Anda di halaman 1dari 9

a.

Biologis Lobster Laut

Lobster laut termasuk dalam family palinuridae. Sistematika lobster telah banyak diungkapkan
oleh banyak peneliti, meskipun terdapat berbagai perbedaan. Klasifikasi yang dibuat oleh
Latreille (1806) membagi ordo decapoda kedalam dua subordo, yaitu macrura dan brachyura.
Pembagian ini didasarkan atas kondisi (letak) abdomen. Namun, pembagian ini memiliki banyak
kelemahan. Oleh karena itu, Borradaille (1907) menambahkan satu subordo lagi yaitu Anuora.
Namun pembagian ini dirasa masih memiliki kekurangan, sehingga ditambahkan Boas (1880)
mengusulkan dua subordo yang diberi nama reptantia dan naptantia. Lobster dimasukkan
kedalam ordo reptantia, sedangkan udang dimasukkan kedalam ordo naptantia.

Oleh Waterman dan Chace (1960), klasifikasi lobster dijelaskan sebagai berikut :

Super kelas : Crustacea

Kelas : Malacostraca

Subkelas : Eumalacostraca

Superordo : Eucarida

Ordo : Decapoda

Subordo : Reptantia

Superfamili : Scyllaridae

Famili : Palinuridae

Genus : panulirus

Spesies : Panulirus homarus, P. Penicillatus, P. Longipes, P.versicolor, P.ornatus, P.


poliphagus.

Lobster sering kali disebut dengan spiny lobster. Diindonesia, selain dikenal sebagai udang
barong atau udang karang, lobster juga memiliki berbagai nama daerah. Beberapa diantaranya
adalah urang takka (makasar),koloura (kendari), loppa (bone), hurang karang (sunda), udang
puyuh (padang), dan lain-lain.

b. Jenis Kelamin

Jenis kelamin lobster bisa ditentukan dari letak alat kelaminnya. Alat kelamin jantan terletak
diantara kaki jalan kelima, berbentuk lancip, dan menonjol keluar. Sementara, alat kelamin
betina terletak diantara kaki jalan ketiga, berbentuk dua lancipan. Lobster jantan biasanya
berukuran lebih kecil dibandingakan dengan lobster betina. jenis kelamin lobster ditentukan
dengan melihat letak gonopores. Gonopores lobster jantan terletak pada kaki jalan kelima,
sedangkan lobster betina terletak pada kaki jalan ketiga. Selain dari letaknya, penentuan jenis
kelamin lobster juga dapat dilakukan dengan memperhatikan ukuran badannya.

c. Karakteristik

Sifat dan kelakuan lobster perlu diketahui terlebih dahulu, sebelum memulai usaha budidaya
lobster di kolam secara terkontrol. Ketidaktahuan akan sifat dan kelakuan lobster seringkali
menjadi faktor yang menyebabkan kegagalan budidaya. Sifat dan kelakuan lobster diuraikan
sebagai berikut.

1. Sifat Nokturnal

Sifat nokturnal adalah sifat lobster yang melakukan aktivitasnya pada malam hari,
terutama aktivitas mencari makan. Sementara, pada siang hari lobster beristirahat dan tinggal di
tepi laut berkarang di dekat rumput laut yang subur, bersama golongan karang. Diharapkan, para
pembudidaya lobster memanfaatkan sifat ini, yakni melakukan pemberian pakan pada malam
hari dengan dosis yang lebih besar dibandingkan dengan pemberian pakan pada siang hari.

Dengan sifat nokturnal tersebut, tampak bahwa lobster senang bersembunyi di tempat-
tempat yang gelap. Di alam, lobster bersembunyi pada lubang-lubang yang terdapat di sisi
terumbu karang. Oleh karena itu, tempat budidaya lobster perlu dilengkapi dengan tempat
perlindungan atau tempat persembunyian.

2. Sifat Ganti Kulit (Moulting/Ecdysis)

Langkah awal pertumbuhan lobster ditandai dengan terjadinya pergantingan kulit


(moulting atau ecdysis). Peristwa moulting pada Crustacea adalah pergantian atau penanggalan
rangka luar untuk diganti dengan yang baru. Proses ini biasanya diikuti dengan pertumbuhan dan
pertambahan berat badan.

Proses pergantian kulit pada lobster hampir sama dengan pergantian kulit pada udang
penaeid, misalnya udang windu. Sebelum moulting, lobster mencari tempat pesembunyian
terlebih dahulu tanpa melakukan aktivitas makan dan tidur. Dua hari kemudian, bagian kepala
sudah mulai retak, kemudian dilepaskan dengan gerakan meloncat.

Setelah berganti kulit, lobster akan mengisap air sebanyak-banyaknya sehingga tubuhnya
terlihat membengkak. Untuk mengeraskan kulit barunya, lobster membutuhkan gizi yang cukup
dan jumlah pakan yanglebih banyak. Proses pengerasan kulit biasanya berlangsung selama 1-2
minggu.

3. Sifat Kanibalisme

Di alam, pakan yang disukai lobster adalah berbagai jenis kepiting, moluska, dan ikan.
Jika persediaan pakan tidak memadai, lobster akan memangsa sesamanya. Sifat lobster yang
saling memakan sesama jenisnya ini disebut sifat kanibalisme. Peristiwa ini terjadi terutama jika
ada lobster yang sedang dalam kondisi lemah (sedang berganti kulit) atau pakan yang diberikan
kurang tepat baik jenis, jumlah, frekuensi, maupun waktu pemberian. Oleh karena itu, diperlukan
adanya manajemen pakan yang baik. Selain itu, pemasangan potongan pipa paralon di dasar bak
akan sangan akan membantu lobster yang sedang berganti kulit untuk menghindari pemangsaan
dari lobster lainnya.

4. Daya Tahan

Pada umunya, jenis jenis udang mampu bertahan hidup pada perairan dengan kondisi
salinitas yang berubah-ubah (berfluktuasi). Sifat ini disebut eurihaline. Akan tetapi, beberapa
jenis udang, termasuk udang barong atau lobster, merupakan biota laut yang sangat sensitif
terhadap perubahan salinitas dan suhu. Oleh karena itu, budidaya harus dilakukan di tempat yang
beratap sehingga air hujan tidak masuk ke dalam media budidaya. Hal ini diperlukan untuk
mencegah terjadinya fluktuasi salnitas dan suhu yang terlalu tinggi. Jenis Panulirus sp. lebih
toleran terhadap salinitas antara 25-45%.

Lobster mencari makan pada malam hari, di sekitar karang yang lebih dangkal. Lobster
bergerak di tempat yang aman pada lubang-lubang karang, merayap untuk mencari makan.
Apabila terkena sinar lampu, lobster akan diam sejenak, kemudian melakukan pergerakan
mundur dan menghindar.

Pada saat tertentu, biasanya lobster berpindah ke perairan yang lebih dalam untuk
melakukan pemijahan. Lobster betina yang telah matang telur biasanya berukuran (dari ujung
telson sampai ujung rostrum) sekitar 16cm, sedangkan lobster jantan sekitar 20cm. Seekor
lobster jantan dapat membuahi banyak telur yang kemudian disimpan di bagian bawah perut
lobster betina.

5. Habitat

Lobster atau udang barong memiliki dua fase dalam siklus hidupnya, yaitu fase pantai dan fase
lautan. Lobster akan memijah di dasar perairan laut yang berpasir dan berbatu. Telur yang
dibuahi akan menetas menjadi larva yang kemudian bersifat planktonis, melayang-layang dalam
air. Larva yang disebut phylosoma ini memerlukan waktu sekitar 7 bulan untuk menjadi lobster
kecil/muda.

Habitat alami lobster adalah kawasan terumbu karang di perairan-perairan yang dangkal hingga
100 m di bawah permukaan laut. Di Indonesia, terdapat perairan karang yang merupakan habitat
lobster seluas 6700 km2 dan merupakan perairan karang terluas di dunia.

Lobster berdiam di dalam lubang-lubang karang atau menempel pada dinding karang. Aktivitas
organisme ini relatif rendah. Lobster yang masih muda biasanya hidup di perairan karang di
pantai dengan kedalaman 0,5-30 m
Habitat yang paling disukai adalah perairan dengan dasar pasir yang ditumbuhi rumput laut
(seagrass). Habitat udang karang (lobster) pada umumnya adalah di perairan pantai yang banyak
terdapat bebatuan / terumbu karang. Terumbu karang ini disamping sebagai barrier (pelindung)
dari ombak, juga tempat bersembunyi dari predator serta berfungsi pula sebagai daerah pencari
makan. Akibatnya daerah pantai berterumbu ini juga menjadi daerah penangkapan lobster bagi
para nelayan. Hal ini dapat dilihat dari cara nelayan mengoperasikan alat tangkap (bintur) di
daerah bebatuan di pantai. Setelah menginjak dewasa, lobster akan bergerak ke perairan yang
lebih dalam, dengan kedalaman antara 7-40 m. Perpindahan ini biasanya berlangsung pada siang
dan sore hari.

6. Morfologi lobster

Menurut Moosa dan Aswandy (1984), morfologi dari lobster yaitu terdiri dari kepala dan
thorax yang tertutup oleh karapas dan memiliki abdomen yang terdiri dari enam segmen.
Karakteristik yang paling mudah untuk mengenali lobster adalah adanya capit (chelae) besar
yang pinggirnya bergerigi tajam yang dimiliki lobster untuk menyobek dan juga menghancurkan
makanannya. Udang karang mudah dikenal karena bentuknya yang besar dibanding dengan
udang lainnya.

Morfologi dari udang karang atau lobster yaitu mempunyai bentuk badan memanjang, silindris,
kepala besar ditutupi oleh carapace berbentuk silindris, keras, tebal dan bergerigi. Mempunyai
antenna besar dan panjang menyerupai cambuk, dengan rostum kecil.

Lobster secara umum memiliki tubuh yang berkulit sangat keras dan tebal, terutama di
bagian kepala, yang ditutupi oleh duri-duri besar dan kecil. Mata lobster agak tersembunyi di
bawah cangkang ruas abdomen yang ujungnya berduri tajam dan kuat. Lobster memiliki dua
pasang antena, yang pertama kecil dan ujungnya bercabang dua disebut juga sebagai kumis.
Antena kedua sangat keras dan panjang dengan pangkal antena besar kokoh dan ditutupi duri-
duri tajam, sedangkan ekornya melebar seperti kipas. Warna lobster bervariasi tergantung
jenisnya, pola-pola duri di kepala, dan warna lobster biasanya dapat dijadikan tanda spesifik
jenis lobster.

Menurut Subani (1984), udang karang atau lobster memiliki ciri-ciri yaitu badan besar
dan dilindungi kulit keras yang berzat kapur, mempunyai duri-duri keras dan tajam, terutama
dibagian atas kepala dan antena atau sungut, bagian belakang badannya (abdomen) dan lembaran
ekornya. Pasangan kaki jalan tidak mempunyai chela atau capit, kecuali pasangan kaki lima pada
betina. Pertumbuhan udang karang sendiri selalu terjadi pergantian kulit atau molting, udang
karang memiliki warna yang bermacam-macam yaitu ungu, hijau, merah, dan abu-abu serta
membentuk pola yang indah. Memiliki antena yang tumbuh dengan baik, terutama antena kedua
yang melebihi panjang tubuhnya.

Secara morfologi tubuh lobster terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian depan atau
cephalothoraxs (kepala menyatu dengan dada) dan bagian belakang yang disebut abdomen
(perut). Seluruh tubuh lobster terdiri dari ruas-ruas yang tertutup olek kerangka luar yang keras,
bagian kepala terdiri dari 13 ruas dan bagian dada terdiri dari 6 ruas (Subani, 1984). Menurut
Sudradjat (2008), cephalothoraxs tertutup oleh cangkang yang keras (carapace) dengan bentuk
memanjang kearah depan. Pada bagian ujung cangkang tersebut terdapat bagian runcing yang
disebut cucuk kepala (rostrum). Mulut terletak pada kepala bagian bawah, diantara rahang-
rahang (mandibula). Sisi kanan dan kiri kepala ditutup oleh kelopak kepala dan dibagian
dalamnya terdapat insang. Mata terletak dibagian bawah rostrum, berupa mata majemuk
bertangkai yang dapat digerakkan.

7. Sistem Reproduksi Lobster

Lobster memiliki siklus hidup yang kompleks. Siklus hidup lobster mengalami beberapa
tingkatan yang berbeda pada tiap jenis. Lobster termasuk binatang yang mengasuh anaknya
walaupun hanya sementara. Menurut Subani (1978), sistem pembuahan lobster terjadi di luar
badan induknya (external fertilization). Indung telur nya berupa sepasang kantong memanjang
terletak mulai dari belakang perut (stomach) dibawah jantung (pericarduim) yang dihubungkan
keluar oleh suatu pipa peneluran (oviduct) dan bermuara di dasar kaki jalannya yang ketiga.

Menurut Moosa dan Aswandy (1984), ukuran panjang total lobster jantan dewasa kurang
lebih 20 cm, dan betina kurang lebih 16 cm, sedangkan umur pertama kali matang gonad yaitu
ditaksir antara 5 tahun – 8 tahun. Pada waktu pemijahan lobster mengeluarkan sperma
(spermatoforik) dan meletakkannya di bagian dada (sternum) betina mulai dari belakang celah
genital (muara oviduct) sampai ujung belakang sternum.

Peletakan spermatoforik ini terjadi sebelum beberapa saat peneluran terjadi. Masa
spermatoforik yang baru saja dikeluarkan sifatnya lunak, jernih dan kemudian agak mengeras
dan warna agak menghitam dan membentuk selaput pembungkus bagian luar atau semacam
kantong sperma.

Pembuahan terjadi setelah telur-telur dikeluarkan dan ditarik kearah abdomen yaitu
dengan cara merobek selaput pembungkus oleh betina dengan menggunakan cakar (kuku) yang
berupa capit terdapat pada ujung pasangan kaki jalannya. Lobster yang sedang bertelur
melindungi telurnya dengan cara meletakkan atau menempelkan dibagian bawah dada
(abdomen) sampai telur tersebut dibuahi dan menetas menjadi larva atau biasa disebut burayak
atau tumpayak (Moosa dan Aswandy, 1984). Lobster betina kadang-kadang dapat membawa
telur antara 10.000 -100.000 butir, sedangkan pada jenis-jenis yang besar bisa mencapai 500.000
hingga jutaan telur. Banyak sedikitnya jumlah telur tergantung dari ukuran lobster air laut
tersebut.

Menurut Prisdiminggo (2002), lobster mempunyai periode pemijahan yang panjang


puncaknya pada bulan November sampai Desember. Setiap individu hanya sekali memijah
setahun. Tetapi pada musim perkembangbiakan, lobster dapat melakukannya lebih dari satu kali
pemijahan. Waktu pemijahan sangat berhubungan dengan temperatur.
A. Pemilihan Lokasi Budidaya

1. Faktor Ekologis

Ekologis merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam pemilihan lokasi budidaya
lobster. Untuk pemilihan kondisi ekologis yang tepat, harus dikembangkan beberapa parameter
yang dapat digunaan untuk mengkaji dan menilai lokasi pengembangan lobster jenis tertentu.

• Kondisi Lingkungan Fisika

Lokasi yang cocok bagi usaha budi daya lobster adalah daerah pantai yang terletak di sekitar
teluk, selat diantara pulau-pulau yang berdekatan, atau perairan terbuka dengan terumbu karang
penghalang (barrier reef) yang cukup panjang. Lokasi juga harus bebas dari lalu lintas laut
karena lalu lintas kapal atau perahu dapat mengganggu ketenangan usaha budidaya.

• Kondisi Lingkungan Kimiawi

Lahan perairan untuk budi daya lobster sebaiknya tidak mengalami fluktuasi salinitas yang
tajam. Fluktuasi salinitas di luar kisaran ideal menyebabkan terjadinya stress pada lobster,
ditandai dengan sulitnya berganti kulit(moulting). Kisaran salinitas yang optimal bagi lobster
adalah 25-45 %.

2. Faktor Teknis

Faktor teknis lebih ditekankan pada kondisi lokasi agar dapat mendukung teknologi yang akan
diterapkan . Lokasi yang cocok digunakan dalam budidaya lobster, baik pembenihan maupun
pembeseran, adalah lokasi dengan ketersediaan pasokan air laut dan air tawar yang cukup. Air
laut digunakan dalam pemijahan , pemeliharaan larva, dan bahkan pemeliharaan induk.

3. Faktor Sosial Ekonomi

Lokasi yang dipilih sebaiknya mudah dijangkau (accessible) agar diperoleh kemudahan
dalam pengadaan sarana dan prasarana , pengelolaan proses produksi, sampai pemasaran. Lokasi
yang strategis akan memberikan kemudahan dalam transportasi bahan, tenaga kerja, dan hasil
panen, serta kemudahan dalam pemantauan dan pengawasan lobster terhadap pencurian. Usaha
budidaya lobster memerlukan banyak tenaga kerja sehingga berdampak positif terhadap
masyarakat sekitar karena dapat menciptakan lapangan kerja.

4. Aspek Peraturan dan Perundang-undangan

Lokasi dan lahan yang dipilih sebagai tapak usaha budi daya lobster sebaiknya tidak
bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Izin usaha dari
pemerintah harus dipertimbangkan sehingga tidak terjadi hambatan pada saat akan memulai
usaha.
B. Sarana Pembenihan

Sarana pembenihan akan sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas benih lobster yang
dihasilkan. Beberapa sarana yang dibutuhkan dalam usaha pembenihan lobster adalah sebagai
berikut :

1. Calon Induk

Kualitas dan kuantitas benih yang akan dihasilkan dalam pembenihan lobster sangat
dipengaruhi oleh induk yang digunakan. Calon induk lobster yang akan dikembangbiakkan harus
memenuhi beberapa persyaratan, yakni berumur 1,5-2,0 tahun, berat 1,0-1,5 kg/ekor untuk induk
jantan dan 1,5-2,0 kg/ekor untuk induk betina, sudah matang gonad (ditandai dengan warnanya
yang lebih cemerlang dengan panjang kerapas minimal 65 mm), serta sehat dan tidak cacat.

2. Pakan

Pakan yang dibutuhkan dalam pembenihan lobster adalah pakan alami yang berupa
rotifer (Brachionus plicatilis). Selain rotifer, diperlukan jenis pakan lain untuk melengkapi nutrisi
yang tidak terkandung dalam rotifer, terutama protein. Pakan yang dapat digunakan misalnya
daging ikan rucah. Disamping pakan alami, dapat juga diberikan pakan buatan, seperti flake yang
sering dipakai sebagai pakan dalam usaha pembenihan udang windu (Penaeus monodon
Fabricius). Di perairan, makanan untuk kebutuhan ikan sebenarnya sudah tersedia yaitu berupa
makanan alami yang banyak sekali macamnya, baik dari golongan hewan (zooplankton,
invertebrate, dan vertebrate), tumbuhan (phytoplankton maupun tumbuhan air) dan organisme
mati (detritus).

Selama tiga bulan pertama masa pemeliharaan, ikan atau kulitivan diberi pakan berupa
ikan rucah, seperti tembang, selar, dan peperek hingga kenyang. Tujuh bulan berikutnya
pemberian pakan hanya dilakukan satu hari sekali dengan dosis 4-6% bobot badan.

3. Bak Sand Filter dan Reservoir

Sand Filter (saringan pasir ) berupa bak beton (permanen) yang berisi pasir, ijuk, kerikil,
dan arang yang disusun untuk menjernihkan air. Air yang telah tersaring ditampung dan
diendapkan dalam reservoir I selama 1-2 hari agar kualitas air yang digunakan lebih terjamin.
Selanjutnya ,air dialirkan ke dalam reservoir II dan siap untuk digunakan. Selama pengendapan
kedua, air sebaiknya dperlakukan dengan aerasi terus –menerus untuk meningkatkan kandungan
oksigennya.

4. Bak Pemeliharaan Induk

Bak pemeliharaan induk terbuat dari semen atau beton, berbentuk empat persegi panjang
berukuran (3 x 2 x 1)m3 atau bujur sangkar berukuran (2 x 2 x 1)m3. Dinding bak bagian dalam
sebaiknya berwarna biru laut dan dasar bak diberi pasir putih setebal 10-15 cm. Di permukaan
pasir putih ditempatkan potongan paralon berdiameter 5 – 6 inci sepanjang 30-50 cm sebagai
tempat perlindungan. Bak ditemptakan di dalam ruangan tertutup dengan intensitas cahaya
matahari pada siang hari tidak melebihi 1.000 lux. Bak pemeliharaan induk lobster dilengkapi
dengan saluran pemasukan (inlet) pengeluaran air (outlet) untuk mempermudah sirkulasi air.

5. Bak Kultur Pakan Alami

Bak kultur pakan almi terdiri atas bak kultur Chloerella sp. dan rotifer (Brachionus
plicatillis). Jumlah dan kapasitas bak disesuaikan dengan kebutuhan akan pakan alami tersebut.

6. Bak Pemeliharaan Larva

Bak pemeliharaan larva / benih lobster dapat terbuat dari semen (beton) berbentuk
persegi panjang, bujur sangkar, atau lingkaran dengan ukuran dan jumlah diesuaikan dengan
skala usaha yang akan diterapkan. Selain itu, dapat juga digunakan fiberglass atau tangki
polikarbonat. Bak pemeliharaan larva sebaiknya ditempatkan di dalam ruangan untuk mencegah
fluktuasi suhu akibat sinar matahari langsung dan mencegah fluktuasi salinitas akibat hujan.

Panen Lobster

Panen dilakukan setelah lobster mencapai ukuran pasar, yaitu 150 – 200 gram/ekor. Benih yang
ditebar dengan ukuran rata-rata 5 gram/ekor dapat dipanen dengan ukuran rata-rata 120
gram/ekor selama pemeliharaan 10 (sepuluh bulan). Sedangkan benih yang ditebar dengan
ukuran 10 gram/ekor dapat dipanen dengan ukuran rata-rata 120 gram/ekor selama 8 (delapan
bulan).

Udang karang atau lobster hasil budidaya dipasarkan dalam kondisi hidup dan tidak cacat,
sehingga panen harus dilakukan secara hati-hati. Pemanenan dilakukan dengan cara mengangkat
karamba. Selanjutnya, lobster dipindahkan satu persatu dari tempat pemeliharaannya ke dalam
boks styrofoam. Pengangkutan udang antar daerah maupun ekspor dilakukan dalam keadaan
hidup. Selain itu, suhu diusahakan rendah sekitar 20o C dengan kondisi tanpa air, tetapi lembab.

Daftar pustaka

Borradaille, 1907. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta

Boas, 1880. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.


Latreille, 1806. Budidaya Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) dan Lobster (Panulirus sp)
dalam Karamba Jaring Apung (KJA) di Teluk Ekas, Lombok Timur.

Moosa dan Aswand ,1984. Status Pemanfaatan Lobster (Panulirus sp) di Perairan Kebumen.
Jurnal Saintek Perikanan Vol. 4, No. 2

Prisdiminggo, 2002. Aspek Biologi dan Potensi Lestari Sumberdaya Lobster (Panulirus spp.) di
Perairan Pantai Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen. Jurnal Perikanan VIII(1).

Subani, 1984. Lobster. Kanisius. Yogyakarta

Waterman dan Chace, 1960. Perikanan Udang Barong (Spiny Lobster) dan Prospek Masa
Depannya. Bulletin Penelitian Perikanan Volume I (3). Pusat Penelitian dan Pengembangan
Perikanan, Jakarta.