Anda di halaman 1dari 26

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ayam Petelur

Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus

untuk diambil telurnya. Asal mula ayam petelur adalah berasal dari ayam hutan dan

itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun

demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar.

Persilangan dan seleksi dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur

seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan

sifat baik diperhatikan (terus dimurnikan) (Ardana, 2009).

2.1.1 Jenis Ayam Petelur

Ayam petelur dapat dibedakan menjadi dua jenis/tipe, yaitu :

1. Ayam Petelur Tipe Petelur Ringan

Tipe petelur ringan dapat juga disebut ayam petelur putih. Ayam

petelur ini mempunyai ciri-ciri badan yang ramping, warna bulu putih

bersih, mata bersinar dan memiliki jengger yang berwarna merah. Pada

umumnya berasal dari galur murni White Leghorn. Ayam jenis petelur

putih ini mampu bertelur sampai 260 butir/tahun. Sebagai petelur, ayam

ini hanya diarahkan khusus untuk bertelur saja, karena dagingnya hanya

sedikit. Ayam jenis ini tidak tahan (sensitif) terhadap cuaca panas dan

suara ribut. Ayam ini mudah kaget dan hal tersebut akan berakibat

menurunkan produksi telur (Krista dan Harianto, 2013).


8

2. Ayam Petelur Tipe Medium

Ayam tipe ini mempunyai ciri-ciri tubuh lebih berat jika

dibandingkan dengan tipe petelur ringan, dan berukuran tubuh sedang.

Ayam ini memiliki bulu dan telur yang berwarna coklat. Produksi telur

cukup banyak dan menghasilkan cukup banyak daging. Oleh karena itu

ayam ini disebut juga ayam tipe dwiguna (Krista dan Harianto, 2013).

2.1.2 Strain Ayam Petelur

Ada berbagai strain ayam yang kini banyak beredar atau pernah berdar di

Indonesia, antara lain sebagai berikut :

1. Abor Acres, diciptakan di Amerika 1972.

2. Dekalb Waren, diciptakan di Amerika 1972.

3. Hyline, diciptakan di Amerika 1972.

4. Hubbard Golden Comet, diciptakan di Amerika 1972.

5. Kimber Bown, diciptakan di California Amerika.

6. Harco, diciptakan di Amerika 1972.

7. Shaver, diciptakan di Kanada.

8. Hisex, diciptakan di Belanda 1972.

9. Hypeco, diciptakan di Belanda 1972.

10. Rosella, diciptakan di Belanda.

11. Isa Brown, diciptakan di Inggris 1972.

12. Ross Brown, diciptakan di Inggris 1972.

13. Lohman, diciptakan di Jerman 1977.

14. Enya, diciptakan di Jepang.


9

Di Indonesia sudah banyak berkembang pembibitan ayam berupa ayam-

ayam Parent Stock atau Grand Parent Stock yang memproduksi DOC tingkatan

Final Stock guna menyuplai para peternak. Ayam Final Stock diperoleh melalui

beberapa tahapan pemurnian dan penyilangan. Untuk memperoleh bibit yang

hendak disilangkan, diawali dengan perlakuan dan pemurnian beberapa strain

terlebih dahulu. Dari strain-strain murni yang diperoleh, kemudian disilangkan, dan

dari hasil persilangan ini, kemudian disilangkan lagi. Dengan demikian, bibit yang

dihasilkan pada tahapan tertentu merupakan hibrida double cross, yaitu hibrida

yang diperoleh melalui dua kali silangan (Sudarmono, 2003).

Jika ayam strain A jantan dan strain B betina dikawinkan, dan dari hasil

perkawinan tersebut dihasilkan jantan-jantan yang baik untuk dikawinkan dengan

betina-betina dari hasil persilangan C jantan dan D betina, maka persilangan

tersebut dapat diilustrasikan pada Gambar 2.1:

Gambar 2.1 Proses Tahapan Pembibitan (sumber: Sudarmono, 2003)

Dalam tahapan pembibitan ini terdapat istilah-istilah penamaan ayam

seperti Pure Line Stock, Fondation Stock, Grand Parent Stock,Parent Stock, dan

yang terakhir Final Stock (Sudarmono, 2003).


10

2.1.3 Karakteristik Ayam Petelur

Ayam ras petelur memiliki sifat-sifat unggul sebagai berikut:

1. Laju pertumbuhan ayam ras petelur sangat pesat. Pada umur 4,5-5,0 bulan

telah mencapai kedewasaan kelamin, dengan bobot badan antara 1,6 kg –

1,7 kg. Pada umur tersebut, sebagian dari kelompok ayam tersebut sudah

bisa untuk bereproduksi.

2. Kemapuan berproduksi ayam ras petelur cukup tinggi yaitu antara 200-280

butir/tahun. Dengan bobot telur antara 50 g – 60 g/butir.

3. Kemapuan ayam ras petelur dalam memanfaatkan ransum pakan sangat baik

dan berkorelasi positif. Konversi terhadap penggunaan ransum cukup

bagus, yaitu 2,2 kg – 2,5 kg ransum dapat menghasilkan 1 kg telur.

4. Periode bertelur ayam ras petelur lebih panjang, bisa berlangsung selama

13-14 bulan, atau hingga ayam berumur 19-20 bulan. Walaupun ayam ras

Hanjaya mengalami satu periode bertelur, akan tetapi periode bertelurnya

tersebut berlangsung sangat panjang dan produktif. Hal ini disebabkan oleh

tidak adanya periode mengeram pada ayam ras petelur tersebut.

Kelemahan ayam petelur :

1. Ayam ras petelur sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kemampuan

adaptasi terhadap lingkungan lebih rendah bila dibandingkan dengan ayam

kampung. Ayam ras petelur lebih mudah mengalami stres.

2. Tuntutan hidup ayam ras petelur tinggi, yaitu selalu menuntut pakan dalam

jumlah dan kualitas yang tinggi, air minum yang cukup dan

menggantungkan diri sepenuhnya kepada peternak.


11

3. Memiliki sifat kanibalisme lebih tinggi daripada ayam kampung

(Sudarmono, 2003).

2.1.4 Fase Pemliharaan Ayam Petelur

1. Fase Starter

Pada umur 0-8 minggu merupakan fase starter Dimana terjadi

pembelahan dan pertumbuhan sel yang tinggi. Sehingga pada fase ini

merupakan kunci awal untuk mencapai keberhasilan pencaian bobot badan.

Apabila salah dalam mengelola fase starter dapat mengakibatkan kekerdilan

sehingga pertumbuhan terlambat, dibarengi oleh ketidakseragaman berat

badan yang berakibat terjadinya kemunduran produksi telur, dan sering

terjadi morbiditas (angka sakit) dan mortalitas (angka kematian) yang tinggi

selama pemeliharaan. Secara rinci kegiatan fase starter meliputi:

pemasangan dan menyalakan brooder (pemanas), menerima DOC,

memeberi makan, memberi air minum yang dicampur dengan anti stres dan

antikuman dan potong paruh. (Ardana, 2009).

2. Fase Grower

Secara umum masa grower ayam petelur mulai umur 5-18 minggu,

akan tetapi untuk masing-masing galur ayam petelur tidak sama. Pada fase ini

target yang ingin dicapai antara lain kontrol berat badan dengan uniformitas-

nya (keseragaman) > 85 % dan untuk mengembangkan sistem pencernaan

pullet agar dapat meningkatkan konsumsi pakan pada saat awal fase layer.

Kegiatan yang harus dilakukan untuk dapat mencapai target tersebut meliputi:

teknik pemberian pakan dan minum, kontrol berat badan dan keseragaman,
12

program pencahayaan dan pindah ke kandang baterai (transfer) (Ardana,

2009).

3. Fase Layer

Fase layer dimulai sejak ayam petelur mulai berproduksi hingga masa

afkir. Ayam petelur dari awal produksi (16-35 minggu) digolongkan dalam

fase layer I sedangkan dari akhir puncak produksi hingga afkir di sebut fase

layer II. Kegiatan pengelolaan fase layer yang selanjutnya disebut

manajemen laying meliputi manajemen pemeberian pakan, kontrol berat

badan, pencahayaan, kepadatan kandang, ventilasi dan mengatasi heat stres

(Ardana, 2009).

2.2 Avian Influenza

2.2.1 Etiologi

Avian Influenza disebabkan oleh virus influenza yang tergolong famili

orthomyxoviridae, genus influenza tipe A, subtipe H5N1 (Hasdinah dan Dewi,

2014). Orthomyxoviridae berasal dari bahas Yunani yaitu orthos yang berarti

benar-benar atau sangat dan myxa yang berarti lendir. Virus ini mempunyai envelop

dan genomnya bersegmen delapan dengan RNA berserat tunggal polaritas negatif

(ss(-)RNA) (de Jong, 2006). Perbedaan sifat antigenik yang terdapat pada

nucleoprotein (NP) dan pada protein matriks (M) dari virus influenza dijadikan

dasar untuk mengklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu influenzavirus tipe A, B dan

C. Virus influenza tipe A dan B memiliki delapan segmen RNA, sedangkan pada

virus influenza C hanya memiliki tujuh segmen RNA (Kencana, 2012).

Influenzavirus A menyebakan influenza pada babi, kuda unggas serta manusia,


13

sedangkan influenzavirus B dan C menyebabkan penyakit pada manusia tetapi

tidak pada spesies ternak yang penting (Brooks et al., 2005).

Pembagian subtipe virus influenza tipe A berdasarkan kombinasi dua

protein permukaan yaitu Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA).

Berdasarkan penemuan terbaru, saat ini diketahui terdapat 17 subtipe HA (H1-H17)

dan 10 subtipe NA (N1-N10) dari genom virus influenza tipe A. Subtipe terbaru ini

berhasil diidentifikasi dari kelelawar dengan subtipe H17N10 (Tong et al., 2012).

Daerah eksternal Hemaglutinin (HA) terdiri dari oligosakharida yang berperan

dalam proses awal infeksi virus yang mampu mengaglutinasi sel darah merah

dengan sempurna dan menyalurkan derivate neuraminik (Russel et al., 2008).

Neuraminidase berperan penting dalam pelepasan dan penyebaran virion,

mengikuti siklus replikasi virus dalam sel inang (Matrosovich et al., 2004).

2.2.2 Morfologi

Struktur virus influenza A sangat mirip satu dengan lainnya. Di bawah

mikroskop electron virus AI tampak berbentuk pleomorfik, dari bentuk speris

(bulat) dengan garis tengah rata-rata 120 nm sampai berbentuk filament (Kencana,

2012). Permukaan virus AI dilapisi oleh dua lapisan lipid dengan tonjolan-tojolan

glikoprotein yang panjangnya 10-14 nm dan diameter 4-6 nm. Penonjolan tersebut

adalah HA dan NA, sedangkan nukleokapsidnya berbentuk heliks (de Jong, 2006).

Virus Avian Influenza mempunyai 8 segmen gen yang menyandi 10 protein

virus yang berbeda. Struktur protein dalam suatu virion virus AI dapat dibagi

menjadi protein permukaan yang terdiri dari haemaglutinin (HA), neauraminidase

(NA) dan protein ion chanel membrane (M2), untuk protein dalamnya meliputi
14

nukleoprotein (NP), protein matriks (M1), dan tiga protein polimerase kompleks:

Polimerase basik-1 (PB1), Polimerase basik-2 (PB2) dan polimerase asidik (PA).

(de Jong, 2006). Dua protein tambahan oleh virus AI adalah protein nonstructural

1 (NS1) dan protein nonstructural 2 (NS2), yang dikenal sebagai nuclear export

protein (NEP) (O’Neill et al., 1998). Ilustrasi struktur virus Avian Influenza dapat

dilihat pada Gambar 2.2.:

Gambar 2.2. Struktur Virus Avian Influenza ( Sumber Wibowo, 2011)

2.2.3 Sifat Fisiko-Kimia

Virus AI sangat peka terhadap perubahan temperatur linkungan, keasaman

(pH3), sinar ultraviolet dan desinfektan. Berdasarkan penelitian Naiposopos (2005)

dalam Shalat (2008), virus Avian Influenza bertahan hidup dalam air dengan suhu

22o C dan pada suhu 0o C selama 30 hari. Pada daging ayam akan mati pada

pemanasan 80o C selama 1 menit, dan pemanasan 60o C selama 4,5 menit. Virus AI

dapat bertahan dalam debu kering selama 14 hari, dalam kotoran (mannure) cair

selama 105 hari, dalam feses selama 30-35 hari pada suhu 4o C, dan tahan selama 7

hari pada suhu 20o C (Swayne dan Halvorson, 2003).


15

Selain pemanasan, virus Avian Influenza juga sangat cepat mati oleh zat

kimia tertentu seperti formaldehid, beta propiolakton, binaria etilenium, fenol, ion

amonium, klorofom, sodium hipoklorit, asam encer, dan hidroksilamin. Detergen

seperti sodium deoksikolat dan sodium dodesisulfat dapat juga digunakan untuk

inaktivasi virus karena amplopnya tersusun atas lemak (Swayne dan Halvorson,

2003)

2.2.4 Varaiasi Antigenik

Struktur antigen virus influenza dapat berubah secara bertahap karena sifat

mutasi, dan rekombinasi (antigenik drift/hanyutan antigenik) serta reasortment

(antigenic shift/ lompatan antigenik) (Webster et al., 1992). Perubahan genetik

mengakibatkan terjadinya perubahan biologis virus dari sifat aslinya, seperti

terjadinya peningkatan virulensi virus (Kencana, 2012).

Virus Avian Influenza merupakan virus RNA yang memiliki enzim RNA-

Polimerase yang berperan dalam pose replikasi virus. Dalam proses replikasi,

enzim RNA-Polimerase tidak mempunyai prof reading sebaik enzim DNA-

Polimerase, akibatnya kecendrungan untuk banyak terjadi kesalahan dalam

penyusunan RNA (Webster dan Hulse, 2004). Drift antigenik terjadi oleh adanya

perubahan struktur antigeik yang bersifat minor pada antigen permukaan HA

dan/atau NA. Shift antigenik terjadi oleh adanya perubahan struktur antigenik yang

bersifat dominan pada antigen permukaan HA dan NA. Virus influenza unggas

lebih jarang mengalami drift antigenik dibandingkan virus influenza pada mamalia

(Tabbu, 2000).
16

2.2.5 Epidemiologi

Virus Avian Influenza memiliki penyebaran yang tinggi dengan tingkat

morbiditas dan mortalitas yang sangat bervariasi. Virus Avian Influenza masuk ke

dalam populasi secara berkala melalui antara spesies dan dari unggas liar (Swayne,

2008). Epidemilogi VAI dapat dipetakan dengan melakukan deteksi antibodi,

isolasi, dan identifikasi virus (WHO, 2002). Deteksi antibodi melalui kajian

seroepidemiologi merupakan salah satu studi penting dalam survielans terhadap

VAI (Budiharta dan Suardana, 2007). Uji standar deteksi antibodi terhadap virus

Avian Influenza adalah menggunakan tes serologi Hemaglutinasi (HA) dan

Hambatan Hemaglutinasi (HI) (OIE, 2000).

Kejadian wabah Avian Influenza pertama kali dilaporkan tahun 1878 di

Italia yang menyebakan kematian yang sangat tinggi pada unggas dan dikenal

sebagai fowl plaque. Pada tahun 1918 di Spanyol, terjadi kejadian luar biasa virulen

influenza A (H1N1) yang mengakibatkan kematian 20 sampai 40 juta orang.

Peristiwa epidemiologik terjadi pada tahun 1957 (H2N2) dan 1968 (H3N2),

keduanya berasal dari Asia yang menyebabkan kematian 1 juta orang (Mulyadi dan

Prihatini, 2005). Kejadian Avian Influenza pada ayam telah dilaporkan di Amerika

Utara pada tahun 1929; USA tahun 1975 dan terakhir pada tahun 1986. Kejadian

Avian Influenza juga dilaporkan dari Belgia, Skotlandia, negara-negara bekas

Unisoviet, Australia, Perancis, Israel, dan Hongkong. Berdasarakan tingkat

kejadian dan penyebaran virus Avia Influenza pada unggas, maka diperkirakan

bahwa sejumlah virus menyebar ke seluruh dunia melalui burung yang berpindah

dari satu daerah ke daerah lainnya (Tabbu, 2000).


17

Epidemiologi virus Influenza A sangat kompleks, melibatkan unggas liar,

unggas domestik, serta hewan mamalia liar dan hewan ternak dalam lingkungan

yang beragam (Swayne, 2008). Hospes alami dari virus AI adalah unggas air yang

tergolong ke dalam orde Anseriformes seperti itik dan angsa, dan Charadriformes

seperti gulss dan shorebirds yang bertindak sebagai karier dari beberapa subtipe

virus influenza A. Pada inang alami terutama unggas air virus AI tidak

menimbulkan gejala klinis tetapi virus tetap mengalami evolusi yang ditandai

dengan terjadinya mutasi secara terus-menerus. Pada inang ini virus AI bereplikasi

secara efisien dan mengeluarkan virus dalam jumlah yang besar (Kencana, 2012).

Di Indonesia Virus AI pertama kali dapat diisoloasi dari unggas air tahun

1983 (Ronoharjo, 1983). Setelah berhasil teridentfikasi, tidak ada penelitain lebih

lanjut mengenai hal tersebut. Wabah Avian Influenza di Indonesia pertama kali

terjadi pada bulan Agustus 2003 di Kabupaten Pekalongan dan Tanggerang. Wabah

ini menyerang ayam ras petelur dan pedaging, burung puyuh, ayam buras dan itik.

Angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) kasus ini mencapai

90% (Dharmayanti, et al., 2006). Kemudian dari wabah tersebut telah berhasil

diisolasi dan dikarakterisasi dengan menggunakan serum positif Avian Influenza

sebagai virus Avian Influenza subtipe H5 (Wiyono et al., 2004). Wabah AI pada

unggas di Indonesia, masih terus terjadi dengan frekuensi berbeda. Sampai April

2012, penyakit AI sudah menjadi endemik di 32 provinsi di Indonesia dan hanya

satu propinsi yang dinyatakan bebas AI yaitu Provinsi Maluku Utara. Penularan

zoonosis ke manusia dilaporkan pertama kali di Provinsi Jawa Barat Pada Juli 2005

(Dharmayanti et al., 2012 ; Andesfha et al., 2014 ; Eagles et al., 2009).


18

2.2.6 Masa Inkubasi dan Gejala Klinis

Masa inkubasi penyakit AI sangat tergantung pada dosis virus, rute kontak,

dan spesies unggas yang terserang. Umumnya masa inkubasi penyakit AI pada

unggas berkisar 2 sampai 3 hari. Ayam dan kalkun merupakan hewan yang sangat

peka terhadap virus Avian Influenza, sedangkan itik dan angsa dianggap sebagai

karier tanpa atau sedikit menunjukan gejala penyakit (Lennstrom, 2009). Gejala

penyakit AI sangat mirip dengan penyakit Newcastle/Tetelo sehingga sehingga

sering kali mengelirukan diagnosa awal (Kencana, 2012).

Unggas yang mengalami sakit menunjukan gejala yang beragam, mulai dari

gejala ringan sampai sangat berat. Hal ini bergantung keganasan virus, lingkungan,

dan keadaan unggas sendiri (Mulyadi dan Prihatini, 2005). Gejala awal dapat

berupa penurunan produksi telur, penurunan konsumsi pakan dan minum

(Elbarkley et al., 2015). Unggas yang sakit menunjukan keadaan depresi, bulu

rontok dan disertasi suhu tubuh yang tinggi, kondisinya sangat lemah dan jalannya

sempoyongan, sering kali duduk dan beridiri dalam keadaan setengah tidur atau

mengantuk dengan kepala menyentuh tanah (Sardjana, 2013). Kulit pial dan

jengger berwarna kebiruan, dan kadang-kadang disertai bintik-bintik perdarahan

(petekhi), perdarahan subkutan dan edema pada daerah kaki yang tidak berbulu

sehingga sering disebut sebagai ayam kerokan. Mengorok yang disertai dengan

keluarnya eksudat encer dari rongga hidung dan diare sering dijumpai. Kemudian

gejala saraf juga sering ditemukan dengan tanda klinis tremor, inkoordinasi, dan

tortikolis. Gejala gangguan pernafasan berupa batuk dan bersin. (Damayanti et al.,

2004 ; Lennstrom, 2009 ; Mulyadi dan Prihatini, 2005). Pada kasus AI dengan
19

infeksi sekunder misalnya oleh penyakit ND, penyakit bakteri, atau kondisi

kandang dengan ventilasi yang buruk gejala klinis yang muncul lebih parah

(Kencana, 2012).

Gambar 2.3 Gejala Klinis : A menunjukan perdarahan dan cyanosis pada jengger dan pial;
B menunjukan perdarahan pada lapisan subkutan telak kaki. (Damayanti et
al., 2004)

2.2.7 Perubahan Patologi

1. Perubahan Makroskopis

Perubahan yang ditemukan pada unggas sangat bervariasi menurut lokasi

dan derajat keparahannya dan tergantung pada spesies unggas dan patogenesis virus

influenza terlibat. Selain itu perubahan makroskopik pada unggas yang terserang

Avian Influenza kerap kali diikuti oleh lesi yang ditimbulkan oleh bakteri, sehingga

perubahan yang ditemukan mungkin merupakan akibat dari infeksi virus Avian

Influenza dan bakteri (Tabbu, 2000).

Kelainan PA yang paling menyolok yaitu cyanosis pada kulit kepala dan

jengger, perdarahan subkutan pada kaki yang tidak berbulu, perdarahan difusi pada

lapisan kulit tubuh bagian sentral mulai dari toraks hingga abdomen dan perdarahan

umum pada seluruh organ ayam. Petekhi tampak pada perikardium, myokardium

dan mukosa proventrikulus. Selain itu limpa sedikit membengkak dan hati
20

mengalami perdarahan, nekrosis dan sangat rapuh (Damayanti et al., 2004 ; Garjito,

2013 ; Sardjana, 2013). Edema pada bagian submandibula, petekhi pada lemak

jantung, trakea mengalami perdarahan dan terdapat eksudat berbentuk mukoid,

bagian serosa usus terdapat lesi hemoragi, perdarahan ovarium dan oviduk, serta

testis dan ginjal mengalami hemoragi. Paru-paru mengalami hemoragi dan dipenuhi

oleh cairan eksudat (ElBakrey et al., 2015).

Gambar 2.4 Perubahan Patologi Anatomi: A menunjukkan perdarahan pada lapisan


subkutan bagian ventral tubuh; B menunjukkan bintik-bintik perdarahan pada
otot paha; C menunjukkan perdarahan dan nekrosis pada hati; D menunjukkan
perdarahan pada ovarium (Damayanti et al., 2004)

2. Perubahan Mikroskopis

Secara umum gambaran HP yang terlihat berupa perdarahan sistemik

dengan peradangan non supuratif yang ditandai dengan infiltrasi sel radang jenis

limfosit pada semua organ internal ayam. Diagnosis morfologi yang terlihat berupa

dermatitis pada pial, jengger dan telapak kaki, ensefalitis yang disertai degenerasi

dan nekrosis myelin pada otak, trakheitis, myositis haemoragika pada otot dada dan
21

paha, pneumonia interstitialis pada paru-paru, peradangan pada epikardium dan

myokardium jantung, peradangan pada proventrikulus, peradangan, perdarahan dan

nekrosis pada hati, peradangan pada ginjal dan perdarahan pada ovarium. Selain

lesi tersebut di atas, gambaran HP yang selalu ditemui yaitu vaskulitis pada kulit

pial dan jengger, otak, paru-paru dan ginjal (Damayanti et al., 2004).

Gambar 2.5 Perubahan Mikroskopis: A menunjukkan perdarahan pada lapisan dermis dan
subkutis kulit jengger; B menunjukkan perdarahan pada lapisan mukosa
trakhea, C menunjukkan perdarahan pada lapisan epikardium jantung, D
menunjukkan perdarahan dan nekrosis pada jaringan organ hati, pewarnaan
H&E. Untuk D, perbesaran 6,3 x 10 (Damayanti et al., 2004)

Dalam suatu penelitian menggunakan ayam herbal yang ditantang dengan

virus Avian Influenza H5N1 menunjukan trakea mengalami edema dan deskuamasi

epitel mukosa. Perubahan patologis sistem respirasi juga ditemukan pada organ

paru-paru berupa kongesti dan pneumonia. Histopatologis limpa menunjukkan

terjadinya kongesti dan deplesi limfoid folikel tahap awal. Berkurangnya sel-sel

limfosit fungsional pada limpa akan memberikan pengaruh kurang menguntungkan


22

bagi hewan akibat daya tahan yang semakin menurun. Histopatologis organ bursa

fabricius pada ayam yang mati setelah ditantang virus AI H5N1 menunjukkan

perubahan yang moderat. Limfoid folikel terjadi deplesi dan ditemukan fibrosis

yang mengisi ruang plika limfoid folikel (Setiyono dan Bermawie, 2014).

2.2.8 Pencegahan dan Pengendalian

Beberapa tindakan strategis yang dapat dilakukan untuk mengendalikan

penyakit AI diantaranya peningkatan biosekuriti, vaksinasi, melakukan depopulasi

dan pemusnahan (stamping out) terhadap ternak sakit di daerah tertular,

pengendalian lalu lintas ternak, serta monitoring terhadap unggas sakit (Kencana,

2012).

2.2.8.1 Biosekurti

Biosekuriti merupakan suatu tindakan untuk mencegah semua kemungkinan

penularan (kontak) dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit melalui

pengawasan lalu lintas dan tindak karantina (isolasi) lokasi peternakan tertular dan

lokasi tempat-tempat penampungan unggas yang tertular, dekontaminasi

(desinfeksi). Virus Avian Influenza mudah mati oleh panas, deterjen dan berbagai

desinfektan. Jenis desinfektan yang dapat digunakan misalnya asam parasetat,

hidroksi peroksida, sediaan amonium quartener, formaldehyde (formalin 2-5%),

iodoform kompleks (iodine), senyawa fenol, natrium (kalium) hipoklorit. (Deptan,

2004 ; Sardjana, 2013) .

Tindakan karatina atau isolasi harus diberlakukan terhadap peternakan yang

tertular. Kondisi sanitasi di kandang-kandang, lingkungan kandang maupun para

pekerja harus sehat. Kemudian lalu lintas keluar -masuk kandang termasuk orang
23

dan kendaraan harus secara ketat dimonitor. Area peternakan yang sehat diciptakan

dengan program desinfeksi secara teratur serta menerapkan kebersihan pada saat

bekerja, misalnya dengan memakai sarung tangan, masker, dan sepatu panjang

(Yudhastuti dan Sudarmaji, 2006).

2.2.8.2 Vaksinasi

Vaksinasi adalah pertahanan kedua dalam upaya pengendalian dan

memberantas wabah penyakit Avian Influenza (Deptan, 2004). Apabila wabah telah

terjadi disuatu daerah dengan populasi ayam yang padat dan pelaksanaan

biosekuriti tidak seimbang dengan pelaksanaan dan penataan peternakan yang

sesuai dengan sistem industri modern, maka tindakan vaksinasi harus menjadi

pilihan pertama untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit. Target yang

diharapkan dari vaksinasi ini adalah untuk menurunkan derajat kerentanan terhadap

infeksi dan menurunkan jumlah virus yang tercurah kedalam suatu lingkungan

(Prima, 2007) .Vaksinasi dilakukan terhadap hewan yang sehat, terutama yang

berada disekitar peternakan ayam yang terkena wabah ini dilakukan untuk

memberikan kekebalan pada ayam supaya tidak mudah tertular (Yudhastuti dan

Sudarmaji, 2006).

2.2.8.3 Depopulasi dan Pemusnahan (Stamping-out)

Depopulasi atau pemusnahan selektif adalah satu tindakan untuk

mengurangi populasi unggas yang menjadi sumber penularan penyakit. Depopulasi

dilakukan terhadap semua peternakan tertular Avian Influenza yang ditetapkan

melalui diagnosa secara klinis dan patologi anatomis oleh dokter hewan. Kemudian

depopulasi dilakukan terhadap unggas hidup yang tertular dan unggas sehat yang
24

sekandang dengan cara mengeutanasi (membunuh) atau menyemblih sesuai

prosedur pemotongan unggas yang berlaku. Tahapan yang kedua adalah disposal,

yaitu prosedur untuk melakukan pembakaran dan penguburan terhadap unggas mati

(bangkai), karkas, telur, kotoran (feses), bulu, alas kandang (sekam), pupuk atau

pakan ternak yang tercemar serta bahan dan peralatan terkontaminasi lainnya yang

tidak dapat didekontaminasi (didesinfeksi) secara efektif (Deptan, 2004). Tujuan

utama dari tindakan ini adalah untuk memutuskan siklus penyakit (Yudhastuti dan

Sudarmaji, 2006).

Pada daerah bebas/terancam apabila timbul kasus Avian Influenza dan telah

didiagnosa secara klinis, patologi anatomis dan epidemiologis serta dikonfirmasi

secara laboratoris, maka dilakukan tindakan pemusnahan menyeluruh (stamping

out) yaitu memusnahkan seluruh ternak unggas yang sakit maupun yang sehat pada

peternakan tertular dan juga terhadap semua unggas yang berada dalam radius 1 km

peternakan tertular tersebut (Deptan, 2004).

2.2.8.4 Pengendalian Lalu Lintas Ternak

Pengaturan secara ketat terhadap pengeluaran dan pemasukan unggas hidup,

telur (tetas dan konsumsi) dan produk unggas (karkas/daging unggas dan hasil

olahannya) serta limbah peternakan (Deptan, 2004). Daging, telur, dan karkas

unggas perlu diawasi untuk mencegah penyebaran virus yang masih aktif dan

menempel pada produk tersebut. Jika produk mengandung virus yang masih aktif

dikhawatirkan akan berpindah ke unggas atau bahkan orang (Sardjana, 2013).

Dalam bidang pengeluaran produk unggas (telur dan daging/hasil

olahannya) harus disertai dengan surat keterangan dari Dokter Hewan Pemerintah
25

Daerah Kabupaten/Kota di tempat asal dengan tembusan kepada Direktur

Kesehatan Hewan dan Dinas Peternakan/dinas yang membidangi fungsi peternakan

dan kesehatan hewan di provinsi (Deptan, 2004). Kiriman unggas yang dipesan dari

luar daerah tempat pemesan perlu dipantau dan diperiksa. Hal ini dilakukan untuk

mencegah masuknya bibit endemik dari luar daerah. Pemeriksaan dilakukan dengan

mengamati kondisi fisik, kesehatan hewan serta melakukan uji laboratorium sampel

darah unggas terhadap kemungkinan Avian Influenza (Yudhastuti dan Sudarmaji,

2006).

2.2.8.5 Monitoring

Monitoring dan evaluasi sangat diperlukan dengan segera untuk mengetahui

perkembangan kegiatan dan dampak serta permasalahan dalam kegiatan

penanggulangan wabah penyakit flu burung yang telah dilakukan serta diikuti

sistem pelaporan yang meliputi laporan situasi penyakit dan perkembangan

pelaksanaan pengendalian dan pemberantasan penyakit dan evaluasi dilakukan

untuk mengetahui pencapaian target kegiatan yang dilakukan dan dampak

keberhasilan maupun permasalahan yang timbul dilapangan (Sardjana, 2013).

2.3 Vaksinasi Avian Influenza

Menurut Asriati et al. (1999) vaksinasi merupakan proses memasukan

vaksin ke dalam tubuh dengan tujuan menggertak tubuh agar secara aktif

membentuk zat kebal. Vaksin AI yang digunakan adalah vaksin inaktif homolog

atau vaksin yang disiapkan dari autogenous yakni vaksin dengan subtipe virus yang

sama dengan virus penyebab penyakit untuk unggas yang akan dilindungi (Lee,

2004). Vaksin homolog inaktif pada umumnya digunakan untuk mengendalikan


26

wabah AI di Indonesia. Vaksin homolog ini mengandung virus mati dengan tipe

H5N1, yaitu tipe yang sama dengan tipe wabah AI di Indonesia (Sudarisman, 2006).

Menurut Balqis et al. (2011) vaksin homolog isolat lokal H5N1 memberikan hasil

rataan titer antibodi pada bulan ke-1, ke-2, dan ke-3 pascavaksinasi masing-masing

25,15, 25,65, dan 24,70. Vaksin homolog tersebut bersifat protektif karena

menghasilkan titer antibodi yang sudah mencapai 24.

Pada pengamatan di laboratorium dan lapangan, vaksin AI yang baik harus

memenuhi beberapa persyaratan yaitu: dapat melindungi terhadap timbulnya gejala

klinis dan kematian, mengurangi shedding virus lapangan jika unggas yang

divaksin terserang AI, dapat mencegah penularan kontak dengan virus lapangan,

memberikan paling sedikit 20 minggu proteksi sesudah vaksinasi tunggal atau

dengan ulangan, melindungi terhadap tantangan dosis rendah sampai tinggi dari

virus lapangan, melindungi terhadap adanya perubahan pada virus lapangan dan

meningkatkan daya tahan terhadap infeksi virus influenza (Sudarisman, 2006).

Program vaksinasi ayam AI pada ayam petelur: umur 29 hari diberikan 0,5

ml secara injeksi dibawah kulit pada pangkal leher, umur 15 minggu diberikan 0,5

ml dibawah kulit pada pangkal leher atau pada otot dada, dan umur 36 minggu 0,5

ml pada otot dada (Ardana, 2009; Deptan 2004). Program vaksinasi AI yang baik

harus memberikan tingkat keseragaman (coeffecient of variation) titer antibodi

yang baik. Menurut Sudarisman (2006), keseragaman sangat baik untuk CV kurang

dari 30%, sedang untuk CV antara 30 sampai 50%, kurang untuk CV di atas 50%.
27

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi antara lain:

1. Faktor Vaksin

Kekebalan vaksinasi tidak dapat terjadi bila ternyata galur

organisme antara vaksin dan penyebab penyakit tidak cocok. Kerusakan

vaksin bisa terjadi bila vaksin mengalami kerusakan, misalnya akibat

penanganan yang kurang benar seperti kesalahan dalam penyimpanan

dan perlakuan-perlakuan lain yang dapat merusak vaksin (Anon, 1982).

2. Faktor Hewan

Vaksinasi pada hewan yang masih memiliki kekebalan asal

vaksinasi sebelumnya atau kekebalan bawaan (maternal antibodi) yang

masih tinggi, tidak akan memberikan kekebalan yang sempurna karena

akan terjadi netralisasi vaksin. Selain itu vaksinasi pada hewan yang

terinfeksi parasit berat, stress, malnutrisi, sakit atau dalam masa inkubasi

penyakit, akan mengganggu respon imun. Bahkan vaksinasi akan

memicu terjadinya gejala klinis, yang memang sudah terserang

penyakit. Hewan yang memiliki gangguan pembentukan kekebalan

(immunosupressant) juga akan dapat menggagalkan vaksinasi.

Immuonosupressant dapat disebabkan karena secara genetis tidak

mampu membentuk kekebalan atau karena hewan sebenarnya mampu

membentuk kekebalan, tapi proses pembentukan kekebalan tertekan

(Anon, 1982).
28

3. Vaksinator

Adakalanya karena suatu sebab tertentu, vaksinator tidak

memberikan vaksin sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Sebagai

akibatnya, vaksin tidak mampu memberikan perlindungan yang optimal.

Bisa juga vaksin diberikan sesuai dosis yang dianjurkan, tetapi tidak

mencapai sasaran, misalnya pada pemberian vaksin dengan metode

aerosol atau melalui minuman/makanan (Anon, 1982).

2.4 Sistem Kekebalan pada Ayam

Ayam memiliki sistem kekebalan tubuh yang berperan melawan antigen

asing yang masuk dan menginfeksi tubuh. Sistem kekebalan ayam merupakan suatu

mekanisme yang digunakan dalam tubuh ayam sebagai perlindungan terhadap

bahaya yang ditimbulkan oleh pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Sistem

kekebalan ini bertugas melakukan pertahanan terhadap infeksi mikroorganisme

atau bahan organik berbahaya. Sistem kekebalan tubuh pada ayam berupa sistem

kekebalan non spesifik (alami) dan sistem kekebalan spesifik (adaptif). Mekanisme

kedua sistem kekebalan tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya,

keduanya saling meningkatkan efektifitasnya dan terjadi interaksi sehingga

menghasilkan suatu aktivitas biologik yang seirama dan serasi (Suryani, 2015).

Kekebalan imun non spesifik umumnya merupakan imunitas bawaan (Innate

Immunity) dalam arti bahwa respon terhadap zat asing dapat terjadi walaupun tubuh

sebelumnya tidak pernah terpapar oleh zat tersebut (Kresno, 2000). Respon imun

spesifik adalah respons imun dapatan (aquired) yang timbul terhadap antigen
29

tertentu sehingga dapat melindungi hewan terhadap agen infeksi yang sudah pernah

kontak sebelumnya (Bellanti, 1993).

Proses diperolehnya rangsangan kekebalan antara lain dapat berupa

kekebalan perolehan secara aktif ada pula yang secara pasif. Kekebalan secara pasif

dapat diperoleh dari induk yang dikenal dengan nama antibodi maternal. Sedangkan

kekebalan aktif dapat diperoleh akibat rangsangan agen baik karena infeksi maupun

melalui vaksinasi (Kresno, 2000). Infeksi oleh virus Avian Influenza dan imunisasi

dengan vaksin menimbulkan respon antibodi humoral pada kedua tingkat sistemik

dan mukosa. Kondisi ini termasuk respons imun IgM sistemik selama lima hari

pascavaksinasi, dilanjutkan dengan cepat oleh respon IgG (Swayne dan Halvorson,

2003).

Antigen yang mampu melewati sistem pertahanan non spesifik akan

bertemu dengan makrofag yang akan berfungsi sebagai Antigen Presenting Cells

(APC). Antigen Presenting Cells akan mempresentasikan antigen kepada limfosit

T melalui molekul Major Histocompatibility Complex (MHC). Sel T helper (Th)

mengenali antigen yang berikatan dengan MHC II. Sel T cytotoxic atau sel T

penghambat mengenali antigen yang berikatan dengan MHC I. Interaksi sel Th

dengan APC akan berperan dalam kekebalan humoral dengan menginduksi

keluarnya sitokin yang merupakan alat komunikasi antar sel. Kemampuan interaksi

ini akan menginduksi pematangan sel limfosit B menjadi sel plasma yang akan

menghasilkan antibodi (Suryani, 2015).

Antibodi terbentuk karena tersentifikasinya sel-sel limfosit. Pembentukan

immunoglobulin sebagai respons primer pada kontak yang pertama kalinya


30

meningkatkan pembentukan Immunoglobulin M (IgM) yang lebih cepat tetapi

bersifat sementara dibandingkan Immunoglobulin G (IgG). Akan tetapi respons

imun sekunder dimana individu bersangkutan sudah pernah terpapar antigen, akan

terjadi peningkatan IgG. Respon imun sekunder ditandai dengan terbentuknya

antibodi lebih cepat dan titer yang lebih tinggi serta bertahan lama. Hal ini

berhubungan dengan sel-sel yang yang telah tersensitisasi oleh antigen yang disebut

sel memori. Antibodi yang terbentuk akan berikatan dengan permukaan virus untuk

mencegah virus melekat dan masuk ke dalam sel inang dan fagositosis akan lebih

mudah dilakukan apabila virus diikat oleh antibodi (Bellanti, 1993).

2.5 Uji Hambatan Hemaglutinasi

Uji HI pertama kali diperkenalkan oleh Hirst pada tahun 1942 dan kemudian

dimodifikasi oleh Salk pada tahun 1944 menggunakan plate mikrotiter. Adanya

ikatan antara antibodi dan antigen menghalangi ikatan molekul HA virus dengan

reseptornya pada eritrosit. Ikatan itulah yang menghambat hemaglutinasi yang

kemudian dijadikan dasar dalam uji hambatan hemglutinasi (WHO, 2002). Uji HI

digunakan untuk mengidentifikasi virus dan dapat juga digunakan untuk

menentukan kekebalan hewan terhadap satu agen (virus) melalui pengukuran titer

antibodi spesifik dalam serum yang bersangkutan (Mahardika et al., 2015).

2.6 Kerangka Konsep

Kabupaten Tabanan merupakan daerah positif terjangkit flu burung. Dinas

Kesehatan Provinsi Bali sendiri telah menyatakan tiga kabupaten di Bali positif

tertular virus flu burung, salah satunya yaitu Kabupaten Tabanan (Cahyani dan

Duana, 2013). Kabupaten Tabanan sendiri menduduki peringkat teratas terjangkit


31

flu burung yaitu sebanyak 34 banjar di 29 desa (Lestari, 2009). Pada tahun 2012

ratusan ayam milik pengusaha ternak ayam mati mendadak di Kecamatan Penebel

dan Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Setelah dikonfirmasi melaui uji

laboratorium, spesimen positif terjangkit virus Avian Influenza tipe H5N1

(Karmiasih et al., 2014).

Salah satu upaya untuk menanggulangi penyakit Avian Influenza adalah

dengan melakukan vaksinasi. Pemberian vaksinasi terhadap unggas petelur akan

merangsang tubuh untuk menghasilkan kekebalan terhadap Avian Influenza.

Terdapatnya titer antibodi terhadap Avian influenza ini diharapkan dapat

melindungi unggas petelur apabila terdapat infeksi alami dari virus Avian Influenza.

Antibodi spesifik yang terbentuk akan dapat mengenali protein Hemaglutinin (HA)

dan Neuraminidase (NA) dari virus sehingga ketika terjadi paparan virus antibodi

ini akan segera mengikat protein tersebut dan virus tidak dapat berikatan dengan sel

tubuh hewan.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan vaksinasi antara

lain: faktor vaksin, faktor hewan dan vaksinatornya. Faktor vaksin meliputi: mutu

vaksin, dosis (virus content) vaksin, aplikasi vaksin dan faktor hewan meliputi:

maternal antibodi, kondisi kesehatan hewan, dan gangguan pembentukan

kekebalan. Sedangkan faktor vaksinatornya yaitu memiliki keterampilan dan waktu

vaksinasi (Anon, 1982). Sayangnya dikalangan peternak hal-hal tersebut masih

jarang diperhatikan sehingga banyak menyebabkan kegagalan vaksinasi. Hal

seperti ini akan dapat menghambat upaya pemberantasan penyakit Avian Infulenza

di Indonesia.
32

Dalam rangka menunjang program vaksinasi, dibutuhkan monitoring

terhadap titer antibodi ayam pascavaksinasi menggunakan perangkat uji serologi

hambatan hemaglutinasi (HI). Ayam yang mencapai titer 24 atau lebih pada titer

antibodinya dinyatakan protektif terhadap serangan Avian Influeza. Apabila serum

memiliki titer di bawah 24 maka serum tersebut dinyatakan tidak protektif terhadap

serangan Avian Influenza (OIE, 2000). Melihat potensi ternak unggas petelur di

Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan dan terdapatnya resiko tejadinya kejadian

penyakit flu burung di daerah tersebut, sangat penting untuk dilakukan kegiatan

monitoring titer antibodi terhadap Avian Influenza.

Vaksinasi AI

Faktor Eksternal Faktor Internal

 Mutu Vaksin  Antibodi Maternal


 Vaksinator  Imunosupressan
 Manajemen  Imnunodefisiensi
 Kualitas Pakan  Status Kesehatan

Titer
Antibodi

Protektif Non-
Protektif
Gambar 2.6 Kerangka Konsep Penelitian