Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

FISIOLOGI HEWAN
FISIOLOGI REPRODUKSI BELALANG SEMBAH

OLEH
KLOMPOK V

1. DUHA HARDIYANTI AWALIA (E1A017016)


2. ELLNYD DWI KURNIA (E1A017018)
3. FITRATUNISYAH (E1A017025)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Shalawat serta salam semoga terlimpah
curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan
syafa’atnya di akhirat nanti.

Kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dari mata
kuliah Fisiologi Hewan dengan judul “Fisiologi Reproduksi Belalang Sembah”.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, kami mengharapkan kritik serta
saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang
lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon
maaf yang sebesar-besarnya.

Mataram, 14 September 2019

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................. 1
1.2 RUMUSAN MASALAH .............................................................................. 1
1.3 TUJUAN ....................................................................................................... 2
BAB II PEMAHASAN
2.1 Pengertian belalang sembah .......................................................................... 2
2.2 Klasifikasi belalang sembah ......................................................................... 2
2.3 Fisiologi reproduksi belalang sembah jantan dan betina .............................. 2
2.4 Proses reproduksi belalang sembah .............................................................. 2
2.5 Proses kanibalisme seksual belalang sembah ................................................ 2
2.6 Keuntungan perilaku kanibalisme belalang sembah ..................................... 2
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 9
3.2 Saran ............................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Belalang sembah yang termasuk dalam ordo Mantodea memiliki adaptasi yang
baik dengan kamuflase dan mimikri. Belalang sembah ini juga berperan sebagai predator
bagi belalang, ngengat, kupu-kupu, lalat dan kutu daun dalam ekosistem (Sureshan dan
Sambath, 2009). Menurut Prokop dan Radovan (2008), belalang sembah memiliki
perilaku kanibalisme pada saat kawin. Berdasarkan penelitian Prokop dan Radovan
didapatkan bahwa umur belalang sembah betina mempengaruhi perilaku kanibalisme
saat kawin.
Penyebaran belalang sembah tersebar di seluruh dunia dengan kelimpahan dan
keanekaragaman yang beragam. Kelimpahan dan keanekaragaman belalang sembah yang
lebih besar terdapat di wilayah tropis dan makronesia (Torres, 2015). Jumlah species
belalang sembah diperkirakan lebih dari 2.300 spesies (Zhang dan Fei, 2017) dari total 15
famili yaitu Mantoididae, Chaeteessidae, Metallyticidae, Amorphoscelidae,
Eremiaphilidae, Acanthopidae, Hymenopodidae, Liturgusidae, Tarachodidae, Thespidae,
Iridopterygidae, Mantidae, Toxoderidae, Sibyllidae, dan Empusidae (Weiland, 2010).
Indentifikasi dari species belalang sembah dapat dilakukan dengan menganalisis
karakter morfologi seperti yang dilakukan oleh Weiland (2010) yang mengidentifikasi
122 spesies belalang sembah dari 15 famili dengan mengkodekan 152 karakter morfologi
dari belalang sembah. Seperti jarak mata, panjang pronotum, lebar pronotum, panjang
femur depan, lebar femur depan, panjang femur belakang, lebar femur belakang, dan
panjang tubuh (Battiston el at., 2014).
Reproduksi belalang sembah termasuk dalam reproduksi seksual. Reproduksi
belalang sembah tergolong cukup unik karena bersifat kanibalisme seksual. Betina
dewasa pada umumnya memakan jantannya setelah kawin. Manthis biasanya mudah
tidak percaya terhadap pasangannya sehinga ia akan membunuh pasangannya setelah
kawin, karena biasanya jantan akan memakan telur-telurnya. Namun, kanibalisme seksual
memberikan keuntungan lain bagi beti, com=ntohnya sebagai penyedia pakan (makanan)
bagi betina (Sunarjo, 1990 : 30 ).
1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalahnya antara lain:
1. Apa pengertian Mantis religiosa (belalang sembah)?
2. Bagaimana klasifikasi Mantis religiosa (belalang sembah)?
3. Bagaimana fisiologi reproduksi dari (Mantis religiosa) belalang sembah jantan dan
betina?
4. Bagaimana proses reproduksi belalang sembah ?
5. Bagaimana proses kanibalisme seksual (Mantis religiosa) belalang sembah?
6. Apa keuntungan dari perilaku kanibalisme seksual (Mantis religiosa ) belalang
sembah?

1.3 TUJUAN
2. Untuk mengetahui pengertian dari belalang sembah Mantis religiosa (belalang
sembah).
3. Untuk mengetahui klasifikasi dari Mantis religiosa (belalang sembah).
4. Untuk mengetahui fisiologi reproduksi pada belalang sembah jantan dan betina
5. Untuk mengetahui proses reproduksi belalang sembah
6. Untuk mengetahui proses kanibalisme seksual belalang sembah.
7. Untuk mengetahui keuntungan dari perilaku kanibalisme seksual belalang sembah.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian belalang sembah (Mantis religiosa)


Belalang merupakan serangga yang bisa hidup sendiri namun terkadang pada saat
jumlahnnya cukup banyak dapat hidup berkelompok. Serangga ini dapat hidup di
berbagai lingkungan diantrannya di lahan pertanian, semak, di lingkungan tempat
tinggal, di lahan perkebunan dan lain sebagainya. Mereka juga dapat berpindah
tempat dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari makanan bahkan
terkadang tempat yang mereka datangi dapat rusak oleh mereka karena jumlahnya
yang sangat banyak misalkan pada tanaman budidaya, sebagai omnivor, selain
merugikan namun serangga ini juga menguntungkan sebagai makanan bagi binatang
lain seperti Burung dan Manusia sebagai makanan (Irham,2015 :2).
Belalang Sembah atau Belalang Sentadu merupakan serangga dalam
ordo Mantodea. Serangga yang dalam bahasa Inggris disebut Praying Mantis ini
mempunyai kebiasaan mengatupkan kedua kaki depannya seperti orang yang sedang
menyembah. Selain itu, serangga ini juga mempunyai kebiasaan yang menyeramkan
dalam bercinta. Belalang betina segera memakan kepala belalang jantan begitu
mereka selesai kawin. Ciri-ciri yang dimiliki belalang sembah adalah memiliki 3
pasang kaki. Dua pasang kali belakang digunakan untuk berjalan sedangkan sepasang
kaki depan berguna untuk menangkap mangsa. Kaki depannya sangat kuat dan
berukuran paling besar dengan sisi bagian dalamnya berduri tajam yang berguna
untuk mencengkeram mangsanya. Belalang sentadu adalah salah satu dari segelintir
serangga yang dapat memutar kepalanya hingga 180 derajat. Belalang sembah
adalah serangka pemangsa tingkat tinggi dan merupakan serangga karnivora yang
makan segala macam serangga dan terkadang bersifat kanibal. Mereka biasanya diam
dan menunggu korban mereka dengan tungkai-tungkai depan dengan posisi yang
diangkat ke atas. Serangga ini mempunyai cara kamuflase atau penyamaran yang
baik, ada yang mirip seperti daun, ranting, bunga dan sebagainya, sehingga tidak
dikenali oleh mahluk yang lainnya, termasuk mangsanya (Anonim,2019).
2.2 Klasifikasi belalang sembah

Kingdom : animalia
Filum : arthropoda
Kelas : insecta
Ordo : orthoptera
Family : mantisadeae
Genus : mantis
Spesies : Mantis religiosa

2.3 Fisiologi reproduksi dari (Mantis religiosa) belalang sembah jantan dan betina

 Fisiologi Reproduksi pada Belalang Sembah Jantan


Alat reproduksi jantan Berupa testis yang terdiri dari tabung-tabung. Tabung-
tabung ini terdiri dari beberapa bagian yaitu: Germarium, Daerah spermatosit, Daerah
pemasakan dan reduksi, Daerah perubahan, Vas deverensia. Alat pembantu, yang terdiri
atas : Semacam penis yang disebut dengan aedogus dan klasper, Alat penjepit, dan
Kelenjar pembantu pada maraejakulatori.
Sistem reproduksi jantan terdapat di bagian belakang abdomen, terdiri dari dari
sepasang gonad yang disebut sebagai testes (ganda; testis = tunggal), yang dihubungkan
oleh tabung-tabung yang bermuara dalam aedeagus atau penis. Pada dasarnya sistem ini
sama pada semua serangga, meskipun bervariasi menurut jenisnya. Tiap testis terdiri dari
sejumlah folikel, terbungkus oleh jaringan alat (connective tissue). Mantis hidup soliter,
terkadang territorial, predator, dan berukuran 10mm - lebih 15cm. Memiliki sepasang
kaki depannya membesar dan berperan sebagai alat penangkap dan pencengkeram yang
kuat. Tiap folikel terbungkus oleh selapis sel-sel epitel. Spermatogenesis atau produksi
spermatozoa terjadi di dalam folikel, oleh sel-sel lembaga (germ cells) melalui
pembagian sel meiosis. Tiap folikel dari ujung sampai pangkalnya dapat dibagi dalam
beberapa zona yang menunjukkan fase-fase spermatogenesis : a. Bagian paling ujung
adalah germarium atau zona spermatogenia terdiri dari sel-sel lembaga atau
spermatogenia. b. Zona pertumbuhan atau zona spermatosit : pada bagian ini
spermatogenia membagi secara mitosis beberapa kali membentuk spermatosit primer
berkelompok-kelompok terbungkus oleh sel-sel somatik. c. Zona reduksi dan
pematangan : di bagian ini spermatosit primer (2n) mengalami meiosis (2n menjadi n)
menjadi sel-sel haploid, menghasilkan spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder ini
kemudian menjadi spermatid. d. Zona terakhir (pangkal folikel) adalah zona transformasi:
di sini spermatid berkembang menjadi spermatozoa. Sperma matang yang keluar dari
testis melewati saluran pendek (vas deferens) dan mengumpul di ruang penyimpan
(vesikula seminalis). Vas deferens mengarah keluar dari vesikula seminalis, bergabung
satu sama lain di sekitar pertengahan tubuh, dan membentuk saluran ejakulasi tunggal
yang mengarah keluar dari tubuh melalui organ kelamin jantan (aedeagus). Satu atau
lebih pasangan kelenjar aksesori (accessory glands) biasanya berhubungan dengan sistem
reproduksi jantan, yaitu organ-organ sekretori yang terhubung dengan sistem reproduksi
melalui saluran pendek - beberapa mungkin menempel dekat testis atau vesikula
seminalis, yang lainnya mungkin berhubungan dengan saluran ejakulasi. Diujung
anterior duktus ejakulatori terdapat kelenjar asesori yang fungsinya menghasilkan cairan.
Cairan itu berfungsi membantu dalam proses memindahkan spermatozoa ke hewan
betina.
Gambar :

 Fisiologi Reproduksi pada Belalang Sembah Betina


Alat reproduksi betina Berupa ovarium yang terdiri dari beberapa tabung ovariol.
Bagian- bagian ovariol adalah Filament terminal,Germarium, Vitelarium,Tangkai ovariol.
Pelengkap alat reproduksi betina: Reseptakulumseminalis, Busra kopulatoris, Kelenjar
pelengkap.
Sistem reproduksi betina terdiri dari sepasang gonand atau ovari (ovary), yang
dihubungkan oleh tabung-tabung ke vagina yang mempunyai bukan di luar. Ovari
memproduksi telur dan terdiri dari beberapa ovariol, yang merupakan unit yang
fungsional. Satu ovarium dapat mengandung puluhan ovariol, umumnya sejajar satu sama
lain. Pada ujung ovari terdapat benang terminal (terminal filament) yang merupakan
kumpulan dari benang-benang ovariol. Pada dasar ovariol ada saluran pendek-kecil
disebut pedisel (pedicel). Tiap ovariol dari ovari (satu ovari) bermura di kaliks (calyx)
dan kaliks berhubungan dengan saluran telur lateral (lateral duct). Dua saluran telur
lateral, masing-masing dari ovari kiri dan kanan, bertemu menyatu di saluran telur
bersama (common oviduct). Saluran telur bersama berhubungan dengan bursa kopulatriks
(bursa copulatrix) atau vagina yang mempunyai bukaan di luar, selanjutnya menuju ke
lubang kelamin yang terletak diantara lempeng-lempeng ovipositor. Ateka (spermatheca)
atau kantung sperma umumnya tidak berpasangan, bermuara di vagina atau saluran telur
bersama. Kelenjar penyerta dapat berpasangan atau hanya satu bermuara di vagina atau di
saluran telur bersama. Umumnya spermateka (spermatheca) memproduksi bahan likat
untuk menempelkan telur pada substrat atau bahan pembungkus telur-telur menjadi paket
telur, memproduksi enzim (untuk mencerna lapisan protein spermatophore) dan nutrisi
(untuk mempertahankan sperma sementara berada di penyimpanan). Sperma dapat hidup
di spermatheca selama berminggu-minggu, bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Selama
kopulasi, jantan menyimpan spermatophore di bursa copulatrix. Kontraksi peristaltik
menyebabkan spermatophore masuk ke dalam spermatheca betina, sebuah ruang kantong
penyimpanan sperma. spermatheca membuka ke arah vagina. Fungsi organ tersebut
adalah menerima spermatozoa selama kopulasi,dan spermatozoa tersebut akan dilepaskan
kembali saat membuahi sel telur.
Kelenjar aksesori betina memasok pelumas untuk sistem reproduksi dan
mengeluarkan kulit telur kaya protein (chorion) yang mengelilingi seluruh telur. Kelenjar
ini biasanya dihubungkan dengan saluran kecil ke saluran telur umum atau bursa
copulatrix. Oogenis merupakan pembentukan telur terjadi di dalam ovariol. Proses
oogenesis ini dapat terselesaikan sebelum atau sesudah serangga menjadi
imago.Germarium terdapat di ujung ovariol dan vitelarium di pangkalnya. Germarium
mengandung sel-sel lembaga disebut oogonia yang membagi diri secara mitosis dan
menjadi oosit nantinya.Tiap oosit yang sedang berkembang diselubungi oleh sel epitel
folikel; oosit dan lapisan sel epitel itu adalah folikel. Jika sel telur telah matang maka
telur itu bergerak ke luar dari ovariol; proses ini disebut ovulasi. Sel-sel epitel tertinggal
di dalam ovariol dan akhirnya hancur.
Gambar:

2.4 Proses reproduksi belalang sembah

Salah satu ciri biologi paling menarik dari belalang sembah adalah perilaku
kanibalisme belalang betina terhadap pasangannya, yang lazim disebut kanibalisme
seksual, yaitu perilaku menyerang dan memakan individu satu spesies yang berlainan
jenis kelamin. Biasanya, kanibalisme seksual dilakukan oleh organisme betina
terhadap organisme jantan, meskipun pada beberapa kasus terjadi pula sebaliknya.
Jika perkawinan telah dimulai, pergerakan jantan lebih bertenaga penyerahan mani
pada betina. Awalnya para peneliti berfikir bahwa penyebab pergerakan kopulasi
tidak dikendalikan oleh pusat saraf didalam abdomen bukan di kepala. Untuk kawin,
didahului dengan jantan yang meminang betina dengan cara jantan melompati
belakang tubuh betina dan memegang sayap dan thorax betina dengan kaki depannya.
Kemudian jantan membengkokkan abdomennya untuk memasukkan spermanya
kedalam tempat khusus pada ujung abdomen betina yang disebut dengan ovovisitor.
Saat akan berhubungan, betina akan terangsang, terangsangnya betina ini akan
memicu betina untuk menggigit kepala sang Pajantannya, Betinanya mulai terangsang
dengan menggigit kepala jantannya sampai lepas, seperti yang dilakukan saat
memangsa hama, dan bila perkawinan dimulai, gerakan jantan semakin cepat untuk
pengiriman sperma, walau kepalanya sudah putus. Jantan masih dapat melakukan
hubungan seksual tanpa kepala karena gerakan kopulasi ini dikendalikan oleh
ganglion di abdomen, bukan di kepala. Menurut para peneliti, memotong dan
memakan kepala sang pejantannya adalah strategi reproduktif betina untuk
meningkatkan fertilisasi sambil memperoleh gizi. Hal ini bisa terjadi, menurut para
ilmuwan, karena betina terganggu.Ternyata sang jantan yang sudah mengetahui
bahwa betina itu bisa berubah jadi kanibal dan membunuhnya, memiliki strataegi
untuk mengatasinya. Penelitian Liske dan Davis (1984) dan lainnya menemukan
kalau mereka kawin biasa saja saat tidak diganggu Si jantan melakukan tarian kawin
bersama betina sehingga minat betina untuk makan hilang dan berubah menjadi nafsu
kawin.
Kemudian betina bertelur sekitar 10-400 telur. Ini disimpan dalam massa busa
atau kantung telur (ootheca) yang mirip buih yang mengeras yang diproduksi oleh
kelenjar damal abdomen betina. Busa ini membuat telur menjadi keras yang
bertujuan untuk melindungi embryo dalam telur. Embryo dalam telur disebut dengan
ootheca. Telur ini bisanya diletakkan di tanah atau tumbuhan. Ini bertujuan unutk
menyembunyikan telur dari pemangsa seperti tawon. Siklus hidup mantodea adalah
metamorfosis tak sempurna dengan tahapan: telur, nympha (kepompong), dan
dewasa. Metamorfosisnyadikatakan tidak sempurna karena bentuk nympha sama
seperti belalang dewasa, perbedaannya hanya pada nympha ukurannya lebih kecil dan
belum terbentuk sayap. Nympha meningkatkan ukuran tubuhnya denganmelepaskan
pelindung tubuh bagian luar dari eksosokeleton yang kokoh dan fleksibel dengan bulu
ketika diperlukan. Ini terjadi 5 sampai 10 kalitergantung jenis speciesnya. Pada
akhirnya akan terbentuk sayap yang utuh. Namun beberapa species tidak memiliki
sayap dan kebanyakan adalah betina.
Secara rinci terdapat 3 tahap reproduksi pada belalang sembah yaitu:
1. Mantis betina akan memproduksi chemical attractant: Mantis betina
memproduksi dan memencarkan chemical attractant berupa feromon
berfungsi untuk menarik perhatian mantis jantan untuk melakukan mating.
Gambar:
2. Mantis jantan mentransfer sperma kepada mantis betina : Mantis jantan akan
memasukkan alat kopulasinya kedalam alat kopulasi betina. Sperma mantis
jantan akan di simpan di spermateka, yaitu ruang khusus di dalam abdomen
mantis betina.
Gambar:

3. Mating dapat berlangsung sampai 24 jam : Mantis jantan dapat mati karena
kelelahan. Mantis jantan dapat dianggap sebagai mangsa oleh betina setelah
proses mating selesai.
Gambar:

2.5 Proses kanibalisme seksual belalang sembah


Kanibalisme seksual ( pada belalang sembah dan beberapa anthropoda )
adalah kasus khusus dari kanibalisme dimana organisme betina membunuh
dan mengkonsumsi jantan dari spesies yang sama sebelum, selama, atau
setelah kopulasi. Meskipun ada beberapa spesies dimana kanibalisme seksual
adalah normal, pembalikan peran tersebut tidak normal secara keseluruhan.

2.7 Keuntungan perilaku kanibalisme belalang sembah


Para ahli mengemukakan tiga pendapat tentang keuntungan kanibalisme
seksual yaitu:
1. Menyediakan sumber pakan (dari tubuh belalang jantan),
2. Mengurangi pesaing dalam hal mendapatkan pakan bagi belalang
betina (dalam hal ini, belalang jantan dianggap sebagai pesaing), dan
3. Mengoptimalkan proses transfer sperma kepada belalang betina.
Penelitian menunjukkan bahwa belalang betina yang kelaparan
akan mempunyai kecenderungan memangsa pasangannya lebih tinggi.
Hal ini menunjukkan, bahwa sebenarnya kanibalisme pada belalang
mantis bisa saja diterjemahkan sebagai pemenuhan kebutuhan akan
nutrisi yang dibutuhkan sebagai persiapan untuk pembentukan telur
(baca, keturunan) dan sekaligus energi untuk mencari tempat dan
meletakkan telur-telurnya. Sebagai tambahan, belalang jantan adalah
sumber pakan yang paling dekat, sehingga energi yang biasanya
digunakan untuk berburu/ mendapatkan mangsa dapat dihemat
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa Reproduksi
Mantis religiosa tergolong dalam reproduksi kanibalisme yaitu reproduksi
secara seksual, Sistem reproduksi betina berupa ovarium yang terdir dari
beberapa tabung ovariol. Sistem reproduksi jantan berupa testis yang terdiri
dari tabung-tabung, Terdapat 3 zona pada reproduksi belalang sembah jantan
yakni : zona spermatosit, Zona reduksi dan pematangan, serta zona
transformasi. Serta Seekor belalang betina mampu meletakkan telur sebanyak
10 – 400 ekor butir yang dikemas di dalam kantung telur (ootheca).
3.2 Saran
Dengan makalah ini semoga dapat menambah penegtahuan para pembaca
khususnya tentang fisiologi reproduksi be;a;ang sembah.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2015. Diakses dari http://prachzpratama2.blogspot.com/2013/04/bab-i-pendahuluan-


1.html. Pada tanggal 14 September 2019 pukul 14:00 WITA.
Battiston, R., Joaguin, O., Jose, R.C., dan Pedro, J.C. 2014. A Revision of Apteromantis
(Mantodea: Mantidae, Amelinae): A Comprehensive Approach to Manage Old
Taxonomic and Conservation Problems. Zootaxa. 3797(1): 65-77.
Falahuddin, Irham dkk. 2015.Diversitas Serangga Ordo Orthoptera pada Lahan Gambut di
Kecamatan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin. Jurnal Bioilmi.Vol. 1 No. 1.
Prokov, P dan Radovan, V. 2008. Seasonal Aspects of Sexual Cannibalism in the Praying Mantis
(Mantis religiosa). J. Ethol. 26(1): 213-218.
Sunarjo, Pius Ibrahim. 1990. Dasar-dasar Ilmu Serangga. Institute Teknik bogor: Bogor.
Sureshan P.M dan Sambath S. 2009. Mantid (Insecta: Mantodea) Fauna of Old Bihar (Bihar and
Jharkhand) with Some New Records for the State. Records of the Zoological Survey of
India. 109(3):11-26.
Torres, F.P. 2015. Clase Insecta: Orden Mantodea. Revista. 1-10.
Wiland, F. 2010. 2010. The Phylogenetic System of Mantodea (Insecta: Dictyoptera).
Dissertation. zur Erlangung des Doktorgrades der MathematischNaturwissenschaftlichen
Fakultäten der Georg-August-Universität zu Göttingen.
Zhang, H.L dan Fei, Y. 2017. Comparative Mitogenomic Analyses of Praying Mantises
(Dictyoptera, Mantodea): Origin and Evolution of Unusual Intergenic Gaps.
International Journal of Biological Sciences. 13(3): 367-382