Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGUJIAN KIMIAWI KULIT SOL SAMAK NABATI

Disusun Oleh :

Nama : Ery ardiansyah al farizi


Kelas : (TPK-B2 / 1701087)
Kelompok : 4 (empat)

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN INDUSTRI

POLITEKNIK ATK YOGYAKARTA

2019
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
DAFTAR ISI..................................................................................................................i
DAFTAR TABEL...................................................................Error! Bookmark not defined.
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................. 1
A. Latar Belakang.............................................................................................................1
B. Maksud dan Tujuan......................................................................................................1
C. Manfaat........................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................... 3
A. PENYAMAKAN..........................................................................................................3
B. BAHAN PENYAMAK NABATI.................................................................................4
C. KULIT SOL.................................................................................................................5
D. SYARAT dan MUTU...................................................................................................7
E. CARA KERJA...........................................................................................................10
F. PRINSIP KERJA SOXHLET.....................................................................................13
G. Desikator....................................................................................................................15
H. Skema Proses Pengujian Kulit....................................................................................16
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM....................................................................17
A. ALAT BAHAN..........................................................................................................17
B. CARA KERJA...........................................................................................................20
BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN........................................25
BAB V PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN...................................................................32

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 43

i
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
1. Keinginan produsen untuk mengetahui kualitas kulit yang di produksi di
bandingkan dengan standar (SNI)
2. Tujuan konsumen untuk mendapatkan / membeli kulit yang memenuhi
standar (SNI)
3. Tuntutan dunia usaha untuk meningkatkan kualitas

B. Maksud dan Tujuan


1. Mengetahui/menentukan kualitas kulit secara umum.
Maksudnya : dengan melalui pengujian mutu contoh kulit akan bisa
mengetahui mutu/kualitasnya kulit keseluruhan/hasil produksi yang
selanjutnya dibandingkan dengan standar (baik, sedang, kurang)
2. Mencari kesalahan/mengevakuasi proses penyamakan kulit.
Maksudnya : jika ternyata hasil pengujian menunjukkan mutu/kualitas
kulit yang kurang baik, maka bisa mengetahui tahapan-tahapan proses
penyamakan yang telah di lakukan, selanjutnya akan memberi masukan
agar proses penyamakan berikutnya dilaksanakan lebih baik dan kulit
bermutu baik.
3. Mencontoh/meniru kulit jadi yang bermutu baik
Maksudnya : bila konsumen membawa contoh kulit yang bermutu baik
maka pertama kali harus diuji selanjutnya dibuat rancangan proses, disusul
pelaksanaan produksi, hasilnya diuji lagi, dilakukan pematangan proses,
dengan harapan mendapatkan hasil sesuai contoh kulit yang di kehendaki.

1
C. Manfaat
1. Menambah ilmu pengetahuan tentang analisa kulit.
2. Memberikan sertifikasi hasil produksi (pengakuan mutu kulit dengan
sertifikat), jika peralatan dan metoda sesuai standart.
3. Sebagai alat promosi
Maksudnya : dengan adanya sertifikat bisa menjadi alat untuk promosi,
tanpa harus melakukan tryal sehingga meningkatkan kepercayaan
konsumen.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENYAMAKAN
Kulit merupakan salah satu bagian dari makhluk hidup yang dapat
dimanfaatkan. Di zaman modern sekarang ini kulit hewan banyak
dimanfaatkan sebagai produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomis yang
tinggi. Produk-produk yang menggunakan bahan kulit diantaranya adalah
sepatu, ikat pinggang, tas, sarung tangan golf, dsb.
Tentunya bahan kulit yang berasal dari hewan tersebut tidak bisa
begitu saja kita manfaatkan, karena hal ini harus melalui proses pengolahan
terlebih dahulu,proses ini yang dinamakan penyamakan kulit. Penyamakan
kulit pada dasarnya adalah proses pengubahan struktur kulit mentah yang
mudah rusak oleh aktifitas mikroorganisme, kimiawi atau fisik menjadi kulit
tersamak yang lebih tahan lama. Mekanisme ini pada prinsipnya adalah
pemasukan bahan-bahan tertentu kedalam jalinan serat kulit sehingga terjadi
ikatan kimia antara bahan penyamak dengan serat kulit.
Apabila bahan kulit hewan tersebut sudah stabil atau sudah disamak,
maka barulah bahan kulit tersebut dapat dimanfaatkan. Proses penyamakan
bahan kulit hewan tersebut memerlukan 3 tahapan, yaitu :
1. Beam House Operation
2. Tanning Operation
3. Finishing Operation
Harus diingat bahwa kulit merupakan bahan organik yang akan
disamak, dan mempunyai sifat-sifat yang masih amat sensitif terhadap
beberapa jenis kemikalia serta mikroorganisme, selam berlangsungnya proses
penyamakan. Kulit jadi (tersamak)berasal dari kulit mentah yang sebelumnya
telah diawetkan lalu diolah melalui proses yang bertahap. Dimana kesemua
proses tersebut pada akhirnya memberikan karakter tertentu pada kuli jadinya

3
yang disesuaikan dengan tujuan peruntukannya dengan cara penambahan
bahan-bahan tertentu pada saat proses.
Pada akhirnya nanti kulit jadi akan dijual ke pasaran. Tentunya pasar
mengijinkan kualitas kulit jadi yang terbaik agar kulit jadi tersebut dapat
digunakan sesuai dengan fungsi dari jenis artikelnya masing-masing.
Untuk memperoleh hasil kulit tersamak yang sesuai, seperti yang
diharapakan, maka pengontrolan selama proses berjalan harus dilakukan
secara teliti dan terus menerus, agar dapat selalu disesuaikan dengan kondisi
dan ketentuan yang diwajibakan untuk masing- masing penyamakan, seperti
yang akan diuraikan dibawah ini, misalnya pengontrolan pH, kepekatan
cairan, uji setelah proses berlangsung (tiap-tiap proses mengalami caran uji
yang berbeda dengan proses lainnya, selama proses berlangsung). Dan dengan
pengontrolan yang terus-menerus, kerusakan karena kelalaian dan
kecerobohan dapat dihindarkan.

B. BAHAN PENYAMAK NABATI


Tannin adalah subtansi pahit yang terdapat dalam babakan, buah
kacang-kacanga, daun, akar atau biji. Dipakai untuk mengubah kulit hewan
mentah menjadi kulit samak. Karena hal tersebut dari tumbuh-tumbuhan,
maka dinamakan bahan penyamak nabati. Sumber bahan penyamak ini
bermacam-macam sehingga akan berbeda-beda pula dalam kekuatan dan sifat,
warna konsentrasi dan kualitasnya. Jadi hasil kulitnya pun sangat berbeda,
bahkan diperuntukan penyamak berbagai macam kulit, antara lain kulit yang
keras empuk, warna tetap atau terang, berat dan ringan. Tannin tersebut dapat
digunakan sendiri-sendiri atau secara berbagai kombinasi untuk memperoleh
berbagai efek.

Kulit yang disamak nabati umumnya berwarna coklat muda atau


kemerahan sesuai dengan warna bahan penyamaknya. Ketahanan fisiknya
terhadap panas kurang baik dibandingkan dengan kulit yang disamak khrom

4
walaupun lebih baik dibandingkan dengan kulit yang disamak dengan minyak
atau formaldehid. Kulitnya agak kaku, tetapi empuk, cocok untuk digunakan
sebagai bahan dasar ikat pinggang, tas terutama yang pengerjaannya dengan
tangan.

Bahan penyamak nabati ialah bahan penyamak yang berasal dari


tumbuh-tumbuhan yang mengandung bahan penyamak dapat diketahui:
 Rasanya sepet,bila dirasakan dengan lidah
 Warnanya akan menjadi hitam bila bersinggungan dengan besi
 Bahan penyamak ini dapat dihasilkan dari :
1. Babakan (kulit) : akasia, sagawe, tungguli, bako2, mahoni, pilang dll
2. Kayu : Quebraco,eiken, mahoni,dll
3. Daun : sumoch,gambir,the, dll
4. Buah : pinang, manggis, sabut kelapa, valonea, divi2, dll

C. KULIT SOL
Kulit sol adalah kulit yang diperoleh dari penyamakan kulit sapi
dengan menggunakan bahan penyamak nabati. Kulit sol digunakan sebagai
lapisan bawah pada sepatu sehingga kulit tersebut harus keras. Dalam
pengujian kulit sol perlu dilakukan pengujian secara organoleptis, fisis dan
kimiawi untuk mengetahui kualitas dari kulit sol tersebut.

Kulit Sol adalah kulit jadi, matang dari bahan baku kulit sapi yang
disamak nabati, atau dikombinasikan krom nabati, umumnya digunakan
sebagai bawahan sepatu, insole, maupun Out sole. Penggunaannya dalam
sepau antara lain untuk : pengeras muka dan belakang, penguat tengah, sol
luar, pengisi telapak kaki muka, pita, sol dalam, sol tengah, lapis hak.

Dalam penyamakan kulit sol, bahan baku yang kita gunakan akan
mempengaruhu kulitasi kulit hasil samakan kita. Untuk itu kita perlu
membahas tentang bahan baku dan bahan pewnyamak yang digunakan dalam
5
proses penyamakan kulit sol. Suda kita ketahui sebelumnya bahwa kulit sol
merupakan kulit yang berasa dari penyamakan kulit sapi. Pada hewan sapi
faktor jenis bangsa lebih besar pengaruhnya terhadap kulit dibandingkan
dengan umurnya. Kulit sapi perah umumnya mempunyai rajah lebih halus dari
pada kulit sapi tipe daging pada umur yang sama. Kulit sapi Brahmana
mempunyai kelas yang sangat menonjol, hal ini menurunkan nilai kulitnya
dibandingkan dengan jenis bangsa yang tidak berkelas.

Kulit "Pedet" (anak sapi) mempunyai ciri-ciri yang sama dengan sapi
dewasa tetapi sruktur kulitnya dalam keadaan lebih halus. Pada hewan sapi
faktor umur lebih besar pengaruhnya terhadap kulit dibandingkan dengan
jenis bangsanya. Pengaruh jenis bangsa tidak tampak pada saat "Pedet"
sampai umurnya mencapai dewasa. Semakin tua hewan , akan semakin
banyak bekas-bekas luka karena pukulan, guratan cap bakar, parasit. Hewan
betina mempunyai rajah yang lebih halus dibandingkan hewan jantan. Hewan
jantan pada umumnya mempunyai bobot rata-rata lebih berat dan daya tahan
renggang yang lebih besar. Pada kulit sapi goresan pada rajah yang tidak
terlalu dapat diperbaiki dengan penanganan secara mekanik, umumnya
Buffing (pengamplasan) kulit disebut "corrected grain" (Purnomo,1984).

Menurut Djoyo Widagdo (1980), pembagian kelas menurut kualitas


(mutu) dari kulit sapi adalah sebagai berikut:

1. Kualitas 1 atau prime


2. Kualitas 2 atau Intermediet
3. Kualitas 3 atau Second
4. Kualitas 4 atau Third
5. Kualitas akhir atau Rejek

6
D. SYARAT dan MUTU

 Cara pengambilan contoh kulit


 Contoh kulit diambil secara acak dari jumlah lembar kulit dalam satu (1)
tanding (bisa dalam side / lembar utuh)

Tabel 1. Jumlah contoh kulit dan syarat lulus uji organoleptis


Jml yang memenuhi
Jml kulit dalam satu Contoh kulit yang syarat
No
tanding diambil Tidak lulus
Lulus uji
uji
1 s/d 50 5 0 1

2 51 - 150 20 1 2

3 151 - 280 32 2 3

4 281 - 500 50 3 4

5 501 - 1200 80 5 6

6 1201 - 3200 125 7 8

7 3201 - 10.000 200 10 11

8 10.001 - 35.000 315 14 15

9 35.001 - < 500 21 22

Kelas A, B, C kerusakan = 10%, 15%, 25%

7
Tabel 2. Jumlah contoh kulit untuk uji kimiawi dan fisis
No. Urut Jml kulit dala satu tanding Contoh kulit yang diambil
1 s/d 50 2

2 51 – 500 3

3 501 – 3200 5

4 3201 - < 8

Syarat Lulus Uji (SNI-0642-1989)

Satu tanding dinyatakan lulus uji / diterima apabila: hasil uji contoh kulit
secara organoleptis, fisi, dan chemis memenuhi persyaratan yang
ditentukan.

o Lulus kelas A jika organoleptis kerusakan 10%


o Lulus kelas B jika organoleptis kerusakan 15%
o Lulus kelas C jika organoleptis kerusakan 25%

Satu tanding dinyatakan tidak lulus uji / ditolak apabila hasil uji, secara
organoleptis, fisis dan chemis tidak memenuhi persyaratan yang
ditentukan.

 Cara pengambilan contoh kulit (SNI-0642-1980)


Setelah kita mendapatkan contoh kulit dari populasi kulit jadi tertentu
(satu tanding), contoh kulit segera dipersiapkan untuk dipotong menjadi
contoh uji (cuplikan), sesuai dengan jenis pengujiannya.
Untuk pengujian kimiawi kulit, diambil dari semua bagian, bagian Krupon
(K), bagian Leher (L), bagian Perut (P), untuk pengujian fisis dari bagian
Krupon saja.

8
Cara Kerja:
o Gambarlah satu side dari kulit besar.
o Tentukan bagian K, P dan L seperti gambar.
 Bagian Krupon (K) dari pangkal ekor kearah leher dengan jarak 12,5
cm, dari garis punggung ke bawah dengan jarak 5 cm.
Luas bagian krupon = 20 cm X 20 cm
 Bagian perut diambil dari tengah-tengah bagian perut.

 Bagian leher diambil dari tengah-tengah bagian leher. Luas bagian


leher = 7,5 cm X 5 cm. Jika dianggap perlu, maka contoh dapat
diperluas.

Menurut SII-0019-70 / SNI 06-0235-1989, kulit sol sapi adalahkulit


matang berasal dari kulit sapi yang disamak dengan zat penyamak nabati
dan umumnya digunakan untuk sol pada pembuatan sepatu.

Tabel 3. Syarat Mutu Kimiawi Kulit Sol Sapi


No Uraian Satuan Persyaratan
1 Kadar air % Maksimum 18
Kadar abu jumlah
2 Maksimum 2,5
%
Kadar zat larut dalam %
3 Maksimum 10
air
Kadarminyak /
4 % Maksimum 2,0
lemak
5 Derajat penyamakan % 60-95

untuk pH 3,5 – 4,5 bila diencerkan 10 kali selisish pH


6 pH %
maksimum 0,7

9
E. CARA KERJA
Permasalahan saat ini yang utama dialami oleh industri perkulitan adalah para
konsumen yang menghendaki barang yang dibeli sesuai dengan standar mutu
yang berlaku serta sedikit mengandung bahan kimia berbahaya bagi
lingkungan. Oleh karena itu, untuk meyakinkan konsumen maka sebelum
kulit samak diperjualbelikan dilakukan pengujian terlebih dahulu.

Menurut Jayusman dalam diktat penuntun praktikum ilmu bahan II secara


garis besar tujuan dilakukannya pengujian terhadap suatau kulit samak adalah:
1. Untuk menentukan mutu atau kualitas kulit secara umum, karena melalui
suatu analisa atau pengujian dapat disimpulan bahwa kulit tersebut bermutu
baik, sedang atau kurang.
2. Untuk mencari kesalahan atau kekurangan dalam proses penyamakan kulit
karena dari hasil uji ini dapat dilihat kekurangan yang terdapat pada hasil
penyamakan kulit sehingga dapat diketahui pada proses apa saja yang
mengalami kesalahan sehingga dapat dilakukan perbaikan pada proses
berikutnya dengan harapan kulit yang dihasilkan akan berkualitas baik.
3. Untuk mengikuti proses produksi kulit yang berkualitas baik.
Pengujian terhadap kulit samak secara umum di bagi menjadi 4,
yaitu pengujian organoleptis, fisis, kimiawi, dan mikrobiologis. Namun yang
sering digunakan di Indonesia hanyalah 3 pengujian yaitu organoleptis, fisis,
dan kimiawi. Hal ini disebabkan karena ketiga syarat pengujian tersebut saling
berhubungan dan saling mendukung satu sama lain.
a. Pengujian organoleptis
Pemeriksaan secara oragnoleptis merupakan jenis pemeriksaan kulit
samak dengan menggunakan panca indera. Pemeriksaan ini hanya dapat
menentukan kualitas kulit secara sepintas, sehingga pemeriksaan ini kurang
sempurna. Adapun alat pancaindera yang biasa digunakan dalam pemeriksaan
kualitas kulit secara organoleptis adalah mata, perasa, pengecap, dan pencium.
Pengujian ini juga sering menggunakan alat bantu sederhana seperti mistar,

10
cutter, dan silverpen. Dalam pengujian ini sifat-sifat yang diuji meliputi
kelepasan nerf, keadaan kulit,keadaan cat, kelentingan dan ketahanan sobek.
b. Pengujian fisis
Pengujian fisis merupakan pengujian yang dilakukan dengan
menggunakan alat-alat mekanis tensil strength, sticknes, crockmeter dan lain
sebagainya. Hal – hal yang diuji dalam penujian fisis meliputi ketahanan
zwick, ketahanan tarik, ketahanan regang, ketahanan bengkok, penyerapan air
dan ketahanan letup.
c. Pengujian kimia
Pemeriksaan secara kimiawi biasanya dilakukan di laboratorium dan
menggunakan alat-alat serta bahan-bahan kimia. Pemeriksaan ini dilakukan
untuk menganalisa kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam proses
penyamakan kulit yang dianalisa, sehingga bisa diketahui kandungan-
kandungan kimiawi dari kulit tersebut secara spesifik, tergantung analisa yang
dilakukan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi kadar air, kadar abu, kadar
lemak atau minyak, pH kulit tersamak, kadar zat terlarut, kadar zat kulit
mentah, kadar tanin terikat, derajad penyamakan, dan kadar abu tak larut.
1. Kadar air
Uji kadar air ini dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak kandungan air
dari kulit tersebut, sehingga kita dapat mengetahui apakah kulit tersamak
tersebut kering atau tidak, sebab apabila kandungan airnya berlebihan atau
lembab, maka akan mempengaruhi kualitas kulit, sebab kulit tersebut akan
menjadi mudah rusak oleh mikroorganisme
2. Kadar abu
Analisa kadar abu dilakukan untuk mengetahui kadar zat anorganik yang
terkandung dalam kulit samak tersebut. Biasanya zat yang terkandung berupa
garam inggris, serta berasal dari bahan-bahan pemberat pada bagian daging
yang berupa tanah liat dan lain-lain.

11
3. Kadar minyak
Analisa kadar minyak dilakukan untuk mengetahui kandungan minyak yang
ada pada kulit samak. Biasanya minyak yang terkandung dalam kulit tersamak
tersebut merupakan minyak yang berasal dari fatliquor. Terlalu banyak
kandungan minyaknya menandakan kulit terlalu lemas, dan dapat mudah
bercendawan dan mengadakan noda pada nerf, sedangkan apabila terlalu
rendah menandakan kulit cepat mengering dan mudah retak dan pecah kalu
terkena panas.
4. Ph kulit tersamak
Analisa ph kulit tersamak penting dilakukan sebab dalam analisa ini
digunakan untuk mengetahui besarnya pH kulit samak tersebut. Jika pH
terlalu tinggi biasanya menandakan bahwa dalam proses penyamakan,
terutama pada proses netralisasi tiak sempurna. Sedangkan jika terlalu rendah
menandakan bahwa dalam kulit tersebut terkandung asam-asam bebas
organik/ anorganik yang dapat meresap pada kulit pada waktu penyimpanan.
5. Kadar zat terlarut
Kadar zat larut perlu dianalisa, sebab untuk menentukan banyaknya tannin
yang tidak terikat, atau diisi terlalu banyak dengan benda-benda yang muah
terlarut dalam air pada kulit tersamak tersebut. Sedangkan terlalu rendah
menandakan bahwa bahan sol tidak diisi dengan bahan ekstrak penyamak.
6. Kadar zat kulit mentah
Pengertian kulit mentah dinyatakan dalam % nitrogen. Zat kulit mentah murni
mengandung 17,8% nitrogen.
7. Derajat penyamakan
Derajat penyamakan perlu dianalisa, sebab untuk menetukan seberapa
masaknya kulit tersebut. Jika derajat penyamak terlalu tinggi menandakan
bahwa bahan penyamaknya terlalu tinggi dan menyebabkan kulit masak
sempurna, serta baik fiksasinya. Sedangkan terlalu rendah menandakan bahwa
kulit belum masak.

12
8. Kadar abu tak larut
Kadar abu tak larut perlu dianalisa sebagai dasar penyamakan, dalam kadar
abu tak larut terkandung unsur- unsur anorganik yang tidak bisa larut dalam
air.
9. Kadar Tanin terikat

F. PRINSIP KERJA SOXHLET


Ekstraktor soxhlet adalah salah satu instrument yang digunakan untuk
mengekstrak suatu senyawa. Dan umumnya metode yang digunakan dalam
instrument ini adalah untuk mengekstrak senyawa yang kelarutannya terbatas dalam
suatu pelarut, namun jika suatu senyawa mempunyai kelarutan tinggi dalam suatu
pelarut tertentu, maka biasanya metode filtrasi (penyaringan/pemisahan) biasa dapat
digunakan untuk memisahkan senyawa tersebut dari suatu sampel. Adapun demikian,
prinsip kerja soxhlet adalah salah satu model ekstraksi (pemisahan/pengambilan)
yang menggunakan pelarut selalu baru dalam mengekstraknya sehingga terjadi
ekstraksi yang kontinyu dengan adanya jumlah pelarut konstan yang juga dibantu
dengan pendingin baik (kondensor).
Untuk cara kerjanya (mekanisme kerja), hal yang pertama harus dilakukan yaitu
dengan menghaluskan sampel (untuk mempercepat proses ekstraksi,karena luas
permukaannya lebih besar, jadi laju reaksi lebih cepat berjalan) kemudian sampelnya
dibungkus dengan kertas saring (agar sampelnya tidak ikut kedalam labu alas bulat
ketika ekstraksi), setelah itu dimasukkan batu didih (untuk meratakan pemanasan agar
tidak terjadi peledakan) kedalam labu alas bulat. Kemudian kertas saring dan sampel
dimasukkan kedalam timbal, dan timbalnya dimasukkan kedalam lubang ekstraktor.
Setelah itu pelarut dituangkan kedalam timbal dan disana akan langsung menuju ke
labu alas bulat. Kemudian dilakukan pemanasan pada pelarut dengan acuan pada titik
didihnya (agar pelarut bias menguap), uapnya akan menguap melalui pipa F dan akan
bergerak melalui dinding-dinding kondensor hingga akan terjadi proses kondensasi
(pengembunan), dengan kata lain terjadi perubahan fasa gas ke cair. Kemudian
pelarut akan bercampur dengan sampel dan mengekstrak (memisahkan/mengambil)
13
senyawa yang kita inginkan dari suatu sampel. Setelah itu maka pelarutnya akan
memenuhi sifon, dan ketika pada sifon penuh kemudian akan disalurkan kembali
kepada labu alas bulat. Proses ini dinamakan satu siklus, semakin banyak jumlah
siklus maka bias diasumsikan bahwa senyawa yang larut dalam pelarut juga akan
semakin maksimal.

1. Titik didih pelarut harus lebih rendah dari pada senyawa yang kita ambil dari
sampelnya karena akan berpengaruh pada struktur senyawanya (ditakutkan
strukturnya akan rusak oleh pemanasan)
2. Pelarut harus inert (tidak boleh bereaksi dengan senyawa yang kita ekstrak)
3. Posisi sifon harus lebih tinggi daripada sampelnya (karena ditakutkan, nanti
pada sampel yang berada diposisi atas tidak terendam oleh pelarut).

Nama-nama instrument dan fungsinya :


1. Kondensor : Berfungsi sebagai pendingin, dan juga untuk mempercepat
proses pengembunan.
2. Timbal : Berfungsi sebagai wadah untuk sampel yang ingin diambil
zatnya.
3. Pipa F : Berfungsi sebagai jalannya uap, bagi pelarut yang menguap dari
proses penguapan.
14
4. Sifon : Berfungsi sebagai perhitungan siklus, bila pada sifon larutannya
penuh kemudian jatuh ke labu atas bulat maka hal ini dinamakan 1 siklus.
5. Labu alas bulat : Berfungsi sebagai wadah bagi sampel dan pelarutnya.
6. Hot plate : Berfungsi sebagai pemanas larutan.
G. Desikator
Desikator adalah sebuah panci bersusun dua yang digunakan sebagai tempat
menyimpan bahan yang sudah dikeringkan. Desikator disebut juga eksikator.
Mengapa bahan yang sudah dikeringkan harus disimpan didalam desikator ?
menyimpan bahan yamg sudah dikeringkan di desikator adalah untuk
mempertahankan kelembaban bahan yang peka terhadap pengaruh udara lembab. Jika
benda yang dikeringkan terkena lembab maka otomatis kadar air bahan meningkat
lagi. Sehingga untuk mengukur kadar airnya harus dikeringkan sekali lagi. Mangkuk
desikator biasanya terdiri dari dua tingkat.
Tingkat paling bawah biasanya diisi dengan bahan yang bias menyerap uap air
seperti silica gel. Tingkat atas biasanya digunakan untuk menyimpan bahan yang
sudah dikeringkan. Penutup desikator juga terbuat dari bahan kaca yang berat dan
tebal dan biasanya susah dilepas dalam keadaan dingin, karena dilapisi oleh vaselin
untuk mencegah masuknya uap air kedalam eksikator. Secara umum desikator terdiri
2 tipe, yaitu : Desikator biasa dan Desikator vakum. Desikator vakum adalah
desikator yang dapat mempertahankan kelembaban rendah pada tekanan tidak lebih
dari 20 mmHg atau pada tekanan lain yang ditetapkan dalam monografi. Desikator
vakum pada bagian tutupnya ada katup yang bias di buka tutup, yang dihubungkan
selang ke pompa.

15
H. Skema Proses Pengujian Kulit

Menentukan Tanding

Menentukan/mengambil contoh kulit untuk pengujian organoleptis

Pengujian Organoleptis

Penyiapan Contoh Uji Dari Contoh Kulit

Pengujian Kimiawi

Merangkum Data Hasil Uji

Membandingkan Dengan Standar SNI


16

Menyimpulkan/Menentukan Standar Kulit


BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A. ALAT BAHAN
1. Pengambilan contoh uji/ sampel kulit
a. Alat yang digunakan :
- Gunting
- Mistar
- Cutter
- Telenan
- Tinta perak
b. Bahan yang digunakan:
- Kulit sol sapi samak nabati
2. Pengujian kadar air kulit
a. Alat yang digunakan :
- Gelas arloji
- Cawan porselin
- Krust tang
- Almari pengering

- Eksikator

- Neraca analitik
b. Bahan yang digunakan :
- Contoh uji kulit
3. Pengujian pH kulit tersamak
a. Alat yang digunakan :
- pH meter
- shaker
- Neraca analitik
- Gelas arloji
- Corong kaca
- Enlemeyer 250ml (1) buah
- Beker gelas 100ml (1) buah
- Labu ukur 100 (1) buah
- Pipet volume 50ml (1) buah
- Pipet ukur 10ml (1) buah
b. Bahan yang digunakan :
- Sampel kulit contoh uji
- Air suling bebas CO2 PH 6
4. Pengujian kadar abu kulit tersamak
a. Alat yang digunakan :
- Neraca analitik
- EKsikator
- Krust porselin
- Tungku listrik
- Krust tang
b. Bahan yang digunakan :
- Contoh uji kulit
5. Pengujian kadar minyak/ lemak dalam kulit tersamak
a. Alat yang digunakan :
- Satu set alat penyaring/ soxhlet
- Kertas saring
- Pemanas listrik
- Labu distilasi/ labu godok
- Kompor
- Neraca analitik
- Lemari pengering/ oven
- Eksikator
b. Bahan yang digunakan :
- Sampel kulit contoh uji
- Xylol

6. Kadar zat terlarut


a. Alat yang digunakan :
18
- Pesawat koch
- Neraca analitik
- Thermometer
- Kompor
- Cawan porselin
- Pipet volume 50ml (1) buah
- Labu ukur 1000ml
- Selang
b. Bahan yang digunakan :
- Sample kulit sol samak nabati dari pengujian kadar lemak yang sudah
dikeringkan
- aquadest
7. Pengujian kadar nitrogen
a. Alat yang digunakan :
- Kompor
- lemari asam
- Eksikator
- Buret
- Corong kaca
- Propipet
- Pengaduk kaca
- Gelas arloji
- Statif
- Labu keytdhal 250ml (1) buah
- Gelas ukur 50ml (1) buah
- Enlemeyer 250ml (1) buah
- Pipet volume 25ml (1) buah

- pendingin destilasi

- labu destilasi
b. Bahan yang digunakan :
- Contoh uji/ sampel kulit nabati
- Larutan H2SO4 98%
- Na2SO4 10gr
- Cu2SO4, SH20
19
- Sylenium ±10 butir
- NaOH 1: 1
- Batu didih
- Indikator MO
8. Pengujian kadar abu tak larut
a. Alat yang digunakan :
- Krust porselin
- Neraca analitik
- Furnace
- Desikator
- Krustang
b. Bahan yang digunakan :
- Ampas kulit dari pengujian lemak dan zat larut
B. CARA KERJA
1. Pengambilan contoh uji
a) Menggambar satu side dari kulit besar
b) Menentukan bagian K,P dan L seperti gambar bagian krupon (K) dari
pangkal ekor kearah leher dengan jarak 12,5cm dari garis punggung
kebawah dengan jarak 5cm . luas bagian krupon 20x20 cm
c) Bagian perut diambil dari tengah tengah bagian perut , luas bagian perut
7,5x5cm
d) bagian perut diambil dari tengah tengah bagian leher .luas bagian perut
7,5x5cm
2. Kadar air
a) Cawan porselin dipanaskan hingga kering (20mnt). Kemudian dinginkan
(15menit) pada desikator setelah dingin ditimbang
b) Menimbang cuplikan kulit sebanyak 5gram (dengan cawan porselin diatas
)
0
c) Memasukkan dalam lemari pengering pada suhu 102 C sampai berat tetap
( tidak mengandung air lagi)
20
 Pertama dalam watu 2 jam kemudian didinginkan 15 menit pada desikator
setelah itu ditimbang
 Memanaskan selama 30 menit kemudian didinginkan selama 15menit
pada saat sudah dingin ditimbang
d) Menghitung kadar air dalam persen
3. Pengujian pH
a. Penyaringan :
a) Menimbang dengan gelas arloji 5gram
b) Memasukkan ke dalam erlemeyer dan ditutup
o
c) Menambahkan air suling bebas CO2 (suhu ±30 C) sebanyak 100ml (20x
berat cuplikan)
d) Mengocok selama 1menit hingga kulit basah semua
e) Mengocok dengan shaker selama 4jam
f) Mendiamkan sebentar, diendapkan kemuadian disaring (gelas beker)
b. Pengukuran pH
a) Melakukan pengecekan dalam air saringan dengan pH
b) Mengambil 10ml dalam labu ukur 100ml
c) Menambahkan air sulingan bebas CO2 sampai tanda batas
d) Homogenkan
e) Menuangkan dalam beker, cek pH
4. Kadar abu kulit tersamak
a) Memanaskan krus porselin hingga berat tetap 20menit
b) Mendinginkan ±15menit pada desikator (sampai dingin), timbang
c) Menimbang contoh uji 3gr dalam krust porselin
o
d) Memanaskan furnace hingga suhu 757 C selama 30 menit
o
e) Setelah mencapai panasnya tungku dimatikan sampai suhu 0 C
f) Mengangkat krust porselin dengan menggunakan crustang
g) Mendinginka dalam desikator ±15’
h) Timbang 100% berat
5. Kadar minyak/ lemak dalam kulit tersamak
21
a. Ekstraksi
a) Menyiapkan Labu didih/godok dipanaskan pada lemari pengering
0
suhu 100±2 C selama 30 menit
b) Mendinginkan di dalam eksikator
c) Menimbang berat kosong
d) Menimbang contoh uji sebanyak 10 gram
e) Memasukkan contoh uji kedalam selongsong yang terbuat dari kertas
saring (jangan sampai bocor)
f) Memasukkan selongsong kedalam soxlet
g) Labu didih/godok diisi pelarut sebanyak 2/3 x volume labu
h) Memasang diatas kompor
i) Mengalirkan pendingin
j) Menghidupkan kompor
k) Melaksanakn pelarutan, hingga selongsong naik turun sebanyak 17
kali masing-masing sekitar 15 menit
l) Mematikan kompor
b. Destilasi
a) Memisahkan larutan lemak, menjadi lemak murni dan pelarut
dikumpulkan
b) Pemanas dihentikan sampai labu hampir kering, pemanasan
dilanjutkan dengan waterbath
c) Memasukkan kedalam almari pengering sampai tinggal lemak saja
d) Mendinginkan didalam eksikator (sekitar 20 menit)
e) Menimbang sebagai berat lemak (berat tetap)
6. Kadar zat terlarut
a) Menimbang cuplikan (kulit bekas uji lemak/ minyak) yang kering
b) Memasukkan ke dalam pesawat koch
c) Kulit ditetesi aquadest dari atas
0
d) Memanaskan di atas kompor dengan suhu dijaga tetap ±40 C

22
0
e) Dalam pesawat koch dilengkapi thermometer, bila suhu >±40 C kompor
dimatikan
f) Meletakkan hasil pelarutan diterima dalam labu ukur 1L (tetesan diatur
agar dalam waktu 2jam, terlarut 1L)
g) Jika terlalu cepat, pelarutan kurang sempurna, terlalu lambat bisa
melarutkan protein kulit
h) Menggojok homogen hasil pelarutan 1L, dipipet 50ml (dengan pipet
volume), ditaruh ke dalam cawan porselin
i) Menguapkan dalam water bath, dilanjutkan ke dalam lemari pengering,
mendinginkan ke dalam desikator dan menimbang
7. Pengujian kadar zat kulit mentah
a. Destruksi (penghancuran)
a) Menimbang contoh uji 0,6gram, memasukkan ke dalam labu kyedhal
b) Menambah menambahkan 10gram Na2SO4
c) Menambahkan 25ml H2SO4 98%
d) Menambahkan CuSO4. 5H2O/ prusi secukupnya
e) Memasukkan batu didih
f) Memanaskan di atas kompor selama ±7jam sampai cairan jernih.
Apabila menggunakan matel heater pemanasan ±2jam
g) Melakukan destruksi di dalam lemari asam
b. Destilasi (pemurnian)
a) Mendinginkan larutan yang sudah jernih
b) Memindahkan ke labu destilasi/ labu godok
c) Menambahkan air suling ±200ml
d) Menambahkan indikator MO
e) Menambahkan NaOH 1: 1 atau NaOH 50% sebanyak 60-70ml sampai
alkalis (warna merah berubah menjadi kuning)
f) Menyiapkan larutan penerima H2SO4 0,1N sebanyak 60ml tepat
dengan pipet masukkan ke dalam enlemeyer, tambahkan indikator

23
g) MO, warna menjadi merah, selang harus tercelup ke dalam larutan
penerima
h) Mengalirkan air ke dalam pendingin, dan menghidupkan kompor
i) Melakukan destilasi sampai larutan penerima berjumlah 100ml
c. Titrasi
Dari hasil destilasi sisa H2SO4 0,1N penerima dititar dengan NaOH 0,1N,
dari warna merah menjadi orange
Buat blangko
- Masukkan 60ml H2SO4 0,1N ke dalam enlemeyer
- Tambahkan indikator MO
- Melakukan titrasi dengan NaOH 0,1N dari warna merah menjadi
orange
8. Pengujian kadar abu tak larut
a) Menimbang krus porselin
b) Menimbang contoh uji/ cuplikan seberat ±3gram dalam krust porselin
0
c) Panaskan dalam furnace hingga menjadi arang suhu 600±25 C selama 30
menit
0
d) Menurunkan krus porselin setelah suhu 0 C
e) Memasukkan dalam desikator
f) Menimbang sebagai berat abu tak larut

24
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
 Hasil pengamatan
a.Penyiapan contoh uji

artikel Kulit sapi samak nabati (


sol sepatu )
Warna Coklat ( havana )
Luas 19sqft
Tebal 2 mm
Warna tidak rata
Terdapat bekas kutu

b. Pengujian kadar air kulit tersamak


Kadar air setelah
Berat cawan kosong Berat kulit + Berat sesudah 2jam + 30 menit
No. (W3) contoh uji (W1) dipanasakan (W2) (dalam persen)

1. 42,810 47,8266 47,1007 14,490 %


2. 40,406 45,4551 44,7256 14,449%

c. Pengujian kadar abu dalam kulit tersamak


No. Berat cawan + abu (A) Berat cawan ( B ) Berat sempel ( C )
1.
2.

d. Pengujian pH kulit tersamak


No. Sebelum Sesudah Selisih
pH kertas pH meter pH kertas pH meter pH meter pH meter
A 4,5 5 3,6 6,35
b 4,5 5 3,6 6,36
e. Pengujian kadar lemak/minyak dalam kulit tersamak
No. Waktu pengamatan Interval waktu pengamatan ( menit )

25
1. 13:06 - 13:17 11 menit
2. 13:17 - 13:27 10 menit
3. 13:27 - 13:38 11 menit
4. 13:38 - 13:50 12 menit
5. 13:50 - 14:05 15 menit
6. 14:05 - 14:17 12 menit
7. 14:17 - 14:28 11 menit
8. 14:28 - 14:40 12 menit
9. 14:40 - 14:55 15 menit
10. 14:55 - 15:07 12 menit
11 15:07 - 15:19 12 menit
12. 15:19 - 15:32 13 menit
13. 15:32 - 15:45 13 menit
14. 10:26 - 10:43 17 menit
15. 10:43 - 11:11 28 menit
16. 11:11 - 11:24 13 menit
17. 11:24 - 11:37 13 menit

f. Pengujian kadar zat terlarut dalam air pada kulit tersamak nabati

Berat cawan kosong Berat cawan dan residu


45,8299 gr 45,8374 gr

g. Pengujian kadar nitrogen pada kulit tersamak nabati


Nitrogen (destruksi)

Kulit di campur Na2SO4 +batu didih CuSO4 + H2SO4 +silenium =
warna menjadi keruh kebiruan

Dipanaskan warna menjadi keruh dan ada endapan

Dipanaskan 7jam warna menjadi hijau bening ada endpan
26
 Dididinginkan menjadi kental

Destilasi

Larutan hasil pemanasan di tambah aquades menjadi warna
hiaju kebiruan

Setelah di tambah indikator MO 3 tetes warna menjadi merah keunguan

Ditambah NaoH 1:1 dan dipanaskan warna menjadi hitam gelap

Titrasi

Larutan berubah warna merah menjadi orange
h.Kadar abu tak larut

Crust Berat crust Berat kulit(A) Berat crust Berat Kadar abu tak larut
kosong (D) gr gr +kulit (B)gr crust+abu tak %
larut (C)gr
IA 11,0704 3,2453 14,3157 11,0800 0,295
IB 9,8193 3,2702 13,0895 9,8611 1,2782

27
 Perhitungan
a. Kadar air pada kulit tersamak nabati
Berat 2 jam

Kadar air A : berat air ℎ x 100%


: ( 1− 3)−( 2− 3) x 100%
( 1− 3)

: (48,8238−43,8566)−(48,0758−43,8566) x 100%
48,8238−43,8566

: 4,9672−4,2192 x100%
4,9672

: 15,0588%
Kadar air B : berat air x 100%

:( 1− 3)−( 2− 3) x 100%
( 1− 3)

: (41,2352−36,2732)−(40,4776−36,2732) x 100%
41,2352−36,2732

: 4,962−4,2044 x100%
4,962

: 15,2680 %

Berat 2,5jam 30menit


Kadar air A : berat air x 100%

:( 1− 3)−( 2′− 3) x 100%
( 1− 3)

: (48,8238−43,8566)−(48,1560−43,8566) x 100%
(48,8238−43,8566)

: 4,9672−4,2994 x100%
4,9672

28
: 13,444 %
Kadar air B : berat air x 100%

:( 1− 3)−( 2′− 3) x 100%
( 1− 3)

: (41,2352−36,2732)−(40,5640−36,2732) x 100%
(41,2352−36,2732)

: 4,962−4,2908 x100%
4,962

: 13,526 %
( − )
b. Kadar abu pada kulit tersamak nabati Kadar abu AI :
( − ) x100%
(11,0757−11,0542)
: (14,0553−8,588) x100%
0,0215
: 5,4673 x100%

: 0,39 %
( − )
Kadar abu BII : ( − ) x100%
(8,6045−8,588)
: (11,5645−8,588) x100%
0,0165
: 2,9765 x100%

: 0,55 %

29
c. Kadar lemak/minyak pada kulit tersamak nabati
Kadar lemak :
x100%


: x100%
0,0482
: 10,1065 x100%

: 0,47 %

d. Kadar zat terlarut pada kulit tersamak nabati

1000 + )−( )
Kadar : 50
x x100%
: 1000 x (45,8374)−(45,8299) x100%
50 10,3753
1000
: 50 x 0,072 x 100%

: 1,4457 %

e. Kadar abu tak larut

Kadar

abu tak larut Ia=
= x 100%

= 11,0800−11,0704 x 100% 3,2453


x 100%

= 0,295%

Kadar abu tak larut Ib=


= x 100%

9,8611−9,8193
= x 100%
3,2702
x 100%
30
= 1,2782% 0,295%+ 1,2782%
Total kadar abu tak larut = = 0,7866%
2

f. Kadar nitrogen pada kulit tersamak nabati dan Kadar zat kulit mentah
Kadar nitrogen : ( − ) 0,014 x100%
: (93,1 −72 ) 0,1 0,014 x100%
0,5996

: 4,92661 %

Kadar zat kulit mentah = 5,62 x A%


= 5,62 x 4,92661%
= 27, 68%
g. Kadar tanin terikat

Kadar tannin terikat = 100% - (kadar air + kadar lemak + kadar zat larut
air + kadar abu tak larut+ kadar zat kulit mentah)%

= 100% - (13,48545+ 0,47 + 1,4457 + 0,7866 + 27,68)%

= 56,1321%

h. Derajat penyamakan
= x 100%

56,1321%
= 27,68% x 100%

= 202,7895 %

31
BAB V
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
A. PEMBAHASAN

…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………

32
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
33
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
34
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
35
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
36
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
37
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
38
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
39
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
40
B. KESIMPULAN

…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………

41
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
42
DAFTAR PUSTAKA

Hermiyati, Indri, 2009. Petunjuk Praktikum Analisa Kulit Tersamak. Akademi


Teknologi Kulit : Yogyakarta

Sudardjo, Ir. Sumarmi dan Sumarni, Sri. 1984. Analisa Kulit dan Bahan Bagian I
tahun 1984. Akademi Teknologi Kulit: Yogyakarta.

Sriwiyati. 2011. Petunjuk Praktikum Pengujian Kimiawi Kulit. Akademi


Teknologi Kulit: Yogyakarta.

43