Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bullying sering dikenal dengan istilah pemalakan, pengucilan, serta
intimidasi. Bullying merupakan perilaku dengan karakteristik melakukan
tindakan yang merugikan orang lain secara sadar dan dilakukan secara
berulang-ulang dengan penyalahgunaan kekuasaan secara sistematis. Perilaku
ini meliputi tindakan secara fisik seperti menendang dan menggigit, secara
verbal seperti menyebarkan isu dan melalui perangkat elektronik atau
cyberbullying. Semua tindakan bullying, baik fisik maupun verbal, akan
menimbulkan dampak fisik maupun psikologis bagi korbannya.
Seseorang dianggap sebagai korban bullying apabila dihadapkan pada
tindakan negatif dari seseorang atau lebih, dilakukan berulang-ulang dan terjadi
dari waktu ke waktu. Selain itu bullying melibatkan kekuatan dan kekuasaan
yang tidak seimbang, sehingga korban berada pada kondisi yang tidak berdaya
untuk mempertahankan diri secara efektif untuk melawan tindakan negatif yang
diterimanya. Bullying melibatkan adanya ketidak seimbangan kekuatan, niat
untuk mencederai, ancaman agresi lebih lanjut, dan teror. Bullying merupakan
salah satu bentuk perilaku agresi. Ejekan, hinaan, dan ancaman seringkali
merupakan pancingan yang dapat mengarah ke agresi. Rasa sakit dan
kekecewaan yang ditimbulkan oleh penghinaan akan mengundang reaksi siswa
untuk membalas. Penghinaan muncul dengan tiga keunggulan psikologis yang
jelas, yang memungkinkan anak melukai tanpa merasa empati, iba, ataupun
malu (Siswati dan Widayanti, 2009).
Dampak bullying pada korban diantaranya kesehatan fisiknya menurun,
dan sulit tidur. Seorang korban juga cenderung memiliki psychological well-
being yang rendah, seperti perasaan tidak bahagia secara umum, self-esteem
rendah, perasaan marah, sedih, tertekan dan terancam ketika berada pada situasi
tertentu. Secara psikologis, seseorang korban akan mengalami psychological
distress; misalnya adalah tingkat kecemasan yang tinggi, depresi dan pikiran-
pikiran untuk bunuh diri (Rigby dan Thomas dalam Sudibyo, 2012). Secara
akademis seorang korban akan mengalami poor results; prestasi akademis
menurun, kurangnya konsentrasi korban (Sullivan, Cleary dan Sullivan dalam
Sudibyo, 2012). Oleh karena dampak bullying yang banyak dan sangat
merugikan korban, fenomena ini harus bisa ditangani. Salah satu cara dengan
tindakan preventif yaitu intervensi terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam
situasi bullying.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan bullying ?
2. Apa jenis – jenis perbuatan bullying?
3. Apa saja faktor yang menyebabkan perilaku bullying serta apa saja dampak
yang dapat diakibatkan dari perilaku bullying?
4. Bagaimana upaya pencegahan bullying ?
5. Bagaimana konsep asuhan keperawatan jiwa terhadap korban bulliying ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan tindakan bullying dan jenis
– jenis perbuatan yang termasuk dalam tindakan tersebut.
2. Untuk mengetahui faktor – faktor penyebab tindakan bullying serta
dampak yang diakibatkan dari tindakan itu.
3. Untuk mengetahui bagaimana upaya untuk mengatasi bullying.
4. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan jiwa terhadap korban
bullying.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Kata bullying berasal dari Bahasa Inggris, yaitu dari kata bull yang berarti
banteng yang senang merunduk kesana kemari. Dalam Bahasa Indonesia, secara
etimologi kata bully berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah.
Sedangkan secara terminology menurut Definisi bullying menurut Ken Rigby
dalam Astuti (2008 ; 3, dalam Ariesto, 2009) adalah “sebuah hasrat untuk
menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan ke dalam aksi, menyebabkan seseorang
menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau sekelompok
yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan
dengan perasaan senang”.
Bullying adalah bentuk-bentuk perilaku kekerasan dimana terjadi
pemaksaan secara psikologis ataupun fisik terhadap seseorang atau sekelompok
orang yang lebih “lemah” oleh seseorang atau sekelompok orang. Pelaku
bullying yang biasa disebut bully bisa seseorang, bisa juga sekelompok orang,
dan ia atau mereka mempersepsikan dirinya memiliki power (kekuasaan) untuk
melakukan apa saja terhadap korbannya. Korban juga mempersepsikan dirinya
sebagai pihak yang lemah, tidak berdaya dan selalu merasa terancan oleh
bully. (Jurnal Pengalaman Intervensi Dari Beberapa Kasus Bullying, Djuwita,
2005 ; 8, dalam Ariesto 2009)

2.2 Jenis Bullying


Jenis-jenis Tindakan Bullying Barbara (2006:47-50) membagi jenisjenis
bullying ke dalam empat jenis, yaitu:
a) Bullying secara verbal,
Bullying secara verbal adalah perilaku ini dapat berupa julukan nama,
celaan, fitnah, kritikan kejam, penghinaan, pernyataanpernyataan yang
bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual, terror, surat-surat yang
mengintimidasi, tuduhan-tuduhan yang tidak benar, kasak-kusuk yang keji dan
keliru, gossip, dan sebagainya. Ketiga jenis bullying bentuk verbal adalah salah
satu jenis yang paling mudah dilakukan dan bullying bentuk verbal akan
menjadi awal dari perilaku yang lainnya serta dapat menjadi langkah pertama
menuju pada kekerasan yang lebih lanjut.
b) Bullying secara fisik
Bullying secara fisik, yang termasuk dalam jenis ini ialah memukuli,
menendang, menampar, mencekik, menggigit, mencakar, meludahi, dan
merusak serta menghancurkan barangbarang milik anak yang tertindas.

3
Bullying jenis ini adalah yang paling tampak dan mudah untuk diidentifikasi,
namun kejadian bullying secara fisik tidak sebanyak bullying dalam bentuk
lain. Remaja yang secara teratur melakukan hal ini, merupakan remaja yang
paling bermasalah dan cenderung akan beralih pada tindakan-tindakan
criminal yang lebih lanjut.
c) Bullying secara rasional
Bullying secara rasional adalah pelemahan harga diri korban secara
sistematis melalui pengabaian, pengucilan, atau penghindaran. Perilaku ini
dapat mencakup sikap-sikap yang tersembunyi seperti pandangan yang agresif,
lirikan mata, helaan nafas, cibiran, tawa mengejek dan bahasa tubuh yang
mengejek. Bullying dalam bentuk ini paling sulit di deteksi dari luar. Secara
rasional mencapai puncak kekuatannya di awal masa remaja, karena saat itu
terjadi perubahan fisik, mental emosional dan seksual remaja. Ini adalah saat
ketika remaja mencoba untuk mengetahui diri mereka dan menyesuaikan diri
dengan teman sebaya.
d) Bullying elektronik
Bullying elektronik merupakan bentuk perilaku bullying yang
dilakukan pelakunya melalui sarana elektronik seperti computer, handphone,
internet, website, chatting room, email, SMS dan sebagainya. Biasanya
ditujukan untuk meneror korban dengan menggunakan tulisan, animasi,
gambar, dan rekaman video atau film yang sifatnya mengintimidasi, menyakiti
atau menyudutkan. Bullying jenis ini dilakukan oleh kelompok remaja yang
memiliki pemahaman cukup baik terhadap sarana teknologi informasi dan
media elektronik lainnya.

Pada umunya, anak laki-laki lebih banyak menggunakan bullying secara


fisik dan anak wanita banyak menggunakan bullying relasional/ emosional, namun
keduanya samasama menggunakan bullying verbal. Perbedaan ini, lebih berkaitan
dengan pola sosialisasi yang terjadi antara anak laki-laki dan perempuan
(Coloroso, 2006:51).

2.3 Penyebab
Menurut Ariesto (2009), faktor-faktor penyebab terjadinya bullying antara
lain:
a. Keluarga.
Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah :
orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau
situasi rumah yang penuh stress, agresi, dan permusuhan. Anak akan
mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang

4
terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya terhadap
teman-temannya. Jika tidak ada konsekuensi yang tegas dari lingkungan
terhadap perilaku cobacobanya itu, ia akan belajar bahwa “mereka
yang memiliki kekuatan diperbolehkan untuk berperilaku agresif, dan
perilaku agresif itu dapat meningkatkan status dan kekuasaan
seseorang”. Dari sini anak mengembangkan perilaku bullying;
b. Sekolah
Pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini. Akibatnya,
anakanak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan
terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak
lain. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah
sering memberikanmasukan negatif pada siswanya, misalnya berupa
hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa
menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah;
c. Faktor Kelompok Sebaya.
Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di
sekitar
rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Beberapa
anak
melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka
bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa
tidak nyaman dengan perilaku tersebut.
d. Kondisi lingkungan sosial
Kondisi lingkungan sosial dapat pula menjadi penyebab timbulnya
perilaku
bullying. Salah satu faktor lingkungan social yang menyebabkan
tindakan bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup dalam
kemiskinan akan berbuat apa saja demi memenuhi kebutuhan hidupnya,
sehingga tidak heran jika di lingkungan sekolah sering terjadi
pemalakan antar siswanya.
e. Tayangan televisi dan media cetak
Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi
tayangan yang mereka tampilkan. Survey yang dilakukan kompas
(Saripah, 2006) memperlihatkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-
adegan film yang
ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya
(43%).

2.4 Gejala

5
Saat ini, bullying merupakan istilah yang sudah tidak asing di telinga
masyarakat Indonesia. Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk
menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun
psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya (Sejiwa,
2008). Pelaku bullying sering disebut dengan istilah bully. Seorang bully tidak
mengenal gender maupun usia. Bahkan, bullying sudah sering terjadi di sekolah
dan dilakukan oleh para remaja.
Dampak yang diakibatkan oleh tindakan ini pun sangat luas cakupannya.
Remaja yang menjadi korban bullying lebihberisiko mengalami berbagai masalah
kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Adapun masalah yang lebih mungkin
diderita anak-anak yang menjadi korban bullying, antara lain munculnya berbagai
masalah mental seperti depresi, kegelisahan dan masalah tidur yang mungkin akan
terbawa hingga dewasa, keluhan kesehatan fisik, seperti sakit kepala, sakit perut
dan ketegangan otot, rasa tidak aman saat berada di lingkungan sekolah, dan
penurunan semangat belajar dan prestasi akademis.
Dalam kasus yang cukup langka, anak-anak korban bullying mungkin akan
menunjukkan sifat kekerasan. Seperti yang dialami seorang remaja 15 tahun di
Denpasar, Bali, yang tega membunuh temannya sendiri karena dendamnya kepada
korban. Pelaku mengaku kerap menjadi target bullying korban sejak kelas satu
SMP. Akibat perbuatannya, pelaku yang masih di bawah umur ini dijerat dengan
Pasal 80 ayat 3 Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak,
serta KUHP Pasal 340, 338, dan 351.
Kasus ini membawa kepada penjelasan bahwa masyarakat khusunya harus
lebih paham mengenai bullying. Apa yang menyebabkan remaja melakukan
bullying, apa dampak bagi pelaku, korban, dan saksi, bagaimana bentuk-bentuk
tindakan bullying, dan bagaimana cara mencegah dan memberhentikan tindakan
penindasan ini.

2.5 Penatalaksanaan
Berikut adalah beberapa upaya mengatasi masalah bullying :
1. Upaya Mengatasi Tindak Kekerasan (Bullying) Melalui Pendidikan
Karakter Berikut upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan
menanggulangi tindak kekerasan melalui pendidikan karakter:
a) memperkuat pengendalian sosial, hal ini dapat dimaknai sebagai
berbagai cara yang digunakan pendidik untuk menertibkan peserta didik
yang melakukan penyimpangan, termasuk tidakan kekerasan dengan
melakukan pengawasan dan penindakan;
b) mengembangkan budaya meminta dan memberi maaf;
c) menerapkan prinsip-prinsip anti kekerasan;

6
d) memberikan pendidikan perdamaian kepada generasi muda;
e) meningkatkan dialog dan komunikasi intensif anatar siswa dalam
sekolah;
f) meneydiakan katarsis;
2. Upaya Pencegahan Bullying dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan pelayanan bantuan yang
membantu mengoptimalkan perkembangan individu. Dalam
kenyataannya, individu tanpa pembelajaran di sekolah akan berkembang
sangat minim (Syaodih, 2007). Dengan pembelajaran di sekolah
perkembangannya akan jauh lebih tinggi, dan ditambah dengan pelayanan
bimbingan dan konseling diharapkan mencapai titik optimal, dalam arti
setinggi-tingginya sesuai potensi yang dimilikinya.
Terdapat empat komponen layanan bimbingan dan konseling
komprehensif, diantaranya layanan dasar, responsif, perencanaan
individual dan dukungan sistem. Upaya mencegah perilaku bullying bisa
dilakukan dengan layanan dasar bimbingan salah satunya dalam setting
kelompok atau layanan bimbingan kelompok.
a. Pengertian Bimbingan Kelompok
Menurut Tatiek Romlah (2006: 3), Bimbingan kelompok
adalah proses pemberian bantuan yang diberikan pada individu
dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok ditujukan untuk
mencegah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan
potensi siswa, secara umum dapat dikatakan bahwa sebagai salah
satu teknik bimbingan, bimbingan kelompok mempunyai prinsip,
kegiatan, dan tujuan yang sama dengan bimbingan. Perbedaannya
hanya terletak pada pengelolaannya, yaitu dalam situasi kelompok.
Salah satu teknik bimbingan kelompok yang dapat diberikan ialah
bimbingan kelompok memakai teknik sosiodrama. Menurut
Romlah (2006: 104), Teknik sosiodrama adalah teknik bermaian
peran dalam rangka untuk memecahkan masalah sosial yang timbul
dalam hubungan interpersonal (rasa cemburu, dilema, dll) yang
dilakukan dalam kelompok. Alasan penggunaan teknik sosiodrama
untuk mengurangi perilaku bullying siswa. Karena fungsi dari
teknik sosiodrama itu sendiri adalah sebagai upaya pencegahan
sehingga diharapkan siswa yang memiliki perilaku bullying di
sekolah mampu untuk berubah, memotivasi, serta meminimalisir
perilaku bullying tinggi. Selain itu secara ilmiah layanan bimbingan
kelompok teknik sosiodraa teruji efektif untuk mereduksi perilaku
bullying di sekolah.

7
b. Tujuan Bimbingan Kelompok
Menurut Bennet (dalam romlah, 2006: 13) Tujuan Bimbingan
kelompok sebagai berikut :
1) Memberikan kesempatan-kesempatan pada siswa belajar hal-
hal penting yang berguna bagi pengarahan dirinya yang
berkaitan dengan masalah pendiikan, pekerjaan, pribadi dan
sosial. Tujuan ini dapat dicacat melalui kegiatan-kegiata:
a) Bantuan dalam mengadakan orientasi kepada situasi
sekolah baru dan dalam menggunakan kesempatan-
kesempatan dan fasilitas yang disediakan sekolah.
b) Mempelajari masalah-masalah hubungan antarpriadi yang
terjadi dalam kelompok dalam kehidupan sekolah yang
dapat mengubah perilaku individu dan kelompok dalam
cara uang dapat diterima oleh masyarakat.
c) Mempelajari secara kelompok masalah-masalah
pertumbuhan dan perkembangan, belajar menyesuaikan
diri dalam kehidupan orang dewasa, dan menerapkan pola
hidup yang sehat.
d) Mempelajari secara kelompok dan menerapkan metode-
metode pemahaman diri mengenai sikap, minat,
kemampuan kepribadian dan kecenderungan-
kecenderungan sifat, dan penyesuaian pribadi serta sosial.
e) Mempelajari secara kelompok dan menerapkan metode-
metode belajar yang efisien
f) Mempelajari secara kelompok dunia pekerjaan dan
masalah-masalah penyesuaian dan kemajuan pekerjaan.
g) Bantuan secara kelompok untuk mempelajari bagaimana
membuat rencana-rencana pekerjaan jangka panjang.
h) Bantuan secara kelompok tentang cara membuat rencana
pendidikan jangka panjang
i) Bantuan untuk mengembangkan patokan-patokan nilai
untuk membuat pilihan-pilihan dalam berbagai bidang
kehidupan dan dalam mengembangkan filsafat hidup.
2) Memberikan layanan-layanan penyembuhan melalui kegiatan
kelompok dengan:
a) Mempelajari masalah-masalah manusia pada umumnya.
b) Menghilangkan ketegangan-ketegangan emosi, menambah
pengertian mengenai dinamika kepribadian, dan mengarahkan
kembali energi yang terpakai untuk memecahkan kembali

8
energi yang terpakai untuk memecahkan masalah-masalah
tersebut dalam suasana permisif
3) Untuk mencapai tujuan-tujuan bimbingan secara lebih ekonomis
dan efektif daripada melalui kegiatan bimbingan individual.
4) Untuk melaksanakan layanan konseling individual secara lebih
efektif. Dengan mempelajari masalah-masalah yang umum
dialami oleh individu dan dengan meredakan atau menghilangkan
gambatan-hambatan emosional melalui kegiatan kelompok, maka
pemahaman terhadap masalah individu menjadi lebih mudah.
c. Pengertian Sosiodrama
Menurut Tatiek Romlah (2006: 104), Sosiodrama adalah
permainan peranan yang ditujukan untuk memecahkan masalah
sosial yang timbul dalam hubungan antar manusia. Konlfik-konflik
sosial yang disosiodramakan adalah konflik kepribadian.
Sosiodrama lebih merupakan kegiatan yang bertujuan untuk
mendidik atau mendidik kembali daripada kegiatan penyembuhnan.
Sosiodrama dapat dilaksanakan oleh konselor atau guru yang sudah
dilatih untuk itu. Kegiatan sosiodrama dapat dilaksanakan bila
sebagian besar anggota kelompok menghadapi masalah sisal yang
hamper sama, atau bila ingin melatih atau mengubah sikap-sikap
tertentu.
d. Langkah-langkah pelaksanaan sosiodrama
Menurut Tatiek Romlah (2006: 105), Pelaksanaan sosiodrama
secara umum mengikuti langkahlangkah sebagai berikut
1) Persiapan,fasilitator mengemukakan masalah dan tema
yang akan disosiodramakan, dan tujuan permainan.
Kemuidan diadakan Tanya jawab untuk memperjelas
masalah dan peranan-peranan yang akan dimainkan
2) Membuat scenario sosiodrama
3) Menentukan kelompok yang akan memainkan sesuai
dengan kebutuhan skenarionya, dan memilih individu yang
akan memegang peran tertentu. Pemilihan pemegang peran
dapat dilakukan secara sukarela setelah fasilitator
mengemukakan ciri-ciri atau rambu-rambu masingmasing
peran, usulan dari anggota kelompok yang lain, atau
berdasarkan kedua-duanya.
4) Menentukan kelompok penonton dan menjelaskan
tugasnya. Kelompok penonton adalah anggota kelompok
yang lain yang tidak ikut menjadi pemain. Tugas kelompok

9
penonton adalah untuk mengobservasi pelaksanaan
permainan. Hasil observasi kelompok penonton merupakan
bahan dikusi setelah permainan selesai.
5) Pelaksanaan sosiodrama. Setelah semua peran terisi, para
pemain menyiapkan diri bagaimana sosiodrama itu akan
dimainkan. Setelah siap, dimulailah permainan. Masing-
masing pemain memerankan perannya berdasarkan
imajinasinya tentang peran yang dimainkannya. Pemain
diharapkan dapat memperagakan konflik-konflik yang
terjadi, mengekspresikan perasaanperasaan, dan
memperagakan sikap-sikap tertentu sesuai dengan peranan
yang dimainkannya. Dalam permainan ini diharapkan
terjadi identifikasi yang sebesar-besarnya antara pemain
maupun penonton dengan peran-peran yang dimainkannya.
6) Evaluasi dan diskusi. Setelah permainan selesai diadakan
diskusi mengenai pelaksanaan permainan berdasarkan hasil
observasi dan tanggapan-tanggapan penonton. Diskusi
diarahkan untuk membicarakan : tanggapan mengenai
bagaimana cara para pemain membawakan perannya sesuai
dengan ciri-ciri masing-masing peran, cara pemecah
masalah, dan kesan-kesan pemain dalam memainkan
perannya. Balikan yang paling lengkap adalah melalui
rekaman video yang di ambil pada waktu permainan
berlangsung dan kemudian diputar kembali. Ulangan
permainan. Dari hasil diskusi dapat ditentukan apakah perlu
diadakan ualngan permainan atau tidak. Ulangan permainan
dapat dilakukan dengan berbagai cara.

2.6 Asuhan keperawatan Teori


A. Pengkajian
Menurut Suprajitno (2004), pengkajian keluarga tediri dari sebagai berikut ini:
1. Data Umum
Data ini mencangkup kepala keluarga (KK), alamat dan telepon, pekerjaan
KK, pendidikan KK, dan komposisi keluarga. Selanjutnya komposisi keluarga
dibuat genorgramnya.
a. Tipe keluarga, menjelaskan mengenai jenis/tipe keluarga.

10
b. Suku bangsa, yang mengkaji tentang asal/suku bangsa keluarga
(pasangan).
c. Agama,
d. Status sosial ekonomi keluarga, status sosial ekonomi keluarga ditentukan
oleh penghasilan seluruh anggota keluarga (orang tua maupun anak yang
sudah bekerja dan membantunya).
e. Aktifitas rekreasi keluarga, yang dimaksud dengan rekreasi keluarga
bukan hanya bepergian ke luar rumahbsecara bersama atu sendiri menuju
tempat rekreasi tetapi kesempatan berkumpul di rumah untuk menikamati
hiburan radio atau televisi bersama juga bercengkraman.

2. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


a. Tahap perkembangan keluarga
Tahap perkembangan keluarga yang dikaji ditentukan oleh usia anak
tertua dari keluarga inti.
b. Tugas perkembangan keluarga yang belum tepenuhi
Mengkaji tentang tugas keluarga yang belum tepenuhi dan kendala yang
dihadapi oleh keluarga. Selain itu juga melakukan pengidentifikasian
mengapa tugas keluarga belum terpenuhi dan upaya yang telah dilakukan.
c. Riwayat kesehatan keluarga inti
Mengkaji tentang riwayat kesehtan keluarga inti, riwayat kesehtan
masing-masing keluarga, perhatiahan tehadap upaya pencegahan
penyakit, upaya dan pengalaman keluarga terhada pelayanan kesehatan
dalam rangka pemenuhan kebutuhan kesehatan.
d. Riwayat kesehtan keluarga sebelumnya
Mengkaji tentang riwayat kesehtan generasi di atas orang tentang riwayat
penyakit keturunan, upaya generasi tersebut tentang upaya
penanggualangan penyakit, upaya kesehatan yang diertahankan sampai
saat ini.

3. Data Lingkungan
a. Karakteristik rumah
Mengkaji tentang rumah yang dihuni keluarga meliputi, luas, tipe, jumlah
ruangan, pemanfaatan ruangan, jumlah ventilasi, perlrtakan perabotan
rumah tangga, sarana pembuangan air limbah dan kebutuhan MCK, sarana
air bersih dan minuman yang digunakan.
b. Karakteristik tertangga dan komunitasnya
Mengkaji karakteistik dari tetangga dan komunitas setempat meliputi
tempat keluarga betempat tinggal, meliputi kebiasaan.

11
c. Mobilitas geografis keluarga
Menggambarkan mobilitas keluarga dan anggota keluarga.
d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Mengkaji wkatu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta
perkumpulan keluarga yang ada dan interaksi dengan masyarakat sekitar.
e. Sistem pendukung keluarga
Mengkaji tentang jumlah anggota keluarga yang sehat dan fasilitas
keluarga yang menunjang kesehtan (askes, jamsostek, kartu sehat, asuransi
atau yang lain). Fasilitas fisik yang dimiliki anggota keluarga dukungan
psikologis anggota keluarga atau masyarakat, dan fasilitas sodial yang
disekitar keluarga yang dapat digunakan untukmeringkas upaya kesehtan.

4. Struktur Keluarga
a. Struktur peran
Mengkaji peran masing-masing anggota keluarga secara formal amupun
informal.
b. Nilai atau norma keluarga
Mengakaji nilai atau norma yang dipelajari atau dianut keluarga
berhubungan dengan kesehtan.
c. Pola komunikasi keluarga
Mengkaji bagaimana cara keluarga berkomunikasi, siapa yang mengambil
keputusan utama, dan bagaimana peran anggota keluargadalam
menciptakan berkomunikasi.
d. Struktur kekuatan keluarga
Mengkaji tentang bagaimana keluarga mempengaruhi dan mengendalikan
anggota keluarga untuk mengubah perilaku yang berhubungan dengan
kesehatan.

5. Fungsi Keluaraga
a. Fungsi ekonomi
Mengkaji tentang bagaimana upaya keluarga dalam pemenuhan
kebutuahan sandnag, pangan dan papan aserta pemnfaatan lingkungan
rumah dan meningkatkan penghasilan keluarga. Selain itu kemampuan
keluarga untuk memanfaatkan sumber daya yang ada dimasyarakat ntuk
meningkatkan status kesehatan
b. Fungsi mendapatkan status sosial
Mengkaji tentang upaya keluarga untuk memperoleh status sosial di
masyarakat temapt tinggal keluarga.
c. Fungsi sosialisais

12
Mengkaji tentang uapaya yang dilakukan keluarga tentang sejauh mana
keluarga beajar tentang disiplin, nilai, norma, budya, dan perilkau yang
berlaku di keluarga dan masyarakat.
d. Pemenuhan kesehatan
Mengakaji tentang:
a) Kemampuan keluarga untuk menganal masalaha kesehatan
b) Kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan mengenai tindakan
kesehtan yang tepat.
c) Kemampuan keluarga merawta anggota keluarga yang sakit.
d) Kemampuan keluarga memelihara/memodifikasi lingkungan rumah
yang sehat.
e) Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan di
masyarakat.
e. Fungsi religius
Mengkaji tentang kegiatan keagamaan yang dipelajari dan dijalankan oleh
keluarga yang berhubungan dengan kesehatan
f. Fungsi rekreasi
Mengkaji tentang kemampuan dan kegiatan keluarga untuk melakukan
rekreasi secara bersama baik diluar maupun didalam rumah, juga kuntitas
dilakukan.
g. Fugsi reproduksi
Mengkaji tentang bagaiama rencana keluarga memiliki dan upaya
mngendaliakan jumlah anggota keluarga.
h. Fungsi afektif
Mengkaji tentang gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan
dimiliki dalam keluarga, dukungan anggota keluarga, hubungan
psikososial dalam keluarga, dan bagaiman keluarga mengembangkan sikap
saling menghargai.

6. Stres dan Koping Keluarga


a. Stres jangka pendek
Stressor jangka pendek menjelaskan tentang bagaimana keluarga mempu
merespon stressor yang dialami keluarga dan memerlukan waktu
penyelesian kurang dari 6 bulan.
b. Stres jangka panjang
Mengkaji tentang bagaimana keluarage merespon setres yang memerlukan
waktu penyelesian lebih adri 6 bulan.
c. Koping keluarga
Mengkaji tentang strtegi koping terhadap stressor yang ada.

13
7. Pemerikasaan Fisik
Pemeriksaan kesehatan pada individu anggota keluarga yang dilakukan tidak
bebeda jauh dengan pemeriksaan pada klien di klinik (rumah sakit) meliputi
pengkajian kebutuhan dasar individu, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang yang perlu.

8. Harapan Keluarga
Mengkaji harapan keluarga terhadap perawat dalam menangani masalah
kesehatan yang terjadi.

Pengkajian Fokus
Pengkajian data focus keluarga dengan anak usia remaja (Suprajitno, 2004)
meliputi:
a. Bagaimana karakteristik teman di sekolah atau di lingkungan rumah
b. Bagaimana kebiasaan anak menggunakan waktu luang.
c. Bagaimana perilaku anak selama di rumah.
d. Bagaimana hubungan antara anak remaja dengan adiknya, dengan teman
sekolah atau bemain.
e. Siapa saja yang berada dirumah selama anak remaja di rumah.
f. Bagaimana prestasi anak disekolah dan prestasi apa yang pernah diperoleh
anak.
g. Apa kegiatan diluar rumah selain disekolah, berapa kali, berapa lama. Dan
dimana.
h. Apa kebiasaan anak di rumah.
i. Apa fasilitas yang digunakan anak secara bersamaan atau sendiri.
j. Berapalama waktu yang disediakan orang tua untuk anak.
k. Siapa yang menjadi figure untuk anak.
l. Seberapa baik peran figure bagi anak.
m. Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga.

1. Penentuan Masalah
Penjajakan Tahap 1
Menurut Zaidin (2009), penjajakan tahap 1 terdiri dari sebagai berikut.
1. Ancaman Kesehatan
Ancaman kesehatan adalah keadaan yang dapat menyebabkan tejadinya
penyakit, kecelakaan atau kegagalan dalam pencapaian potensi
kesehatan.
2. Kurang/Tidak Sehat

14
Kurang/tidak sehata dalah kegagalan dalam memantapkan kesehatan
yang meliputi keadaan sakit apakah telah tediagnosa atau belum dan
kegagalan tumbuh-kembang sesuai dengan kecepatan yang normal.
3. Krisis
Krisis adalah kondisi yang telalu menuntut individu atau keluarga dalam
hal penyusuaian dan sumber daya luar batas kemampuan mereka. Kondisi
krisis antara laian pernikahan, kehamilan, persalinan, masa nifas, masa
menjadi orang tua, penambahan anggota baru seperti bayi baru lahir dan
orang kost, abortus, masa anak masuk sekolah, masa remaja, kondisi
kehilangan pekerjaan kematian anggota keluarga, pindah rumah,
kelahiran diluar pernikahan.

Penjajakan Tahap 2
Menurut Zaidin (2009) penjajakan tahap 2 berisi tentang pertanyaan
tentang ketidakmampuan keluarga melaksanakan tugas keluarga seperti
berikut ini.
1. Ketidaksanggupan mengenal masalah disebabkan oleh:
a. Ketidaktahuan tentang fakta
b. Rasa takut tehadap akibat jika masalah diketahui
a) Sosial: dibenci oleh masyarakat, hilangnya penghargaan kawan
dan tetangga.
b) Ekonomi yang kurang: dianggap orang miskin.
c) Fisik/Psikologis: kurang dipercaya bila ada kelemahan
fisik/psikologis
c. Sikap dan falsafah hidup yang betentangan/tidak sesuai.
2. Ketidaksanggupan mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan
yang tepat karena:
a. Tidak mengerti tentang sifat, berat, dan luasnya masalah
b. Masalah tidak begitu menonjol
c. Rasa takut dan menyerahakibat tidak dapat memecahkan masalah
sehingga ditangani sedikit demi sedikit.
d. Kurang pengetahuan mengenai berbagai jalan keluar yang dapat
digunakan.
e. Tidak sanggup memilih tindakan di antara beberapa pilihan.
f. Pertentangan pendapat antar anggota keluarga tentang pemilihan,
masalah dan tindakan.
g. Tidka tahu tentang fasilitas kesehtan yang tesedia.
h. Rasa takut akibat tindakan yang bekaitan dengan sosial, ekonomi,
fisik, dan psikologis.

15
i. Sikap negative terhadap masalah kesehatan sehingga tidak sanggu
menggunakan akal untuk mengambil keputusan.
j. Fasilitas kesehatan tidak tejangkau dalam hal fisik (lokasi) dan biaya.
k. Kurang kepercayaan/keyakinan tehadap tenaga/institusi kesehatan.
l. Kesalahan persepsi akibat pemberian informasi yang salah.
3. Ketidakmampuan merawat/menolong anggota keluarga karena :
a. Tidak mengetahui keadaan penyakit (sifat, penyebaran, komplikasi,
prognosis, dan perawatan), pertumbuhan dan perkembangan anak.
b. Tidak mengetahui tentang sifat dan perkembangan perawatan yang
dibutuhkan.
c. Tidak ada fasilitas yang diperlukan untuk perawatan.
d. Kurang pengetahuan dan keteampilan dalam melakukan prosedur
perawatan/pengobatan.
e. Ketidakseimbangan sumber-sumber yang ada pada keluarga untuk
perawatan dalam hal:
a) Anggota keluarga yang bertanggung jawab
b) Sumbe keuangan/finansial
c) Fasilitas fisik (ruang untuk orang sakit)
f. Sikap negatif kepada yanag sakit
g. Adanya konflik individu
h. Sikap/pandangan hidup.
i. Peilaku mementingkan diri sendiri
4. Ketidakmampuan memelihara lingkungan rumah bisa mempengaruhi
kesehatan dan pengembangan pribadi anggota keluarga karena:
a. Sumbe-sumber keluarga tidak seimbang/tidak cukup.
a) Keuangan
b) Tanggungjawab/wewenag anggota keluarga
c) Fisik (isi rumah yang tidak teatur)-sempit
b. Kurang dapat memelihara keuntungan/manfaat memelihara
lingkungan di masa yang akan datang.
c. Ketidaktahuan tentang pentingnya higine sanitasi
d. Adanya konflik personal/psikologis
a) Krisis identitas, ketidaktepatan eran
b) Rasa iri
c) Rasa bersalah/tersiksa
e. Ketidak tahuan tentang usaha pengcegahan penyakit
f. Pandangan hidup
g. Ketidak kompakan keluarga
a) Sifat mementingkan diri sendiri

16
b) Tidak ada kesepakatan
c) Acuh terhadap anggota keluarga yang mengalami krisis
5. Ketidakmampuan menggunakan sumber di masyarakat untuk memelihara
kesehatan, karena:
a. Tidak tahu atau tidak sadar bahwa fasilitas kesehtan tesedia
b. Tidak memahami keuntungan yang dapat dipeoleh dari fasilitas
kesehatan
c. Kurang percaya terhadap petugas kesehatan dan fasilitas kesehtan
d. Pengalaman yang kurang baik tentang petugas kesehatan.
e. Rasa takut tehadap akibat tindakan (tindkan pencegahan, diagnostik,
pengobatan, rehabilitasi)
a) Fisik/psikologis
b) Keuangan
c) Sosial, seperti hilangnya penghargaan dari kawan dan orang lain.
f. Fasilitas yang diperlukan tidak tejangkau dalam hal ongkos dan
lokasi.
g. Tidak ada fasilitas yang diperlukan
h. Tidak ada atau kurangnya sumber daya keluarga
a) Tenaga seperti penjaga anak
b) Uang untuk ongkos obat
i. Rasa asing atau adanya sokongan dari tipologi masalah keperawatan.
j. Sikap/falsafah hidup.

Cara Memprioritaskan Masalah


Menurut Zaidin (2009), perioritas masalah dapat di susun dengan
cara menggunakan kriteria-kriteria penyusunan skala prioritas sebagai
berikut.
1. Sifat masalah
Skala yang digunakan adalah ancaman kesehatan, ketidak/kuran sehat,
dan krisis yang dapt diketahui. Faktor yang mempengaruhi adalah faktor
kebudayaan.
2. Kemungkinan masalah tersebut dapat diubah/tidak
Bila masalah ini dapat diatasai dengan sumber daya yang ada (tenaga,
dana, dll), masalah akan berkurang atau mencegah lebih meluas. Skala
yang digunakan adalah mudah, hanya sebagian dan tidak dapat.
Dipengaruhi oleh:
a. Pengetahuan yang ada, teknologi, dan tindakan untuk mengatasi
masalah.
b. Sumberdaya keluarga dalam hal fisik, keuangan, tenaga dan waktu.

17
c. Sumber daya perawatan dalam bentuk fasilitas organisasi dalam
masyarakat dan dukungan masyarakat.
3. Potensi masalah untuk dicegah
Sifat dan beratnya masalah akan timbul dapat dikurangi atau dicegah.
Skala yang digunakan adalah tinggi, cukup, dan rendah. Dipengaruhi
oleh faktor:
a. Lamanya masalah (semakin lama, masalah semakin kompleks).
b. Kerumitan masalah. Hal ini berhubungan dengan beratnya penyakit
atau masalah. Pad umumnya, semakin berat masalah, semakin
sedikit kemungkinan dabat diubah/dicegah.
c. Tidakan yang sedang dijalankan adalh tindakan yang tepat dalam
memperbaiki masalah. Tindakan yang tepat akan meningkatkan
kemungkinan untuk mevegah masalah.
d. Adanya kelompok “resiko tinggi” atau kelompok yang sangat peka
meningkatkan potensi untuk mencegah masalah.
4. Menonjolnya masalah
Cara keluarga melihat dan menilai masalah dalam hal beratnya dan
mendesaknya masalah. Skala yang digunakan adalah masalah berat
harus ditangani, masalah tidak perlu ditangani, masalah tidak dirasakan.
Pengukuran Bobot Masalah
Menurut Zaidin (2009), skoring dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut.
Tabel Skala penyusunan Masalah Kesehatan Keluarga Sesuai Prioritas

Kriteria Bobot
1. Sifat masalah 1
Skala: Ancaman kesehatan 2
Tidak/kurang sehat 3
Krisis 1
2. Kemungkinan masalah dapat diubah 2
Skala : Dengan mudah 2
Hanya sebagian 1
Tidak dapat 0
3. Potensi masalah untuk dicegah 1
Skala: Tinggi 3
Cukup 2
Rendah 1
4. Menonjolnya masalah 1
Skala: Maslah berat harus ditangani 2

18
Maslah tidak perlu segera ditangani 1
Masalah tidak dirasakan 0

1. Tentuakan skor setiap kriteria


2. Skor dibagi dengan angka tetinggi dan dikalikan bobot
Skor x Bobot
Angka Tetinggi
3. Jumlah skor untuk semua kriteria, dengan skor tetinggi adalah 5, sama
dengan seluruh bobot.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Harga diri rendah berhubungan dengan riwayat penolakan
2. Isolasi sosial berhubungan dengan perubahan status mental
3. Resiko bunuh diri berhubungan dengan kekerasan psikis

C. Intervensi Keperawatan
Rencana Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria Hasil
keperawatan Intervensi (NIC)
(NOC)
Harga diri NOC Self-Esteem Enhancement
rendah  Self – Esteem 1) Bantu pasien untuk menemukan
berhubungan  Self – Esteem: Chronic Low penerimaan diri
dengan riwayat Setelah dilakukan tindakan 2) Dukung (melakukan) kontak mata
penolakan keperawatan selama ….x24 jam saat berkomunikasi dengan orang
harga diri pasien meningkat, lain
dengan kriteria hasil: 3) Dukung pasien untuk terlibat
1. Verbalisasi penerimaan dalam memberikan afirmasi positif
diri melalui pembicaraan pada diri
2. Penerimaan keterbatasan sendiri dan secara verbal terhadap
diri diri setiap hari
3. Tingkat percaya diri naik 4) Berikan pengalaman yang akan
meningkatkan otonomi pasien
dengan tepat
5) Sampaikan/ungkapkan
kepercayaan diri pasien dalam
mengatasi situasi

19
6) Bantu untuk mengatur tujuan yang
realistik dalam rangka mencapai
harga diri yang lebih tinggi
7) Berikan hadiah atau pujian terkait
dengan kemajuan pasien dalam
mencapai tujuan
8) Fasilitasi lingkungan dan aktivitas-
aktivitas yang akan meningkatkan
harga diri
9) Monitor tingkat harga diri dari
waktu ke waktu dengan tepat
Isolasi sosial Keparahan Kesepian Terapi Aktivitas
berhubungan 1) Pertimbangkan kemampuan klien
dengan Setelah dilakukan tindakan dalam berpartisipasi melalui
perubahan keperawatan selama ….x24 jam aktivitas spesifik
status mental harga diri pasien meningkat, 2) Dorong aktivitas kreatif yang tepat
dengan kriteria hasil: Dukungan Emosional
1) Rasa keputusasaan 1) Eksplorasi apa yang memicu emosi
2) Perasaan terisolasi oleh sosial pasien
3) Rasa dicampakkan 2) Identifikasi fungsi (perasaan)
bahwa marah, frustasi, dan
kemarahan akan kembali lagi pada
pasien
3) Dorong untuk bicara atau
menangis sebagai cara untuk
menurunkan repon emosi
Resiko bunuh Pemulihan Terhadap Pengurangan Kecemasan
diri Kekerasan 1) Gunakan pendekatan yang tenang
berhubungan dan meyakinkan
dengan Setelah dilakukan tindakan 2) Pahami situasi krisis yang terjadi
kekerasan keperawatan selama ….x24 jam dari perspektif klien
psikis harga diri pasien meningkat, 3) Berikan informasi faktual terkait
dengan kriteria hasil: diagnosis, perawatan dan
1) Penyembuhan trauma prognosis
psikologis 4) Dorong keluarga untuk
2) Penyembuhan trauma psikis mendampingi klien dengan cara
yang tepat

20
5) Berikan aktivitas pengganti yang
bertujuan untuk mengurangi
tekanan

BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 Kasus

An.J usia 14 tahun dibawa orang tuanya ke igd RSUA dengan keluhan
demam tinggi 3 hahri terakhir dan perut terasa nyeri. setelah dilakukan
pemeriksaan didapat TD: 100/80, suhu : 38°C, RR: 20 x/menit, SpO2 : 98 . ibu
an.J mengatakan jika anaknya menolak makan dan sering menangis
sebelumnya, diketahui orang tuanya bahwa an.j sering diejek gemuk oleh
teman-teman disekolahnya sehingga berusaha menurunkan berat badannya
dengan diet yang kurang sehat.

3.2 Asuhan Keperawatan

I. Identitas Pasien
Initial : An. J Tanggal Pengkajian: 01 /10 /2019
Umur : 14 tahun No. RM : 123.XXX
Alamat : Surabaya
Pendidikan : SMP
Informan : Orang tua

II. Keluhan Utama


Orang tua mengatakan anaknya demam 3 hari terakhir dan nyeri di
bagian perut, sebelumnya an.j sering menolak berangkat sekolah dan ingin
sendiri saja dirumah sementara orang tuanya bekerja , tidak mau keluar
kamar dan menolak makan dengan alasan ingin diet.

III. Heteroanamnesis

21
1. Riwayat Gangguan Sekarang :
Sejak masuk SMP anak sering menolak makan sehingga seringmerasa
nyeri diperut, sepulang sekolah anak terlihat sering menangis dan
mengurung diri di kamar dan menolak berangkat ke sekolah. Anak
menolak untuk bercerita saat di tanya oleh orang tuanya, kemudian
diketahui jika an.j sering diejek oleh temannya.

2. Riwayat Sebelumnya :
Sebelumnya anak J adalah anak yang pendiam dan hanya memiliki
beberapa teman dekat yang berbeda SMP saat ini, tidak ada masalah
seperti ini sebelumnya saat SD.

IV. Kesan Umum

 Anak pasif saat diajak bicara, kontak mata singkat dengan perawat

 Anak j sering diam melamun

V. Hobi

a. Hobi anak
Saat pengkajian diketahui bahwa sebelumnya An.J hobi menggambar dan
bernyanyi
b. Hobi sosial
Anak J dekat dan berinteraksi dengan orang tua saat dirumah.
c. Hubungan anak dengan teman dekat
An.J memiliki beberapa teman dekat sejak SD namun berbeda SMP saat
ini, saat ini An.J merasa tidak memiliki teman dan selalu diejek.
d. Hubungan anak dengan keluarga
An. J berinteraksi dengan orang tua dirumah namun menolak bercerita
tentang masalah disekolah dan sering menolak makan bersama keluarga.

VI. Kesadaran Sosial Anak


Interaksi dengan orangtua baik namun jarang bermain dengan teman-
teman sebayanya dan mengatakan sering di ganggu teman-teman
disekolahnya. An J merasa rendah diri karena sering di ejek jelek , gendut,
hitam dan tidak punya teman. Aanak j merasa dijauhi teman-teman
disekolahnya dan mendapat tatapan yang buruk sehingga menolak untuk
berinteraksi terlebih dahulu dengan mereka

VII. Riwayat Keluarga

22
== Meninggal == Perempuan

== Laki-laki == Pasien

VIII. Pemeriksaan Psikiatri


a. Kesan Umum
Penampilan Fisik : Tampak murung , lemas , kontak mata kurang
Perilaku : Lebih banyak diam dan melamun
b. Komunikasi anak dengan pemeriksa
An.J lebih sering diam saat ditanya , berbicara pasif dan sulit
mempertahankan kontak mata denga perawat
c. Kesadaran
Kompos mentis
d. Emosi dan Efek
Emosi anak stabil dan afek anak appropriate
e. Proses Berpikir
An.J merasa dirinya jelek dan bodoh sehingga tidak memiliki teman,
merasa dirinya selalu mendapat tatapan buruk oleh teman-temannya
sehingga tidak ada yang mau berteman dengannya.
f. Intelegensi
Kognisi dan memori anak baik
g. Kemauan
An.J mengatakan ingin kurus sehingga melakukan diet
h. Aktivitas motorik
1. Lesu, tegang, gelisah.
2. Agitasi : an.J melakukan gerakan motorik yang menunjukan kegelisahan
seperti menautkan tangan dan mengoyang-goyangkan kaki saat
membahas tentang teman diskeolah
3. Tik : tidak ada
4. Grimasem : tidak ada

23
5. Tremor : tidak ada tremor
6. Kompulsif : tidak ada
7. Alam perasaan
Anak j merasa Sedih berlebihan dengan merasa jelek dan bodoh sehingga
merasa rendah diri dan tidak memiliki teman
8. Ketakutan : objek yang ditakuti sudah jelas
9. Khawatir : objeknya sudah jelas
i. Fungsi Religius
An.J taat beribadah
j. Pemerikasaan Fisik
TTV :
Suhu: 38ºC Nadi : 86x/mnt TB : 150 cm
RR : 20x/mnt TD : 100/80 BB : 70 kg
k. Ideal diri
Harapan klien adalah memiliki tubuh yang ideal dan memiliki banyak teman
l. Harga diri

IX. Afek
Tumpul , anak j hanya menjawab saat ditanya

2. Analisis Data dan Penentuan Masalah

1. Analisis Data
Data Etiologi Diagnosa
Data Subjektif Penilaian internal Harga diri rendah
An. J mengungkapkan individu maupun
tentang: penilaian ekstenal yang
a. Hal negative dari diri negative
sendiri atau orang lain
b. Perasaan tidak mampu
c. Padangan hidup yang Mekanisme koping
pesimis maladaptive
Data Objektif
a. Penurunan
produktivitas, sering Harga diri rendah
melamun dan diam
b. Tidak berani menatap
lawan bicara Gangguan persepsi
sensori

24
c. Lebih banyak
menundukkan kepala
saat berinteraksi
d. Bicara lambat dengan
nada suara lemas
Data Subjektif Ketidak efektifan koping Isolasi sosial
Pasien atau keluarga individu
mengungkapkan tentang
a. Ingin sendiri
b. Menarik diri Gangguan harga diri:
c. Merasa tidak aman di harga diri rendah
tempat umum
d. Perasaan berbeda dari Isolasi sosial
orang lain
Data Objektif
a. Riwayat ditolak Gangguan persepsi
b. Tidak ada kontak mata sensori
c. Terlihat sedih

Diagnosa prioritas
1. Harga diri rendah berhubungan dengan riwayat penolakan

D. Intervensi Keperawatan
Rencana Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria Hasil
keperawatan Intervensi (NIC)
(NOC)
Harga diri NOC 1. Self-Esteem Enhancement
rendah  Self – Esteem a. Bantu pasien untuk menemukan
berhubungan  Self – Esteem: Chronic Low penerimaan diri
dengan riwayat Setelah dilakukan tindakan b. Dukung (melakukan) kontak
penolakan keperawatan selama 1x24 jam mata saat berkomunikasi dengan
harga diri pasien meningkat, orang lain
dengan kriteria hasil: c. Dukung pasien untuk terlibat
4. verbalisasi penerimaan dalam memberikan afirmasi
diri positif melalui pembicaraan pada
5. penerimaan keterbatasan diri sendiri dan secara verbal
diri terhadap diri setiap hari

25
6. tingkat percaya diri naik d. Berikan pengalaman yang akan
meningkatkan otonomi pasien
dengan tepat
e. Sampaikan/ungkapkan
kepercayaan diri pasien dalam
mengatasi situasi
f. Bantu untuk mengatur tujuan
yang realistik dalam rangka
mencapai harga diri yang lebih
tinggi
g. Berikan hadiah atau pujian terkait
dengan kemajuan pasien dalam
mencapai tujuan
h. Fasilitasi lingkungan dan
aktivitas-aktivitas yang akan
meningkatkan harga diri
i. Monitor tingkat harga diri dari
waktu ke waktu dengan tepat

1. Implementasi Keperawatan
No Diagnosa Hari/Tgl Implementasi TTD
1 Harga diri Senin, 1 1. Menyapa an.j dan mengajak berbicara, ell
rendah Oktober 2019 memberikan motivasi dan
pukul 09.00 mengingatkan untuk melakukan kontak
mata saat berkomunikasi
09:30 2. Menberikan motivasi dan dorongan
kepada anak j untuk berkomunikasi
dengan orang lain : misalnya dengan
anak lain yang dirawat diruang yang
sama
09:45 3. Memberikan motivasi tentang
penerimaan diri untuk meningkatkan
kepercayaan dan harga diri anak.j

2. Evaluasi

No Diagnosa Evaluasi

26
1 Harga Diri Rendah S : anak J Mengatakan tidak percaya diri karena
penampilannya

O : Anak J tidak mau berinteraksi dengan orang


lain terlebih dahulu, sering menunduk dan kurang
kontak mata saat diajak berkomunikasi
A : masalah belum teratasi
P : intervensi dilanjutkan

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Bullying adalah bentuk-bentuk perilaku kekerasan dimana terjadi


pemaksaan secara psikologis ataupun fisik terhadap seseorang atau
sekelompok orang yang lebih “lemah” oleh seseorang atau sekelompok
orang.
Perilaku atau perbuatan bullying yang terjadi di kalangan remaja
memiliki bentuk yang beragam antara lain bullying fisik, bullying verbal,
bullying relasional, dan bullying fisik. Bullying fisik adalah perilaku yang
dengan sengaja menyakiti atau melukai fisik orang lain, bullying verbal adalah
perilaku yang dilakukan dengan mengucapkan perkataan yang menyakiti atau
menghina orang lain, bullying relasional adalah perilaku yang mengucilkan
atau mengintimidasi orang lain dalam pergaulan, sedangkan bullying elektronik
adalah perilaku yang menyakiti orang lain dengan menggunakan jejaring sosial
(Budiarti, 2013).

Berdasarkan analisis asuhan keperawan dapat didiagnosa beberapa alasan


seseorang terkena bullying antara lain

1. Harga diri rendah berhubungan dengan riwayat penolakan


2. Isolasi sosial berhubungan dengan perubahan status mental

27
3. Resiko bunuh diri berhubungan dengan kekerasan psikis
Berdasarkan hal tersebut maka hal-hal yang harus dilakukan antara lain :

1. Bantu pasien untuk menemukan penerimaan diri


2. Dukung (melakukan) kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain
3. Dukung pasien untuk terlibat dalam memberikan afirmasi positif melalui
pembicaraan pada diri sendiri dan secara verbal terhadap diri setiap hari
4. Berikan pengalaman yang akan meningkatkan otonomi pasien dengan
tepat
5. Sampaikan/ungkapkan kepercayaan diri pasien dalam mengatasi situasi
6. Bantu untuk mengatur tujuan yang realistik dalam rangka mencapai harga
diri yang lebih tinggi
7. Berikan hadiah atau pujian terkait dengan kemajuan pasien dalam
mencapai tujuan
8. Fasilitasi lingkungan dan aktivitas-aktivitas yang akan meningkatkan
harga diri
9. Monitor tingkat harga diri dari waktu ke waktu dengan tepat

4.2 Saran

Dari berbagai kasus yang terjadi maka, diperlukan penanggulangan


maupun pencegahan agar anak tidak menjadi pelaku bullying dengan
menghimbau para orang tua atau wali dari anak untuk mengembangkan
kecerdasaan emosional anak sejak kecil. Pendidikan untuk memiliki rasa
empati, menghargai orang lain dan memberikan penyadaran pada anak tentang
peran dirinya sebagai mahluk sosial yang memerlukan orang lain dalam
kehidupannya.

Dalam mengatasi dan mencegah bullying diperlukan aturan yang


bersifat menyeluruh yang mengikat antara guru dan muridnya, dari kepala
sekolah hingga wali murid/orang tua, kerjasama antara guru, orang tua dan
masyarakat atau pihak yang berwenang seperti polisi, apparat hukum dan
sebagainya sangan dibutuhkan untuk mengatasi persoalan bullying di sekolah.

28
DAFTAR PUSTAKA

Siswati dan Widayanti, C.G. (2009). Fenomena Bullying Di Sekolah Dasar


Negeri Di Semarang: Sebuah Studi Deskriptif. Fakultas Psikologi Universitas
Diponegoro Semarang. Jurnal Psikologi Undip Vol. 5.(2) 1- 13.

Sudibyo, Aivan. 2012. “Pengaruh Kedekatan dengan Korban dan Sikap


terhadap Bullying terhadap Tindakan Prososial Bystander Bullying di SMA”. Skripsi
S1. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Ela Z.Z, Sahadi H, Meilany B.2017. Faktor Yang Mempengaruhi Remaja


Dalam Melakukan Bullying.Bandung. Jurnal Penelitian & PPM, Vol 4, No: 2.
Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran.

Yuyarti.2018. Mengatasi Bullying Melalui Pendidikan Karakter. Semarang.


Jurnal Kreatif 8 (2) 2018 hal 168-173. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri
Semarang

Agung budi prabowo.2018. Bullying Dan Upaya Pencegahannya Dalam


Layanan Bimbingan Dan Konseling. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan.
Yogyakarta. Universitas Ahmad Dahlan
Bulechek Gloria M, H, J, C. (2014). Nursing Interventions Classification
(NIC) Sixth Edition.Unitedstated of America. ELSEVIER

Herman, T. Heather. 2015. Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi


2015-2017. Ed. 10. Jakarta: EGC.

Moorheaad S, M, M, E. (2014). Nursing Outcomes Classification (NOC) Fifth


Edition. United Stated of America. ELSEVIER

29