Anda di halaman 1dari 39

2015/2016

ILMU
BAHAN BANGUNAN RAMAH
BAHAN
BANGUNAN LINGKUNGAN

Nama : Misdar (F221 15 048)

Muh. Tanzil Hidayatullah (F221 15 076)

Putu Sandi Asrawan (F221 15 045)

Selli Novia (F221 15 077)

Sri Wulandari (F221 15 058)

Verren M L P Abe (F221 15 079)

FAKULTAS TEKNIK

TEKNIK ARSITEKTUR

UNIVERSITAS TADULAKO

Ilmu Bahan Bangunan | 0


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang “Bahan Bangunan yang Ramah Lingkungan” ini dengan baik meskipun
banyak kekurangan didalamnya.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Bahan Bangunan yang Ramah
Lingkungan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, Kami berharap
adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di
masa yang akan datang,

Palu, Oktober 2015

Penyusun

Ilmu Bahan Bangunan | i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................... i


DAFTAR ISI .............................................................................................. ii
BAB I – PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................
B. Referesi Bangunan yang Ramah Lingkuungan ...................
C. Rumusan Masalah ......................................................................
D. Tujuan dan Sasaran ...................................................................
E. Metode Penelitian ......................................................................

BAB II – BAHAN BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN


A. Trend Green Disgn.....................................................................
B. Pemilihan Material Bahan Bangunan Ramah Lingkungan
C. Contoh Bahan Bangunan Ramah Lingkungan ....................

BAB III – PENUTUP


A. Kesimpulan..................................................................................
B. Rekomendasi ..............................................................................

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................

Ilmu Bahan Bangunan ii


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan yang terus berjalan telah banyak menghabiskan sumber
daya alam dan mengakibatkan kerusakan-kerusakan pada alam. Dan tidak
jarang juga pembangunan tersebut mempunyai pengaruh negatif secara
sosial-ekonomi pada daerah itu sendiri. Dengan semakin berkembangnya
budaya dan teknologi, kebutuhan manusia akan terus berkembang,
sementara daya dukung alam tidak semakin baik Menghadapi masalah ini
diperlukan usaha-usaha untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dan
alam tetapi kebutuhan manusia juga tetap dipenuhi dengan baik. Salah satu
cara terwujudnya tujuan diatas adalah dengan menerapkan pembangunan
infrastruktur yang memenuhi kriteria Green Building dalam pemilihan material
yang tepat bagi pembangunan yang terus berjalan ini. Selain dapat
menghemat sumber daya alam yang dipakai, juga berakibat positif bagi
pemakai bangunan. Karena pemakai bangunan dan alam ditempatkan dalam
posisi yang sama saat pengambilan keputusan.
Menurut Green building Council Indonesia (GBCI), Green Building adalah
bangunan baru ataupun bangunan lama, yang direncanakan dibangun, dan
dioperasikan dengan memperhatikan faktor-faktor keberlanjutan lingkungan.
Green building merupakan bagian dari sustainable building yang bertujuan
untuk meningkatkan nilai suatu bangunan yang berfungsi keseluruhan, baik
bangunan atau penghuni untuk lingkungan. Green building, tidak hanya
mengenai bangunan dengan banyak taman atau tanaman, namun juga
mengenai tahapan sumber, produksi, penggunaan produk serta
pembuangan. Green material mengambil material produksi lokal, dengan
maksimal jarak hanya 1000 kilometer. Dan penggunaan material ramah
lingkungan dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu pemanfaat material lokal
dan pemanfaatan bahan daur ulang.
Konsep pembangunan arsitektur hijau (Green Building Architecture)
menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi, dan
material bangunan, mulai dari desain, pembangunan, hingga pemeliharaan

Ilmu Bahan Bangunan | 1


bangunan usai pembangunan. Pada umumnya, desain rancang bangunan
ramah lingkungan memerhatikan banyak bukaan untuk memaksimalkan
sirkulasi udara dan cahaya alami. Dengan demikian, pembangunan ramah
lingkungan dapat diketakan sebagai bangunan yang hemat energi dimana
sistem bangunan didesain sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi
pemakaian listrik untuk pencahayaan dan tata udara. Sedikit mungkin
menggunakan penerangan lampu dan pengondisi udara pada siang hari.
Disamping itu, desain bangunan hemat energi berorientasi pada membatasi
lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan
bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan. Dan untuk atap-
atap bangunannya, banyak dikembangkan menjadi taman atap (roof garden,
green roof) yang memiliki nilai ekologis tinggi (suhu udara turun, pencemaran
berkurang, ruang hijau bertambah).
Pemanfaatan material bekas atau sisa (daur ulang) untuk bahan renovasi
bangunan dapat menghasilkan bangunan yang indah dan fungsional.
Sebagai contoh; kusen, daun pintu atau jendela, kaca, teraso, hingga tangga
dan pagar besi bekas masih bisa dirapikan dengan memberi sentuhan baru
yang dapat menciptakan kesan indah pada bangunan. Selain itu, kini telah
terdapat terobosan baru dalam dunia konstruksi mengenai penggunaan
material struktur dengan limbah sebagai salah satu komponennya, seperti
pemakaian flyash, silica fume pada beton siap pakai dan beton pra cetak.
Tidak hanya itu, pada sistem pelaksanaan konstruksi juga memperkenalkan
material yang mengurangi ketergantungan dunia konstruksi pada pemakaian
material kayu sebagai perancah. Dengan melakukan pemanfaatan material
hasil daur ulang dalam pembangunan infrastruktur dapat menekan biaya
pengeluaran yang melonjak seiring berjalannya waktu mengingat material
yang diproduksi sangat terbatas jumlahnya. Walaupun begitu, kualitas
material yang didapat dari proses daur ulang tersebut tetap bagus dan kuat.

Ilmu Bahan Bangunan | 2


B. Referensi Bangunan yang Ramah Lingkungan

C. Rumusan Masalah
Sejalan dengan latar belakang masalah di atas, kami merumuskan rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep tren green design itu?
2. Bagaimana memilih material bahan bangunan yang ramah lingkungan?
3. Apasajakah contoh dari material bahan bangunan yang ramah
lingkungan?

D. Tujuan dan Sasaran

Tujuan dan sasaran dari penulisan makalah ini adalah untuk


menjelaskan kepada para pembaca tentang bahan bangunan yang ramah
lingkungan, agar para pembaca dapat mengetahui tentang apa sajakah
bahan-bahan bangunan yang ramah lingkungan itu.

E. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan langkah penting di dalam penyusunan
makalah, khusnya pada materi bahan bangunan yang ramah lingkungan ini.
Di dalam kegiatan penyusunan makalah ini, kami melakukan pengumpulan
data melalui cara:
1. Pengambilan bahan materi dari situs-situs internet
Dalam penulisan makalah ini, untuk mendapatkan informasi tentang
bahan bangunan yang ramah lingkungan, maka kami melakukan suatu
metode pengambilan bahan materi melalui situs-situs internet terpercaya,
yang berhubungan dengan materi “bahan bangunan yang ramah
lingkungan” tersebut.

2. Pengambilan dari reverensi buku-buku


Selain mengambil data/informasi dari situs internet, kami juga
mengambil data/informasi dari reverensi buku-buku yang berhubungan
dengan bahan bangunan yang ramah lingkungan. Dengan tujuan, untuk
melengkapi data yang ada.

Ilmu Bahan Bangunan | 3


BAB II
BAHAN BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN

A. Tren Green Design

Earth Advantage mengidentifikasi 10 tren gedung berwawasan


lingkungan terbaik tahun ini. Tren ini hasil masukan dari berbagai pihak
seperti pemerintah, pengembang, arsitek, broker properti, termasuk para
pemilik rumah. Tren ini mencakup tren penggunaan perabot pintar (smart
appliances), analisis masa pakai bahan bangunan, serta pemanfaatan energi
berbasis komunitas yang makin terjangkau oleh masyarakat.

1. Tren “hijau” kini semakin terjangkau

Masih banyak yang mengaitkan tren ramah lingkungan dan bangunan


hemat energi dengan biayanya yang mahal. Kini tidak lagi. Teknologi
ramah lingkungan dan bahan baku berkualitas tinggi semakin murah dan
mudah didapat. Audit energi yang murah dan gratis banyak tersedia.
Pemilik rumah semakin sadar atas manfaat modifikasi hemat energi yang
simpel dan murah. Program Solar City di AS memungkinkan pemilik rumah
memasang panel surya tanpa uang muka. Program lain seperti Habitat for
Humanity menyediakan rumah ramah lingkungan sesuai dengan standar
sertifikasi LEED dan Energy Star dengan harga terjangkau (US$100.000).

2. Tren kompetisi penghematan energy

Anda bisa menciptakan kompetisi hemat energi di berbagai jejaring


sosial seperti Facebook, Twitter atau jejaring media lain. Ajak teman-teman
Anda bergabung dalam kompetisi ini. Earth Aid misalnya, menggelar
program yang memungkinkan Anda melacak penggunaan energi di
rumah dengan sponsor toko-toko ritel lokal. Anda juga bisa berbagi dan
menemukan info cara penghematan energi paling efektif di Earth Aid.
Didukung program dari Kementrian Energi AS seperti program Home
Energy Score dan program Energy Performance Score di Oregon dan
Washington, penduduk AS kini bisa saling membandingkan konsumsi
Ilmu Bahan Bangunan | 4
energi dan menemukan cara penghematan energi terbaik bagi rumah
mereka.

3. Tren peraturan energi berbasis kinerja (performance-based energy codes)

Penggunaan energi bisa tak terkontrol tanpa adanya peraturan


pemerintah. Untuk itu, dibutuhkan regulasi yang mengatur standar
pemakaian energi untuk peralatan rumah tangga seperti pemanas maupun
pendingin ruangan. Hal ini penting bagi para pemilik bangunan yang ingin
memodifikasi bangunan mereka menjadi bangunan ramah lingkungan.
Pemilik bangunan bisa memilih strategi hijau yang paling efektif bagi
bangunan dan penghuninya namun mereka juga harus memenuhi target
minimal penghematan energi dan melaporkan pemakaian energi mereka
selama satu tahun ke lembaga terkait. Kota Seattle dan New Building
Institute bekerja sama dengan Preservation Green Lab dari National Trusts
telah menciptakan dan memraktekkan peraturan hijau ini bagi gedung
lama maupun baru.

4. Tren energi terbarukan berbasis komunitas (Community Renewable


Energy)

Kini, banyak komunitas yang telah bekerja sama mendapatkan energi


surya dengan harga terjangkau. Membeli panel surya secara berkelompok
bisa mengurangi biaya instalasi dan produksi hingga 15-25%.

5. Tren perabot pintar (Smart Appliances)

Dengan memanfaatkan teknologi pengukuran pintar (smart meters),


pemilik gedung bisa mendapatkan tips cara menghemat energi pada jam-
jam sibuk. Pemilik gedung juga bisa mengetahui kebutuhan energi setiap
perabot yang mereka pakai. Pihak pabrikan banyak yang telah menerapkan
teknologi pengatur waktu dan pengatur konsumsi energi canggih di
produk mereka sehingga pemakaian energi bisa semakin dikontrol.

Ilmu Bahan Bangunan | 5


6. Tren berbagi ruang

Saat krisis ekonomi, banyak penyewa gedung yang memodifikasi


bangunan mereka sehingga bisa dihuni lebih banyak orang. Bangunan
kecil tambahan yang bisa dimanfaatkan sebagai kantor, studio, atau
disewakan itu memenuhi syarat ideal sebuah bangunan yang hemat
energi dan berwawasan lingkungan. Bangunan tambahan ini bisa
memaksimalkan penggunaan ruang di perkotaan dan memberikan nilai
tambah bagi pemilik bangunan. Kota-kota seperti Portland, Oregon, dan
Santa Cruz, California, membebaskan biaya administrasi bagi bangunan-
bangunan seperti ini.

7. Tren penyekatan bangunan secara optimal

Teknologi saat ini memungkinkan bangunan disekat sedemikian rupa


sehingga tidak ada energi yang keluar. Desain ini sangat cocok bagi negara
yang memiliki empat musim. Saat musim dingin, bangunan yang memiliki
sekat sempurna dipanaskan oleh aktifitas dalam ruang tanpa harus
menggunakan pemanas elektrik. Bangunan yang memiliki sekat dalam
sistem pemanas atau pendingin yang baik bisa menghemat energi dan
biaya pemanasan atau pendinginan gedung. Konsep ini sesuai dengan
sertifikasi Energy Star. Bangunan juga bisa menggunakan sistem pemanas
atau pendingin yang berasal dari panas bumi (geothermal) yang lebih
ramah lingkungan.

8. Tren daur ulang air limbah

Air semakin sulit didapat. Di beberapa wilayah seperti di bagian barat


laut AS dan bagian selatan California, sistem daur ulang air semakin
populer. Dengan mendaur ulang air kita bisa menghemat penggunaannya
dan bisa mengurangi limbah. Walaupun beberapa kota masih enggan
menggunakan air hasil daur ulang (grey water), namun sejumlah negara
telah memanfaatkannya bahkan untuk irigasi. Singapura adalah negara di
Asia yang mendaur ulang air limbahnya untuk digunakan pada kebutuhan
sehari-hari.

Ilmu Bahan Bangunan | 6


9. Tren sertifikasi gedung-gedung kecil

Sebanyak 95% gedung-gedung komersial di AS memiliki luas di bawah


4.645 m2. Namun bangunan yang memiliki sertifikasi LEED (Leadership in
Energy & Environmental Design) biasanya memiliki ukuran yang jauh lebih
besar. Hal ini karena biaya sampingan untuk sertifikasi seperti biaya komisi,
rancang bangun energi (energy modeling), pendaftaran proyek , dan biaya
administrasi lain masih sangat besar sehingga biaya sertifikasi ini menjadi
sangat mahal bagi pemilik dan pengembang gedung kecil. Program
sertifikasi yang didesain khusus bagi gedung-gedung kecil kini semakin
marak seperti Earthcraft Light Commercial dan Earth Advantage
Commercial.

10. Tren analisis masa pakai (Lifecycle Analysis/LCA)

Memahami masa pakai bahan bangunan dan efeknya dari pabrikan


hingga ke pembuangan sangat penting bagi pengembang berwawasan
lingkungan. Dengan memahami prinsip masa pakai tersebut, industri
konstruksi bisa memelajari efek bahan-bahan bangunan itu dimulai dari
produksi hingga ke pembuangannya.

Analis bisa meneliti dampak dari bahan-bahan bangunan itu


sepanjang masa pakainya dengan menggunakan berbagai indikator
lingkungan seperti efeknya terhadap polusi air dan udara, energi yang
dibutuhkan untuk memroduksi bahan bangunan, dan efek dari limbah
bahan bangunan itu terhadap lingkungan dan pemanasan global. Hasil
dari analisis ini membantu arsitek merancang bangunan yang benar-benar
“hijau” atau berwawasan lingkungan.

Ilmu Bahan Bangunan | 7


B. Pemilihan Material Bahan Bangunan Ramah Lingkungan

Bahan Bangunan Ramah Lingkungan adalah bahan bangunan yang


proses perubahan transformasi atau teknologinya makin sedikit, tidak merusak
lingkungan, dan tidak mengganggu kesehatan manusia.

Penggunaan material lokal justru akan lebih menghemat biaya (biaya


produksi, angkutan). Kreativitas desain sangat dibutuhkan untuk
menghasilkan bangunan berbahan lokal menjadi lebih menarik, keunikan
khas lokal, dan mudah diganti dan diperoleh dari tempat sekitar. Perpaduan
material batu kali atau batu bata untuk fondasi dan dinding, dinding dari kayu
atau gedeg modern (bambu), atap genteng, dan lantai teraso tidak kalah
bagus dengan bangunan berdinding beton dan kaca, rangka dan atap baja,
serta lantai keramik, marmer, atau granit. Motif dan ornamen lokal pada
dekoratif bangunan juga memberikan nilai tambah tersendiri.

Pemanfaatan material bekas atau sisa untuk bahan renovasi bangunan


juga dapat menghasilkan bangunan yang indah dan fungsional. Kusen, daun
pintu atau jendela, kaca, teraso, hingga tangga dan pagar besi bekas masih
bisa dirapikan, diberi sentuhan baru, dan dipakai ulang yang dapat
memberikan suasana baru pada bangunan. Lebih murah dan tetap kuat.

Bahan bangunan ramah lingkungan dapat digolongkan dalam 4 , yaitu:

1. Bahan bangunan yang dapat di budayakan kembali, seperti kayu,


bambu, rotan, rumbia, alang-alang.
2. Bahan bangunan alam yang dapat digunakan kembali, seperti tanah,
pasir, kapur, batu.
3. Bahan buatan yang dapat digunakan kembali dalam fungsi yang
berbeda, yang didapat dari limbah/sampah dari perusahaa indutri,
seperti kardus, kertas , kaleng, dan botol bekas.
4. Bahan bangunan alam yang mengalami perubahan transformasi
sederhana,seperti batu bata, genteng, tanah liat.

Ilmu Bahan Bangunan | 8


Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut menurut I
Putu Gede Andy Pandy :
1. Tidak beracun sebelum maupun sesudah digunakan.
2. Dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya
bagi lingkungan.
3. Dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin
dekat dengan alam karena kesan alami dari material
tersebut (misalnya bata mengingatkan kita pada tanah, kayu pada
pepohonan)
4. Bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan
ongkos atau proses memindahkan yang besar, karena menghemat
energi BBM untuk memindahkan material tersebut ke lokasi
pembangunan).
5. Dapat terurai dengan mudah secara alami

Material yang ramah lingkungan menurut kriteria diatas misalnya; batu


bata, semen, batu alam, keramik lokal, kayu, dan sebagainya. Ramah
lingkungan atau tidaknya material bisa diukur dari kriteria tersebut atau dari
salah satu kriteria saja, seperti kayu yang makin sulit didapat, tapi bila dipakai
dengan hemat dan benar bisa membuat kita merasa makin dekat dengan
alam karena mengingatkan kita pada tumbuh-tumbuhan.

Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan
baku utama dalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam
mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan.

Untuk kerangka bangunan utama dan atap, kini material kayu sudah
mulai digantikan material baja ringan. Isu penebangan liar (illegal logging)
akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan
berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan
terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi. Peran kayu pun perlahan
mulai digantikan oleh baja ringan dan aluminium.

Baja ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas


tergantung dari bahan bakunya. Rangka atap dan bangunan dari baja
memiliki keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur,
Ilmu Bahan Bangunan | 9
mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan
fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan
kalkulasi teknik sipil.

Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan


aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium
memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan
zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern),
dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat
energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti
sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk,
dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).

Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan


baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur,
semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap
tekanan tinggi, daya serap air rendah, kedap suara, dan menyerap panas
matahari secara signifikan.

Kehalusan permukaan dan warna bahan bangunan sangat


menentukan iklim mikro di sekitar bangunan, warna cerah dan permukaan
licin adalah pemantul sinar matahari yang baik dan menaikkan suhu sekitar.
Warna gelap dan permukaan kasar akan membantu meredam dan menyerap
sinar dan panas matahari. Bahan bangunan berpori mudah meluncurkan
panas dan meluncurkannya kembali jika suhu udara disekitarnya menurun.
Sangat bijaksana jika memanfaatkan bahan-bahan bangunan alami seperti
aslinya untuk pelapis dinding dan lantai luar.

Di samping itu diperlukan teknik insulasi yang baik untuk meredam


pancaran panas genteng ke ruang di bawahnya (kasur ijuk sangat baik
sebagai isolasi atap di bawah genteng daripada nylon wool). Dalam ruang
atap yang tertutup rapat, terjadi udara yang lebih panas dari sinar matahari
atau suhu udara luar. Panas pada ruang atap akan dipancarkan ke bawah ke
langit-langit dan dipancarkan lagi ke ruang fungsional di bawahnya.

Ilmu Bahan Bangunan | 10


Dalam hal sanitasi, septic tank dengan penyaring biologis (biological
filter septic tank) berbahan fiberglass dirancang dengan teknologi khusus
untuk tidak mencemari lingkungan, memiliki sistem penguraian secara
bertahap, dilengkapi dengan sistem desinfektan, hemat lahan, antibocor atau
tidak rembes, tahan korosi, pemasangan mudah dan cepat, serta tidak
membutuhkan perawatan khusus.

Kotoran diproses penguraian secara biologis dan filterisasi secara


bertahap melalui tiga kompartemen. Media kontak yang dirancang khusus
dan sistem desinfektan sarana pencuci hama yang digunakan sesuai
kebutuhan membuat buangan limbah kotoran tidak menyebabkan
pencemaran pada air tanah dan lingkungan.

Ikllim mikro di sekitar bangunan perlu dikendalikan dengan


memanfaatkan tanaman hijau yang berdaun gelap dan lebat. Sangat ideal
jika 30% – 70% volume ruang lahan bangunan terisi tanaman hijau dan 30%
– 70% luasan permukkaan tanah tidak ditutupi material keras.

C. Contoh-Contoh Bahan Bangunan Yang Ramah Ligkungan

BAHAN LANTAI

 Tempurung Kelapa

Gambar 1.1. Tempurung Kelapa Gambar 1.2. Hasil Pengolahan

Ilmu Bahan Bangunan | 11


Tempurung Kelapa

Salah satu bagian pohon kelapa yang pada saat ini belum banyak
digunakan adalah tempurung kelapa (batok) kelapa. Tempurung kelapa
yang banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional dari sisa pemecahan buah
kelapa saat ini sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar.
Sebenarnya, tempurung kelapa (atau sisa berupa pecahan-pecahan) dapat
ditingkatkan kualitasnya menjadi bahan yang lebih bermanfaat dibanding
hanya sebagai bahan bakar saja. Oleh karena itu melalui rekayasa yang
tepat, maka tempurung kelapa dapat dibentuk menjadi mozaik ubin bahan
bangunan yang antik, unik, alami dan menarik

 SPESIFIKASI TEMPURUNG KELAPA


 Mempunyai bentuk asli berupa serat – serat serabut
 Cukup empuk dan hangat
 Bersifat sedikit tembus pandang sehingga terlihat pengisinya
 Mampu menyerap panas
 Cukup baik untuk aplikasi akustik (menyerap bunyi karena rongga
pada serat)
 Tahan air

 PENGOLAHAN TEMPURUNG KELAPA

Tempurung kelapa mempunyai serat yang kasar sehingga dalam


proses pembuatannya dapat menghasilkan sebuah proses yang solid dan
kemudian untuk lapisan terluarnya dihaluskan agar dapat digunakan
sebagai tempat berpijak. Dalam pengolahan serat kelapa tersebut, serat
dibersihkan dan direbus di dalam campuran cairan kimia. Hasil rebusan
dituang ke dalam sebuah cetakan yang kemudian di press dan didinginkan
beberapa hari. Jika telah dingin dan kaku, bahan tempurung (serat) kelapa
siap digunakan sebagai bahan (material) lantai.

Ilmu Bahan Bangunan | 12


 PENERAPAN TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI LANTAI

Tempurung kelapa yang telah dibersihkan dari serabutnya


(berwarna hitam mengkilat) dapat dijadikan ornamen yang sangat
menarik. Tidak hanya dapat digunakan sebagai perabot rumah, tetapi
dapat ditingkatkan sebagai ornamen lain. Tempurung kelapa juga bisa
digunakan untuk hiasan pada lantai parket, gasper, bingkai foto, tempat
lampu, arang balok dan talam.

Dengan menggunakan teknologi rekayasa yang tepat (telah


dijelaskan diatas), maka serat – serat dari tempurung kelapa ini dapat diolah
sebagai bahan dasar lantai.

 PEMASANGAN LANTAI TEMPURUNG KELAPA


6. Pada dasar tanah dibuat tulangan lantai seperti biasanya.
7. Lantai tempurung kelapa yang sudah jadi dalam bentuk lembaran,
dipasang pada tulangan tersebut.
8. Karena pada lembaran lantai tersebut sudah terdapat lock-nya, tidak
perlu diberi nat pada sela – sela lantai.
9. Jika digunakan untuk ruang yang sering dilewati oleh pengguna,
sebaiknya dibentuk menjadi sebuah mozaik agar lebih indah.

 KAJIAN PENERAPAN TEMPURUNG KELAPA PADA LANTAI

Tempurung kelapa mempunyai serat yang kasar sehingga dalam


proses pembuatannya dapat menghasilkan sebuah proses yang solid dan
kemudian untuk lapisan terluarnya dihaluskan agar dapat dipakai untuk
tempat berpijak. Bahan ini dapat dikatakan lebih efektif daripada lantai
kayu maupun keramik karena lebih mudah didapatkan (banyak terdapat
pohon kelapa di Indonesia, dimana setiap pohon dapat menghasilkan
banyak tempurung kelapa) sehingga dapat menghemat biaya dan juga
mengurangi beban energi yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk
pabrikan tersebut.

Ilmu Bahan Bangunan | 13


Serat kelapa juga dapat menyerap panas dengan baik sehingga lantai
dapat tetap terasa hangat di malam hari (karena panas siang ditahan di
dalam serat tempurung kelapa) dan pada siang hari bahan ini menyerap
panas ruangan sehingga dapat menurunkan suhu ruangan.

Secara teknis, serat pada tempurung kelapa yang kasar dapat mencegah
meresapnya air ke dalam struktur lantai yang dapat mengakibatkan
kerusakan pada struktur tersebut. Jika telah dihaluskan, serat kelapa
mempunyai lapisan yang cukup baik dalam memantulkan cahaya dan juga
dapat menyerap panas dengan baik sehingga lantai dapat tetap merasa
hangat di malam hari dan pada siang hari bahan ini menyerap panas
ruangan sehingga dapat menurunkan suhu ruangan.

 KELEBIHAN PENERAPAN TEMPURUNG KELAPA PADA LANTAI


 Tahan air dan jamur
 Lebih lunak
 Mampu memantulkan cahaya dengan baik
 Mampu menyerap panas ruangan dan melepaskannya lagi
mengurangi penggunaan pendingin ruangan di siang hari

 KEKURANGAN PENERAPAN TEMPURUNG KELAPA PADA LANTAI


 Cukup rumit dalam pembuatan lantai jenis ini

Ilmu Bahan Bangunan | 14


 Linoleum

Gambar 1.3. Pemasangan Linoleum

www.scgh.com

Orang sering menggunakan kata "linoleum" untuk merujuk ke lantai


vinyl. Tapi dari perspektif lingkungan, dua produk ini kutub terpisah. Lantai
vinil adalah produk berbasis petrokimia yang memproduksi dioksin yang
sangat beracun ketika itu sedang diproduksi dan dapat memberikan off
phthalates, bahan kimia yang dapat menyebabkan kerusakan pada sistem
reproduksi manusia dan hewan.

Kuno linoleum, di sisi lain, tidak mengandung vinyl. Ini terbuat dari
minyak biji rami direbus (dari biji rami) dicampur dengan bubuk gabus,
tanah serbuk gergaji, dan getah pinus, serta mineral seperti batu kapur
tanah, seng, dan pigmen. Ini biasanya memiliki dukungan goni dan selesai
akrilik.

Meskipun sudah ada selama seratus tahun, linoleum sebagian besar


digantikan oleh vinil lantai lebih murah pada tahun 1960. Sekarang kembali
dalam mode sebagai tahan lama lantai ramah lingkungan. Linoleum
datang dalam puluhan warna dan pola, dan tahan lama, mudah untuk

Ilmu Bahan Bangunan | 15


tetap bersih, dan biodegradable. Ia juga memiliki sifat antibakteri, yang
membuatnya populer untuk fasilitas kesehatan.

Cara merawat linoleum dan vinyl sangat mirip dengan memelihara


lantai kayu, karena kedua bahan memiliki kemiripan dengan
kayu. Meskipun vinyl dan linoleum awet dan tahan lama, keduanya juga
rentan terhadap kelembaban. Jika anda teratur membersihkan dan
memolesnya, maka anda akan memperpanjang masa pakai dan mencegah
gelembung, retak dan kerusakan lainnya.

Apa yang anda butuhkan untuk merawat lantai vinil dan lenoleum ?
 sapu atau vacuum
 pel
 sabun
 kain bersih
 sikat nilon
 polyurethane berbasis air
 kayu pengaduk
 kuas cat
 akrilik lantai sealer (untuk lantai linoleum saja)

Ilmu Bahan Bangunan | 16


 Lantai Bambu

Gambar 1.4. Lantai Bambu

http://www.ciputraentrepreneurship.com/green-property-tips/lantai-bambu-indah-sekaligus-ramah-lingkungan

Lantai kayu dapat memberi kesan eksotis bagi interior keseluruhan


rumah. Namun perlu Anda ketahui bahwa rumah berlantai kayu tidaklah
sesuai dengan kondisi lingkungan sekarang ini, terutama dengan konsep
green property atau green interior. Pikir dua kali jika Anda ingin punya
rumah berlantai kayu. Perhatikan kondisi hutan di Indonesia. Pembalakan
liar dan kebakaran hutan terjadi di mana-mana. Hutan hujan Indonesia
adalah salah satu paru-paru dunia. Jika Anda menggunakan kayunya
hanya untuk memperindah rumah, itu sama saja dengan Anda turut
berpartisipasi dalam kerusakan lingkungan.

Ada material lain yang lebih ramah lingkungan ketimbang kayu,


karena persediaannya di bumi ini belum langka. Material yang dimaksud
adalah bambu. Bambu adalah material yang kuat dan tahan lama. Bambu
juga dapat membuat lantai Anda terlihat menarik seperti halnya lantai
kayu. Selain itu bambu juga lebih murah, sehingga akan menghemat uang
Anda.

Ilmu Bahan Bangunan | 17


Bambu yang dapat dipakai untuk lantai rumah adalah yang sudah
berusia 4 hingga 6 tahun. Bambu adalah tanaman yang tumbuhnya
paling cepat. Bahkan ada bambu yang dapat tumbuh 24 inci atau 60 cm
dalam satu hari. Bambu adalah sumber daya alam yang terbarukan dan
dapat dihasilkan dalam jumlah besar. Bambu biasanya digunakan untuk
membuat anyaman furnitur atau dibuat sebagai bahan baku pembuat pulp
kertas. Bambu alami umumnya tahan hama, sehingga dapat
dibudidayakan secara organik. Selain itu bambu juga tidak menguras nutrisi
tanah. Sebaliknya, justru menambah kesuburan tanah.

Ada empat jenis lantai bambu. Yang pertama adalah lantai bambu
khusus bangunan. Lantai ini terbuat dari pinus yang dilapisi bambu. Jenis
kedua adalah lantai bambu horizontal. Lantai bambu semacam ini dibuat
dari lembaran papan bambu yang dilapisi dan direkatkan satu sama lain.
Lantai bambu ini memiliki galur-galur serat bambu yang khas. Jenis
berikutnya adalah lantai bambu vertikal. Lantai bambu semacam ini dibuat
dengan memasang tiga bilah bambu, dan merekatkannya dengan lem.
Cara terakhir untuk membuat lantai bambu adalah dengan membuat
anyaman. Ini adalah cara yang paling ramah lingkungan. Lantai ini dibuat
dengan memotong tangkainya, mengeringkannya, lalu memanaskannya.
Bambu perlu dipanaskan untuk menguapkan glukosa yang terdapat di
dalamnya. Selanjutnya batang-batang bambu dikompresi dengan tekanan
tinggi. Cara ini akan menghasilkan bilah bambu yang lebih bersih dan dua
kali lebih padat.

Lantai bambu yang ada sekarang ini terdiri atas berbagai macam
warna dan tekstur. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal untuk interior
Anda, carilah lantai bambu yang teksturnya sesuai. Lantai bambu juga
mudah dipasang. Ada beberapa cara memasang lantai bambu. Misalnya
dengan menempelkannya langsung ke cor beton, memasukkannya pada
celah lantai dengan gaya mengambang, atau dapat juga dengan cara
memakunya atau menjepitkannya ke lantai.

Negara-negara di Asia khususnya China, telah banyak memproduksi


lantai rumah yang terbuat dari bambu. Mereka juga telah membangun

Ilmu Bahan Bangunan | 18


industri-industri khusus untuk meningkatkan pertanian bambu. Sekarang
ini di Asia ada puluhan perusahaan terakreditasi yang menawarkan lantai
bambu. Lantai bambu memiliki kelebihan lain, ia mudah dibersihkan dan
Anda tidak perlu sering-sering mengamplasnya.

Jika lantai bambu dipelihara dengan baik, fungsi dan ketahanannya


akan menyerupai ketahanan lantai kayu. Lantai bambu sama kuat dan
sama indahnya seperti lantai kayu. Jadi, sebelum mulai membeli dan
memasang lantai kayu, ada baiknya jika Anda mempertimbangkan untuk
menggunakan material lantai yang lebih ramah lingkungan, yaitu bamboo

Bahan Dinding

 Kertas Bekas (Papercrate)

Gambar 2.1.Batako dari Kertas Bekas

Kertas bekas yang dimaksud disini adalah berupa kertas yang


mempunyai tekstur kasar seperti kertas Koran atau kardus, yang dihancurkan
menjadi semacam bubur kertas dan diolah lagi menjadi bata kertas agar
dapat digunakan untuk penggunaan lebih lanjut sebagai material bahan
bangunan.

Ilmu Bahan Bangunan | 19


 SPESIFIKASI KERTAS BEKAS (PAPERCRATE)
 Mempunyai massa dan berat yang sangat ringan.
 Bersifat lembek, sehingga mudah dibentuk.
 Cukup kuat dalam menahan gaya vertical.
 Mempunyai bentuk yang ramping, sehingga memudahkan dalam
pengemasan dan distribusinya.
 Tidak mengandung racun, karena tidak menggunakan cairan kimia
yang berbahaya.

 PENGOLAHAN KERTAS BEKAS (PAPERCRATE)


Kertas bekas khususnya yang berbahan Koran (mempunyai
serat yang kasar) kemudian di campurkan dengan air dan semen
dengan kisaran perbandingan antara kertas:air:semen adalah 6:2:2.
Setelah tercampur, bubur kertas tersebut dicetak sesuai keinginan
(biasanya dicetak dalam bentuk ukuran batu bata), kemudian
dikeringkan sehingga menjadi sebuah “bata” yang terbuat dari
kertas dan siap digunakan.
Bahan kertas sudah dapat dipastikan ramah lingkungan karena
dapat mengurangi pembuangan sampah kertas dan juga
meningkatkan kualitas dan kuantitas daur ulang kertas menjadi
sebuah bahan dinding.

Gambar 2.2. Dinding papaercrate dapat memiliki bukaan yang lebar

Ilmu Bahan Bangunan | 20


 PENERAPAN KERTAS BEKAS
Kertas bekas yang sering kita temui sehari – hari dapat diolah
menjadi berbagai macam kerajinan tangan ataupun ornamen –
ornamen. Namun, dengan teknologi rekayasa yang tepat maka
kertas ini dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan dinding
bangunan, tetapi tentunya untuk skala bangunan kecil atau
bangunan berlantai 1. Secara teknis, bahan kertas akan mudah
menyerap dan mengeluarkan panas di dalam ruangan dan juga
mampu meredam di ruang luar atau ruang – ruang yang sering
terkena air karena akan merusak kompisisi campuran (semen, air,
dan kertas) dari dinding kertas tersebut, meskipun dalam
penerapannya, dinding kertas ini biasanya sudah dilapisi semen atau
diplester bagian terluarnya.

 PEMASANGAN KERTAS BEKAS (PAPERCRATE) PADA DINDING


 “Bata” dari kertas bekas yang sudah siap digunakan di pasang
selayaknya memasang batu bata pada dinding – dinding
konvensional seperti biasa.
 Kemudian, bata kertas tersebut direkatkan dengan
menggunakan campuran semen dan air, tetapi dengan
perbandingan semen yang lebih rendah, yaitu perbandingan
semen:air adalah 2:6.
 Sebelum diberi finishing seperti plester atau acian, dinding
kertas dikeringkan dan didiamkan pada suhu lebih dari 30
derajat celcius selama satu hari penuh.

Ilmu Bahan Bangunan | 21


Gambar 2.3. Rumah yang dindingnya terbuat dari bahan pepercrate

Pada saat pengolahan kertas bekas ini (atau biasa disebut dengan papercrate) kertas
yang digunakan adalah kertas dengan serat kasar seperti kertas koran, karena kertas
dengan serat yang kasar akan mempunyai kekuatan mereka yang baik dibandigkan
dengan kertas biasa. Secara teknis kertas ini lebih optimal dalam menyerap panas
pada siang hari yang kemudian dilepas kembali pada malam hari. Sehingga
penggunaan pendingin ruangan pada siang hari dapat berkurang. Selain itu,
dengan menggunakan dinding kertas ekas ini maka secara tidak langsung kita juga
membantu mengurangi sampah–sampah kertas sehingga bahan ini dapat dikatakan
ramah lingkungan.

Gambar 2.4. Proses pemasangan papercrate pada dindig

Ilmu Bahan Bangunan | 22


 KELEBIHAN PENERAPAN KERTAS BEKAS (PAPERCRATE) PADA
DINDING
 Mampu menyerap panas
 Meredam suara / kebisingan
 Tidak mengandung racun
 Biaya produksi murah
 Daya kering yang cepat
 Penggunaan semen yang sedikit.

 KEKURANGAN PENERAPAN KERTAS BEKAS (PAPERCRATE) PADA


DINDING
 Tidak tahan lama terhadap air, apabila dinding jenis ini sering
terkena atau dialiri air, maka komposisi didalamnya akan rusak
dan dinding akan menjadi lemah serta mudah roboh .
 Butuh waktu yang relatif lama untuk mempersiapkan papercrate
ini hingga dapat digunakan sebagai material bangunan.

Ilmu Bahan Bangunan | 23


 Bambu Sebagai Tulangan Dinding

Gambar 2.5. Rumah dari bahan bambu

Bambu merupakan salah satu komoditas utama di Indonesia, yang biasanya


digunakan bahan untuk ornamen, kerajinan tangan, dan juga mebel. Namun,
dengan penerapan rekayasa – rekayasa ilmiah, bambu dapat berfungsi sebagai
bahan dasar dan utama dalam mendirikan sebuah bangunan.

 SPESIFIKASI BAMBU
 Mempunyai daya lentur yang tinggi
 Tahan panas dan tidak mudah terbakar
 Mempunyai ukuran yang berbeda – beda sehingga mampu
disesuaikan dengan kebutuhan
 Tumbuh cepat, sehingga tidak mengganggu ekosistem
lingkungan

Ilmu Bahan Bangunan | 24


 Tidak mengandung racun, karena langsung diambil dari alam

 PENGOLAHAN BAMBU

Sebelum digunakan sebagai bahan bangunan (khususnya


untuk nbahan dasar konstruktif atau structural) bambu sebelumya
direndam dalam cairan kimia (campuran antara air dan formalin)
selama 14 hari sebagai cara untuk mengawetkan dan membuat
bambu anti serangga dan juga tahan lama.kemudian bambu
dikeringkan di suhu yang cukup tinggi yaitu >350 C untuk
menghilangakan efek racun yang mungkin terdapat pada cairan
kimia tersebut.
Bambu dapat dikatakan hemat energi karena waktu serta
biaya pemasangan (penerapan di lapangan) yang relatif murah dan
singkat dibanding dinding dengan bahan dasar beton bertulang.
Selain itu ketersediaan bambu di indonesia cukup melimpah dan
ramah lingkungan karena dapat di daur ulang, dan perawatannya
relatif mudah.

Gambar 2.6. Ruangan berbahan bambu

 PENERAPAN BAMBU SEBAGAI DINDING

Bambu biasa kita lihat sebagai ornament yang ditempelkan pada

Ilmu Bahan Bangunan | 25


dinding, dan biasa digunakan sebagi dinding dengan
menggunakan ikatan – ikatan pada ujung – ujungnya. Namun kali
ini yang akan dibahas adalah bambu sebagai pengganti dinding
beton melalui sebuah teknologi rekayasa.

Gambar 2.7. Penggantian bahan beton pada dinding menjadi berbahan bamboo

 PEMASANGAN DINDING BAMBU


 Antara kolom dengan kolom diberi tulangan – tulangan besi
seperti biasa
 Masukkan bambu dengan diameter 10mm – 12mm kedalam
tulangan tersebut
 Kemudian tulangan tersebut di cor beton
 Dapat ditambahkan anyaman bambu terlebih dahulu di dalam
cor - coran
 Diplester / di aci sesuai keinginan atau diekspose begitu saja

 KAJIAN PENERAPAN BAMBU PADA DINDING


Penggunaan bambu maupun anyaman bambu (gedhek) cukup
familiar bagi kita, bisa digunakan untuk dinding dalam maupun luar.
Biasanya untuk anyaman bambu digunakan bambu bagian kulitnya,
sebab ia cukup kuat terhadap cuaca, dan teksturnya bagus (licin dan

Ilmu Bahan Bangunan | 26


mengkilap). Dengan kelenturan yang dimiliki bambu maka dinding
rumah akan lebih tahan terhadap gaya – gaya horizontal seperti
angin, gempa, dan gaya – gaya horizontal lainnya. Dengan adanya
bambu didalam cor – coran beton, maka volume beton yang
digunakan akan berkurang dan menghemat biaya dan jumlah
semen yang digunakan. Racun yang mungin terdapat di dalam
semen dapat terhalangi oleh adanya anyaman bambu.
Bambu mampu mengendalikan suhu lebih baik dibandingkan
dengan beton leh karena itu penggunaan bambu tanpa beton
dapat lebih mengoptimalkan suhu didalam ruangan namun tidak
memiliki kekuatan sekuat bambu beton.
 KELEBIHAN PENERAPAN BAMBU PADA DINDING
 Mampu menstabilkan suhu
 Meredam suara / kebisingan
 Tidak mengandung racun
 Mengurangi konsumsi semen
 Mampu menahan getaran gempa dengan baik
 Menahan kerusakan (retak rambut) pada dinding

 KEKURANGAN PENERAPAN BAMBU PADA DINDING


 Bambu mempunyai ukuran yang tidak sama persis, sehingga
kemungkinan kekuatan di satu titik dan titik lainnya berbeda.
 Dalam pengolahannya (sebelum diaplikasikan) butuh waktu yang
lama.
 Tidak mampu menahan beban vertical dengan baik.

Ilmu Bahan Bangunan | 27


Bahan Atap

 Onduvilla

Gambar 3.1. Atap Onduvilla

Onduvilla produk impor dari Prancis yang ramah lingkungan karena


terbuat dari bahan cellulosa fiber dan bitumen yang menghasilkan atap yang
ringan dan berkualitas. Onduvilla satu-satunya produk yang terbuat dari
Cellulosa fiber yakni hasil daur ulang material yang menggunakan proses
berteknologi tinggi dan ditambah dengan bitumen organik yang
menghasilkan atap ramah lingkungan dan aman.

Onduvilla memiliki spesifikasi umum panjang 400 mm dan lebar 40 mm


dengan tinggi 40 mm, Karena terbuat dari cellulosa fiber, Onduvilla hanya
memiliki berat 1,27 kg. Harga pasarannya dipatok Rp 55 ribu per keping.
Onduvilla memiliki tiga bubungan dengan ukuran panjang 90 cm dan lebar
50 cm yang tersedia dalam berbagai warna seperti merah, hitam, coklat dan
hijau. Pemasangan Onduvilla dapat dilakukan pada rangka kayu atau baja.

Selain Onduvilla, sebelumnya Onduline juga sudah memasarkan


produk Onduline yang diimpor dari Italia. Onduline produk yang juga ramah
lingkungan berbentuk gelombang seperti seng.

Ilmu Bahan Bangunan | 28


Gambar 3.2. Rumah berbahan Onduvilla

 Aman dan Tidak Berisik


 Onduvilla ringan kurang dari 4 kg/meter persegi
 bebas dari asbes dan racun kimia lainnya
 Meredam suara ketika hujan dan meredam panas ketika suhu naik
sehingga penghuni rumah merasa sejuk
 Tahan terpaan angin sampai dengan kecepatan 192 km/h
 Kuat, mudah dan efisien dalam transportasi
 Banyak digunakan di gedung-gedung, rumah dan perkantoran

 Atap zincalume
Terbuat dari baja ringan mutu tinggi Hi-Ten G550 sebagai bahan
dasar kekuatan struktur dengan mutu yang konsisten dan merata dengan
tegangan maksimum 550 Mpa yang telah di proses pelapisan tahan karat, di
produksi dengan mesin khusus dengan tingkat presisi yang tinggi dan hasil
bentuk dimensi material yang lebih akurat.

Ilmu Bahan Bangunan | 29


Gambbar 3.3. Atap Zincalume

http://www.pabrikbesibeton.com/

Dengan menggunakan Rangka Atap Baja Ringan, rumah dan bagunan


anda menjadi Ramah Lingkungan, Anti Rayap, Kuat dan Tahan Lama, Tahan
Api, Lebih Cepat dalam pemasangan , Tahan Cuaca/Tahan Karat/Tahan
Korosi, Bebas Biaya Pemeliharaan dan bisa digunakan untuk berbagai macam
type genteng. Hal tersebut menjadi solusi yang efektif bagi masyarakat
Indonesia dalam menggunakan bahan-bahan bangunan yang ramah
lingkungan.

Gambar 3.4. Atap Zincalume

http://www.pabrikbesibeton.com/

Dalam memilih rangka atap baja ringan yang berkualitas, perlu


diperhatikan beberapa hal penting diantaranya mutu baja, karena ketebalan
profil baja ringan sangat tipis (yang beredar di Indonesia berkisar 0,5 sampai
1mm, bahan baja yang harus dipakai adalah baja mutu tinggi, umumnya

Ilmu Bahan Bangunan | 30


(standar) G550. Sertifikat atau hasil uji bahan baik dari mutu baja, ketebalan
profil, kadar lapisan anti karat (coating) menjadi syarat mutlak dalam
pemilihan produk atau merk baja ringan.

 Anyaman Atap daun Rumbia

Melibur (Mb) - Sebagai lambang Kabupaten Kepulauan Meranti


pohon Rumbia memiliki banyak manfaat, tumbuhan yang masih memiliki
hubungan erat dengan tumbuhan kelapa ini banyak di temukan di
Kabupaten Kepulauan Meranti. Dengan begitu banyak manfaat tidak salah
jika pohon Rumbia didaulat menjadi salah satu lambang dari Kabupaten
Kepulaun Meranti. Selain sebagai bahan makanan pokok, daun
pohon Rumbiajuga bisa di olah menjadi Bahan dasar pembuatan
anyaman Atap.

Gambar 3.5. Rumah berbahan daun rumbia

Di perkampungan suku pedalaman tepatnya di Kampung Suak Nipah


Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulaun Meranti, banyak ditemukan
kelompok-kelompok pengerajin anyaman Atap daun Rumbia. Dari data yang
diperoleh dari Moeda Mandiri Cyber Team di lapangan, dalam satu hari para

Ilmu Bahan Bangunan | 31


pengerajin bisa memproduksi 50-100 lembar perhari. Sebelum pembuatan
anyaman Atap para pengerajin terlebih dahulu mempersiapkan bahan-bahan
seperti : daun Rumbia kering, pohon linau/Pinang Merah, kulit pelepah
sebagai pengikat. Menurut pengerajin pemilihan daun sangat penting karena
akan mempengaruhi dalam pembuatan anyaman, daun yang dipilih harus
memiliki tekstur yang lembut dan tidak keras. Sebagai tulangan/batang ,
pengerajin menggunakan pohon Linau/Pinang Merah, jika pohon Linau sulit
didapat bisa digantikan dengan pohon Pinang dan pohon Nibung. Untuk
pemasaran pengerajin masih memasarkan produk hasil kerajinan didaerah
lokal seperti : Desa Bagan Melibur, Desa Mengkirau, Kelurahan Teluk Belitung,
Desa Hulu Asam, Desa Kengkam, Desa Pelantai dan desa-desa yang berada di
Kabupaten Kepulauan Meranti. Untuk pendapatan dalam sehari para
pengerajin bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari Rp.100,000-
Rp.300,000, dalam pembuatan kerajinan Atap ini pengerajin juga
menemukan kendala dan kesulitan dalam menerima pesanan dalam jumlah
besar. Karena bahan-bahan untuk pembuatan anyaman Atap sangat sulit
didapat dan para pengerajin harus melakukan pemesanan terlebih dahulu
dan perlu waktu dan biaya. Para pengerajin berharap adanya perhatian
pemerintah daerah setempat dalam pengembangan kerajinan anyaman Atap
baik dari segi modal dan pemasaran agar kerajianan Atap suku Asli Suak
Nipah dikenal luas.

Ilmu Bahan Bangunan | 32


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut Green building Council Indonesia (GBCI), Green Building
adalah bangunan baru ataupun bangunan lama, yang direncanakan
dibangun, dan dioperasikan dengan memperhatikan faktor-faktor
keberlanjutan lingkungan. Green building merupakan bagian dari sustainable
building yang bertujuan untuk meningkatkan nilai suatu bangunan yang
berfungsi keseluruhan, baik bangunan atau penghuni untuk lingkungan.
Green building, tidak hanya mengenai bangunan dengan banyak taman atau
tanaman, namun juga mengenai tahapan sumber, produksi, penggunaan
produk serta pembuangan. Green material mengambil material produksi lokal,
dengan maksimal jarak hanya 1000 kilometer. Dan penggunaan material
ramah lingkungan pemanfaatan bahan daur ulang.

B. Rekomendasi
Sebaiknya dalam pemilihan bahan bangunan dalam perancangan
berkelanjutan lebih mementingkan kualitas bahan bangunan yang baik dan
ramah lingkungan.

Ilmu Bahan Bangunan | 33


DAFTAR PUSTAKA

www.scgh.com

http://palembang.tribunnews.com/favicon.ico

https://www.academia.edu/9015306/Material_Ramah_Lingkungan

http://www.alpensteel.com/article/108-230-pemanasan-global/1661--pemilihan-
material-bangunan-yang-ramah-lingkungan.html

http://www.pabrikbesibeton.com/

http://www.melibur.com/2012/10/anyaman-atap-suku-pedalaman_24.html

http://www.ciputraentrepreneurship.com/green-property-tips/lantai-bambu-indah
sekaligus-ramah-lingkungan

http://www.slideshare.net/Yourie/recycle-in-architecture

http://www.hijauku.com/category/green-design

http://www.ideaonline.co.id/iDEA/Peralatan-dan-bahan-bangunan/Artikel/Bahan-
bangunan/Linoleum-Bahan-Pelapis-Lantai-Ramah-Lingkungan

http://www.alpensteel.com/article/108-230-pemanasan-global/1661--pemilihan-
material-bangunan-yang-ramah-lingkungan.html

http://www.hijauku.com/2011/01/27/top-10-green-building-trends-for-2011/

Ilmu Bahan Bangunan | 34


Keunggulan rumah bambu minimalis

Beberapa keunggulan yang dimiliki dari desain rumah bambu minimalis modern adalah
rumah yang tahan gempa, karena bambu merupakan material alami yang tahan gempa, selain
itu bambu juga mudah dibentuk menjadi bentuk yang diinginkan oleh seorang desainer.
Material bambu juga mudah untuk dimodifikasi atau melalui proses pabrikan sehingga bisa
dibuat model sesuai dengan yang dikehendaki. Selain itu persediaan bambu juga masih
banyak dan mudah didapat mengingat bambu memiliki waktu untuk dipanen yang singkat
dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tumbuh besar.

Ilmu Bahan Bangunan | 35


Ilmu Bahan Bangunan | 0