Anda di halaman 1dari 11

Muhammad Anshar, Strategi Pengembangan Potensi Desa Bonto Lojong sebagai Kawasan

Agrowisata di Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng

STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI DESA BONTO LOJONG SEBAGAI


KAWASAN AGROWISATA DI KECAMATAN ULU ERE KABUPATEN
BANTAENG

Muhammad Anshar
Staf Pengajar Jurusan Teknik PWK, UIN Alauddin Makassar
ansharakul@yahoo.co.id

ABSTRAK

Pada hakekatnya Desa merupakan suatu wadah dimana hampir sebagian besar
penduduknya bergerak di sektor pertanian serta masyarakat yang hidup di daerah perdesaan
memiliki nilai sosial yang cukup tinggi. Selain itu, adat istiadat masyarakat Desa juga masih
terjaga dengan baik. Seperti halnya dalam penelitian ini yang mengkaji potensi sumber daya
alam Desa Bonto Lojong sebagai kawasan agrowisata. Hal ini di dasarkan pada potensi
pertanian Desa Bonto Lojong sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai kawasan wisata
dengan tidak mengurangi kegiatan pertanian masyarakat setempat. Namun tujuan dalam
penelitian ini yaitu untuk mengetahui potensi apa saja yang dimiliki Desa Bonto Lojong sebagai
kawasan agrowisata, serta mengidentifikasi strategi pengembangan potensi Desa Bonto Lojong
sebagai kawasan agrowisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode
analisis deskriptif yang dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu metode analisis
deskriptif yang dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian dengan menggambarkan atau
menguraikan secara jelas apa yang ada di lapangan disertai perbandingannya, sedangkan
metode analisis SWOT dilakukan untuk mengetahui strategi pengembangan potensi yang
dimiliki oleh suatu daerah. Hasil penelitian yang telah dilakukan yaitu: Desa Bonto Lojong
yang memiliki potensi sumber daya alam berupa hasil pertanian dan perkebunan yang dapat
dikembangkan sebagai salah satu daya tarik wisatawan sebagai Desa wisata

Kata Kunci : Strategi, kawasan, agrowisata

A. PENDAHULUAN
Sebagai suatu aktivitas, pariwisata adalah suatu fenomena sosial yang sangat
kompleks dan menyatu segala aspek kehidupan manusia. Pariwisata merupakan
keseluruhan kegiatan untuk penataan dan pelayanan terhadap pemenuhan kebutuhan
berwisata, sehingga memilik dampak yang besar sekali terhadap sistem nilai
masyarakat, baik dampak yang bersifat positif maupun dampak yang bersifat negatif.
Daerah Sulawesi Selatan merupakan daerah potensi di bidang pariwisata dan telah
dikunjungi oleh banyak wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu
daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke suatu daerah adalah keindahan alamnya.
Sulawesi Selatan mempunyai banyak daerah seperti diantaranya adalah Desa Bonto
Lojong Kecamatan Ulu Ere yang terletak di Kabupaten Bantaeng. Jika Kecamatan Ulu
Ere merupakan wilayah administrasi dari Kabupaten Bantaeng, dengan luas wilayah
keseluruhan adalah 67, 29 Km² dan jarak dari Ibu Kota Kabupaten Bantaeng yaitu 21
Km. Jumlah penduduk Kecamatan Ulu Ere sebanyak 7.316 jiwa yang terdiri dari laki-
laki sekitar 3.478 jiwa dan perempuan sebanyak 3.838 jiwa dengan mayoritas mata
pencaharian penduduknya pada umumnya berprofesi sebagai petani utamanya petani
sayuran dan buah, sedangkan non pertanian terutama bergerak pada lapangan usaha
perdagangan besar dan eceran. Kecamatan Ulu Ere juga merupakan salah satu
kecamatan yang terletak di dataran tinggi di Kabupaten Bantaeng atau berada di daerah

50
Muhammad Anshar, Strategi Pengembangan Potensi Desa Bonto Lojong sebagai Kawasan
Agrowisata di Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng

pegunungan. Kecamatan Ulu Ere terletak pada ketinggian antara 1.200-1.700 Mdpl.
Ditinjau dari segi kemiringan lereng Desa Bonto Lojong berada pada kemiringan lereng
8-40 %, atau sebagian besar wilayahnya adalah pegunungan. Penetapan Desa Bonto
Lojong Kecamatan Ulu Ere sebagai lokasi Rencana Kawasan Agrowisata ini tidak lepas
dari adanya potensi dominan seperti hasil perkebunan, serta arahan yang tertuang dalam
Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bantaeng Tahun 2008-2013.
Potensi agrowisata yang sangat tinggi ini belum sepenuhnya dikembangkan dan
dimanfaatkan secara optimal. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan
yang datang ke lokasi Agrowisata Ulu Ere menunjukkan penurunan jumlah wisatawan
yang berkunjung ke Objek wisata tersebut. Dari data Dinas Pariwisata Kabupaten
Bantaeng, pada tahun 2011 tercatat jumlah pengunjung ke lokasi Kawasan Agrowisata
Bonto Lojong berjumlah 7.514 orang, Sementara pada tahun 2010 berjumlah 8.307
orang. Dari data diatas dapat disimpulkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke
kawasan Agrowisata Ulu Ere pada tahun 2011 mengalami penurunan jika dibandingkan
pada tahun 2010 sebesar 793 orang. (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten
Bantaeng tahun 2011).
Jika hal tersebut dibiarkan tanpa ada penanganan yang serius, maka dari tahun
ketahun jumlah kunjungan wisatawan akan terus mengalami penurunan. Oleh karena itu
diperlukan strategi pengembangan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke
kawasan Agrowisata Ulu Ere yang berdekatan dengan objek wisata lainnya yang
terdapat di Desa Bonto Lojong seperti loka camp, permandian air terjun cina mountea
dan lain-lain maka sangat memungkinkan dilakukan pengembangan dalam rangka
meningkatkan kunjungan wisatawan dengan melakukan paket wisata lainnya di Desa
Bonto Lojong. Sehingga berdasarkan latar belakang tersebut maka tujuan dari penelitian
ini adalah menjelaskan potensi yang dimiliki Desa Bonto Lojong dan menjelaskan
strategi pengembangan potensi Desa Bonto Lojong Sebagai Desa Agrowisata di
Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng.

B. METODOLOGI PENELITIAN
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere Kabupaten
Bantaeng. Penelitian ini dilakukan selama 2 (dua) bulan yakni antara bulan Oktober –
November. Lokasi penelitian ditentukan dengan pertimbangan bahwa kawasan tersebut
memiliki potensi dan daya tarik wisata yang apabila dikembangkan dapat menjadi
destinasi wisata di Kabupaten Bantaeng.
2. Jenis dan Sumber Data
Data Primer, merupakan data yang diperoleh melalui pengamatan langsung pada
lokasi penelitian, jenis data tersebut terdiri dari: Data penggunaan lahan kawasan wisata
agro, kondisi fisik kawasan wisata agro, opini masyarakat dan pengunjung kawasan
wisata agro. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui instansi terkait dengan
penelitian ini, baik dalam tabulasi maupun deskriptif. Adapun data yang dimaksud
adalah : Jumlah penduduk Desa Bonto Lojong, sarana dan prasarana penunjang, waktu
dan biaya tempuh, Jumlah kunjungan wisatawan.

3. Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data bertujuan untuk mengumpulkan data-data dan informasi yang
ada pada lokasi penelitian. Teknik yang di gunakan untuk mengumpulkan data yang
sesuai dengan objek kajian yaitu metode wawancara, observasi dan telaah pustaka.

51
Muhammad Anshar, Strategi Pengembangan Potensi Desa Bonto Lojong sebagai Kawasan
Agrowisata di Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng

4. Metode Analisis
Untuk membahas rumusan masalah pertama dikaji dengan menggunakan
pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisis deskriptif.
a. Analisis Potensi Wisata; Analisis ini sebagai alat dalam melihat seberapa besar
potensi yang ada untuk dinikmati para wisatawan yang meliputi kemenarikan
objek, fasilitas atau sarana dan prasarana dan aksesbilitas yang dibutuhkan para
wisatawan. Terdapat beberapa indikator yang mendukung, Untuk lebih jelas dapat
dilihat pada tabel 1

Tabel 1. Instrumen analisis


Dimensi Indikator
a. Agrowisata a. Holtikultura
b. Kebun Buah Strawberry
c. Pusat Kebun Bunga
d. Kenyamanan
b. Sarana dan Prasarana a. Akomodasi
b. Home Stay
c. Aksesbilitas a. Jalan
b. Biaya
c. Jarak Tempuh

b. Analisis SWOT : Menurut Robert Simbolon, (1999), analisis SWOT merupakan


suatu alat yang efektif dalam membantu menstrukturkan masalah, terutama
dengan melakukan analisis alas lingkungan strategis, yang lazim disebut sebagai
lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Dalam lingkungan internal dan
eksternal pada dasarnya terdapat empat unsur yang selalu dimiliki dan dihadapi,
yaitu secara internal sejumlah Kekuatan (strengths) atau sumberdaya,
keterampilan atau keunggulan lain yang relative terhadap pesaing yang berasal
dari dalam dan kelemahan-kelemahan (weaknesses) atau keterbatasan/kekurangan
dalam sumberdaya,keterampilan dan kemampuan yang secara serius menghalangi
kinelja efektif suatu sistem, dan secara ekstemal akan berhadapan dengan berbagai
Peluang (opportunities) atau situasi / kecenderungan utama yang menguntungkan
berasal dari luar, dan ancaman - ancaman (threats) situasi / kecenderungan utama
yang tidak menguntungkan berasal dari luar. Faktor - faktor strategis internal dan
ekstemal diberi bobot dan nilai (rating) berdasarkan pertimbangan professional
(Professional Juggment).

C. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Gambaran Umum
Desa Bonto Lojong memiliki luas 40,49 km2 dan terletak pada ketinggian 1300
sampai 1500 Mdpl dengan kemiringan lereng >40%. Desa Bonto Lojong terdiri dari 12
RW dan 25 RT. Jumlah penduduk Desa Bonto Lojong sebanyak 2.887 jiwa.
Wilayah Desa Bonto Lojong beradaa pada ketinggian 1.300 – 1.500 di atas
permukaan laut, dengan kemiringan lereng yang bervariasi 15-30%, 30-40% dan 40%
ke atas. Hal ini menunjukkan kegiatan pembangunan hanya dapat berlangsung pada
sebagian wilayah.
Kondisi hidrologi atau keadaan air yang ada di Desa Bonto Lojong dapat dilihat
pada dua kondisi, yaitu air permukaan dan air tanah. Air permukaan terlihat dengan
banyaknya sumur-sumur dan sungai dengan anak sungai yang dipergunakan oleh

52
Muhammad Anshar, Strategi Pengembangan Potensi Desa Bonto Lojong sebagai Kawasan
Agrowisata di Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng

masyarakat sebagai sumber air minum dan sebagai sumber pengairan bagi kegiatan
pertanian. Dengan demikian potensi wilayah aliran sungai tersebut sangat mendukung
untuk kebutuhan irigasi pertanian dan sumber air bersih untuk kebutuhan penduduk.
Jarak merupakan salah satu yang penting untuk kemajuan suatu Desa. Desa Bonto
Lojong merupakan Desa yang sebagian besar daerahnya merupakan daerah perbukitan,
maka jarak tempuh merupakan hal yang sangat penting untuk pertimbangan, terlebih
lagi masih banyak kondisi jalan yang kondisisnya masih kurang layak atau rusak untuk
dilalui kendaraan. Pada umumnya jarak antar Desa Bonto Lojong dengan ibukota
Kecamatan Kecamatan Ulu Ere yaitu 6 km dengan waktu tempuh sekitar 15 – 20 menit
dan jarak dari Desa Bonto Lojong ke Ibukota Kabupaten Bantaeng yaitu 20 km dengan
waktu tempuh sekitar 60 menit
Pada tahun 2010 jumlah wisatawan yang berkunjung ke lokasi wisata Desa Bonto
Lojong sekitar 8.307 jiwa. Sedangkan pada tahun 2011 jumlah wisatawan yang
berkunjung yaitu 7.514 jiwa. Dari data diatas dapat disimpulkan jumlah wisatawan yang
berkunjung ke lokasi wisata Desa Bonto Lojong pada tahun 2011 mengalami penurunan
jika dibandingkan pada tahun 2010 sebesar 793 jiwa.

2. Analisa Potensi Wilayah


Analisis potensi wilayah difokuskan pada beberapa aspek yang diamati yaitu :
a. Aspek Fisik Dasar
Keadaan iklim Desa Bonto Lojong secara umum beriklim tropis basah, dimana
temperatur suhu udara maksimum 200 C dan suhu minimum 190 C. Dan kondisi iklim
dengan curah hujan yang cukup tinggi sangat mendukung untuk pertumbuhan tanaman
sehingga memungkinkan untuk pengembangan agowisata. Jenis tanah yang ada di
Desa Bonto Lojong adalah jenis tanah androsol, latosol, dan mediteran. Dan dengan
jenis tanah ini sangat cocok dan subur untuk ditanami berbagai jenis tumbuhan
sehingga memungkinkan untuk dijadikan pengembangan agrowisata.
Salah satu aspek yang sangat penting dalam aspek fisik yaitu kondisi topografi
karena hal itu merupakan aspek dasar untuk melakukan pengembangan kawasan yang
didukung oleh sarana dan prasarana penunjangnya maupun menganalisis suatu
kawasan secara umum. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil survey di lokasi,
menunjukkan kondisi topografinya berada 1.300 – 1.500 di atas permukaan laut,
dengan kemiringan lereng yang bervariasi 15-30%, 30-40% dan 40% ke atas.maka
melihat kondisi topografinya pengembangan kawasan agrowisata ulu ere potensial
untuk dikembangkan.
b. Analisis Jenis Vegetasi
Jenis vegetasi Desa Bonto Lojong bervariasi sehingga sangat mendukung
pengembangan Desa Agrowisata. Adapun jenis vegetasi yang terdapat di Desa Bonto
Lojong terdiri dari jenis tanaman perkebunan seperti tanamanStrawberry, Apel, dan
lain-lain, serta pertanian holtikultura buah-buahan serta tanaman sayuran lainnya .
Jenis vegetasi yang beraneka ragam tersebut dapat dijadikan sebagai daya tarik objek
wisata di Desa Bonto Lojong sehingga wisatawan dapat menikmati pemandangan alam
perkebunan dan pertanian desa serta menikmati hasil-hasil perkebunan dan
pertaniannya. Selain itu wisatawan juga dapat mengenal dan mempelajari berbagai
macam jenis tumbuhan yang terdapat di Desa Bonto Lojong.
c. Analisis Pola Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan merupakan manifestasi dari aktifitas penduduk. Oleh karena itu,
pola penggunaan lahan merupakan indikator yang menggambarkan aktifitas utama

53
Muhammad Anshar, Strategi Pengembangan Potensi Desa Bonto Lojong sebagai Kawasan
Agrowisata di Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng

penduduk, juga merupakan pencerminan terhadap potensi kegiatan yang berlangsung


di dalamnya atau diatas lahan tersebut. Secara umum, bentuk penggunaan lahan yang
ada di Desa Bonto Lojong dibedakan atas beberapa pemanfaatan lahan seperti
permukiman, pertanian lahan kering campuran, savanna, sawah dan semak berlukar.
Pemanfaatan lahan Desa Bonto Lojong yang sebagian besar di gunakan untuk lahan
pertanian baik pertanian tanaman pangan maupun pertanian (holtikultura). Dengan
demikian untuk mendukung pengembangan Desa Bonto Lojong sebagai Desa
Agrowisata dari aspek penutupan lahan perlu diperhatikan kelestariannya, sehingga
nantinya memiliki nilai ekonomi yang tinggi
d. Analisis Potensi Daya Tarik
Kondisi dan ketersediaan lahan merupakan faktor penting dalam pengembangan
kawasan agrowisata dalam suatu wilayah. Salah satu yang menjadi faktor pendukung
dan ketersediaan lahan di Desa Bonto Lojong Keccamatan Ulu Ere adalah ketersediaan
lahan yang sesuai dan produktif dalam menunjang produktivitas komoditas pertanian
suatu wilayah. Di bawah ini merupakan penggunaan luas tanah di Keccamatan Ulu
Ere.

Tabel 2. Penggunaan Tanah Desa Bonto Lojong Tahun 2010 (Ha²)


No Pengguna Lahan Luas (Ha²) Persentase (%)
1. Permukiman 16,30 0,40
Pertanian Lahan Kering
2. 1679,68 41,48
Campuran
3 Savana 5,43 0,13
4 Sawah 1547,11 30,21
5 Semak Belukar 800,63 19,77
Total 4049,15 100

Sumber :Profi Desa Bonto Lojong Tahun 2011

Berdasarkan tabel diatas maka dapat dilihat bahwa penggunaan lahan di Desa
Bonto Lojong di dominasi oleh lahan pertanian kerng campuran dengan luas lahan
1679,68 Ha² dan persawahan sebanyak 1547,11 Ha². Banyaknya penggunaan lahan
perkebunan di Desa Bonto Lojong sangat mendukung perkembangan Desa Bonto
Lojong untuk dijadikan sebagai Desa Wisata yang mengandalkan hasil Perkebunan dan
pertaniannya.
Produk Agrikultur Kecamatan Ulu Ere terdiri dari produk pertanian seperti
tanaman sayur, produk buah-buahan, perkebunanan, serta peternakan. Ubi Kayu
memiliki produksi tinggi di Desa Bonto Lojong yaitu sebanyak 14.796 ton. Jadi dari
total produksi padi di kabupaten Bantaeng yang sebanyak 165.925 ton, 4.7712 ton
merupakan hasil produksi tanaman padi di kecamatan Ulu Ere. Dan dari total
47.513,20 ton, 14.796 ton merupakan produksi tanaman dari Desa Bonto Lojong dan
ini merupakan produksi yang cukup besar dari 6 Desa dan kelurahan di Kecamatan Ulu
Ere Dan Ulu Ere termasuk penghasil produksi tanaman pertanian Jagung di kabupaten
Bantaeng. Produksi tanaman sayuran yang ada di Kabupaten Bantaeng yang
mempunyai hasil produksi yang paling besar yaitu wortel dengan jumlah produksi
12.260 ton. produksi tanaman buah-buahan yang ada di Kabupaten Bantaeng yang
mempunyai hasil produksi yang besar yaitu pisang dengan jumlah produksi 4.673 ton.

54
Muhammad Anshar, Strategi Pengembangan Potensi Desa Bonto Lojong sebagai Kawasan
Agrowisata di Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng

Komoditi utama di Desa Bonto Lojong yaitu Nangka dan mangga yaitu 92 ton
dan 82 ton. Selain itu, Desa Bonto Lojong mempunyai komiditi khas yang tidak
dimiliki oleh Desa lain yakni apel dan strawberry dengan berat 10 ton dan 4 ton.
Komiditi ini hanya bisa tumbuh di Desa Bonto Lojong dan sementara dalam
pengembangan. Dengan hasil dari pertanian dan buah-buahan ini dapat dikembangkan
dengan kebun berbasis pendidikan (kawasan buatan).
Makam Pra Islam Lannying terletak di Dusun Muntea, atau berjarak ± 4 km dari
ibu kota Kecamatan Ulu Ere. Makam Pra Islam Lanynying ini merupakan makam
Bangsa Cina yang memiliki nilai-nilai sejarah masa lampau yang cukup menarik.
Bangsa Cina datang berdagang di Butta Toa dan menetap di daerah Lannying ini ada
sebelum masuknya ajaran Islam. Dengan adanya wisata sejarah makam pra Islam
Lannying sebagai wisata penunjang, maka kawasan agrowisata sangat berpotensi untuk
di kembangangkan.
Air terjun Cina Mountea terletak di Dusun Muntea atau sekitar ± 5 km dari ibu
kota Kecamatan Ulu Ere. Air terjun ini memiliki ketinggian ± 50 meter dengan
membentuk sebuah danau atau genengan kolam yang luas. Air cina mountea
merupakan aliran dari sungai mountea yang membelah wilayah Kecamatan Ulu Ere.
Disekitarnya banyak ditumbuhi pepohonan dan didalamnya banyak dihuni oleh
kawanan kera. Masyarakat sekitar hingga kini masih sering melakukan perburuan kera,
karena selain menjadi hama tanaman bagi petani, kera juga bisa laku dijual. Konon,
kawasan obyek wisata itu diberi nama air terjun Cina, karena pada zaman kerajaan
silam, Cina merupakan orang yang banyak merantau ke berbagai Negara untuk
melakukan perdagangan, khususnya keramik. Bahkan ada yang menetap di daerah
pedalaman yang sangat sepi. Sebagai bukti, bahwa orang cina pernah tinggal di
Gunung Loka, dapat dilihat dari adanya kuburan Cina disekitar air terjun tersebut.
Itulah sebabnya mengapa warga setempat menamakan air terjun itu dengan nama air
terjun Cina.

Gambar 1. Peta potensi pengembangan

55
Muhammad Anshar, Strategi Pengembangan Potensi Desa Bonto Lojong sebagai Kawasan
Agrowisata di Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng

Pusat kebun bunga berada di Dusun Bangkeng Bonto Desa Bonto Lojong atau
berjarak ± 3 km dari ibu kota kecamatan Ulu Ere. Kondisi tanah dan udara yang sejuk
membuatnya cocok untuk membudidayakan berbagai jenis bunga. Bunga masamba dan
berbagai jenis anggrek adalah bunga khas yang terdapat di Pusat Kebun Bunga. Bagi
wisatawan yang ingin membelinya sebagai oleh-oleh, bisa berkunjung di Pusat Kebun
Bunga.
Hubungan wisata agro dan beberapa potensi obyek wisata lainnya yang ada di
Desa Bonto Lojong merupakan potensi yang sangat menarik untuk dikembangkan
karena didukung obyek wisata alam air terjun Cina Muntea, Pusat Kebun Bunga, dan
wisata sejarah Makam Pra Islam Lanynying. Hal tersebut dapat menjadi daya tarik para
wisatawan yang berkunjung ke Desa Bonto Lojong ketika potensi tersebut di kelolah
secara baik.

3. Analisis Aksesibilitas
Aksesbilitas adalah ukuran kemudahan yang meliputi waktu, biaya, dan usaha
dalam melakukan perpindahan antara tempat-tempat atau kawasan dari sebuah sistem,
dalam hal ini tingkat aksesbilitas pada Desa Bonto Lojong sudah cukup baik karena
jalan yang ada di Desa Bonto Lojong bisa digunakan moda transportasi sepeda motor
dan kendaraan roda empat. Jarak Desa Bonto Lojong dengan ibu kota kecamatan Ulu
Ere adalah 6 km dengan waktu tempuh sekitar 15 – 20 menit, Masyarakat Desa Bonto
Lojong jika ingin bepergian kebanyakan menggunakan moda kendaraan motor , tidak
ada yang menggunakan mobil angkutan karena untuk Desa Bonto Lojong tidak ada
mobil angkutan dengan trayek Bonto Lojong. Hal ini diakibatkan karena lokasi Desa
yang berada di Pegunungan dan untuk menjual hasil produksi masyarakat Desa Bonto
Lojong biasanya mengangkut hasil produksinya dengan menggunakan motor. Sampai
sekarang ini jika ingin berkunjung ke Desa Bonto Lojong sebaiknya kita menggunakan
moda transportasi ojek karena selain cepat dan nyaman juga kita tidak perlu mabuk
dalam perjalanan.

4. Analisis Sosial Budaya Masyarakat


Masyarakat dan kebudayaan cenderung mengalami perubahan yang diakibatkan
oleh keberadaan pariwisata di suatu wilayah. Perkembangan pariwisata akan memicu
beberapa dampak positif maupun dampak negative. Hal ini perlu mendapatkan
perhatian serius dari pihak-pihak yang berwenang (stake holder). Tatanan pola
kehidupan masyarakat Desa Bonto Lojong yang sebagian masih diilhami oleh adat
merupakan daya tarik tersendiri. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kerasnya
pengaruh arus globalisasi dan modernisasi sedikit demi sedikit telah mengikis
karakteristik pola tatanan kehidupan tersebut. Keterbukaan informasi yang semakin
bebas dewasa ini baik dari media cetak maupun elektronik yang tidak mengenal batas
ruang dan waktu menjadi sebuah momok bagi tatanan perilaku masyarakat saat ini
yang masih berpegang pada norma dan adat yang berlaku di daerah masing-masing.
Dengan berkembangnya agrowisata di Desa Bonto Lojong pada masa yang akan
datang menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi transformasi pola kehidupan adat dan
modern di wilayah ini. Interaksi yang akan terjalin antara wisatawan dan masyarakat
lokal (host-guest) akan membawa dampak khususnya pada sisi perubahan moral yang
diakibatkan karena sifat wisatawan yang “cenderung bebas” dalam berprilaku di daerah
tujuan wisata. Selain itu, pola piker masyarakat yang cenderung latah (meniru-niru)

56
Muhammad Anshar, Strategi Pengembangan Potensi Desa Bonto Lojong sebagai Kawasan
Agrowisata di Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng

akan semakin mengikis dan merubah pola tatanan kehidupan yang akan berimbas pada
pla perilaku masyarakat lokal.
Oleh karena itu, antisipasi dini merupakan cara yang terbaik dalam menjaga dan
mempertahankan kearifan dan kebudayaan lokal yang dapat tergambar dari perilaku
masyarakat sehari-hari. Pendekatan keagamaan dan pendekatan adat dalam kehidupan
sehari-hari perlu ditanamkan sekaj dini seperti budaya Siri’ na Pacce, agar
perkembangan pariwisata tidak menjadi alas an masyarakat untuk meninggalkan adat
dan budaya mereka.

5. Analisis Ketersediaan Fasilitas Pendukung


Dalam penerapan sebuah konsep komponen sarana pendukung merupakan aspek
yang sangat penting. Komponen inilah yang membuat konsep tersebut bisa berjalan
dengan lancar setelah diaplikasikan diiapangan. Ada beberapa sarana penunjang
Wisata Alam yaitu : Tata air irigasi dan jaringan air bersih, Industri pengolahan, serta
sarana pemasaran.
a. Tata Air, Irigasi dan Jaringan Air Bersih
Potensi sumberdaya air di Desa Bonto Lojong bersumber dari air tanah dangkal
seperti sungai, sumur, rawa dan mata air yang dimanfaatkan penduduk untuk
kehidupan sehari-hari untuk mandi, dan air minum serta dimanfaatkan juga untuk
irigasi.
b. Industri Pengelolaan
Industri pengelolaan merupakan Salah satu penunjang utama dalam menjalankan
usaha agroindustri dalam rangka menciptakan kualitas dan kuantitas yang baik Desa
Bonto Lojong belum mempunyai industri untuk pengelolaan pertanian sehingga di
perlukan Industri pengelolaan berfungsi sebagai alat yang akan mengelolah bahan
mentah yang dihasilkan para petani dari kegiatan pertanian. Sehingga hasil pertanian
tidak mudah rusak, Desa Bonto Lojong yang mempunyai hasil pertanian yang
melimpah perlu industri pengelolaan pertanian untuk menajaga kualitas dan menambah
mutu dari hasil pertanian. Sehingga wisatawan yang datang bisa langsung menikmati
hasil pertanian dan perkebunan langsung dari hasil pengelolaannya. Dalam hal ini Desa
Bonto Lojong dalam pengembangannya sebagai Desa agrowisata yang dimana sarana
dan Prasarana Penunjang Wisata yang terdapat di Desa Bonto Lojong tersebut masih
belum memadai dan belum berkembang sehingga perlu strategi dalam
pengembangannya untuk mencapai tujuan sebagai Desa Agrowisata. Industri
pengelolaan hasil pertanian dapat berupa industri rumah tangga dan industri pabrik
buah dan hasil-hasil pertanian lainnya. Sehingga wisatawan dapat langsung menikmati
hasil olahan dilokasi Objek wisata yang dikunjungi.
c. Sarana Pemasaran
Ketersediaan fasilitas perdagangan misalnya kios sebagai penunjang agrowisata
sangat di perlukan untuk pengembangan agrowisata. Desa Bonto Lojong dengan
adanya kios maka distribusi hasil perkebunan masyarakat akan berjalan sangat lancar,
dengan adanya kelancaran maka hasil perkebunan masyarakat akan berjalan sangat
lancar dengan adanya kelancaran maka hasil produksi bisa langsung dijual agar tidak
mengurangi kualitas dari hasil perkebunan. Dengan adanya kios bertujuan agar
wisatawan yang berkunjung langsung bias berbelanja yang sudah dikelolah.
d. Home Stay
Home stay ..merupakan fasilitas penginapa yang disediakan oleh warga disekitar
lokasi wisata agro. Kebanyakan home stay yang disediakan adalah rumah-rumah

57
Muhammad Anshar, Strategi Pengembangan Potensi Desa Bonto Lojong sebagai Kawasan
Agrowisata di Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng

penduduk yang diperuntukkan bagi para wisatawan untuk beristirahat sejenak atau
yang ingin menginap di lokasi wisata agro.

6. Strategi Pengembangan
Berdasarkan hasil analisis diperoleh faktor kekuatan (Strenghts) dengan jumlah
skor hasil pehitungan dari Bobot dan Riset/Nilai yaitu 390, sedangkan untuk
kelemahan (Weaknesess) dengan jumlah skor pembobotan adalah 340. Maka hasil
perhitungan dari kedua factor tersebut yaitu 390 – 340 = 50 (S-W). Yakni kekuatan
memiliki sifat positif.

Grafik 2 Kuadran Analisis SWOT

Sumber: Hasil Analisis 2013

Faktor Peluang (Opportunity) dengan jumlah skor hasil pehitungan dari Bobot dan
Riset/Nilai yaitu 320. sedangkan untuk Ancaman (Threats) dengan jumlah skor
pembobotan adalah 310. Maka hasil perhitungan dari kedua factor tersebut yaitu 340 –
310 = 30 (O-T). yakni peluang bersifat positif. Dari grafik analisis SWOT diatas
menunjukkan bahwa Pengembangan Agrowisata di Desa Bonto Lojong Kecamatan
Ulu Ere berada pada kuadran I (positif,positif). Maka rekomendasi strategi yang
diberikan adalah Strategi S-O.
Sesuai dari grafik analisis SWOT diatas menunjukkan bahwa Pengembangan
agrowisata di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere menggunakan Strategi S-O,
maka rekomendasi strategi yang digunakan, sebagai berikut :
a. Pembuatan master plan kawasan Agrowisata, yaitu membangun kawasan
agrowisata berbasis pendidikan, dimana bukan hanya kegiatan memetik dan
menikmati buah, tetapi pengetahuan mengenai menanam dan merawat buah-
buahannya.
b. Mengundang para investor untuk meningkatkan pengadaan sarana dan
prasarana,guna memenuhi kebutuhan agrowisata.
c. Meningkatan pemberdayaan masyarakat dan memberikan penyuluhan mengenai
Agrowisata kepada masyarakat.
d. Menjaga dan melestarikan ODTW, yaitu sosialisasi kepada masyarakat mengenai
pelestarian lingkungan

58
Muhammad Anshar, Strategi Pengembangan Potensi Desa Bonto Lojong sebagai Kawasan
Agrowisata di Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng

D. PENUTUP

Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan yang telah ada maka dapat
ditarik kesimpulan: Potensi Desa Bonto Lojong yang ada seperti : a). potensi fisik yaitu
kemiringan lereng yang beragam, b). potensi wilayah yang strategis, c). aksesbilitas
Desa Bonto Lojong sudah cukup baik, namun moda angkutan umum yang terdapat
masih minim, d). jenis vegetasi Desa Bonto Lojong bervariasi, e). tersedianya lahan di
Desa Bonto Lojong dapat dikembangkan secara optimal. Hasil Analisis SWOT untuk
Pengembangan agrowisata di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere menggunakan
Strategi S-O yang digunakan, sebagai berikut a) Pembuat master plan kawasan
Agrowisata , b) Mengajak para investor untuk meningkatkan sarana dan prasarana.. c)
Meningkatan pemberdayaan, d) Menjaga dan melestarikan ODTW.
Diharapkan dapat melihat Desa Bonto Lojong sebagai kawasan yang potensial
untuk agrowisata oleh karena itu harus diupayakan dan dilakukan kegiatan promosi dan
sosialisasi kepada masyarakat. Dalam menetapkan strategi pengembangan agrowisata
harus dilakuakan secara berkesinambungan mendahulukan program kegiatan yang
mendesak seperti pengadaan sarana dan prasarana.

DAFTAR PUSTAKA

Aritmax, Variabel Penelitian http//aritmax.wordpress.com/2010/6/30/variabel-peneitian.


(20 Maret 2013)
Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Bantaeng 2011, Rencana Induk
Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kabupaten Bantaeng
Dinas Permukimana dan Tata Ruang, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten Bantaeng 2008
Fandeli, C. 1995. Dasar-dasar Manajemen Kepariwisataan Alam, Liberti. Yogyakarta
Jayadinata, T. J. 1986. Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan, Perkotaan, dan
Wilayah, ITB. Bandung
_________, Kabupaten Bantaeng dalam Angka Tahun 2011. Kantor Badan Pusat
Statistik Sulawesi Selatan
__________, Kecamatan Ulu Ere dalam Angka Tahun 2011. Kantor Badan Pusat
Statistik Sulawesi Selatan
Karim, Shofwan. Etika Agama dan Pariwisata.
http://shofwankarim.multiply.com/joyurnal/item/435Etika_Agama_dan_Par
iwisata . (24 Desember 2013)
Marpaung, H, 2000. Pengetahuan Kepariwisataan, Alphabeta, Bandung.
Muh. Amran Amir. Analisis SWOT. http://media-amran.blogspot.com/2010/08/analisis-
swot.html. (24 Oktober 2013)
Pendit, N. S. 1994. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Pradnya Paramitha
Jakarta.
Pinata, I Gede dan I Ketut Surya Diarta. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta
Soekadijo R. G. (1997) Anatomi Pariwisata, PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta
Suara Merdeka, 11 Januari 2005. Potensi Agrowisata dan Strategi Pengembangan
Agrowisata
Sujarto, D. 1998. Pengantar Planologi, ITB, Bandung.
Suwantaoro, G. 1997. Dasar-dasar Pariwisata. Andi. Yogyakarta

59
Muhammad Anshar, Strategi Pengembangan Potensi Desa Bonto Lojong sebagai Kawasan
Agrowisata di Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng

Suyitno, 1997. Perencanaan Wisata, Kanisius, Jogyakarta.


UU NO 10 2009 Tentang Kepariwisataan
Wahab, S, 1997. Manajemen kepariwisataan, PT. Pradnya Pariwisata, Jakarta.
Yoeti, A. O. 1982. Pengantar Kepariwisataan, Sebuah Pengantar Perdana, Pradya
Paramitha, Bandung.

60