Anda di halaman 1dari 14

SATUAN ACARA KEGIATAN

TERAPI BERMAIN PUZZLE


RUANG PERAWATAN ANAK HEMATO ONKOLOGI
RSUD ULIN BANJARMASIN

Tanggal 3 September 2018

Oleh:
M. NANDA HIDAYAT, S.Kep
NIM. 1730913310051

PROGRAM PROFESI NERS ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2018
LEMBAR PENGESAHAN

SATUAN ACARA KEGIATAN


TERAPI BERMAIN PUZZLE
RUANG PERAWATAN ANAK HEMATO ONKOLOGI
RSUD ULIN BANJARMASIN

Oleh:
M. NANDA HIDAYAT, S.Kep
NIM. 1730913310051

Banjarmasin, September 2018

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Eka Santi, S.Kep., Ns., M.Kep Ayu Susanti, S.Kep., Ns


NIP. 190780615 200812 2 001 NIP. 19800930 200312 2 005
I. PENDAHULUAN
Menurut Supartini (2004), hospitalisasi merupakan suatu proses dimana karena
alasan tertentu atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di RS, menjalani
terapi perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah. Hospitalisasi adalah
bentuk stressor individu yang berlangsung selama individu tersebut dirawat di
rumah sakit (Wong, 2003). Menurut WHO, hospitalisasi merupakan pengalaman
yang mengancam ketika anak menjalani hospitalisasi karena stressor yang dihadapi
dapat menimbulkan perasaan tidak aman. Hospitalisasi pada anak merupakan
pengalaman yang penuh dengan stress, baik bagi anak itu sendiri maupun orang
tua. Banyaknya stressor yang dialami anak ketika menjalani hospitalisasi
menimbulkan dampak negatif yang mengganggu perkembangan anak (Yuli Utami,
2014).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak stress ketika menjalani
hospitalisasi seperti faktor lingkungan rumah sakit yang familiar bagi mereka,
faktor berpisah dengan orang-orang yang berarti, faktor kurangnya informasi yang
didapat anak dna orang tuanya ketika akan menjalani hospitalisasi, faktor
kehilangan kebebasan dan kemandirian, faktor pengalaman yang berkaitan dengan
pelayanan kesehatan, dan faktor perilaku atau interaksi dengan petugas rumah sakit
terutama perawat (Yuli Utami, 2014). Kecemasan yang terjadi pada anak dapat
memperlambat proses penyembuhan, menurunkan semangat untuk sembuh dan
tidak kooperatif terhadap tindakan perawatan yang diberikan (Supartini, 2004). Hal
tersebut menyebabkan waktu perawatan yang lebih lama, bahkan akan
mempercepat terjadinya komplikasi selama perawatan (Nursalam, 2005). Oleh
karena itu perlu adanya penatalaksanaan untuk mengurangi kecemasan pada anak
yang menjalani hospitalisasi. Penatalaksanaannya yaitu dengan relaksasi, terapi
musik, aktivitas fisik, terapi seni dan terapi bermain. Melalui bermain anak dapat
menunjukan apa yang dirasakannya selama hospitalisasi karena dengan melakukan
permainan anak dapat melupakan rasa sakitnya (Wong, 2003).
Permainan yang terapeutik dapat memperbaiki gangguan emosional dan
penurunan kondisi selama dirawat di rumah sakit. Anak-anak membutuhkan
bermain, tetapi tidak semua permainan memilki sifat terapeutik. Permainan
terapeutik hendaknya disesuaikan dengan usia dan tahapan perkembangan anak
(Hale & Tjahjono). Menurut Subardiah (2009), permainan terapeutik berpengaruh
terhadap penurunan kecemasan, kehilangan kontrol, dan ketakutan pada anak yang
dirawat di rumah sakit. Pemberian terapi bermain dapat menurunkan kecemasan
pada anak sehingga dapat meningkatkan sikap kooperatif anak selama menjalani
hospitalisasi. Dengan terapi bermain anak juga akan memperoleh kegembiraan dan
kesenangan sehingga membuat anak lebih kooperatif terhadap tindakan
keperawatan yang akan diberikan selama anak menjalani hospitalisasi (Hale &
Tjahjono).
Terapi yang memiliki sifat terapeutik antara lain adalah puzzle. Terapi bermain
dengan puzzle sangat bermakna dalam mengurangi kecemasan pada anak karena
membutuhkan kesabaran dan ketekunan anak dalam merangkainya, lambat laun
akan membuat mental anak terbiasa untuk bersikap tenang, tekun dan sabar dalam
menghadapi dan menyelesaikan sesuatu (Inggrith, Amatus, & Rina, 2015). Puzzle
secara bahasa Indonesia diartikan tebakan. Tebakan adalah sebuah masalah yang
diberikan sebagai hiburan yang biasanya ditulis atau dilakukan (Rofiqo, 2013).
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:1017) menyatakan, “tebakan adalah sesuatu
yang ditebak, teka-teki.”. Oleh karena itu, sangat pentingnya kegiatan terapi
bermain terhadap kembang anak dan untuk mengurangi kecemasan akibat
hospitalisai, maka akan dilaksanakan terapi bermain puzzle.

II. TUJUAN
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan terapi bermain pada anak di ruang perawatan anak
Hemato Onkologi RSUD Ulin Banjarmasin selama 30 menit, diharapkan
dapat menurunkan kecemasan anak, anak merasa senang selama perawatan
dirumah sakit dan tidak takut lagi terhadap perawat dan segala tindakan yang
diberikan, serta dapat melanjutkan perkembang anak sesuai dengan usianya.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapatkan terapi bermain satu (1) kali diharapkan anak
mampu:
a. Anak merasa senang selama dirawat.
b. Kejenuhan selama dirawat di rumah sakit menjadi berkurang.
c. Anak tidak takut lagi dengan dokter dan perawat.
d. Anak tidak takut lagi dengan segala tindakan yang diberikan.
e. Menstimulasi perkembangan aspek kognitf, afektif dan motorik halus
anak.
f. Sarana untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran anak.

III. MANFAAT TERAPI BERMAIN


1. Memfasilitasi situasi yang tidak familiar.
2. Membantu untuk mengurangi stress terhadap perpisahan.
3. Memberi tempat distraksi dan relaksasi.
4. Membantu anak untuk merasa aman dalam lingkungan yang asing.
5. Memberikan cara untuk mengurangi tekanan dan untuk mengekspresikan
perasaan.
6. Menganjurkan anak untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-sikap
yang positif terhadap orang lain.
7. Memberikan cara untuk mengekspresikan ide kreatif dan minat.
8. Memberi cara mencapai tujuan-tujuan terapeutik.
IV. RENCANA KEGIATAN TERAPI BERMAIN
1. Jenis Program Bermain
a. Bermain puzzle
2. Karakteristik Bermain
a. Mengembangkan kognitif anak
b. Meningkatkan aktivitas motorik halus anak
c. Melatih kreativitas anak
d. Meningkatkan ekspresi emosinal anak, termasuk pelepasan yang aman
dari rasa marah dan benci.
3. Karakteristik Peserta
a. Usia 9 tahun
b. Jumlah peserta 1 orang anak dan didampingi orang tua
c. Keadaan umum anak mulai membaik
d. Peserta kooperatif
4. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
a. Hari/tanggal : Senin, 03 September 2018
b. Waktu : 10.30 – 11.00 WITA
c. Tempat : Ruang Perawatan Anak Hemato Onkologi RSUD
Ulin Banjarmasin
5. Metode
Bermain puzzle
6. Alat yang Digunakan
Puzzle dengan ukuran 12 potongan
7. Struktur Organisasi dan Uraian Tugas
a. Struktur Organisasi
1) Leader : M. Nanda Hidayat, S.Kep
2) Co. Leader : Desyka Yuniarti, S. Kep
3) Fasilitator : Desyka Yuniarti, S. Kep
4) Observer : Desyka Yuniarti, S. Kep
b. Uraian Tugas
1) Leader
a) Menjelaskan tujuan bermain.
b) Mengarahkan proses kegiatan pada anak.
c) Menjelaskan aturan bermain pada anak.
d) Mengevaluasi perasaan anak setelah bermain.
2) Co. Leader
a) Membantu leader dalam mengevaluasi anak.
3) Fasilitator
a) Menyiapkan alat-alat permainan.
b) Memberi motivasi kepada anak untuk mendengarkan apa yang
sedang dijelaskan.
c) Mempertahankan kehadiran anak.
d) Mencegah gangguan/hambatan terhadap anak baik luar maupun
dalam.
4) Observer
a) Mencatat dan mengamati respon anak selama terapi bermain baik
verbal maupun nonverbal.
b) Mencatat seluruh proses yang dikaji dan semua perubahan
perilaku anak selama terapi bermain.
c) Mencatat dan mengamati anak aktif dari program terapi bermain.
Terapis Waktu Subjek Terapi
Persiapan (Pra Interaksi) 5 menit Ruangan, alat-alat
Persiapan Pasien permainan, anak, dan
a. Anak dan orang tua diberitahu keluarga sudah siap.
tujuan bermain.
b. Melakukan kontrak waktu dan
tempat pelaksanaan.
c. Mengecek kesiapan dan kondisi
anak untuk bermain (anak tidak
mengantuk, anak tidak rewel,
kondisi anak memungkinkan untuk
diajak bermain, keadaan umum
anak membaik).
d. Bermain dapat dilakukan di tempat
tidur anak atau duduk/disesuaikan
dengan kondisi anak.
Persiapan Peralatan
a. Menyiapkan alat dan bahan yang
diperlukan seperti puzzle dengan
ukuran 12 potongan. Mencek
kembali kelengkapan peralatan
yang akan dipergunakan.
Pembukaan (Orientasi) 5 menit Anak dan keluarga
a. Mengucapkan salam. menjawab salam, anak
b. Memperkenalkan diri. saling berkenalan, anak,
c. Anak yang akan bermain saling dan keluarga
berkenalan. memperhatikan terapis.
d. Memanggil anak dengan nama
panggilan yang dia senangi.
e. Menjelaskan tujuan dan langkah-
langkah pelaksanaan kegiatan
terapi bermain dengan bercerita
pada orang tua/anak.
f. Memberi kesempatan pada anak
dan orang tua untuk bertanya jika
ada hal yang belum jelas.
g. Menanyakan kesiapan anak
sebelum kegiatan dilakukan.
h. Meminta persetujuan (informed
consent) orang tua responden.
Tahap Kerja 15 menit Anak dan keluarga
a. Memberi petunjuk pada anak memperhatikan penjelasan
tentang prosedur bermain. terapis, anak melakukan
b. Memotivasi keterlibatan anak dan kegiatan yang diberikan
orang tua. oleh terapis, anak dan
c. Mempersilahkan anak untuk keluarga memberikan
memilih tempat duduk yang respon yang baik.
disenangi.
d. Anak mulai menyusun puzzle
didampingi oleh orang tua anak,
leader, co. leader, dan fasilitator
selama 5 menit.
e. Mengobservasi emosi dan
hubungan interpersonal anak.
f. Menanyakan perasaan anak apakah
sudah merasa bosan.
g. Memberi pujian ketika anak
berhasil melakukan dengan baik.
h. Memberikan reward kepada anak.
i. Mengakhiri permainan.
Terminasi 5 menit Anak dan keluarga tampak
a. Menanyakan perasaan anak setelah senang, menjawab salam
bermain
b. Menanyakan perasaan dan
pendapat orang tua tentang
bermain puzzle
c. Berpamitan dengan anak dan orang
tua.
d. Membereskan peralatan.
e. Mengembalikan alat ke tempat
semula.
f. Mencuci tangan.
g. Mencatat respon anak dan orang
tua.

8. Antisipasi Masalah
a. Jadwal terapi bermain yang kurang sesuai (lebih lambat dari yang di
jadwalkan atau selesai tidak tepat waktu).
Solusi: Jadwal terapi bermain disesuaikan (dimulai tidak pada waktu
terapi dan tetap diselesaikan walaupun waktu telah habis)
b. Anak tiba-tiba tidak mau bermain
Solusi: Tanyakan mengapa anak tidak mau bermain, jika memungkinkan
bujuk anak untuk bermain.
c. Anak rewel atau ingin keluar dari terapi bermain.
Solusi: Melakukan kerjasama dengan orang tua untuk mendampingi anak
selama program terapi.

9. Evaluasi Hasil Kegiatan


a. Evaluasi Struktur
1) Kegiatan di mulai pada jam 10.30 Wita
2) Kondisi lingkungan kondusif, dilakukan di ruang bermain anak.
3) Anak dan orangtua menyetujui untuk dilakukan terapi bermain seperti
yang sudah dijelaskan oleh leader.
4) Peralatan yang digunakan sudah disiapkan yaitu Puzzle dengan
ukuran 12 potongan
5) Leader berperan sebagai terapis (terapi bermain), co-leader membantu
leader mengkondusifkan kondisi ruangan dan mempersiapkan
peralatan, fasilitator memfasilitasi apa yang anak perlukan sehingga
tidak timbul hambatan dalam bermain, observer mengamati jalannya
terapi bermain dari awal hingga akhir.
b. Evaluasi Proses
1) Leader memimpin acara.
2) Leader menjelaskan kepada anak bagaimana cara permainan yang
akan dilakukan.
3) Terapi bermain dilakukan kurang lebih 40 menit, tidak sesuai dengan
kontrak 30 menit karena anak ingin menyelesaikan permainnya
terlebih dahulu.
4) Co-leader berhasil mengkondusifkan ruangan (ruangan tenang untuk
bermain) sehingga tidak timbul hambatan saat bermain. Namun, ada
2 orang yang ikut bermain karena merasa tertarik ketika melihat
temannya sedang bermain.
5) Observer mengamati proses terapi bermain dari awal hingga akhir dan
menyampaikan hasil pengamatan kepada leader.
6) Anak mengikuti kegiatan yang dilakukan dari awal hingga akhir.
c. Evaluasi Hasil
1) Aspek kognitif
Anak mampu menyelesaikan puzzle dalam waktu 7 menit dengan
puzzle 12 potong.
2) Aspek afektif
Anak menyatakan rasa senangnya setelah bermain.
3) Orangtua anak mengucapkan terimakasih kepada tim terapi bermain
karena sudah membuat anaknya senang dengan bermain bersama.
d) Kesimpulan
Anak R usia 9 tahun setelah dilakukan terapi bermain, anak
merasa senang dan terlihat lebih ceria serta mau berkomunikasi
dengan perawat. Tujuan yang tercapai seperti terapi bermain dapat
meningkatkan aspek kognitif dan aspek afektif anak, anak dapat
bersosialisasi dan berkomunikasi dengan terapis, anak merasa senang.
Daftar Pustaka

Supartini, Yupi. 2004. Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.


Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (untuk Perawat dan Bidan).
Jakarta: Salemba Medika.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.
Utami, Yuli. 2014. Dampak Hospitalisasi Terhadap Perkembangan Anak. Jurnal
Ilmiah WIDYA. Vol. 2, No. 2, Mei-Juli.
Subardiah, LP. 2009. Pengaruh Permainan Terapeutik Terhadap Kecemasan,
Kehilangan Kontrol, dan Ketakutan Anak Prasekolah Selama Dirawat di
RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Propinsi Lampung.Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia.
Hale, M.A, Tjahjono. Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Kecemasan Anak Yang
Mengalami Hospitalisasi Di Ruang Mirah Delima Rumah Sakit William
Booth Surabaya. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan William Booth.
Kaluas, Inggrith, Ismanto, Amatus Yudi , Kundre, Rina Margaretha. 2015. Perbedaan
Terapi Bermain Puzzle Dan Bercerita Terhadap Kecemasan Anak Usia
Prasekolah (3-5 Tahun) Selama Hospitalisasi Di Ruang Anak Rs Tk. Iii. R.
W. Mongisidi Manado. eJournal Keperawatan (e-Kp). Vol. 3, No. 2, Mei.
Aroya, Rofiqo. 2013. Pengaruh Media Pembelajaran Puzzle Terhadap Peningkatan
Kemampuan calistung Peserta Didik Pendidikan Keaksaraan Fungsional
Tingkat Dasar Di UPTDSKB Kabupaten Trenggalek. E-journal Universitas
Negeri Surabaya. Vol. 1, No.3.
Anoviyanti, Sarie Rahma. 2008. Terapi Seni Melalui Melukis pada Pasien Skizofrenia
dan Ketergantungan Narkoba. ITB J. Vis. Art & Des. Vol. 2, No. 1, 72-84
Dokumentasi hasil terapi bermain puzzle pada klien An. R di ruang perawatan anak
hemato-onkologi, Senin, 3 september 2018

Anda mungkin juga menyukai