Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

TRAUMA SERVICAL

Disusun Oleh :

MUHAMMAD BURHANUL FIRDAUS

209018000062

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

2019
A. Pengertian Trauma Servikal
Trauma servikal adalah suatu keadaan cedera pada tulang belakang servikal dan
medulla spinalis yang disebabkan oleh dislokasi, subluksasi, atau fraktur vertebra
servikalis dan ditandai dengan kompresi pada medula spinalis daerh servikal. Dislokasi
servikal adalah lepasnya salah satu struktur dari tulang servikal. Subluksasi servikal
merupakan kondisi sebagian dari tulang servikal lepas. Fraktur servikal adalah
terputusnya hubungan dari badan tulang vertebra servikalis (Muttaqin, 2011).

B. Etiologi
Cedera medulla spinalis servikal disebabkan oleh trauma langsung yang
mengenai tulang belakang di mana tulang tersebut melampaui kemampauan tulang
belakang dalam melindungi saraf-saraf belakangnya. Menurut Emma, (2011) Trauma
langsung tersebut dapat berupa :
1. Kecelakaan lalulintas
2. Kecelakaan olahraga
3. Kecelakaan industri
4. Jatuh dari pohon/bangunan
5. Luka tusuk
6. Luka tembak
7. Kejatuhan benda keras

C. Manifestasi Klinis
Menurut Hudak & Gallo, (2009) menifestasi klinis trauma servikal adalah
sebagai berikut :
1. Lesi C1-C4
Pada lesi C1-C4. Otot trapezius, sternomastoid dan otot plastisma masih berfungsi.
Otot diafragma dan otot interkostal mengalami partalisis dan tidak ada gerakan
(baik secara fisik maupun fungsional0 di bawah transeksi spinal tersebut.
Kehilangan sensori pada tingkat C1 malalui C3 meliputi daerah oksipital, telinga
dan beberapa daerah wajah. Kehilangan sensori diilustrasikan oleh diagfragma
dermatom tubuh.
Pasien dengan quadriplegia pada C1, C2, atau C3 membutuhkan perhatian penuh
karena ketergantungan pada semua aktivitas kebutuhan sehari-hari seperti makan,
mandi, dan berpakaian. quadriplegia pada C4 biasanya juga memerlukan ventilator
mekanis tetapi mengkn dapat dilepaskan dari ventilator secara. intermiten. pasien
biasnya tergantung pada orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
meskipun dia mungkin dapat makan sendiri dengan alat khsus.
2. Lesi C5
Bila segmen C5 medulla spinalis mengalami kerusakan, fungsi diafragma rusak
sekunder terhadap edema pascatrauma akut. paralisis intestinal dan dilatasi
lambung dapat disertai dengan depresi pernapasan. Ekstremitas atas mengalami
rotasi ke arah luar sebagai akibat kerusakan pada otot supraspinosus. Bahu dapat di
angkat karena tidak ada kerja penghambat levator skapula dan otot trapezius.
setelah fase akut, refleks di bawah lesi menjadi berlebihan. Sensasiada pada daerah
leher dan triagular anterior dari daerah lengan atas.
3. Lesi C6
pada lesi segen C6 disters pernafasan dapat terjadi karena paralisis intestinal dan
edema asenden dari medulla spinalis. Bahu biasanya naik, dengan lengan abduksi
dan lengan bawah fleksi. Ini karena aktivitasd tak terhambat dari deltoid, bisep dan
otot brakhioradialis.
4. Lesi C7
Lesi medulla pada tingkat C7 memungkinkan otot diafragma dan aksesori untuk
mengkompensasi otot abdomen dan interkostal. Ekstremitas atas mengambil posis
yang sama seperti pada lesi C6. Fleksi jari tangan biasnya berlebihan ketika kerja
refleks kembali.

Menurut Cowin, J Elizabeth (2011) menyampaikan manifestasi klinik pada fraktur


adalah sebagai berikut:
a. Nyeri
Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme
otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.
b. Bengkak/edama
Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada daerah
fraktur dan extravasi daerah di jaringan sekitarnya.
c. Memar/ekimosis
Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di jaringan
sekitarnya.
d. Spasme otot
Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar fraktur.
e. Penurunan sensasi
Terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema.
f. Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri atau spasme otot. paralysis
dapat terjadi karena kerusakan syaraf.
g. Mobilitas abnormal
Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya
tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang panjang.
h. Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian tulang digerakkan.
i. Deformitas
Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan
pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan
menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.
j. Shock hipovolemik
Shock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat.

D. Komplikasi
Menurut Emma, (2011) komplikasi pada trauma servikal adalah :
a) Syok neurogenik
Syok neurogenik merupakan hasil dari kerusakan jalur simpatik yang desending
pada medulla spinalis. Kondisi ini mengakibatkan kehilangan tonus vasomotor dan
kehilangan persarafan simpatis pada jantung sehingga menyebabkan vasodilatasi
pembuluh darah visceral serta ekstremitas bawah maka terjadi penumpukan darah
dan konsekuensinya terjadi hipotensi.
b) Syok spinal
Syok spinal adalah keadaan flasid dan hilangnya refleks, terlihat setelah terjadinya
cedera medulla spinalis. Pada syok spinal mungkin akan tampak seperti lesi komplit
walaupun tidak seluruh bagian rusak.
c) Hipoventilasi
Hal ini disebabkan karena paralisis otot interkostal yang merupakan hasil dari
cedera yang mengenai medulla spinalis bagian di daerah servikal bawah atau torakal
atas.
d) Hiperfleksia autonomic
Dikarakteristikkan oleh sakit kepala berdenyut, keringat banyak, kongesti nasal,
bradikardi dan hipertensi.
E. Patofisiologi
Kolumna vertebralis normal dapat menahan tekanan yang berat dan
mempertahankan integritasnya tampa mengalami kerusakan pada medula spinalis.
Akan tetapi, beberapa mekanisme trauma tertentu dapat merusak sistem pertahanan ini
dan mengakibatkan kerusakan pada kolumna vertebralis dan medula spinalis. Pada
daerah kolumna servikal, kemungkinan terjadinya cedera medula spinalis adalah 40%.
Trauma servikal dapat ditandai dengan kerusakan kolumna vertebralis (fraktur,
dislokasi, dan subluksasi), kompresi diskus, robeknya ligamen servikal, dan kompresi
radiks saraf pada setiap sisinya yang dapat menekan spinal dan menyebabkan kompresi
radiks dan distribusi saraf sesuai segmen dari tulang belakang servikal (Price, 2009).
Pada cidera hiperekstensi servikal, pukulan pada wajah atau dahi akan memaksa
kepala kebelakang dan tidak ada yang menyangga oksiput dan diskus dapat rusak atau
arkus saraf mengalami kerusakan. Pada cidera yang stabil dan merupakan tipe frakutur
vertebra yang paling sering di temukan. Jika ligamen posterior robek, cedera, bersifat
tidak stabil dan badan vertebra bagian atas dapat miring ke depan di atas badan vertebra
di bawahnya. Trauma servikal dapat menyebabkan cedera yang komponen vertebranya
tidak akan tergeser oleh gerakan normal sehingga sumsum tulang tidak rusak dan resiko
biasanya lebih rendah (Muttaqin, 2011).
Cedera yang tidak stabil adalah cedera yang dapat mengalami pergeseran lebih
jauh dan perubahan strukturoseoligamentosa posterior (pedikulis, sendi permukaan,
arkus tulang posterior, ligamen interspinosa, dan supraspinosa), komponen pertengahan
(sepertiga bagian posterior badan vertebra, bagian posterior diskus intervertebra, dan
ligamen longitudinal posterior), dan kolumna anterior (duapertiga bagian anterior
korpus vertebra, bagian anterior diskus intervertebra dan ligamen longitudinal anterior)
(Muttaqin, 2011).
Cedera spinal tidak stabil menyebabkan resiko tinggi cedera pada korda
sehingga menimbulkan masalah aktual atau resiko ketidakefektifan pola napas dan
penurunan curah jantung akibat kehilangnya kontrol organ viseral. Kompresi saraf dan
spasme otot servikal memberikan stimulasi nyeri. Kompresi diskus menyebabkan
paralisis dan respons sistemik dengan munculnya keluhan mobilisasi fisik, gangguan
defekasi akibat penurunan peristaltik usus, dan ketidak seimbangan nutrisi
Tindakan dekompresi dan stabilitas pada pascabedah akan menimbulkanport de
entree luka pascabedah yang menyebabkan masalah resiko tinggi infeksi. Selain itu,
tindakan tersebut dapat menyebabkan kerusakan neuromuskular, yang menimbulkan
resiko trauma sekunder akibat ketidaktahuan tentang teknik mobilisasi yang tepat.
Kondisi psikologis karena prognosis penyakit menimbulkan respons anastesi.
Manipulasi yang tidak tepat akan menimbulkan keluhan nyeri dan hambatan mobilitas
fisik (Muttaqin, 2011).

F. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Doenges, (2000) ada pun pemeriksaan penunjang trauma servikal yaitu:
1) Sinar X spinal
Menentukan loksi dan jenis cedera tulang (fraktur, disloksi) untuk kesejajaran,
reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi.
2) CT scan
Menentukan tempat luka/jejas, mengevaluasi gangguan struktural.
3) MRI
Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi.
4) Mielografi
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor patologisnya
tidak jelas atau di curigai adanya oklusi pada ruang subarakhnoid medulla spinalis.
5) Foto rontgen torak
Memperlihatkan keadaan paru (contohnya: perubahan pada diagfragma,
anterlektasis)
6) GDA
Menunjukkan keefektifan pertukaran gas atau upaya ventilasi.

G. Penatalaksanaan
MenurutENA, (2000) penatalaksanaan pada pasien truama servikal yaitu :
1. Mempertahankan ABC (Airway, Breathing, Circulation)
2. Mengatur posisi kepala dan leher untuk mendukung airway : headtil, chin lip, jaw
thrust. Jangan memutar atau menarik leher ke belakang (hiperekstensi),
mempertimbangkan pemasangan intubasi nasofaring.
3. Stabilisasi tulang servikal dengan manual support, gunakan servikal collar,
imobilisasi lateral kepala, meletakkan papan di bawah tulang belakang.
4. Stabililisasi tulang servikal sampai ada hasil pemeriksaan rontgen (C1 - C7) dengan
menggunakan collar (mencegah hiperekstensi, fleksi dan rotasi), member lipatan
selimut di bawah pelvis kemudian mengikatnya.
5. Menyediakan oksigen tambahan.
6. Memonitor tanda-tanda vital meliputi RR, AGD (PaCO2), dan pulse oksimetri.
7. Menyediakan ventilasi mekanik jika diperlukan.
8. Memonitor tingkat kesadaran dan output urin untuk menentukan pengaruh dari
hipotensi dan bradikardi.
9. Meningkatkan aliran balik vena ke jantung.
10. Berikan antiemboli
11. Tinggikan ekstremitas bawah
12. Gunakan baju antisyok.
13. Meningkatkan tekanan darah
14. Monitor volume infus.
15. Berikan terapi farmakologi ( vasokontriksi)
16. Berikan atropine sebagai indikasi untuk meningkatkan denyut nadi jika terjadi
gejala bradikardi.
17. Mengetur suhu ruangan untuk menurunkan keparahan dari poikilothermy.
18. Memepersiapkan pasien untuk reposisi spina.
19. Memberikan obat-obatan untuk menjaga, melindungi dan memulihkan spinal cord
: steroid dengan dosis tinggi diberikan dalam periode lebih dari 24 jam, dimulai dari
8 jam setelah kejadian.
a. Memantau status neurologi pasien untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien.
b. Memasang NGT untuk mencegah distensi lambung dan kemungkinan aspirasi
jika ada indikasi.
c. Memasang kateter urin untuk pengosongan kandung kemih.
d. Mengubah posisi pasien untuk menghindari terjadinya dekubitus.
e. Memepersiapkan pasien ke pusat SCI (jika diperlukan).
f. Mengupayakan pemenuhan kebutuhan pasien yang teridentifikasi secara
konsisten untuk menumbuhkan kepercayaan pasien pada tenaga kesehatan.
g. Melibatkan orang terdekat untuk mendukung proses penyembuhan.

H. Asuhan Keperawatan
a) Pengkajian
Data Subyektif
1) Riwayat Penyakit Sekarang
a. Mekanisme Cedera
b. Kemampuan Neurologi
c. Status Neurologi
d. Kestabilan Bergerak
2) Riwayat Kesehatan Masa Lalu
a. Keadaan Jantung dan pernapasan
b. Penyakit Kronis
Data Obyektif
1. Airway
Adanya desakan otot diafragma dan interkosta akibat cedera spinal sehingga
mengganggu jalan napas
2. Breathing
Pernapasa dangkal, penggunaan otot-otot pernapasan, pergerakan dinding dada.
3. Circulation
Hipotensi (biasanya sistole kurang dari 90 mmHg), Bradikardi, Kulit teraba
hangat dan kering, Poikilotermi (Ketidakmampuan mengatur suhu tubuh, yang
mana suhu tubuh bergantung pada suhu lingkungan)
4. Disability
Kaji Kehilangan sebagian atau keseluruhan kemampuan bergerak, kehilangan
sensasi, kelemahan otot.
5. Exposure
Adanya deformitas tulang belakang

Pengkajian Sekunder
1. Five Intervensi
Hasil AGD menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi, CT
Scan untuk menentukan tempat luka atau jejas, MRI untuk mengidentifikasi
kerusakan saraf spinal, foto Rongen Thorak untuk mengetahui keadaan paru,
sinar – X Spinal untuk menentukan lokasi dan jenis cedera tulang
(Fraktur/Dislokasi)
2. Give Comfort
Kaji adanya nyeri ketika tulang belakang bergerak
3. Head to Toe
a. Leher :Terjadinya perubahan bentuk tulang servikal akibat cedera
b. Dada :Pernapasa dangkal, penggunaan otot-otot pernapasan,
pergerakan dinding dada, bradikardi, adanya desakan otot diafragma dan
interkosta akibat cedera spinal
c. Pelvis dan Perineum :Kehilangan control dalam eliminasi urin dan
feses, terjadinya gangguan pada ereksi penis (priapism)
d. Ekstrimitas : terjadi paralisis, paraparesis, paraplegia atau
quadriparesis/quadriplegia
e. Inspeksi Back / Posterior Surface
f. Kaji adanya spasme otot, kekakuan, dan deformitas pada tulang belakang.
b) Diagnosa
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi ditandai dengan
dispnea,terdapat otot bantu napas.
2. Perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan penyumbatan aliran
darah.
3. Nyeri akut berhubungan dengan gangguan neurologis.
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuscular
ditandai dengan paralisis dan paraplegia pada ekstremitas.
5. Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan kerusakan sensori motorik
ditandai dengan kehilangan kontrol dalam eliminasi urine.
6. Risiko decera berhubungan dengan penurunan kesaradaran.

c) Intervensi
NO DIAGNOSA TUJUAN/KRITERIA INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN HASIL

1. Pola napas tidak Setelah diberikan 1.Pantau ketat 1.Perubahan pola


tindakan keperawatan tanda-tanda vital
efektif berhubungan selama 2x15 menit, nafas dapat
dan pertahankan
dengan diharapkan pola napas ABC. mempengaruhi
hiperventilasi pasien efektif dengan tanda-tanda vital
kriteria hasil: 2.Monitor usaha
ditandai dengan
pernapasan 2.Pengembangan
dispnea,terdapat a.Pasien melaporkan
pengembangan dada dan
otot bantu napas. sesak napas berkurang
dada, keteraturan
penggunaan otot
b.Pernapasan teratur pernapasan nafas
bibir dan bantu
c.Takipnea tidak ada penggunaan otot pernapasan
d.Pengembangan dada bantu pernapasan. mengindikasikan
simetris antara kanan 3.Berikan posisi gangguan pola
dan kiri semifowler jika nafas.
e.Tanda vital dalam tidak ada kontra
indiksi. 3.Mempermudah
batas normal (nadi 60-
100x/menit, RR 16-20 ekspansi paru.
4.Gunakan servikal
x/menit, tekanan darah collar, imobilisasi 4.Stabilisasi
110-140/60-90 mmHg, lateral kepala,
suhu 36,5-37,5 oC) tulang servikal.
meletakkan papan
f.Tidak ada di bawah tulang 5.Oksigen yang
penggunaan otot bantu belakang. adekuat dapat
napas. 5.Berikan oksigen menghindari
sesuai indikasi resiko kerusakan
jaringan

2. Perfusi jaringan Setelah dilakukan 1.Atur posisi kepala 1.Untuk


tindakan keperawatan dan leher untuk
perifer tidak efektif selama 3x5 menit mempertahankan
mendukung airway
berhubungan diharapkan perfusi (jaw thrust). Jangan ABC dan
dengan jaringan adekuat. memutar atau mencegah terjadi
penyumbatan aliran Kriteria hasil : menarik leher ke obstruksi jalan
darah belakang napas
a.Nadi teraba kuat (hiperekstensi),
b.Tingkat kesadaran mempertimbangkan 2.Meningkatkan
composmentis pemasangan aliran balik vena
intubasi nasofaring.
c.Sianosis atau pucat ke jantung
tidak ada
d.Nadi Teraba lemah, 2.Tinggikan 3.Stabilisasi
terdapat sianosis, ekstremitas bawah.
tulang servikal
e.Akral teraba hangat 3.Gunakan servikal
collar, imobilisasi 4.Mencukupi
f.CRT < 2 detik kebutuhan
lateral kepala,
g.GCS 13-15 meletakkan papan oksigen tubuh
di bawah tulang dan oksigen juga
h.AGD normal belakang.
dapat
4.Sediakan oksigen menurunkan
dengan nasal canul terjadinya
untuk mengatasi
sickling
hipoksia
5.Ukur tanda-tanda 5.Perubahan
vital. tanda-tanda vital
seperti
6.Awasi
pemeriksaan AGD bradikardi akibat
dari kompensasi
jantung terhadap
penurunan
fungsi
hemoglobin

6.Penurunan
perfusi jaringan
dapat
menimbulkan
infark terhadap
organ jaringan

3. Nyeri akut Setelah dilakukan 1.Kaji PQRST 1.Pengkajian


tindakan keperawatan pasien.
berhubungan selama 3 x 15 menit yang tepat dapat
dengan gangguan diharapkan nyeri pasien 2.Pantau tanda- membantu dalam
neurologis. dapat berkurang tanda vital memberikan
dengan kriteria hasil :
3.Berikan analgesic intervensi yang
a.Tanda-tanda vital untuk menurunkan tepat.
dalam batas normal nyeri.
(Nadi 60-100 2.Nyeri bersifat
4.Gunakan servikal
x/menit),(Suhu 36,5- proinflamasi
collar, imobilisasi
37,5),( Tekanan Darah sehingga dapat
lateral kepala,
110-140/60-90
meletakkan papan mempengaruhi
tanda-tanda vital.
mmHg),(RR 16-20 di bawah tulang 3.Analgetik
x/menit) belakang.
dapat
b.Penurunan skala mengurangi
nyeri( skala 0-10) nyeri yang berat
c.Wajah pasien tampak (memberikan
tidak meringis kenyamanan
pada pasien)

4.Stabilisasi
tulang belakang
untuk
mengurangi
nyeri yang
timbul jika
tulang belakang
digerakkan

I. Pathway
Cedera Fleksi Cedera Fleksi Rotasi Cedera Ekstensi Cedera kompresi

Fraktur Servikal

C1 – C2 C3 – C5 C4 – C7 C5 – C7

Kerusakan Kerusakan Kerusakan Kerusakan Pengaruh pada otot


fungsi atlanto- batang otak nervus frenikus tulang servikal napas (interkosta,
DAFTAR PUSTAKA

Cowin, J Elizabeth. 2011. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta: EGC

Emma. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Ganggaun Persyarafan. Jakarta: Salemba
Medika

Hudak, Gallo. 2009. Keperawatan Kritis Holistik Edisi VI. Jakarta: EGC

Ivones, J Hidayat.2011. Buku Ajar Orthopedi dan fraktur. Jakarta: Widya Medika

Keliat, Budi Anna, dkk . 2015. Diagnosis Keperawaan Definisi dan Klasifikasi 2015-2017.
Jakarta: EGC

Muttaqin, Arif. 2013. Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal: Aplikasi pada Praktik Klini
Keperawaatan. Jakarta: EGC

Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2015). NANDA International INc. Diagnosis Keperawatan
: Definisi & Klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.

13