Anda di halaman 1dari 14

ETIKA DALAM PRAKTIK AKUNTANSI KEUANGAN DAN AKUNTANSI MANAJEMEN

1. Etika dalam Praktik Akuntansi Keuangan


1.1 Akuntansi Keuangan
Akuntansi keuangan adalah bagian dari akuntansi yang berkaitan dengan penyiapan
laporan keuangan untuk pihak luar, seperti pemegang saham, kreditor,pemasok, serta
pemerintah. Prinsip utama yang dipakai dalam akuntansi keuangan adalah persamaan
akuntansi di mana aktiva adalah harta yang dimiliki suatu perusahaan digunakan untuk operasi
perusahaan dalam upaya untuk menghasilkan pendapatan. Sedangkan modal yaitu selisih
antara aktiva dikurang hutang. Akuntansi keuangan berhubungan dengan masalah pencatatan
transaksi untuk suatu perusahaan atau organisasi dan penyusunan berbagai laporan berkala
dari hasil pencatatan tersebut. Laporan ini yang disusun untuk kepentingan umum dan biasanya
digunakan pemilik perusahaan untuk menilai prestasi manajer atau dipakai manajer sebagai
pertanggungjawaban keuangan terhadap para pemegang saham. Hal penting dari akuntansi
keuangan adalah adanya Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang merupakan aturan-aturan
yang harus digunakan didalam pengukuran dan penyajian laporan keuangan untuk kepentingan
eksternal.
Menurut Sugiarto (2002)Akuntansi keuangan adalah bagian dari akuntansi yang berkaitan
dengan penyiapan laporan keuangan untuk pihak luar, seperti pemegang saham, kreditor,
pemasok, serta pemerintah. Prinsip utama yang dipakai dalam akuntansi keuangan adalah
persamaan akuntansi (Aset = Liabilitas + Ekuitas). Akuntansi keuangan berhubungan dengan
masalah pencatatan transaksi untuk suatu perusahaan atau organisasi dan penyusunan
berbagai laporan berkala dari hasil pencatatan tersebut. Laporan ini yang disusun untuk
kepentingan umum dan biasanya digunakan pemilik perusahaan untuk menilai prestasi manajer
atau dipakai manajer sebagai pertanggungjawaban keuangan terhadap para pemegang saham.
Hal penting dari akuntansi keuangan adalah adanya Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang
merupakan aturan-aturan yang harus digunakan di dalam pengukuran dan penyajian laporan
keuangan untuk kepentingan eksternal. Dengan demikian, diharapkan pemakai dan penyusun
laporan keuangan dapat berkomunikasi melalui laporan keuangan ini, sebab mereka
menggunakan acuan yang sama yaitu SAK. SAK ini mulai diterapkan di Indonesia pada 1994,
menggantikan Prinsip-prinsi Akuntansi Indonesia tahun 1984.

1.2 Tanggung Jawab Akuntan Keuangan


Seorang akuntan keuangan memiliki tanggung jawab diantaranya sebagai berikut:
a. Menyusun laporan keuangan dari perusahaan secara integral, sehingga dapat digunakan
oleh pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan dalam pengambilan keputusan.
b. Membuat laporan keuangan yang sesuai dengan karakterisitk kualitatif laporan keuangan
yaitu dapat dipahami, relevan, materialitas, keandalan (penyajian yang jujur, substansi
mengungguli bentuk, netralitas, pertimbangan sehat, serta kelengkapan), dapat
diperbandingkan, kendala informasi yang relevan dan handal (tepat waktu, keseimbangan
antara biaya dan manfaat, keseimbangan di antara karakterisitk kualitatif), serta penyajian
yang wajar.

1.3 Etika Akuntan Keuangan


Etika dalam akuntansi seringkali disebut sebagai suatu hal yang klasik. Hal tersebut
dikarenakan pengguna informasi akuntansi menggunakan informasi yang penting serta
membuat berbagai keputusan. Profesi dalam akuntansi keuangan memegang rasa tanggung
jawab yang tinggi kepada publik. Tindakan akuntansi yang tidak benar, tidak hanya akan
merusak bisnis, tetapi juga merusak auditor perusahaan yang tidak mengungkapkan salah saji.
Kode etik yang kuat dan tingkat kepatuhan terhadap etika dapat menyebabkan kepercayaan
investor sehingga mengarah kepada hal yang kepastian dan merupakan hal yang
keamananbagi para investor.
Para akuntan dan auditor dapat menghindari dilema etika dengan memiliki pemahaman
yang baik tentang pengetahuan etika. Hal tersebut memungkinkan mereka dapat membuat
pilihan yang tepat. Mungkin hal itu tidak berdampak baik bagi perusahaan tetapi dapat
menguntungkan masyarakat yang bergantung pada akuntan atau auditor. Aturan kode etik
yang ada menjadi panutan bagi akuntan dan auditor untuk mempertahankan standar etika dan
memenuhi kewajiban mereka terhadap masyarakat profesi dan organisasi yang mereka layani.
Beberapa bagian kode yang disoroti adalah integritas dan harus jujur dengan transaksi mereka,
objektivitas dan kebebasan dari konflik kepentingan, kebebasan auditor dalam penampilan dan
kenyataan, penerimaan kewajiban dan pengungkapan kerahasiaan informasi non luar,
kompetensi serta memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan pekerjaannya.

2. Etika dalam Praktik Akuntansi Manajemen


2.1 Akuntansi Manajemen
Akuntansi Manajemen atau Akuntansi Manajerial adalah sistem akuntansi yang berkaitan
dengan ketentuan dan penggunaan informasi akuntansi untuk manajer atau manajemen dalam
suatu organisasi dan untuk memberikan dasar kepada manajemen untuk membuat keputusan
bisnis yang akan memungkinkan manajemen akan lebih siap dalam pengelolaan dan melakukan
fungsi kontrol.
Menurut Chartered Institute of Management Accountants (CIMA), akuntansi manajemen
adalah proses identifikasi, pengukuran, akumulasi, analisis, penyusunan, interpretasi, dan
komunikasi informasi yang digunakan oleh manajemen untuk merencanakan, mengevaluasi dan
pengendalian dalam suatu entitas dan untuk memastikan sesuai dan akuntabilitas penggunaan
sumber daya tersebut. Akuntansi manajemen juga meliputi penyusunan laporan keuangan
untuk kelompok non-manajemen seperti pemegang saham, kreditur, badan pengatur dan
otoritas pajak.
The American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) menyatakan bahwa
akuntansi manajemen sebagai praktik meluas ke tiga bidang berikut:
a. Manajemen Strategi, memajukan peran akuntan manajemen sebagai mitra strategis dalam

organisasi.
b. Manajemen Kinerja, mengembangkan praktik pengambilan keputusan bisnis dan
mengelola kinerja organisasi.
c. Manajemen Risiko, berkontribusi untuk membuat kerangka kerja dan praktik untuk

mengidentifikasi, mengukur, mengelola dan melaporkan risiko untuk mencapai tujuan


organisasi.
Chartered Institute of Management Accountants (CIMA) menyatakan bahwa seorang
akuntan manajemen harus mampu menerapkan pengetahuan profesional dan keterampilannya
dalam penyusunan dan penyajian informasi keputusan keuangan dan lainnya yang berorientasi
sedemikian rupa untuk dapat membantu manajemen dalam merumusakan kebijakan,
perencanaan dan pengendalian pelaksanaan pengoperasian. Akuntan manajemen oleh karena
itu dilihat sebagai pencipta nilai antara akuntan. Mereka jauh lebih tertarik melihat ke depan
dan mengambil keputusan yang akan memengaruhi masa depan organisasi, daripada rekaman
sejarah dan kepatuhan (menjaga nilai) aspek profesi. Pengetahuan dan pengalaman akuntansi
manajemen dapat diperoleh dari berbagai bidang dan fungsi dalam suatu organisasi seperti
manajemen informasi, perbendaharaan, audit efisiensi, pemasaran, penilaian, penetapan harga,
logistik, dan lainnya. Berbeda dengan Informasi Akuntansi keuangan, Informasi akuntansi
manajemen adalah:
a. Dirancang dan dimaksukan untuk digunakan oleh pihak manajemen dalam organisasi
sedangkan informasi Akuntansi keuangan dimaksudkan dan dirancang untuk pihak
eksternal seperti kreditur dan para pemegang saham
b. Biasanya rahasia dan digunakan oleh pihak manajemen dan bukan untuk laporan publik
c. Memandang ke depan, bukan sejarah
d. Dihitung dengan mengacu pada kebutuhan manajer, sering menggunakan sistem
informasi manajemen, bukan mengacu pada standar akuntansi keuangan
Hal ini disebabkan karena penekanan yang berbeda: informasi akuntansi manajemen
digunakan dalam sebuah organisasi, biasanya untuk pengambilan keputusan.
Definisi akuntansi manajemen menurut Chartered Institute of Management Accountant ,
yaitu penyatuan bagian manajemen yang mencakup, penyajian dan penafsiran informasi yang
digunakan untuk perumusan strategi, aktivitas perencanaan dan pengendalian, pembuatan
keputusan, optimalisasi penggunaan sumber daya, pengungkapan kepada pemilik dan pihak
luar, pengungkapan kepada pekerja, pengamanan asset. Bagian integral dari manajemen yang
berkaitan dengan proses identifikasi penyajian dan interpretasi/penafsiran atas informasi yang
berguna untuk merumuskan strategi, proses perencanaan dan pengendalian, pengambilan
keputusan, optimalisasi keputusan, pengungkapan pemegang saham dan pihak luar,
pengungkapan entitas organisasi bagi karyawan, dan perlindungan atas aset organisasi.

2.2 Tanggung Jawab Akuntan Manajemen


Seorang akuntan manajemen memiliki tanggung jawab diantaranya sebagai berikut:
a. Perencanaan, menyusun dan berpartisipasi dalam mengembangkan sistem perencanaan,
menyusun sasaran-sasaran yang diharapkan, dan memilih cara-cara yang tepat untuk
memonitor arah kemajuan dalam pencapaian sasaran.
b. Pengevaluasian, mempertimbangkan implikasi-implikasi historical dan kejadian-kejadian
yang diharapkan, serta membantu memilih cara terbaik untuk bertindak.
c. Pengendalian, menjamin integritas informasi finansial yang berhubungan dengan aktivitas
organisasi dan sumber-sumbernya, memonitor dan mengukur prestasi, dan mengadakan
tindakan koreksi yang diperlukan untuk mengembalikan kegiatan pada cara-cara yang
diharapkan.
d. Menjamin pertanggungjawaban sumber, mengimplementasikan suatu sistem pelaporan
yang disesuaikan dengan pusat-pusat pertanggungjawaban dalam suatu organisasi
sehingga sistem pelaporan tersebut dapat memberikan kontribusi kepada efektifitas
penggunaan sumber daya dan pengukuran prestasi manajemen.
e. Pelaporan eksternal, ikut berpartisipasi dalam proses mengembangkan prinsip-prinsip
akuntansi yang mendasari pelaporan eksternal.

2.3 Etika Akuntan Manajemen


Etika yang harus dipegang oleh seorang akuntan manajemen diantaranya:
a. Competance
Praktisi akuntansi manajemen dan manajemen keuangan memiliki tanggung jawab untuk
Mempertahankan tingkat yang sesuai kompetensi profesional, melakukan tugas sesuai
dengan hukum, peraturan dan standar teknis serta menyiapkan laporan secara lengkap
dan jelas.
b. Confidentiality
Praktisi akuntansi manajemen dan manajemen keuangan memiliki tanggung jawab untuk
menahan diri dari mengungkapkan informasi rahasia yang diperoleh dalam pekerjaan
mereka kecuali bila diizinkan, kecuali hukum wajib untuk melakukannya.
c. Integrity
Praktisi akuntansi manajemen dan manajemen keuangan memiliki tanggung jawab untuk
menahan diri dari terlibat dalam kegiatan apapun yang akan merugikan kemampuan
mereka untuk menjalankan tugasnya secara etis; menolak hadiah, bantuan, atau
perhotelan yang akan mempengaruhi atau akan muncul untuk mempengaruhi tindakan
mereka.
d. Objectivity
Praktisi akuntansi manajemen dan manajemen keuangan memiliki tanggung jawab untuk
mengomunikasikan informasi secara adil dan objektif dan mengungkapkan penuh semua
informasi relevan yang dapat diharapkan untuk mempengaruhi pemahaman pengguna
dimaksudkan dari laporan, komentar, dan rekomendasi yang disampaikan.

2.4 Akuntan Manajemen Bersetifikat


Akuntan manajemen yang memenuhi kualifikasi tertentu dan lolos dalam ujian
professional memiliki hak untuk menyandang gelar Akuntan Manajemen Bersertifikat ( Certified
Management Accountant-CMA). Sebagai penghargaan atas gelar professional tersebut, para
CMA biasanya mendapatkan tanggung jawab dan kompensasi yang lebih tinggi daripada
mereka yang tidak memiliki gelar. Informasi mengenai segala sesuatu untuk mendapatkan
gelar CMA dapat diakses di Institute of Management Accountant (IMA). Ada empat langkah
yang harus dilakukan untuk mendapatkan gelar CMA:
a. Mengirim aplikasi ke bagian penerimaan dan pendaftaran ujian CMA.
b. Lolos seluruh kompenen ujian CMA yang terdiri atas empat bagian dalam waktu
tiga tahun.
c. Memiliki pengalaman professional yang memadai setidaknya dua tahun berturut-turut di
bidang manajemen, dan atau akuntansi keuangan selama tujuh tahun untuk lolos
ujian CMA.
d. Mematuhi Standar Kode Etik untuk Praktisi Akuntan Manajemen dan Manajemen
Keuangan.

3. Kode Etik IAI


Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan aturan bagi
seluruh anggota, baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di lingkungan dunia
usaha, pada instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan dalam pemenuhan
tanggung-jawab profesionalnya.
Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi tanggung-jawabnya dengan standar
profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan orientasi kepada
kepentingan publik. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat empat kebutuhan dasar yang
harus dipenuhi:
a. Kredibilitas, masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi dan sistem informasi.

b. Profesionalisme, diperlukan individu yang dengan jelas dapat diidentifikasikan oleh


pemakai jasa Akuntan sebagai profesional di bidang akuntansi.

c. Kualitas jasa, terdapatnya keyakinan bahwa semua jasa yang diperoleh dari akuntan
diberikan dengan standar kinerja tertinggi.

d. Kepercayaan, pemakai jasa akuntan harus dapat merasa yakin bahwa terdapat kerangka
etika profesional yang melandasi pemberian jasa oleh akuntan.

Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian:


a. Prinsip etika,
b. Aturan etika, dan
c. Interpretasi aturan etika.
Prinsip Etika memberikan kerangka dasar bagi aturan etika, yang mengatur pelaksanaan
pemberian jasa profesional oleh anggota. Prinsip etika disahkan oleh kongres dan berlaku bagi
seluruh anggota, sedangkan aturan etika disahkan oleh rapat anggota himpunan dan hanya
mengikat anggota Himpunan yang bersangkutan. Interpretasi aturan etika merupakan
interpretasi yang dikeluarkan oleh badan yang dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan
tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam
penerapan aturan etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya.
Pernyataan etika profesi yang berlaku saat ini dapat dipakai sebagai interpretasi dan atau
aturan etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk menggantikannya.

3.1 Kepatuhan
Kepatuhan terhadap kode etik, seperti juga dengan semua standar dalam masyarakat
terbuka, tergantung terutama sekali pada pemahaman dan tindakan sukarela anggota. Di
samping itu, kepatuhan anggota juga ditentukan oleh adanya pemaksaan oleh sesama anggota
dan oleh opini publik, dan pada akhirnya oleh adanya mekanisme pemrosesan pelanggaran
kode etik oleh organisasi, apabila diperlukan, terhadap anggota yang tidak menaatinya.
Jika perlu, anggota juga harus memperhatikan standar etik yang ditetapkan oleh badan
pemerintahan yang mengatur bisnis klien atau menggunakan laporannya untuk mengevaluasi
kepatuhan klien terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3.2 Prinsip Etika Profesi


Keanggotaan dalam Ikatan Akuntan Indonesia bersifat sukarela, dengan menjadi anggota,
seorang akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga disiplin diri di atas dan melebihi yang
disyaratkan oleh hukum clan peraturan. Prinsip etika profesi dalam kode etik Ikatan Akuntan
Indonesia menyatakan pengakuan profesi akan tanggungjawabnya kepada publik, pemakai jasa
akuntan, dan rekan. Prinsip ini memandu anggota dalam memenuhi tanggung jawab
profesionalnya dan merupakan landasan dasar perilaku etika dan perilaku profesionalnya.
Prinsip ini meminta komitmen untuk berperilaku terhormat, bahkan dengan pengorbanan
keuntungan pribadi. Prinsip-prinsip berikut adalah:
a. Prinsip pertama – Tanggung jawab profesi
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai professional, setiap anggota harus
senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan professional dalam semua kegiatan
yang harus dilakukannya. Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam
masyarakat. Sejalan dengan peranan tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab
kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga harus selalu bertanggung
jawab untuk bekerja sarna dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi
akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat, dan menjalankan tanggung-jawab
profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk
memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.
b. Prinsip Kedua – Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan
kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas
profesionalisme.
c. Prinsip ketiga – Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus
memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
d. Prinsip keempat – Obyektivitas
Setiap anggota harus menjaga obyektivitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam
pemenuhan kewajiban profesionalnya.
e. Prinsip kelima – Kompetensi dan lehati-hatian profesional
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehati-hatian, kompetensi
dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan
ketrampilan professional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien
atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa professional yang kompeten
berdasarkan perkembangan praktik, legislasi, dan teknik yang paling mutakhir.
f. Prinsip leenam – Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama
melakukan jasa professional dan tidak boleh memakai atau menggungkapkan informasi
tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban professional atau hukum
untuk mengungkapkan.
g. Prinsip ketujuh – Perilaku profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan
menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Kewajiban untuk menjauhi
tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai
perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain,
staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.
h. Prinsip kedelapan – Standar teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa professional yang relevan. Sesuai dengan
keahliannya dan dengan hati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan
penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip
integritas dan objektivitas. Standar teknis dan standar profesional yang harus ditaati
anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh lkatan Akuntan Indonesia, International
Federation of Accountants, badan pengatur, dan peraturan perundang-undangan yang
relevan.
3.3 Kode Perilaku Profesional
Profesional adalah orang yang memiliki keahlian tertentu dan menggunakan keahlian
yang dimilikinya dan mampu mengemban tugas yang diamanatkan oleh masyarakat. Dalam
istilah umum, tugas yang diharapkan dari seorang professional adalah mempertahankan:
a. Memiliki kompetensi dalam bidang keahlian
b. Objektifitas dalam melakukan pelayanan
c. Integritas dalam menangani klien
d. Konfidensial sehubungan dengan permasalahan klien
e. Disiplin atas anggota yang tidak menjalankan tugas sesuai dengan standar yang
diharapkan.
f. Mampu mengemban tugas yang diamanatkan oleh masyarakat.
g. Memiliki moral yang baik.
h. Memiliki kejujuran.

4. Persamaan dan Perbedaan Antara Akuntansi Keuangan dan Akuntansi


Manajemen
Akuntansi keuangan adalah bagian dari akuntansi yang berkaitan dengan penyiapan
laporan keuangan untuk pihak luar, seperti pemegang saham, kreditor,pemasok, serta
pemerintah. Prinsip utama yang dipakai dalam akuntansi keuangan adalah persamaan
akuntansi di mana aktiva adalah harta yang dimiliki suatu perusahaan digunakan untuk operasi
perusahaan dalam upaya untuk menghasilkan pendapatan. Sedangkan modal yaitu selisih
antara aktiva dikurang hutang. Akuntansi keuangan berhubungan dengan masalah pencatatan
transaksi untuk suatu perusahaan atau organisasi dan penyusunan berbagai laporan berkala
dari hasil pencatatan tersebut. Laporan ini yang disusun untuk kepentingan umum dan biasanya
digunakan pemilik perusahaan untuk menilai prestasi manajer atau dipakai manajer sebagai
pertanggungjawaban keuangan terhadap para pemegang saham. Hal penting dari akuntansi
keuangan adalah adanya Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang merupakan aturan- aturan
yang harus digunakan didalam pengukuran dan penyajian laporan keuangan untuk kepentingan
eksternal. Dengan demikian, diharapkan pemakai dan penyusun laporan keuangan dapat
berkomunikasi melalui laporan keuangan ini, sebab mereka menggunakan acuan yang sama
yaitu SAK. SAK ini mulai diterapkan di Indonesia pada 1994, menggantikan Prinsip-prinsip
Akuntansi Indonesia tahun 1984.
Akuntansi manajemen adalah disiplin ilmu yang berkenaan dengan penggunaan
informasi akuntansi oleh para manajemen dan pihak-pihak internal lainnya untuk keperluan
penghitungan biaya produk, perencanaan, pengendalian dan evaluasi, serta pengambilan
keputusan. Definisi akuntansi manajemen menurut Chartered Institute of Management
Accountant, yaitu Penyatuan bagian manajemen yang mencakup, penyajian dan penafsiran
informasi yang digunakan untuk perumusan strategi, aktivitas perencanaan dan pengendalian,
pembuatan keputusan, optimalisasi penggunaan sumber daya, pengungkapan kepada pemilik
dan pihak luar, pengungkapan kepada pekerja, pengamanan asset.
Bagian integral dari manajemen yang berkaitan dengan proses identifikasi penyajian dan
interpretasi/penafsiran atas informasi yang berguna untuk merumuskan strategi, proses
perencanaan dan pengendalian, pengambilan keputusan, optimalisasi keputusan,
pengungkapan pemegang saham dan pihak luar, pengungkapan entitas organisasi bagi
karyawan, dan perlindungan atas aset organisasi. Akuntansi Manajemen (Managerial
Accounting) berhubungan dengan pengidentifikasian dan pemilihan yang terbaik dari beberapa
alternatif kebijakan atau tindakan dengan menggunakan data historis atau taksiran untuk
membantu pimpinan.
Persamaan akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen prinsip akuntansi yang diterima
baik dalam akuntansi dalam akuntansi keuangan kemungkinan besar juga merupakan prisnsip
pengukuran yang Releven dalam akuntansi manajemen dan menggunakan sistem informasi
operasi yang sama sebagai bahan baku untuk menghasilkan informasi yang disajikan kepada
pemakainya.
Persamaan Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen
a. Prinsip akuntansi yang lazim diterima baik dalam akuntansi keuangan kemungkinan besar
juga merupakan prinsip pengukuran yang relevan dalam akuntansi manajemen.
b. Menggunakan Sistem informasi operasi yang sama sebagai bahan baku untuk
menghasilkan informasi yang disajikan kepada pemakainya.

DAFTAR PUSTAKA
Bertens, K. 2000. Pengantar Etika Bisnis. Kanisius: Yogyakarta.
Duska, Ronald dan Brenda Shay Duska. 2003. Accounting Ethics. Blackwell Publishing.
ARTICLE REVIEW

Judul : Analisis Perbedaan Perilaku Etis Pelaku Akuntansi Berdasarkan Karakteristik Individu dalam
Etika Penyusunan Laporan Keuangan

Penulis : Satria Febriansyah, Dwi Risma Deviyanti, Ledy Setiawati


Penerbit : Jurnal Ilmu Akuntansi Mulawarman Vol. 1 (1), 2016

1. Latar Belakang
Tugas Pejabat Penatusahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (PPK SKPD) dalam
Permendagri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, yaitu
melaksanakan akuntansi SKPD dan menyiapkan laporan keuangan SKPD yang dijelaskan pada pasal 13
ayat (f) dan (g). Peran PPK dan Bendahara SKPD sangatlah vital untuk mewujudkan administrasi
keuangan yang efektif atau dengan kata lain kemampuan dan kecakapannya dalam menjalankan fungsi
akuntansi sangat menentukan dalam menyusun dokumen laporan keuangan SKPD pemerintah sangatlah
penting karena tuntutan masyarakat agar pemerintah akuntabel dalam menjalankan programnya
semakin besar. Sumber daya manusia dan karakter individu aparat pemerintah menunjang kelancaran
pengelolaan keuangan daerah. Salah satu faktor yang masih harus ditingkatkan untuk meningkatkan
kualitas pelaporan keuangan di Indonesia adalah menyangkut etika dan sikap positif akuntan Indonesia
(Yulianti dan Fitriany, 2005).
Dalam pelaksanaannya, sebagian besar Laporan Keuangan Daerah belum menunjukkan
transparansi dan akuntabilitas yang memadai. Pada LHP Keuangan 2012 dan 2013 BPK RI Perwakilan
Kaltim masih menemukan beberapa kelemahan pada sistem pengendalian penganggaran keuangan di
lingkungan Pemkot Samarinda itu sendiri, juga pengelolaan aset yang dianggap banyak belum
terselesaikan. Selain itu, BPK juga menemukan adanya ketidakpatuhan terhadap peraturan
perundangungangan dalam pengelolaan keuangan negara. Untuk itu ke depan masing SKPD di
lingkungan Pemkot Samarinda bisa lebih meningkatkan akutanbilitas keuangan, maksudnya agar
kesalahan pada penganggaran tidak pernah lagi terjadi. Khusus dalam penyusunan anggaran,
hendaknya SKPD harus memperhatikan perundangan undangan.
Wakil Walikota Samarinda menyampaikan langkah-langkah yang akan ditempuh Pemerintah Kota
Samarinda untuk memperbaiki Laporan Keuangan. Antara lain sistem pemerintahan Kota Samarinda
menjadi hal pertama yang akan dibenahi oleh Pemerintah Kota. Kemudian, Pemerintah Kota akan
membenahi sumber daya manusia terutama dalam hal penyusunan laporan keuangan. Karena disadari
pemahaman SDM akan pengelolaan keuangan daerah masih kurang. (sumber samarinda.bpk.go.id).
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik pejabat
penatausahaan keuangan dalam etika penyusunan laporan keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) Kota Samarinda.
2. Hipotesis Penelitian
H1 : Terdapat perbedaan perilaku etis antara PPK dan Bendahara SKPD yang mempunyai internal locus
of control dengan PPK dan Bendahara SKPD mempunyai external locus of control dalam
penyusunan laporan keuangan SKPD.
H2 : Terdapat perbedaan perilaku etis antara PPK dan Bendahara SKPD senior dengan PPK dan
Bendahara SKPD junior dalam penyusunan laporan keuangan SKPD.
H3 : Terdapat perbedaan perilaku etis antara PPK dan Bendahara SKPD wanita dengan PPK dan
Bendahara SKPD pria dalam penyusunan laporan keuangan SKPD.
H4 : Terdapat perbedaan perilaku etis antara PPK dan Bendahara SKPD yang termasuk benevolents
dengan PPK dan Bendahara SKPD yang termasuk dalam penyusunan laporan keuangan SKPD.
H5 : Terdapat perbedaan perilaku etis antara PPK dan Bendahara SKPD yang mempunyai latar
belakang pendidikan akuntansi dengan PPK dan Bendahara SKPD yang mempunyai latar belakang
pendidikan non akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan SKPD.

3. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui survey dengan menggunakan kuesioner. Untuk mendukung
penelitian ini diperlukan sekunder yang berhubungan dengan obyek penelitian. Penelitian ini merupakan
pengujian hipotesis (hypothesis testing) yang menguji hipotesis yang telah dirumuskan di awal bab.
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui pengisian kuesioner dengan
menggunakan aspek-aspek yang dianggap penting dalam etika penyusunan laporan keuangan SKPD,
dalam hal ini faktor-faktor individual yang meliputi locus of control, lama menjabat, gender, equity
sensitivity dan latar belakang pendidikan.

4. Hasil Penelitian
4.1 Perbedaan Perilaku Etis Berdasarkan Tingkat Locus of Control
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tidak ada perbedaan perilaku etis yang signifikan antara
PPK dan Bendahara SKPD internal locus of control dan PPK dan Bendahara SKPD external locus of
control. Hal ini disebabkan karena responden hanya berpikir bagaimana cara membuat laporan
keuangan saja dan kurang memperhatikan ketepatan waktu yang berpengaruh terhadap nilai informasi
laporan keuangan yang akan digunakan oleh instansi. Pola pikir tersebut terjadi pada responden, karena
pada sektor pemerintahan pemberian reward kepada pegawai yang bekerja keras untuk instansi kurang
disosialisasi. Dalam sektor pemerintahan juga tidak terdapat sanksi jika terlambat dalam penyusunan
laporan keuangan.

4.2 Perbedaan Perilaku Etis Berdasarkan Tingkat Lama Menjabat


Hasil penelitian ini menyatakan bahwa antara auditor senior dan auditor junior tidak ada
perbedaan yang signifikan dalam perilaku etis auditor dalam situasi konflik audit. Namun penelitian ini
menolak hasil penelitian Nugrahaningsih (2005) yang mengemukakan bahwa ada perbedaan yang
signifikan perilaku etis auditor senior dan yunior di KAP dalam etika profesi.

4.3 Perbedaan Perilaku Etis Berdasarkan Tingkat Gender


Hasil penelitian menyatakan bahwa antara pegawai pria dan pegawai wanita ada perbedaan dalam
etika penyusunan laporan keuangan. Variabel disclosure mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0,004,
hal ini juga mengindikasikan bahwa diantara pegawai pria dan wanita terdapat perbedaan yang
signifikan dalam hal disclosure terkait dengan etika pengungkapan dalam Laporan Keuangan SKPD
Samarinda. Atas dasar nilai mean dapat dinyatakan bahwa laki- laki lebih etis dibanding wanita terkait
perilaku etis dalam penyusunan laporan keuangan yang dinyatakan dengan disclosure.

4.4 Perbedaan Perilaku Etis Berdasarkan Tingkat Equity Sensitivity


Equity berhubungan dengan fairness (keadilan) yang dirasakan seseorang dibanding orang lain
(Sashkin dan Williams dalam Fauzi, 2001. Equity sensitivity mencoba menjelaskan perbedaan perilaku
etis dan tidak etis yang disebabkan oleh karakteristik individual (Fauzi, 2001). Hasil penelitian ini
menyatakan bahwa antara pegawai senior dan pegawai junior tidak ada perbedaan dalam etika
penyusunan laporan keuangan.

4.5 Perbedaan Perilaku Etis Berdasarkan Tingkat Latar Belakang Pendidikan


Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pegawai dengan latar
belakang pendidikan akuntansi dan non akuntansi pada variabel Responsibility dalam etika penyusunan
laporan keuangan. Pendidikan adalah serangkaian kegiatan komunikasi antara manusia dewasa dengan
anak didik secara tatap muka, menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan terhadap
perkembangan anak seutuhnya agar dapat mengembangkan potensinya semaksimal mungkin supaya
menjadi manusia dewasa dan bertanggung jawab (Idris,1992). Potensi di sini meliputi potensi fisik,
emosi, sosial, moral, pengetahuan dan keterampilan.

5. Simpulan
Hasil pengujian data terkait analisa karakteristik individu pegawai Pemerintah Kota Samarinda
dalam etika penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah yang telah diperoleh dan dipaparkan
dalam bab sebelumnya mendasari pengambilan simpulan dalam penelitian ini. Hasil pengujian untuk
mengetahui perbedaan masing- masing variabel yang dapat disimpulkan sebagai berikut: Tidak terdapat
perbedaan yang signifikan antara PPK dan Bendahara SKPD dengan internal locus of control dan PPK
dan Bendahara SKPD dengan external locus of control terhadap etika penyusunan laporan keuangan
SKPD yang dinyatakan dengan disclosure, cost and benefit, responsibility, misstate dan ketepatwaktuan.
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara PPK dan Bendahara SKPD senior dan PPK dan
Bendahara SKPD yunior terhadap etika penyusunan laporan keuangan SKPD yang dinyatakan dengan
disclosure, misstate, cost and benefit, responsibility dan ketepatwaktuan. Hal ini terjadi karena masing-
masing masih mempelajari peraturan yang baru tentang peningkatan kualitas pelaporan keuangan dan
prinsip-prinsip akuntansi.
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara PPK dan Bendahara SKPD pria dan PPK dan
Bendahara SKPD wanita terhadap etika penyusunan laporan keuangan SKPD yang dinyatakan dengan
cost and benefit, responsibility, misstate dan ketepatwaktuan. Perbedaan hanya terdapat pada variabel
disclosure. Hal ini juga mengindikasikan bahwa diantara pegawai pria dan wanita terdapat perbedaan
yang signifikan dalam hal disclosure terkait dengan etika pengungkapan dalam Laporan Keuangan SKPD
Samarinda. Atas dasar nilai mean dapat dinyatakan bahwa laki-laki lebih etis dibanding wanita terkait
perilaku etis dalam penyusunan laporan keuangan yang dinyatakan dengan disclosure. Perbedaan yang
tidak signifikan tersebut menunjukkan bahwa pada hakikatnya pria dan wanita itu sama, namun
perbedaannya adalah kemampuan yang dimiliki oleh masing- masing individu ketika menyusun laporan
keuangan.
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara PPK dan Bendahara SKPD yang merupakan
benevolent dan PPK dan Bendahara SKPD yang merupakan entitleds terhadap etika penyusunan laporan
keuangan SKPD yang dinyatakan dengan disclosure, misstate, cost and benefit, responsibility , dan
ketepatwaktuan. Hal ini dapat disebabkan karena pada sektor pemerintahan pemberian reward kepada
pegawai yang bekerja keras dengan pegawai yang bekerja sekedarnya saja hampir dapat dikatakan
sama. Oleh karena itu, berapapun jumlah input yang diberikan oleh seorang pegawai kurang lebih akan
memperoleh jumlah output atau reward yang sama. Selain itu, dalam sektor pemerintahan juga tidak
terdapat sanksi jika terlambat dalam penyusunan laporan keuangan.
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara PPK dan Bendahara SKPD yang berlatar belakang
pendidikan akuntansi dan PPK dan Bendahara SKPD yang berlatar belakang pendidikan non akuntansi
terhadap etika penyusunan laporan keuangan SKPD yang dinyatakan dengan disclosure, misstate, cost
and benefit, dan ketepatwaktuan. Perbedaan hanya terdapat pada variabel responsibility hal ini juga
mengindikasikan bahwa pegawai dengan latar belakang pendidikan Akuntansi lebih etis dibanding
pegawai dengan latar belakang pendidikan Akuntansi terkait perilaku etis dalam penyusunan laporan
keuangan yang dinyatakan dengan responsibility.

Referensi
Febriansyah, Satria, Dwi Risma Deviyanti, dan Ledy Setiawati. 2017. Analisis Perbedaan Perilaku Etis
Pelaku Akuntansi Berdasarkan Karakteristik Individu dalam Etika Penyusunan Laporan Keuangan.
Jurnal Ilmu Akuntansi Mulawarman (JIAM), Vol. 1, No. 1, Hal: 66-76.