Anda di halaman 1dari 10

APLIKASI TRANSCULTURAL NURSING

A. Definisi Transcultural Nursing


Transcultural mengandung arti banyak budaya dan mengandung makna
akan martabat manusia yang terdapat dalam komunitasnya dengan budaya
masing-masing daerah (Muhammedi, 2016). Transcultural Nursing adalah sebuah
teori yang berpusat pada keragaman budaya dan juga keyakinan tiap manusia.
Dari pengertian diatas dapat diartikan bahwa semua interaksi di dalam
Transcultural mengandung makna dan perbedaan dalam nilai-nilai dan keyakinan
dari tiap kelompok dalam masyarakat. Konsep Transcultural Nursing Leninger
berfokus pada analisa komparatif dan budaya yang berbeda, nilai-nilai kesehatan-
penyakit, perilaku kepedulian dan pola keperawatan (Roman et al., 2013).
Teori transkultural nursing yang berasal dari disiplin ilmu antropologi dan
dikembangkan dalam konteks keperawatan, teori ini menjabarkan konsep
keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai
cultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah
penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan
asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan, akan
mengakibatkan terjadinya cultural shock.Pendekatan transkultural merupakan
suatu perspektif yang unik karena bersifat kompleks dan sistematis secara ilmiah,
yang secara konstektal melibatkan banyak hal, seperti bahasa yang digunakan,
tradisi, nilai historis yang teraktualisasikan, serta ekonomi (Parawansah, Muh.
Ikhsan Fadli Nanlohy, La Rangki, 2017)
Transkultural Nursing bermanfaat untuk membekalkan Perawat agar
mampu memberikan apresiasi terhadap perbedaan kultur dan mentransformasikan
perbedaan tersebut sebagai potensi dan kekuatan pasien dalam mencapai derajad
kesehatannya. Kultural adalah nilai hidup, aset dan sekaligus pola kehidupan yang
sangat menentukan pandangan dirinya terhadap hidup dan kesehatan. Cultural
nursing care adalah teori yang bersifat holistik, didalamnya mengandung makna
yang meggambarkan totalitas kehidupan manusia, termasuk struktur sosial (social
cultural), pandangan (worldview), nilai kultural (cultural value), konteks
lingkungan (environment contect), bahasa (language), etnik (etnic) dan system
profesional (professional system) (Maria et al., 2015)
Sunrise model Leininger merupakan suatu teori yang diaplikasikan dalam
praktik transcultural nursing. Menurut Leininger, konsep utama dalam
keperawatan transkultural adalah sebagai berikut:
1. Culture Care
Nilai-nilai, keyakinan, norma, pandangan hidup yang dipelajari dan
diturunkan serta diasumsikan yang dapat membantu mempertahankan
kesejahteraan serta meningkatkan kondisi dan cara hidupnya.
2. World View
Cara pandang individu atau kelompok dalam memandang kehidupannya
sehingga menimbulkan keyakinan dan nilai.
3. Culture and Social Structure Dimention
Pengaruh dari faktor-faktor budaya tertentu (sub budaya) yang mencakup
religius, kekeluargaan, politik dan legal, ekonomi, teknologi dan nilai budaya
yang saling berhubungan dan berfungsi untuk mempengaruhi perilaku dalam
konteks lingkungan yang berbeda.
4. Generic Care System
Budaya tradisional yang diwariskan untuk membantu, mendukung,
memperoleh kondisi kesehatan, memperbaiki atau meningkatkan kualitas
hidup untuk menghadapi kecacatan dan kematiannya.
5. Profesional System
Pelayanan profesional yang diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan yang
memilki pengetahuan dari proses pembelajaran di institusi pendidikan formal
serta melakukan pelayanan kesehatan secara profesional.
6. Cultural Care Preservation
Upaya untuk mempertahankan dan memfasilitasi tindakan profesional untuk
mengambil keputusan dalam memelihara dan menjaga nilai-nilai pada
individu atau kelompok sehingga dapat mempertahankan kesejahteraan,
sembuh dan sakit, serta mampu menghadapi kecacatan dan kematian.
7. Cultural Care Accommodation
Teknik negosiasi dalam memfasilitasi kelompok orang dengan budaya
tertentu untuk beradaptasi/berunding terhadap tindakan dan pengambilan
kesehatan.
8. Cultural Care Repattering
Menyusun kembali dalam memfasilitasi tindakan dan pengambilan keputusan
profesional yang dapat membawa perubahan cara hidup seseorang.
9. Culture Congruent / Nursing Care
Suatu kesadaran untuk menyesuaikan nila-nilai budaya/ keyakinan dan cara
hidup individu/ golongan atau institusi dalam upaya memberikan asuhan
keperawatan yang bermanfaat. (Pratiwi, 2011).
Dasar-dasar dalam transcultural nursing terdiri atas:
1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang
dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan
mengambil keputusan.
2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan
atau suatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan
melandasi tindakan dan keputusan.
3. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang
optimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan
variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan
budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan
termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan
individu yang mungkin kembali lagi.
4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap
budayanya adalah yang terbaik.
5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang
digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
6. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada
mendiskreditkan asal muasal manusia.
7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi
pada
penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan
kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan
dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling
memberikan timbal balik di antara keduanya.
8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan
dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya
kejadian untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk
meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia.
9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,
mendukung dan mengajarkan individu, keluarga, kelompok pada keadaan
yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan
manusia.
10. Cultural care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,
kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk membimbing,
mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga, kelompok untuk
memepertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup
dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
11. Cultural imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk
memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai di atas budaya orang lain karena
percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok
lain (Pratiwi, 2011).

B. Tujuan Transkultural Nursing


Tujuan utama dari Transcultural Nursing yaitu untuk melihat dari budaya
maupun etnis dalam mempengaruhi komunikasi dan juga diagnosa keperawatan
serta pengambilan keputusan dalam pengobatan yang dilakukan (Roman et al.,
2013). Tujuan lain dari Transcultural Nursing yaitu terciptanya perawat yang
sebanding dengan budaya dengan melalui proses pengembangan terhadap
kebudayaan yang kompeten (Jeffreys, 2010).

C. Paradigma Transcultural Nursing


Dalam penerapan asuhan keperawatan transkultural, seorang perawat
perlu memahami paradigma keperawatan transkultural, yaitu cara pandang,
keyakinan, nilai-nilai dan konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai latar belakang budaya terhadap empat konsep sentral,
yaitu: manusia, keperawatan,kesehatan dan lingkungan (Sutria, 2013)
1. Manusia sebagai klien
Definisi manusia, keluarga dan masyarakat dari perspektif
transkultural adalah individu atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan
norma-norma yang diyakini berguna untuk menetapkan pilihan dan
melakukan tindakan (Sutria, 2013).
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki
nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan
pilihan dan melakukan pilihan. manusia memiliki kecenderungan untuk
mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun dia berada (Dr.
Asriwati, 2019).
2. Kesehatan/sehat-sakit
kesehatan adalah keseluruhan aktivitas yang dimiliki klien dalam
mengisi kehidupannya, terletak pada rentang sehat-sakit. Sedangkan
kesehatan/sehat-sakit dalam perspektif transcultural nursing diartikan dalam
konteks budaya masing-masing, pandangan masyarakat tentang kesehatan
spesifik bergantung pada kelompok kebudayaannya, demikian juga teknologi
dan nonteknologi pelayanan kesehatan yang diterima bergantung pada budaya
nilai dan kepercayaan yang dianutnya. Persepsi sehat-sakit ini meliputi
persepsi individu maupun kelompok (Sutria, 2013).
3. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang
mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan
dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya
saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan
simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh
manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim
seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak
pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan
struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau
kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial
individu harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di
lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan
simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti
musik, seni, riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan (Dr. Asriwati,
2019).
4. Keperawatan
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang
merupakan bagian integrasi dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu
dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang
komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat, baik
sehat maupun sakit yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
(Sutria, 2013).
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada
praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai latar belakang
budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan untuk memandirikan sesuai
dengan budaya klien. Strategi yang dilakukan dalam asuhan keperawatan
transkultural adalah perlindungan/ mempertahankan, mengakomodasi/
menegosiasi budaya, dan mengubah atau mengganti budaya klien. (Sutria,
2013).
Strategi 1: Mempertahankan budaya dilakukan bila
budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan. Tindakan keperawatan
diberikan sesuai dengan nilai yang relevan sehingga pasien dapat
mengoptimalkan status kesehatannya, misalnya budaya berolah raga
(Parawansah, Muh. Ikhsan Fadli Nanlohy, La Rangki, 2017).
Strategi 2: Negosiasi budaya, yaitu intervensi keperawatan untuk
membantu pasien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih
menguntungkan kesehatannya. Perawat membantunya agar dapat memilih
budaya lain yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya yang
tidak terbiasa makan ikan karena berbau amis dapat diganti sumber protein
hewani lain (Parawansah, Muh. Ikhsan Fadli Nanlohy, La Rangki, 2017)
Strategi 3: Restrukturisasi budaya, dilakukan bila budaya yang
dimiliki merugikan status kesehatannya. Perawat berupaya merestrukturisasi
gaya hidup pasien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Tindakan
keperawatan dirancang sesuai latar belakang budaya sehingga budaya tetap
dipandang sebagai rencana hidup yang lebih baik setiap saat. Pola rencana
hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai keyakinan
yang dianut (Parawansah, Muh. Ikhsan Fadli Nanlohy, 2La Rangki, 2017)

D. Aplikasi Transcultural Nursing dalam Asuhan Keperawatan


Teori yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan
keperawatan dalam konteks budaya menyatakan bahwa proses keperawatan ini
digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap
masalah klien (Dr. Asriwati, 2019). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan
dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi
masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien. Pengkajian
dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada yaitu :
a. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors).
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang
amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang
sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan diatas
kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah :
agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab
penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif
terhadap kesehatan (Dr. Asriwati, 2019).
b. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors).
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap,
nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe
keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan
kepala keluarga (Dr. Asriwati, 2019).
c. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan
oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya
adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut
budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :posisi dan jabatan
yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan
makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan
dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri (Dr. Asriwati,
2019).
d. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors).
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala
sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan
lintas budaya. Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan
kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga
yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat Dr.
Asriwati (2019).
e. Faktor ekonomi (economical factors).
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber
material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor
ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber
biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber
lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau patungan antar
anggota keluarga (Dr. Asriwati, 2019).
f. Faktor pendidikan (educational factors)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam
menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi
pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh bukti-bukti
ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap
budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada
tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta
kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri (Dr. Asriwati, 2019).
2. Diagnosa keperawatan
Dr. Asriwati (2019) diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar
belakang budayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi
keperawatan.. Terdapat tiga diagnosa keperawatan yang sering ditegakkan dalam
asuhan keperawatan transkultural yaitu :
a. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur.
b. Gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural.
c. Ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang
diyakini.
3. Perencanaan dan Pelaksanaan
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah
suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu
proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan
yang sesuai dengan latar belakang budaya klien. (Dr. Asriwati, 2019)
menyebutkan ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural
yaitu :
a. Cultural care preservation/maintenance
1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses
melahirkan dan perawatan bayi
2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
b. Cultural care accomodation/negotiation
1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3) Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana
kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien dan
standar etik.
c. Cultural care repartening/reconstruction
1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan
dan melaksanakannya.
2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok
3) Gunakan pihak ketiga bila perlu.
4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang
dapat dipahami oleh klien dan keluarga.
5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan.
Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masing-
masing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan
perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka. Bila
perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya
sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan terganggu.
Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan
hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik (Dr. Asriwati, 2019).
4. Evaluasi asuhan keperawatan transkultural
Evaluasi dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang mempertahankan
budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai
dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat
bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui
asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien (Dr.
Asriwati, 2019).
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Asriwati, I. (2019) Buku Ajar Antropologi Kesehatan dalam Keperawatan.


Yogyakarta: CV Budi Utama.
Maria, F. et al. (2015) ‘Christian Worldview Dalam Perspektif Pendekatan
Transkultural’.
Parawansah, Muh. Ikhsan Fadli Nanlohy, 2La Rangki, J. (2017) ‘Pengaruh
Pendekatan Transkultural Nursing terhadap Prilaku Pengguna Pil
Paracetamol, Cafein, dan Carisoprodol di Kota Kendari’, pp. 508–514.
Pratiwi, Arum. (2011). Buku Ajar Keperawatan Transkultural. Yogyakarta:
Gosyen Publishin.
Roman, G. et al. (2013) ‘Ethical Issues in Communication of Diagnosis and End
of-Life Decision-Making Process in Some of the Romanian Roma
Communities’, Medicine, Health Care and Philosophy a European
Journal. doi: 10.1007/s11019-012-9425-5.
Sutria, Eny. (2013). Keperawatan Transkultural. Makassar: Alauddin University
Press.