Anda di halaman 1dari 16

Keselamatan Listrik (Electrical Safety)

A. Pendahuluan

Semakin komplek teknologi peralatan kedokteran, semakin komplek juga


prosedur penggunaannya, sehingga hal ini dapat menimbulkan beberapa
kesalahan pemakaian yang pada akhirnya bisa menimbulkan kecelakaan pada
pengguna alat kedokteran tersebut dan pasien. Pada kenyataannya, banyak
kegagalan peralatan yang menimbulkan kecelakaan pada pengguna atat
kedokteran lebih disebabkan karena kesalahan pemakaian, pemakaian yang
tidak benar atau kurangnya pengalaman serta tidak adanya pelatihan untuk
pengoperasiannya.
Kecelakaan yang diakibatkan oleh adanya penggunaan alat kedokteran
akan jauh lebih berbahaya dibanding apabila terjadi kecelakaan sebagai akibat
pelepasan energi listrik yang terjadi di rumah tangga atau di tempat kerja
lainnya, hal ini dikarenakan lingkungan pada pelayanan kesehatan
mengandung komponen komponen lain yang potensi menunjang terjadinya
kecelakaan, antara lain: bahan kimia, micro-organisme, limbah infeksius,
beban-beban mekanik, gelombang elektromagnit, frekwensi tinggi, radiasi.
Pada kesempatan ini lebih ditekankan pada pembahasan mengenai
bahaya pelepasan energi listrik, khususnya mengenai tindakan
pengamanannya (electrical safety). Lebih detail mengenai efek fisiologis akibat
kecelakaan listrik, bahaya kejut listrik, metode pengamanannya, standar
pengamanan dan prosedur test pengamanan (electrical safety tes) dengan
maksud agar memahami / mengerti tentang kemungkinan terjadinya bahaya,
serta bagaimana tindakan pengamanan yang harus dilakukan sehubungan
dengan penggunaan teknologi peralatan kedokteran.

B. Efek Fisiologis
Ada tiga hal yang akan terjadi apabila arus listrik mengalir masuk melalui
jaringan biologis, yaitu:
1. Rangsangan listrik pada jaringan atau saraf.
2. Menahan panas
3. Kerusakan jaringan
Berikut ini merupakan beberapa kondisi yang akan terjadi pada organ
tubuh akibat pelepasan energi listrik

Threshold of perception
Pada keadaan ini jaringan/ kulit mulai dapat merasakan kehadiran arus listrik
dalam batasan minimal (untuk arus AC adalah 0,5 mA, 60Hz dan untuk arus
DC 2 sampai dengan 10 mA ), secara individual terasa ‘geli’. Perasaan ini akan
dialami secara berbeda-beda, tergantung pada nilai impedansi jaringan secara
individu.

Let-Go-Current
Apabila besar arus listrik yang mengalir melalui jaringan semakin meningkat,
maka akan menimbulkan rangsangan pada jaringan otot dan saraf. Seringkali
mulai dirasakan rasa ‘sakit/nyeri’ dan secara reflek otot akan berkontraksi.
Pada keadaan ini minimal arus listrik 6 mA dapat mulai mengakibatkan
gerakan reflek otot.

Respiratory paralysis
Semakin tinggi arus listrik yang mengalir menyebabkan otot -otot pernapasan
berkontraksi cukup kuat ( mencekik ) dan akhirnya akan menimbulkan
‘kelemasan’ karena kekurangan oksigen. Kejadian seperti ini dapat timbul jika
arus listrik yang mengalir cukup kuat dan dalam keadaan yang cukup lama

Ventricular Fibrillation
Jantung manusia merupakan jalur ‘khusus’ aliran listrik yang membuat
keadaan menjadi sangat berbahaya. Apabila terjadi aliran listrik ke tubuh
manusia, maka sebagian aliran ada yang mengalir melalui dada kemudian ke
jantung. Apabila arus listrik cukup kuat mempengaruhi bagian otot jantung,
maka perambatan aktivitas listrik dalam jantung akan terganggu. Dan apabila
aktivitas kelistrikan dalam jantung terganggu, maka denyut jantung dapat
mencapai 300 BPM ( beats per minute ) seperti ‘gelombang balik’ depolarisasi
secara acak pada ventricles. Gerakan pemompaan jantung akan berhenti dan
merupakan ‘kematian’ dalam hitungan menit.
Besar arus listrik untuk mengakibatkan ventricular ber-fibrasi adalah 75 mA
sampai dengan 400mA.

Myocardial contraction
Apabila arus listrik yang mengalir ke dalam jaringan cukup tinggi, maka
seluruh bagian otot jantung akan berkontraksi dan jantung berhenti berdenyut
sesaat selama ada arus listrik yang tinggal dan akan berdenyut normal kembali
bila arus listrik hilang. Kejadian seperti ini disebut jantung mengalami
defibrilasi.

Kecelakaan fisik dan luka bakar


Pada umumnya aliran listrik ke dalam jaringan tubuh manusia terjadi hanya
dalam waktu sesaat. Karena kulit mempunyai sifat ‘menahan panas’, ketika ada
arus listrik yang lewat, hal ini dapat menyebabkan luka bakar pada titik kulit
yang bersentuhan langsung dengan aliran arus listrik. Besar tegangan listrik
diatas 240 volt dapat melukai kulit, otak dan jaringan saraf lainnnya menjadi
tidak berfungsi. Demikian juga jaringan otot akan tertarik berkontraksi
melepaskan pada ikatan tulang.

C. Electrical Safety Standard


Standart Internasional yang banyak digunakan dan diadopsi oleh banyak
negara di dunia untuk Electrical Safety adalah standar IEC (International
Electrotechnic Commission). IEC 60601-1 merupakan standar umum untuk
keselamatan listrik.
Tujuan utama keselamatan listrik adalah untuk memastikan suatu
peralatan aman digunakan oleh pengguna dan pasien.
Keselamatan listrik berdasarkan IEC dikelompok ke dalam beberapa jenis,
contohnya/antara lain keselamatan listrik untuk :
1. Peralatan Medis
2. Peralatan X ray
3. Peralatan Bedah dengan frekuensi tinggi
4. Sistem Peralatan Kesehatan (termasuk peralatan non medis)

IEC 60601-1 Requirement :

 Protective Earth Resistance 0.2 MΩ


 Insulation Resistance Main Part 2 MΩ (minimal)
 Earth Leakage Current 500 μA
 Enclosure Leakage Current 100 μA
 Patient Leakage Current 100 μA (B & BF) ; 10 μA
(CF)

D. Klasifikasi Type dan Kelas Peralatan Medik Sesuai IEC

1. Type-type peralatan medik

Symbols Descriptio Symbol Description


n
Type B Type B
Defib protection

Type BF
Type BF
Defib protection

Type CF
Type CF
Defib protection

Gambar III-1 Tabel Type peralatan medik


a. Type B merupakan peralatan yang mempunyai pengamanan
terhadap tegangan kejut sesuai ambang batas arus bocor yang
diijinkan (normal 100 μA, tanpa pembumian 500 μA) tapi tidak
boleh digunakan/berhubungan langsung dengan jantung.
b. Type BF merupakan peralatan yang mempunyai pengamanan
terhadap tegangan kejut lebih baik dari peralatan type B yang
tercapai karena adanya isolasi (normal 100 μA, tanpa pembumian
500 μA) tapi tidak boleh digunakan/berhubungan langsung dengan
jantung.
c. Type CF merupakan peralatan yang mempunyai pengamanan
terhadap tegangan kejut paling baik yang tercapai dengan
meningkatkan mutu isolasi (normal 10μA, tanpa pembumian 50
μA) dan boleh digunakan/berhubungan langsung dengan jantung.

2. Kelas-kelas peralatan medik

a. Peralatan Kelas I merupakan peralatan yang mempunyai sistem


pengamanan terhadap bahaya kejut listrik tidak hanya tergantung
pada basic insulation, tetapi juga mengandalkan pengamanan
tambahan yaitu adanya protective eart conductor yang terpasang
secara permanen yang dihubungkan ke bagian-bagian lain dan alat
akan yang bersifat konduktor/penghantar dan dapat
disentuh/dicapai oleh tangan (accessible conductive parts ). Perlu
diketahui bahwa jika terjadi kegagalan fungsi pengaman dan basic
insulation, maka fungsi pengamanan diambil alih oleh protective
earth conductor. Ciri-ciri peralatan dengan class I. Peralatan
tersebut memperoleh sumber tegangan dan luar (external supply
mains, seperti : external battery, external converter, genset dsb).
L
MAINS
N

Protective Earth
Conductor
Basic insulation

(*) not used in medical applications

Gambar III-2 Diagram Peralatan Kelas I

b. Peralatan Kelas II, merupakan peralatan yang mempunyai sistem


pengaman terhadap bahaya kejut tidak hanya mengandalkan pada
basic insulation saja, tetapi juga tergantung pada sistim pengaman
sistim double insulation. Pada peralatan ini disamping memiliki
pengaman basic insulation, juga memiliki pengaman tambahan
berupa supplementary insulation dan atau reinforced insulation.
Apabila terjadi kegagalan fungsi pengaman dari basic
insulation,maka fungsi pengaman akan diambil alih oleh pengaman
lapis kedua yaitu suppIementary insulation dan atau oleh
reinforced insulation.
Pada peralatan dengan class II ini tidak ada/tidak memiliki
protective earth conductor.
L

Extra insulation

Basic insulation

Gambar III-2 Diagram Peralatan Kelas II


c. Peralatan kelas III merupakan peralatan yang mempunyai sistem
pengaman terhadap bahaya kejut listrik tergantung/menggunakan
supply tegangan “safety extra low voltage “(SELV).

SAFETY TRANSFORMER

Basic insulation

Gambar III-3 Diagram Peralatan kelas III

E. Electrical Safety Test

Electrical safety test meliputi pengukuran besaran kebocoran arus


listrik (leakage current) dan pengukuran tahanan insulation pada
beberapa titik di peralatan. Batasan nilai yang diperkenankan mengikuti
aturan dan IEC standards. Di bawah ini beberapa contoh gambar/metode
pengujian keselamatan listrik.
1. Protective Earth Test

Instrument under test

L (N)

N (L)
Ri
Applied part
PE (*)
Ohm

6V
Insulating pad
(*) If equipotential connection present : measure also
50 Hz 25 A or 1.5 Ir with yellow/green E.P. conductor connected.

Gambar III-4. Protective Earth Test


Dilakukan untuk peralatan kelas I type B, BF dan CF. Pengukuran
tahanan pembumian (impedance protective earth) disemua bagian alat
yang terbuat dari bahan metal/besi yang terhubung ke tahananan
pembumian (protective earth). Untuk peralatan yang dilengkapi dengan
kabel power besarnya adalah 0,2 Ω dan 0,1 Ω untuk peralatan yang
tidak dilengkapi kabel power.

2. Insulation Resistance Test

Instrument under test

L (N)
R

500V MOh
DC m N (L)

Applied part
PE

Insulating pad

Gambar III-5. Insulation Resistance Test

Untuk peralatan kelas I type B, BF dan CF. Diukur antara masukan


kabel tegangan ( phase dan netral ) yang dihubungkan/disatukan
dengan terminal pentanahan pada alat/instrumen yang dites. Nilainya
minimal 2 MΩ.
3. Earth Leakage Current (normal condition)

Instrument under test


L
(N)
S5

S1 Applied
N (L)
P part
M

Insulating pad
S12

Gambar III-6. Earth Leakage Current (normal condition)

Dilakukan pada peralatan kelas I type B, BF dan CF. Ukur arus bocor
pembumian pada peralatan medis yang terhubung dengan sumber
tegangan. Saklar S5 digunakan untuk posisi normal polaritas dan
polaritas terbalik. Untuk peralatan type BF dan CF ukur AP (Applied
Part) atau GND (Ground) dengan saklar S 12 tertutup dan terbuka.
Nilai maksimum arus bocor yang diijinkan adalah 500μA.

4. Enclosure Leakage Current (Touch Current)

Instrument under test


L
(N)

S5
S1
N (L) Applied
S7 (*) P part

M
Insulating pad
S12

Gambar III-7. Enclosure Leakage Current (Touch Current)


Dilakukan pada peralatan kelas I type B, BF dan CF. Ukur arus bocor
selungkup peralatan medis pada normal polaritas dan polaritas
terbalik dengan menggunakan saklar S5. Untuk peralatan type BF dan
CF ukur AP (Applied Part) atau GND (Ground) dengan saklar S 12
tertutup dan terbuka. Nilai maksimum arus bocor yang diijinkan
adalah 100 μA.

5. Patient Leakage Current

Instrument under test


L
(N)

S5
S1

N (L) Applied
S7 (*) P part

Insulating pad

M (*) Not present in


Class 2

Gambar III-8. Patient Leakage Current

Dilakukan pada peralatan kelas I type B, BF dan CF. Ukur arus bocor
pasien ke pembumian dari semua bagian yang terhubung ke pasien
(Applied Part) secara paralel pada normal polaritas dan polaritas
terbalik dengan menggunakan saklar S5.
Maksimum arus bocor yang diperkenankan untuk peralatan type B
dan BF adalah 100 μA. Untuk peralatan type CF arus bocor yang
diperkenankan adalah 10 μA.
F. Metode Pengamanan Peralatan Medik
1. Pembumian untuk Peralatan
Banyak kegagalan peralatan yang disebabkan karena pemasangan atau
penggunaan yang salah pada fasilitas pembumian yang disediakan
pada peralatan atau pada jalur penyedia sumber tegangan. Pada stop
kontak yang menggunakan fasilitas dua lubang (tidak ada jalur
pembumian), dan pada power cord peralatan sering kali tidak
dilengkapi dengan adaptor apabila antara konektor power cord
berbeda model/tipe dengan stop kontak. Fasilitas pembumian adalah
mutlak diperlukan baik pada penyedia sumber tegangan maupun pada
peralatan.
IEC 60601-1 mensyaratkan nilai resistansi pembumian (grounding
resistance) antara titik grounding pada power cord dengan titik
grounding yang terpasang pada chasis adalah 0,2 Ohm. Sebagai bahan
catatan bahwa ada beberapa standard yang mengijinkan sampai
dengan 0,5 Ohm.

Gambar III-9. Pembumian Peralatan


2. Pengurangan Arus Bocor
Pencegahan dan pengurangan kemungkinan terjadinya arus bocor
pada chasis/selubung peralatan maupun pada bagian yang terhubung
langsung dengan pasien (applied part) adalah hal yang paling utama
menjadi perhatian para desainer peralatan kedokteran yang
menggunakan energi listrik.
Arus bocor listrik yang timbul pada selubung atau pada chasis bisa
dikurangi dengan melapisi chasis dengan bahan non-conductor atau
yang bersifat insulator. Pada penggunaan bagian peralatan yang
bersentuhan langsung dengan pasien (seperti patient leads) , sedapat
mungkin mempunyai nilai impedansi yang cukup tinggi dan
terhubung dengan jalur pembumian.
3. Isolasi Ganda
Pada kebanyakan peralatan kedokteran yang menggunakan energi
listrik sudah dilengkapi dengan isolasi lapis pertama (primary
insulation) yang membatasi atau memisahkan antara bagian peralatan
yang sifatnya konduktor dan dialiri arus listrik dengan bagian yang
bersifat non-konduktor. Untuk pengamanan ganda peralatan dipasang
isolasi lapis kedua ( secondary insulation ) yang terpasang terpisah dan
isolasi lapis pertama. Sebagai contoh: tombol-tombol knob atau saklar/
switch yang dilapisi bahan isolator.
4. Extra Low Voltage
Peralatan diagnostik untuk keperluan medis banyak menggunakan
tegangan rendah, seperti baterai atau menggunakan tegangan rendah
dari trafo isolasi. Tegangan rendah dari arus AC masih memungkinkan
terjadinya arus/tegangan kejut yang sangat kecil, namun masih jauh
lebih baik dibanding menggunakan tegangan yang lebih tinggi.
Tegangan listrik dengan nilal 24 Volt DC dan 50 Volt AC dipandang
cukup aman bagi pengguna peralatan.
G. Istilah-istilah Bagian Peralatan

1. Live Parts, merupakan bagian dari suatu peralatan yang dalam kondisi
normal mengandung muatan listrik. Live parts dapat merupakan
bagian dari main part, applied part/patient circuit atau bagian dari
internal circuit.
2. Main Parts, merupakan bagian dan atau seluruh bagian dari peralatan
yang memiliki hubungan dengan sumber tegangan utama.
3. Applied Parts, adalah seluruh bagian dari peralatan yang mempunyai
hubungan atau kontak langsung dengan pasien untuk keperluan
pemeriksaan atau pengobatan.
4. Patient Circuit, adalah suatu rangkaian dimana pasien menjadi bagian
dari rangkaian tersebut. Tandanya adalah bahwa peralatan tersebut
memiliki applied part yang dilengkapi dengan tranducer atau electrode
yang kontak langsung ke tubuh.
5. Supply Parts,adalah bagian atau peralatan yang berhubungan langsung
dengan sumber daya dari luar.
6. Power Supply/Source,,adalah sumber daya bagi suatu peralatan; dibagi
menjadi 2 (dua), yaitu internal power supply/source dan external power
supply/source.
7. External Power Supply/Source, adalah sumber daya (termasuk batterey)
yang secara fisik tidak terintegrasi dari peralatan itu sendiri tetapi
sebagai sumber tegangan agar peralatan dapat dioperasikan.

H. Tingkat Resiko Penggunaan Peralatan Medik


Setiap penggunaan peralatan medik memiliki tingkat “resiko” yang beda.
Pengertian dari resiko adalah bahwa setiap kegagalan fungsi atau
kesalahan dalam pemakaian akan menimbulkan akibat kepada pasien.
Tingkat resiko digolongkan menjadi 3 (tiga) antara lain : tingkat resiko
rendah (low risk), tingkat resiko sedang (medium risk) dan tingkat resiko
tinggi (high risk).
1. Tingkat Resiko Rendah (Low Risk)
Yang termasuk tingkat resiko rendah adalah jika karena
kegagalan/kesalahan pemakaian peralatan tidak dapat menimbulkan
akibat yang serius terhadap pasien. Contoh peralatan medik dengan
tingkat resiko rendah antara lain :
 Alternating pressure pads.
 Aspirators (low volume).
 Circulating fluid pumps.
 Diathermy units ( physical therapy).
 Electric beds.
 Electronic scales (for general patient patient care).
 Electronic Thermometers.
 Examination lights.
 Fiberoptic light sources.
 lsolated power systems.
 Oto/ophthalmoscopes.
 Paraffin baths.
 Physical Therapy Ultrasound units
 Pumps (breast).
 Regulators (low volume suction).
 Smoke evacuators.
 Sphygmomanometers.
 Stimulators (low and high voltage physical therapy units).
 Surgical lights.
 Surgical microscopes.
 Surgical tables.
 Temperature monitors.
 Ultrasonic nebulizers.
 Whirlpool baths.

2. Tingkat Resiko Sedang (Medium Risk)

Yang termasuk resiko medium adalah jika karena kegagalan, kesalahan


pemakaian dan ketidakberadaan peralatan dapat menimbulkan
dampak yang significan/ cukup berarti terhadap pasien, tetapi tidak
secara langsung mengakibatkan kecelakaan yang serius terhadap
pasien. Contoh peralatan medik yang memiliki tingkat resiko sedang
antara lain :
 Ambulatory ECG recorder and scanners.
 Aspirators (surgical, thoracic, and uterine).
 Blood bank refrigerators.
 Blood gas! PH analyzers.
 Blood pressure units (non-invasive electronic (use in critical care).
 Blood warmers.
 Cardiac output units.
 Centrifuges.
 Clinical laboratory equipment.
 Cryosurgical units.
 Electrocardiographs.
 Electroconvulsive therapy units.
 Electroencephalographs.
 Endoscopes.
 Enternal pumps.
 Evoked potential units.
 Laparoscopic insufflators
 Ultrasound scanners.
 Lithotripters.
 Oxygen-air proportioners.
 Phonocardiographs.
 Phototherapy units.
 Pressure transducers (all types).
 Pulmonary function analyzers.
 Radiant warmers (adult).
 Regulators (air, 02, suction (except tracheal)).
 Special care beds.
 Surgical drills and saws (powered).
 Traction units.
 Treadmills.

3. Tingkat Resiko Tinggi

Yang termasuk resiko tinggi adalah apabila kegagalan atau kesalahan


pemakaian peralatan dapat mengakibatkan kecelakaan (injury) yang
serius terhadap pasien maupun operator. Contoh peralatan medik yang
memiliki tingkat resiko tinggi antara lain :
 Anaesthesia units and vaporizers.
 Anaesthesia ventilators
 Apnea monitors (neonatal)
 Aspirators ( emergency and tracheal)
 Autotransfusions units.
 Blood pressure units (invasive).
 Capnometers.
 Defibrillators (including defibrillator/monitors and pacemakers)
 Diagnostic radiologic imaging systems.
 Electrosurgical units.
 Fetal monitors.
 Heart-lung bypass units.
 Hemodialysis units.
 Ventilators.
 Humidifiers (heated).
 Hypo/hyperthermia units.
 Incubators (infant, including transport units).
 Infusion controllers/pumps.
 Intra-aortic balloon pumps.
 Lasers (surgical)
 Medical Gas/Vacuum systems.
 Nuclear medicine systems.
 Oximeters (pulse).
 Oxygen monitors and analys
 Pacemakers (internal).
 Peritoneal dialysis units.
 Physiologic monitors and monitoring systems.
 Radiographic dye injectors.
 Regulators ( for tracheal suction).
 Resuscitators (pulmonary).
 Sterilzers.
 Tourniquets (pneumatic).
 Transcutaneous oxygen and carbon dioxide monitors.