapat Diverifikasi, yang artinya hasil akuntansi dapat didukung oleh pengukuran-
pengukuran yang independen, dengan menggunakan metode-metode pengukuran yang
sama.
d. Netralitas, yang artinya hasil akuntansi ditujukan kepada kebutuhan umum dari
pengguna, bukannya kebutuhan-kebutuhan tertentu dari pengguna-pengguna yang
spesifik.
e. Ketepatan Waktu, yang artinya komunikasi informasi secara lebih awal, untuk
menghindari adanya kelambatan atau penundaan dalam pengambilan keputusan
ekonomi.
f. Komparabilitas (daya banding), yang secara tidak langsung berarti perbedaan-
perbedaan yang terjadi seharusnya bukan diakibatkan oleh perbedaan perlakuan
akuntansi keuangan yang diterapkan.
g. Kelengkapan, yang artinya adalah telah dilaporkannya seluruh informasi yang “secara
wajar” memenuhi persyaratan dari tujuan kualitatif yang lain.
Tujuan-tujuan yang dinyatakan oleh APB Statement No.4 sepertinya memberikan dasar
pemikiran bagi bentuk dan isi dari laporan keuangan konvensional. Pernyataan tersebut
bahkan mengakui bahwa tujuan-tujuan tertentu dinyatakan atas dasar prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum pada saat laporan keuangan tersebut dibuat. Tujuan umum
tidak dapat menunjukan kebutuhan-kebutuhan informasional dari para pengguna.

Laporan Kelompok Studi Mengenai Tujuan Laporan Keuangan

Metodologi yang Digunakan

Sebagai respon terhadap kritik atas pelaporan keuangan perusahaan dan kenyataan
bahwa semakin mendesaknya kebutuhan dari sebuah kerangka konseptual akuntansi, Dewan
Direksi dari American Institute of Certified Public Accountants mengumumkan dibentuknya
dua kelompok studi pada bulan April 1971. Kelompok studi untuk pembuatan prinsip-prinsip
akuntansi yang dikenal sebagai “Komite Wheat” ini, diberi tugas memperbaiki dan
meningkatkan proses penetapan standar. Laporan yang dihasilkan oleh komite ini
mencetuskan dibentuknya Financial Accounting Standards Board (FASB). Kelompok studi
kedua, yang dikenal sebagai “Komite Trueblood”, ditugaskan untuk mengembangkan tujuan
laporan keuangan; yaitu dengan menentukan:

1. Siapa yang membutuhkan laporan keuangan;


2. Informasi apa yang mereka butuhkan;
3. Seberapa banyak dari informasi yang dibutuhkan itu dapat diberikan oleh akuntansi; dan
4. Kerangka apa yang dibutuhkan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan tersebut.

Tujuan Laporan Keuangan Seperti yang Dinyatakan Dalam “Laporan Trueblood”

Meskipun kedua belas tujuan dalam laporan kelompok studi yang dimaksudkan
memiliki kesetaraan, terdapat kecenderungan yang dapat dimengerti untuk membedakannya
menurut struktur hierarki yang nyata dari tujuan-tujuan ttersebut. Perbedaan yang terdapat
dalam penekanan dan ketergantungan relatif di antara tujuan tersebut dapat menjustifikasi
adanya struktur seperti itu. Enam tingkatan tujuan berikut diambil dari “Laporan Trueblood”.
1. Tujuan dasar (No. 1)
2. Empat tujuan (No. 2, 3, 11, dan 12) yang menyebutkan pengguna dan kegunaan yang
berbeda-beda dari informasi akuntansi.
3. Dua tujuan (No. 4 dan 5) yang menyebutkan kekuatan menghasilkan (earning power)
perusahaan dan kemampuan manajemen (akuntabilitas) sebagai jenis informasi yang
dibutuhkan.
4. Satu tujuan (No. 6) yang menyebutkan sifat dari informasi yang dibutuhkan sebagai
factual dan interpretatif.
5. Empat tujuan (No. 7, 8, 9, dan 10) yang menguraikan laporan keuangan yang dibutuhkan
untuk memenuhi tujuan No. 6.
6. Beberapa rekomendasi khusus untuk laporan keuangan dibuat agar dapat memenuhi
tujuan-tujuan sebelumnya (No. 7, 8, 9, dan 10).

Selanjutnya kita akan menganalisis masing-masing tujuan:

No. 1: Tujuan dasar dari laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi yang
menjadi dasar dari keputusan-keputusan ekonomi.

No. 2: Tujuan dari laporan keuangan terutama adalah untuk melayani para pengguna
yang memiliki wewenang, kemampuan atau sumber yang terbatas untuk memperoleh
informasi dan yang mengandalkan laporan keuangan sebagai sumber utama informasi
mereka mengenai aktivitas perusahaan.

No. 3: Tujuan dari laporan keuangan adalah untuk menyajikan informasi yang
bermanfaat kepada para investor dan kreditor dalam meramalkan, membandingkan,
dan mengevaluasi potensi arus kas yang mereka terima jika dilihat dari segi jumlah,
waktu, dan ketidakpastian yang terkait.
No. 4: Tujuan dari laporan keuangan adalah memberikan informasi kepada para
pengguna yang dapat digunakan untuk meramalkan, membandingkan, dan
mengevaluasi kekuatan menghasilkan suatu perusahaan.

No. 5: Tujuan dari laporan keuangan adalah memasok informasi yang berguna dalam
menilai kemampuan manajemen dalam menggunakan sumber daya perusahaan secara
efektif guna mencapai sasaran utama perusahaan.

No. 6: Tujuan dari laporan keuangan adalah untuk memberikan factual dan
interpretatif mengenai transaksi dan peristiwa lainnya yang berguna dalam
peramalan, pembandingan, dan pengevaluasian kekuatan menghasilkan perusahaan.
Asumsi-asumsi dasar sehubungan dengan subjek masalah interpretatif, evaluasi,
prediksi, atau estimasi, sebaiknya diungkapkan.

No. 7: Tujuannya adalah untuk memberikan laporan posisi keuangan yang berguna
dalam peramalan, pembandingan, dan pengevaluasian kekuatan mengghasilkan
perusahaan. Laporan ini hendaknya memberikan informasi yang berkaitan dengan
transaksi-transaksi perusahaan dan peristiwa-peristiwa lain yang menjadi bagian dari
siklus penghasilan (earning cycle) yang belum selesai. Nilai saat ini hendaknya juga
dilaporkan ketika mereka berbeda secara cukup signifikan dengan biaya historis.
Aktiva dan kewajiban hendaknya dikelompokkan atau dipisahkan berdasarkan
ketidakpastian relatif atas jumlah dan waktu dari realisasi dan likuidasi prospektif.

No. 8: Tujuannya adalah untuk memberikan laporan pendapatan periodik yang


berguna bagi peramalan, permbandingan, dan pengevaluasian kekuatan
menghasilkan perusahaan. Hasil akhir dari siklus penghasilan yang telah selesai dan
aktivitas perusahaan yang mengakibatkan terjadinya kemajuan yang diakui kea rah
penyelesaian dari siklus yang belum selesai hendaknya dilaporkan. Perubahan nilai
yang dicerminkan dalam laporan posisi keuangan berikut hendaknya juga dilaporkan,
namun secara terpisah, karena mereka berbeda jika dilihat dari segi kepastian
realisasinya.

No. 9: Tujuannya adalah untuk memberikan laporan aktivitas keuangan yang berguna
bagi peramalan, pembandingan, dan pengevaluasian kekuatan menghasilkan
perusahaan. Laporan ini terutama melaporkan aspek faktual dari transaksi yang
dijalankan perusahaan yang memiliki atau diharapkan memiliki konsekuensi kas yang
signifikan. Laporan ini hendaknya melaporkan data yang membutuhkan pertimbangan
minimal dan interpretasi dari pembuat laporan.

No. 10: Tujuannya adalah untuk memberikan informasi yang berguna bagi proses
peramalan. Peramalan keuangan hendaknya diberikan ketika mereka akan
meningkatkan keandalan dari prediksi-prediksi berguna.

No. 11: Tujuan dari laporan keuangan bagi organisasi pemerintahan dan nirlaba
adalah untuk memberikan informasi yang berguna bagi evaluasi efektivitas dari
manajemen sumber daya dalam mencapai sasaran organisasi yang secara umum
bersifat non-moneter. Pengukuran-pengukuran kinerja hendaknya dinyatakan sesuai
dengan sasaran organisasi nirlaba.

No. 12: Tujuan dari laporan keuangan adalah untuk melaporkan aktivitas-aktivitas
perusahaan yang memengaruhi masyarakat yang dapat ditentukan dan diuraikan atau
diukur dan menjadi suatu hal yang penting bagi perusahaan dalam lingkungan
sosialnya.
Karakteristik Kualitatif Pelaporan

Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pengguna, informasi yang disajikan dalam


laporan keuangan harus memiliki karakteristik tertentu. “Laporan Trueblood” menyebutkan
tujuh karakteristik kualitatif dari pelaporan:

1. Relevansi dan materialitas;


2. Bentuk dan substansi;
3. Keandalan;
4. Kebebasan dari bias;
5. Komparabilitas;
6. Konsistensi; dan
7. Dapat dimengerti

MENUJU KE ARAH KERANGKA KONSEPTUAL

Hakikat Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah sebuah konstitusi, sebuah system koheren dari tujuan dan
asas yang saling berhubungan yang dapat mengarah kepada standar yang konsisten dan
menetukan sifat, fungsi, dan batasan dari akuntansi keuangan dan laporan keuangan. Tujuan
menegaskan sasaran dan tujuan akuntansi. Asa menjadi konsep yang mendasari konsep
akuntansi dan akan memandu pemilihan peristiwa yang harus diperhitungkan, pengukuran
peristiwa tersebut, serta cara merangkum dan mengomunikasikannya kepada pihak-pihak
yang berminat. Konsep-konsep seperti ini menjadi suatu asas dalam artian bahwa konsep-
konsep yang lain akan dihasilkan dari asas tersebut dan penggunaannya sebagai acuan secara
berulang-ulang akan dibutuhkan dalam menentukan, mengartikan, dan menerapkan standar
akuntansi dan pelaporan.

Karenanya, kerangka konseptual dimaksudkan untuk bertindak sebagai suatu konstitusi


dalam proses penetapan standar. Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman dalam
menyelesaikan perselisihan yang timbul selama proses penetapan standar dengan cara
mempersempit pertanyaan menjadi apakah standar yang spesifik tersebut telah sesuai dengan
kerangka konseptualnya. Bahkan FASB telah menunjukan empat keunggulan spesifik yang
dapat diperoleh dari kerangka konseptual. Sebuah kerangka konseptual, ketika telah selesai
dibuat, akan:

 Memandu FASB dalam membuat standar akuntansi;


 Menjadi kerangka acuan untuk mejawab pertanyaan-pertanyaan akuntansi yang tidak
memiliki standar resmi yang spesifik;
 Menetukan batasan pertimbangan dalam membuat laporan keuangan;
 Meningkatkan komparabilitas dengan menurunkan jumlah metode akuntansi alternatif
yang tersedia.

Masalah-masalah Dalam Kerangka Konseptual

Ada tiga pandangan berbeda yang diidentifikasikan dalam penentuan laba atau
penghasilan (earning):

 Pandangan aktiva/kewajiban;
 Pandangan pendapatan/beban;
 Pandangan non-artikulasi

Pandangan aktiva/kewajiban, atau yang disebut juga pandangan neraca atau


pandangan pemeliharaan modal (balance sheet or capital-maintenance view), berpendapat
bahwa pendapatan dan beban hanya berasal dari perubahan dalam aktiva dan kewajiban.

Pandangan pendapatan/beban, yang disebut juga pandangan lapiran laba rugi atau
pandangan penadingan (income statement or matching view), berpendapat bahwa adanya
pendapatan dan beban dihasilkan oleh adanya kebutuhan akan penandingan yang tepat
(proper mathing), penandingan, yang merupakan proses pengukuran fundamental dalam
akuntansi, terdiri atas dua langkah:

1. Pengakuan pendapatan atau waktu pengakuan melalui prinsip realisasi


2. Pengakuan beban dengan tiga kemungkinan cara:
a. Mengalokasikan penyebab dan dampaknya, seperti harga pokok penjualan.
b. Alokasi yang sistematis dan rasional, seperti depresiasi (penyusutan).
c. Pengakuan langsung, seperti biaya penjualan dan administrasi.
Pandangan non-artikulasi didasarkan atas adanya kepercayaan bahwa artikulasi akan
diikuti oleh redudansi (pencatatan yang berlebihan), “karena seluruh peristiwa yang
dilaporkan di laporan laba rugi juga dilaporkan di neraca, meskipun dari sudut yang
berbeda”. Menurut pandangan ini, definisi dari aktiva dan kewajiban dapat menjadi suatu hal
yang sangat penting dalam penyajian posisi keuangan dan bahwa definisi dari pendapatan dan
bebean dapat mendominasi pengukuran penghasilan. Kedua laporan keuangan tersebut
memiliki keberadaan an arti yang saling independen; karenanya, dapat digunakan skema-
skema pengukuran yang berbeda untuk keduanya. Salah satu contoh dari pandangan non-
artikulasi adalah pengggunaan metode LIFO di laporan laba rugi dan FIFO di neraca.
Pandangan non-artikulasi ini mulai mendapat pendukung pada tahun 1966.

Masalah: Definisi

Definisi dari setiap elemen laporan keuangan dapat diberikan oleh pandangan
aktiva/kewajiban maupun pandangan pendapatan/beban.

Menurut pandangan aktiva/kewajiban, aktiva adalah sumber daya ekonomi dari sebuah
perusahaan; mereka mencerminkan keuntungan-keuntungan di masa depan yang diharapkan
menimbulkan arus kas masuk bersih secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai
alternatif, kita dapat mengeluarkan definisi sumber daya ekonomi dari “aktiva” yang tidak
memiliki karakteristik dapat dipertukarkan atau dapat diputuskan. Dalam kedua kasus
tersebut, berdasarkan atas pandangan aktiva/kewajiban, aktiva dibatasi hanya untuk
merepresentasikan sumber daya ekonomi dari perusahaan. Sumber daya ekonomi perusahaan
itu sendiri adalah:

1. Sumber daya produktif perusahaan;


2. Hak-hak kontraktual untuk sumber daya produktif;
3. Produk;
4. Uang;
5. Klaim untuk menerima uang;
6. Kepemilikan saham di perusahaan lain

Menurut pandangan pendapatan/beban, aktiva tidak hanya meliputi aktiva yang


didefinisikan oleh sudut pandang aktiva/kewajiban, tetapi juga hal-hal yang tidak
mencerminkan sumber daya ekonomi namun diperlukan untuk penandingan yang benar dan
penentuan laba.

Elemen kedua yang harus didefinisikan adalah “kewajiban”. Menurut pandangan


aktiva/kewajiban, kewajiban adalah keharusan perusahaan untuk mentransfer sumber daya
ekonomi kepada entitas lain di masa depan.

Menurut pandangan pendapatan pendapatan/beban, kewajiban tidak hanya terdiri atas


kewajiban seperti yang didefinisikan oleh sudut pandang aktiva/kewajiban namun juga
kredit-kredit yang ditangguhkan dan cadangan tertentu yangtidak mencerminkan kewajiban
untuk mentransfer sumber daya ekonomi namun dibutuhkan untuk prinsip penandingan yang
benar dan penentuan laba..

Elemen ketiga yang akan didefinisikan adalah “penghasilan”. Menurut pandangan


aktiva/kewajiban, penghasilan adalah peningkatan dari aktiva bersih perusahaan di luar
beban-beban “modal”.

Menurut pandangan pendapatan/beban, penghasilan diperoleh dari penandingan antara


pendapatan dan keuntungan serta, mungkin pula, dari keuntungan dan kerugian. Karenanya,
keuntungan dan kerugian dapat dibedakan dari pendapatan dan beban, atau mereka dapat
dianggap sebagai bagian daripadanya. Setiap kemungkinan kkomponen dari penghasilan
(penghasilan, beban, keuntungan, dan kerugian) dapat didefinisikan sebagai berikut:

1. Pendapatan dan beban: menurut pandangan aktiva/kewajiban, pendapatan, yang


mencakup keuntungan dan kerugian, didefinisikan sebagai peningkatan aktiva atau
penurunan kewajiban yang tidak memengaruhi modal. Begitu pula beban, yang mencakup
keuntungan dan kerugian, didefinisikan sebagai penurunan aktiva atau peningkatan
kewajiban yang timbul dari penggunaan sumber daya ekonomi dan jasa selama suatu
periode tertentu.
2. Keuntungan dan kerugian: menurut pandangan aktiva/kewajiban, keuntungan
didefinisikan sebagai meningkatannya aktiva bersih di luar peningkatan dari pendapatan
atau perubahan modal. Begitu pula kerugian didefinisikan sebagai penurunan dari aktiva
bersih di luar penurunan dari beban atau perubahan modal. Jadi keuntungan dan kerugian
merupakan bagian dari penghasilan yang tidak dijelaskan oleh pendapatan dan beban.
3. Hubungan antara penghasilan dan komponen-komponennya: terdapat tiga hubungan
utama antara laba dan komponen-komponennya:
a. Laba = Pendapatan – Beban + Keuntungan – Kerugian
b. Laba = Pendapatan – Beban
c. Laba = Pendapatan (termasuk keuntungan) – Beban (termasuk kerugian)
4. Akuntansi akrual: Elemen-elemen dari laporan keuangan telah diperhitungkan dan
dimasukkan dalam laporan keuangan melalui penggunaan prosedur akuntansi akrual.
Akuntansi akrual didasarkan atas konsep-konsep akrual, tangguhan, alokasi, amortisasi,
realisasi, dan pengakuan.

Masalah 8: Konsep pemeliharan modal atau pengembalian biaya mana yg harus


digunakan?

Konsep mengenai pemeliharaan modal memungkinkan kita membuat pembedaan antara


penegembalian modal atau penghasilan dengan pengembalian modal atau pengembalian
biaya.

Empat kemungkinan konsep pemeliharaan modal:

1. Modal keuangan yang di ukur dalam satuan uang;


2. Modal keuangan yang di ukur menurut unit daya beli uimum yang sama;
3. Modal fisik yang di ukur menurut unit uang;
4. Modal fisik yang di ukur menurut unit daya beli umum yang sama

Masalah 9: metode pengukuran yang mana yang harus digunakan

Masalah mengenai metode pengukuran akan berkaitan dengan penentuan baik dari unit
pengukuran maupun atribut yang hendak di ukur.

Ada lima kemungkinan yang tersedia:

1. Metode biaya historis;


2. Biaya saat ini;
3. Nilai jual saat ini;
4. Nilai jual yang diharapkan;
5. Nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan.
Perkembangan dari sebuah kerangka konseptual

Statment of Financial Accounting Concepts yang di keluarkan dan berhubungan dengan


pelaporan keuangan untuk perusahaan bisnis adalah:

1. SFAC No. 1, Menyajikan sasaran dan maksudn dari akuntansi.


2. SFAC No. 2, Melihat karakteristik-karaktaristik yang membuat informasi akuntansi
berguna.
3. SFAC No. 3, Memberikan definisi mengenai elemen-elemen dalam laporan keuangan.
4. SFAC No. 5, Menetapkan pengakuan dan kriteria pengukuran fundamental
5. SFAC No. 6, Memperluas ruang lingkup untuk mencakup organisasi-organisasi nirlaba
6. SFAC No. 7, memberikan sebuah kerangka untuk menggunakan arus kas dan menyajikan
nilai-nilai sebagai basis pengukuran.

Tujuan pelaporan keuangan

A. Tujuan pelaporan keuangan oleh perusahaan bisnis

“Pelaporan keungan tidak hanya memuat laporan keungan, namun juga cara- cara lain
dalam mengomunikasikan informasi yang berhubungan, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dengan informasi yang diberikan oleh sistem akuntansi-yaitu, informasi mengenai
sumberdaya, kewajiban, penghasilan, dan lain-lain”.

B. Tujuan pelaporan keuangan organisasi-organisasi non bisnis

Empat kelompok yang khususnya berkepentingan dengan informasi yang disajikan oleh
pelaporan keuangan oleh organisasi non bissis:

1. Penyedia sumber daya.


2. Elemen penyusun yang menggunakan dan memperoleh keuntungan dari jasa-jasa yang
diberikan oleh organisasi.
3. Badan- badan penyelenggara dan pengawas.
4. Manajer organisasi-organisasi non bisnis
Konsep-konsep fundamental

Karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi

Relevance, agar informasi dapat memenuhi standar relevansi, informasi yang


diasosiasikan secara bermamfaat dengan tindakan yang telah di rancanguntuk
memfasilitasinya. Elemennya yaitu :

1. Nilai prediktif
2. Nilai umpan balik
3. Ketepatan waktu

Reliability, kualitas yang memungkinkan pengguna data agar yakin mengandalkannya


sebagai pencerminan dari apa yang dimaksud untuk disajikan. Elemennya yaitu :

1. Dapat diverifikasi
2. Netralitas
3. Ketepatan penyajian

Komparabilitas dan konsistensi adalah kulitas kedua yang di ususlkan oleh SFAC No.
2. Komparabilitas dijabarkan sebagai pennggunaan metode yang sama dalam suatu waktu
oleh perusahaan tertentu, akan tetapi , prinsip akuntansi tidak berati bahwa metode akuntansi
tertentu tidak dapat di ubah setelah digunakan.

Materialitas dipandang sebagai ambang batas untuk pengakuan.

Elemen-elemen dasar laporan keuangan dari perusahaan bisnis

 Aktiva
 Kewajiban
 Ekuitas
 Investasi oleh pemilik
 Distribusi kepada pemilik
 Laba komprehensif
 Pendapatan
 Beban
 Keutungan
 Kerugian

Pengakuan dan pengukuran

SFAC No. 5 dimaksudkan untuk meneyelesaikan masalah pengakuan dan pengukuran


ini. Kriteria pengakuan meliputi :

 Definisi : Hal tersebut memenuhi definisi dari sebuah elemen laporan keuangan.
 Dapat diukur : Hal ini memiliki atribut yang dapat diukur dengan cukup andal.
 Relevansi : Informasi yang berkenan mampu membuat perbedaan pada keputusan para
penggunanya.
 Keandalan : Informasi tersebut representasional, tepat, dapat diverivikasi dan netral.

Dalam kaitannya dengan pengukuran, laporan melihat lima atribut yang bebrbeda dari
aktiva dan kewajibanyang disajikan dalam memorandum diskusi, yaitu :

1. Biaya historis
2. Biaya penggantian saat ini
3. Nilai pasar saat ini
4. Nilai bersih yang dapat direalisasikan (penggantian)
5. Nilai arus kas masa depan saat ini (diskonto)

Laporan – Laporan lain

Laporan perusahaan

Laporan ini berhubungan dengan akuntabilitas publik dari segala bentuk entitas
ekonomi,tetapi terutama pada perusahaan bisnis.

Laporan ini mencoba menyusun sekumpulan konsep-konsep yang sedang


dikembangkan sebagai dasar bagi pelaporan keuangan.Sasarannya adalah untuk menunjuk
orang atau kelompok pembuat laporan keuangan, dan informasi yang disajikan telah sesuai
dengan kepentingan mereka.
Laporan ini memberi cara-cara paling sesuai dalam mengukur dan melaporkan posisi
ekonomi, kinerja, dan prospek-prospek pengerjaan untuk tujuan dan maksud yang telah
didefinisi diatas.

Seberapa jauh laporan tersebut memenuhi sasaran yang dinyatakannya akan dibuktikan
oleh temuan-temuan utama dan rekomendasinya.

1. Filosofi dasar dari titik awal The Corporate Report adalah bahwa laporan keuangan
hendaknya sesuai dengan ekspektasi penggunanya oleh pengguna potensial.
2. Laporan tersebut memberikan tanggung jawab untuk melakukan pelaporan kepada
entitas ekonomi yang memiliki dampak pada masyarakat melalui aktivitas-aktivitasnya.
3. Laporan tersebut mendefinisikan pengguna sebagai pihak yang memiliki hak wajar atas
informasi dimana kebutuhan akan informasi hendaknya disadari oleh laporan-laporan
perusahaan.
4. Untuk memenuhi tujuan fundamental dari laporan tahunan yang ditetapkan oleh filosofi
dasar.
5. Setelah mendokumentasikan keterbatasan dari prakti-praktik pelaporan yang ada saat
ini,maka diusulkan perlunya laporan-laporan tambahan berikut ini:
a. Laporan nilai tambah.
b. Laporan ketenagakerjaan.
c. Laporan penukaran uang dengan pemerintah.
d. Laporan transaksi mata uang asing.
e. Laporan prospek-prospek di masa depan.
f. Laporan tujuan perusahaa.

Terakhir setelah menilai enam dasar pengukuran ( biaya historis, daya beli, biaya
penggantian, nilai bersih yang dapat direalisasikan, nilai bagi perusahaan, dan nilai bersih
sekarang) terhadap ketiga kriteria ( penerimaan teoritis, kegunaan, dan kepraktisan), laporan
menolak digunakannya biaya historis dan memilih menggunakan nilai saat ini yang disertai
dengan penggunaan penyesuaian indeks umum.

Sebagai akhir kesimpulannya ,perbandingan antaea temuan-temuan tidak


direkomendasi prinsipil dari The Corporate Report dan Laporan Trueblood tidak akan dapat
dilakukan tanpa mempertimbangkan perbedaan ekonomi dan lingkungan politik di Inggris
dan Amerika Serikat.Secara umum, The Corporate Report menyatakan perhatian yang lebih
tegas bagi laporan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan
sosial masyarakat.

Laporan Stamb

Canadian Institute of Chatered Accountant (CICA) menerbitkan studi riset pada bulan
juni 1980 yang berjudul Corporate Reporting : Its Future Evolution, yang ditulis oleh
profesor Edward Stamb dan selanjutnya kita rujuk sebagai Stamb Report ( Laporan Stamb
).Motivasi utama dibelakang ini adalah

1. Kerangka konseptual dari FASB yang tidak sesuai bagi Kanada,jika melihat perbedaan
lingkungan ,sejarah,politik, dan hukum antara Kanada dan Amerika Serikat.
2. Kerangka tersebut memberikan Kanada penyelesaian bagi masalah peningkatan mutu dari
standar akuntansi keuangan perusahaan yang dimilikinya.

Pendekatannya yang diusulkan laporan Stamb ini bersifat revolusioner.Hal ini


mengidentifikasikan masalah dan permasalahan konseptual dan memberikan solusi dari segi
identifikasi tujuan –tujuanpelaporan keuangan perusahaan,pengguna laporan perusahaan,sifat
dari kebutuhan para pengguna,dan kriterian untuk penilaian mutu standar dan akuntabilitas
korporat sebagai kemungkinan komponen-komponen bagi kerangka konseptual Kanada.

Masalah yang dihadapi oleh penyusunan Standar

 Bagaimana kenyataaan ekonomi dapat diukur dengan suatu cara yang jelas?
 Apakah hakikat dari akuntansi,mengingat pertanyaan akan bagaimana cara terbaik dalam
mengembangkan standar akuntansi tergantung kepadanya?
 Apakah terdapt konsep-konsep yang permanen dan universal yang menjadi dasar dari
pelaporan dan akuntansi keuangan?
 Siapakah penggunanya,jenis keputusan apa yang mungkin mereka buat akibat membaca
sebuah laporan keuangan tahunan dan jenis informasi apakah yang akan mereka cari
dalam laporan tersebut sebagai dasar dari keputusannya?
 Kriteria apakah yang dibutuhkan oleh penyusunan standar,pembuat dan pengguna laporan
untuk menilai kualitas dari akuntansi, untuk mimilih standar alternatif yang ada mengenai
subjek apa pun, dan untuk menilai dari kegunaan laporan akuntansi yang akan
diterbitkan?
 Bagaimana biaya dan manfaat dapat diestimasi dalam menentukan langkah apa yang
harus diambil diarea penetapan standar?
 Dapatkah standar mengatasi konflik kepentingan diantara pembuat dan pengguna dan
diantara penguna-pengguna lain yang berbeda dengan memiliki netralitas?
 Apakah diperlukan perluasan bagi pengungkapan? Apakah perluasan ini memasukkan
pengungkapan?
 Apakah informasi tetap dapat diperoleh tanpa melihat dari ukuran margin kesalahan
dalam pembuat laporan, atau apakah ilusi akan adanya ketelitian yang disajikan?
 Apakah laporan untuk tujuan umum sudah cukup? Jika tidak,apakah informasi tambahan
dikeluarkan dalam bentuk laporan tambahan ataukah dengan menambah kolom lagi
dalam laporan keuangan yang sudah ada?
 Bagaimanakah standar sebaiknya ditegakkan?

Permasalahan Konseptual dalam Penentuan Standar

Sebagai tambahan dari masalah yang baru saja kita uraikan, stamb juga menunjukkan
beberapa permasalahan konseptual yang rumit yang harus dihadapi oleh para akuntan dalam
perumusan standar mereka :

 Masalah alokasi : akuntan harus secara berkala atas posisi keuangan dan kinerja
perusahaan dan dalam prosesnya, mengembangkan metode-metode alokasi yang
sistematis dan rasional.
 Maslah laba : Apakah laba dianggap dan didefinisikan sebagai hasil dari penandingan
biaya terhadap pendapatan atau sebagai perubahan dalam aktiva bersih dari ekuitas
selama periode berlangsung?
 Fokus Pelaporan : Apakah konsep kepemilikan atau konsep entitas yang digunakan?
 Konsep pemeliharaan modal : konsep pemeliharaan modal manakah yang paling cocok
untuk digunakan?
 Dasar valuasi aktiva : Dasar valuasi aktiva manakah yang sebainya digunakan-biaya
historis,biaya penggantian,nilai bersih yang dapat direalisasikan, atau nilai bagi
perusahaan?
 Kenyataan ekonomi : Apakah kenyataan ekonomi itu? Dapatkah neraca mangatur nilai
kekayaan perubahan saat ini?

Tujuan Pelaporan Keuangan Perusahaan

Tujuan ini diasumsikan berlaku untuk seluruh pengguna laporan keuangan yang telah
diterbitkan :

1. Berkaitan dengan masalah akuntabilitas

Penyediaan informasi yang berguna bagi seluruh potensi pengguna dari informasi
tersebut dalam bentuk dan dalam kerangka waktu yang relevan terhadap macam
kebutuhannya.

2. Berkaitan dengan ketidakpastian dan resiko

Tujuan dari pelaporan keuangan yang baik untuk memberikan informasi dalam bentuk
tertentu sehingga meminimalkan ketidakpastian akan validitas dan informasi, dan untuk
memungkinkan para pengguna membuat penilaiannya sendiri atas resiko-resiko yang
berhubungan dengan perusahaan.

3. Berhubungan dengan perubahan dan inovasi

Oleh karena itu laporan keuangna diatur standar hendaknya memiliki cukup ruang
lingkup untuk melakukan inovasi dan revolusi seiring dengan dimungkinkan melakukan
perbaikan di masa depan

4. Berhubungan dengan kompleksitas dan pengguna awam

Dianggap untuk diarahkan langsung kepada kebutuhan dari penggunanya yang mampu
mengartikan satu kumpulan laporan keuangan yang lengkap dan cukup canggih atau
alternatifnya, kepada para ahli yang akan dimintai bantuannya oleh para pengguna yang
awam untuk menjelaskan dan memberikan masukan.

Para Pengguna Laporan Perusahaan

 Pemegang saham
 Kreditor jangka panjang
 Kreditor jangka pendek
 Analisis dan penasihat yang melayani pihak-pihak diatas
 Para karyawan
 Para direktur noneksekutif
 Para pelanggan
 Pemasok
 Kelompok-kelompok industri
 Serikat pekerja
 Departemen dan kementrian pemerintahan
 Publik
 Badan-badan regulatoris
 Perusahaan-perusahaan lain,baik domestik dan asing
 Para penyusun standar dan riset-riset akademik

Kebutuhan Pengguna

 Penilaian kinerja
 Penialaian kualitas manajemen
 Pengestimasian prospek-prospek di masa depan
 Penilaian kekuatan dan kemampuan keuangan
 Penilaian solvabilitas
 Penilaian likuiditas
 Penilaian resiko dan ketidakpastian
 Membatu alokasi dumber daya
 Melakukan perbandingan
 Mengambil keputusan-keputusan mengenai evaluasi
 Menilai adaptasi
 Menentukan tingkat kepatuhan dengan hukum atau peraturan
 Penilaian kontribusi kepada masyarakat
Kriteria untuk Menilai Kualitas dari Standar dan Akuntabilitas Perusahaan

Mendefinisikan kriteria untuk penilaian yang merupakan alat ukur dimana penyusun
standar , sekaligus pembuat dan pengguna dari laporan keuangan yang telah diterbitkan,
dapat memutuskan apakah … laporan keuangan yang diterbitkan memang benar telah
memenuhi kebutuhan dari pengguna dan tujuan dari laporan keuangan .Kriteria ini akan
digunakan untuk menentukan informasi mana yang dapat dan seharunya dikeluarkan dari dari
laporan keuangan.Meraka meliputi objektivitas,dapat diperbandingkan,pengungkapan
penuh,bebas dari bias,keseragaman,materealitas, dan efektivitas biaya
manfaat,fleksobilitas,konsistensi, dan konservatif.

Menuju ke Arah Kerangka Konseptual Kanada

Proyek kerangka konseptual bagi Kanada (dan negara-negara lain) yang didasrkan atas
pendekatan evolusioner dan bergantung pada konsep-konsep (tujuan dan kriteria untuk
penilaian), ditawarkan pada akhir dari laporan stamb. Tidak seperti kerangka konseptual
FASB, yang dianggap terlalu normatif (dan bukan aksiomatif) dan terlalu sempit ruang
lingkupnya (kepentingan utamanya adalah pada investor), kerangka konseptual Kanada ini
didasarkan pada pendekatan yang evolusioner (dan bukan revolusioner) dan tidak begitu
sempit ruang lingkupnya (kepentingan umumnya adalah pada kebutuhan yang wajar dari
pengguna yang sah dari laporan-laporan keuangan yang dikeluarkan).

TAKSONOMI KARAKTERISTIK NORMATIF YANG HARUS DICERMINKAN


OLEH PERNYATAAN-PERNYATAAN AKUNTANSI

Tiga model taksonomi umum yang sangat baik mengenai karakteristik normatif yang
diinginkan adalah sebagai berikut :

1. Karakteristik formaional yang berhubungan dari pernyataan dan penilaian yang


selanjutnya mengenai kegunaan yang diberikan
2. Karakteristik operasional yang berhubungan dengan mengimplementasikan dan
memenuhi persyaratan-persyaratan yang diminta oleh pernyataan
3. Karakteristik Informasional yang berhubungan dengan kemampuan untuk menghasilkan
data yang berguna dalam pengambilan keputusan.
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

Perumusan dari teori akuntansi akan memiliki suatu rangkaian proses yang diawali
dengan pengembangan tujuan-tujuan dari laporan keuangan dan diakhiri dengan penurunan
sebuah kerangka konseptual atau konstitusi yang diakan digunakan sebagai edoman teknik-
teknik akuntansi. Proses semacam itu diawali dan dimanifestasikan oleh :

 APB Statement No.4


 Laporan Trueblood
 The Corporate Report
 Laporan Stamb
 Proyek Konseptual FASB

Kerangka konseptual FASB adalah proyek yang paling maju saat ini dalam pencapaian
sebuah konstitusi akuntansi. Manfaat utamanya adalah memfasilitasi penyelesaian
perselisihan-perselisihan konseptual dalam proses penetapan standar. Agar efektif, konstitusi
ini harus mendapatkan penerimaaan secara umum, mewakili perilaku kolektif dan melindungi
kepentingan publik diarea–area yang akan terpengaruh oleh pelaporan keuangan.

Kerangka konseptual mungkin tidak mencukupi untuk dapat memecahkan masalah-


masalah tertentu dalam penetapan standar. Beberapa masalah berhubungan dengan aspek
pilihan sosial dari penetapan standar akuntansi. Salah satu pemikiran yang berlaku adalah
merupakan suatu hal yang mustahil untuk mengembangkan satu kumpulan standar akuntansi
yang dapat diterapkan untuk berbagai alternatif akuntansi sehingga dapat diterima oleh semua
orang.Sebagai respons atas pandangan pesimistis ini, Chusing memperkirakan bahwa mereka
tidak setuju dengan adanya kemungkinan untuk menentukan fungsi kesejahteraan sosial
mungkin terlalu melebih-lebihkan persoalan yang ada.

Pendekatan Chusing dalam mencari yang terbaik diantara sekumpulan standar yang
tidak saling berhubungan untuk satu masalah akuntansi tertentu, sambil menganggap seluruh
standar lainnya dalam keadaan konstan,akan berhasil hanya jika diasumsikan terdapat saling
ketergantungan diantara kegunaan, yang terkait dengan hasil yang diberikan oleh standar itu,
dengan seluruh hasil yang dipengaruhi oleh standar-standar lain.