Anda di halaman 1dari 23

RINGKASAN MATERI KULIAH

PERBANDINGAN HUKUM PERDATA

Disusun Oleh :
Nama : Novi Kartika Centris
NPM : 11.16.0.68

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM JAKARTA
2019
a. Kondisi Global

Perbandingan Hukum sebagai metode penelitian dan sebagai ilmu pengetahuan usianya relatif
masih muda. Namun demikian manfaatnya sangat dirasakan, sehingga dimasukkan dalam
kurikulum di semua Fakultas Hukum Negeri maupun swasta. Perbandingan hukum mempunyai
banyak kegunaan, manfaat serta fungsinya tidak kecil bagi berbagai bidang antara lain:
Berfungsi bagi pengembangan ilmu hukum di Indonesia, Berfungsi bagi praktik pembinaan
hukum, dan berfungsi dalam rangka perencanaan hukum.

Hukum perdata Belanda berasal dari hukum perdata Perancis yaitu Code Napoleon yang disusun
berdasarkan hukum Romawi Corpus Juris Civilis yang pada waktu itu dianggap sebagai hukum
yang paling sempurna. Hukum Privat yang berlaku di Perancis dimuat dalam dua kodifikasi yang
disebut Code Civil (hukum perdata) dan Code de Commerce (hukum dagang). Sewaktu
Perancis menguasai Belanda (1806-1813), kedua kodifikasi itu diberlakukan di negeri Belanda
yang masih dipergunakan terus hingga 24 tahun sesudah kemerdekaan Belanda dari Perancis
(1813)

Pada Tahun 1814 Belanda mulai menyusun Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Sipil) atau
KUHS Negeri Belanda, berdasarkan kodifikasi hukum Belanda yang dibuat oleh MR.J.M.
KEMPER disebut ONTWERP KEMPER namun sayangnya KEMPER meninggal dunia 1824
sebelum menyelesaikan tugasnya dan dilanjutkan oleh NICOLAI yang menjabat sebagai Ketua
Pengadilan Tinggi Belgia. Keinginan Belanda tersebut terealisasi pada tanggal 6 Juli 1880
dengan pembentukan dua kodifikasi yang baru diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1838 oleh
karena telah terjadi pemberontakan di Belgia yaitu :

1. Burgerlijk Wetboek yang disingkat BW [atau Kitab Undang-Undang Hukum Perdata-


Belanda.
2. Wetboek van Koophandel disingkat WvK [atau yang dikenal dengan Kitab Undang-
Undang Hukum Dagang]

Kodifikasi ini menurut Prof Mr J, Van Kan BW adalah merupakan terjemahan dari Code Civil
hasil

jiplakan yang disalin dari bahasa Perancis ke dalam bahasa nasional Belanda
KUHPerdata

Yang dimaksud dengan Hukum perdata Indonesia adalah hukum perdata yang berlaku bagi
seluruh Wilayah di Indonesia. Hukum perdata yang berlaku di Indonesia adalah hukum perdata
baratBelanda yang pada awalnya berinduk pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang
aslinya berbahasa Belanda atau dikenal dengan Burgerlijk Wetboek dan biasa disingkat dengan
B.W. Sebagian materi B.W. sudah dicabut berlakunya & sudah diganti dengan Undang-Undang
RI misalnya mengenai UU Perkawinan, UU Hak Tanggungan, UU Kepailitan.

Pada 31 Oktober 1837, Mr.C.J. Scholten van Oud Haarlem di angkat menjadi ketua panitia
kodifikasi dengan Mr. A.A. Van Vloten dan Mr. Meyer masing-masing sebagai anggota yang
kemudian anggotanya ini diganti dengan Mr. J.Schneither dan Mr. A.J. van Nes. Kodifikasi
KUHPdt. Indonesia diumumkan pada tanggal 30 April 1847 melalui Staatsblad No. 23 dan
berlaku Januari 1948.

Setelah Indonesia Merdeka berdasarkan aturan Pasal 2 aturan peralihan UUD 1945, KUHPdt.
Hindia Belanda tetap dinyatakan berlaku sebelum digantikan dengan undang-undang baru
berdasarkan Undang – Undang Dasar ini. BW Hindia Belanda disebut juga Kitab Undang –
Undang Hukun Perdata Indonesia sebagai induk hukum perdata Indonesia.

Isi KUHPerdata

KUHPerdata terdiri dari 4 bagian yaitu :

1. Buku 1 tentang Orang / Personrecht


2. Buku 2 tentang Benda / Zakenrecht
3. Buku 3 tentang Perikatan /Verbintenessenrecht
4. Buku 4 tentang Daluwarsa dan Pembuktian /Verjaring en Bewijs

b. Kondisi Sejarah Hukum Perdata di Indonesia

Adalah salah satu bidang hukum yang mengatur hak dan kewajiban yang dimiliki subyek
hukum dan hubungan antara subyek hukum. Hukum perdata disebut pula hukum privat atau
hukum sipil sebagai lawan dari hukum publik.
Hukum perdata mengatur hubungan antara penduduk atau warga negara sehari-hari, seperti
misalnya kedewasaan seseorang, perkawinan, perceraian, kematian, pewarisan, harta
benda, kegiatan usaha dan tindakan-tindakan yang bersifat perdata lainnya.
Terjadinya hubungan hukum antara pihak-pihak menunjukkan adanya subyek sebagai pelaku dan
benda yang dipermasalahkan oleh para pihak sebagai obyek hukum.
Subyek hukum adalah segala sesuatu yang dapat mempunyai hak dan kewajiban untuk
bertindak dalam hukum. Terdiri dari orang dan badan hukum.
Obyek hukum adalah segala sesuatu berguna bagi subyek hukum dan dapat menjadi pokok
suatu hubungan hukum yang dilakukan oleh subyek hukum. Obyek hukum adalah benda.
Hak adalah kekuasaan, kewenangan yang diberikan oleh hukum kepada subyek hukum.
Kewajiban adalah beban yang diberikan oleh hukum kepada orang ataupun badan hukum.
Ada beberapa sistem hukum yang berlaku di dunia dan perbedaan sistem hukum tersebut juga
mempengaruhi bidang hukum perdata, antara lain:
a sistem hukum Anglo-Saxon (Common Law) yaitu sistem hukum yang berlaku di Kerajaan
Inggris Raya termasuk negara persemakmuran atau negara-negara yang terpengaruh oleh
Inggris, misalnya Amerika Serikat.
b. sistem hukum Eropa Continental, sistem hukum yang diterapkan di daratan Eropa.
Hukum perdata di Indonesia didasarkan pada hukum perdata di Belanda, khususnya hukum
perdata Belanda pada masa penjajahan.
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (dikenal KUHPer.) yang berlaku di Indonesia tidak
lain adalah terjemahan dari ''Burgerlijk Wetboek'' (atau dikenal dengan BW) yang berlaku di
kerajaan Belanda dan diberlakukan di Indonesia berdasarkan azas konkordansi (azas
persamaan hukum). Untuk Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda, BW
diberlakukan mulai 1859. Hukum perdata Belanda sendiri disadur dari hukum perdata yang
berlaku di Perancis dengan beberapa penyesuaian.
SEJARAH SINGKAT PERBANDINGAN HUKUM PERDATA

Pada awalnya hukum yang berlaku di masing-masing negara di Eropa Kontinental adalah
hukum kebiasaan. Namun dalam perkembangan jaman hukum kebiasaan tersebut menjadi
lenyap oleh karena adanya penjajahan oleh bangsa Romawi dan adanya anggapan bahwa
hukum Romawi lebih sempurna daripada hukum asli negara mereka sendiri, sehingga
diadakanlah resepsi (perkawinan/percampuran) hukum.

Hukum Romawi dianggap lebih sempurna karena sejak abad ke-1 ahli hukum Yunani Gajus
Ulpanus telah menciptakan serta mempersembahkan suatu sistem hukum kepada bangsa dan
negaranya, bahkan pada abad ke-6, Kaisar Romawi Timur Justinian I dapat menyajikan
kodifikasi hukum Romawi dalam kitab yang diberi nama Corpus Juris Civils. Anggapan
hukum Romawi sempurna timbul atas hasil penelitian para Glossatoren (pencatat/peneliti)
dalam abad pertengahan.

Faktor penyebab lainnya hukum Romawi diresepsi oleh negara-negara di Eropa Kontinental
adalah karena banyaknya mahasiswa dari Eropa Barat dan Utara yang belajar khususnya hukum
Romawi di Perancis Selatan dan di Italia yang pada saat itu merupakan pusat kebudayaan Eropa
Kontinental. Sehingga para mahasiswa tersebut setelah pulang dari pendidikannya mencoba
menerapkannya dinegaranya masing-masing walaupun hukum negara asalnya telah
tersedia.Selain itu kepercayaan pada Hukum alam yang asasi juga merupakan faktor yang
mendukung diresepsinya hukum Romawi, karena hukum alam dianggap sempurna dan selalu
berlaku kapan saja dan di mana saja. Hukum alam ini pada saat itu selalu disamakan dengan
hukum Romaw

Sebelum adanya unifikasi hukum oleh Kaisar Napoleon Bonaparte, Hukum yang berlaku di
Perancis bermacam-macam yaitu hukum Germania (Jerman) dan hukum Romawi. Di bagian
utara dan tengah berlaku hukum lokal (pays de droit coutumier) yakni hukum kebiasaan
Perancis kuno yang berasal dari hukum Jerman, sedangkan pada daerah selatan yang berlaku
adalah hukum Romawi (pays de droit ecrit) yakni telah dikodifikasi dalam Corpus Juris
Civils dari Kaisar Romawi Justinian I. Di samping hukum perkawinan adalah hukum yang
ditetapkan oleh Gereja Katolik ialah hukum Kanonik dalam Codex Iuris Canonici dan berlaku
di seluruh Perancis.
Dengan berlakunya berbagai hukum tersebut, maka di Perancis dirasakan tidak adanya
kepastian hukum dan kesatuan hukum. Oleh karena itu timbul kesadaran akan pentingnya
kesatuan

hukum/unifikasi hukum. Unifikasi hukum ini akan dituangkan ke dalam suatu buku yang
bernama Corpus de lois Gagasan unifikasi hukum ini sesungguhnya telah timbul sejak abad
XV (Raja Louis XI) yang kemudian dilanjutkan oleh berbagai parlemen propinsi pada abad
XVI dan para ahli hukum seperti Charles Doumolin (1500 – 1566), Jean Domat (1625 – 1696),
Robert Joseph Pothier (1699 – 1771), dan Francois Bourjon.Namun pada akhir abad XVIII
dapat diterbitkan tiga buah ordonansi mengenai hal-hal yang khusus dan yang diberi nama
ordonansi daguesseau. Ordonansi yang dimaksud adalah L’ordonance sur les donations (1731),
L’ordonance sur les testaments (1735), dan L’ordonance sur les substituions fideicommisaires
(`1747).

Tanggal 21 Maret 1804 terwujudlah kodifikasi Perancis dengan nama Code Civil des Francais
yang diundangkan sebagai Code Napoleon pada tahun 1807. Kodifikasi hukum ini merupakan
karya besar dari Portalis selaku anggota panitia pembentuk kodifikasi hukum tersebut, selain
itu kodifikasi hukum ini merupakan kodifikasi hukum nasional yang pertama dan terlengkap
serta dapat diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Sehingga pada saat itu
timbulah paham Legisme dengan mottonya “Di luar undang-undang tidak ada hukum”.

Sumber hukum kodifikasi tersebut merupakan campuran asas-asas hukum Jerman dan hukum
Greja

(hukum Kanonik) yaitu hukum kebiasaan (coutumes), terutama kebiasaan Paris (coutume de
Paris), ordonansi-ordonansi Daguesseau, tulisan-tulisan dari pakar hukum seperti Poithier,
Domat, dan Bourjon, serta hukum yang dibentuk sejak revolusi Perancis sampai terbentuknya
kodifikasi hukum tersebut.

Dari uraian tersebut di atas dapat dikatakan bahwa di negara Perancis yang semula
memberlakukan bermacam-macam hukum dengan berbagai tahap, akhirnya pada tahun 1807
dapat memproklamirkan/diundangkan buku Code Civil des Francais atau Code Napoleon yang
merupakan kodifikasi hukum yang pertama di dunia.

Seperti halnya di Perancis, di negara Belanda, hukum yang mula-mula berlaku adalah hukum
kebiasaan yaitu hukum Belanda kuno. Namun akibat penjajahan Perancis (1806 – 1813)
terjadilah perkawinan hukum Belanda kuno dengan Code Civil.

Tahun 1814, setelah Belanda merdeka dibentuklah panitia yang dipimpin oleh J.M. Kemper
untuk

menyusun kode hukum Belanda berdasarkan Pasal 100 Konstitusi Belanda. Konsep kode
hukum

Belanda menurut Kemper lebih didasarkan pada hukum Belanda kuno, namun tidak disepakati
oleh para ahli hukum Belgia (pada saat itu Belgia masih bagian dari negara Belanda), karena
mereka lebih menghendaki Code Napoleon sebagai dasar dari konsep kode hukum Belanda.

Setelah Kemper meninggal (1824), ketua panitia diganti oleh Nicolai dari Belgia. Akibatnya
kode hukum Belanda sebagian besar leih didasarkan pada Code Napoleon dibandingkan hukum
Belanda kuno. Namun demikian susunannya tidak sama persis dengan Code Napoleon,
melainkan lebih mirip dengan susunan Institusiones dalam Corpus Juris Civils yang terdiri dari
empat buku.

Dalam hukum dagang Belanda tidak berdasar pada hukum Perancis melainkan berdasar pada
peraturan-peraturan dagang yang dibuat sendiri yang kemudian menjadi himpunan hukum yang
berlaku khusus bagi para golongan pedagang. Sejarah perkembangan hukum dagang Belanda
ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan hukum dagang yang di Perancis Selatan dan di Italia.

Sampai meletusnya Revolusi Perancis, hukum dagang hanya berlaku bagi golongan pedagang
saja (kelompok gilde). Perkembangan hukum dagang ini cepat sekali yaitu sebagai berikut pada
abad XVI – XVII adanya Pengadilan Saudagar guna menyelesaikan perkara-perkara
perniagaan, pada abad XVII adanya kodifikasi hukum dagang yan belum sepenuhnya
dilaksanakan, tahun 1673 dibuat Ordonance du Commerce oleh Colbert, dan tahun 1681 lahir
Ordonance du Marine. Sesudah revolusi Perancis, kelompok gilde dihapus dan hukum dagang
juga diberlakukan untuk yang bukan pedagang, sehingga hukum dagang dan hukum perdata
menjadi tida terpisah. Walau dalam kenyataannya pemisahaan tersebut tetap terjadi.Mengenai
kodifikasi dapat diketengahkan, bahwa maksud dari kodifikasi adalah agar adanya kepastian
hukum secara resmi dalam suatu sistem hukum tertentu. Akan tetapi masyarakat terus
berkembang, sehingga hukumnya dituntut untuk ikut terus berkembang. Dengan metode
kodifikasi dalam suatu sistem hukum yang terjadi adalah hukum selalu tertinggal di belakang
perkembangan masyarakat, karena banyak masalah-maslaah yang tak mampu diselesaikan oleh
kodifikasi hukum. Kitab Undang-undang Hukum Perdata (dikenal KUHPer.) yang berlaku di
Indonesia tidak lain adalah terjemahan dari ''Burgerlijk Wetboek'' (atau dikenal dengan BW)
yang berlaku di kerajaan Belanda dan diberlakukan di Indonesia berdasarkan azas konkordansi
(azas persamaan hukum). Untuk Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda, BW
diberlakukan mulai 1859.Hukum perdata Belanda sendiri disadur dari hukum perdata yang
berlaku di Perancis dengan beberapa penyesuaian

MACAM- MACAM PERBANDINGAN HUKUM PERDATA

1. PERBANDINGAN HUKUM KONTRAK


2. PERBANDINGAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM
3. PERBANDINGAN HUKUM BENDA
4. PERBANDINGAN HUKUM ORANG DAN KELUARGA

1. PERBANDINGAN HUKUM KONTRAK


A. SISTEM HUKUM KONTRAK
Sistem Hukum Kontrak

Kata sepakat, penawaran dan penerimaan penawaran


Masalah peralihan hak
Prinsip kebebasan berkontrak
Wanprestasi dan ganti rugi

Peristilahan “kontrak”
Contractus (Romawi)
Contract (Bld)
Contract (Inggris)
Contrat (Prancis)
Contrato (Spanyol)
Vertract (Jerman)
Pengaturan Hukum Kontrak:
1. Kode Hammurabi (18 SM)
Apabila debitur tdk dpt membayar utang, debitur dpt membayar dg cara
meminjamkan istri ato anak gadisny pd kreditur selam 3 th.
Jika pemilik kehilangan brg tdk dpt menunjkkan saksi maka dia berslah
krn menjatuhkan nama baik org lain dan mengakibtkan timbul
percekcokn sehingg hrs dihkm mati.

2. UU 12 Pasal (Twelve tables)/Hk dari Raja (450 SM)


450 SM; Th lahrnya Sistm HK Eropa Kontinentl
Basis bg sistem Hk Eropa Kontinentl
“Jika utang diakui ato ditetapkan pengadilan, mak berlaku grace period selam
30 hr. jk mash tdk dibayr,debitor dpt ditahan dg menangkp n membw ke
pengadilan.jika utang belum dibayr ato tdk ada yg menjamin utangny, kreditor
dpt mengambil dbitor n menyanderanya n mengiktnya.jk dia mau debitor dpt
hidup dg biaya sendri. Jk tdk maka kreditor akan memberi makan dr jagung
sebanyak 1 pon/hari.jk dlm 60 hari disandera blm jg bayar, maka debitr dpt
dijual ke luar negeri /hkm mati”.

Kontrak konsensual.kontrak yg langsg mengikt sejak dicapai sepakat.


Perbedaan prinsipal:
Anglo: perhatian penuh diberikan thd proses kontrak dari hulu ke hilir.
Cth.penawaran,penerimaan,prestasi balik.
Eropa: perhatian lebih ditekankan pd tahap hilir,dikenal kodifikasi hukum
perdata.
Cth.wanprestasi, force mejeur,ganti rugi, pelaksanaan kontrak.
3. Hukum Islam
Lahir abad 7 M
Transaksi hrs dilakukn scara benar n tdk saling merugikan orang lain (an-
Nisa’:29). Eropa kontinental:
Kontrak diatur dlm KUHPerdata (umum/khusus)
Anglo:
Lahir th 1066 M. pada saat org2 normans mengalahkan org2 native di Hasting
dan menaklukkan Inggris.
Kekuatan yg fleksibel dalam pengembang diri
Hk kontrak berkembang tersendat2 di pengadilan common law
Asumsi awal kontrak tdk dg sendirinya dpt dipaksakan berlakunya,
kcuali tuk kontrak tertentu
Model gugatan yg kaku dan prosedural,shingga gugatan berdasar
kontrak dpt ditrima jika pengadilan menganggap sesuai dg model
gugatn yg baku.
Tdk ada desakan agar pengadilan memaksakn berlaku kontrak dlm
bisnis
Hukum kontrak lebh berkembang di Pengadilan equity.
Hukum kontrak merupakn hk yg bersifat keranjang sampah, artinya apapun yg
tidk diatur oleh UU di bidang bisnis dpt diatur dg kata sepakat diantara para
pihak.

B. KATA SEPAKAT, PENAWARAN DAN PENERIMAAN PENAWARAN


1. Kode Hammurabi.
Kontrak sdh dianggap ada pd saat dicapai sepakat, tanpa perlu formalitas
tertentu .
Cth.kontrak jual beli sejak tahun 200SM.
Kontrak lain:
Kontrak berbentuk verbal: cth ijab kabul
Kontrak berbentuk literal: kontrak yg dicatat dlm buku khusus
Kontrak berbentuk riil: kontrak baru ada stelah serh terima
2. Sistem Hk Islam
Kata sepakt dikenal sbg ijab kabul n mrupak salah satu rukun akad.
Akad a/
“Perikatan antara mujib dan qabil dg cara yg dibenarkan syariat.ijab a/
pernyataan pihak pertam ttg isi perjanjian, kabul a/ pernyataan pihak kedua
untk mnerima isi perjanjian”
Akad yg tdk memenuhi unsur dan syarat akad dianggap tidak sah/batal
Akad tdk sah dibedakan 2:
Akad bathil, akad yg tdk memenuhi salah satu rukn dan syarat.
Akad fasid, akad yg sebenarny memenuhi persyaratan sbg akad tetapi ada yg
tidak jelas.
Formalitas ijab kabul dikenal dg sighat akad.
Sighat lisan
Sighat tulisan.
Sighat dlm bentuk isyarat
Sigaht dg perbuatan
3. Sistem Hk Eropa
Pada prinsipnya kontrak bersifat konsensual
Kontrak dlm anglo memilik prinsip yang hampir sama dg Eropa
3 kategori pembentukan kontrak
Kontrak formal. Kontrak dg segel n bth pencatatan
Kontrak nyata ttg utang
Kontrak simpel. Kontrak tanpa bentuk khusus

RUANG LINGKUP PERBANDINGAN HUKUM PERDATA

A. TRADISI HUKUM DUNIA


B. PERAN PERBANDINGAN HUKUM PERDATA

A. TRADISI HUKUM DUNIA


Tradisi hukum dasar dimulai dari Yunani

Plato mentakan bahwa tujuan hukum adalan keuntungan bagi seluruh masyarakat, untuk
mencapai tujuan menggunakan persuasi atau kekuatan untuk membuat semua orang menjadi
bagian masyarakat keseluruhan.

Aristoteles membagi hukum menjadi hukum dasar, yang universal dan tidak berubah, dan hukum
konvensional, yang berubah dari waktu ke waktu dan tempat berbeda.

Aristoteles membagi keadilan menjadi keadilan distributif, yang sekarang disebut keadilan
sosial, dan keadilan korektif, yang berkaitan dengan mengkoreksi ketidakadilan yang muncul
ketika hukum dilanggar.

Ahli teori Yunani tidak membahas masalah validitas hukum immoral, tetapi Antigone Sophocle
merupakan contoh utama.

Romawi kuno yang diwakili oleh Cicero memberikan ide bahwa hukum merupakan produk
pikiran manusia, karena semua hal memiliki sifat masing-masing, dan sifat manusia adalah
rasional. Bagi Cicero, hukum yang bukan demi keuntungan masyarakat bukan hukum hukum
yang sebenarnya.

Di awal era kristen, St. Augustine memberikan jembatan intelektual antara era pra kristen dan
kristen. Arti sesungguhnya dari proposisinya bahwa ‘hukum yang tidak adil bukan hukum’ telah
menjadi problematika.

Di abad pertengahan, St Thomas Aquinas mengembangkan teori hukum dasar yang meneruskan
tradisi pikiran pra kristen sebagai dasar hukum. Teori ini mesih berpengaruh dalam gereja katolik
Roma. Bagi Aguinas, biasanya (tapi tidak selalu), tidak ada kewajiban untuk patuh kepada
hukum positif yang melanggar hukum dasar.

Setelah Aquinas, teroi hukum dasar mulai menjadi sekuler dengan karya Grotius. Dengan karya
Menurut Hume, semua hukum dasar membuat kesimpulan dalam bentuk nilai dari proposisi
dalam bentuk fakta, sehingga tidak logis.

Hak fundamental diakui dan dilindungi oleh hukum Inggris dan hukum ME. UU HAM 1998
menaikkan profil Konvensi Eropa tentang HAM, tetapi tidak menggabungkan Konvensi dalam
Hukum Inggris.

B. PERAN PERBANDINGAN HUKUM PERDATA


Hukum Perdata sering juga disebut dengan Hukum Sipil dan Hukum Privat, yaitu ketentuan-
ketentuan hukum yang mengatur hal-hal yang bersifat keperdataan atau kepentingan pribadi.
Sedangkan menurut Subekti, kata Hukum Perdata mengandung dua istilah, yaitu: Pertama,
Hukum Perdata dalam arti luas, yaitu hukum yang meliputi seluruh hukum privat materil dan
hukum dagang. Kedua, Hukum Perdata dalam arti sempit, yaitu hukum yang meliputi hukum
privat materil saja.
Ada beberapa definisi Hukum Perdata yang dikemukakan para ahli hukum diantaranya
Sukidno Mertokusumo, menurut beliau Hukum Perdata adalah hukum antar perorangan yang
mengatur hak dan kewajiban orang perseorangan yang satu terhadap yang lain dari dalam
hubungan kekeluargaan dan di dalam pergaulan masyarakat yang pelaksanaannya diserahkan
kepada masing-masing pihak
Adapun definisi Hukum Perdata manurut Salim H.S. adalah kaidah-kaidah hukum (baik
tertulis/tidak tertulis) yang mengatur hubungan antara subjek hukum satu dengan subjek
hukum yang lain dalam hubungan kekeluargaan dan di dalam pergaulan kemasyarakatan.

Beberapa Peran perbandingan Hukum Perdata, yaitu:


a. Sebagai kaidah hukum yaitu: (1) tertulis yang terdapat dalam perundang-undangan, traktat
dan yurisprudensi (2) tidak tertulis yang timbul, tumbuh dan berkembang dalam praktek
kehidupan masyarakat (kebiasaan);
b. Mengatur hubungan hukum antara subjek hukum yang satu dengan subjek hukum lain;
c. Bidang hukum yang diatur dalam Hukum Perdata meliputi hukum orang, hukum keluarga,
hukum benda dan sebagainya

2. PERBANDINGAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM

A.HUKUM TENTANG PERBUATAN MELAWAN HUKUM

Melawan Hukum adalah suatu perbuatan yang dilakukan seseorang atau lebih atau badan
hukum yang dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja sehingga menimbulkan kelalaian dan
akan memperoleh kewajiban hukum yang menimbulkan akibat hukum itu sendiri baik berupa
sanksi dll.
TANGGUNG JAWAB MUTLAK

DELIK PUBLIK

Perbuatan Pidana

Perbuatan Melanggar Hukum

DELIK PRIVAT

Wanprestasi Kontrak

Perbuatan Melawan Hukum

Tanggungjawab Tanpa Kesalahan

Sistem Eropa Kontinental /Sistem Anglo Saxon

menganut doktrin positivisme

Karakteristiknya a/ adanya sanksi yg diancamkan penguasa thd pelanggar hkm krn tdk
patuh.PMH terjadi jika aturan hukm dilanggar, hak org lain dilanggar, perbuatan bertentangan
dg kesusilaan. menganut doktrin setiap orang berbuat atas resikonya sendiri Karena itu dia akan
bertanggungjawab jika tlah mlaksanakan kewajiban, sehingga unsur kewajiban a/ unsur utama
suatu PMH.pelanggaran kewajiban terjadi dg adanya kesengajaan ato kelalaian. Namun dlm
hal terbatas, PMH bisa terjadi dari perbuatan tanpa kesalahan, artinya seseorang tdk dpt
dimintai tanggungjawab ats tdk berbuat sesuatu kecuali sbg konsekuens dari kewajiban yg hrs
dilakukannya.

B. UNSUR KESENGAJAAN DAN KELALAIAN

Suatu perbuatan dapat diminta pertanggungjawabannya di dalam hukum, salah satu syaratnya
adalah

adanya unsur kesalahan. Dalam hukum positif, yang dimaksud kesalahan dapat berbentuk 2
macam yakni kesengajaan dan kelalaian atau ketidaksengajaan. Bentuk yang pertama
kesengajaan, sudah tentu merupakan perbuatan yang dapat diminta pertanggungjawabannya

C. TANGGUNG JAWAB MUTLAK/ STRICT LIABILITY


Adalah Suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh seseorang atau lebih karena kesengajaan
atau kelalaian yang harus dapat dipenugi melalui kewajiban hukum

contoh : tanggung jawab pemimpin perusahaan untuk membayar gaji karyawan

3.PERBANDINGAN HUKUM BENDA

A. KARAKTERISTIK HUKUM BENDA

PENGERTIAN BENDA . Prof.Mariam Darus dlm KUHPerdata ada 2 istilah:

Benda (Zaak) : benda dlm arti luas (ps 499 KUHPerdata)

Goed (barang)

“Zaak” adalah segala sesuatu yg “dpt” dikuasai manusia

“dpt”: membuka kemungkinan untuk memasukkan “sesuatu” yg sebelumnya → tdk


memenuhi kriteria sebagai objek hukum

Arti lain dari“Zaak” dlm KUHPerdata:

1.1).perbuatan Hukum pasal 1792 KUHPerdata

“Last Geving” (pemberian kuasa) :suatu perjanjian yg memberikan kuasa dari


seseorang pada seorang lainnya, dimana si penerima kuasa akan melakukan suatu
“zaak” untuk kepentingan pemberi kuasa.

1.2). Kepentingan pasal 1354 KUHPerdata → diatur tentang seseorang yg dgn sukarela akan
menyelenggarakan suatu “zaak” untuk kepentingan seseorang lainnya baik “diminta” dan
“tdk”

1.3).Kenyataan Hukum pasal 1263 KUHPerdata → perikatan dgn syarat tangguh/menunda


yaitu perikatan yg digantungkan pada “suatu kejadian” yg akan datang dan belum pasti atau
dari suatu “zaak” yg sudah terjadi tetapi belum diketahui para pihak.

B . ASAS – ASAS UMUM HUKUM BENDA

1.Merupakan hukum yg memaksa (dwigen recht) → tdk memberi kewenangan lain selain yg
ditentukan dlm undang – undang

2.Dapat dipindahkan

semua hak kebendaan dpt dipindahtangankan kecuali hak pakai dan hak mendiami.

3.Individualis

4.Asas Totalitas→ hak kebendaan selalu terdiri atas kesatuan objeknya

5.Asas prioritas → semua hak kebendaan memberi wewenang yg sejenis dgn kewenangan
dari eigendom hanya luasnya berbeda.

C. MACAM MACAM HAK KEBENDAAN

Hak Kebendaan

Hak kebendaan adalah suatu hak yang memberikan kekuasaan langsung atas suatu benda, yang
dapat dipertahankan terhadap tiap orang.

BEZIT. Bezit adalah suatu keadaan lahir, dimana seorang menguasai suatu benda seolah – olah
kepunyaannya sendiri, yang oleh hukum dilindungi dengan tidak mempersoalkan hak milik atas
benda itu sebenarnya ada pada siapa.

a.Bezit atas benda yang bergerak

Diperoleh dengan pengambilan barang tersebut dari tempatnya semula, sehingga secara terang
atau tegas dapat terlihat maksud untuk memiliki barang tersebut.

Bezit barang bergerak oleh bantuan orang lain, diperoleh dengan penyerahan barang itu dari
tangan bezitter lama ke tangan bezitter baru.

b.Bezit atas benda tak bergerak

Ditentukan oleh Undang – Undang bahwa, orang yang menduduki sebidang tanah harus selama
satu tahun terus menerus mendudukinya dengan tidak mendapat gangguan dari sesuatu pihak,
barulah ia dianggap sebagai bezitter tanah itu (Pasal 545 BW) oleh bantuan orang lain
(pengoperan), terjadi dengan suatu pernyataan, apabila orang yang menyatakan adalah bezitter.
4.PERBANDINGAN HUKUM ORANG DAN KELUARGA

Hukum orang tercantum dalam buku I BW

Pada hakekatnya lembaga perkawinan untuk umat islam adalah Kantor Urusan Agama dan
tercatat dalam Surat nikah, Pengadilan Agama adalah lembaga yang mengurusi tentang
permohonasn cerai talak, gugat cerai selain itu wakaf dan waris

Di Indonesia Lembaga perkawinan non islam adalah Kantor Catatan Sipil


PERBANDINGAN SISTEMATIKA HUKUM

A. Sistematika Hukum Diberbagai Negara

1. Sistem hukum civil law

sistem hukum eropa kontinental adalah suatu sistem hukum dengan ciri-ciri adanya berbagai
ketentuan-ketentuan dikodifikasi (dihimpun) secara sistematis yang akan ditafsirkan lebih
lanjut oleh hakim dalam penerapannya hampir 60% dari populasi dunia tinggal di negara yang
menganut sistem hukum ini. sistem hukum yang juga dikenal dengan nama civil law ini
berasal dari romawi
perkembangan diawali dengan penduduk romawi atas prancis pada masa itu sistem ini
dipraktekan dalam interaksi antara kedua bangsa untuk mengatur kepentingan mereka. proses
ini berlangsung bertahun-tahun, sampai-sampai negara prancis sendiri menagdopsi istem
hukum ini untuk diterapkan pada bangsanya sendiri. bangsa prancis membawa sistem ini ke
negeri belanda, dengan proses yang sama dengan masuknya ke prancis. selanjutnya sistem ini
berkembang ke itali, jerman, portugal, spanyol, dan sebagainya sistem ini pun berkembang ke
seluruh daratan benua eropa. ketika bagsa-bangsa eropa mulai mencari koloni di asia, afrika,
dan amerika latin, sistem hukum ini digunakan oleh bangsa-bangsa eropa tersebut untuk
mengatur masyarakat pribumi didaerah jajahannya. misalnya belanda menjajah indonesia
pemerintah penjajah menggunakan sistem hukum eropa kontinental untuk mengatur
masyarakat di negeri jajahannya. apabila terdapat suatu peristiwa hukum yang melibatkan
orang belanda atau keturunannya dengan orang pribumi, sistem hukum ini yang menjadi dasar
pengaturanya selama kurang lebih empat abad di bawah kekuasaan portugis dan seperempat
abad pendudukan indonesia, sistem huium eropa kontinental yang berlaku.
2. Sistem hukum Common law
sistem huku anglo-saxon sitem adalah sutau sistem hukum yang d dasarkan pada
yurisprudens, yaitu keputusan-keputusan hakim yang terdahulu yang kemudian menjadi dasar
putusan hakim-hakim selanjutnya sistem hukum ini diterapakan di irlandia, inggris, auastralia,
selandia baryu. afrika selatan, kanada (kecuali provinsi quebec) dan amerika serikat
(walaupun negara bagian louisiana mempergunakan sistem hukum ini bersamaan dengan
sistem hukum eropa kontinental napoleon). selain negara-negara tersebut beberapoa negara
lain juga menerapkan sitem hukum anglo-saxon

campuran, misalnya pakistan, india, dan nigeria yangh menerapkan sebagian besar sistem
hukum anglo-saxon, namun juga memberlakukan hukum adat dan hukum agama. sistem
hukum anglo-saxon, sebenarnya penerapanya lebih mudah terutama pada masyarakat pada
negara-negara berkembang karena sesuai dengan perkembangan zaman. pendapat para ahli
dan praktisi hukum lebih menonjol digunakan oleh hakim, dalam memutuskan perkara.
di inggris unifikasi hukum dilaksanakan dan dilselesaikan oleh benc dan bar dari pengadilan
bench dan bar ini sangat di hormati oleh rakyat inggris, oleh karena mampu mewakili rasa
keadilan dari m,asyarakat selkalipun bench dan bar merupakan pegawai pemerintah selama
periode revolusi industri, para hakim dan penasehat hukum yang merupakan penjabaran dari
hobeas, corpus, centorari dan madamus tetap tidak memihak selama masa revolusi dan hukum
yang dibentuk pengadilan justru mendukung kekauatan-kekauatan sosial politik yang
menghendaki perubahan dari masyarakat agraris ke masayarakat industri. dengan demikian di
inggris pada masa revolusi lembaga-lembaga hukum tetap berada di tangan pengadilan yang
beribawa
di negara-negara common law hukum kebiasaan berkembang ketika pemikiran manusia
tentang hukum masih bersifat kaku. tugas menciptaka hukum kebiasaan semula di tangani
oleh the court of chancery, the court of chancery ini digunakan oleh raja untuk menhadapai
kekauasaan dari pengadilan. perkembangan tersebut kemudian menghasilakan perbedaan
antara apa yang disebut dengan "law" dan "equity" di lai pihak. secara historis equity
merupakan lembaga hukum terpisah dari law dan merupakan reaksi terhadap
ketidakmampuan hukum kebasaan yang dikembangkan pengadilan dalam mengatasi adanya
kerugian-kerugian yang di timbulkan oleh suatu pelanggaran hukum.
di negara-negara yang menganut system common law hukum kebiasaan yang di kembangkan
melalui keputusan pengadilan telah berlangsung sejak lama dan tidak dipengarui oleh adanya
perbedaan antara hukum piblik dan hukum privat. berdasarka uraian diatas jelas terlihat
bahwa negara-negara yang menganut common law system bahwa hukum itu dibentuk oleh
pengadilan satu-satunya karakteristik yang sama dari kedua sistem hukum tersebut adala sama
B. SISTEMATIKA HUKUM ADAT
Hukum Adat menurut Prof. H. Hilman Hadikusuma adalah aturan kebiasaan manusia dalam
hidup bermasyarakat. Kehidupan manusia berawal dari berkeluarga dan mereka telah mengatur

dirinya dan anggotanya menurut kebiasaan, dan kebiasaan dibawa dalam bermasyarakat dan
negara.

Kepribadian bangsa kita dapat dilihat dari keanekaragaman suku bangsa di negara ini yang
ada pada Lambang negara kita Garuda Pancasila dengan slogannya “Bhineka Tunggal Ika”
(Berbeda – Beda tetapi tetap satu jua).

Dengan mempelajari hukum adat di Indonesia maka kita akan mendapatkan wawasan
berbagai macam budaya hukum Indonesia, dan sekaligus kita dapat ketahui hukum adat
yang mana ternyata tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, dan hukum adat yang
mana dapat di konkordasikan dan diperlakukan sebagai hukum nasional.

Berkat hasil penelitian Prof. Mr. C. Vollenhoven di Indonesia yang membuktikan bahwa
bangsa Indonesia mempunyai hukum pribadi asli, dan dengan demikian bangsa Indonesia
semenjak tanggal 17 Agustus 1945 melalui undang – undang dasarnya dapat mewujudkan tata
hukum Indonesia.

Sifat dari hukum adat memiliki unsur elasitas, flesible, dan Inovasi, ini dikarenakan
hukum adat bukan merupakan tipe hukum yang dikodifikasi (dibukukan). Istilah Hukum adat
Indonesia pertama kali disebutkan dalam buku Journal Of The Indian Archipelago karangan
James Richardson Tahun 1850.

Hukum Adat dan Hukum Indonesia


Masyarakat Indonesia memiliki kedinamikaan suku adat, yang pada prinsipnya hanya ada satu
tujuan yakni membangun dan mempertahankan negara Republik Indonesia. Kedinamikaan
suku merupakan kepribadian bangsa Indonesia, kepribadian ini adalah hukum adat yang
ditransformkan menjadi hukum nasioanal dan dicantumkan dalam UUD 1945.

Mempelajari hukum adat maka kita akan mudah memahami hukum Indonesia, karena hukum
adat dibentuk menurut kebiasaan masyarakat Indonesia yang memiliki sanksi dan
diselaraskan dengan hukum nasional. Hukum di Indonesia salah satunya bersumber dari
costum, dimana sumber tersebut mengikuti perkembangan zaman dan harus disesuaikan
dengan azas – azas hukum yang berlaku dan tidak boleh bertentangan dengan ideologi
bangsa. Suatu peraturan yang telah diundangkan harus disepakati dan dipatuhi bersama
dengan tidak ada pengecualian

Masyarakat Hukum Adat Indonesia

Di Indonesia terdiri dari berbagai macam hukum adat yang diantaranya:

1 Masyarakat Hukum Territorial

2. Masyarakat Hukum Genealogis

3. Masyarakat Hukum Territorial – Genealogis

4.Masyarakat Hukum Adat – Keagamaan

5. Masyarakat Adat di Perantauan

6. Masyarakat Adat lainnya.

Hubungan hukum adat Indonesia dengan pasal 28 (1) adalah bahwa hakim memenuhi
kekosongan hukum, apabila hakim menambah peraturan - perundangan, maka hal ini berarti
bahwa hakim memenuhi ruangan kosong dalam sistem hukum formal dari tata hukum yang
berlaku.

Menurut Prof. Mr. Paul Scholten mengatakan, bahwa hukum itu merupakan suatu sistem yang
terbuka (Open System Van het Recht). Pendapat itu lahir dari kenyataan, bahwa dengan
pesatnya kemajuan dan perkembangan masyarakat, menyebabkan hukum menjadi dinamis,
terus menerus mengikuti proses perkembangan masyarakat.

Berhubung dengan itulah telah menimbulkan konsekwensi, bahwa hakim dapat dan bahkan
harus memenuhi kekosongan yang ada dalam sistem hukum, asalkan penambahan itu tidaklah
membawa perubahan prinsipiil pada sistem hukum yang berlaku.

Hukum di Indonesia berasal dari Hukum Eropa Kontinental, kebiasaan (Adat) dan hukum
Islam, dan melalui interprestasi hakim dapat menyelaraskan keputusan yang mungkin sulit
diambil dalam pengadilan.

C. SISTEMATIKA HUKUM ISLAM

Adalah Suatu sistem hukum yang mendasarkan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan
oleh Allah (kitab Al-qur’an) dan rasul-nya (kitab hadis) kemudian disebut dengan syari’at atau
hasil pemahaman ulama terhadap ketentuan di atas (kitab fiqih) kemudian disebut dengan
ijtihad yang menata hubungan manusia dengan allah, manusia dengan manusia dan manusia
dengan benda.
Sistem hukum Islam berasal dari Arab, kemudian berkembang ke negara-negara lain seperti
negara-negara Asia, Afrika, Eropa, Amerika secara individual maupun secara kelompok.
19
Sumber Hukum
1) Qur’an, yaitu kitab suci kaum muslimin yang diwahyukan dari Allah kepada Nabi
Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.
2) Sunnah Nabi (hadist), yaitu cara hidup dari nabi Muhammad SAW atau cerita tentang Nabi
Muhammad SAW.
3) Ijma, yaitu kesepakatan para ulama besar tentang suatu hak dalam cara hidup.
4) Qiyas, yaitu analogi dalam mencari sebanyak mungkin persamaan antara dua kejadian.

Sistem hukum Islam dalam ”Hukum Fikh” terdiri dari dua bidang hukum, yaitu :
1) Hukum rohaniah (ibadat), ialah cara-cara menjalankan upacara tentang kebaktian terhadap
Allah (sholat, puasa, zakat, menunaikan ibadah haji), yang pada dasarnya tidak dipelajari di
fakultas hukum. Tetapi di UNISI diatur dlm mata kuliah fiqh Ibadah.

2) Hukum duniawi, terdiri dari :

a) Muamalat, yaitu tata tertib hukum dan peraturan mengenai hubungan antara manusia dalam
bidang jual-bei, sewa menyewa, perburuhan, hukum tanah, perikatan, hak milik, hak
kebendaan dan hubungan ekonomi pada umumnya.
b) Nikah (Munakahah), yaitu perkawinan dalam arti membetuk sebuah keluarga yang tediri
dari syarat-syarat dan rukun-rukunnya, hak dan kewajiban, dasar-dasar perkawinan monogami
dan akibat-akibat hukum perkawinan.

c) Jinayat, yaitu pidana yang meliputi ancaman hukuman terhadap hukum Allah dan tindak
pidana kejahatan.
Sistem hukum Islam menganut suatu keyakinan dan ajaran islam dengan keimanan lahir batin
secara individual.

Negara-negara yang menganut sistem hukum Islam dalam bernegara melaksanakan peraturan-
peraturan hukumnya sesuai dengan rasa keadilan berdasarkan peraturan perundangan yang
bersumber dari Qur’an.