Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN TETAP

KOAGULASI-FLOKULASI

LABORATORIUM TEKNIK SEPARASI DAN PURIFIKASI

.

.

. . .
.
.
.

.

DISUSUN OLEH:

RAFAEL KEFIN JANDERA

HANI ALYA NOVIANTI

RIZKI HIDAYAT

MESYANA

(03031181722010)

(03031181722017)

(03031281722047)

(03031381722085)

NAMA CO-SHIFT NAMA ASISTEN

: M. PUTRA BRAMAZI FASHA :

JURUSAN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2019

ABSTRAK

Pengotor merupakan zat yang harus dihindari dalam proses penjernihan air. Air yang layak digunakan sebagai konsumsi maupun industri memiliki standar baku mutu yang telah ditetapkan sehingga terbebas dari pengotor. Air danau banyak mengandung zat-zat pengotor. Metode yang digunakan untuk menghilangkan pengotor tersebut salah satunya dengan cara koagulasi-flokulasi. Percobaan ini membutuhkan tawas sebagai koagulan untuk menstabilisasi partikel kolid yang terkandung di air danau. Percobaan dilakukan dengan membandingkan pH dan turbiditas air sampel dengan pengadukan cepat 100 rpm dan dilanjutkan pengadukan lambat 50 rpm. Koagulan tawas dimasukkan ke 5 sampel air danau 100 mL dengan variasi volume 1,2,3,4, dan 5 mL masing-masing sampel. Air danau memiliki pH 7,25 dan nilai turbiditas 49,6 NTU sebelum dilakukan proses koagulasi-flokulasi. Mekanisme prosesnya adalah air danau yang telah ditam- bahkan tawas dilakukan pengadukan cepat dengan kecepatan 100 rpm selama 3 menit. Kecepatan diturunkan hingga 50 rpm selama 8 menit dan didiamkan se- lama 10 menit untuk membentuk flok-flok. Kondisi paling optimum dari hasil percobaan ini didapatkan pada penambahan koagulan tawas sebesar 1 mL. Tur- biditas yang diperoleh yaitu 10,07 NTU dengan pH 4,9. Kata kunci : koagulasi, flokulasi, koloid, jar test, koagulan, air danau

1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Air merupakan sumber daya yang paling penting dalam kehidupan manusia. Air menjadi kebutuhan yang paling pokok karena air digunakan untuk minum, mandi, dan kebutuhan lainnya. Air selain menjadi kebutuhan sehari-hari juga digunakan dalam suatu pabrik. Pabrik menggunakan air dapat sebagai air pendingin atau pemanas maupun air proses. Baik air untuk proses dan utilitas, air dibutuhkan dalam keadaan bersih tanpa adanya zat pengotor. Pengotor dalam air dapat bermacam-macam seperti logam yang terlarut, sisa dari makhluk hidup, maupun mikroorganisme seperti alga, bakteri, dan virus. Air dengan pengotor tidak dapat digunakan baik untuk kebutuhan sehari- hari maupun untuk kebutuhan pabrik. Air yang digunakan pada kehidupan sehari- hari akan mengalami kontak langsung dengan tubuh manusia sehingga adanya zat pengotor beresiko menjadi sumber penyakit bagi manusia. Air yang digunakan di pabrik jika mengandung berbagai pengotor dapat menghambat proses yang terjadi seperti merusak alat melalui korosi dan scaling. Pengotor yang terdapat di dalam air juga menghambat proses seperti perpindahan panas pada alat. Air proses yang kotor juga dapat mengakibatkan produk mengandung kontaminan yang tidak diinginkan sehingga menurunkan kegunaan dan nilai ekonomis dari produk. Penggunaan air yang mengandung pengotor ini selalu dihindari, namun

beberapa daerah tidak memiliki akses akan sumber air bersih. Sumber air bersih merupakan kebutuhan yang harus penduduk sehingga permintaan akan air bersih akan terus meningkat (Engelman, 2016). Permasalahan ini menunjukkan bahwa diperlukan suatu proses pengolahan air agar air dengan zat pengotor dapat dipakai. Masalah utama dari air kotor ini adalah zat pengotor yang tidak bisa dipisahkan dengan pengendapan secara alami. Koagulasi dan flokulasi ialah salah satu cara yang sering digunakan dalam pengolahan air kotor agar dapat digunakan baik untuk sehari-hari maupun kebutuhan di pabrik. Berdasarkan hal ini diperlukan percobaan untuk memahami cara kerja serta faktor-faktor yang mempengaruhinya agar proses koagulasi dan flokulasi berjalan efektif.

1

2

1.2.

Rumusan Masalah

1)

Bagaimanakah prinsip kerja dari koagulasi-flokulasi?

2)

Bagaimana dampak koagulasi-flokulasi terhadap pH?

3)

Bagaimana pengaruh jumlah penambahan koagulan pada proses koagu-

1.3.

lasi-flokulasi? Tujuan

1)

Mengetahui prinsip kerja dari koagulasi-flokulasi.

2)

Mengetahui pengaruh koagulan terhadap proses koagulasi-flokulasi.

3)

Mengetahui dampak koagulasi-flokulasi terhadap pH.

4)

Mengetahui pengaruh jumlah penambahan koagulan pada proses

1.4.

koagulasi-flokulasi. Manfaat

1)

Dapat mengaplikasikan proses koagulasi-flokulasi untuk menangani

2)

permasalahan air yang terkontaminasi pengotor. Dapat memanfaatkan proses koagulasi-flokulasi dalam kehidupan sehari-

3)

hari. Dapat mengertahui kondisi optimum dari koagulan.

4)

Mendapatkan pengetahuan dasar dalam rangka pengembangan studi proses koagulasi-flokulasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Koloid

Nama koloid diberi oleh Thomas Graham pada tahun 1861. Istilah koloid berasal dari bahasa Yunani, yaitu “kolla” dan “oid”. Kolla berarti lem, sedangkan oid berarti seperti. Koloid memiliki sifat yang berbeda dengan suspensi dan larutan. Sifat khusus koloid timbul akibat partikelnya yang lebih besar dari pada partikel larutan (Syukri, 1999). Koloid adalah sistem dispersi atau sistem sebaran yaitu suatu sistem yang menunjukkan bahwa suatu zat terbagi halus dalam zat lain. Zat yang terbagi atau didispersikan disebut fase intern atau fase diskontinu, sedangkan zat yang digunakan untuk mendispersikan disebut fase pendispersi, fa- se ekstern atau fase kontinu. Fase pendispersi lebih dikenal dengan medium pen- dispersi. Sistem dispersi dibedakan berdasarkan perbedaan ukuran zat yang didis- persikan yaitu dispersi kasar, halus dan molekuler (Sumardjo, 2009). Dispersi halus atau koloid adalah sistem dua fase yang ketercampurannya berada diantara homogen dan heterogen, agak keruh, serta memiliki diameter partikel 10 -7 -10 -5 cm. Partikel-partikel koloid tidak dapat dilihat menggunakan mi- kroskop biasa, tetapi dapat dilihat dengan mikroskop ultra, mudah diendapkan, dan tidak dapat melewati kertas saring biasa maupun membran semipermeabel (Sumardjo, 2009). Sistem koloid juga tersusun dari dua komponen sama halnya dengan larutan yang tersusun dari zat terlarut dan pelarut. Dua komponen pada sistem koloid yaitu fase terdispersi yang tersebar dalam medium pendispersi yang tidak terpisah. Analogi dalam larutan, fase terdispersi adalah zat terlarut sedang- kan medium pendispersi adalah zat pelarut. Fasa terdispersi dan fasa pendispersi dalam suatu sistem koloid dapat berupa gas, cair atau padat (Maharani, 2015).

2.2. Sifat Koloid

Sistem koloid mempunya sifat yang khas sehingga dapat membedakannya dengan sistem dispersi lainnnya seperti larutan atau suspensi. Koloid memiliki beberapa sifat yang dapat membedakannya dengan larutan atau suspensi. Sifat- sifat koloid terdiri dari efek Tyndall, gerak Brown, adsorpsi, elektroforesis, koagulasi, dialisis, koloid pelindung, koloid liofil dan liofob (Mose, 2014).

3

4

2.2.1. Efek Tyndall

Efek Tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893) seorang ahli fisika Inggris. Efek Tyndall dapat digunakan untuk membedakan koloid dari larutan, sebab atom, molekul atau ion yang membentuk larutan tidak dapat meng- hamburkan cahaya akibat ukurannya terlalu kecil. Efek Tyndall hamburan cahaya oleh suatu campuran menunjukan bahwa campuran tersebut adalah suatu koloid, dimana ukuran partikel-partikelnya lebih besar dari ukuran partikel dalam larutan, sehingga dapat menghamburkan cahaya (Mose, 2014). Sistem koloid pada umumnya terlihat agak keruh atau berupa gumpalan seperti agar-agar atau lem kanji. Koloid yang tidak berwarna juga ada seperti sol dari senyawa As 2 S 3 yang kuning jernih dan sol Fe(OH) 3 yang merah jernih seperti air teh sehingga sulit membedakan antara koloid seperti ini dengan larutan. Suatu larutan sejati jika disinari dengan seberkas sinar maka berkas sinar akan diserap dan hanya sebagian kecil yang dipancarkan. Seberkas sinar jika dilewatkan pada sistem koloid maka sinar tersebut akan dihamburkan partikel koloid, sehingga sinar yang melalui sistem koloid akan berupa jalur cahaya (Islami, 2010). Efek Tyndall dapat digunakan untuk mengamati partikel-partikel koloid dengan menggunakan mikroskop. Intensitas hamburan cahaya bergantung pada ukuran partikel, maka efek Tyndall juga dapat digunakan untuk memperkirakan berat molekul koloid. Partikel-partikel koloid yang mempunyai ukuran kecil, cendrung untuk menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek.

Partikel-partikel koloid yang berukuran besar cendrung untuk menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang (Bird, 1993).

2.2.2. Gerak Brown

Gerakan acak partikel koloid dalam suatu medium disebut gerak Brown. Robert Brown seorang pakar botani Inggris yang pertama kali melihat gejala ini pada tahun 1827. Robert Brown tidak dapat menjelaskan mengapa partikel koloid dapat bergerak acak dan berliku, pada tahun 1905 gerakan itu dijelaskan secara matematika oleh Albert Einstein. Einstein menunjukkan bahwa partikel yang

bergerak dalam suatu medium akan menunjukkan suatu gerakan acak seperti gerak Brown akibat tumbukan antarpartikel yang tidak merata (Mose, 2014).

5

Tumbukan dari partikel medium pendispersi pada partikel koloid yang terdispersi yang menyebabkan terjadinya gerak Brown. Partikel dari sistem koloid jika dilihat dengan mikroskop akan tampak partikel-partikel koloid bergerak lurus, tetapi arahnya tidak menentu seperti zig-zag. Gerak zig-zag partikel koloid hanya dapat diamati dengan mikroskop ultra (Islami, 2010). Gerak Brown menjadikan partikel-partikel koloid dapat mengatasi pengaruh gravitasi sehingga partikel- partikel tidak memisahkan diri dari medium pendispersinya (Syukri, 1999).

2.2.3. Adsorpsi

Partikel-partikel sol padat jika ditempatkan dalam zat cair atau gas, maka pertikel-partikel zat cair atau gas tersebut akan terakumulasi pada permukaan zat padat tersebut, fenomena ini disebut adsorpsi. Partikel koloid jenis sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel-partikel pada permukaannya, baik itu partikel netral atau bermuatan kation atau anion karena mempunyai permukaan yang sangat luas. Proses adsorpsi ini merupakan peristiwa dimana partikel koloid menyerap partikel bermuatan dari fase pendispersinya sehingga partikel koloid menjadi bermuatan. Jenis muatannya tergantung pada jenis partikel bermuatan yang diserap apakah anion atau kation (Mose, 2014). Partikel koloid dapat mengadsorpsi ion atau muatan listrik. Partikel koloid dari Fe(OH) 3 , bermuatan positif dalam air karena dapat mengadsorpsi ion positif, sedangkan partikel koloid As 2 S 3 dalam air bermuatan negatif karena mengadsorpsi ion negatif. Proses penyerapan dipermukaan partikel koloid ini disebut adsorpsi

koloid. Sifat adsorpsi partikel koloid sangat penting karena sifat tersebut dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari (Islami, 2010).

2.2.4. Elektroforesis

Permukaan partikel koloid mempunyai muatan listrik karena terjadinya ionisasi atau penyerapan ion-ion dalam larutan mengakibatkan partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik. (Yazid, 2005). Partikel koloid yang bermua- tan akan ditempatkan jika pada medan listrik, maka partikel tadi akan bergerak ke arah salah satu elektroda bergantung pada muatannya. Proses ini dikenal dengan

nama elektroforesis. Laju gerakan partikel dalam medan listrik dengan gradien po- tensial dikenal sebagai mobilitas partikel tersebut (Bird, 1993).

6

Sistem koloid bersifat stabil karena adanya muatan listrik pada permukaan partikel koloid yang berasal dari zat asing yang teradsorpsi dipermukaan koloid. Muatan listrik terdapat pada partikel-partikel terdispersi dalam sistem koloid menyebabkan gaya tolak menolak antarpartikel sehingga partikel tersebut saling berjauhan, sistem dispersi pada koloid ini dapat dikatakan bersifat stabil. Partikel koloid bermuatan listrik dapat dibuktikan dengan melakukan proses elektroforesis, yaitu berupa pergerakan partikel yang bermuatan listrik pada kondisi pH tertentu ke arah kutub listrik yang berlawanan (Mose, 2014). Koloid dari Fe(OH) 3 yang berwarna merah dicampur dengan koloid As 2 S 3 yang berwarna kuning, campuran dari sistem koloid tadi dimasukkan kedalam alat elektroforesis. Kutub positif dan negarif dihubungkan dengan arus listrik searah. Hasil menunjukkan bahwa koloid As 2 S 3 bermuatan negatif karena ditarik oleh eletrode positif dan Fe(OH) 3 bermuatan positif karena ditarik oleh elektrotrode negatif. Elektrolisis adalah cara untuk menunjukkan bahwa partikel koloid dapat bermuatan. Sifat elektrolisis dapat dilihat dari koloid jenis sol (Islami, 2010).

2.2.5. Dialisis

Pemurnian koloid selain dengan cara elektroforesis dapat juga dilakukan dengan cara dialisis yaitu suatu teknik pemurnian berdasarkan pada perbedaan ukuran partikelnya. Dialisis dilakukan dengan cara menempatkan dispersi koloid dalam kantung yang terbuat dari membran seperti selofan, perkamen dan membran yang sejenis. Kantung tersebut direndam dalam air yang mengalir. Ion- ion atau molekul memiliki ukuran lebih kecil dari partikel koloid, maka ion-ion itu dapat berdifusi melalui membran lebih cepat daripada partikel koloid, sehingga partikel koloid akan tetap berada didalam kantung membran (Mose, 2014).

2.2.6. Koloid Pelindung

Koloid pelindung merupakan sifat koloid yang dapat melindungi koloid lain. Koloid pelindung pada emulsi dinamakan emulgator. Beberapa koloid tidak akan mengalami penggumpalan jika ditambahkan suatu koloid lain. Koloid yang dapat memberikan efek kestabilan dinamakan koloid pelindung. Koloid pelindung akan membentuk lapisan disekeliling partikel koloid, sehingga dapat melindungi muatan didalam partikel koloid tersebut (Islami, 2010).

7

2.2.7. Koloid Liofil dan Liofob

Koloid dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan perbedaan daya adsorpsi dari fase terdispersi terhadap medium pendispersinya yang berupa zat cair. Sistem koloid di mana partikel terdispersnya mempunyai daya adsorpsi yang relatif besar disebut koloid liofil. Sistem koloid yang partikel terdispersinya mempunyai daya adsorpsi relatif kecil disebut koloid liofob. Kolid liofil memiliki sifat lebih stabil,

sedangkan koloid liofob bersifat kurang stabil. Koloid liofil berfungsi sebagai koloid pelindung. Koloid liofil gaya tarik menarik yang cukup besar antara fase terdispersi dan medium pendispersinya, contohnya, dispersi kanji, sabun, deterjen, dan protein dalam air. Koloid liofob gaya tarik menarik yang lemah atau bahkan tidak ada gaya tarik menarik antara fase terdispersi dan medium pendispersinya, contohnya, dispersi emas, Fe(OH)3, dan belerang dalam air (Mose, 2014).

2.3. Koagulasi-Flokulasi Koagulasi-flokulasi merupakan suatu proses yang digunakan untuk meng- hilangkan bahan becemar yang terkandung didalam limbah cair. Partikel yang umumnya harus melalui proses koagulasi-flokulasi untuk menghilangkan partikel koloid. Partikel koloid dapat ditentukan melalui ukuranya, partikel koloid biasa- nya mempunyai ukuran 10 -6 -10 -3 mikro. Jenis partikel yang dapat ditemukan pada

ukuran ini adalah partikel inorganik seperti asbestos fiber, clays, dan silts, partikel anogranik seperti virus, bakteri dan plankton (Qasim, 2000).

2.3.1. Koagulasi

Koagulasi merupakan suatu proses pembubuhan koagulan didalam yang akan diolah untuk dilakukan pengadukan secara cepat dengan waktu yang relatif cepat. Tujuan utama dari proses koagulasi adalah untuk meningkatkan efisiesi perpindahan suatu partikel kecil yang dapat menyebabkan kekeruhan didalam air. Pengadukan cepat bertujuan agar terbentuknya suatu flok yang nantinya akan mengendap kebawah. Destabilisasi koloid merupakan hal yang utama pada proses koagulasi, perubahan nilai kekeruhan merupakan indikator utama pada proses koagulasi baik itu sesudah maupun sebelum proses. Mekanisme pembentukan flok terjadi 4 tahapan yaitu destabilasi partikel koloid, pembentukan partikel koloid, penggabungan mikro flok, dan pembentukan makro flok (Manullang, 2012).

8

2.3.2 Flokulasi Flokulasi adalah suatu proses pembentukan flok setelah terjadinya proses koagulasi, partikel-partikel tersebut telah terdestabilisasi sehingga dapat dilakukan pengadukan secara perlahan untuk membentuk flok. Flokulasi merupakan proses yang penting dalam proses pengadukan. Pengadukan lambat memiliki tujuan un- tuk membentuk flok-flok yang lebih besar. Waktu yang digunakan pada proses flokulasi lebih lama dibandingkan dengan proses koagulasi. Waktu yang biasa di- gunakan pada proses floakulasi yakni 20-60 menit. Proses flokulasi diinginkan untuk berjalan dengan tanpa adanya hambatan, flokulasi ini sangat bergantung pada koagulasi beberapa faktornya adalah sebagai berikut (Qasim, 2000):

1)

Waktu tinggal.

2)

Jumlah energi yang diberikan.

3)

Jumlah koagulan yang digunakan.

4)

Nilai pH yang digunakan pada proses.

2.4. Koagulan Pengolahan dari air bersih ataupun limbah yang dilakukan secara kimia, membutuhkan bahan kimia untuk menurunkan kadar polutan yang terdapat di dalam air atau limbah tersebut, bahan kimia tersebut biasanya disebut koagulan. Koagulan biasanya digunakan dalam proses koagulasi. Koagulan berfungsi untuk sebagai donor positif untuk menstabilkan muatan negatif partikel-partikel yang terkandung didalam air, sehingga partikel tersebut dapat menjadi netral dan dapat mengendap. Limbah domestik yang belum diolah dosis penggunan koagulan yang dapat digunakan adalah 300 gr/ml atau lebih. Berbagai macam koagulan yang dapat digunakan pada proses koagulasi yaitu (Reynlod dan Richards, 1996):

2.4.1. Alumunium Sulfat

Alumunium sulfat biasanya disebut dengan tawas, sering dipakai karena efektif menurunkan kadar karbonat. Tawas berbentuk kristal atau bubuk putih, larut dalam air, tidak larut didalam alkohol, tidak mudah terbakar, ekonomis, mudah didapat, dan mudah disimpan. Alkalinitas yang cukup terdapat diair dapat beraksi dengan dengan alumunium sulfat dan akan membentuk flok hidroksida. Alkalinitas biasanya berada didalam air dalm bentik ion bikarbonat. Alkalinitas

9

yang tidak cukup terdapat didalam samapel, maka dapat ditambahnkan alkalinitas, biasanya dalam bentuk ion hidroksida dalam bentuk sodium bikarbonat. Air bia- sanya memiliki alkalinitas yang cukup (Reynlod dan Richards, 1996).

2.4.2. Poly Alumunium Chloride (PAC)

Poly alumunium chloride adalah alumunium yang berhubungan unsur lain membentuk unit berulang dalam suatu ikatan rantai molekul yang cukup panjang.

Poly alumunium chloride menggabungkan netralisasi dan kemampuan menjem- batani partikel koloid sehingga koagulasi berlangsung secara efisien. Penggunaan PAC dibutuhkan pengarahan karena bersifat higroskopis (Manullang, 2012).

2.4.3. Ferrous Sulfate

Ferrous sulfate atau biasanya juga dikenal dengan sebagai copperas, ben- tuknya adalah granular. Ferrous sulfate sangat efektif digunakan dalam proses pe- njernian air dengan pH tinggi. Ferrous sulfate membutuhkan alkalinitas dalam be- ntuk ion hidroksida untuk membantu proses reaksi yang cepat. Reaksi ini merupa-

kan reduksi-oksidasi yang membutuhkan oksigen yang terlarut dalam air. Ferrous sulfate terdapat dalam bentuk padatan dan cairan (Reynlod dan Richards, 1996).

2.4.4. Ferric Chlorida

Ferric chlorida pada pengolahan air biasanya digunakan secara terbatas, karena bersifat korosif dan tidak tahan dalam penyimpanan yang terlalu lama. Nilai optimum pH dari ferric chlorida adalah hampir sama dengan ferric sulfate yaitu antara 4-12. Flok yang terbentuk biasanya tebal dan pembentukan flok nya terjadi secara cepat. Ferric chlorida wujud padatan biasanya terdapat dalam bentuk bubuk maupun gumpalan. Gumpalan dari ferric chlorida mengandung sekitar 59-61 % besi klorida , serbuk mengandung 98% besi klorida, ferric chlorida dalam wujud cair mengandung 37-47% besi klorida (Manullang, 2012).

2.5. Faktor yang Mempengaruhi Koagulasi-Flokulasi

Pengolahan air dengan menggunakan proses koagulasi-flokulasi akan membutuhkan pengaturan untuk kondisi yang berkaitan agar proses ini dapat berjalan dengan optimum. Variabel yang dapat mempengaruhi proses koagulasi- flokulasi yang harus diatur adalah kualitas air, pengaruh pH, pengadukan, temperatur, dan konsentrasi koagulan (Al-Layla dkk, 1977).

10

2.5.1. Kualitas Air

Kebutuhan koagulan tergantung pada kekeruhan. Kekeruhan yang tinggi dapat menyebabkan proses koagulasi menjadi lebih efektif, tetapi penambahan koagulan tidak selalu berkorelasi linier terhadap kekeruhan. Kualitas air yang dengan penurunan warna <5 PtCo sangat sulit dengan proses koagulasi karena membutuhkan dosis yang tinggi, tetapi penurunan warna sampai ± 15 PtCo lebih

mudah dilakukan (Rosariawari dan Mirwan, 2013).

2.5.2. Derajat Keasaman (pH)

Pemilihan pH yang tepat akan mengakibatkan dosis koagulan yang digunakan untuk memperoleh effluent yang optimum menjadi lebih kecil. Sifat kimia koagulan sangat tergantung pada pH sehingga mempengaruhi dosis koagu- lan. Batasan nilai pH terjadi karena pengaruh jenis koagulan yang dipakai dan reaksi koagulan dalam air dalam menentukan konsentrasi koagulan yang diguna- kan. Kesalahan pengoperasian dalam menentukan range pH akan mengakibatkan pemborosan bahan kimia dan mengakibatkan kualitas yang rendah dalam pengola-

han air limbah. Proses koagulasi akan sempurna pada pH 6-9 sesuai standar, na- mun pH terbaik adalah berkisar 7,0 (Rosariawari dan Mirwan, 2013).

2.5.3. Pengadukan

Proses koagulasi juga ditentukan oleh pengadukan. Pengadukan ini perlu agar tumpukan antara partikel untuk netralisasi menjadi sempurna. Distribusi dalam air yang cukup baik dan merata serta masukan energi yang cukup untuk tumpukan antara partikel yang telah netral sehingga terbentuk mikroflok. Proses koagulasi pengadukannya dilakukan dengan cepat, air yang memiliki turbidity rendah memerlukan pengadukan yang lebih banyak dibandingkan dengan air yang mempunyai turbidity tinggi (Rachmawati dkk, 2009). Kecepatan putaran sangat berhubungan dengan proses pencampuran dalam koagulan kedalam air, proses destabilisasi partikel dan perpindahan serta pengga- bungan presipitat yang terbentuk menjadi flok-flok. Waktu pengadukan juga sangat berpengaruh karena berhubungan dengan durasi yang dibutuhkan presipitat untuk dapat saling bertumbukan satu sama lain. Tumbukan ini diharapkan cukup untuk membentuk flok dengan kualitas yang baik (Rachmawati dkk, 2009).

11

2.5.4. Temperatur

Temperatur yang rendah akan memberikan efek yang merugikan terhadap efisiensi semua proses pengolahan. Proses koagulasi dapat berkurang pada tempe- ratur yan lebih rendah karena peningkatan viskositas dan perubahan suhu agregat menjadi lebih kecil sehingga dapat lolos dari saringan. Waktu kontak dalam fasilitas koagulasi-flokulasi sebaiknya diatur. Semakin rendah temperatur membu-

tuhkan waktu kontak semakin lama karena mempengaruhi pembentukan flok-flok supaya cepat mengendap di bak pengendap (Al-Layla dkk, 1977).

2.5.5. Konsentrasi Koagulan

Konsentrasi koagulan akan sangat berpengaruh terhadap tumbukan antar partikel, sehingga penambahan koagulan harus sesuai dengan kebutuhan untuk membentuk flok-flok. Konsentrasi koagulan yang kurang akan mengakibatkan tumbukan antar partikel berkurang sehingga mempersulit pembentukan flok. Konsentrasi koagulan yang terlalu banyak justru akan menyebabkan flok tidak

terbentuk dengan baik dan dapat menimbulkan kekeruhan kembali sehingga proses koagulasi tidak berhasil (Al-Layla dkk, 1977).

2.6. Jar Test

Jar test adalah suatu percobaan skala laboratorium yang berfungsi untuk menentukan dosis optimum dari koagulan yang akan digunakan dalam proses pengolahan air bersih. Percobaan yang dilakukan secara tepat menghasilkan informasi yang berguna dan benar untuk membantu operator-operator instalasi

dalam mengoptimalkan proses-proses koagulasi-flokulasi dan penjernihan. Jar test memberikan data mengenai kondisi optimum yang berlaku untuk parameter- parameter proses seperti (Oktaviasari dan Mahsuri, 2016):

1)

Dosis koagulan dan koagulan pembantu.

2)

pH.

3)

Metode pembubuhan bahan kimia (pada atau dibawah permukaan air,

4)

pembubuhan beberapa bahan kimia secara bersamaan atau berurutan). Waktu dan intensitas pada saat pengadukan cepat dan pengadukan lambat

5)

(flokulasi). Waktu penjernihan.

12

2.7. Penelitian Terkait

Margaretha, dkk (2012) secara eksperimental telah melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Kualitas Air Baku Terhadap Dosis dan Biaya Koagulan Aluminium Sulfat dan Poly Aluminium Chloride. Penelitian menggunakan metode jar test untuk menentukan dosis koagulan melalui parameter tersebut. Penelitian ini mengamati parameter fisik dan kimia seperti kekeruhan, pH, Total Dissolved Solid (TDS), Dissolved Oxygen (DO), konduktivitas dan temperatur. Kandungan besi, amoniak dan nitrit yang pada air juga diperhatikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan dua hasil yang berbeda yakni penggunaan koagulan aluminium sulfat efektif dan ekonomis untuk air baku dengan dosis optimum koagulan sebesar 44 ppm. Koagulan Poly Aluminium Chloride cair efektif dan ekonomis untuk air baku dengan penggunaan dosis optimum koagulan sebesar 5 ppm. Pontius (2016) secara eksperimental telah melakukan penelitian yang berjudul Chitosan as a Drinking Water Treatment Coagulant. Penelitian ini melakukan perbandingan antara hasil koagulasi menggunakan koagulan chitosan, aluminum sulfat dan besi klorida. Sampel air yang digunakan pada penelitian ini adalah air danau yang mengandung alga. Hasil penelitian menunjukkan dosis chitosan yang optimum sebanyak 8 mg/L dan chitosan merupakan koagulan yang paling efektif dalam penghilangan warna pada air sampel. Penggunaan dosis chitosan yang berlebih akan mengakibatkan restabilisasi dari koloid pada air. Pertiwi dan Notodarmojo (2014) secara eksperimental telah melakukan penelitian dengan judul Pemanfaatan Alum dari Limbah Buffing Sebagai Koagulan untuk Menyisihkan Kekeruhan dan Total Suspended Solid (TSS). Penelitian ini bertujuan menggunakan kandungan aluminium yang berasal dari limbah buffing menjadi koagulan. Produk koagulan dari limbah ini dibuat dengan dua variasi Al 2 (SO 4 ) 3 .5H 2 O dan K.Al(SO 4 ) 2 .8H 2 O. Aplikasi untuk air baku dalam pengolahan air minum, dosis optimum koagulan Al 2 (SO 4 ) 3 .5H 2 O adalah 30 mg/L dan koagulan K.Al(SO 4 ) 2 .8H 2 O adalah 50 mg/L. Tingkat penyisihan kekeruhan terbesar pada koagulan Al 2 (SO 4 ) 3 .5H 2 O dengan 99,17%, dan memiliki kemampuan menyisihkan (TSS) hingga <1,0 mg/L. Kecepatan pengendapan rata- rata partikel flok menggunakan koagulan Al 2 (SO 4 ) 3 .5H 2 O adalah 0,052-0,486 cm/s dan 0,052-0,289 cm/s menggunakan koagulan K.Al(SO 4 ) 2 .8H 2 O.

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

3.1.

Alat dan Bahan

3.1.1.

Alat

1)

Beker gelas 250 ml

2)

Corong

3)

Jar test

4)

pH meter

5)

Spektrofotometer UV-Vis

6)

Turbidity meter

7)

Pipet volume

8)

Bola hisap

9)

Erlenmeyer

10) Neraca analitis 11) Spatula

3.1.2.

Bahan

1)

2)

3)

Sampel limbah cair 1,5 liter

Koagulan (tawas/PAC)

Kertas filter whatman 42

3.2.

Prosedur Percobaan

1)

Air danau disediakan untuk sampel.

2)

Spektrofotometer digunakan untuk mengukur pH, kekeruhan (turbidity)

3)

dan absorbansi kandungan mangan sampel. Koagulan (tawas/PAC) sebanyak 1 gram ditimbang.

4)

Koagulan sebanyak 100 ml dilarutkan pada aquadest.

5)

100 ml air danau dimasukkan kedalam 5 gelas beker 250ml.

6)

Secara bersamaan koagulan ditambahkan pada masing-masing beker

7)

sebanyak 1, 2, 3, 4, dan 5 ml. Pencatat waktu disiapkan, tombol power ditekan untuk menyalakan jar

8)

test. Pengadukan cepat dilakukan dengan kecepatan 100 rpm selama 3 menit.

13

14

9) Pengadukan lambat dilakukan dengan kecepatan 50 rpm selama 8 menit, Pembentukan flok diamati.

10)

Alat dihentikan setelah 8 menit dan flok dibiarkan mengendap selama 15

11)

menit. Kertas saring digunakan untuk menyaring masing-masing larutan.

12) pH, kekeruhan, dan absorbansi kandungan mangan dari hasil filtrasi

diambil dan dianalisa menggunakan portable spektrofotometer. Hal yang sama dilakukan untuk kecepatan pengadukan 300 rpm dan 500 rpm.

13)

15

3.3. Blok Diagram

Air danau disiapkan

15 3.3. Blok Diagram Air danau disiapkan pH, kekeruhan dan absorbasi kandungan mangan sampel diukur dengan

pH, kekeruhan dan absorbasi

kandungan mangan sampel diukur

dengan spektrofotometer

100 ml air danau dimasukan ke dalam 5 beker gelas
100 ml air danau
dimasukan ke
dalam 5 beker gelas

Koagulan ditimbang sebanyak 1 gram

Koagulan dilarutkan dengan aquadest sebanyak 100 ml
Koagulan dilarutkan
dengan aquadest
sebanyak 100 ml
1 gram Koagulan dilarutkan dengan aquadest sebanyak 100 ml Koagulan ditambahkan pada masing-masing beker gelas sebanyak
1 gram Koagulan dilarutkan dengan aquadest sebanyak 100 ml Koagulan ditambahkan pada masing-masing beker gelas sebanyak

Koagulan ditambahkan pada masing-masing beker gelas sebanyak 1, 2, 3, 4, dan 5 ml

pada masing-masing beker gelas sebanyak 1, 2, 3, 4, dan 5 ml Pencatat waktu disiapkan, tombol

Pencatat waktu disiapkan, tombol power ditekan untuk meyalakan jar test

disiapkan, tombol power ditekan untuk meyalakan jar test Pengadukan cepat pada 100 rpm selama 3 menit

Pengadukan cepat pada 100 rpm selama 3 menit

jar test Pengadukan cepat pada 100 rpm selama 3 menit Pengadukan lambat pada 50 rpm selama

Pengadukan lambat pada 50 rpm selama 8 menit, pembentukan flok diamati

lambat pada 50 rpm selama 8 menit, pembentukan flok diamati Alat dihentikan setelah 8 menit, biarkan

Alat dihentikan setelah 8 menit, biarkan flok mengendap selama 15 menit

setelah 8 menit, biarkan flok mengendap selama 15 menit Larutan masing-masing disaring dengan kertas saring Portable

Larutan masing-masing disaring dengan kertas saring

15 menit Larutan masing-masing disaring dengan kertas saring Portable spektrofotometer digunakan untuk menganalisa pH,

Portable spektrofotometer digunakan untuk menganalisa pH, kekeruhan, dan absorbasi mangan sampel

untuk menganalisa pH, kekeruhan, dan absorbasi mangan sampel Hal yang sama dilakukan pada kecepatan pengadukan 300

Hal yang sama dilakukan pada kecepatan pengadukan 300 rpm dan 500 rpm

Gambar 3.1. Blok Diagram Prosedur Percobaan Koagulasi-Flokulasi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan

Tabel 4.1. Analisa sampel sebelum penambahan koagulan

pH

Kekeruhan (NTU)

7,25

49,6

Tabel 4.2. Analisa Sampel Setelah Penambahan Koagulan

Kecepataan

Pengadukan

(rpm)

Volume

Koagulan

(mL)

Parameter

Turbiditas

(NTU)

pH

4,81

12,76

4,72

14,81

4,78

16,14

4,72

22,80

100

1

2

3

4

5

4,94

10,07

16

17

4.2. Grafik Hasil Pengamatan

17 4.2. Grafik Hasil Pengamatan Gambar 4.1. Pengaruh Dosis Koagulan terhadap pH Air Danau pada Kecepatan

Gambar 4.1. Pengaruh Dosis Koagulan terhadap pH Air Danau pada Kecepatan Pengadukan 100 rpm

terhadap pH Air Danau pada Kecepatan Pengadukan 100 rpm Gambar 4.2. Pengaruh Dosis Koagulan terhadap Turbiditas

Gambar 4.2. Pengaruh Dosis Koagulan terhadap Turbiditas Air Danau pada Kecepatan Pengadukan 100 rpm

18

4.3. Pembahasan Percobaan koagulasi-flokulasi dilakukan pada sampel air danau, dengan tujuan menjernihkan air dari kandungan pengotor berupa koloid. Proses koagulasi dilakukan terlebih dahulu dengan menambakan koagulan berupa tawas. Koloid yang menjadi zat pengotor pada air ini adalah zat bermuatan yang stabil sehingga akan membutuhkan waktu yang lama untuk terjadi pengendapan secara alami. Koagulan yang ditambahkan ini akan mendestabilisasi koloid sehingga koloid menjadi tidak stabil dan terjadi tumbukan antar partikel koloid untuk membentuk mikro flok. Penambahan koagulan pada sampel akan memerlukan bantuan pengadukan yang cepat yang berfungsi untuk menghomogenkan koagulan. Pengadukan cepat ini namun tidak boleh terlalu cepat dan terlalu lama durasinya. Pengadukan yang terlalu cepat akan beresiko merusak koagulan dan menimbulkan vortex pada sampel sehingga koagulan tidak menjadi homogen, selain itu juga beresiko pecahnya flok-flok yang telah terbentuk. Temperatur pada proses pengadukan ini juga dijaga untuk menghindari degradasi termal pada sampel maupun pada koagulan yang ditambahkan ke sampel. Proses koagulasi akan dilanjutkan dengan proses flokulasi menggunakan pengadukan lambat. Tujuan dari proses flokulasi adalah membentuk flok-flok besar yang berasal dari flok kecil yang telah terbentuk selama proses koagulasi. Pengadukan yang lambat bertujuan memastikan terbentuknya flok dan tidak rusaknya flok yang telah terbentuk. Proses flokulasi dapat dibantu dengan suatu chemical agent yang disebut dengan flocculant, penambahan ini bersifat opsional. Berlawanan dengan proses koagulasi pengadukan untuk proses flokulasi dilakukan dalam waktu yang lama sehingga terbentuk flok yang besar. Flokulasi akan dilanjutkan dengan proses sedimentasi, dimana dihentikan pengadukan pada sampel. Proses sedimentasi terjadi karena flok-flok besar yang telah terbentuk setelah proses flokulasi akan turun dengan sendirinya dengan bantuan gravitasi tanpa adanya bantuan penambahan zat lain. Hasil dari proses terakhir ini akan membuat sampel terbagi menjadi dua bagian yakni bagian air yang telah bebas dari zat pengotor dan flok yang mengendap pada bagian bawah sampel. Tahap akhir dari penjernihan air adalah penyaringan air hasil sedimentasi menggunakan kertas saring untuk memisahkan flok-flok dan air yang telah jernih.

19

Sampel air danau awalnya dilakukan pengukuran turbiditas dan pH, hasil turbiditas yang didapatkan adalah 49,6 NTU dan pH 7,25. Kedua parameter ini akan dibandingkan pada sampel yang telah mengalami proses koagulasi-flokulasi. Percobaan dilakukan dengan variasi dari volume koagulan yang ditambahkan pada masing-masing sampel yakni sebesar 1, 2, 3, 4, dan 5 mL. Perubahan pH yang terjadi antara sebelum dan sesudah proses terlihat dengan jelas dimana pH akan turun. Penurunan pH ini disebabkan karena sifat dari koagulan yang digunakan yakni tawas memiliki sifat asam. Volume koagulan yang ditambahkan akan berpengaruh pada penurunan pH ini. Penurunan pH yang paling tinggi terjadi pada sampel dengan penambahan koagulan sebesar 3 dan 5 mL yakni pH menjadi 4,72. Kondisi asam ini harus dihindari karena terlalu asam air akan mengakibatkan korosi maupun kerusakan lainnya pada alat. Nilai turbiditas dari hasil proses ini akan jauh berkurang jika dibandingkan dengan turbiditas awal. Penurunan nilai turbiditas ini terjadi karena pada sampel hasil dari proses telah mengendapkan partikel-partikel koloid dan sudah dilakukan pemisahan dengan kertas saring. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semakin banyak kandungan koagulan yang ditambahkan maka akan terjadi peningkatan dari nilai turbiditas. Peningkatan ini dapat terjadi karena adanya koagulan yang tidak berikatan dengan koloid yang ada di dalam sampel. Koagulan yang tidak berikatan dan tidak berubah menjadi flok ini, mengakibatkan air mengalami peningkatan kekeruhan bukan karena partikel koloid, namun karena adanya koagulan di dalam sampel. Koagulan ini akan dideteksi oleh turbidity meter sebagai kekeruhan sehingga terjadi peningkatan nilai turbiditas dari sampel dengan meningkatnya volume koagulan. Kondisi paling optium pada proses koagulasi-flokulasi air danau ini didapatkan pada penambahan koagulan sebesar 1 mL. Penambahan 1 mL dari zat koagulan akan menghasilkan turbiditas yang paling rendah yakni 10,07 NTU selain itu penurunan pH pada sampel ini adalah yang paling kecil. Penurunan pH yang kecil ini menjadi sebuah keuntungan karena akan diperlukan basa dalam jumlah yang lebih sedikit untuk pengolahan air ini agar dapat digunakan. Penurunan nilai turbiditas yang tinggi juga menunjukkan bahwa proses yang terjadi pada sampel ini telah optimum dalam memisahkan zat koloid pengotor.

BAB V

PENUTUP

5.1.

Kesimpulan

1)

Penambahan koagulan yang dilanjutkan dengan pengadukan cepat untuk membentuk mikro flok dan pengadukan lambat untuk membentuk flok ya- ng mengendap.

2) Koagulan tawas akan menurunkan pH dari sampel setelah proses

3)

koagulasi-flokulasi. Semakin banyak koagulan yang ditambahkan nilai turbiditas setelah proses

4)

akan meningkat. Koagulan yang tidak berikatan dan tidak berubah menjadi flok menga-

5)

kibatkan air mengalami peningkatan kekeruhan Pengadukan yang terlalu cepat akan menaikkan kekeruhan karena pecah-

5.2.

nya flok-flok yang telah terbentuk. Saran

1)

Ketahui tingkat kekeruhan air sebelum pemurnian agar dapat mengetahui

2)

volume koagulan yang akan digunakan. Jangan tambahkan koagulan terlalu banyak pada air yang tidak terlalu

3)

keruh karena hal tersebut justru akan menurunkan kualitas air. Dinding luar dari botol sampel turbidity meter jangan di sentuh pada saat akan melakukan pengecekan sampel karna akan berpengaruh terhadap hasil analisa.

20

DAFTAR PUSTAKA

Al-Layla, M. A., Shamim, A., dan Middlebrooks, E. J. 1977. Water Supply Engi-

neering Design. Michigan: Ann Arbor Science Publishers. Bird, T. 1993. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Engelman, R. 2016. When It Comes to Water Scarcity, Population Growth Tops

Climate.Change

r-scarcity-population-growth-trumps-climate-change/

(Online)

https://www.newsecuritybeat.org/2016/08/wate

(Diakses

pada

13

Oktober 2019). Islami, R. A. 2010. Pengaruh Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Stad Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa pada Konsep Sistem Koloid. [SKRIPSI]. Jakarta (IDN). Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Maharani. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kampar Pada Materi Koloid. [SKRIPSI]. Pekanbaru (IDN). Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Ka- sim Riau. Manullang, P. R. 2012. Efektivitas Pre-Treatment Koagulasi-Flokulasi pada Ipal Rumah Sakit Metode Actived Sludge. [SKRIPSI]. Depok (IDN). Univer- sitas Indonesia. Margaterha, Mayasari,R., Syaiful, dan Subroto. 2012. Pengaruh Kualitas Air Baku Terhadap Dosis dan Biaya Koagulan Aluminium Sulfat dan Poly Alumi- nium Chloride. Jurnal Teknik Kimia. Vol. 18(4): 21-30. Mose, Y. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Predict-Observe-Explain (POE) Pada Materi Koloid Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Keterampilan Proses Sains Siswa. [THESIS]. Bandung (IDN). Universitas Pendidikan Indonesia. Oktaviasari, S. A., dan Mashuri, M. 2016. Optimasi Parameter Proses Jar Test Menggunakan Metode Taguchi dengan Pendekatan PCR-TOPSIS (Studi Kasus: PDAM Surya Sembada Kota Surabaya). Jurnal Sains dan Seni ITS.

Vol. 5(2): 372-377.

Pertiwi, Y., dan Notodarmojo, S. 2014. Pemanfaatan Alum dari Limbah Buffing Sebagai Koagulan Untuk Menyisihkan Kekeruhan dan Total Suspended Solid (TSS). Jurnal Teknik Lingkungan. Vol. 20(1): 48-57. Pontius, F. W. 2016. Chitosan as a Drinking Water Treatment Coagulant. American Journal of Civil Engineering. Vol. 4(5): 205-215. Qasim, S. R. 2000. Water Works Engineering (Planning, Design, and Operation). Dallas Texas: Prectice Hall. Rachmawati, S.W., Iswanto, B., dan Winarni. 2009. Pengaruh pH pada Proses Koagulasi dengan Koagulan Aluminum Sulfat dan Ferri Klorida. Jurnal Teknologi Lingkungan. Vol. 5(2): 40-45. Reynold, T.D., dan Richards, P. A. 1996. Unit Operation and Processes in Environmental Engineering Second Edition. Florence: PWS Publishing Company. Rosariawari, F., dan Mirwan, M. 2013. Effektifitas PAC dan Tawas untuk Menurunkan Kekeruhan pada Air Permukaan. Jurnal Teknik Kimia. Vol. 5(1): 1-10. Sumardjo, D. 2009. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedok- teran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Syukri, S. 1999. Kimia Dasar. Bandung: ITB. Yazid, E. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: Andi Offset.

LAMPIRAN B RANGKAIAN ALAT

LAMPIRAN B RANGKAIAN ALAT Gambar 1. Rangkaian Alat Jar Test Gambar 2. Rangkaian Alat turbidity Meter

Gambar 1. Rangkaian Alat Jar Test

LAMPIRAN B RANGKAIAN ALAT Gambar 1. Rangkaian Alat Jar Test Gambar 2. Rangkaian Alat turbidity Meter

Gambar 2. Rangkaian Alat turbidity Meter

ALAT Gambar 1. Rangkaian Alat Jar Test Gambar 2. Rangkaian Alat turbidity Meter Gambar 3. Rangkaian

Gambar 3. Rangkaian Alat pH Meter