Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Parasitologi adalah ilmu yang mempelajari mahluk hidup yang hidup pada

makhluk hidup lain baik di dalam maupun diluar/permukaan tubuh, bersifat

sementara atau tetap, dengan tujuan mengambil makanan baik sebagian ataupun

seluruhnya dari mahluk hidup yang ditumpanginya itu/simbiosis parasitisme.

Salah satu contoh yang termasuk dalam simbiosis parasitisme adalah cacing pada

tubuh manusia (Margono, S, 2008).

Cacing merupakan salah satu parasit yang menghinggapi manusia. Penyakit

infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tetap ada dan masih tinggi

prevalensinya, terutama di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. Hal ini

merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih perlu ditangani. Penyakit

infeksi yang disebabkan cacing itu dapat di karenakan di daerah tropis khususnya

Indonesia berada dalam posisi geografis dengan temperatur serta kelembaban

yang cocok untuk berkembangnya cacing dengan baik (Margono, S, 2008).

Dalam membahas parasitologi sebagai mata kuliah diperguruan tinggi maka

ruang lingkup dari parasitologi adalah mempelajari tentang dasar, sejarah,

taksnomi makhluk hidup penyebab penyakit (bakteri, virus, protozoa, helminth,

antropoda), gejala klinis diagnosis, pencegahan dan pengobatanya (Prianto, L.A.

1999).

1
Mahluk hidup di alam ini tidak mungkin hidup sendiri tetapi selalu terjadi

hubungan/interaksi dengan mahluk hidup lain, interaksi itu (disebut simbiosis).

Dari simbiosis ini dapat menimbulkan berbagai efek baik menguntungkan

maupun merugikan (Prianto, L.A. 1999).

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari percobaan ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan nematode usus?
2. Bagaimana cara pemeriksaan nematode usus dengan menggunakan metode

baermann ?
1.3 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan nematoda usus.
2. Untuk mengetahui cara pemeriksaan nematode usus dengan menggunakan

metode baermann.
1.4 Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari percobaan ini yaitu:
1. Agar mahasiswa mengetahui apa yang dimaksud dengan nematoda usus.
2. Agar mahasiswa mengetahui cara pemeriksaan nematode usus dengan

menggunakan metode baermann.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinja (faeces)

Tinja adalah bahan buangan yang dikeluarkan dari tubuh manusia melalui

anus sebagai sisa dari proses pencernaan makanan di sepanjang sistem saluran

pencernaan (tranctus digestifus). Pengertian tinja mencakup juga air seni (urine)

2
yang dikeluarkan dari tubuh manusia melalui sistem urogenitalis. Komposisi

tinja tanpa air seni terdiri dari air sebanyak 66%-80%, bahan organik tinja

sebanyak 88%-97%, Nitrogen sebanyak 5,7%-7,0%, Fosfor (sebagai P2O5)

sebanyak 3,5%-5,4%, Potasium (sebagai K2O) sebanyak 1,0%-2,5%, Karbon

sebanyak 40%-55%, dan Kalsium (sebagai CaO) sebanyak sebanyak 4%-5%

(Kadarsan, 2005).

2.2 Nematoda Usus

Nematoda adalah cacing yang bentuknya panjang, silindrik tidak beragam

dan tubuhnya bilateral. Nematoda pada manusia digolongkan menjadi dua tempat

hidupnya yaitu Nematoda usus dan Nematoda jaringan. Nematoda usus yang

ditemukan pada manusia adalah Ascaris lumbricoides, Trichuria Trhiciura,

Stonglyoides stercoralis, anclystostoma duadenale, necator americanus,

taxocara cati dan lain-lain (Kadarsan, 2005).

Umumnya manusia merupakan hospes definitif. Tiap spesies nematoda

usus memiliki morfologi yang berbeda-beda. Cacing betina ukurannya lebih

besar daripada jantan. Tiap larva spesies nematoda usus berada di dalam sirkulasi

darah (siklus paru), kecuali Trichuris trichiura. Gejala klinis dipengaruhi oleh

tingkat infeksi (jumlah cacing), jenis parasit, stadium parasit (larva/dewasa),

lokalisasi parasit dan lamanya kasus infeksi. Diagnosis penyakit ditegakkan

dengan menemukan telur dalam fese, bilasan duodenum, larva dalam jaringan

melalui teknik jaringan tekan atau diwarnai, uji intradermal, uji serologis

(Kadarsan, 2005).

3
Pengobatan penyakit harus disertai dengan upaya peningkatan hygiene

dan sanitasi. Infeksi ummnya melalui media tanah yang terkontaminasi feses

yang mengandung telur cacing, misalnya askariasis, trikuriasis, dan cacing

tambang. Dalam siklus hidupnya, cacing nematoda usus membutuhkan kondisi

lingkungan yang mempunyai temperatur dan kelembapan yang sesuai.

Lingkungan yang dibutuhkan Ascaris lumbricoides sama dengan Trichuria

Trichiura, dan cacing tambang sama dengan Strongyloides stercoralis (Kadarsan,

2005).

Upaya pencegahan dengan melakukan pengobatan secara individu atau

massal, menghindari kontak debu, tidak defekasi di sembarangan tempat,

memasak sayuran hingga matang, memakai alas kaki, menghindari kontak atau

berdekatan dengan anjing dan kucing (Kadarsan, 2005).

2.3 Pemeriksaan Feses

Pada pemeriksaan mikrosskopi usaha mencari protozoa dan telur cacing

merupakan maksud terpenting. Untuk mencari protozoa sering dipakai larutan

eosin 1-2% sebagai bahan pengencer tinja atau juga larutan lugol 1-2%. Selain

itu larutan asam asetet 10% dipakai untuk melihat leukosit lebih jelas, sedangkan

untuk meliha unsur-unsur lain larutan garam 0,9% yang sebaiknya dipakai untuk

pemeriksaan rutin (Gandosoebrata, 1999).

Sediaan hendaknya tipis, agar unsur-unsur jelas terlihat dan dapat dikenal

meskipun begitu, selalu akan dijumpai unsur-unsur yang telah rusak sehingga

identifikasi tidak mungkin lagi. Pemeriksaan pada feses terdiri atas dua, yaitu

4
pemeriksaan lengkap dan pemeriksaan kultur (pembiakan). Pemeriksaan feses

lengkap merupakan pemeriksaan feses yang terdiri atas pemeriksaan warna, bau,

konsistensi, lendir, darah dan lain-lain, sedangkan pemeriksaan feses kultur

merupakan pemeriksaan feses melalui biakan dengan cara toucher (lihat prosedur

pengambilan feses melalui tangan) (Gandosoebrata, 1999).

2.4 Macam-Macam Nematoda Usus


1. Cacing Gelang (Ascaris Lumbricoides)

Gambar 2.4.1 Ascaris Lumbricoides

Cacing gelang (Ascaris Lumbricoides) adalah cacing yang paling

umum menginfeksi manusia. Cacing gelang dewasa berukuran 10-30 cm

dengan tebal sebesar pensil dan dapat hidup hingga 1 sampai 2 tahun

(Gandahusada, 2000).

1. Morfologi dan Daur Hidup

Cacing jantan berukuran 10-30 cm, sedangkan yang betina 22-35

cm. Stadium dewasa hidup di rongga usus muda. Seekor cacing betina

dapat bertelur sebanyak 100.000-200.000 butir sehari; terdiri dari telur

yang dibuahi dan yang tidak dibuahi.

5
Telur yang dibuahi, besarnya kurang lebih 60 x 45 mikron dan

yang tidak dibuahi 90 x 40 mikron. Dalam lingkungan yang sesuai, telur

yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang

lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini, bila tertelan oleh manusia, menetas di

usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh

darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti

aliran darah ke paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah,

lalu dinding alveolus, masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trakea

melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva ini menuju ke faring,

sehingga menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena

rangsangan ini dan larva akan tertelan ke dalam esofagus, lalu menuju ke

usus halus. Di usus halus larva berubah menjadi cacing dewasa. Sejak

telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperlukan waktu

kurang lebih 2 bulan (Gandahusada, 2000).

2. Cacing Tambang (Necator Americanus dan Ancylostoma Duodenale)

Gambar 2.4.2 Necator Americanus dan Ancylostoma Duodenale


Necator Americanus dan Ancylostoma Duodenale adalah salah satu

spesies cacing tambang pada manusia. Penyakit yang ditimbulkan oleh

6
Necator Americanus disebut nekatoriasis. Bentuk cacing betina menyerupai

huruf S. Jumlah telur yang dihasilkan seekor cacing betina 9000-10.000 per

hari. Sedangkan Ancylostoma Duodenale penyakit yang ditimbulkan disebut

ankilostomiasis. Jumlah telur yang dihasilkan cacing betina 10.000-20.000 per

hari (Muniroh, dkk, 2016).


1. Morfologi dan daur hidup
A.braziliense mempunyai dua pasang gigi yang tidak sama besarnya.

Cacing jantan panjangnya antara 4,7 - 6,3 mm, yang betina antara 6,1 – 8,4

mm. A.caninum mempunyai tiga pasang gigi;cacing jantan panjangnya

kira-kira 10 mm dan cacing betina kira-kira 14 mm (Gandahusada, 2000).

3. Trichuris Trichiura

Gambar 2.4.3 Trichuris Trichiura

Habitat cacing ini di dalam usus besar terutama sekum, dapat pula

pada kolon dan apendiks. Manusia merupakan hospes definitive dan tidak

membutuhkan hospes perantara. Cacing dewasa menyerupai cambung

sehingga disebut cacing cambuk. Manusia mengalami infeksi jika telur

7
infektif tertelan. Waktu yang diperlukan sejak telur infektif tertelan sampai

cacing betina menghasilkan telur adalah 30-90 hari. Dalam sehari cacing

betina menghasilkan 3000-4000 telur. Telur ini terapung dalam larutan garam

jenuh. Penyakit yang ditimbulkannya disebut trikuriasis (Gandahusada, 2000).

1. Morfologi dan daur hidup

Cacing betina panjangnya kira-kira 5 cm, sedangkan cacing jantan

kira-kira 4 cm. Bagian anterior langsing seperti cambuk, panjangnya kira-

kira 3/5 dari panjang seluruh tubuh. Bagian posterior bentuknya lebih

gemuk, dari pada cacing betina bentuknya membulat tumpul dan pada

cacing jantan melingkar dan terdapat satu spikulum. (Gandahusada, 2003).

Telur berukuran 50 -54 mikron x 32 mikron, berbentuk seperti

tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub.

Kulit telur bagian luar berwarna kekuning-kuningan dan bagian dalamnya

jernih. Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja. Masa

pertmbuhan mulai dari telur yang tertelan sampai cacing dewasa betina

meletakkan telur kira-kira 30 – 90 hari (Gandahusada, 2000).

4. Strongyloides Stercoralis

Gambar 2.4.4 Strongyloides Stercoralis

8
Strongyloides Stercoralis menyebabkan penyakit strongiloidiasis.

Diagnosis ditegakkan dengan menemukan larva rabditifom di dalam tinja

segar atau pada cairan duodenum. Telur dapat ditemukan di dalam tinja

setelah pemberian pencahar atau setelah diare berat. Dalam siklus hidupnya

ada dua macam kehidupan cacing, yaitu hidup bebas di tanah dan hidup

sebagai parasite (Gandahusada, 2000).


1. Morfologi dan daur hidup
Hanya diketahui cacing dewasa betina yang hidup sebagai parasite

di vilus duodenum dan yeyunum. Cacing betina berbentuk filiform, halus,

tidak berwarna dan panjangnya kira-kira 2 mm.


Cara berkembang biaknya diduga secara parthenogenesis. Telur

berbentuk parasitic diletakkan di mukosa usus, kemudian telur tersebut

menetas menjadi larva rabditiform yang masuk ke rongga usus serta

dikeluarkan bersama tinja. Parasit ini mempunyai tiga macam daur hidup

(Gandahusada, 2000).
5. Enterobius Vermicularis

Gambar 2.4.5 Enterobius Vermicularis


Merupakan nematode usus, siklus hidupnya tidak membutuhkan tanah

dan disebut nematode non-soil transmitted, disebut juga cacing kremi,

pinworm, seatworm, atau threatworm. Seekor cacing betina dapat

9
menhasilkan 11.000 telut sehari. Cacing jantan mati setelah kopulasi,

sedangkan cacing betina akan terus melanjutkan siklusnya. Cacing betina

yang hamil dan akan bertelur, pada malam hari bermigrasi menuju anus.

Karena suhu diluar lebih rendah, uterus dan vagina cacing akan berkontraksi,

telur keluar berkelompok di daerah perianal dan perineum. Cacing betina akan

mati setelah bertelur. Penyakit yang disebabkannya disebut enterobiasis atau

infeksi cacing kremi (Gandahusada, 2000).

2.6 Prinsip Percobaan

Pada metode ini dipakai larutan NaCl jenuh atau larutan gula jenuh da

terutama dipakai untuk pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur. Cara

kerjanya berdasarkan atas berat jenis (BJ) telur yang lebih ringan dari pada BJ

larutan yang digunakan, sehingga telur-telur terapung di permukaan dan juga

untuk memisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat pada tinja.

Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur-telur Nematoda, Schistosoma, telur

yang berpori-pori famili Tainidae, telur-telur Acanthocephala ataupun telur

Ascaris yang infertil (Hartati, 2012).

2.7 Metode Pemeriksaan


Menurut Muniroh dkk, 2016, metode pemeriksaan feses terbagi menjadi:
1. Pemeriksaan secara Kualitatif
a. Metode Natif (Direct slide)
Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik

untuk infeksi berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-

telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis

(0,9%) atau eosin.

10
b. Metode Apung (Flotation method)

Metode ini digunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau

larutan gula jenuh yang didasarkan atas BD (Berat Jenis) telur sehingga

telur akan mengapung dan mudah diamati. Metode ini digunakan untuk

pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur. Cara kerjanya

didasarkan atas berat jenis larutan yang digunakan, sehingga telur-telur

terapung dipermukaan dan juga untuk memisahkan partikel-partikel yang

besar yang terdapat dalam tinja.

c. Metode Harada Mori

Metode ini digunakan untuk menentukan dan mengidentifikasi

larva cacing Ancylostoma Duodenale, Necator Americanus, Srongyloides

Stercolaris dan Trichostronngilus yang didapatkan dari feses yang

diperiksa. Teknik ini memungkinkan telur cacing dapat berkembang

menjadi larva infektif pada kertas saring basah selama kurang lebih 7

hari, kemudian larva ini akan ditemukan didalam air yang terdapat pada

ujung kantong plastik.

d. Metode Selotip
Metode ini digunakan untuk mengetahui adanya telur cacing

Enterobius vermicularis pada anak yang berumur 1 – 10 tahun.

11
2. Pemeriksaan secara Kuantitatif
a. Metode Kato

Teknik sediaan tebal (cellaphane covered thick smear tecnique)

atau disebut teknik Kato. Pengganti kaca tutup seperti teknik digunakan

sepotong “cellahane tape”. Teknik ini lebih banyak telur cacing dapat

diperiksa sebab digunakan lebih banyak tinja (Irianto, 2013)

2.8 Penularan Penyakit Parasit

Cara penularan (taransmisi) Nematoda dapat terjadi secara langsung dan

tidak langsung Cara penularan (taransmisi) Nematoda dapat terjadi secara

langsung dan tidak langsung.

1. Kontak langsung adalah penularan yang terjadi karena adanya kontak fisik

antara dua individu atau lebih. Misalnya penularan kutu, tungau


2. Kontak tidak langsung adalah penularan yang terjadi bukan karena

terjadinya kontak fisik antara individu, tetapi sarana lain seperti bahan yang

tercemar oleh parasit atau parasit sendiri yang aktif mencari hospes.

Mekanisme penularan berkaitan dengan erat dengan hygiene dan sanitasi

lingkungan yang buruk. Menurut penularan dapat terjadi dengan:

1. Menelan telur infektif (telur berisi embrio)


2. Larva (filariorm) menembus kulit
3. Memakan larva dalam kista
4. Perantara hewan vector

Dewasa itu cara penularan Nematoda yang paling banyak adalah melalui

aspek Soil Trasmitted Helminth yaitu penularan melalui media tanah (Hartati,

2012).

12
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan Waktu

13
Pelaksanaan praktikum Parasitologi I dilaksanakan pada hari Kamis, 25

April 2019. Tempat pelaksanaan praktikum tentang Pemeriksaan Nematoda Usus

Modifikasi harada mori dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Sekolah

Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bina Mandiri Gorontalo.

3.2 Pra analitik

3.2.1 Pada praktikum parasitology alat yang digunakan yaitu :


1. Mikroskop Cahaya
2. Selang karet
3. Saringan kawat
4. karton
5. Corong gelas
6. Kaca Objek Yang Bersih,
7. klem
8. Beker Glass
9. Cawan petri

3.2.2 Bahan yang digunakan yaitu :

1. Pasir steril
2. Tinja
3. Aquades.
3.3 Analitik
1. Tinja dikumpulkan dan dicampurkan denga pasir steril, dimasukan ke dalam

Cawan petri dengan alas dari kain, kemudian diberi air sedikit dan ditaruh di

dalam suatu ruangan beberapa hari sampai telur menetas ( untuk

Achilostoma dan Necator kurang lebih 5-7 hari)


2. Kemidian campurkan tinja dan pasir steril tersebut dengan alasnnya dari kain

ditaruh kedalam corong gelas yang di atasnya sudah diberi saringan kawat.
3. Pasir disaring untuk mengeluarkanlarva dari telur dengan dituangi air hangat

sampai bagian bawah tinja dan pasir steril tersebut bersentuhan dengan

permukaan air.

14
4. Setelah 1-2 jam, klem dibuka dengan hati-hati, satu atau dua tetes airnya

ditaruh pada cawan gelas objek ( atau cawan petri ) untuk diperiksa di bawah

mikroskop. Untuk meyakinkan hasilnya, diambil lagi tetes kedua dan

diperiksa lagi. Selama pemeriksaan ini kita harus berhati-hati jangan sampai

mengenai kulit kita.


3.4 Pasca Analitik
Pada praktikum pemeriksaan nematode usus dengan menggunakan

sampel dari tinja sapi ditemukan adanya larva pada tinja sapi tersebut.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Adapun hasil dari praktikum adalah sebagai berikut :

No. NAMA Gambar Keterangan


1. Tinja Sapi 1. Jenis Telur

cacing Ascaris

Lumbricoides

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan

15
4.2 Pembahasan
Nematoda adalah cacing yang bentuknya panjang, silindrik tidak beragam dan

tubuhnya bilateral. Nematoda pada manusia digolongkan menjadi dua tempat

hidupnya yaitu Nematoda usus dan Nematoda jaringan. Nematoda usus yang

ditemukan pada manusia adalah Ascaris lumbricoides, Trichuria Trhiciura,

Stonglyoides stercoralis, anclystostoma duadenale, necator americanus, taxocara

cati dan lain-lain.


Dalam praktikum nematoda usus metode bermann yang pertama dilakukan

adalah tinja dikumpulkan dan dicampur dengan pasir steril, dimasukan kedalam

cawan petri dengan alas dari kain, kemudian diberi sedikit air dan ditaruh didalam

suatu ruangan beberapa hari sampai telur menetas ( untuk ancylostoma dan

necator 5 -7 hari).
Kemudian campurkan tinja dan pasir steril tersebut dengan atasnya darikain

ditaruh kedalam corong gelas yang diatasnya sudah diberi saringan kawat. Pasir

disaring untuk mengeluarkan larva daritelur dengan dituangi airhangat

sampaibagian bawah tinja dan pasir steril tersbut bersentuhan dengan permukaan

air.
Setelah 1- 2 jam, klem dibuka dengan hati – hati, satu atau dua tetes airnya

ditaruh pada gelas objek (atau cawan petri) untuk diperiksa dibawah mikroskop.

Untuk meyakinkan hasilnya diambil lagi tetes kedua dan diperiksa lagi. Selama

pemeriksaan ini jangan sampai tetesan tadi mengenai kulit kita.


infeksi campuran atau tunggal sering terjadi pada sapi, sehingga sulit untuk

mengetahui pengaruh khusus yang ditimbulkan. Infeksi yang terjadi biasanya

dilakukan oleh bermacam-macam jenis cacing yang terjadi baik pada abomasum,

16
usus dan organ lain, sehingga pengaruhnya berupa kombinasi atau campuran dari

parasit yang ada. Sapi-sapi yang diamati pada penelitian tidak menunjukan

adanya kelainan klinis seperti halnya sapi yang terinfeksi cacing parasit. Sapi

yang tidak sehat akan terlihat jelas pada feses sapi yang diperiksa.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari hasil praktikum adalah pada pemeriksaan

nematoda usus metode bermann ditemukan telur dalam tinja sapi yaitu Ascaris

Lumbricoides yang telah di periksa.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat praktikan berikan pada praktikum selanjutnya yaitu

lebih terampil lagi dalam menggunakan mikroskop agar cepat menemukan

lapangan pandang pada saat pengamatan.

17
DAFTAR PUSTAKA

Gandasoebrata, R. 1999. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Penerbit Dian


Rakyat

Gandahusada, S.W Pribadi dan D.I. Herry. 2000. Parasitologi Kedokteran. Jakarta:
FKUI.

Kadarsan, S. 2005. Binatang Parasit. Lembaga Biologi Nasional LIPI: Bogor).


Margono, S. 2008. Nematoda Usus Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Edisi 4.
FKUI. Jakarta.

Prianto, L.A. 1999. Atlas Parasitologi Kedokteran. Penerbit Gramedia Pustaka


Utama. Jakarta.

Hartati, Agnes. 2012. Dasar-Dasar Mikrobiologi kesehatan. Nuha Medika:


Sorowajan Baru Yogyakarta

Irianto, Koes. 2013. “Parasitologi Medis (Medical Parasitologi). Alfabeta: Bandung


Margono, S. 2008. Nematoda Usus Buku Ajar Parasitologi Kedokteran . Edisi
4. Jakarta FKHUI

18