Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

KEDOKTERAN KOMUNITAS

“PENETAPAN JUMLAH POPULASI DAN SAMPEL”

DI SUSUN OLEH :

Elisa Rosani 1102012074


Eko Setyo Nugroho 1102013092
Maya Intan Andriyani 1102012159
Rizky Febriansyah 1102011240

Kedokteran Komunitas periode 04 Maret – 05 April 2019

Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi

Menara YARSI, Kav. 13 Lt 1, Jl. Letjend Suprapto No.1


Populasi

Menurut Arikunto (2013: 173) populasi adalah keseluruhan dari subjek penelitian. Jadi
yang dimaksud populasi adalah individu yang memiliki sifat yang sama walaupun prosentase
kesamaan itu sedikit, atau dengan kata lain seluruh individu yang akan dijadikan sebagai obyek
penelitian. Sedangkan Sugiyono (2013: 117) populasi adalah generalisasi yang terdiri atas
obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Menurut Sugiyono (2014:115) bahwa:

“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas
dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya.”

Dari pengertian diatas, menunjukan bahwa populasi bukan hanya manusia tetapi bisa
juga obyek atau benda-benda subyek yang dipelajari seperti dokumen-dokumen yang dapat
dianggap sebagai objek penelitian. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada
obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh
subyek atau obyek itu.

Populasi bukan hanya bersifat orang saja, tetapi juga bisa benda-benda alam yang lain.
Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi juga
meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek itu. Wujud subjek itu
bermacam-macam, bisa berupa: manusa, hewan tumbuh-tumbuhan, barang produk (hasil-hasil
kerajinan, basil-basil industri, dan lain-lain), barang-barang nonproduk (batu, pasir, tanah, air,
dan lain-lain), dan bentuk lingual atau ungkapan verbal (kata, frasa, kalimat, paragraf, teks),
atau dokumen dan barang cetak.

Perlakuan peneliti terhadap subjek atau objek tersebut dapat memungkinkan dua
alternatif status populasi. Pertama, populasi penelitian itu bersatus sebagai objek penelitian
jika populasi itu bukan sebagai sumber informasi, tetapi subagai substansi yang diteliti, seperti
hasil produksi (susu kaleng, cat, topeng, dan lain-lain). Kedua, populasi penelitian itu
berstatus sebagai sumber informasi, seperti manusia dan dokumen. Dalam survei sosial, orang
atau sekelompok orang lazim berfungsi sebagai sumber informasi tentang hal-hal yang
berhubungan dengan diri mereka atau fenomena-fenomena sosial yang berhubungan dengan
mereka. Dalam penelitian tertentu, populasi penelitian dapat berstatus ganda, sebagai objek
penelitian yang informasinya juga dari populasi itu. Penelitian tentang “perbedaan cara belajar
antara mahasiswa bidang eksakta dan mahasiswa bidang sosial” mengisyaratkan populasi
penelitian akan berstatus ganda: sebagai objek penelitian yang sekaligus juga sebagai sumber
data penelitian.
Diungkapkan oleh Nawawi (Margono, 2014: 118). Ia menyebutkan bahwa populasi
adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-
tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki
karaktersitik tertentu di dalam suatu penelitian. Kaitannya dengan batasan tersebut, populasi
dapat dibedakan berikut ini :

1. Populasi terbatas atau populasi terhingga, yakni populasi yang memiliki batas kuantitatif
secara jelas karena memilki karakteristik yang terbatas. Misalnya 5.000.000 orang guru SMA
pada awal tahun 1985, dengan karakteristik; masa kerja 2 tahun, lulusan program Strata 1, dan
lain-lain.
2. Populasi tak terbatas atau populasi tak terhingga, yakni populasi yang tidak dapat ditemukan
batas-batasnya, sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah secara
kuantitatif. Misalnya guru di Indonesia, yang berarti jumlahnya harus dihitung sejak guru
pertama ada sampai sekarang dan yang akan datang.
Dalam keadaan seperti itu jumlahnya tidak dapat dihitung, hanya dapat digambarkan
suatu jumlah objek secara kualitas dengan karakteristik yang bersifat umum yaitu orang-orang,
dahulu, sekarang dan yang akan menjadi guru. populasi seperti ini disebut juga parameter.
Jenis-Jenis Populasi
Macam-macam populasi dilihat dari penentuan sumber data :
a. Populasi terbatas, yaitu populasi yang memiliki sumber data yang jelas batas-batasnya secara
kuantitatif. Misalnya, jumlah murid SLTA di Surabaya pada tahun 2004 sebanyak 150.000
siswa terdiri dari 78.000 murid putra dan 72.000 murid putri.

b. Populasi tak terhingga, yaitu populasi yang memiliki sumber data yang tidak dapat ditentukan
batas-batasnya secara kuantitatif. Oleh karenya, luas populasi bersifat tak terhingga dan hanya
dapat dijelaskan secara kualitatif. Misalnya, jumlah gelandangan di Indonesia. Ini berarti harus
dihitung jumlah gelandangan di Indonesia dari tahun ke tahun, dan tiap kota. Tidak saja
perhitungan terhadap jumlah gelandangan yang ada sekarang, tetapi juga dilakukan penafsiran
jumlah gelandangan di waktu yang akan datang.
Macam-macam populasi dilihat dari kompleksitas objek populasi Margono :

a. Populasi homogen, yaitu keseluruhan individu yang menjadi anggota populasi, memiliki sifat-
sifat yang relative sama satu sama lainnya. Sifat populasi seperti ini banyak dijumpai pada
medan eksata, misalnya air. Ciri yang menonjol dari populasi homogen, tidak ada perbedaan
hasil tes dari jumlah tes populasi yang berbeda. Maksudnya adalah gejala yang timbul pada
satu kali percobaan atau tes merupakan gejala yang timbul pada seratus kali atau lebih tes
terhadap populasi yang sama.

b. Populasi heterogen, yaitu keseluruhan individu anggota populasi relative memiliki sifat-sifat
individual, dimana sifat tersebut membedakan individu anggota populasi yang satu dengan
yang lainnya. Dengan kata lain bahwa individu anggota populasi memiliki sifat yang bervariasi
sehingga memerlukan penjelasan terhadap sifat-sifat tersebut baik secara kuantitatif maupun
kualitatif. Pada penelitian sosial, populasi heterogen menjadi tidak asing lagi dalam setiap
penelitian. Hal ini disebabkan semua penelitian sosial berobjekkan manusia atau gejala-gejala
dalam kehidupan manusia yang bersifat amat unik dan kompleks.

Selain pembedaan-pembedaan diatas, populasi juga dapat dibedakan antara populasi sampling
dan populasi sasaran. Misalnya, apabila kita mengambil rumah tangga sebagai sampel
sedangkan yang diteliti hanyalah rumah tangga yang bekerja sebagai petan, maka keseluruhan
rumah tangga dalam wilayah penelitian disebut populasi sampling, sedangkan seluruh petani
dalam wilayah penelitian disebut populasi.

Menurut Margono populasi dapat dibedakan ke dalam hal berikut ini:


1. Populasi teoretis (teoritical population), yakni sejumlah populasi yang batas-batasnya
ditetapkan secara kualitatif. Kemudian agar hasil penelitian berlaku juga bagi populasi yang
lebih luas, maka ditetapkan terdiri dari guru; berumus 25 tahun sampai dengan 40 tahun,
program S1, jalur skripsi, dan lain-lain.

2. Populasi yang tersedia (accessible population), yakni sejumlah populasi yang secara
kuantitatif dapat dinyatakan dengan tegas. Misalnya, guru sebanyak 250 di kota Bandung
terdiri dari guru yang memiliki karakteristik yang telah ditetapkan dalam populasi teoretis.
Sample

Dalam penelitian, tidak selamanya seluruh populasi dijadikan objek/subjek yang


diteliti, diungkap data-datanya, dikaji karakteristiknya. Dalam kasus dimana jumlah populasi
penelitian sangat banyak, maka dengan alas an-alasan tertentu peneliti dimungkinkan untuk
mengambil sebagian saja dari jumlah populasi tersebut untuk dijadikan objek/subjek
penelitian. Jadi bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada
pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu maka peneliti dapat
mengunakan sample yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sample tersebut
kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sample yang diambil dari populasi
haruslah benar-benar mewakili populasi (representative).

Sampling adalah kegiatan menentukan sampel. Sampel adalah sebagian dari populsi yang
dijadikan sebagai objek penelitian, dengan kata lain sampel sebagai wakil dari
populasi. Dalam pengambilan sampel yang perlu diperhatikan adalah bahwa karakteristik
yang ada dalam populasi harus terwakili oleh sampel. Dengan pertimbangan akademik dan
non akademik, populasi dapat diwakili oleh sebagian anggotanya yang disebut sampel. Namun,
hasil penelitian tidak akan berkurang bobot dan akurasinya karena sampel memiliki karakter
yang sama dengan populasi sehingga informasi yang digali dari sampel sama dengan karakter
yang berlaku pada populasi.

Arikunto (2013: 174) berpendapat bahwa sampel adalah sebagian atau wakil populasi
yang diteliti. Sedangkan menurut sugiyono (2013: 118) sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.

Menurut Sugiyono (2014:116) definisi sampel yaitu sebagai berikut: “Sampel adalah bagian
dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.”

Pengukuran sampel merupakan suatu langkah untuk menentukan besarnya sampel yang
diambil dalam melaksanakan suatu penelitian. Selain itu juga diperhatikan bahwa sampel yang
dipilih harus menunjukkan segala karakteristik populasi sehingga tercermin dalam sampel yang
dipilih, dengan kata lain sampel harus dapat menggambarkan keadaan populasi yang
sebenarnya atau mewakili (representatif).

Dalam penentuan ukuran sampel sebenarnya tidak ada aturan yang tegas berapa jumlah
sampel yang harus diambil dari populasi yang tersedia. Tidak ada pula batasan yang ”pasti”
dan jelas apa yang dimaksud dengan sampel besar dan sampel yang kecil. Ada beberapa rumus
yang lazim digunakan untuk menentukan ukuran sampel, namun demikian dalam
penggunaannnya tidak ada yang bersifat mutlak ( paling benar ). Beberapa rumus tersebut di
antaranya :

1. n = Z2S2 / C2 ( Budi Purwadi, 2000: 136 )


2. n = ( Z./ E )2 ( Djarwanto dkk, 2000: 154 )
3. n = 0.25 ( Z / E )2 ( Djarwanto dkk, 2000: 159 )
4. n = N / ( 1 + N. Moe2 ) ( Rao, 1996 )
5. n tergantung pada teknis analisa yamg akan digunakan

1) Rumus n = Z2S2 / C2
n : jumlah sample
Z : Angka normal standart yang besarnya tergantung dari level conviden
S : sebenarnya adalah ( standart deviasi populasi ) , namun karena tidak diketahui
dan tidak dapat dihitung maka didekati dengan S ( standart deviasi dari sample ) yang
sebenarnya juga belum bisa dihitung sebelum ada sample.
C : selisih antara nilai rata-rata sample dengan nilai rata – rata populasi yang besarnya
juga diperkirakan

Rumus ini sesuai untuk digunakan bila parameter yang diukur adalah nilai rata – rata,
dan perhitungannya akan dapat dilakukan dengan ketentuan :
1. Nilai bisa didekati dengan S,
2. Nilai S besarnya merupakan perkiraan saja, karena memang S baru bisa dihitung
setelah ada data terkumpul.
3. Nilai C juga merupaka perkiraan yang besarnya sesuai kehendak si peneliti
4. N populasi tidak diketahui ( misalnya: tak terhingga )

Untuk menghitung penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu, maka digunakan
rumus Slovin sebagai berikut:
Keterangan:

n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi

e2 = Taraf nyata atau batas kesalahan

Dalam menentukan jumlah sampel yang akan dipilih, penulis menggunakan tingkat kesalahan
sebesar 5%, karena dalam setiap penelitian tidak mungkin hasilnya sempurna 100%, makin
besar tingkat kesalahan maka semakin sedikit ukuran sampel. Sugiyono (2014)

Faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran sampel :

Dalam hal menentukan ukuran / jumlah sampel akan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yang terdiri dari :
1. Derajat keseragaman dari populasi
2. Presisi yang dikehendaki dalam penelitian
3. Rencana analisa
4. Tenaga, biaya dan waktu

1) Derajat keseragaman dari populasi


Makin seragam populasi, makin kecil sampel yang dapat diambil. Apabila
populasi itu seragam sempurna ( completely homogenous ), maka satu satuan elementer saja
dari seluruh populasi itu sudah cukup refresentatif untuk diteliti. Sebaliknya apabila populasi
itu secara sempurna tidak seragam ( completely heterogenous ), maka hanya pencacahan
lengkaplah yang dapat memberikan gambaran yang refresentatif

2) Presisi yang dikehendaki dari penelitian


Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki, makin besar ukuran sampel yang
harus diambil, dan sebaliknya semakin rendah tingkat presisi yang dikehendaki maka semakin
kecil ukuran sampel yang diperlukan. Jadi sampel yang besar cenderung memberikan
pendugaan yang lebih mendekati nilai sesungguhnya ( true value ). Dengan cara lain dapat
dikatakan bahwa ukuran sampel mempunyai hubungan yang negatif terhadap tingkat
kesalahan. Semakin besar ukuran sampel maka semakin kecil tingkat kesalahan yang terjadi.
Hubungan ini dapat ditunjukan dengan kurva sebagai berikut :
Hubungan ukuran sampel dengan tingkat kesalahan

Teknik diagram sesuai dengan Kerlenger

3) Rencana analisa
Ada kalanya besarnya sampel sudah mencukupi sesuai dengan presisi yang
dikehendaki, tetapi kalau dikaitkan dengan kebutuhan analisa maka jumlah sampel tersebut
menjadi kurang mencukupi. Misalnya peneliti ingin menghubungkan tingkat pendidikan
responden dengan pemakaian alat kontrasepsi. Bila tingkat pendidikan responden dibagi /
dirinci menjadi : tidak sekolah, tidak tamat SD, tamat SD, Belum tamat SMTP, tamat SMTP.
Dan seterusnya, mungkin tidak cukup dengan mengambil 100 responden karena akan terdapat
sel – sel dalam tabel yang kosong. Begitu juga untuk analisa yang menggunakan metode
statistik yang rumit.

4) Tenaga , biaya dan waktu


Apabila diinginkan presisi yang tinggi maka jumlah sampel harus besar. Tetapi apabila
dana, tenaga dan waktu terbatas maka tidaklah mungkin untuk mengambil sampel yang besar,
dan ini berarti presisinya akan menurun. Walaupun besarnya sampel didasarkan atas keempat
pertimbangan di atas namun seorang peneliti harus dapat memperkirakan besarnya sampel
yang diambil sehingga presisinya dianggap cukup untuk menjamin tingkat kebenaran hasil
penelitian. Jadi peneliti sendirilah yang menentukan tingkat presisi yang dikehendaki, dan
selanjutnya berdasarkan presisi tersebut dapat menentukan besarnya sampel.
Menentukan Ukuran Sampel

Jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang
diharapkan 100% mewakili populasi adalah sama dengan jumlah anggota populasi itu sendiri.
Jadi bila jumlah populasi 1000 dan hasil penelitian itu akan diberlakukan untuk 1000 orang
tersebut tanpa ada kesalahan, maka jumlah sampel yang diambil secara sama dengan jumlah
populasi tersebut yaitu 10000 orang makin besar jumlah sampel mendekati populai, maka
peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel
menjauhi populasi, maka makin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum).
Jumlah anggota sampel yang paling tepat digunakan dalam penelitian tergantung pada
tingkat ketelitian atau kesalahan yang dikehendaki. Tingkat ketelitian atau kepercayaan yang
dikehendaki sering tergantung pada sumber dana, waktu dan tenaga yang tersedia. Makin besar
tingkat kesalahan maka akan semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan dan sebaliknya,
makin kecil tingkat kesalahan, maka akan semakin besar jumlah anggota sampel yang
diperlukan sebagai sumber data.
Untuk menentukan sampel dari populasi digunakan perhitungan maupun acuan tabel
yang dikembangkan para ahli. Secara umum, untuk penelitian korelasional jumlah sampel
minimal untuk memperoleh hasil yang baik adalah 30, sedangkan dalam penelitian eksperimen
jumlah sampel minimum 15 dari masing-masing kelompok dan untuk penelitian survey jumlah
sampel minimum adalah 100. Acuan umum untuk menentukan ukuran sampel :
1. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk
kebanyakan penelitian
2. Jika sampel dipecah ke dalam subsampel (pria/wanita, junior/senior, dan
sebagainya), ukuran sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat
3. Dalam penelitian mutivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran
sampel sebaiknya 10x lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian
4. Untuk penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eskperimen yang
ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10
sampai dengan 20
Besaran atau ukuran sampel ini sampel sangat tergantung dari besaran tingkat
ketelitian atau kesalahan yang diinginkan peneliti. Namun, dalam hal tingkat kesalahan, pada
penelitian sosial maksimal tingkat kesalahannya adalah 5% (0,05). Makin besar tingkat
kesalahan maka makin kecil jumlah sampel. Namun yang perlu diperhatikan adalah semakin
besar jumlah sampel (semakin mendekati populasi) maka semakin kecil peluang kesalahan
generalisasi dan sebaliknya, semakin kecil jumlah sampel (menjauhi jumlah populasi) maka
semakin besar peluang kesalahan generalisasi.

Cara Mengambil Ukuruan Anggota Sampel

Ada dua tenik sampling yaitu probability sampling dan nonprobability sampling.
Probability sampling adalah teknik sampling yang memberi peluang sama kepadaanggota
populasi untuk dipilih menjadi anggota sample. Cara demikiam sering disebut random
sampling atau cara pengambilan sampel secara acak.
Pengambilan sampel secara acak dapat dilakukan dengan bilangan random, komputer
maupun undian. Bila pengambilan dilakukan dengan undian, maka setiap anggota populasui
diberi nomor terlebih dahulu sesuai dengan jumlah anggota populasi.
Kearena teknik pengambilan sampling adalah random, maka setiap anggota populasi
mempunyai peluang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Untuk contoh diatas peluang
setiap anggota populasi 1/1000. Dengan cara demikian pengambilannya bila nomor satu telah
diambil maka perlu dikembalikan kembali, kalau tidak dikembalikan peluangnya menjadi tidak
sama. Misalnya nomor pertama tidak dikembalikan lagi maka peluang berikutnya menjadi 1 :
(1-1000) = 1/999. Peluang akan semakin besar bila yang telah diambil tidak dikembalikan. Bila
yang diambil keluar lagi, dianggap tidak sah dan dikembalikan lagi.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,


Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan


R&D. Bandung: Alfabeta.