Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PSIKOLOGI ADIKSI

“ADIKSI JEJARING SOSIAL”

DOSEN PENGAMPU : Elrisfa Magistarina, S.Psi., M.Sc

DISUSUN OLEH KELOMPOK 3 :

Muhammad Ikhsan / 16011172

Drivanessa Al Akbar / 17011016

Monalisa / 17011037

Sri Eymar / 17011062

Millennia Chantika Dwita / 17011169

Husni Fadhilah / 17011254

SESI F

JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat, inayah,
taufik, dan ilhamnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Makalah ini disusun
dalam rangka untuk menyelesaikan tugas dari dosen kami buk Elrisfa Magistarina, S.Psi.,
M.Sc., selaku pengampu mata kuliah psikologi adiksi.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami
miliki sangat kurang. Oleh karena itu kami harapkan kepada pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Padang, 28 Oktober 2019

Kelompok 3

(i)
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................................(i)
DAFTAR ISI...........................................................................................................................(ii)
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
A. Latar Belakang...............................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..........................................................................................................2
C. Tujuan Masalah..............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................3
A. Definisi Adiksi Jejaring Sosial.......................................................................................3
B. Perilaku Adiksi Jejaring Sosial......................................................................................4
C. Teknik Intervensi Adiksi Jejaring Sosial.......................................................................5
1. Cognitive Behavior Theraphy (CBT)........................................................................5
a. Self Management................................................................................................6
D. Review Jurnal Terkait....................................................................................................7
E. Hasil Wawancara............................................................................................................9
1. Biodata.......................................................................................................................9
2. Orang tua....................................................................................................................9
3. Status Praesen............................................................................................................9
4. Hasil Wawancara.....................................................................................................10
5. Intervensi yang Cocok untuk Kasus IM..................................................................11
BAB III PENUTUP..................................................................................................................12
A. Kesimpulan...................................................................................................................12
B. Saran.............................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................13

(ii)
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Media sosial adalah suatu interaksi sosial antara individu dalam berbagi dan
bertukar informasi. Media sosial dapat mencakup berbagai ide, pendapat, gagasan dan
konten dalam komunitas virtual serta mampu menghadirkan dan mentranslasikan cara
berkomunikasi baru dengan teknologi yag sama sekali berbeda dari media tradisional
(Watson, 2009). Perkembangan dunia teknologi yang sudah semakin inovatif di era
global telah memberikan dampak langsung kepada masyarakat terutama bagi generasi
muda. Media sosial dapat diakses dengan mudah melalui smartphone (telepon pintar)
kapan saja dan dimana saja oleh pemiliknya. Platform media sosial sangat banyak
ragamnya. Kemunculan Friendster pada tahun 2002 menjadi terobosan awal di dunia
media sosial dengan hampir 1 juta pengguna. Facebook menyusul pada tahun 2006 dan
disusul oleh platform – platform media sosial yang lain seperti twitter, path, instagram,
dan snapchat. Hal tersebut membuktikan bahwa media sosial dibutuhkan oleh para
pengguna smartphone di era global (Culandari, 2008). Setiap platform media sosial
memiliki fungsi yang hampir sama namun memiliki keunggulannya masing – masing.
Iswah (2011) menjelaskan bahwa media sosial pada umumnya digunakan penguna
internet (internet user) sebagai sarana menjalin komunikasi kepada pengguna lain dalam
bentuk postingan atau konten – konten berbagi yang dibagikan oleh pemilik akun media
sosial. Konten tesebut dapat berupa video, foto, e-book dan lainnya. Konten – konten
yang dibagikan pengguna media sosial beragam jenisnya. Ada konten yang memuat
muatan pribadi atau personal matter seperti membagi foto pernikahannya, ulang tahun
kerabat atau upacara kelulusan seperti wisuda. Konten yang bersifat edukasi juga tidak
kalah banyak. Kegunaan media sosial bagi sebagian besar pengguna internet adalah
menonton video, membagi ulang postingan orang lain, menempatkan selfie, dan
membagi foto makanan.
Peningkatan penggunaan media sosial yang seiring dengan meningkatnya
permasalahan – permasalahan seperti kecanduan media sosial, coping stress yang
tidak baik bahkan depresi. Penelitian ini penting untuk dilakukan untuk menjelaskan
fenomena regulasi emosi atau manajemen emosi pada pengguna media sosial.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi adiksi jejaring sosial dan bagaimana karakteristiknya pada DSM 5?
2. Bagaimana perilaku adiksi jejaring sosial?
3. Bagaimana intervensi untuk menangani kecanduan jejaring sosial?
4. Bagaimana penelitian-penelitian yang dilakukan tentang adiksi jejaring sosial?
5. Bagaimanakah wawancara dengan orang yang mengalami kecanduan jejaring sosial?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari adiksi jejaring sosial beserta kriterianya
berdasarkan DSM 5.
2. Untuk mengetahui perilaku adiksi jejaring sosial.
3. Untuk mengetahui intervensi yang cocok untuk adiksi jejaring sosial.
4. Untuk mengetahui hasil penelitian mengenai adiksi jejaring sosial.
5. Untuk mengetahui kisah dari orang yang mengalami adiksi jejaring sosial.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Adiksi Jejaring Sosial

Kecanduan media sosial diartikan oleh Nurfajri (dalam Putri, 2018) adalah
gangguan psikologis dimana penggunanya menambahkan jumlah penggunaan sehingga
dapat membangkitkan kesenangan, yang dapat menimbulkan termor, kecemasan, dan
perubahan mood), gangguan afeksi (depresi, sulit menyesuaikan diri), dan terganggunya
kehidupan sosial (menurun atau hilang sama sekali, baik dari segi kualitas maupun
kuantitas).
Andreassen dan Pallesen mendefinisikan kecanduan SNS sebagai kondisi
terlalu khawatir tentang SNS, didorong oleh motivasi yang kuat untuk masuk atau
menggunakan SNS, mencurahkan waktu dan upaya yang merusak kegiatan sosial lain,
studi ataupekerjaan, hubungan interpersonal, dan atau kesehatan psikologis dan
kesejahteraan . Definisi ini mencerminkan gejala-gejala kecanduan tersebut. Mereka
berpendapat bahwa pecandu SNS biasanya menghabiskan banyak waktu untuk
memikirkan SNS dan bagaimana mereka dapat membebaskan lebih banyak waktu untuk
online (Andreassen, 2015). Griffiths secara operasional mendefinisikan perilaku adiktif
sebagai perilaku apa pun yang menonjolkan apa yang ia yakini sebagai enam komponen
inti dari kecanduan (misalnya modifikasi suasana hati, toleransi, gejala penarikan,
konflik, dan kambuh). Dia juga berpendapat bahwa perilaku apa pun (misalnyajejaring
sosial) yang memenuhi enam kriteria ini dapat secara operasional didefinisikan sebagai
kecanduan.
Walaupun versi terbaru dari Diagnostik dan Statistik Manual of Mental
Disorders (DSM-5) mengenali gangguan jejaring sosial sebagai gangguan sementara
dalam lampiran manual ini (APA, 2013), kecanduan media sosial masih tidak memiliki
status dalam DSM-5 (Eijnden, Lemmens, &Valkenburg, 2016). Pengecualian dari
kecanduan media sosial dari DSM-5dapat memberi kesan bahwa kecanduan media
sosial bukanlah gangguan mental yang sah, ada bukti yang berkembang menyarankan
sebaliknya (Pantic, 2014; Ryan, Chester, Reece, & Xenos,2014). Selain itu, ada bukti
empiris yang menunjukkan penggunaan media sosial kompulsif adalah masalah
kesehatan mental yang berkembang, khususnya di kalangan pengguna smartphone
remaja (Van Rooij &Schoenmakers, 2013, dalamEijnden, dkk., 2016).
B. Perilaku Adiksi Jejaring Sosial

Perilaku adalah seluruh aktivitas atau kegiatan yang bisa dilihat ataupun tidak
pada diri seseorang sebagai hasil dari proses pembelajaran. Dalam teori perilaku yang
dikemukakan oleh Skinner bahwa perilaku adalah hasil dari hubungan antara stimulus
dan respons pada diri seseorang. Kecanduan biasanya mengacu pada perilaku kompulsif
(dilakukan secara berulang tanpa disadari, tidak bisa dicegah, dan tidak tertahankan
untuk mengurangi kecemasan) yang mengarah ke efek negatif. Dalam kebanyakan
kasus candu, seseorang merasa terdorong untuk melakukan kegiatan tertentu sehingga
menjadi kebiasaan yang berbahaya, yang kemudian mengganggu aktivitas penting
lainnya seperti bekerja atau sekolah.
Kecanduan media sosial dapat dilihat sebagai salah satu bentuk kecanduan
internet, di mana individu menunjukkan suatu keharusan untuk menggunakan media
sosial secara berlebihan (Griffiths, 2000; Starcevic, 2013). Individu dengan kecanduan
media sosial sering terlalu khawatir tentang media sosial dan didorong oleh dorongan
tak terkendali untuk log in menggunakan media sosial (Andreassen & Pallesen 2014).
Penelitian telah menunjukkan bahwa gejala kecanduan media sosial dapat diwujudkan
dalam suasana hati, kognisi, reaksi fisik dan emosional, dan masalah interpersonal dan
psikologis (Balakrishnan & Shamim, 2013; Błachnio, Przepiorka, Senol-Durak, Durak,
& Sherstyuk 2017; Kuss & Griffiths, 2011; Tang, Chen, Yang, Chung, & Lee, 2016;
Zaremohzzabieh, Samah, Omar, Bolong, & Kamarudin, 2014).
Gejala emosional dari kecanduan media sosial adalah merasa bersalah, gugup,
depresi, perasaan bahagia bukan kepalang saat online, tidak mampu menaati jadwal di
dunia nyata, tidak memiliki kepedulian terhadap waktu, isolasi, mudah marah. Gejala
fisik dari kecanduan media sosial antara lain :
1. Sakit kepala
2. Sakit leher/punggung
3. Kenaikan/penurunan berat badan
4. Gangguan tidur
Para peneliti dari Universitas Pittsburgh bertanya pada 1.700 orang
dengan rentang usia 18 sampai 30 tahun mengenai kebiasaan menggunakan media
sosial dan tidur mereka. Para peneliti menemukan sebuah kaitan gangguan tidur
dan menyimpulkan cahaya biru merupakan salah satu penyebabnya. Seberapa
sering mereka log in, dan bukan berapa waktu yang dihabiskan di situs media
sosial, diperkirakan merupakan penyebab dari gangguan tidur, yang menunjukkan
sebuah sikap pengecekan (media sosial) yang obsesif.
5. Carpal tunnel syndrome
Carpal tunnel syndrome adalah penyakit yang mempengaruhi
pergelangan tangan dan tangan. Saraf yang mengontrol indra perasa dan
pergerakan di dalam pergelangan tangan dan tangan yang terkena sindrom carpal
tunnel disebut saraf median. Saraf tersebut melintang melewati struktur pada
pergelangan tangan yang berbentuk terowongan yang disebut carpal tunnel
(terowongan carpal). Kondisi ini menyebabkan kesemutan, mati rasa, atau rasa
sakit yang menusuk seperti jarum suntik di sepanjang pergelangan tangan sampai
lengan atas. Bagian yang paling sering terasa nyeri umumnya adalah jempol, jari
tengah, telunjuk, dan area telapak tangan.
6. Penglihatan kabur atau buram
Cahaya yang ditimbulkan dari melihat dan mengamati jejaringan sosial
dapat menyebabkan mata menjadi lelah sehingga dapat memicu kerusakan di area
bagian mata.

C. Teknik Intervensi Adiksi Jejaring Sosial

1. Cognitive Behavioral Therapy

Terapi dapat memberikan dorongan yang kuat untuk mengontrol


penggunaan internet khususnya akses media sosial. Misalnya Terapi Kognitif Perilaku
(Cognitive Behavioral Therapy = CBT) memberikan langkah demi langkah untuk
menghentikan perilaku penggunaan media sosial kompulsif dan mengubah persepsi
mengenai media sosial. Terapi juga dapat menolong untuk mempelajari cara-cara yang
lebih baik untuk mengatasi emosi-emosi tidak nyaman, seperti kecemasan, stress, atau
depresi.

CBT adalah perawatan yang sudah lazim dan didasarkan pada premis
bahwa pikiran mengendalikan perasaan. Individu diajar untuk memantau pikiran-
pikiran mereka dan mengidentikasikan mana yang memicu perasaan dan tindakan
kecanduan, sementara mereka belajar keterampilan menanggulangi kecanduan
tersebut serta cara-cara untuk mencegah kambuh (relapse). CBT biasanya
memerlukan 3 bulan perawatan atau sekitar 12 kali pertemuan mingguan.

a. Self Management

Dalam menangani masalah kecanduan media sosial, perlu memberikan


treatment dalam upaya menemukan pribadi dan merencanakan masa depan
termasuk mengubah perilaku yang kurang baik menjadi perilaku terpuji. Dengan
diberikannya suatu teknik pengubahan perilaku atau kebiasaan yang salah, maka
individu dapat mengubahnya dengan perilaku yang benar. Pemilihan teknik atau
strategi yang berfungsi untuk mengubah perilaku dapat digunakan pendekatan
behavior. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah strategi self-
management. Self-management merupakan salah satu model dalam cognitive-
behavior therapy.
Strategi pengelolaan diri (self-management) adalah suatu proses dimana
klien mengarahkan perubahan tingkah laku mereka sendiri, dengan menggunakan
kombinasi ke-4 strategi. Adapun macam dari strategi self-management yaitu self-
monitoring (pemantauan diri), stimulus control (pengendalian diri) dan self-reward
(penghargaan diri), self-contracting (perjanjian dengan diri sendiri). Self-
management pengubahan perilaku dilakukan oleh klien yang bersangkutan, bukan
banyak diarahkan, apalagi dipaksakan oleh terapis.

Pemantauan diri (self-monitoring), merupakan suatu proses klien


mengamati dan mencatat segala sesuatu tentang dirinya sendiri dalam interaksinya
dengan lingkungan. Dalam pemantauan diri ini biasanya klien mengamati dan
mencatat perilaku bermasalahnya seperti penggunaan media sosial yang kompulsif,
mengendalikan penyebab dari terjadinya masalah (antesedent) dan menghasilkan
konsekuensi.

Reinforcement yang positif (self-reward), digunakan untuk membantu


klien mengatur dan memperkuat perilakunya melalui konsekuensi yang
dihasilkannya sendiri. Misalnya, menghadiahi diri setelah berhasil tidak
menggunakan media sosial selama 24 jam.

Kontrak atau perjanjian dengan diri sendiri (self-contracting), adapun hal


yang dilakukan dalam self-contracting ini adalah klien membuat perencanaan
untuk mengubah pikiran, perilaku, dan perasaan yang ingin dilakukannya.
Misalnya, klien menuliskan kegiatan yang dapat dilakukannya untuk menggantikan
penggunaan media sosial seperti mengubah kebiasaan bersosialisasi di dunia maya
menjadi bersosialisasi di dunia nyata dan menetapkan batas waktu maksimal
penggunaan smartphone agar mengurangi efek kecanduan.

Penguasaan terhadap rangsangan (stimulus control) merupakan


pengendalian diri yang dilakukan oleh klien. Misalnya klien berusaha mengontrol
dirinya untuk tidak menggunakan media sosial selama beberapa jam.

D. Review Jurnal

Judul Dampak Penggunaan Situs Jejaring Sosial terhadap Perilaku


Menyimpang Siswa SMA N 3 Makassar
Penulis Syukur Rahmadani
Tahun 2016
Nama Jurnal Jurnal Sosialisasi Pendidikan Sosiologi – FIS UNM
Volume & 3 (1)
Nomor
Pendahuluan Internet merupakan salah satu kecanggihan dan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi buatan manusia. Fungsi internet
bermacam-macam, dan salah satunya adalah sebagai tempat
komunitas jejaring sosial dunia maya. Jejaring sosia lmerupakan
suatu pelayanan dan sistem software internet yang memungkinkan
penggunanya untuk dapat berinteraksi dan berbagi data dengan
pengguna lainnya dalam skala yang besar. Situs jejaring sosial di
internet ada bermacam-macam jenisnya, namun yang paling banyak
digunakan oleh remaja zaman sekarang adalah facebook dan twitter.
Penyalahgunaan situs jejaring sosial dapat berpengaruh dengan
timbulnya perilaku menyimpang pada siswa di sekolah.
Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif tipe deskriptif.
Teknik pengumpulan datanya yaitu wawancara, observasi, dan
dokumentasi. Teknik analisis data melalui tiga tahap, yaitu reduksi,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Responden dalam
penelitian ini adalah siswa/i SMA N 3 Makassar. Pemilihan
responden penelitian ini, menggunakan teknik purposive sampling
dengan kriteriasiswa yang menggunakan situs jejaring sosial selama
5 tahun terakhir.
Hasil / Dari hasil penelitian, didapatkan fakta bahwa dengan adanya situs
Pembahasan jejaring sosial, kebanyakan siswa SMA N 3 Makassar menggunakan
situs jejaring sosial ini ke hal-hal yang negatif sehingga dapat
menimbulkan perilaku menyimpang, namun ada juga siswa yang
menggunakan ke hal-hal yang positif. Dampak negatif dari situs
jejaring sosial di kalangan siswa yang banyak menimbulkan perilaku
menyimpang, contohnya menjual barang-barang produk KW, dan
kemudian pada saat mempromosikan ia mengatakan bahwa barang
yang dijualnya adalah original, konsumen tidak bisa memastikan
bahwa itu asli atau bukan karena tidak melihat barangnya secara
langsung.
Seringkali kita melihat para siswa yang berkumpul, namun
sibukdengan gadget mereka masing-masing dan sibuk dengan dunia
merekasendiri. Hal ini dapat menimbulkan kecanduan sehingga dapat
menyebabkan ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar. Siswa
yang sudah kecanduan jejaring sosial akan lupa segalanya, misalnya
lupa akan belajar, malas membaca buku, malas berinteraksi secara
langsung karena kebanyakan waktunya hanya dihabiskan di jejaring
sosial.
Terlalu sering dan terlalu lama bermain internet seperti facebook
dapat memberi dampak negatif, di kalangan siswa sebagian
diantaranya cuek dengan pelajaran dan terkesan sombong dengan
siswa lainnya., dalam hal ini kurangnya komunikasi langsung dan
sosialisasi di kalangan sosial. Ini cukup mengkhawatirkan karena
mereka yang seharusnya belajar sosialisasi dengan lingkungan justru
lebih banyak menghabiskan waktu yang tidakbermanfaat dengan
teman-teman facebook yang rata-rata membahas hal-hal yang tidak
penting. Siswa cenderung menyalahgunakan situs jejaring sosial
sebagai media hiburan yang dapat berdampak negatif pada siswa
tersebut dan juga dapat merugikan orang lain. Contohnya dengan
memanfaatkan potensi ekonomi di situs jejaring sosial yang tidak
tepat dapat merugikan orang lain, atau dengan mendownload
gambar-gambar yang tidak senonoh, atau video-video yang bersifat
asusila dapat mempengaruhi jiwa dan kepribadian dari siswa itu
sendiri dan dapat merusak moral siswa.
Kesimpulan Segala sesatunya tentu tidak lepas dari berbagai dampak positif dan
negatif seperti halnya pengguna jejaring sosial. Dengan adanya
penggunaan situs jejaring sosial dapat memberi dampak positif
seperti memperluas pergaulan, mempermudah interaksi jarak jauh,
mempercepat penyebaran arus informasi, dan lain sebagainya.
Sedangkan dampak negatifnya adalah dapat membuat siswa
kecanduan sehingga menghabiskan waktunya didepan komputer atau
gadget, berkurangnya waktu belajar, tidak peduli dengan lingkungan
sekitar, kurangnyabersosialisasi, kurangnya interaksi dengan dunia
luar yang menyebabkan siswa tersebut antisosial, tersebarnya data
pribadi, penyalahgunaan data, penipuan, pornografi, dan lain
sebagainya.

E. Hasil Wawancara
a.) Biodata
1. Nama : IM
2. Jenis kelamin : laki-laki
3. Umur : 21 tahun
4. Anak ke : 3 dari 4 bersaudara
5. Asal : Pasaman Barat

b.) Orang tua


1. Pekerjaan ayah : PNS
2. Pekerjaan ibu : IRT
3. Pecandu : Jejaring sosial

c.) Status Praesen


Pada saat bertemu IM memakai baju kemeja berwarna hitam dengan corak-
corak berwarna putih, memakai celana jeans berwarna hitam, rambutnya rapi seperti
menggunakan minyak rambut, IM memiliki tinggi kira-kira 172 cm dan memiliki
berat badan kira-kira 62 kg, IM bertubuh sedang, tidak gendut dan tidak pula kurus.
Pada saat bertemu, saling berjabat tangan dengan IM, lalu IM tersenyum saat
dipersilahkan duduk.

d.) Hasil Wawancara


IM adalah seorang mahasiswa yang kuliah di kota Padang. Awal mula IM
kecanduan dengan jejaring sosial ini yaitu waktu awal-awal kuliah. Awalnya alasan
IM menggunakan jejaring sosial itu adalah untuk urusan bisnis dan sekedar mengisi
waktu luang, namun lama kelamaan karena terlalu sering menggunakan jejaring
sosial sehingga membuat IM kecanduan. IM bermain jejaring sosial bisa 6 hingga 8
jam dalam sehari, IM melakukannya disela-sela waktu kuliah dan bekerja, bahkan
IM sering bermain jejaring sosial hingga tengah malam. Jejaring sosial yang biasa
digunakan oleh IM adalah, facebook, instagram, twitter, youtube, dan lain
sebagainya. IM mengatakan bahwa ia membeli paket internet sekali 3 hari yang
digunakan untuk membuka aplikasi jejaring sosial. IM lebih suka bermain jejaring
sosial dari pada bermain game, ketika IM ditegur karena terlalu sering bermain HP
maka ia akan berhenti sebentar, setelah itu IM lanjut main jejaring sosial lagi. IM
sering merasa jengkel jika disuruh berhenti bermain jejaring sosial.
Dampak negatif yang sering dirasakan oleh IM ketika terlalu lama
menggunakan jejaring sosial adalah sering sakit kepala, pusing setelah menggunakan
HP, dan mata terasa perih. IM mengatakan bahwa ada kepuasan tersendiri ketika dia
bisa melihat atau bermain jejaring sosial. IM mengatakan bahwa ia kuliah hanya 1
mata kuliah dalam sehari, sehingga IM menghabiskan waktunya setelah pulang
kuliah dengan bermain jejaring sosial sambil bekerja. Disaat kuliah, IM lebih suka
menyendiri dengan membuka aplikasi jejaring sosialnya dari pada berkumpul
dengan teman-teman sekelasnya, ketika sudah asik dengan dunianya sendiri IM suka
mengabaikan teman-temannya.
IM menyadari bahwa media sosial atau jejaring sosial merupakan
penghambat baginya dalam beraktivitas, karena kecanduan akan jejaring sosial IM
hingga lupa waktu, sering lupa membuat tugas, selalu begadang, merasa kelelahan,
dan lain sebagainya. Meskipun IM menyadari dampak dari kecanduan tersebut,
tetapi IM tetap tidak bisa menghilangkan kecanduan tersebut dan selalu
melakukannya lagi dan lagi. Meskipun sekarang IM sudah menguranginya dengan
berolahraga, tetapi tetap saja setelah berolahraga IM akan kembali bermain jejaring
sosial lagi. IM mengatakan bahwa jika sehari saja dia tidak menggunakan jejaring
sosial, dia merasa gelisah dan merasa ada yang kurang dalam hidupnya.

e.) Intervensi yang Cocok untuk Kasus IM


Terapi dapat memberikan dorongan yang kuat untuk mengontrol penggunaan
internet khususnya akses media sosial. Misalnya Terapi Kognitif Perilaku (Cognitive
Behavioral Therapy = CBT) memberikan langkah demi langkah untuk menghentikan
perilaku penggunaan media sosial kompulsif dan mengubah persepsi mengenai media
sosial. Terapi juga dapat menolong untuk mempelajari cara-cara yang lebih baik untuk
mengatasi emosi-emosi tidak nyaman, seperti kecemasan, stress, atau depresi.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Media sosial merupakan suatu hal yang tak bisa di lepas dari kita saat ini,
bahkan dalam perjalanannya, media sosial sekarang telah mengubah cara hidup kita
dalam beberapa tingkatan,sehingga bisa di katakan media sosial menjadi sebuah media
yang penting dalam masyarakat (technological determinism). Media sosial tak hanya
menjadi sebuah media yang penting namun juga telah berubah menjadi sebuah identitas
diri seseorang, kita bisa melihat bagaimana sebuah media sosial berubah fungsi menjadi
“mulut kedua” seseorang, sehingga menjadikan media sosial sebagai wakil diri di dunia
maya, dan tentu dengan sebagai perwakilan diri di dunia maya, maka tentunya kita akan
selalu menunjukan sisi positif dari diri kita (salience) sehingga terkadang realita yang
ada dengan apa yang ada di dunia maya berbeda, namun tentunya tak semua orang
berperilaku seperti itu, penggunaan dari setiap orang tentunya berbeda-beda di media
sosial.

B. Saran

Disarankan untuk mengikuti ketentuan-ketentuan yang ada serta


memanfaatkan jejaring sosial secara benar dan sesuai dengan norma-norma di
masyarakat, karena selain untuk pertemanan, jejaring sosial lebih baik dimanfaatkan
untuk hal-hal sebagai berikut:

1. Dapat memanfaatkan Facebook untuk metode pembelajaran online sehingga belajar


dan mengajar tidak monoton dan lebih fun.
2. Kita perlu belajar menggunakan jaringan internet secara bijak sehingga kita tidak
menjadi orang yang kecanduan akan jejaring sosial.
3. Berbagi informasi penting, misalnya dengan mempostingkan link, membuat status,
atau notes yang berisi tentang suatu informasi yang berguna.
4. Implementasikan sosial media dengan baik dan benar, gunakan peluang yang ada
sebagai sarana yang positif.

DAFTAR PUSTAKA

Andreassen, C. S. (2015). Online sosial network site addiction : A comprehensive review.


Journal current addiction reports, vol. 2, page 175-184.
Diunduhdarihttps://scholar.google.ac.id
Christianto, V. (2014). Kecanduan Internet dan Terapi Kognitif Perilaku: Sebuah Tinjauan
Ringkas. Retrieved from www.researchgate.net

Eijnden, R.J.J.M., Lemmens, J. S., &Valkenburg, P. M. (2016). The social media scale
disorder : Validity and psychometrics properties. Journal computers in human
behavior, vol. 61, page 478-487. Diunduhdari:https://scholar.google.ac.id
Guedes,Eduardo.Nardi,Antonio.dkk.(2016). Social Networking, a new online addiction: a
review of facebook and other addiction disorder. Medical express, 3 (1). Doi :
10.5935/MedicalExpress.2016.01.01
Hou, Y., Xiong, D., Jiang, T., Song, L., & Wang, Q. (2019). Social media addiction: Its
impact, mediation, and intervention. Cyberpsychology: Journal of Psychosocial
Research on Cyberspace, 13(1), article 4. http://dx.doi.org/10.5817/CP2019-1-4
Putri, M. D. N. (2018). Hubungan kecanduan media sosial dengan kualitas komunikasi
interpersonal pada usia dewasa awal. Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma
: Yogyakarta. Diunduh dari :https://repository.usd.ac.id
Rahmadani, S. (2016). Dampak penggunaan situs jejaring sosial terhadap perilaku
menyimpang siswa SMA N 3 Makassar. Jurnal Sosialisasi Pendidikan Sosiologi-
FIS UNM, 3(1), 1-6.

Swastika, R. I. (2016).Penerapan Strategi Pengelolaan Diri (Self-Management) untuk


Mengurangi Kecanduan Media Sosial Pada Siswa Kelas XI SMAN 1 Pandaan.
Jurnal BK UNESA. Retrieved from https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id