Anda di halaman 1dari 5

Management Kala 4

dr. Elita Rahmi

Residen Obstetri Ginekologi


Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta
Management Kala 4

Kala 4 adalah kala observasi. Kala 4 terjadi sejak plasenta lahir hingga 1
sampai 2 jam sesudahnya. Dilakukan observasi tiap 15 menit pada 1 jam
pertama dan 30 menit pada satu jam berikutnya
Yang diawasi adalah 7 pokok penting pada kala 4 :
1. Kontraksi uterus harus baik
yaitu uterus mengeras dan TFU 3 jari di bawah umbilicus. Hal itu
dapat dilakukan dengan melakukan masase pada uterus untuk
merangsang uterus berkontraksi baik dan kuat. Dilakukan rangsangan
taktil uterus untuk merangsang terjadinya kontraksi uterus yang baik.
Dalam hal ini sangat penting diperhatikan tingginya fundus uteri dan
kontraksi uterus.
2. Tidak adanya perdarahan
Penting untuk mengetahui apakah jumlah pendarahan yang terjadi
normal atau tidak. Batas normal pendarahan adalah 100-300 ml. Jika
kontraksi uterus kuat, maka lokea tidak lebih dari saat haid
Perdarahan post partum dapat disebabkan karena :
1. Atonia Uteri
Ketidakmampuan uterus khususnya miometrium untuk
berkontraksi setelah plasenta lahir. Perdarahan postpartum secara
fisiologis dikontrol oleh kontraksi serat-serat miometrium terutama
yang berada disekitar pembuluh darah yang mensuplai darah pada
tempat perlengketan plasenta. Kegagalan kontraksi dan retraksi
dari serat miometrium dapat menyebabkan perdarahan yang cepat
dan parah serta syok hipovolemik. Kontraksi miometrium yang
lemah dapat diakibatkan oleh kelelahan karena persalinan lama
atau persalinan yang terlalu cepat, terutama jika dirangsang.
2. Laserasi jalan lahir
Pada umumnya robekan jalan lahir terjadi pada persalinan dengan
trauma. Pertolongan persalinan yang semakin manipulatif dan
traumatik akan memudahkan robekan jalan lahir dan karena itu
dihindarkan memimpin persalinan pada saat pembukaan serviks
belum lengkap. Robekan jalan lahir biasanya akibat episiotomi,
robekan spontan perineum, trauma forsep atau vakum ekstraksi,
atau karena versi ekstraksi.
3. Retensio plasenta
Retensio plasenta adalah plasenta belum lahir hingga atau melebihi
waktu 30 menit setelah bayi lahir. Hal ini disebabkan karena
plasenta belum lepas dari dinding uterus atau plasenta sudah lepas
tetapi belum dilahirkan.
4. Koagulopati
Perdarahan post partum juga dapat terjadi karena kelainan pada
pembekuan darah. Penyebab tersering adalah atonia uteri, yang
disusul dengan tertinggalnya sebagian plasenta. Namun, gangguan
pembekuan darah dapat pula menyebabkan perdarahan post
partum. Hal ini disebabkan karena defisiensi faktor pembekuan
danpenghancuran fibrin yang berlebihan. Gejala-gejala kelainan
pembekuan darah bisa berupa penyakit keturunan ataupun
didapat. Kelainan pembekuan darah
dapatberupahipofibrinogenemia, trombositopenia, Idiopathic
Thrombocytopenic Purpura (ITP), HELLP syndrome (hemolysis,
elevated liver enzymes, and low platelet count), Disseminated
Intravaskuler Coagulation (DIC), dan Dilutional coagulopathy.
3. Placenta lahir lengkap
Periksa kelengkapan plasenta dan keutuhan kulit ketuban untuk
memastikan ada tidaknya bagian yang tersisa dalam uterus.
4. Vesika urinaria harus kososng
Yakinkan bahwa kandung kencing kosong. Hal ini untuk membantu
involusio uteri
5. Dilakukan perawatan perineum dan pastikan tidak ada hematom
Periksa ada tidaknya luka / robekan pada perineum dan vagina
6. Resume keadaan umum ibu
Periksa vital sign, seperti keadaan umum, tekanan darah, nadi, nafas
serta suhu tubuh ibu
7. Resume keadaan umum bayi
Nilai nafas bayi apakah bernafas dengan baik atau tidak. Jaga
kehangatan bayi dan lakukan inisiasi menyusui dini dari ibu kepada
bayi

Selain itu juga dilakukan pemeriksaan serviks, vagina dan perineum


1. Serviks
Perubahan yang terjadi pada serviks adalah serviks agak menganga
seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat
mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga
seolah-olah ada perbatasan antara korpus dan serviks uteri terbentuk
semacam cincin. Dilihat dari warnanya serviks menjadi merah
kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah, konsistensinya lunak.
Segera setelah janin dilahirkan servik masih bisa dimasuki oleh tangan
pemeriksa, tetapi setelah 2 jam hanya bisa dimasuki 2-3 jari.

2. Vagina dan Perineum


Evaluasi laserasi dan perdarahan aktif pada perenium dan vagina, lalu
nilai perluasan laserasi perenium.
Penyebab terjadinya laserasi perineum yaitu :
Faktor Maternal
1. Partus presipitatus
2. Mengejan terlalu kuat
3. Perineum yang rapuh dan oedema
4. Primipara
5. Kesempitan pintu bawah panggul
6. Varises Vulva
Faktor Janin
1. Janin Besar
2. Presentasi
3. Presentasi bokong
4. Distosia bahu
5. Kelainan kongenital

Faktor Penolong Persalinan


1. Cara memimpin mengejan dan dorongan pada fundus uteri
2. Ketrampilan menahan perineum pada saat ekspulsi kepala
3. Anjuran posisi meneran
4. Episiotomi

Derajat laserasi perenium terbagi atas :


1. Derajat I
Luasnya robekan hanya sampai mukosa vagina, komisura
posterior tanpa mengenai kulit perineum. Tidak perlu dijahit
jika tidak ada perdarahan dan posisi luka baik.
2. Derajat II
Robekan yang terjadi lebih dalam yaitu mengenai mukosa
vagina, komisura posterior, kulit perineum dan otot
perineum. Jahit menggunakan teknik penjahitan laserasi
perineum.
3. Derajat III
Robekan yang terjadi mengenai mukosa vagina, komisura
posterior, kulit perineum, otot perineum hingga otot sfingter
ani.
4. Derajat VI
Robekan yang terjadi lebih dalam yaitu mengenai mukosa
vagina, komisura posterior, kulit perineum, otot sfingter ani
sampai ke dinding depan rektum.

Pemantauan dan evaluasi lanjutan selama 2 jam pertama pasca persalinan :


1. Pantau tekanan darah, nadi, suhu, respirasi, TFU, kandung kemih dan
perdarahan setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit
dalam satu jam kedua. Jika ada temuan yang tidak normal lakukan
observasi dan penilaian secara lebih sering.
2. Pemijatan uterus untuk memestikan uterus menjadi lebih keras tiap 15
menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam
kedua. Jika ada temuan yang tidak normal tingkatkan observasi dan
penilaian secara lebih sering.
3. Evaluasi tinggi fundus uteri dengan cara meletakkan jari tanggan secara
melintang antara pusat dan fundus uteri.
4. Pantau suhu tubuh ibu 1x setiap jam selama dua jam pertama pasca
persalinan
5. Nilai perdarahan. Periksa perineum dan vagina setiap 15 menit dalam
satu jam pertama dan 30 menit dalam satu jam kedua.
6. Ajarkan ibu dan keluarga bagaimana bagaimana menilai tonus dan
perdarahan uterus juga bagaimana melakukan pemijatan jika uterus
menjadi lembek.
7. Minta anggota keluarga untuk memeluk bayi. Bersihkan dan bantu ibu
untuk mengenakan baju dan sarung tangan yang bersih dan kering , atur
posisi ibu agar nyaman dengan cara duduk bersandan bantal atau
berbaring miring. Jaga agar tubuh dan kepala bayi diselimuti dengan
baik, berikan bayi kepad ibu dan anjurkan untuk dipeluk dan diberi ASI.
8. Lengkapi dengan asuhan asential bagi bayi baru lahir.
9. Periksa banyaknya urin setiap 15 menit pada satu jam pertama dan
setiap 30 menit pada satu jam kedua.