Anda di halaman 1dari 13

Anatomi Sistem Respirasi

Sistem respirasi secara garis besar terdiri dari bagian konduksi yang terdiri dari cavum nasi,
nasofaring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan bronkiolus terminal; dan bagian respirasi
(tempat terjadi pertukaran gas) yang terdiri dari bronkiolus respiratorius, duktus alveolar, dan
alveoli. Menurut klasifikasi berdasarkan saluran napas atas dan bawah, saluran napas atas
terbatas hingga faring sedangkan saluran napas bawah dimulai dari laring, trakea, bronkus
dan berakhir di paru.15

Gambar 1. Anatomi sistem pernapasan15

1. Epitel Saluran Napas Atas

Saluran napas atas terdiri dari lubang hidung yang melanjut ke cavum nasi, faring, epiglottis
dan laring bagian atas.16 Sebagian besar bagian konduksi dilapisi dengan epitel kolumner
berlapis semu bersilia yang dikenal sebagai epitel pernapasan. Epitel ini setidaknya terdiri
dari lima jenis sel yang melekat pada membrana basalis17 :

Sel kolumner bersilia adalah jenis sel yang paling banyak, masing-masing sel memiliki
sekitar 300 silia pada permukaan apikal.

Sel goblet juga berlimpah di beberapa daerah epitel pernapasan, pada bagian apikalnya
teriisi dengan butiran musin glikoprotein.
Gambar 2. Epitel kolumner berlapis semu pembesaran 400x17

Gambar 3. Permukaan lumen sel goblet pembesaran 2500x17


Gambar 4. Mukus hasil produksi sel goblet pembesaran 3000x17

Sel sikat adalah tipe sel kolumnar yang jauh lebih jarang dan sulit ditemukan, memiliki
permukaan apikal kecil dengan bantalan yang memliki banyak mikrovili. Sel sikat memiliki
beberapa komponen untuk transduksi sinyal seperti pada sel gustatorik (sel pengecap) dan
memiliki ujung saraf aferen pada permukaan basal yang berfungsi sebagai reseptor
kemosensorik.

Sel granula juga sulit untuk dibedakan, sel ini berukuran kecil dan memiliki banyak
granula inti berdiameter 100-300 nm. Seperti sel sikat, sel granula mewakili sekitar 3% dari
total sel dan merupakan bagian dari sistem neuroendokrin difus.

Sel basal merupakan sel-sel bulat berukuran kecil di membran basal dan tidak mencapai
permukaan luminal. Sel basal adalah sel punca yang dapat berkembang menjadi jenis sel
lainnya.

2 Hidung dan Cavum Nasi

Hidung merupakan bagian dari wajah yang terdiri dari kartilago, tulang, otot, dan kulit yang
melindungi bagian depan dari cavum nasi. Cavum nasi merupakan bangunan menyerupai
silinder dengan rongga kosong yang dibatasi tulang dan dilapisi mukosa hidung. Fungsi dari
cavum nasi adalah untuk menghangatkan, melembabkan, dan menyaring udara yang
memasuki hidung sebelum mencapai paru.

Rongga hidung kiri dan kanan masing-masing memiliki dua komponen yaitu rongga depan
eksterna (vestibulum) dan rongga hidung interna (fossa).

Vestibulum adalah bagian yang terletak paling depan dan merupakan bagian yang melebar
dari setiap rongga hidung. Kulit hidung pada bagian nares (lubang hidung) melanjut sampai
vestibulum yang memiliki apparatus kelenjar keringat, kelenjar sebasea, dan rambut pendek
kasar yang menyaring bahan partikulat dari udara inspirasi. Pada vestibulum epitel sudah
tidak berkeratin dan mengalami transisi ke epitel pernapasan sebelum memasuki fossa
hidung.15

Rongga hidung terletak di dalam tulang tengkorak sebagai dua ruang kavernosa yang
dipisahkan oleh tulang septum hidung. Dari masing-masing dinding lateral cavum nasi
terdapat proyeksi tulang yang memanjang dari depan ke belakang berbentuk seperti rak yang
disebut konka nasi. Konka nasi tengah dan bawah ditutupi dengan epitel pernapasan
sedangkan konka nasi atas ditutupi dengan epitel olfaktori. Rongga saluran udara yang sempit
antara konka meningkatkan pengkondisian udara inspirasi dengan meningkatkan luas
permukaan epitel pernapasan untuk menghangatkan dan melembabkan udara serta
meningkatkan turbulensi aliran udara. Hasilnya adalah peningkatan kontak antara aliran
udara dan lapisan mukosa. Dalam lamina propria dari konka terdapat pleksus (anyaman) vena
besar yang dikenal sebagai swell bodies. Setiap 20-30 menit swell bodies di satu sisi dipenuhi
dengan darah dalam waktu yang singkat, mengakibatkan distensi dari mukosa konka dan
secara bersamaan terjadi penurunan aliran udara. Selama proses ini berlangsung sebagian
besar udara dialirkan melalui fossa hidung lain sehingga memudahkan mukosa pernapasan
yang membesar untuk rehidrasi.15, 17

Gambar 5. Mukosa olfaktori dan konka superior pembesaran 100x15

Gambar 6. Area transisi mukosa olfaktori pembesaran 400x15


Gambar 7. Area transisi mukosa olfaktori pembesaran 80x15

3 Sel Olfaktori

Kemoreseptor penciuman terletak di epitel olfaktori. Daerah olfaktori ditutupi selaput lendir
tipis dan terletak di bagian atap rongga hidung dekat konka bagian atas. Epitel olfaktori
merupakan epitel kolumner berlapis semu yang terdiri dari tiga jenis sel17 :

Sel basal berukuran kecil, berbentuk bulat atau kerucut dan membentuk sebuah lapisan di
lamina basalis. Sel basal adalah sel punca untuk sel penunjang olfaktori dan neuron olfaktori.

Sel penunjang olfaktori merupakan sel columner, apeks silindris dan bagian dasar yang
menyempit. Di permukaannya terdapat mikrovili yang terendam dalam cairan mukus. Peran
sel-sel ini belum dapat dipahami dengan baik, tetapi sel penunjang memiliki banyak kanal ion
yang berfungsi untuk mempertahankan lingkungan mikro yang kondusif untuk fungsi
penciuman dan kelangsungan hidup sel olfaktori.

Neuron penciuman yang merupakan neuron bipolar terdapat seluruh epitel olfaktori.
Dibedakan terhadap sel penunjang dari posisi inti yaitu terletak di antara sel penunjang dan
sel-sel basal. Akhiran dendrit dari setiap neuron penciuman membentuk anyaman saraf
dengan basal bodies. Dari basal bodies muncul silia non-motil panjang dengan aksonema
defektif namun memiliki luas permukaan yang cukup sebagai membran kemoreseptor.
Reseptor ini merespon zat bau-bauan dengan menghasilkan aksi potensial di sepanjang
(basal) akson neuron kemudian meninggalkan

epitel dan bersatu dalam lamina propria sebagai saraf yang sangat kecil yang kemudian
melewati foramina cribiformis dari tulang ethmoid dan melanjut otak. Di otak akson reseptor
olfaktori membentuk saraf kranial I, saraf penciuman, dan akhirnya membentuk sinaps
dengan neuron lain di bulbus olfaktori.17
Gambar 8. Perjalanan akson olfaktori dari rongga hidung ke otak17

Gambar 9. Epitel olfaktori pembesaran 200x17

4 Sinus Paranasal dan Nasofaring

Sinus paranasal adalah rongga bilateral di tulang frontal, maksila, ethmoid, dan sphenoid
pada tengkorak. Dilapisi dengan epitel respiratori tipis dengan jumlah sel yang sedikit.
Lamina propria terdiri dari beberapa kelenjar kecil dan kontinu dengan periosteum. Sinus
paranasal berhubungan dengan rongga hidung melalui lubang kecil dan lendir yang
diproduksi dalam sinus mengalir ke rongga hidung oleh karena adanya aktivitas sel-sel epitel
bersilia.17

Terletak di belakang rongga hidung, nasofaring adalah bagian pertama dari faring, ke arah
kaudal (bawah) menerus menjadi orofaring yang merupakan bagian belakang rongga mulut.
Nasofaring dilapisi dengan epitel respiratori dan terdapat bangunan tonsil faring medial dan
lubang bilateral dari tuba eustachii menuju telinga tengah.17

5 Faring

Setelah melalui cavum nasi, udara yang diinhalasi akan memasuki faring. Faring disebut juga
sebagai tenggorokan yaitu suatu silinder berongga dengan dinding yang terdiri dari otot.
Faring merupakan bagian yang menghubungkan bagian ujung belakang cavum nasi dengan
bagian atas esofagus dan laring. Faring dibagi menjadi tiga bagian yaitu nasofaring,
orofaring, dan laringofaring. Nasofaring merupakan bagian teratas dari faring dan berada di
belakang dari cavum nasi. Udara dari cavum nasi akan melewati nasofaring dan turun melalui
orofaring yang terletak di belakang cavum oris dimana udara yang diinhalasi melalui mulut
akan memasuki orofaring. Berikutnya udara akan memasuki

laringofaring dimana terdapat epiglottis yang berfungsi mengatur aliran udara dari faring ke
laring.

6. Laring

Terdiri dari rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot-otot yang
mengandung pita suara, selain fonasi laring juga berfungsi sebagai pelindung. Laring
berperan untuk pembentukan suara dan untuk melindungi jalan nafas terhadap masuknya
makanan dan cairan. Laring dapat tersumbat, antara lain oleh benda asing (gumpalan
makanan), infeksi (misalnya difteri) dan tumor. pada waktu menelan, gerakan laring keatas,
penutupan glotis (pemisah saluran pernapasan bagian atas dan bagian bawah) seperti pintu
epiglotis yang berbentuk pintu masuk. Jika benda asing masuk melampaui glotis batuk yang
dimiliki laring akan menghalau benda dan sekret keluar dari pernapasan bagian bawah.

Fungsi Laring
a. Produksi suara, Suara memiliki nada, volume, dan resonansi. Nada suara bergantung pada
panjang dan kerapatan pita suara. Pada saat pubertas, pita suara pria mulai bertambah
panjang, sehingga nada suara pria semakin rendah. volume suara bergantung pada besarnya
tekanan pada pita suara yang digetarkan. Semakin besar tekanan udara ekspirasi, semakin
besar getaran pita suara dan semakin keras suara yang dihasilkan. Resonansi bergantung pada
bentuk mulut, posisi lidah dan bibir, otot wajah, dan udara di paranasal.
b. Berbicara, berbicara terjadi saat ekspirasi ketika suara yang dihasilkan oleh pita suara
dimanipulasi oleh lidah, pipi, dan bibir.
c. Pelindung saluran napas bawah, saat menelan, laring bergerak ke atas, menyumbat saluran
faring sehingga engsel epiglotis menutup faring. Hal ini menyebabkan makanan tidak melalui
esofagus dan saluran napas bawah.
d. Jalan masuk udara, bahwa Laring berfungsi sebagai penghubung jalan napas antara faring
dan trakea.
e. Pelembap, penyaring, dan penghangat, dimana proses ini berlanjut saat udara yang
diinspirasi berjalan melalui laring
Di bagian larynk terdapat beberapa organ yaitu :
a. Epiglotis, merupakan katup tulang rawan untuk menutup larynx sewaktu orang menelan.
Bila waktu makan kita berbicara (epiglottis terbuka), makanan bisa masuk ke larynx (keslek)
dan terbatu-batuk. Pada saat bernafas epiglotis terbuka tapi pada saat menelan epiglotis
menutup laring. Jika masuk ke laring maka akan batuk dan dibantu bulu-bulu getar silia
untuk menyaring debu, kotoran-kotoran.
b. Jika bernafas melalui mulut udara yang masuk ke paru-paru tak dapat disaring,
dilembabkan atau dihangatkan yang menimbulkan gangguan tubuh dan sel-sel bersilia akan
rusak adanya gas beracun dan dehidrasi.
c. Pita suara, terdapat dua pita suara yang dapat ditegangkan dan dikendurkan, sehingga lebar
selasela antara pita - pita tersebut berubah-ubah sewaktu bernafas dan berbicara. Selama
pernafasan pita suara sedikit terpisah sehingga udara dapat keluar masuk.

Epiglottis
a. Cartilago yang berbentuk daun dan menonjol ke atas di belakang dasar lidah. Epiglottis ini
melekat pada bagian belakang Vertebra cartilago thyroideum.
b. Plica aryepiglottica, berjalan kebelakang dari bagian samping epiglottis menuju cartilago
arytenoidea, membentuk batas jalan masuk laring.
Fonasi
Suara dihasilkan oleh vibrasi plica vocalis selama ekspirasi. Suara yang dihasilkan
dimodifikasi oleh gerakan palatum molle, pipi, lidah, dan bibir, dan resonansi tertentu oleh
sinus udara cranialis.
Kebutuhan darah pada laring
Laring diperdarahi oleh arteri laringeal dan dialiri oleh vena tiroid yang bekerja sama dengan
vena jugularis internal. Saraf parasimpatik yang mempersarafi laring disusun oleh saraf
laringeal superior dan laringeal rekurens, yang merupakan cabang dari sarafvagus. Saraf
simpatik yang mempersarafi laring disusun oleh ganglia servikalis. Saraf ini mempersarafi
otot laring dan serat sensoris pada membran yang melapisinya.
4. Trakea
Trakea, merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin kartilago
yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang terbentuk seperti C. Trakea dilapisi oleh selaput
lendir yang terdiri atas epitilium bersilia dan sel cangkir. Trakea hanya merupakan suatu pipa
penghubung ke bronkus. Dimana bentuknya seperti sebuah pohon oleh karena itu disebut
pohon trakeobronkial. tempat trakea bercabang menjadi bronkus di sebut karina. di karina
menjadi bronkus primer kiri dan kanan, di mana tiap bronkus menuju ke tiap paru (kiri dan
kanan), Karina memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk berat
jika dirangsang.
Fungsi trakea :
a. Penunjang dan menjaga kepatenan, Susunan jaringan kartilago dan elastik menjaga
kepatenan jalan napas dan mencegah obstruksi jalan napas saat kepala dan leher digerakkan.
Tidak adanya kartilago di bagian posterior trakea, memungkinkan trakea berdilatasi dan
berkontraksi saat esofagus mengalami distensi saat menelan. Kartilago mencegah kolapsnya
trakea saat tekanan internal kurang dari tekanan intratoraksik, yaitu saat akhir ekspirasi
dengan upaya.
b. Eskalator mukosiliaris, Eskalator mukosiliaris adalah keselarasan frekuensi gerakan silia
membran mukosa yang teratur yang membawa mukus dengan partikel yang melekat padanya
ke atas laring di mana partikel ini akan ditelan atau dibatukkan
c. Refleks batuk, Ujung saraf di laring, trakea, dan bronkus peka terhadap iritasi sehingga
membangkitkan impuls saraf yang dihantarkan oleh saraf vagus ke pusat pernapasan di
batangotak. Respons refleks motorik terjadi saat inspirasi dalam yang diikuti oleh penutupan
glotis, yakni penutupan pita suara. Otot napas abdomen kemudian berkontraksi dan dengan
tiba-tibam udara dilepaskan di bawah tekanan, serta mengeluarkan mukus dan/atau benda
asing dari mulut
d. Penghangat, pelembap, dan penyaring, Fungsi ini merupakan kelanjutan dari hidung,
walaupun normalnya, udara sudah jernih saat mencapai trakea
Trakea terdiri atas tiga lapis jaringan yaitu:
a. Lapisan luar terdiri atas jaringan elastik dan fibrosa yang membungkus kartilago.
b. Lapisan tengah terdiri atas kartilago dan pita otot polos yang membungkus trakea dalam
susunan helik. Ada sebagian jaringan ikat, mengandung pembuluh darah dan limfe, serta
saraf otonom.
c. Lapisan dalam terdiri atas epitelium kolumnar penyekresi mukus
Kebutuhan darah pada trakea
Arteri yang memperdarahi trakea terutama adalah arteri bronkial dan arteri tiroid
inferior. Aliran balik vena yang memperdarahitrakea adalahvena tiroid inferior yang mengalir
menuju vena bronkiosefalik. Saraf parasimpatik yang mempersarafi trakea adalah saraf
laringeal rekurens dan percabangan saraf vagus lainnya, sedangkan saraf simpatik yang
mempersarafi trakea adalah saraf dari ganglia simpatik. Stimulasi parasimpatik mengonstriksi
trakea dan stimulasi simpatik mendilatasi trakea. Pembuluh limfe bermula dari saluran napas
yang mengalir ke nodus limfe yang berada di sekitar trakea dan di karina, suatu area yang
membagi trakea menjadi dua bronkus.
5. Percabangan Bronkus
Bronkus, merupakan percabangan trachea. Setiap bronkus primer bercabang 9 sampai
12 kali untuk membentuk bronki sekunder dan tersier dengan diameter yang semakin kecil.
Struktur mendasar dari paru-paru adalah percabangan bronchial yang selanjutnya secara
berurutan adalah bronki, bronkiolus, bronkiolus terminalis, bronkiolus respiratorik, duktus
alveolar, dan alveoli. Dibagian bronkus masih disebut pernafasan extrapulmonar dan sampai
memasuki paru-paru disebut intrapulmonar.
Bronkus utama kanan lebih pendek dan lebar serta hampir vertikal dengan trakea.
Sedangkan bronkus utama kiri lebih panjang dan sempit. Jika satu pipa ET yang menjamin
jalan udara menuju ke bawah, ke bronkus utama kanan, jika tidak tertahan baik pada mulut
atau hidung, maka udara tidak dapat memasuki paru kiri dan menyebabkan kolaps paru
(atelekteasis). Namun demikian arah bronkus utama kanan yang vertikal menyebabkan
mudahnya kateter menghisap benda asing. Cabang Bronkus kanan dan kiri bercabang lagi
menjadi bronkus lobaris dan segmentalis. Percabngan ini terus menjadi kecil sampai akhirnya
menjadi bronkiolus terminalis(saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli).
bronkiolus,tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. hanya otot polos sehingga ukurannya
dapat berubah. Setelah iu terdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru, yaitu tempat
pertukaran gas. Asinus (lobulus primer), terdiri dari bronkiolus respiratorius, duktus
alveolaris, sakus alveolaris terminalis (akhir paru) yang menyerupai anggur dipisahkan oleh
septum dari alveolus di dekatnya. Dalam setiap paru terdapat 300 juta alveolus dengan luas
permukaan seluas sebuah lapangan tenis. Terdapat dua tipe lapisan sel alveolar: Pneumosit
tipe I, merupakan lapisan yang menyebar dan menutupi daerah permukan, Pneumosit tipe II,
yang bertanggung jawab pada sekresi surfaktan.
Pada hakekatnya alveolus adalah suatu gelembung gas yang dikelilingi oleh jaringan
kapiler sehingga batas antara cairan dan gas membentuk tegangan permukan yang cenderung
mencegah pengembangan saat inspirasi dan kolaps saat ekspirasi, tetapi dengan adanya
lapisan yang terdiri dari zat lipoprotein (di sebut surfaktan) yang dapat mengurangi tegangan
permukaan dan resistensi terhadap pengembangan pada waktu inspirasi, dan mencegah
kolaps alveolus pada waktu ekspirasi. defisiensi surfaktan merupakan faktor penting pada
patogenesis sejumlah penyakit paru. Termasuk sindrom gawat nafas akut (ARDS).
6. Paru-paru
Paru-paru berada dalam rongga torak, yang terkandung dalam susunan tulang-tulang iga dan
letaknya disisi kiri dan kanan mediastinum yaitu struktur blok padat yang berada dibelakang
tulang dada. Paru-paru menutupi jantung, arteri dan vena besar, esofagus dan trakea.
Paru-paru berbentuk seperti spons dan berisi udara dengan pembagaian ruang sebagai berikut
:
a. Paru kanan, memiliki tiga lobus yaitu superior, medius dan inferior.
b. paru kiri berukuran lebih kecil dari paru kanan yang terdiri dari dua lobus yaitu lobus
superior dan inferior .Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh
limfe, arteriola, venula, bronchial venula, ductus alveolar, sakkus alveolar dan alveoli.
Diperkirakan bahwa setiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli, sehingga mempunyai
permukaan yang cukup luas untuk tempat
permukaan/pertukaran gas.
Bronkus
Dua bronkus primer terbentuk oleh trakea yang membentuk percabangan
a. Bronkus kanan, bronkus ini lebih lebar, lebih pendek, dan lebih vertikal daripada bronkus
kirisehingga cenderung sering mengalami obstruksi oleh benda asing. Panjangnya sekitar 2,5
cm. Setelah rnemasuki hilum, bronkus kanan terbagi menjadi tiga cabang, satu untuk tiap
lobus. Tiap cabang kemudian terbagi menjadi banyak cabang kecil.
b. Bronkus kiri, panjangnya sekitar 5 cm dan lebih sempit daripada bronkus kanan. Setelah
sampai di hilum paru, bronkus terbagi menjadi dua cabang, satu untuk tiap lobus. Tiap
cabang kemudian terbagi menjadi saluran-saluran kecil dalam substansi paru. Bronkus
bercabang sesuai urutan perkembangannya menjadi Bronkiolus, bronkiolus terminal,
bronkiolus respiratorik, duktus alveolus, dan akhirnya, alveoli.
Bronkiolus dan Alveoli Pernapasan
Dalam tiap lobus, jaringan paru lebih lanjut terbagi menjadi selubung halus jaringan
ikat, yaitu lobulus. Tiap lobulus disuplai oleh udara yang berasal dari bronkiolus terminalis,
yang lebih lanjut bercabang menjadi bronkiolus respirarorik, duktus alveolus, dan banyak
alveoli (kantong-kantong udara).
Terdapat 150 juta alveoli di paru-paru orang dewasa. Hal ini memungkinkan
terjadinya pertukaran gas. Saat jalan napas bercabang-cabang menjadi bagian yang lebih
kecil, dinding jalan napas menjadi semakin tipis hingga otot dan jaringan ikat lenyap,
menyisakan lapisan tunggal sel epitelium skuamosa sederhana di duktus alveolus dan alveoli.
Saluran napas distal ditunjang oleh jaringan ikat elastik yang longgar di mana terdapar
makrofag, fibroblas, saraf, pembuluh darah, dan pembuluh limfe. Alveoli dikelilingi oleh
jaringan kapiler padat. Pertukaran gas di paru (respirasi eksternal) berlangsung di membran
yang disusun oleh dinding alveolar dan dinding kapiler yang bergabung bersama. Membran
ini disebut membran respiratorik. Di antara sel skuamosa terdapat sel septal yang menyekresi
surfaktan, suatu cairan fosfolipid yang mencegah alveoli dari kekeringan.
Selain itu, surfaktan berfungsi mengurangi tekanan dan mencegah dinding aiveolus
mengalarni kolaps saat ekspirasi. Sekresi surfaktan ke saluran napas bawah dan alveoli
dimulai saat janin berusia 35 minggu
Pleura
Paru-paru dibungkus oleh pleura yang menempel langsung ke paru, disebut sebagai pleura
visceral. Sedangkan pleura parietal menempel pada dinding rongga dada dalam. Diantara
pleura visceral dan pleura parietal terdapat cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas
sehingga memungkinkan pergerakan dan pengembangan paru secara bebas tanpa ada gesekan
dengan dinding dada
Pembulu darah yang memperdarahi paru
Trunkus pulmonal terbagi menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri, yang membawa darah
yang
miskin oksigen ke tiap paru. Di dalam paru, arteri pulmonalis terbagi menjadi banyak cabang,
yang akhirnya bermuara di jaringan kapiler padat di sekitar dinding alveoli. Dinding alveoli
dan kapiler terdiri atas hanya satu lapisan sel epitelium gepeng. Pertukaran gas antara udara
di paru dan darah di kapiler berlangsung pada dua selaput yang sangat halus (keduanya
disebut membran pernapasan). Kapiler pulmonal bergabung membentuk dua vena pulmonalis
di tiap paru. Vena ini keluar dari paru melalui hilum dan membawa darah yang kaya oksigen
ke atrium kiri jantung. Kapiler darah dan pembuluh darah yang sangat banyak di paru
ditunjang oleh jaringan ikat.
Inspirasi dan expirasi
Ada dua hal saat terjadi pernapasan yaitu (1) inspirasi dan (2) ekspirasi. Inspirasi atau
menarik napas adalah proses aktif yang diselengarakan kerja otot. Kontraksi diafragma
meluaskan rongga dada dari atas sampai ke bawah, yaitu vertikel. Penaikan iga-iga dan
sternum, yang ditimbulkan kontraksi otot interkostalis, meluaskan rongga dada kedua sisi dan
dari belakang ke depan. Paru-paru yang bersifat elastis mengembang untuk mengisi ruang
yang membesar itu dan udara ditarik masuk ke dalam saluran udara. Otot interkostal eksterna
diberi peran sebagai otot tambahan, hanya bila inspirasi menjadi gerak sadar. Ekspirasi, yaitu
udara dipaksa keluar oleh pengenduran otot dan karena Paruparu kempis kembali yang
disebabkan sifat elastis paru-paru itu. Gerakan ini adalah proses pasif, dimana ketika
pernapasan sangat kuat, gerakan dada bertambah. Otot leher dan bahu membantu menarik
iga-iga dan sternum ke atas. Otot sebelah belakang dan abdomen juga dibawa bergerak, dan
alae nasi (cuping atau sayap hidung) dapat kembang kempis.
Udara masuk ke paru-paru melalui sistem berupa pipa yang menyempit (bronchi dan
bronkiolus) yang bercabang di kedua belah paru-paru utama (trachea). Pipa tersebut berakhir
di gelembunggelembung paru-paru (alveoli) yang merupakan kantong udara terakhir dimana
oksigen dan karbondioksida dipindahkan dari tempat dimana darah mengalir. Ada lebih dari
300 juta alveoli di dalam paru-paru manusia bersifat elastis.Ruang udara tersebut dipelihara
dalam keadaan terbukaoleh bahan kimia surfaktan yang dapat menetralkan kecenderungan
alveoli untuk mengempis.Alveoli paru-paru kantong udara merupakan kantong kecil dan tipis
yang melekat erat dengan lapisan pembuluh darah halus (kapiler) yang mebawa darah yang
bebas oksigen (deoxgenated) dari jantung. Molekul oksigen dapat disaring melalui dinding
pembuluh darah tersebut untuk masuk ke aliran darah. Sama halnya dengan karbondioksida
yang dilepaskan dari darah ke dalam kantong udara untuk dikeluarkan melalui pernapasan,
menentukan jumlah oksigen yang masuk ke dalam darah dan jumlah karbondioksida yang
dikeluarkan dari darah. Oksigen dalam tubuh dapat diatur menurut keperluan. Manusia sangat
membutuhkan oksigen dalam hidupnya, kalau tidak mendapatkan oksigen selama 4 menit
akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang tak dapat diperbaiki dan bisa menimbulkan
kematian. Kalau penyediaan oksigen berkurang akan menimbulkan kacau pikiran dan anoksia
serebralis, misalnya orang bekerja pada ruangan yang sempit, tertutup dan lain-lain. Bila
oksigen tidak mencukupi maka warna darah merahnya hilang berganti kebiru-biruan
misalnya yang terjadi pada bibir, telinga, lengan, dan kaki yang disebut sianosis.
C. Rongga Dada
Rongga dada diperkuat oleh tulang-tulang yang membentuk rangka dada. Rangka dada ini
terdiri dari costae (iga-iga), sternum (tulang dada) tempat sebagian iga-iga menempel di
depan,dan vertebra torakal (tulang belakang) tempat menempelnya iga-iga di bagian
belakang. Terdapat otot-otot yang menempel pada rangka dada yang berfungsi penting
sebagai otot pernafasan. Otototot yang berfungsi dalam bernafas. Rongga dada diperkuat oleh
tulang-tulang yang membentuk rangka dada. Rangka dada ini terdiri dari costae (iga-iga),
sternum (tulang dada) tempat sebagian iga-iga menempel di depan, dan vertebra torakal
(tulang belakang) tempat menempelnya iga-iga di bagian belakang. Terdapat otot-otot yang
menempel pada rangka dada yang berfungsi penting sebagai otot pernafasan.
Otot-otot yang berfungsi dalam bernafas adalah sebagai berikut :
- interkostalis eksterrnus (antar iga luar) yang mengangkat masing-masing iga.
- sternokleidomastoid yang mengangkat sternum (tulang dada).
- skalenus yang mengangkat 2 iga teratas.
- interkostalis internus (antar iga dalam) yang menurunkan iga-iga.
- otot perut yang menarik iga ke bawah sekaligus membuat isi perut mendorong diafragma ke
atas.
- otot dalam diafragma yang dapat menurunkan diafragma.
D. Proses terjadinya Pernafasan
Pernafasan adalah proses inspirasi udara kedalam paru-paru dan ekspirasi udara dari paruparu
kelingkungan luar tubuh. Inspirasi terjadi bila muskulus diafragma telah dapat rangsangan
dari nervus pernikus lalu mengkerut datar. Saat ekspirasi otot akan kendor lagi dan dengan
demikian rongga dada menjadi kecil kembali maka udara didorong keluar. Jadi proses
respirasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru. Fungsi
paru – paru adalah sebagai tempat pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida.
Pada pernapasan melalui paru-paru atau pernapasan eksterna, oksigen dipungut melalui
hidung dan mulut pada waktu bernapas; oksigen masuk melalui trakea dan pipa bronkial ke
alveoli, dan dapat berhubungan erat dengan darah di dalam kapiler pulmonaris. Oksigen
menembus membran ini dan dipungut oleh hemoglobin sel darah merah dan dibawa ke
jantung. Dari sinidipompa di dalam arteri ke semua bagian tubuh. Darah meninggalkan paru
– paru pada tekanan oksigen 100 mm Hg dan pada tingkat ini hemoglobinnya 95 persen
jenuh oksigen. Di dalam paru-paru, karbon dioksida, salah satu hasil buangan metabolisme,
menembus membranalveoler-kapiler dari kapiler darah ke alveoli dan setelah melalui pipa
bronkial dan trakea, dinapaskan keluar melalui hidung dan mulut.
Empat proses yang berhubungan dengan pernapasan pulmoner atau pernapasan eksterna :
a. Ventilasi pulmoner, atau gerak pernapasan yang menukar udara dalam alveoli dengan
udara luar. Arus darah melalui paru – paru. Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian
sehingga dalam jumlah tepat dapat mencapai semua bagian tubuh
b. Difusi gas yang menembusi membran pemisah alveoli dan kapiler. CO2 lebih mudah
berdifusi daripada oksigen
c. Pefusi, yaitu pernapasan jaringan atau pernapasan interna. Darah yang telah menjenuhkan
hemoglobinnya dengan oksigen (oksihemoglobin) megintari seluruh tubuh dan akhirnya
mencapai kapiler, di mana darah bergerak sangat lambat. Sel jaringan memungut oksigen dari
hemoglobin untuk memungkinkan oksigen berlangsung, dan darah menerima, sebagai
gantinya, yaitu karbon dioksida.
Semua proses ini diatur sedemikian sehingga darah yang meninggalkan paru-paru menerima
jumlah tepat CO2 dan O2. Pada waktu gerak badan, lebih banyak darah datang di paru – paru
membawa terlalu banyak CO2 dan terlampau sedikit O2; jumlah CO2 itu tidak dapat
dikeluarkan, maka konsentrasinya dalam darah arteri bertambah. Hal ini merangsang pusat
pernapasan dalam otak untuk memperbesar kecepatan dan dalamnya pernapasan.
Penambahan ventilasi ini mngeluarkan CO2 dan memungut lebih banyak O2.
Perubahan – perubahan berikut terjadi pada komposisi udara dalam alveoli, yang disebabkan
pernapasan eksterna dan pernapasan interna atau pernapasan jarigan.
Udara (atmosfer) yang di hirup:
- Nitrogen 79 %
- Oksigen 20% %
- Karbon dioksida 0-0,4%
Udara yang masuk alveoli mempunyai suhu dan kelembapan atmosfer Udara yang
diembuskan:
- Nitrogen 79%
- Oksigen