Anda di halaman 1dari 33

Makalah Pengantar Ilmu Hukum

( Perbandingan Hukum )

Perbandingan Hukum Pidana Antara Indonesia dengan


Korea Selatan

Di Susun Oleh:

1. Lili Aulya Ramdani ( 1965342012 )


2. Andi Nurul Khalizah Baqiyatu ( 1965342001 )
3. Ade Agum Pratama ( 1965342016 )
4. Abd. Majid ( 1965342021 )

Jurusan Ilmu Administrasi Negara


Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Makassar

2019

1
Kata Pengantar
Alhamdulilllah, segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadiran Allah SWT
yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini, serta sholawat teriring salam penulis haturkan
keharibaan Rasulullah Muhammad SAW suritauladan umat. Makalah ini berjudul
perbandingan hukum pidana antara indonesia dengan korea selatan. Makalah ini
bertujuan untuk memberitahukan kepada semua orang bahwa terdapat
perbandingan hukum pidana di indonesia dengan korea selatan di mana
perbandingan ini berisi perbedaan dan persamaan antara hukum pidana yang ada
di indonesia dengan korea selatan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
disebabkan oleh keterbatasan penguasaan ilmu, wawasan dan kemampuan
serta kurangnya pengalaman penulis. Oleh karena itu segala kritik dan saran
yang membangun dan bersifat positif sangat diharapkan penulis demi
kesempurnaan makalah ini.

Segala yang benar dan yang baik hanya dari Allah SWT sedangkan
kesalahan dan kekurangan pada dasarnya adalah dari diri penulis sebagai
manusia biasa yang tak luput dari kekeliruan dan kekhilafan, maka untuk itu
penulis meminta maaf atas kekeliruan dan kekhilafan penulis. Akhir kata
penulis mengucapkan terima kasih semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kita semua. Aamiin

Parepare, Oktober 2019

Hormat Penulis

2
Daftar Isi

Kata pengantar ................................................................................................. .................. 2

Daftar isi ........................................................................................................... .................. 3

Bab 1: Pendahuluan ......................................................................................... .................. 4

A. Latar Belakang ..................................................................................... .................. 4


B. Rumusan Masalah ................................................................................ .................. 4

Bab 2: Pembahasan .......................................................................................... .................. 5

1. Kodifikasi dan Sistematika Hukum Pidana Indonesia dengan Korea


Selatan .................................................................................................. .................. 5
2. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea Selatan .......... .................. 10
A. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea Selatan dalam
hal Penyertaan ................................................................................ .................. 10
B. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea Selatan dalam
hal Pebarengan dan Pengulangan ................................................... .................. 12
C. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea selatan dalam
hal Hapusnya Hak Penuntutan, Hapusnya Hak Pelaksanaan Pidana,
dan Kedaluarsaan Hak Perjalanan Pidana ...................................... .................. 17
D. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea Selatan dalam
hal Kesalahan, Bersifat Melawan Hukum, dan Sebab-Akibat ....... .................. 21
E. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea Selatan dalam
hal Penyuapan di Sektor Privat ...................................................... .................. 22

Bab 3: Penutup ................................................................................................. .................. 31

A. Kesimpulan .......................................................................................... .................. 31


B. Saran..................................................................................................... .................. 31

Daftar Pustaka .................................................................................................. .................. 32

FootNote ........................................................................................................... .................. 33

3
Bab 1: Pendahuluan

A. Latar Belakang

Perbandingan hukum adalah lmu pengetahuan yang usianya masih relatif


muda di Indonesia. Dari sejarah diketahui bahwa perbandingan hukum
sejak dahulu sudah dipergunakan orang tetapi baru secara insidental.
Perbandingan hukum baru berkembang secara nyata pada akhir abad ke-19
atau permulaan abad ke-20. lebih-lebih pada saat sekarang di mana negara-
negara di dunia saling berinteraksi dengan Negara yang lain dan saling
membutuhkan hubungan yang erat. Perbandingan hukum menjadi lebih
diperlukan karena dengan perbandingan hukum, kita dapat mengetahui
jiwa serta pandangan hidup bangsa lain termasuk hukumnya. Dan dengan
saling mengetahui hukum suatu negara, sengketa dan kesalahpahaman
dapat dihindari sehingga tercapailah perdamaian dunia. Oleh karena itu
semakin perlu diketahui atau dipelajari karena mempunyai berbagai
manfaat antara lain, dapat membantu dalam rangka pembentukan hukum
nasional disamping mempunyai peranan penting dalam rangka hubungan
antar bangsa dan sebagainya. Pendeknya perbandingan hukum mempunyai
peranan penting di segala bidang kajian hukum. Pernyataan diataslah yang
melatar belekangi pentingnya perbandingan hukum dalam tatanan hukum
di Indonesia. Dalam makalah ini, penyusun membandingkan hukum
pidana antara sistem hukum Indonesia dengan sistem hukum Korea
Selatan yang sama-sama menganut sistem hukum Eropa Kontinental.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kodifikasi dan Sistematika Hukum Pidana Indonesia
dengan Korea Selatan?
2. Bagaimana Perbandingan Hukum Pidana itu Sendiri antara Indonesia
dengan Korea Selatan

4
Bab II : Pembahasan

I. Kodifikasi dan Sistematika Hukum Pidana di indonesia dengan


Korea Selatan

Perbandingan hukum merupakan kegiatan memperbandingkan sistem


hukum yang satu dengan yang lain baik antar bangsa,negara,bahkan
agama,dengan maksud mencari dan mensinyalir perbedaan-perbedaan
serta persamaan-persamaan dengan memberi penjelasannya dan meneliti
bagaimana berfungsinya hukum dan bagaimana pemecahan yuridisnya.
Jadi, memperbandingkan hukum bukanlah sekedar menumpulkan
peraturan perundang-undangan dan mencari perbedaan serta
persamaannya saja. perhatian akan perbandingkan hukum di tujukan
kepada pertanyaan sampai berapa jauh peraturan perundang-undangan
suatu kaidah tidak tertulis itu di laksanakan dalam masyarakat, maka dari
itu di carilah persamaan dan perbedaan. Dari perbandingan hukum ini
dapat di ketahui bahwa di samping banyaknya perbedaan juga ada
kesamaanya.

Hukum pidana sendiri merupakan keseluruhan dari peraturan-peraturan


yang menentukan perbuatan-perbuatan apa yang dilarang dan termasuk ke
dalam tindak pidana, serta menentukan hukuman apa yang dapat
dijatuhkan terhadap yang melakukannya. Hukum pidana sendiri bukanlah
mengadakan norma hukum sendiri, melainkan sudah terletak pada norma
lain dan sanksi pidana. Diadakan untuk menguatkan ditaatinya norma-
norma lain tersebut, misalnya norma agama dan kesusilaan. Tujuan utama
hukum pidana yaitu untuk melindungi masyarakat. Selain itu, tujuan
lainnya yaitu secara preventif yaitu untuk menakut-nakuti setiap orang
agar mereka tidak melakukan perbuatan pidana dan secara represif untuk
mendidik orang yang telah melakukan perbuatan yang tergolong perbuatan
pidana agar mereka menjadi orang yang baik dan dapat diterima kembali
dalam masyarakat.

5
Untuk lebih jelasnya maka disini kita akan membandingkan hukum dua
negara yaitu antara Indonesia dengan Korea Selatan.

Hukum pidana Korea sudah dikodifikasikan sebagaimana terdapat dalam


Kitab Undang-undang Hukum Pidana Korea ( Criminal Code of The
Republic of Korea ) yang diundangkan berdasarkan Undang-Undang No.
239 tanggal 18 September 1953. Hukum Pidana Indonesia dikodifikasikan
dalam KUHP (Undang-undang No. 1 Tahun 1946 dan Undang-undang No.
73 Tahun 1958). Sistematika Hukum Pidana (KUHP) Indonesia berbeda
dengan sistematika Criminal Code of The Republic of Korea. Sistematika
KUHP terdiri dari tiga buku, yaitu:
- Buku I yang memuat Ketentuan Umum
- Buku II yang memuat Kejahatan
- Buku III yang memuat Pelanggaran

Sedangkan Criminal Code of The Republic of Korea terdiri dari dua buku
saja, yaitu:

- Buku pertama : Ketentuan-ketentuan Umum


- Buku Kedua : Ketentuan-ketentuan Khusus yang memuat tindak
pidana

Jika diperbandingkan sistematika KUHP dengan Criminal Code of The


Republic of Korea, maka perbedaan yang sangat mencolok yang dapat
dilihat dalam hal ini adalah bahwa Criminal Code of The Republic of
Korea tidak membedakan antara Kejahatan dengan Pelanggaran,
sedangkan KUHP masih membedakannya. Kejahatan dan Pelanggaran
dalam Criminal Code of The Republic of Korea disatukan dalam satu
buku, dalam hal ini buku kedua yang memuat tindak pidana. Selanjutnya,
berbeda dengan Buku I KUHP yang dibagi dalam IX BAB + Aturan
Penutup, maka Buku I Criminal Code of The Republic of Korea dibagi
dalam empat BAB saja yang terdiri dari:

6
• BAB I. Batas berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
• BAB II. Tindak Pidana (Crime)
• BAB III. Pidana (Punishment)
• BAB IV. Penghitungan waktu.

Selain itu, jika berbicara mengenai perbandingan hukum indonesia dengan


korea itu sendiri dalam hal KUHP ataupun Criminal Code of The Republic
of Korea di mana di dalamnya dapat kita jadikan sebagai sebuah
perbandingan untuk melihat sejauh mana KUHP di Indonesia dapat
dijalankan. Kekurangan dan kelebihan dimiliki oleh masing-masing
KUHP tentu akan sangat berpengaruh ditengah upaya Indonesia
melaksanakan pembaharuan KUHP. Perbandingan ini sendiri dapat kita
jelaskan sebagai berikut:

- Perbandingan Pasal 1 (3) KUHP Korea (Criminal Code of The


Republic of Korea) dengan KUHP Indonesia :
Ketentuan sebagaimana dalam pasal 1 ayat (3) KUHP Korea tersebut
tidak dijumpai dalam KUHP Indonesia yang saat ini berlaku. Kalau
pun ada perubahan terhadap undang-undang mengenai suatu perbuatan
yang merupakan tindak pidana maka jangkauannya tidak sampai pada
penghapusan pidana atau pembatalan terhadap pelaksanaan pidana,
tetapi hanya pada berat ringannya suatu sanksi yang diterapkan. Itu
pun tidak pada putusan hakim yang sudah berkekuatan tetap, Hal
demikian ditegaskan dalam pasal 1 ayat (2) KUHP Indonesia yang
menyatakan “ jika sesudah perbuatan dilakukan ada perubahan dalam
undang-undang, dipakai aturan yang paling ringan bagi terdakwa.
- Perbandingan Pasal 15 (2) KUHP Korea (Criminal Code of The
Republic of Korea) dengan KUHP Indonesia :
Pasal 15 ayat (2) KUHP Korea ini merupakan penegasan atas ajaran
Erfolgshaftung yang tidak murni (mengalami penghalusan atau
modifikasi) Pasal ini hendak menegaskan bahwa untuk dapat di
pertanggungjawabkannya perbuatan seseorang terhadap akibat yang

7
sebenarnya tidak dikehendaki tetapi memerlukan unsur kesalahan
(dolus atau culpa) walaupun dalam bentuknya yang paling ringan.
Sedangkan Pasal-Pasal dalam KUHP Indonesia menunjukkan
perumusan delik-delik yang dikualifisir atau yang diperberat oleh
akibatnya.

Untuk membahas KUHP itu sendiri pasti ada yang namanya Asas leglitas,
di mana di Indonesia dalam hukum pidana asas legalitas ini sendiri diatur
dalam pasal 1 ayat (1) yang berbunyi “suatu perbuatan tidak dapat
dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan
pidana yang telah ada.” Adapun perbandiingan dalam Asas legalitas antara
indoneisa dengan korea dapat di jelaskan sebagai berikut:

Asas legalitas dalam KUHP Korea (Criminal Code of The Republic of


Korea) dirumuskan dalam Pasal 1 sub judul Criminality and
Punisment yang terdiri dari tiga ayat sebagai berikut.

1. what constitutes a craime and what punisment is to be imposed threfor,


shall be determined in accordance wiht the law in force at the time of
commission, (apa yang merupakan kejahatan dan pidana apa yang
diancam untuk itu, akan ditentukan menurut UU yang berlaku pada
saat kejahatan itu dilakukan)
2. Where statute is changed after a crime has beeb committed with the
effect the conduct no longer constitutes a crime or that punishment
imposed it is less severe that provided for by the old statute, thenew
statute shall beapplied. (apabila suatu UU berubah stelah suatu
kejahatan dilakukan dengan akibat perbuatan itu tidak lagi merupakan
suatu kejahatan atau pidana yang diancam menjadi lebih ringan dari
pada yang ditetapkan oleh UU lama,maka UU baru akan di tetapkan).
3. Where a statute is changed after a sentence impossed under it upon a
criminal conduct has become final, whith the affect that such conduct
no longer constitutes a crime, the execution of the pinishment shall be

8
remitted. (apabila UU berubah setelah pidana yang dijatuhkan
(berdasarkan UU ini ) terhadap suatu perbuatan jahat berkekuatan
tetap, dengan akibat bahwa perbuatan itu tidak lagi merupakan suatu
kejahatan, maka pelaksanaan pidana itu akan dibatalkan/dihapuskan).

Perumusana ayat (1) KUHP Korea (Criminal Code of The Republic of


Korea ) di atas, pada prinsipnya sama dengan Pasal 1 ayat (1) KUHP
indonesia yang mengatur masalah retroaktif dalam hal ada perubahan
undang-undang. Menurut KUHP Korea (Criminal Code of The Republic of
Korea) , UU baru dapat diterapkan berlaku surut (retroaktif) apabila ada
perubahan UU setelah kejahatan dilakukan, perubahan itu menyebabkan
perbuatan yang bersangkutan tidak lagi merupakan kejahatan, atau pidana
yang diancamkan menjadi lebih ringan.

Jadi perbedaannya dengan di Indonedia terletak pada rumusannya. Dalam


KUHP Indonesia tidak ada perumusan tegas mengenai arti atau ruang
lingkup dari “perbuatan perundang-undangan”, sedangkan dalam KUHP
Korea (Criminal Code of The Republic of Korea) ada penegasan mengenai
hal itu, yaitu mencangkup dua hal yaitu:

- Perubahan terhadap “perbuatan yang dapat di pidana” yaitu semula


merupakan tindak pidana (kejahatan) kemudian berubah menjadi
“bukan tindak pidana/kejahatan”
- Perubahan terhadap “pidana yang diancam” yaitu semula lebih berat
menjadi lebih ringan

Ayat (3) di atas mengatur tentang adanya perubahan UU Setelah adanya


putusan pemindanaan yang berkekuatan hukum tetap. Apabila menurut
UU baru itu, perbuatan yang telah dijatuhi pidana berdasarkan UU lama
tidak lagi merupakan tindak pidana (kejahatan), maka pelaksanaan atau
eksekusi pidana itu dibatalkan/dihanguskan. Ketentuan seperti ini tidak
ada dalam KUHP Indonesia. Menurut KUHP Indonesia, jangkauan
berlakukanya Pasal (1) ayat 2 KUHP hanya sampai pada putusan yang

9
berkekuatan hukum tetap. Walaupun hal ini tidak dirumuskan dengan
tegas, tetapi jelas terlihat di dalam praktik yurisprudensi selama ini, yaitu
Pasal 1 ayat (2) itu dapat digunakan pada tingkat banding di Penggadilan
Tinggi atau tingkat Kasasi di Mahkamah Agung. Apabila setelah putusan
Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung berkekuatan
hukum tetap, kemudian keluar UU baru yang menyatakan bahwa
perbuatan yang pernah diputus itu tidak lagi merupakan tindak pidana,
maka pidana yang telah dijatuhkan berkekuatan hukum tetap itu harus
dijalankan atau dieksekusi. Jadi terpidana yang sedang menjalani masa
pidananya tidak dibebaskan. Lain halnya di Korea, orang itu harus
dibebaskan.

II. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea Selatan


A. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea Selatan
dalam hal Penyertaan

a. Bentuk penyertaan
Bentuk penyertaan yang dikenal dalam Ketentuan Umum
KUHP Korea (Criminal Code of The Republic of Korea)
ialah:
1. Pelaku peserta (Co-principlas), yaitu dua orang atau
lebih bersama-sama melakukan suatu tindak pidana
(Pasal 30).
2. Penghasut (Instigator), yaitu seseorang yang
menghasut orang lain untuk melakukan suatu tindak
pidana (Pasal 31).
3. Pembantu (Accessories), yaitu mereka yang
membantu atau memberi bantuan kepada orang lain
yang melakukan suatu tindak pidana (pasal 32).
4. Penghasut yang gagal (pasal 30 ayat 3)

10
Untuk tersebut a.1) di atas dapatlah diperbanding-samakan
dengan bersama-sama melakukan atau turut serta
melakukan KUHP, tersebut a.2) dengan penggerakan
kendati alat atau cara menggerakkan itu dalam KUHP
Korea tidak diatur.tersebut a.3) dengan pembantuan pasal
56 KUHP; dan a.4) dengan yang ditentukan pada pasal 163
KUHP. Yang paling menarik di sini ialah:

• Tidak ditentukannya secara definitif caranya


menggerakkan (menghasut) atau membantu
sebagaimana diatur dalam KUHP. Rupanya hal ini
cukup dipercayakan kepada tafsir atau
“kemampuan” hakim saja.
• Diaturnya penghasutan yang gagal dalam ketentuan
umum, yang berarti berlaku pada umumnya bagi
setiap tindak pidana.
b. Ancaman Pidana
Ancaman pidana bagi pelaku peserta ditentukan sama
dengan pelaku-utamanya, bagi penghasut dipandang
sebaagi pelaku yang sebenarnya, yang dengan demikian
pertanggungjawaban pidana dari penghasut tergantung pada
pelaku yang dihasut, bagi penghasutan yang gagal baik bagi
penghasut maupun yang dihasut dipandang sebagai
“permufakatan jahat atau perencana-perencana” untuk
melakukan tindak pidana tersebut, bagi pembantu ancaman
pidananya dapat dikurangi, sedangkan bagi penghasut yang
memperalat orang lain yang tidak bersalah atau yang alpa
dipersamakan dengan ancaman pidana bagi penghasut.
Selanjutnya ditentukan pula bahwa jika seseorang peserta
tidak memenuhi status dari unsur subyek, maka iapun

11
diancam dengan pidana yang sama, kecuali ditentukan lain
oleh perundangan yang bersangkutan.
B. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea dalam
hal Pebarengan dan Pengulangan

1. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia Dengan Korea


dalam hal Perbarengan
Yang dimaksud dengan perbarengan tindak pidana adalah
terjadinya dua atau lebih tindak pidana oleh satu orang
dimana tindak pidana yang dilakukan pertama kali belum
dijatuhi pidana, atau antara tindak pidana yang awal dengan
tindak pidana berikutnya belum dibatasi oleh suatu
keputusan hakim.
a. Pengaturan
Menurut sistematika KUHP perbarengan diatur dalam
Bab VI Buku I (Ketentuan Umum), sedangkan
pengulangan ada yang diatur dalam Buku II (pasal 486
sampai dengan 488) dan ada pula yang diatur pada
tindak pidana yang bersangkutan.
Menurut sistematika KUHP Korea perbarengan diatur
dalam Buku I Bagian II seksi V (perbarengan tindak
pidana) pasal 37 sampai dengan 40. Selain daripada itu
ada juga yang diatur tersendiri dalam Pasal 19.
Pengulangan diatur dalam Buku I Bagian II seksi IV
(pengulangan tindak pidana) pasal 35 sampai dengan
36. Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa Perbarengan
baik menurut KUHP maupun KUHP Korea merupakan
ketentuan umum.
Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa:
- Perbarengan baik menurut KUHP maupun KUHP
Korea merupakan ketentuan umum.

12
- Pengulangan menurut KUHP Korea merupakan
ketentuan umum, sedangkan menurut KUHP
merupakan Ketentuan Khusus.
b. Bentuk Perbarengan
Baik bangunan perbarengan-tindakan, maupun
perbarengan-ancaman-pidana sama-sama dianut oleh
KUHP dan KUHP Korea. Perbarengan tindakan yang
berupa:
1) Perbarengan tindakan tunggal (concursus
idealis)
Concursus idealis yaitu suatu perbuatan yang
masuk ke dalam lebih dari satu aturan pidana.
Disebut juga sebagai gabungan berupa satu
perbuatan (endadsche samenloop), yakni suatu
perbuatan meliputi lebih dari satu pasal
ketentuan hukum pidana. Sistem pemberian
pidana yang dipakai dalam concursus idealis
adalah sistem absorbsi, yaitu hanya dikenakan
pidana pokok yang terberat.
2) Perbarengan tindakan jamak (concursus realis)
Concursus realis adalah seseorang melakukan
beberapa perbuatan, dan masing-masing
perbuatan itu berdiri sendiri. Sebagai suatu
tindak pidana (tidak perlu sejenis dan tidak perlu
berhubungan). Sistem pemberian pidana bagi
concursus realis ada beberapa macam:
• Absorsi dipertajam
Absorsi dipertajam adalah apabila diancam
dengan pidana pokok sejenis maka hanya
dikenakan satu pidana dengan ketentuan bahwa

13
jumlah maksimum pidana tidak boleh lebih dari
jumlah maksimum terberat ditambah sepertiga.
• Kumulatif diperlunak

Apabila diancam dengan pidana pokok yang


tidak sejenis maka setiap pidana pokok akan
dikenakan dengan ketentuan jumlahnya tidak
boleh melebihi jumlah pidana pokok terberat
ditambah sepertiga. Apabila concursus realis
berupa pelanggaran, maka menggunakan sistem
hukum kumulitf (Jumlah), jumlah semua pidana
yang diancamkan. Maksimum 1 tahun 4 bulan,
Apabila concursus realis berupa kejahatan-
kejahatan ringan, maka digunakan sistem
pemberian pidana kumulatif, Maksimum pidana
penjara 8 bulan.

3) Perbarengan berupa tindakan berlanjut.


Perbuatan berlanjut terjadi apabila seseorang
melakukan beberapa perbuatan (kejahatan atau
pelanggaran), dan perbuatan-perbuatan itu ada
hubungan sedemikian rupa sehingga harus
dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.
Sistem pemberian pidana bagi perbuatan
berlanjut menggunakan sistem absorbsi, yaitu
hanya dikenakan satu aturan pidana terberat, dan
bilamana berbeda-beda maka dikenakan
ketentuan yang memuat pidana pokok yang
terberat. Dalam MvT (Memorie van
Toelichting), kriteria “perbuatan-perbuatan itu
ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus

14
dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut”
adalah:
• Harus ada satu niat, kehendak atau
keputusan.
• Perbuatan-perbuatannya harus sama atau
sama macamnya.
• Tenggang waktu di antara perbuatan-
perbuatan itu tidak terlalu lama.

Berturut-turut tercantum dalam Pasal 40, 37, dan 19


KUHP Korea perbarengan ancaman pidana sebagai
kelanjutan dari adanya perbarengan tindak-pidana diatur
dengan suatu system atau stelsel untuk penerapannya.
Sistem yang digunakan oleh KUHP dan Korea tersebut
ialah:

1) Sistem penyerapan (sistem absorsi)


2) Sistem penjumlahan (sistem kumulasi)
3) Sistem antara

Hanya bervariasi caranya sehubungan dengan


perbedaan jenis/macam ancaman pidana yang
dugunakan oleh KUHP dan KUHP Korea.

c. Delik Tertinggal
Yang diatur dalam Pasal 71 KUHP mengenai delik
tertinggal dianut pula dalam KUHP Korea sebagaimana
dicantumkan dalam Pasal 39 ayat (1). Dengan demikian
kedua-duanya sama-sama memperhitungkan pidana
yang sudah dijatuhkan kepada tindak pidana yang
tertinggal yang akan diadili, seolah-olah perkara
tersebut bersamaan diadili.

15
2. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea
dalam hal Pengulangan
a. Jenis – jenis Pengulangan
Secara umum ada dua jenis pengulangan yang dikenal
dalam hukum pidana yaitu:
1) Pengulangan umum (tidak dipersoalkan
jenis/macam tindak pidana yang diulangi)
2) Pengulangan khusus (tindak pidana yang
diulangi itu sejenis atau sama).
Dari kedua jenis pengulangan tersebut yang dianut
KUHP adalah jenis yang kedua (pengulangan khusus),
karena dalam Pasal 486 sampai dengan 488
dikelompokkan jenis-jenis tindak pidana yang
dipandang sejenis yang dimasukkan dalam kategori
pengulangan apabila dilakukan dalam tenggang waktu
lima (5) tahun. Yang dianut oleh KUHP Korea adalah
pengulangan umum, karena diatur dalam ketentuan
umum dan tidak dipersoalkan tentang tindak pidana
yang terjadi apakah sejenis atau tidak (Pasal 35 ayat 1).
b. Jangka waktu Pengulangan ( Residive )
Jangka waktu pengulangan yang dicantumkan dalam
KUHP tidak seragam. Ada yang lima tahun (pasal 486
sampai dengan 488, pasal 155, 157 dan sebagainya),
dua tahun (Pasal 137, 144, dan lain-lain), ada pula yang
hanya satu tahun (pasal 489, 492, 495, 536, 544 dan
lain-lain).
Jangka waktu pengulangan menurut KUHP Korea
adalah 3 tahun untuk semua tindak pidana, tanpa
membeda-bedakan yang satu dengan yang lain.
c. Ketentuan Pidana Pengulangan

16
Dalam KUHP pada umumnya pemidanaan pengulangan
adalah pidana pokok ditambah sepertiga, akan tetapi
dalam pasal-pasal tertentu bukan pidana pokok yang
ditambah melainkan dapatnya pidana tambahan tertentu
dijatuhkan.
Dalam KUHP Korea , pidananya didua-kalikan.
Rupanya di Korea, masalah residive ini dipandang lebih
membahayakan kepentingan umum ketimbang
concursus. Hal ini dapat diterima akal, karena seseorang
itu sudah pernah dipidana karena tindak pidana yang
sejenis tetapi tidak jera. Tentunya dalam hal ini harus
pula diperhitungkan masalah sosial ekonomi dan
masalah-masalah politik.
C. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea dalam
hal Hapusnya Hak Penuntutan, Hapusnya Hak Pelaksanaan
Pidana, dan Kedaluarsaan Hak Perjalanan Pidana
1. Hapusnya hak penuntutan
Menurut Buku I KUHP, hak penuntutan hapus apabila
terjadi:
a. Nebis in idem (Pasal 76)
b. Tersangka/terdakwa meninggal (Pasal 77)
c. Daluwarsa (Pasal 78)
d. Penyelesaian di luar sidang (Pasal 82)
Dari keempat ketentuan tersebut, tidak ada yang diatur
secara tegas dalam KUHP Korea Yang dikenal
(disinggung) adalah amnesti, yang dapat disimpulkan dari
Pasal 39 (3) KUHP Korea yang berbunyi: Jika seorang
yang telah dipidanan untuk perbarengan tindak pidana
menerima “Amnesti” atau remisi untuk pelaksanaan pidana
itu, maka pidana bagi tindak pidana yang tersisa dapat

17
ditentukan secara de novo. Dengan perkataan lain,
hapusnya hak penuntutan tidak diatur dalam KUHP Korea.
2. Hapusnya hak pelaksanaan pidana
Hapusnya hak pelaksanaan pidana menurut KUHP dapat
ditemukan dalam Pasal 83 sampai dengan Pasal 85, antara
lain:
a. Terpidana meninggal (Pasal 83)
b. Daluwarsa (Pasal 84)

Yang menghapuskan pelaksanaan pidana menurut


ketentuan umum KUHP Korea:

a. Daluwarsa (Pasal 77 sampai dengan Pasal 80)


b. Pembatalan putusan (Pasal 81).
c. Pemulihan hak-hak (Pasal 82).

Perbandingan mengenai ketentuan-ketentuan yang


menghapuskan pelaksanaan pidana antara KUHP dan
KUHP Korea dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Meninggalnya terpidana rupanya tidak dipandang


perlu diaur dalam KUHP Korea (kemungkinan hal
itu dapat dipandang sudah dengan sendirinya).
b. Pembatalan putusan tidak dianut oleh KUHP,
sedangkan dalam KUHP Korea dikatakan bahwa:
Bagi seseorang yang dipidana skorsing atas hak-hak
tertentu atau pidana yang lebih berat, jika telah
menjalani 7 tahun, atau setelah memberi ganti rugi
pada korban atas kerusakan-kerusakan yang
dideritanya; tanpa dijatuhi lagi pidana penskorsan
atau yang lebih berat, maka dia dapat mengajukan
pembatalan putusan secara langsung atau lewat
penuntut umum.

18
c. Pemulihan hak-hak juga tidak dianut oleh KUHP,
sedangkan dalam Pasal 82 KUHP Korea dikatakan
bahwa: Dalam hal separuh dari masa percobaan
pidana telah dilewati, seseorang yang telah dipidana
skorsing atas hak-hak tertentu tanpa pidana skorsing
lebih lanjut atau pidana yang lebih berat, setelah
memberikan ganti rugi pada si korban atas
kerusakan-kerusakan yang dideritanya, pemulihan
hak-haknya dapat diberikan atas permohonannya
sendiri, atau lewat penuntut umum.
3. Kedaluarsaan hak perjalanan pidana
Hak menjalankan pidana dapat daluwarsa. Masa
(tenggang/periode) kedaluarsaan itu dalam Pasal 85 KUHP
pada dasarnya ditentukan berdasarkan berat/ringannya
pidana yang diancamkan dikombinasikan dengan jenis
tindak pidana yang dilakukan. Masa daluarsa tersebut diatur
sebagai berikut:
a. Untuk semua pelanggaran, setelah 2 tahun.
b. Untuk kejahatan yang dilakukan dengan alat
pencetak, setelah 5 tahun
c. Untuk kejahatan yang diancam dengan denda,
pidana kurungan, atau pidana penjara paling lama 3
tahun, setelah 8 tahun.
d. Untuk tindak pidana yang diancam dengan pidana
penjara lebih dari 3 tahun, setelah 16 tahun.

Namun, bagi mereka yang dijatuhi:

a. Pidana penjara lebih dari 16 tahun, setelah minimal


sama dengan yang diputuskan/dijatuhkan itu.
b. Pidana penjara seumur hidup, sah setelah habis
hidupnya.

19
c. Pidana mati, tidak mungkin daluarsa.
Dalam hal pidana penjara seumur hidup dan pidana mati,
hanya mungkin jka pidana tersebut berubah atau diampuni
sebelum habis hidupnya atau sebelum ditembak mati.
Masa daluarsa yang diatur dalam pasal 77 KUHP Korea,
ternyata tidak didasarkan kepada berat/ringannya pidana
yang diancamkan, melainkan kepada berat/ringannya
pidana yang diputuskan/dijatuhkan sebagai berikut:
a. Untuk pidana mati, setelah 30 tahun.
b. Untuk pidana penjara/kurungan seumur hidup,
setelah 20 tahun.
c. Untuk pidana penjara/kurungan yang tidak kurang
dari 10 tahun, setelah 15 tahun.
d. Untuk pidana penjara/kurungan yang tidak kurang
dari 30 tahun, atau untuk pidana penskorsan dari
hak-hak tertentu yang tidak kurang dari 5 tahun,
setelah 10 tahun.
e. Untuk pidana penjara atau kurungan yang kurang
dari 3 tahun atau untuk pidana penskorsan dari hak-
hak tertentu yang kurang dari 5 tahun, setelah 5
tahun.
f. Untuk pidana penskorsan hak-hak tertentu yang
kurang dari 5 tahun, denda penyitaan atau
pemungutan dari pengadilan, setelah 3 tahun.
g. Untuk penahanan atau pidana denda ringan, setelah
1 tahun.

Perbedaan yang mengemuka dari kedua ketentuan tesebut,


ialah bahwa KUHP mendasarkan periodisasi/tenggang
waktu atau masa daluarsa itu pada berat/ringannya pidana
yang diancam dan dijatuhkan, sedangkan KUHP Korea

20
mendasarkan periodisasi tersebut kepada berat/ringannya
pidana yang diputuskan/dijatuhkan.

D. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea dalam


hal Kesalahan, Bersifat Melawan Hukum, dan Sebab-Akibat

Dalam rangka mempelajari KUHP, khususnya mengenai


kesalahan, bersifat melawan hukum, dan sebab-akibat, kita
pelajari dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Dalam pasal-
pasal tindak pidana, ditemukan istilah-istilah kesengajaan atau
culpa/alpa (sebagai perincian kesalahan), bertentangan dengan
hukum, bertentangan dengan hak orang lain, bertentangan
dengan kepatutan/kebiasaan (sebagai perincian dari bersifat
melawan hukum), serta istilah-istilah sebab dan akibat apabila
tindak pidana tersebut merupakan “tindak pidana material” atau
sebab dan akibat itu dikaitkan sebagai syarat pemidanaan,
namun tidak dijelaskan apa artinya dan apa fungsinya dalam
suatu tindak pidana. Justru ilmu pengetahuan hukum pidanalah
yang menunjukkan fungsi tersebut, yaitu bagi kesalahan dan
bersifat melawan hukum, masing-masing merupakan unsur,
yang jika tidak hadir, maka tidak telah terjadi suatu tindakan
yang dapat dipidana alias tindak pidana. Fungsi sebab-akibat
dalam suatu hal merupakan syarat pemidanaan, di lain hal
sebagai pembentuk unsur kesengajaan, serta dalam hal-hal
tertentu menunjukkan hubungan antara sesama bagian-bagian
dari tindakan itu sendiri, menunjukkan hubungan antara
kesalahan dengan tindakan serta hubungan bersifat melawan
hukum dengan tindakan yang bersangkutan.
Pada prinsipnya, hal yang sama juga kita temukan dalam
mempelajari KUHP Korea, yaitu dalam perumusan pasal-pasal

21
di Ketentuan Umum tidak secara tegas dipisahkan
pengaturannya mengenai:
• Tiadanya kesalahan/ditiadakannya kesalahan sebagai
dasar peniadaan pidana.
• Tiadanya bersifat melawan hukum atau ditiadakannya
bersifat melawan hukum sebagai alasan peniadaan
pidana.

Namun, KUHP Korea dalam beberapa bidang sudah lebih maju


karena beberapa materi yang kita pelajari melalui ilmu
pengetahuan hukum pidana, sudah tercantum dalam KUHP
Korea, yaitu antara lain ketentuan tentang anak di bawah umur
14 tahun (Pasal 9), tentang kehendak jahat (Pasal 13), tentang
kealpaan (Pasal 14), tentang kekeliruan fakta (Pasal 15),
tentang kekeliruan hukum (Pasal 16), dan tentang praktek
kegiatan dagang (Pasal 20).

Demikian juga merupakan suatu kemajuan dengan menegaskan


bahwa suatu “akibat yang terjadi” harus ada hubungannya
dengan penyebabnya (Pasal 17) dan tentunya dikaitkan pula
dengan “kejiwaan” si pelaku. Dibandingkan dengan ajaran
Pompe, maka suatu “kejadian” harus selalu dapat dikaitkan
dengan kejiwaan seseorang, yaitu dilakukan dengan kehendak
atau kealpaan.

E. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea dalam


hal Penyuapan di Sektor Privat

Penyuapan di sektor privat merupakan bagian dari korupsi di


sektor privat yang lahir sebagai reaksi dari pertumbuhan
ekonomi. Terdapat tiga faktor yang membuat kriminalisasi ini
perlu dilakukan. Pertama pertumbuhan sektor privat yang pesat

22
dan yang banyak jumlahnya, terutama di negara dunia ketiga
yang melebihi jumlah pertumbuhan di sektor publik, kedua
privatisasi kegiatan perekonomian dan ketiga lahir dan
perkembangan perusahaan multinasional.Ketiga faktor ini
mendorong terjadinya praktek korupsi yang tidak hanya
melibatkan sektor publik namun juga yang terjadi antar sektor
privat. Praktek ini tidak hanya dilakukan oleh individu saja
tetapi juga melibatkan korporasi.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, suatu korporasi


berpotensi untuk bergesekan dengan resiko untuk melakukan
korupsi. Dalam Global Corruption Report 2009 yang
dikeluarkan oleh Transparancy International, tergambar resiko
terjadinya korupsi yang tersebar dalam setiap kegiatan
korporasi dan resiko atas penyuapan di sektor privat terjadi
dalam hubungannya dengan supplier dan konsumen. Perilaku
ini terkadang dipandang sebagai perilaku yang biasa dan
ditolerir atau bahkan dilegalkan oleh korporasi, seperti perilaku
pemberian gratifikasi oleh perusahaan farmasi bagi para dokter
sebagai insentif atas pemberian resep obat. Tentunya hal yang
seperti ini akan membebani konsumen.

Perkembangannya penyuapan di sektor privat memiliki dampak


yang serupa dengan penyuapan di sektor publik karena tidak
hanya merusak kepercayaan masyarakat akan bisnis di sektor
privat lebih dari itu merusak persaingan usaha yang adil dan
merusak fungsi pasar yang pada akhirnya akan merusak
ekonomi suatu negara. Menurut Boles penyuapan di sektor
privat merupakan kejahatan seperti halnya penyuapan di sektor
publik karena melanggar kewajiban dan kepercayaan sehingga
berbahaya bagi kepentingan kedua sektor tersebut. Hal ini

23
kemudian yang menjadi perhatian dunia internasional sehingga
memasukkan pasal mengenai penyuapan di sektor privat
sebagai bagian dari korupsi dalam UNCAC.

Dalam hal pengaturan mengenai larangan perbuatan penyuapan


di sektor privat ini secara global tidak ada keseragaman
mengenai model pendekatan pengaturan yang dipergunakan.
Terdapat tiga model pendekatan pengaturan penyuapan di
sektor privat. Pertama pendekatan pelanggaran terhadap
properti dan aset usaha, dimana penyuapan di sektor privat
dipandang sebagai prakiek kotor baik terhadap aset dan
properti usaha serta kepentingan pemegang saham. Kedua,
pendekatan pelanggaran terhadap kepercayaan, kesetiaan dalam
hubungan ketenagakerjaan, dimana kriminalisasi dilakukan
karena adanya pelanggaran terhadap kewajiban dan tugas yang
dimiliki seorang karyawan kepada majikannya. Sedangkan
model ketiga pendekatan persaingan bebas, penyuapan di
sektor privat dipandang sebagai faktor yang mendistorsi
persaingan yang adil dan berfungsinya pasar. Pada model
pertama dan kedua area hukum yang lebih dominan adalah
hukum privat karena didasarkan pada kepentingan untuk
melindungi kepentingan orang maupun korporasi. Akibatnya
pada model pertama, hukum pidana bukan berfungsi untuk
memberantas delik penyuapan di sektor privat. Kemudian pada
model yang kedua hukum pidana memiliki fungsi yang minor
karena hukum pidana dipandang sebagai tambahan dimana
pengaturan delik penyuapan di sektor privat diatur dalam
ketentuan pidana pada undang-undang perdata dan merupakan
delik propria. Pada model ketiga peran hukum pidana lebih
dominan karena tujuan dari kriminalisasi tersebut dilakukan
untuk melindungi kepentingan umum sehingga peran hukum

24
pidana akan lebih dominan dalam memberantas penyuapan di
sektor privat. Pengaturan delik ini diatur dalam undang-undang
pidana

1. Kebijakan Pidana Penyuapan di Sektor Privat di Indonesia

Di Indonesia, penyuapan di sektor privat awalnya


dipandang sebagai perbuatan tersebut masih dalam area
privat dengan privat sehingga apabila terjadi pelanggaran
terhadap hal tersebut akan diselesaikan melalui jalur hukum
privat. Perbuatan pihak privat yang menyuap pihak privat
lainnya dipandang sebagai perbuatan melawan hukum
dalam hukum perdata sebagaimana dalam Arrest
Lindenbaum-Cohen tahun 1919. Cohen dan Lindenbaum
masing-masing memiliki percetakan dan saling bersaing.
Untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan kemudian
Cohen menyuap karyawan Lindenbaum untuk memberikan
daftar sejumlah pelanggannya. Mahkamah Agung Belanda
kemudian menyatakan bahwa perbuatan Cohen tersebut
sebagai perbuatan melawan hukum. Arrest Lindenbaum-
Cohen tersebut masih dipergunakan dalam hukum di
Indonesia.
Dalam perkembangannya penyuapan di sektor privat
kemudian juga diatur dalam hukum publik melalui hukum
pidana. Jauh sebelum Indonesia menandatangani dan
meratifika UNCAC, Indonesia telah memiliki Undang-
Undang No. 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap
(UU Suap) yang mengatur mengenai delik penyuapan aktif
dan pasif terhadap subjek di luar Undang-Undang No. 3
Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
yang telah dicabut dan digantikan dengan Undang-Undang

25
No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
No. 20 Tahun 2001 (UU Tipikor). Dalam Pasal 2 diatur
mengenai larangan bagi setiap orang untuk melakukan
penyuapan kepada pihak lain dengan maksud pihak yang
disuap mau untuk melakukan atau tidak melakukan
kewajibannya yang merugikan kepentingan umum.
Sedangkan dalam Pasal 3 diatur mengenai ketentuan pidana
yang ditujukan kepada pihak yang menerima suap tersebut.
Sayangnya saat ini keberadaan undang-undang ini seperti
mati suri, walaupun masih berlaku namun penegakannya
tidak dilaksanakan.

Dalam UU Tipikor sebenernya memiliki ketentuan


mengenai penyuapan yang dilakukan oleh sektor privat
kepada sektor privat, akan tetapi terbatas dimana subjek
penerima suap tersebut hanya sebatas pada advokat. Pasal 6
ayat (1) huruf b UU Tipikor mengatur mengenai tindak
pidana yang dilakukan oleh pihak swasta kepada seorang
advokat dengan maksud untuk memberikan nasehat yang
diberikannya dalam persidangan. Dalam Undang-Undang
No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat secara tegas
dinyatakan bahwa seorang advokat tidak boleh seorang
pegawai negeri atau pejabat negara, dalam hal ini seorang
advokat sendiri bukan merupakan seorang pegawai negeri
atau pejabat negara baik yang duduk dalam badan legislatif,
eksekutif, yudikatif maupun komisi ataupun lembaga
negara lainnya. Isi ketentuan pasal tersebut sama dengan
ketentuan Pasal 210 ayat (1) angka 2e Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP) yang mana pasal tersebut
sudah dinyatakan tidak berlaku melalui UU Tipikor.

26
Meskipun demikian keberadaan pasal ini pun kerap kali
tidak dipandang sebagai pengaturan mengenai penyuapan
sektor privat karena dipandang bukan sebagai kegiatan
bisnis.

Berdasarkan ketentuan penyuapan sektor privat yang diatur


saat ini, dapat dikatakan bahwa saat ini Indonesia tidak
memiliki model pendekatan pengaturan penyuapan di
sektor privat yang jelas. Di satu sisi Indonesia menerapkan
model pertama dimana hukum pidana bukan berfungsi
untuk memberantas delik penyuapan di sektor privat, hal ini
dapat dilihat dari keberadaa Arrest Lindenbaum-Cohen
tahun 1919. Di sisi lain keberadaan UU Suap dan Pasal 6
ayat (1) huruf b UU Tipikor dapat dimaknai bahwa
Indonesia juga menerapkan model ketiga dimana
pengaturan delik penyuapan di sektor privat dalam undang-
undang pidana dipergunakan sebagai sarana untuk
melindungi kepentingan umum dan pemberantasan korupsi.
Penilaian dan rekomendasi dari penerapan UNCAC
menghendaki adanya perubahan model pendekatan yang
dipergunakan menjadi model ketiga dimana peran hukum
pidana lebih melalui kriminalisasi yang dilakukan untuk
melindungi kepentingan umum.

Lebih lanjut KPK merupakan lembaga negara yang bersifat


independen dalam menangani permasalahan korupsi.
Berdasarkan Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 tentang
Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK), KPK memiliki
tugas untuk melakukan koordinasi dengan instansi yang
berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana
korupsi, supervisi terhadap instansi yang berwenang

27
melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi,
melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan
terhadap tindak pidana korupsi, melakukan tindakan-
tindakan pencegahan tindak pidana korupsi, dan melakukan
monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.
Akan tetapi KPK tidak berwenang untuk melakukan
tindakan pemberantasan, pencegahan dan monitoring
terhadap penyuapan di sektor privat karena hal tersebut
tidak masuk dalam lingkup tindak pidana korupsi yang
dimaksud dalam UU Tipikor. Hal ini juga mengindikasikan
bahwa kebijakan hukum pidana mengenai penyuapan di
sektor privat di Indonesia saat ini masih belum ditempatkan
sebagai bagian dari pemberantasan korupsi. Baik
pengaturan delik ini masih dipisahkan dari UU Tipikor
sehingga KPK tidak bisa menjangkau tindak pidana ini dan
penindakan hukumnya merupakan kewenangan institusi
penegak hukum lainnya di luar KPK.

2. Kebijakan Hukum Pidana Penyuapan di Sektor Privat di


Korea Selatan

Sama halnya dengan Indonesia, Korea Selatan telah


mengkriminalisasi perbuatan penyuapan di sektor privat
sebelum tersebut meratifikasi UNCAC. Bagi Korea Selatan,
kriminalisasi penyuapan di sektor privat semata bukan
hanya berfungsi untuk melindungi kepentingan ekonomi
negara saja tetapi berfungsi untuk menyelesaikan
permasalahan korupsi dimana Korea Selatan memiliki
anatomi korupsi yang berbeda.

28
Di Korea Selatan, perkembangan dan pembangunan
ekonomi tidak dapat dilepaskan dari korupsi yang
terintegrasi melalui hubungan antara pejabat pemerintah,
institusi keuangan dan konglomerasi. Pemberian gratifikasi
berupa makan, minuman mahal dan fasilitas golf telah
menjadi bagian penting dalam kegiatan bisnis dan hal
tersebut menjadi sarana untuk membangun hubungan antara
pebisnis, pejabat pemerintah dan jurnalis yang mana ini
dipandang menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis
ekonomi di Korea Selatan. Oleh karenanya bagi Korea
Selatan pemberantasan korupsi di sektor privat dipandang
sama pentingnya dengan pemberantasan korupsi di sektor
publik. Korea Selatan yang merupakan negara dengan
sistem hukum civil law system pembentukan hukum
dilakukan melalui undang-undang yang terkodifikasi dan
yurispudensi sebagai tambahan.

Di Korea Selatan delik penyuapan di sektor privat diatur


dalam South Korean Penal Code, 1995 yang merupakan
suatu kodifikasi. Selain itu terdapat lex specialist yang
secara khusus mengatur mengenai delik penyuapan dalam
institusi keuangan yaitu the Aggravation of Punishment of
Specific Economic Crimes Act dan The Anti-Corruption and
Bribery Prohibition Act atau yang lebih dikenal dengan
Kim Young-ran Act, 2016 yang mengatur mengenai
pemberian gratifikasi. Di Korea Selatan perumusan delik
penyuapan di sektor privat dan di sektor publik terdapat
dalam pasal yang diatur dalam suatu undang-undang.
Rumusan delik-delik tersebut yaitu terdapat dalam Korean
Penal Code, 1995 berisi suap meliputi benda, uang ataupun
keuntungan lainnya sedangkan dalam the Aggravation of

29
Punishment of Specific Economic Crimes Act suap
diidentifikasikan sebagai manfaat ekonomi yang diartikan
luas termasuk segala sesuatu yang berharga termasuk uang,
hadiah dan perjalanan wisata namun tidak ditentukan
batasan minimal dan maksimalnya. Pengaturan gratifikasi
terbaru diatur dalam Kim Young-ran Act, 2016 yang
mengatur mengenai jumlah maksimal penerimaan
gratifikasi yaitu satu juta Korea Won untuk satu kali
kesempatan dan maksimal tiga juta Korea Won untuk satu
tahun. Dalam undang-undang ini juga diperjelas pengertian
keuntungan sebagai salah satu bentuk gratifikikasi yang
meliputi saham, properti, keanggotaan, kupon diskon, tiket,
makanan, minuman, hiburan, golf, akomodasi, transportasi,
membebaskan kewajiban hutang, menyediakan lapangan
kerja, pemberian hak konsesi dan setiap berwujud atau
tidak berwujud yang memiliki manfaat ekonomi. Undang-
undang ini lahir sebagai reaksi atas ketidakberhasilan
undang-undang yang ada dalam menindak praktek
pemberian suap dan gratifikasi yang telah menjadi
kebiasaan dalam berbisnis dan berpolitik. Oleh karenanya
undang-undang ini tidak hanya ditujukan kepada pegawai
negeri namun juga meliputi institusi pelayanan publik
seperti perbankan, tenaga pengajar, jurnalis, reporter dan
karyawan media massa. Di Korea Selatan memiliki
lembaga anti korupsi yitu The Anti-Corruption and Civil
RightsCommission (ACRC) sebagai lembaga antai korupsi
yang terintegrasi dengan ombusman namun tidak bertindak
sebagai institusi penagakan hukum.

30
Bab 3: Penututup
A. Kesimpulan
Perbedaan yang sangat mencolok yang dapat dilihat antara sistematika
KUHP dengan KUHP Korea adalah bahwa KUHP Korea tidak
membedakan antara Kejahatan dengan Pelanggaran, sedangkan KUHP
masih membedakannya. Dalam hal perbandingan hukum pidana antara
Indonesia dengan Korea terdapat beberapa perbedaan dan persamaan.
Namun, KUHP Korea dalam beberapa bidang sudah lebih maju karena
beberapa materi yang kita pelajari melalui ilmu pengetahuan hukum
pidana, sudah tercantum dalam KUHP Korea. Meskipun demikian, bagi
Indonesia Indonesia ketentuan mengenai penyuapan di sektor privat dibuat
bukan sebagai bagian UU Tipikor dan tujuan perumusannya bukan untuk
menanggulangi tindak pidana korupsi, akibatnya UU Suap tidak
dimasukan dalam penilaian penerapan UNCAC. Berbeda dengan Korea
Selatan dimana ketentuan mengenai penyuapan di sektor privat dibuat atas
dasar adanya kesadaran untuk melakukan pemerantasan korupsi secara
komprehensif dan bukan semata untuk memenuhi kewajiban ratifikasi
UNCAC.
B. Saran
Karena Indonesia sedang dalam tahap pembaharuan hukum pidana, maka
untuk memperoleh hukum yang lebih baik Indonesia dapat mencontoh
hukum pidana Korea dalam hal Pengulangan. Karena fenomena yang
terjadi di Indonesia tingkat pengulangan tindak pidana (residive) masih
sangat tinggi karena hukuman yang diberikan masih terlalu ringan
sehingga tidak menimbukan efek jera kepada pelaku. Sedangkan di Korea
Pidana untuk pengulangan di dua kalikan untuk memberikan efek jera
kepada pelaku dan untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Demikianlah makalah ini, apabila ada kesalahan dalam penulisannya atau
kekurangan pembahasan ini, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan
juga kami harapkan teguran yang sehat sekiranya dapat membangun dalam
perbaikan makalah ini.

31
Daftar Pustaka

- Buku pengantar perbandingan sistem hukum penerbit Raja Grafindo


Persaja
- Buku Tindak Pidana terhadap Penyelenggaraan Peradilan penerbit
Sinar Grafika
- Buku Perbandingan Pemberantasan Korupsi di Berbagai Negara
penerbit Sinar Grafika
- Buku Perbandingan Hukum Pidana penerbit PT Raja Grafindo
Persada
- Buku Korupsi dan Permasalahannya penerbit Diadit Media
- https://idrusonly.blogspot.com/2014/11/rangkuman-perbandingan-
hukum-pidana.html
- http://yurisdiksilaw.blogspot.com/2016/04/perbandingan-hukum-
pidana-asas.html?m=1Perbandingan Hukum Pidana
- http://nirmalanurdin.blogspot.com/2010/11/perbandingan-hukum-
pidana-indonesia.html?m=1
- https://makalah-anaksilajara.blogspot.com/2013/09/makalah-
perbandingan-hukum-sistem-hukum.html
- https://panmohamadfaiz.com/2007/02/17/perbandingan-hukum-1/
- https://dimensilmu.blogspot.com/2017/01/pengertian-perbandingan-
hukum.html
- https://irwansyah-hukum.blogspot.com/2012/06/perbandingan-
hukum-korea.html
- https://jurnalhukum.blogspot.com/2008/01/perbandingan-hukum-
3.html
- https://makalah2107.blogspot.com/2016/07/makalah-
perbandingan-hukum.html
- https://bahankuliyahhukum.blogspot.com/2014/05/perbandingan-
hukum.html

32
FootNote

Advokat = ahli hukum yang berwenang sebagai penasehat perkara di pengadilan


(pengacara)
Amnesti = penghapusan hukum terhadap seseorang atau kelompok yang telah
melakukan pidana
Anglo saxon = negara maritim kepulauan yang terletak di Eropa
Criminal code of the republic of Korea = hukum pidana republik Korea
Civil law system = sistem hukum yang berdasarkan yurispudensi
Delik = perbuatan yang dapat dikenakan hukuman karena melanggar UU
Dolus = perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana secara sengaja
Erfolgshaftung = menanggung akibat
Gratifikasi = pemberian hadiah diluar ketentuan
Korporasi = badan usaha yang sah
Kodifikasi = himpunan berbagai peraturan menjadi undag-undang
Nebis in idem = asas dalam hukum agar tindakan yang sama tidak dilakukan dua
kali
Preventif = bersifat mencegah
Punishment = hukuman
Refresif = bersifat menekan
Retroaktif = bersifat berlaku surut terhitung tanggal diundangkannya
Recidive = suatu hal atau dasar yang memberatkan hukuman
Skorsing = memecat atau menghentikan untuk sementara waktu
Supplier = perusahaan yang menyumbangkan barang dan jasa
Supervisi = pengarah pengadilan tingkat karyawan yang berada di bawah suatu
organisasi
Transparancy international = sebuah organisasi international yang bertujuan
memerangi korupsi politik
Tipikor = pengadilan tindak pidana korupsi yang berada dalam lingkungan
peradilan umum
Yurisprudensi = teori dan filosofi dari hukum

33