Anda di halaman 1dari 35

1

KAYU
A. PENGERTIAN KAYU

Kayu adalah bahan yang kita dapatkan dari tumbuh-tumbuhan (pohon-pohonan/trees) dan termasuk
vegetasi alam. Kayu mempunyai 4 unsur esensial bagi manusia antara lain:
1. Selulosa, unsur ini merupakan komponen terbesar pada kayu, meliputi 70 % berat kayu.
2. Lignin, merupakan komponen pembentuk kayu yang meliputi 18% - 28% dari berat kayu. Komponen
tersebut berfungsi sebagai pengikat satuan srtukturil kayu dan memberikan sifat keteguhan kepada
kayu.
3. Bahan-bahan ekstrasi, komponen ini yang memberikan sifat pada kayu, seperti : bau, warna, rasa,
dan keawetan. Selain itu, karena adanya bahan ekstrasi ini, maka kayu bisa didapatkan hasil yang lain
misalnya: tannin, zat warna, minyak, getah, lemah, malam, dan lain sebagainya.
4. Mineral pembentuk abu, komponen ini tertinggal setelah lignin dan selulosa terbakar habis.
Banyaknya komponen ini 0.2% - 1% dari berat kayu.

B. BAGIAN-BAGIAN POHON

Kayu berasal dari pohon, Pohon pada dasarnya sendiri terdiri dari Akar, Batang, Cabang, Ranting dan Daun.

AKAR adalah bagian dari pohon yang terletak pada bagian bawah yang umumnya berhubungan dengan
tanah. Ada dua system perakaran, yaitu Akar Serabut dan Akar Tunggang. yang berguna untuk
menyalurkan atau menghisap air, zat hara dan garam serta mineral-mineral dari dalam tanah (misalnya:
fosfor, kalsium, kalium, asam kersik dan lain-lain) untuk disalurkan ke daun untuk diproses. Selain itu pada
kasus- kasus tertentu akar juga digunakan sebagai alat pernafasan dan tempat penyimpan bahan makanan
cadangan.

BATANG adalah bagian pohon dimulai dari pangkal akar sampai ke


bagian bebas cabang. Batang berfungsi sebagai tempat tumbuhnya
cabang, ranting, tunas serta daun. Selain itu sebagai lalu lintas bahan
makanan dari akar ke daun melalui kulit dalam. Menurut
kegunaannya batang dapat digolongkan menjadi :

1. Bagian pangkal umumnya tak bermata kayu, digunakan untuk


kayu pertukangan yang baik.
2. Bagian tengah digunakan untuk indutri kayu ubah bentuk (
kertas, triplek dll)
3. Bagian percabangan dikhususkan untuk industri kayu.
4. Bagian cabang dan ranting dimanfaatkan untuk kayu bakar.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


2

CABANG, RANTING DAN DAUN adalah bagian yang terdapat pada bagian atas batang utama, yang pada
setiap jenis pohon dapat berbeda.

BAGIAN-BAGIAN KAYU

A. Kulit luar, Adalah bagian yang terdapat pada bagian terluar, disini saya bedakanmenjadi dua bagian
yaitu Kulit luar yang mati, mempunyai ketebalan yang bervariasi menurut jenis pohon. Dan Kulit
bagian dalam yang bersifat hidup dan tipis, lapisan yang berada di sebelah dalam kulit luar yang
bersifat basah dan lunak, berfungsi mengangkut bahan makanan dari daun ke bagian lain.
Kulit berfungsi sebagai lapisan yang berada paling kuat dalam keadaan kering berfungsi sebagai
pelindung bagian-bagian yang lebih dalam pada kayu terhadap kemungkinan pengaruh dari luar
yang bersifat merusak, misalnya iklim, serangan serangga, hama, kebakaran serta perusak kayu
lainnya. Selain itu berfungsi sebagai jalan bahan makanan dari daun ke bagian-bagian tanaman.

B. Kambium, lapisan yang berada di sebelah kulit yang lapisannya tipis dan bening, jaringan ini ke
dalam membentuk kayu baru, sedangkan ke luar membentuk sel-sel jangat (kulit).
Dengan adanya kambium maka pohon lambat laun bertambah besar. Pertumbuhan meninggi
ditentukan oleh jaringan meristem. Kambium terletak antara kulit dalam dan kayu gubal.

C. Kayu gubal, merupakan bagian kayu yang masih muda terdiri dari sel-sel yang masih hidup, terletak
di sebelah dalam kambium dan berfungsi sebagai penyalur cairan dan tempat penimbunan zat-zat
makanan. Tebal lapisan kayu gubal bervariasi menurut jenis pohon. Umumnya jenis yang tumbuh
cepat mempunyai lapisan kayu gubal lebih tebal dibandingkan dengan kayu terasnya. Kayu gubal
biasanya mempunyai warna terang.

D. Kayu teras, berasal dari kayu gubal, Terdiri dari sel-sel yang dibentuk melalui perubahan-perubahan
sel hidup pada lingkaran kayu gubal bagian dalam, disebabkan terhentinya fungsi sebagai penyalur
cairan dan lain-lain proses kehidupan.
Ruang dalam kayu teras biasanya bagian-bagian sel yang sudah tua dan kosong dapat mengandung
berbagai macam zat yang memberi warna lebih gelap. Tidak mutlak semua kayu teras demikian.
Hanya pada jenis-jenis yang kayu terasnya berisi tiloses. Pada beberapa jenis tertentu kayu teras
banyak mengandung bahan-bahan ekstraktif, yang member keawetan pada kayu tersebut,
Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu
3

membuat lebih berat dan lebih awet. Akan tetapi tidak semua jenis kayu yang memilikizat ekstraktif
sudah dapat dipastikan keawetannya. (Misalnya yang mempunyai kandungan zat gula, zat gtepung
dan lain sebagainya).

E. Hati / Galih, Merupakan bagian kayu yang terletak pada pusat lingkaran tahun (tidak mutlak pada
pusat bontos). Hati berasal dari kayu awal, yaitu bagian kayu yang pertama kali dibentuk oleh
kambium. Oleh karena itu umumnya mempunyai sifat rapuh atau sifat lunak.

F. Lingkar Tahun, Batas antara kayu yang terbentuk pada permulaan dan pada akhir suatu musim.
Melalui lingkaran-lingkaran tahun ini dapat diketahui umur pohon. Apabila pertumbuhan diameter
(membesar) terganggu oleh musim kering karena pengguguran daun, ataupun serangga/hama,
maka lingkaran tahun dapat terdiri lebih dari satu lingkaran tahun (lingkaran tumbuh) dalam satu
musim yang sama. Hal ini disebut lingkaran palsu. Lingkaran tahun dapat mudah dilihat pada
beberapa jenis kayu daun lebar. Pada jenis- jenis lain, lingkaran tahun ada kalanya sulit dibedakan
terutama di daerah tropic, karena pertumbuhan praktis berlangsung sepanjang tahun.

G. Jari - jari, Dari luar ke dalam berpusat pada sumbu batang, berfungsi sebagai tempat saluran bahan
makanan yang mudah diproses di daun guna pertumbuhan pohon, jari-jari retakan yang timbul
akibat penyusutan pada waktu pengeringan yang tidak teratur.

C. PENGENALAN TIPE VARIASI POHON

Dilihat dari susunan Kayunya, ada empat macam tipe variasi pohon. Keempat tipe variasi tersebut sebagai
berikut :
1. Pohon yang mempunyai kayu gubal dan kayu teras, disebut juga pohon
kayu teras. Perbedaan antara kayu teras dan kayu gubal tampak jelas.
Kau teras mempunyai warna gelap, terdapat disebelah dalam batang
dan bagian luarnya adalah kayu gubal yang warnanya terang.

2. Pohon yang memiliki kayu gubal dan kayu masak, tidak memiliki kayu
teras. Pada pohon masak dari luar, perbedaan antara kayu teras dan
kayu gubal tidak begitu jelas. Jika dari luar ke dalam kelihatan warnanya
makin gelap, maka dikatakan masak dari luar.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


4

3. Pohon yang memiliki kayu gubal seluruhnya, tidak memiliki kayu teras
dan kayu masak. Dengan kata lain, pohon kayu gubal yaitu pohon yang
mempunyai kayu tidak begitu keras. Seluruh penampang batang adalah
tempat [enyalur makanan dan mempuyai warna terang.

4. Pohon yang mempunyai kayu gubal, kayu teras dan kayu masak. Pohon
masak dari dalam ini mempunyai kayu teras yang kecil, lambat laun
membesar. Kelihatan tiga perbedaan dari dalam ke luar, yaitu kayu
teras, kayu masak dan kayu gubal.

D. PENGGOLONGAN KAYU

Pada dasarnya menurut jenisnya kayu dibedakan menjadi 2 bagian besar yang dikategorikan berdasarkan
jenis daunnya. Yang pertama adalah kayu daun lebar dan kayu daun jarum. Pengelompokan ini
berhubungan erat dengan struktur pori-pori serta kekerasan kayu tersebut. Dalam istilah international
biasa disebut dengan Softwood (kayu daun jarum) dan hardwood (kayu daun lebar).Prinsip perbedaan
daun tersebut membedakan struktur kayu, daun jarum berbentuk silindris, sedangkan daun lebar memiliki
jari-jari daun.
a) Kayu Berdaun Jarum ( Konifer ), Memiliki kekerasan lebih rendah dibandingkan dengan kayu daun
lebar. Biasanya bentuk logs (batang pohon) lebih silindris karena proses fotosintesis lebih panjang.
Paling mudah mengenal jenis kayu ini dari pohonnya, akan tetapi bisa pula dikenali melalui
laboratorium dari struktur serat kayunya.
Yang termasuk dalam kategori kayu berdaun jarum seperti : Kayu Agatis ( damar, damar pilau ), kayu
melur (kayu putri, kayu cina, kayu embun, jamuju ), Tusam ( hujam, pinus, markus, pine, sumatera
pine)
b) Kayu Berdaun Lebar, Bersifat lebih keras dan lebih berat. Struktur serat kayu biasanya berbelok-belok
dan sangat kuat ikatan antar pori-pori kayu. Proses pengeringan lebih lama daripada kayu dari jenis
daun jarum.
Yang termasuk kayu yang berdaun lebar antara lain: Kayu balsa, kayu jatu, kayu cendana, bungur, dan
sebagainya.

Pohon Daun Lebar Pohon Daun Jarum


1. Umumnya Bentuk Daun Lebar 1. Umumnya bentuk daun seperti jarum
2. Tajuk Besar dan Membundar 2. Tajuk berbentuk kerucut

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


5

3. Pertumbuhan lambat, umumnya batang 3. Umumnya tidak menggugurkan daun,


tidak lurus dan berbonggol kecuali beberapa jenis pohon.
4. Memiliki Kayu Lebih Keras & lebih berat 4. Pertumbuhan sangat cepat dan lurus ke atas
5. Struktur Kayu biasanya berbelok – belok dan 5. Umumnya memilki kayu lunak dan kayu
sangat kuat ikatan antar pori – pori kayu ringan

E. KEUNTUNGAN & KERUGIAN PENGGUNAAN KAYU

KEUNTUNGAN KAYU KERUGIAN KAYU


a. Murah dan mudah dikerjakan a. Kurang homogen ketidaksamaan sebagai hasil
b. Mempunyai kekuatan yang tinggi dan bobotnya alam.
rendah b. Cacat-cacat pada kayu.
c. Mempunyai daya penahan tinggi terhadap c. Mudah terbakar.
pegaruh listrik (bersifat isolasi), kimia,. d. Dapat memuai dan menyusut dengan perubahan-
d. Bila ada kerusakan dengan mudah dapat diganti perubahan kelembaban.
dan bisa diperoleh dalam waktu singkat. e. Terjadinya lendutan yang cukup besar.
e. Pembebanan tekan biasanya bersifat elastis.
f. Bila terawat dengan baik akan tahan lama.

F. SIFAT – SIFAT UMUM KAYU

Kayu berasal dari berbagai jenis pohon memiliki sifatyang berbeda-beda. Bahkan kayu berasal dari
satu pohon memiliki sifat agak berbeda, jika dibandingkan bagian ujung dan pangkalnya. Dalam hubungan
itu maka ada baiknya jika sifat-sifat kayu tersebut diketahui lebih dahulu, sebelum kayu dipergunakan
sebagai bahan bangunan,industri kayu maupun untuk pembuatan perabot. Sifat dimaksud antara lainyang
bersangkutan dengan sifat-sifat anatomi kayu, sifat-sifat fisik, sifat-sifat mekanik dan sifat-sifat kimianya. Di
samping sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu sama lain, ada beberapa sifat yang umum
terdapat pada semua kayu yaitu:
a. Semua batang pohon mempunyai pengaturan vertikal dan sifat simetri radial.
b. Kayu tesusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya
terdiri dari senyawa-senyawa kimia berupa selulosa (unsure karbohidrat) serta berupa lignin
(non-karbohidrat).
c. Semua kayu bersifat anisotropic, yaitu memperllihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji
menurut tiga arah utamanya (longitudinal, tangensial dan radial). Hal ini disebabkan oleh
struktur dan orientasi selulosa dalam dinding sel, bentuk memanjang sel-sel kayu dan
pengaturan sel terhadap sumbu vertikal dan horisontal pada batang pohon.
d. Kayu merupakan suatu bahan yang bersifat higroskopik, yaitu dapat kehilangan atau
bertambah kelembabannya akibat perubahan kelembaban dan suhu udara di sekitarnya.
e. Kayu dapat diserang makhluk hidup perusak kayu, dapat juga terbakar, terutama jika kayu
keadaannya kering.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


6

Bila sebatang pohon dipotong melintang dan permukaan potongan melintang itu dihaluskan, maka
akan tampak suatu gambaran unsur-unsur kayu yang tersusun dalam pola melingkar dengan suatu pusat di
tengah batang serta deretan sel kayu dengan arah mirip jari-jari roda ke permukaan batang. Sebuah sumbu
dapat dibayangkan melewati pusat itu dan merupakan salah satu sumbu arah utama yang disebut sumbu
longitudinal; sumbu ini disebut sumbu arah radial. Selanjutnya yang tegak lurus dengan jari-jari kayu, tetapi
tidak memotong sumbu longitudinal, dinamakan sumbu arah tangensial. Ketiga sumbu arah utama ini
sangat penting zrtinyabagi keperluan mengenal sifat-sifsat kayu hyang khas. Yaitu antara lain sifat
anisotropik yang telah disebut, perbedaan dalam kekuatan kayu, kembang susut kayu dan aliran zat cair di
dalam kayu. Di samping itu mengenal kekuatan kayu yang menahan beban, ternyata lebih besar pada arah
sumbu longitudinal daripada arah-arah yang lain. Demikian pula zat cair lebih cepat dan lebih mudah pada
arah longitudinal daripada arah sumbu radial dan tangensial. Sebaliknya kembang susut kayu terbesar
terdapat pada arah tangensial.

Menurut sifatnya kayu dibagi menjadi empat :


 Kelas Kayu Istimewa, Yang termasuk kayu jenis kelas awet antara lain : Kayu Balsa, Kayu Jati, Kayu
Ebony, kayu Cendana, Kayu Salimuli, dsb.
 Kelas Kayu Awet, Yang termasuk jenis kayu kelas awet antara lain : Kayu Rengas, Kayu Cempaka, Kayu
Gofasa, Kayu Sono Kembang, Kayu Ulin, Kayu Bungur, dsb
 Kelas Kayu Cukup Awet Yang termasuk jenis kayu kelas cukup awet antara lain : Kayu Mahoni, Kayu
Sindur, Kayu Sungkai, Kayu Meranti Merah, dsb
 Kelas Kayu Agak Awet dan Tidak Awet, Yang termasuk jenis kayu kelas agak awet dan tidak awet
antara lain : Kayu Jelutung, Kayu Medang, Kayu Surian, Kayu Durian, dsb

1. Sifat Fisik Kayu


Beberapa hal yang tergolong dalam sifat fisik kayu adalah : Berat Jenis, Keawetan Alami, Warna,
Higroskopik, Berat, Kekerasan dan lain-lain.
a) Berat jenis
Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda, berkisar 0,20 sampai 1,28. Berat jenis merupakan
petunjuk penting bagi aneka sifat kayu. Makin berat kayu itu, umumnya makin kuat pula kayunya.
Semakin ringan suatu jenis kayu, akan berkurang pula kekuatannya. Berat jenis kayu diperoleh dari
perbandingan antara berat suatu volume kayu tertentu dengan volume air yang sama pada suhu
standar.
b) Keawetan Kayu Alami
Ternyata berbeda-beda pula. Yang dimaksut dengan keawetaan alami ialah ketahanan kayu
terhadap serangan dari unsure-unsur perusak kayu dari luar seperti : jamur, rayap, bubuk, cacing
laut dan mahluk lainnya yang diukur dengan jangka waktu tahunan. Keawetan kayu tersebut
disebabkan oleh adanya suatu zat di dalam kayu yang merupakan sebagian unsur racun bagi
perusak-perusak kayu, sehingga perusak tersebut tidak sampai masuk dan tinggal di dalamnya serta
merusak kayu. Misalnya kayu jati memiliki tectoquinon, kayu ulin memiliki silica dan lain-lain.
c) Warna Kayu
Ada beraneka macam, antara lain warna kuning, keputih-putihan, coklat muda, coklat tua, kehitam-
hitaman, kemerah-merahan dan lain sebaginya. Hal ini disebabkan oleh zat-zat pengisi warna dalam

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


7

kayu yang berbeda-beda. Warna suatu jenis kayu dapat dipengaruhi oleh faktor tempat di dalam
batang, umur pohon dan kelembaban udara.
d) Higroskopik
Kayu mempunyai sifat higroskopik, yaitu dapat menyerap atau melepaskan air atau kelembaban.
Selanjutnya masuk dan keluarnya air dari kayu menyebabkan kayu itu basah atau kering, akibatnya
kayu itu akan mengembang atau menyusut.
e) Tekstur
Tekstur ialah ukuran relative sel-sel kayu. Yang dimaksut dengan sel kayu ialah serat-serat kayu. Jadi
dapat dikatakan tekstur ialah ukuran relative serat-serat kayu. Berdasarkan teksturnya, kayu dapat
digolongkan ke dalam :
 Kayu bertekstur halus, contoh : giam, lara, kulim dll
 Kayu bertekstur sedang, contoh : jati, sonokeling dll
 Kayu bertekstur kasar, contoh : meranti, kempas dll
f) Serat
Bagian ini terutama menyangkut sifat kayu, yang menunjukkan arah sel-sel kayu di dalam kayu
terhadap sumbu batang pohon asal potongan tadi. Arah serat dapat ditentukan oleh alur-alur yang
terdapat pada permukaan kayu. Kayu dikatakan berserat lurus, jika arah sel-sel kayunya sejajar
dengan sumbu batang. Jika arah sel-sel itu menyimpang atau membentuk sudut terhadap sumbu
panjang batang, dikatakan kayu itu berserat mencong. Serat mencong dapat dibagi lagi menjadi:
 Serat berpadu; bila batang kayu terdiri dari lapisan-lapisan yang berselang-seling, menyimpang
ke kiri kemudian ke kanan terhadap sumbu batang, contoh kayu: kulim, renghas, kapur.
 Serat berombak; serat-serat kayu yang membentuk gamabaran berombak, contoh kayu:
renghas, merbau dan lain-lain
 Serat terpilin; serat-serat kayu yang membuat gambaran terpilin (puntiran), seolah-olah batang
kayu dipilin mengelilingi sumbu, contoh kayu: bintangur, kapur, dammar dan lain-lain
 Serat diagonal; yaitu serat yang terdapat pada potongan kayu atau papan, yang digergaji
sedemikian rupa sehingga tepinya tidak sejajar arah sumbu, tetapi membentuk sudut dengan
sumbu.
g) Berat kayu
Berat sesuatu jenis kayu tergantung dari jumlah zat kayu yang tersusun, rongga-rongga sel atau
jumlah pori-pori, kadar air yang dikandung dan zat-zat ekstraktif di dalamnya. Berat suatu jenis
kayu ditunjukkan dengan besarnya berat jenis kayu yang bersangkutan, dan dipakai sebagai
patokan berat kayu. Berdasarkan berat jenisnya, jenis-jenis kayu digolongkan ke dalam kelas-kelas
sebagai berikut:
 Sangat berat = lebih besar dari 0,90
 Berat = 0,75 - 0,90
 Agak berat = 0,60 - 0,75
 Ringan = lebih kecil dari 0,60
Sebagai contoh jenis kayu yang termasuk dalam kelas sangat berat adalah giam, balau, dan lain-lain.
Masuk kelas berat misalnya kulim,sedangkan agak berat misalnya bintangur dan yang termasuk
ringan misalnya pinus dan balsa.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


8

h) Kekerasan
Pada umumnya terdapat hubungan langsung antara kekerasan kayu dan berat kayu. Kayu-kayu
yang keras juga temasuk kayu-kayu yang berat. Sebaliknya kayu ringan adalah juga kayu yang lunak.
Berdasarkan kekerasannya, jenis-jenis kayu digolongkan sebagai berikut:
 Kayu sangat keras, contoh: balau,giam, dan lain-lain.
 Kayu keras, contoh: kulim, pilang dan lain-lain.
 Kayu sedang kekerasannya, contoh: mahoni, meranti, dan lain-lain.
 Kayu lunak, contoh: pinus, balsa, dan lain-lain
Cara menetapkan kekerasan kayu ialah dengan memotong kayu tersebut arah
melintang dan mencatat atau menilai kesan perlawanan oleh kayu itu pada saat pemotongan dan
kilapnya bidang potongan yang dihasilkan. Kayu yang sangat keras akan sulit dipotong melintang
dengan pisau. Pisau tersebut akan meleset dan hasil potongannyaakan member tanda kilauan pada
kayu. Kayu yang lunak akan mudah rusak, dan hasil potongan melintangnya akan memberikan hasil
yang kasar dan suram.
i) Kesan raba :
Kesan raba sesuatu jenis kayuadalah kesan yang diperoleh pada saat kita meraba permukaan kayu
tersebut. Ada kayu bila diraba member kesan kasar, halus, licin, dingin dan sebagainya. Kesan raba
yang berbeda-beda itu untuk tiap-tiap jenis kayu tergantung dari: tekstur kayu, besar kecilnya air
yang dikandung, dan kadar zat ekstraktif di dalam kayu. Kesan raba ialah licin, apabila tekstur
kayunya halus dan permukaannya mengandung lilin. Sebaliknya apabila keadaan tekstur kayunya
kasar. Kesan raba dingin ada pada kayu bertekstur halus dan berat jenisnya tinggi, sebaliknya terasa
panas bila teksturnya kasar dan berat jenisnya rendah. Jati member kesan agak berlemak atau
berlilin kalau diraba; sedangkan kayu renghas memberi kesan gatal pada kulit (alergi).
j) Bau dan Rasa :
Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu itu lama tersimpan di udara luar. Untuk mengetahui bau
dan rasa kayu perlu dilakukan pemotongan atau sayatan baru pada kayu atau dengan membasahi
kayu tersebut. Sebab ada jenis-jenis kayu mempunyai bau yang cepat hilang, atau memiliki bau
yang merangsang. Sifat bau dari kayu dapat digambarkan sesuai dengan bau yang umum dikenal.
Untuk menyatakan bau kayu yang dihadapi, sering kali kita gunakan bau sesuatu benda yang umum
dikenal, misalnya: bau bawang putih (kulim), bau keasam-asaman (ulin), bau zat penyamak (jati),
bau kamper (kapur) dan lain sebagainya. Kesan raba dan bau tidak jauh berbeda. Adanya
persamaan di antara kesan bau an rasa disebabkan oleh adanya hubungan erat yang terdapat pada
indera pembau dan indera perasa kita.
k) Nilai dekoratif :
Umumnya menyangkut jenis-jenis kayu yang akan dibuat untuk tujuan tertentu yang hanya
mementingkan nilai keindahan tertentu pada kayu tersebut. Nilai dekoratif sesuatu jenis kayu
tergantung dari penyebaran warna, arah serat kayu, tekstur dan pemunculan ria-riap tumbuh yang
bersama-sama muncul dalam pola atau bentuk tertentu. Pola gambar inilah yang membuat sesuatu
jenis kayu yang memilikinya mempunyai suatu nilai dekoratif. Kayu-kayu yang memiliki nilai
dekoratif antara lain: sonokeling, sonokembang, renghas, eboni, dan lain sebagainya.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


9

2. Sifat Mekanik Kayu


Sifat-sifat mekanik atau kekuatan kayu ialah kemampuan kayu untuk menahan muatan dari luar. Yang
dimaksud dengan muatan dari luar ialah gaya-gaya di luar benda yang mempunyai kecenderungan untuk
mengubah bentuk dan besarnya benda. Kekuatan kayu memegang peranan penting dalam penggunaan
kayu untuk bangunan, perkakas dan lain penggunaan. Hakekatnya hamper pada semua penggunaan kayu,
dibutuhkan syarat kekuatan. Dalam hubungan ini dibedakan beberapa macam kekuatan sebagai berikut:
a) Kekuatanan tarik:
Kekuatan atau keteguhan tarik suatu jenis kayu ialah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang
berusaha menarik kayu itu. Kekuatan tarik terbesar pada kayu ialah sejajar arah serat. Kekuatan
tarik tegak lurus arah serat lebih kecil daripada kekuatan tarik sejajar arah serat dan keteguhan
tarik ini mempunyai hubungan dengan ketahanan kayu terhadap pembelahan.
b) Kekuatan tekan/kompresi:
Keteguhan tekan suatu jenis kayu ialah kekuatan kayu untuk menahan muatan jika kayu itu
dipergunakan untuk penggunaan tertentu. Dalam hal ini dibedakan 2 macam kompresi yaitu
kompresi tegak lurus arah serat dan kompresi sejajar arah serat. Keteguhan kompresi tegaklurus
serat menentukan ketahanan kayu terhadap beban. Seperti halnya berat rel kereta api oleh
bantalan di bawahnya. Keteguhan ini mempunyai hubungan juga dengan kekerasan kayu dan
keteguhan geser. Keteguhan kompresi tegaklurus arah serat pada semua kayu lebih kecil daripada
keteguhan kompresi sejajar arah serat.
c) Kekuatan geser
Yang dimaksud dengan keteguhan geser ialah suatu ukuran kekuatan kayu dalam hal
kemampuanya menahan gaya-gaya, yang membuat suatu bagian kayu tersebut bergeser atau
bergelingsir dari bagian lain di dekatnya. Dalam hubungan ini dibedakan 3 macam keteguhan geser
sejajar arah serat, keteguhan geser tegaklurus arah serat dan keteguhan geser miring. Pada
keteguhan geser tegaklurus arah serat jauh lebih besar daripada keteguhan geser sejajar arah serat.
d) Kekuatan lengkung (lentur)
Ialah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan
beban-beban mati maupun hidup selain beban pukulan yang harus dipikul oleh kayu tersebut,
misalnya blandar. Dalam hal ini dibedakan keteguhan lengkung static dan keteguhan lengkung
pukul. Yang pertama enunjukkan kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara perlahan-
lahan, sedangkan keteguhan pukul adalah kekuatan kayu yang menahan gaya yang mengenainya
secara mendadak seperti puke.
e) Kekakuan
Kekakuan kayu baik yang dipergunakan sebagai blandar ataupun tiang ialah suatu ukuran
kekuatannya untuk mampu menahan perubahan bentuk atau lengkungan. Kekakuan tersebut
dinyatakan dengan istilah modulus elastisitas yang berasal dari pengujian-pengujian keteguhan
lengkung statik.
f) Keuletan
Keuletan ialah suatu istilah yan biasa dipergunakan bagi lebih dari satu sifat kayu. Misalnya kayu
yang sukar dibelah, dikatakan ulet. Ada pula pengertian bahwa kayu yang ulet itu adalah kayu yang
tidak akan patah sebelum bentuknya berubah karena beban-beban yang sama atau mendekati
keteguhan maksimumnya, atau kayu yang telah patah dan dilekuk bolak-balik tanpa kayu tersebut
putus terlepas. Dalam uraian ini keuletan kayu diartikan sebagai kemmpuan kayu untuk menyerap
Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu
10

sejumlah tenaga yang relative besar atau tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan
yang berulang-ulang yang melampaui batas proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk
yang permanen dan kerusakan sebagian. Keuletan kebalikan dari kerapuhan kayu dalam arti bahwa
kayu yang ulet akan patah secara berangsur-angsur dan memberi suara peringatan tentang
kerusakannya. Sifat keuletan itu terutama merupakan faktor yang penting untuk menentukan
kepastian suatu jenis kayu tertentu untuk digunakan sebagai tangkai alat pemukul, alat-alat
olahraga dan lain penggunaan sebagai bagian alat untuk mengerjakan sesuatu.
g) Kekerasan
Yang dimaksud dengan kekerasan kayu ialah suatu ukuran kekuatan kayu menahan gaya yang
membuat takik atau lekukan padanya. Juga dapat diartikan sebagai kemampuan kayu untuk
menahan kikisan (abrasi). Dalam arti yang terakhir kekerasan kayu bersamaan keuletannya
merupakan suatu ukuran tentang ketahanannya terhadap pengausan kayu. Hal ini merupakan
suatu pertimbangan dalam menentukan suatu jenis kayu untuk digunakan sebagai lantai rumah,
balok pengerasan, pelincir sumbu,dan lain-lain. Kekerasan dalam arah sejajar serat pada umumnya
melampaui kekerasan kayu dalam arah lain.
h) Kekuatan Belah
Sifat ini digunakan untuk menyatakan kekuatan kayu menahan gaya-gaya yang berusaha membelah
kayu. Tegangan belah adalah suatu tegangan yang terjadi karena adanya gaya yang berperan
sebagai baji. Suatu sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik dalam pembuatan sirap ataupun
pembuatan kayu bakar.sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan jenis
ukir-ukiran (patung). Contoh: kayu ulin baik untuk pembuatan sirap, kayu sawo baik untuk
pembuatan patung ataupun popor senjata dan lain sebagainya. Perlu diketahui bahwa kebanyakan
kayu lebih mudah terbelah sepanjang jari-jari (arah radial) daripada dalam arah sejajar lingkaran
tahun (tangensial). Ukuran-ukuran yang dipakai untuk menjabarkan sifat-sifat kekuatan kayu atau
sifat-sifat mekaniknya dinyatakan dalam kg/cm2.

Faktor- faktor yang mempengaruhi sifat-sifat mekanik secara garis besar dapat digolongkan dalam dua
kelompok yaitu:
1) Faktor-faktor luar (eksternal) antara lain: pengawetan kayu, kelambaban lingkungan, pembebanan
dan cacat-cacat yang disebabkan jamur serta serangga perusak kayu.
2) Faktor kedua yaitu faktor dalam kayu (internal) yang bersangkutan antara lain: dan lain sebagainya.
Sifat kekuatan tiap-tiap jenis kayu berbeda-beda.

Berdasarkan kekuatannya, jenis-jenis kayu digolongkan ke dalam 5 kelas kuat yaitu: kelas kuat I
sampai dengan kelas kuat V. kayu dari kelas kuat I memiliki kekuatan lebih dari kayu kelas II, dan
seterusnya. Untuk penggunaan konstruksi berat dianjurkan dipakai jenis-jenis kayu dengan kelas kekuatan
I. Untuk perumahan dapat dipakai jenis-jenis dari kelas II. Kesimpulannya ialah bahwa tiap-tiap
penggunaan harus disesuaikan dengan kelas kekuatannya.

3. Sifat Kimia Kayu


Komponen kimia kayu di dalam kayu mempunyai arti yang penting, karena menentukan kegunaan sesuatu
jenis kayu. Juga dengan mengetahuinya, kita dapat membedakan jenis-jenis kayu. Susunan kimia kayu
digunakan sebagai pengenal ketahanan kayu terhadap serangan makhluk perusak kayu. Selain itu dapat
Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu
11

pula menentukan pengerjaan dan pengolahan kayu, sehingga didapat hasil yang maksimal. Pada umumnya
komponen kimia kayu daun lebar dan kayu daun jarum terdiri dari 3 unsur:
 Unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa
 Unsur non- karbohidrat terdiri dari lignin
 Unsur yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan dinamakan zat ekstraktif
Distribusi komponen kimia tersebut dalam dinding sel kayu tidak merata. Kadar selulosa dan hemiselulosa
banyak tedapat dalam dinding sekunder. Sedangkan lignin banyak terdapat dalam dinding primer dan
lamella tengah. Zat ekstraktif terdapat di luar dinding sel kayu. Komposisi unsur-unsur kimia dalam kayu
adalah:
 Karbon 50%
 Hidrogen 6%
 Nitrogen 0,04 – 0,10%
 Abu 0,20 – 0,50%
 Sisanya adalah oksigen.
Bidang orientasi kayu:
1. Bidang tangensial : bidang yang diperoleh dengan memotong kayu tegaklurus salah satu jari-jari
kayu, searah serat, tidak melalui sumbu kayu.
2. Bidang radial : bidang yang diperoleh dengan memotong kayu searah serat melalui sumbu kayu.
3. Bidang aksial/ kepala kayu : bidang yang diperoleh dengan memotong kayu tegaklurus dengan
sumbu kayu.

Komponen kimia kayu sangat bervariasi, karena dipengaruhi oleh faktor tempat tumbuh,iklim dan letaknya
di dalam batang atau cabang.
a) Selulosa :
Adalah bahan kristalin untuk membangun dinding-dinding sel. Bahan dasar selulosa ialah glukosa,
gula bermartabat enam, dengan rumus C6H12O6. Molekul-molekul glukosa disambung menjadi
molekul-molekul besar, panjang dan berbentuk rantai dalam susunan menjadi selulosa. Selulosa
merupakan bahan dasar yang penting bagi industri- industry yang memakai selulosa sebagai bahan
baku misalnya: pabrik kertas, pabrik sutera tiruan dan lain sebagainya.
b) Lignin :
Merupakan bagian yang bukan karbohidrat, sebagai persenyawaan kimia yang jauh dari sederhana,
tidak berstruktur, bentuknya amorf. Dinding sel tersusun oleh suatu rangka molekul selulosa,
antara lain terdapat pula lignin. Kedua bagian ini merupakan suatu kesatuan yang erat, yang
menyebabkan dinding sel menjadi kuat menyerupai beton bertulang besi. Selulosa laksana batang-
batang besi dan lignin sebagai semen betonnya. Lignin terletak terutama dalam lamella tengah dan
dinding primer. Kadar lignin dalam kayu gubal lebih tinggi daripada kayu teras. (Kadar selulosa
sebaliknya).
c) Hemiselulosa :
Selain kedua bahan tersebut di atas, kayu masih mengandung sejumlah zat lain sampai 15- 25%.
Antara lain hemiselulosa, semacam selulosa berupa persenyawaan dengan molekul-molekul besar
yang bersifat karbohidrat. Hemiselulosa dapat tersusun oleh gula yang bermartabat lima dengan

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


12

rumus C5H10O5 disebut pentosan atau gula bermanfaat enam C6H12O6 disebut hexosan. Zat-zat
ini terdapat sebagai bahan bangunan dinding-dinding sel juga sebagai bahan zat cadangan.
d) Zat ekstraktif :
Umumnya adalah zat yang mudah larut dalam pelarut seperti: eter, alcohol, bensin dan air.
Banyaknya rata-rata 3 – 8% dari berat kayu kering tanur. Termasuk didalamnya minyak-minyakan,
resin, lilin, lemak, tannin, gula, pati dan zat wsarna. Zat ekstraktif tidak merupakan bagian struktur
dinding sel, tetapi terdapat dalam rongga sel. Zat ekstraktif memiliki arti yang penting dalam kayu
karena:
 Dapat mempengaruhi sifat keawetan, warna, bau dan rasa sesuatu jenis kayu
 Dapat digunakan untuk mengenal sesuatu jenis kayu
 Dapat digunakan sebagai bahan industry
 Dapat menyulitkan dalam pengerjaan dan mengakibatkan kerusakan pada alat-alat pertukangan.
e) Abu :
Di samping persenyawaa-persenyawaan organik, di dalam kayu masih ada beberapa zat organik,
yang disebut bagian-bagian abu (mineral pembentuk abu yang tertinggal setelah lignin dan selulosa
habis terbakar). Kadar zat ini bervariasi antara 0,2 – 1% dari berat kayu.

4. Sifat-sifat lain :
Sifat lain antaranya sifat pembakaran. Semua jenis kayu dapat terbakar,tergolong dalam tingkatan menjadi
arang dan sampai menjadi abu. Sifat mudah terbakar ini pada satu pihak memberi keuntungan, misalnya
kalau kayu itu akan dipergunakan sebagai bahan pembakar. Di lain pihak ada sifat yang merugikan,
misalnya kalau kayu itu dipakai sebagai bahan perabot atau bangunan. Walaupun demikian kayu tidak
dapat ditinggalkan, karena kayu memiliki sifat-sifat menguntungkan yang lebih besar bila dibandingkan
dengan sifat-sifat logam. Proses pembakaran sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor fisik, kimia dan anatomi
kayu. Umunya jenis-jenis kayu dengan pembuluh-pembuluh besar lebih mudah terbakar daripada jenis-
jenis kayu yang berat. Selanjutnya kandungan dammar yang banyak mempercepat pula pembakaran.
Dengan adanya sifat-sifat ini, maka jenis kayu yang dapat digolongkan ke dalam kelas daya tahan bakar
misalnya kayu: merbau, ulin, jati dan lain sebagainya. Daya tahan bakar yang kecil, misalnya kayu: balsa,
sengon, pinus dan lain sebagainya. Daya tahan bakar kayu dapat ditingkatkan dengan membuat kayu itu
menjadi anti api (fire proof) antara lain:
 Menutup kayu itu dengan bahan lapisan yang tidak mudah terbakar, yang berfungsi melindungi
lapisan kayu di bawahnya terhadap api. (Asbes, pelat logam dan lain sebagainya).
 Menutup kayu itu dengan bahan-bahan kimia yang bersifat mencegah terbakarnya kayu, misalnya:
jenis cat tahan api, persenyawaan garam antara lain amoniun dan boor zuur
 Dengan mengimpregnir kayu itu dengan macam-macam bahan kimia yang bersifat mengurangi
terbakarnya kayu. Ada juga bahan-bahan lain yang menghasilkan gas yang dapat mencegah api
tersebut.
Sifat kayu tehadap suara :
1. Sifat akustik : sifat akustik kayu sangat penting dalam hubungan dengan alat-alat music dan
konstruksi bangunan. Dasar akustik menunjukkan, bahwa kemampuan untuk meneruskan atau
tidak meneruskan suara erat hubungannya dengan elastisitas kayu. Jadi sepotong kayu dapat
bergetar bebas, jika dipukul akan mengeluarkan suara tingginya tergantung pada frekuensi alami

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


13

getaran kayu tersebut. Frekuensi ini ditentukan oleh kerapatan/elastisitas dan ukuran kayu
tersebut. Kayu yang telah kehilangan elastisitas misalnya akibat serangan jamur, jika dipukul akan
memberikan suara yang keruh, sedang kayu yang sehat suaranya akan nyaring.
2. Sifat resonansi : yaitu turut bergetarnya dengan gelombang sxuara, karena kayu memiliki sifat
elastisitas. Kualitas nada yang dikeluarkan oleh kayu sangat baik. Oleh sebab itu banyak kayu
dipakai untuk alat-alat music: kulintang, piano, biola, guitar, dan lain-lain. Kemampuan benda untuk
mengabsorpsi suara tergantung pada masa dan pada sifat-sifat akustik permukaan benda, yaitu
mampu tidaknya permukaan benda mengabsorpsi suara atau memantulkan suara. Struktur kayu
mempunyai sifat demikian, sehingga kalau kayu tidak dapat bergetar dengan mudah,
permukaannya mempunyai sifat meredam gelombang suara. Karena itu kayu serupa ini baik kalau
dipakai sebagai lantai atau parket.

PENGAWETAN KAYU
Keawetan kayu adalah daya tahan suatu jenis kayu terhadap factor-faktor perusak kayu yang dating dari
luar tubuh kayu itu sendiri. Keawetan kayu diselidiki pada bagian kayu terasnya. Pemakaian kayu akan
menentukan umur keawetannya.

Beberapa alasan dilakukan pengawetan kayu, yaitu :


1. Kayu yang memiliki kelas keawetan alami tinggi jumlahnya sangat sedikit sehingga menyebabkan
harga kayu menjadi mahal.
2. Kayu dengan kelas keawetan III sampai dengan V jumlahnya cukup banyak, mudah didapat,
harganmya murah dan mempunyai segi keindahan cukup tinggi. Hanya saja keawetannya kurang.
Oleh karena itu lebih efisien apabila diawetkan terlebih dahulu.
3. Dengan pengawetan kayu, secara financial lebih menguntungkan. Adapun tujuan pengawetan kayu
adalah :
a) Untuk memperbesar keawetan kayu sehingga kayu yang semula memiliki umur pakai pendek
menjadi lebih panjang di dalam pemakaiannya.
b) Memanfaatkan pemakaian jenis-jenis kayu berkelas keawetan rendah.
c) Dengan adanya industri pengawetan kayu dapat membuka lapangan kerja baru.

Prinsip-prinsip dalam pengawetan kayu, yaitu :


1. Pengawetan kayu harus merata pada seluruh bidang kayu.
2. Penetrasi dan retensi bahan pengawet diusahakan masuk sedalam dan sebanyak mungkin ke
dalam kayu.
3. Bahan pengawet harus tahan terhadap pelunturan.
4. Waktu yang digunakan tidak terlalu lama.
5. Metode pengawetan yang digunakan.
6. Faktor-faktor sifat kayu sebelum diawetkan seperti kadar air kayu, jenis kayu, zat ekstraktif di
dalam kayu.
7. Faktor peralatan yang digunakan.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


14

Bahan Pengawet Kayu


Syarat-syarat bahan pengawet kayu, yaitu :
1. Bersifat racun terhadap perusak kayu.
2. Mudah masuk dan tetap berada di dalam kayu.
3. Tidak mudah luntur.
4. Bersifat toleran terhadap bahan lain seperti : logam, perekat dan cat/finishing.
5. Tidak mempengaruhi kembang susut kayu.
6. Tidak mudah terbakar.
7. Tidak berbahaya bagi manusia.
8. Mudah dikerjakan, diangkut, mudah didapat dan murah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat memilih bahan pengawet, yaitu :
 Dimana kayu itu akan dipakai setelah diawetkan.
 Mahluk atau jenis perusak kayu yang terdapat di tempat tersebut.
 Syarat-syarat kesehatan.
Jenis-jenis bahan pengawet kayu, yaitu :
1. Bahan pengawet larut dalam air
Jenis bahan pengawet kayu yang menggunakan air sebagai bahan pengencer. Adapun sifat dari
bahan pengawet jenis ini adalah :
 Dijual dalam bentuk garam, larutan pekat dan tepung.
 Tidak mengotori kayu.
 Kayu yang sudah diawetkan dapat difinishing setelah dikeringkan.
 Retensi dan penetrasi bahan pengawet cukup tinggi masuk ke dalam kayu.
 Penggunaannya mudah.
 Mudah luntur.
Jenis ini baik digunakan untuk kayu yang digunakan di bawah atap. Contoh bahan yang termasuk jenis
pengawet ini adalah : tanalith C, celcure, boliden, greensalt, superwolman, borax, asam borat, dll.
Konsentrasi larutan 5 – 10 %.

2. Bahan pengawet larut minyak.


Sifat-sifat umum jenis pengawet kayu ini adalah :
 Dijual dalam perdagangan berbentuk cairan agak pekat, bubuk (tepung).
 Bila akan digunakan dilarutkan dulu dalam minyak seperti solar, minyak diesel, dll.
 Bersifat menolak air dan daya lunturnya rendah.
 Daya cegah terhadap perusak kayu cukup baik.
 Memiliki bau tidak enak dan alergis.
 Warnanya gelap sehingga kayu yang diawetkan menjadi kotor.
 Sulit difinishing.
 Penetrasi dan retensi agak kurang disebabkan tidak adanya toleransi antara minyak dan kadar air
pada kayu.
 Mudah terbakar.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


15

Nama-nama bahan dalam perdagangan yang termasuk dalam jenis pengawet kayu ini adalah : pentha
chlor phenol (PCP), rentokil, Cu-Napthenate, tributyltin-oxide, dowicide, restol, anticelbol, cuprinol,
solignum, xylaman, brunophen, pendrex, dieldrien dan aldrin.

3. Bahan Pengawet berupa minyak.


Jenis bahan pengawet ini jarang digunakan. Sifatnya sama dengan bahan pengawet larut minyak.
Nama-nama dalam perdagangan adalah : creosot, carboleneum, ter kayu, napthaline,dll.

Metode dan Cara Pengawetan Kayu

Agar diperoleh hasil pengawetan yang baik, perlu diperhatikan faktor- faktor sebagai berikut :
 Sebelum diawetkan kayu harus cukup kering dengan kadar air 20 – 25 %.
 Kayu harus bebas dari kulit dan kotoran.
 Bentuk kayu berupa kayu gergajian/dolok.
 Kayu dalam bentuk siap pakai, setelah diawetkan tidak boleh digergaji, dibelah atau diserut.
 Jenis bahan pengawet
 Faktor/jenis serangga perusak kayu.

Cara Pengawetan Kayu


1. Cara Pemulasan dan penyemprotan
Cara pengawetan yang paling sederhana dan menghasilkan pengawetan yang kurang baik karena
van pengawet yang masuk dan diam pada kayu hanya sedikit serta van pengawet mudah luntur.
Keuntungannya hádala : alat yang digunakan sederhana, mudah penggunaannya dan murah.
Dianjurkan hanya dipakai sementara, serangan perusak kayu tidak ganas dan untuk pengawetan
kayu yang sudah terpasang. Contohnya memberi lapisan cat pada kayu, melabur kayu dengan
ter, dll.
2. Cara Rendaman
Kayu direndam dalam bak larutan bahan pengawet yang telah ditentukan kepekatannya selama
beberapa hari. Kayu harus terendam semua.
Ada tiga cara pengawetan dengan rendaman, yaitu : rendaman dingin, rendaman panas dan
rendaman panas-dingin.
Bahan pengawet yang digunakan berupa garam.
Keuntungannya : Penetrasi dan retensi van pengawet lebih banyak, kayu dalam jumlah banyak
dapat diawetkan bersama, larutan dapat digunakan berulangkali.
Adapun kerugian pengawetan kayu dengan cara rendaman adalah : waktunya lama terutama
rendaman dingin, peralatannya mudah kena karat, pada proses rendaman panas kayu dapat
terbakar dan kayu basah sulit diawetkan dengan cara ini.
3. Cara Tekanan dan vakum (cara modern)
Keuntungannya : penetrasi dan retensi bahan pengawet tinggi sekali, waktunya singkat dan dapat
mengawetkan kayu basah atau kering. Kerugiannya adalah : biayanya mahal, perlu ketelitian tinggi
dan hanya digunakan untuk perusahaan komersiil.
Menurut cara kerjanya, proses ini dibagi menjadi :

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


16

a) Proses sel penuh, dimana pada proses ini bahan pengawet mengisi seluruh lumen sel kayu.
Metode sel penuh ada 2 cara yaitu metode bethel dan Bernett. Urutan cara kerja proses sel
penuh, yaitu :
1) Kayu dimasukkan ke dalam tangki tertutup rapat.
2) Dilakukan pengisapan udara (vakum) dalam tangki dengan tekanan 60 cm/Hg ± 90 menit.
3) Sambil divakum, bahan pengawet dimasukkan ke tangki sampai penuh.
4) Setelah tangki penuh, vakum dihentikan diganti dengan proses tekanan ± 8– 15 atmosphere
± 2 jam
5) Tekanan dihentikan, bahan pengawet dikeluarkan
6) Dilakukan vakum terakhir ± 40 cm/Hg ± 10 menit untuk membersihkan permukaan kayu
dari bahan pengawet.

b) Proses sel kosong, yaitu bahan pengawet hanya mengisi ruang antar sel kayu. Ada dua cara
yaitu cara Rueping, menggunakan tekanan awal 4 atmosphere dinaikkan sampai dengan 8 atm.
Cara kedua yaitu cara Lawry menggunakan tekanan awal 7 atm. Urutan cara verja proses sel
kosong :
1) Kayu dimasukkan ke tangki tertutup rapat.
2) Langsung diberi tekanan ke dalam tangki ± 4 atmosphere ± 10 – 20 menit.
3) Bahan pengawet dimasukkan ke dalam tangki sampai penuh.
4) Tekanan ditingkatkan sampai 7-8 atmosphere selama 2 jam.
5) Tekanan dihentikan, bahan pengawet dikeluarkan.
6) Dilakukan vakum terakhir ± 60 cm/Hg ± 10 menit untuk membersihkan permukaan kayu dari
bahan pengawet.

SPESIFIKASI/STANDAR KAYU BANGUNAN


Standar/peraturan kayu untuk konstruksi di Indonesia pertama kali adalah Peraturan konstruksi Kayu
Indonesia (PKKI) yang disusun pada tahun 1961. Peraturan/standar ini disusun berdasarkan sifat mekanis
dan berat jenis kayu. Peraturan ini disempurnakan pada tahun 2000. Selain itu pada tahun 1980 juga
disusun Standar Kayu Bangunan yang diterbitkan oleh Departemen Perindustrian. Di dalam standar ini
tercakup mengenai ukuran kayu perdagangan. Kedua standar ini masih perlu penyempurnaan cara
penerapannya di lapangan.

KAYU BUATAN
Kayu buatan adalah kayu yang bentuk dan sifatnya tidak seperti kayu yang berasal dari alam, tetapi
sudah diolah di pabrik baik secara manual maupun dengan mesin. Kayu buatan terdiri dari kayu
lapis (plywood), papan partikel, papan kayu semen dan papan serat (fibre board).
a. Kayu Lapis (polywood)
Kayu lapis merupakan panel (papan) yang terbuat dari lembaran-lembaran kayu (lapisan vineer) yang
direkatkan menyatu sampai mencapai ketebalan tertentu. Cara pembuatan kayu lapis, terdiri dari :

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


17

P
embuatan vineer, pembuatan vineer dilakukan dengan cara mengupas balok kayu dengan
mesin dengan ketebalan 1/7 – 1/20 inchi. Vineer yang sudah dikupas dikeringkan dengan coveyor

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


18

drier sampai mencapai kadar air 12 % – 15 %. Vineer yang sudah dikeringkan dipotong sesuai
dengan ukuran kayu lapis yang akan dibuat.

P
emberian perekat. Pemberian perekat pada lembaran vineer dilakukan dengan menggunakan

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


19

alat berbentuk rol. Perekat yang digunakan biasanya perekat urea formaldehida, casein dan
phenol formaldehida. Biasanya tiap 1 kg perekat dapat melumasi permukaan vineer 5 m2 – 6 m2.

P
enyusunan vineer. Lembaran vineer yang sudah diberi perekat kemudian disusun saling silang
Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu
20

menyilang dan disusun dengan jumlah ganjil. Tujuannya adalah agar didapatkan kayu lapis yang
memiliki sifat jauh lebih baik dari kayu aslinya, seperti tahan susut, tidak mudah pecah dan
memiliki kuat tarik tinggi. Penyusunan vineer membutuhkan waktu ± 15 menit.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


21

P
engepresan. Lembaran vineer yang sudah disusun kemudian dipres dengan menggunakan
mesin pres panas dengan tekanan 7 – 14 kg/cm2 pada suhu 150ºC.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


22

F
inishing. Kayu lapis yang sudah dipres dan didinginkan, dipotong sisi- sisinya sesuai dengan
ukuran di perdagangan.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


23

b. Papan Kayu Semen (Yumen)


Papan buatan yang terbuat dari serutan/limbah kayu dicampur dengan semen kemudian dicetak dan
dipres dingin. Sebelum kayu digunakan, kadar pati dalam kayu dihilangkan terlebih dahulu karena akan
menghambat pengikatan semen, dilakukan dengan cara merendam kayu dalam larutan kapur.
Kelebihan yumen ini adalah tahan api/tidak mudah terbakar, mudah dipaku dan dibentuk, memiliki
daya sekat panas dan suara yang baik.
Yumen ini biasanya dibuat dengan ketebalan 15 mm – 100 mm dengan lebar 500 mm dan panjang
2000 mm. Adapun standar Yumen menurut standar Jerman (DIN 1101) adalah sebagai berikut :

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


24

M
emiliki berat antara 8,5 – 36 kg/cm2.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


25

B
erat Isi 360 kg/m3 sampai dengan 570 kg/m3.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


26

K
uat lentur minimum 17 kg/cm2

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


27

U
ntuk ketebalan di atas 25 mm, bila diberi tekanan 3 kg/cm2 pengurangan tebalnya maksimum 20
%.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


28

M
emiliki daya sekat panas maksimum 0,08 k cal/m.h.ºC.

c. Papan Partikel

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


29

Papan yang terbuat dari partikel kayu dan perekat yang biasanya berupa perekat urea formaldehida
atau phenol formaldehida, kemudian dipres panas. Papan partikel ini memiliki sifat mudah terbakar,
kuat lentur cukup tinggi, kekuatannya seragam, mudah digergaji dan dipaku, permukaannya licin dan
keras. Bila perekat yang digunakan tidak tahan terhadap pengaruh air maka papan partikel yang
dihasilkan pengembangan tebalnya tinggi dan daya serap airnya juga tinggi. Oleh karena itu
sebaiknya papan ini digunakan di tempat-tempat terlindung. Ketebalan partikel antara 9 mm –
40 mm dengan lebar 1200 mm dan panjang 2400 mm.

d. Papan serat (fibre board)


Papan serat terbuat dari serat kayu (bubur kayu) yang dicampur perekat urea formaldehida atau
phenol formaldehida kemudian dipres panas. Jenis papan serat terdiri dari soft board, digunakan
sebagai peredam suara dan hardboard. Biasanya diproduksi dengan ketebalan 3 mm – 6 mm.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


30

BAMBU
Bambu sudah sejak lama dikenal sebagai bahan bangunan. Pada daerah- daerah pedesaan bambu banyak
digunakan penduduk untuk membuat rumah tinggal. Konstruksi dari bambu banyak digunakan di
pedesaan karena mempunyai beberapa kelebihan, yaitu : bambu mudah didapat dan harganya murah,
dapat dikerjakan dengan alat-alat sederhana, pertumbuhannya cepat.

JENIS-JENIS BAMBU, SIKLUS HIDUP, ANATOMI BAMBU


a. Siklus Hidup Bambu
Bambu merupakan jenis tanaman yang tumbuh di daerah tropis dan sub tropis. Bambu
biasanya dapat hidup dan tersebar di daerah Asia Pasifik, Afrika dan Amerika (pada garis 46 º LU
sampai 47º LS). Bambu dapat tumbuh dengan baik di daerah yang beriklim lembab dan panas.
Bambu termasuk tumbuhan jenis graminae (suku rumput-rumputan) yang mempunyai ciri-ciri
berdaun tunggal, berbentuk pita yang tersusun berselang seling pada rantingnya, batang beruas-
ruas, berakar serabut dan mempunyai rimpang.
Bambu tumbuh dimulai dari tunas yang berasal dari disarm batang yang sudah tua. Tunas ini
tumbuh secara perlahan pada awalnya, kemudian tumbuh cepat pada musim hujan sampai
mencapai ½ dari tingginya. Bambu mengalami masa pertumbuhan yang cepat selama 4 sampai 6
bulan. Segera setelah tinggi maksimum tercapai, terjadi pengkayuan ranting (terbentuknya
batang bambu) yang berlangsung selama 2 sampai 3 tahun. Batang bambu akan masak setelah
berumur 6 sampai 9 tahun.
Dalam pertumbuhannya, bambu belum diusahakan secara perkebunan, tapi tumbuhnya msih
dibiarkan secara liar di pekarangan maupun di hutan. Di daerah pedesaan, biasanya bambu ditanam
hanya untuk keperluan membuat kerajinan rumah tangga atau untuk membuat rumah-rumah
sederhana.
Untuk mengembangkan bambu biasanya digunakan bibit berupa stek. Pengembangbiakan
bambu dengan biji tidak efisien karena membutuhkan waktu yang lama. Stek yang dipakai dapat
diambil dari tiga bagian kayu, yaitu
 Stek dari batang, Stek ini yang paling sering digunakan. Caranya yaitu dengan jalan memotong
bamboo pada pangkal dekat akar kemudian diambil ke atas sekitar satu atau dua ruas yang ada
kuncup tidurnya. Sisanya di atas dapat dipotong-potong lagi dan minimum harus terdapat dua
mata tidurnya. Yang perlu diperhatikan adalah bamboo yang distek adalah bamboo yang masih
muda kira-kira berumur satu tahun.
 Stek dari cabang, didapat dengan jalan memotongi ruas bamboo yang telah tumbuh cabangnya,
kemudian cabang dipotong bagian atasnya dihilangkan daunnya dan ranting-ranting kecil
lainnya.
 Stek dari bonggol akar, didapat dengan jalan membongkar bonggol-bonggol bambu dari
bamboo yang baru dipotong, kemudian bonggol itu dipisahkan satu sama lainnya. Stek
bonggol ini juga yang sering dilaksanakan karena lebih kuat daya tumbuhnya.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


31

Agar didapatkan hasil pertumbuhan yang baik maka harus diperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
 Batang, cabang dan bonggol yang distek diambil dari bamboo yang baru dipotong.
 Sebelum ditanam, disemaikan dulu sampai keluar akarnya. Penyemaiannya harus di tempat yang
teduh dan harus selalu disiram air.
 Penanamannya sebaiknya pada musim penghujan karena stek-stek tersebut mudah mati bila
kekurangan air.Penanamannya sebaiknya dibuat condong dan dengan kedalaman penanaman
lebih kurang 10 cm.
 Penanamannya diusahakan di tempat yang teduh agar terhindar dari terik matahari
langsung, sehingga tidak mudah layu.

b. Anatomi Bambu

Batang bambu terdiri dari ruas (nodia) dan buku (internodia). Sel-sel batang mempunyai
orientasi aksial dan tidak memiliki sel radial. Bagian luar terdiri dari satu sel epidermis dan
bagian dalam terdiri dari sel-sel sklerenkim. Struktur melintang hanya diisi oleh ikatan-ikatan
pembuluh. Secara keseluruhan, dinding bambu tersusun oleh 50 % jaringan parenkim, 40 % sel-
sel serabut, 10 % pembuluh tapis dan ikatan pembuluh.
Unsur utama penyusun batang bambu adalah selulosa, hemisellulosa, lignin dan unsure
tambahan seperti resin, tannin, lilin dan garam-garam anorganik. Komposisi masing-masing unsure
tergantung dari spesies, kondisi pertumbuhan, umur bamboo dan bagian batang. Selama masa
pertumbuhan pada tahun pertama sejak dari tunas, proporsi lignin dan karbohidrat tidak tertentu
tetapi setelah melewati masa tersebut komposisi kimia bambu cenderung tetap. Pada musim
penghujan kandungan pati pada bambu lebih tinggi daripada pada musim kemarau.

c. Jenis-jenis Bambu

Bambu merupakan jenis tanaman graminae (golongan rumput-rumputan). Jenis bamboo di


seluruh dunia ada 600 jenis. 31 jenis bamboo terdapat di pulau Jawa, sedangkan jenis bamboo yang
dapat digunakan untuk bahan bangunan ada 10 jenis. Adapun jenis-jenis bamboo yang dapat
digunakan untuk bahan bangunan adalah :
 Bambu Ater, bamboo ini mempunyai warna buluh hijau tua. Tingginya dapat mencapai 15 meter
dan banyak tumbuh di P. Jawa terutama di dataran-dataran rendah. Kegunaan bamboo ini
antara lain : untuk pipa air, dinding rumah, pagar, alat musik dan alat-alat rumah tangga.
 Bambu Petung. Tinggi batang bamboo ini dapat mencapai 20 meter, dengan garis tengah buluh
sampai 20 cm dan panjang ruasnya 40-60 cm. Tebal dinding buluh 1-1,5 cm. Warnanya
coklat muda keputih-putihan. Biasanya digunakan untuk bahan bangunan.
 Bambu Duri. Tinggi buluhnya sampai 20 m dengan garis tengah buluhnya 10 cm. Biasanya
berwarna hitam dan banyak tumbuh di Jawa Timur. Tumbuhnya rapat dan banyak cabangnya.
Biasanya digunakan sebagai bahan bangunan, anyaman dan bahan pembuatan kertas
 Bambu Duri Ori. Bambu ini hamper sama dengan bamboo duri, bedanya cabang-cabangnya
lebih renggang, warnanya gelap. Kegunaannya adalah untuk bahan banguanan, anyaman dan
bahan pembuatan kertas.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


32

 Bambu Gombong. Bambu ini berwarna hijau kekuning-kuningan. Tinggi buluhnya mencapai
20 meter dengan diameter 10 cm. Biasanya digunakan untuk bahan bangunan dan kerajinan.
 Bambu Sembilang. Tinggi buluhnya mencapai 30 meter dengan garis tengah 18 – 25 cm.
panjang ruasnya 25 – 50 cm dengan tebal dinding buluh sampai 2,5 cm. Bambu ini dapat
digunakan untuk berbagai macam keperluan bangunan baik bangunan air maupun bangunan
gedung.
 Bambu Talang. Bambu ini batangnya tegak dengan tinggi mencapai 15 m. Panjang ruas
maksimum 50 cm, dengan garis tengah 8-10 cm. Warna buluhnya hijau muda, hijau tua
dan kuning
 Bambu tutul. Tinggi buluh mencapai 12 meter, warnanya hijau pada saat bambu masih
muda dan sering kali bergaris-garis kuning sejajar dengan buluhnya. Ketika dewasa muncul
warna tutul coklat. Diameter buluhnya mencapai 10 cm. Bambu ini digunakan sebagai bahan
dinding, alat-alat rumah tangga, kursi, hiasan dinding , tirai, dll.
 Bambu balcoa. Berasal dari India, dengan tinggi buluhnya mencapai 20 meter.
 Warna buluhnya putih. Biasanya digunakan untuk tiang-tiang rumah, jembatan, atau
turap.
 Bambu plymorpha. Berasal dari Burma dengan tinggi buluh mencapai 30 meter, garis
tengah 15 cm. Warna buluhnya hijau muda sampai hijau tua. Biasanya digunakan untuk
konstruksi rumah dan jembatan.

SIFAT FISIK DAN MEKANIS BAMBU


Bambu mempunyai sifat-sifat fisik sebagai berikut :
1. Pada proses pengeringan bambu yang belum dewasa sering retak d a n m e n g i s u t .
2. Bagian dalam batang bambu biasanya lebih banyak mengandung kadar lengas (aur bebas) daripada
bagian batang yang luar.
3. Buku-buku (knots) mengandung ± 10 % lebih sedikit air daripada ruas-ruas.
4. Menyerap banyak air sampai 300 %.
5. Bambu tidak dapat dipercaya bila digunakan sebagai tulangan pada beton, karena bambu pada
saat pengeringan menyusut, volumenya menurun sehingga lekatan dengan betonnya longgar.
6. Bambu pada umumnya tidak awet sehingga perlu dilakukan pengawetan terlebih dahulu
sebelum digunakan.

Adapun data-data teknis mengenai sifat fisik bambu hasil penelitian adalah :
1. Penyusutan bambu yang ditebang pada musim hujan sampai keadaan kering udara adalah pada
arah longitudinal sebesar 0,2 – 0,5 %, arah tangensial sebesar 10 – 20 % dan arah radial sebesar
15 – 30 %.
2. Berat jenis bambu kering udara adalah 0,60 – 1
3. Kuat lekat antara bambu kering dengan beton berkisar antara 2 – 4 kg/cm2. Sifat-sifat mekanik
bambu adalah sebagai berikut :
 Tegangan tarik 600 – 4000 kg/cm2
 Tegangan tekan 250 – 600 kg/cm
2

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


33

 Tegangan lentur 700 – 3000 kg/cm2


 Modulus elastisitas 100.000 – 300000 kg/cm2

Bambu yang akan digunakan sebagai bahan bangunan harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
1. Bambu harus tua, berwarna kuning jernih atau hijau tua dalam hal terakhir berbintik putih pada
pangkalnya, berserat padat dengan permukaan yang mengkilap. Di tempat buku tidak boleh pecah.
2. Bambu yang telah direndam dalam air harus berwarna pucit tidak kuning, hijau atau hitam dan
berbau asam yan khas, sedangkan bila dibelah di bagian dalam dari ruas tidak boleh terdapat
rambut dalam yang baisanya terdapat pada bambu yang belum direndam.
3. Bambu untuk pelupuh dan barang anyaman seperti bilih, gendak, dll harus telah direndam
dengan baik. Barang anyaman yang harus tahan lama harus terbuat dari bambu dari jenis
bambu yang terbaik dengan garis tengah minimum 4 cm dan harus terbuat dari bagian kulit dari
bambu.

PENGOLAHAN BAMBU
Pengolahan bambu adalah mengolah bambu yang masih tumbuh di kebun/di hutan monad siap
untuk digunakan atau diawetkan. Pengolahan bambu terdiri dari : menebang bambu,
mengerjakan/mengolah menjadi suatu barang yang diinginkan misalnya dibuat anyaman untuk dinding,
untuk kasau, dll.

Penebangan bambu.
Penebangan bambu sebaiknya dilakukan pada musim kemarau atau pada awal musim hujan, karena pada
musim hujan banyak tunas yang tumbuh sehingga akan merusak tunas. Bambu yang ditebang adalah
bambu yang sudah tua minimal berumur satu tahun.
Penebangan dilakukan dengan hati-hati agar bambu tidak pecah dan tidak merusak tunas. Penebangan
dilakukan dengan alat parang, kapak atau gergaji potong. Bambu yang akan ditebang dikerati
melingkar terlebih dahulu kurang lebih 25 cm dari muka tanah. Setelah itu bambu ditebang sedikit demi
sedikit dan melingkar untuk menghindari bambu pecah. Kemudian cabang-cabangnya ditebang.

Pengawetan bambu
Pengawetan bambu bertujuan agar bambu bisa tahan lama dan tidak mudah diserang bubuk
(insekta). Untuk mencapai tujuan tersebut maka getah yang terdapat dalam bambu harus dikeluarkan
sehingga bambu monad awet, mempunyai daya lenting tinggi, tidak mudah patah dan mudah dianyam.
Untuk mencegah bambu lapuk karena pengaruh cuaca dan serangan ham, bambu dilapisi dengan cat,
kapur, ter atau vernis. Pengawetan bambu pada dasarnya dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Dengan mengeluarkan getah yang terdapat dalam bambu dan memasukkan zat-zat yang tidak
disukai serangga. Cara yang paling sederhana yang biasa dilakukan oleh masyarakat adalah dengan
jalan merendam bambu dalam air kurang lebih selama 2 bualn. Setelah bambu direndam
kemudian dikeringkan di tempat yang teduh terhindar dari panas matahari. Selain merendam

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


34

dengan cara di atas, dapat dilakukan juga dengan merendam bambu pada larutan 5 % asam boraks
yang dimasukkan ke dalam air yang digunakan untuk merendam bambu.
2. Dengan melapisi bambu dengan cat, vernis, kapur dan ter.

PEMAKAIAN BAMBU PADA BANGUNAN


Bambu dapat dipergunakan untuk berbagai macam keperluan, terutama untuk bahan bangunan.
Konstruksi bangunan yang terbuat dari bambu biasanya sangat tahan terhadap gempa bumi karena
strukturnya ringan dan elastis. Penggunaan bambu pada bangunan antara lain :
a. Untuk dinding rumah. Bambu yang digunakan untuk dinding biasanya dibelah dan dibuat anyaman.
Jenis bambu yang cocok untuk anyaman adalah bambu ater, bambu petung, bambu tutul, bambu
talang dan bambu plymorpha.
b. Untuk rangka bangunan. Biasanya bambu digunakan untuk membuat kuda- kuda, reng dan usuk
(kasau). Sambungannya menggunakan sambungan pen bambu, tali ijuk atau kombinasi keduanya.
Jenis bambu yang cocok untuk konstruksi ini adalah bambu petung, bambu duri, bambu duri ori,
bambu gombong, bambu sembilang dan bambu polymorpha.
c. Untuk tiang. Bambu digunakan untuk tiang-tiang yang berfungsi untuk menempelkan dinding dari
anyaman bambu, untuk tiang-tiang panggung penyangga kuda-kuda. Jenis ambungan yang
digunakan adalah sambungan lubang dan pen bambu dikombinasikan dengan tali ijuk. Jenis bambu
yang cocok adalah bambu petung, bambu duri, bambu duri ori, bambu gombong, bambu sembilang,
bambu balcoa dan bambu polymorpha.
d. Untuk lantai. Biasanya bambu dibuat anyaman atau bambu hanya dibelah saja kemudian
dirapikan/ditata sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai lantai. Jenis bambu yang cocok
untuk konstruksi ini adalah bambu petung, bambu ater, bambu talang, bambu gombong, bambu
sembilang dan bambu balcoa.
e. Untuk langit-langit. Jenis anyamannya sama dengan jenis anyaman dinding. Jenis bambu yang
cocok untuk konstruksi ini adalah bambu petung, bambu talang, bambu gombong.
f. Untuk konstruksi bekesting, tangga, dll.

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu


35

SOAL MID TEST

1. Jelaskan Pengertian Kayu !


2. Gambarkan bagian – bagian kayu dan jelaskan !
3. Dilihat dari susunan Kayunya, ada empat macam tipe variasi pohon. Sebut dan jelaskan Keempat tipe
variasi tersebut !
4. Pada dasarnya menurut jenisnya kayu dibedakan menjadi 2 bagian besar yang dikategorikan
berdasarkan jenis daunnya. Sebut dan Jelaskan !
5. Sebutkan 3 macam sifat kayu dan jelaskan salah satu yang kamu ketahui !
6. Apa yang kamu ketahui tenatang kadar air kayu !
7. Jelaskan tentang cacat – cacat pada kayu !
8. Jelaskan tentang proses pengeringan kayu dan sebutkan macam – macam pengeringan kayu !

Selamat Mengerjakan dan Jangan Ribut !

Materi Kuliah Ilmu Bahan Bangunan – Kayu dan Bambu