Anda di halaman 1dari 17

Titrasi Pengendapan Standarisasi Larutan AgNO3 dan

Aplikasinya pada Penentuan Kadar Cl- pada Air Kran di Kos


Putri Jalan Ketintang Pratama V No. 44, Gayungan, Surabaya,
Jawa Timur

Oleh :

SISILIA FIL JANNATI

18030194012

PKB 2018

PRODI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN


ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


2019

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitaif untuk mengetahui
konsentrasi suatu larutan menggunakan larutan standar secara tetes demi tetes
hingga mencapai titik ekivalen yang ditandai adanya perubahan warna larutan
yang telah ditetesi indikator. Salah satu reaksi yang digunakan dalam titrasi
adalah reaksi pengendapan yang kemudian dikenal dengan titrasi pengendapan
atau argentometri. Titrasi pengendapan adalah metode analisis yang didasarkan
pada pengukuran perak. Titrasi pengendapan adalah golongan titrasi yang hasil
reaksi titrasi merupakan endapan atau garam yang sukar larut. . Endapan
merupakan zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari
larutan. Prinsip dasar dari titrasi pengendapan ini adalah reaksi pengendapan
yang cepat mencapai kesetimbangan pada setiap penambahan titran pada analit
dan tidak ada pengotor yang mengganggu serta diperlukan penambahan
indikator untuk melihat titik akhir titrasi. (Khopkar, 1990)

Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah titrasi
yang melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion
perak Ag+. Titrasi ini biasanya disebut dengan argentometri, yaitu metode
analisis penentuan analit yang berupa ion halide dengan menggunakan larutan
standar perak nitrat AgNO3 yang kemudian akan membentuk endapan Ag+
yang sukar larut. Larutan standar sebagai titran yang diteteskan ke dalam analit
tetes demi tetes hingga mencapai titik akhir titrasi. Reaksi dari titrasi
pengendapan ini adalah Ag+ + X-  AgX(s). Titran yang berupa larutan AgNO3
pertama kali harus distandarisasi untuk diketahui konsentrasinya. Standarisasi
larutan AgNO3 inilah yang akan dilakukan pada praktikum kali ini.

Air merupakan sumber daya alam yang banyak digunakan oleh manusia
dan makhluk hidup lainnya dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi
kebutuhannya. Air ini berasal dari berbagai sumber yaitu salah satunya dari
kran. Komposisi penyusun air tidak hanya hidrogen dan oksigen, tetapi juga
Cl-. Kadar Cl- setiap berbagai sumber berbeda-beda. Berdasarkan penelitian,
kadar Cl- pada air kran yang bersumber dari air PDAM adalah sebesar 185 ppm
atau sekitar 0,0185% (Ngibad, 2019).

Merujuk pada pengertian titrasi pengendapan, penentuan kadar Cl- dapat


dilakukan melalui metode analisi titrasi pengendapan. Terdapat tiga metode
yang digunakan dalam titrasi pengendapan yaitu metode Mohr, metode
Volhard, metode Fajans. Yang membedakan dari ketiga metode tersebut adalah
penggunaan indikator untuk menentukan titik akhir dari titrasi. Indikator yang
digunakan pada titrasi pengendapan akan menunjukkan perubahan ketika akan
mencapai titik akhir titrasi. Pada praktikum kali ini, akan dilakukan penentuan
kadar Cl- pada air kran dari kos putri jalan Ketintang Pratama V No. 44,
Gayungan, Surabaya, Jawa Timur yang bersumber dari air PDAM
menggunakan metode Mohr dengan indikator K2CrO4 yang akan menunjukkan
adanya perubahan warna pada endapan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana cara menentukan standarisasi larutan AgNO3?
1.2.2 Bagaimana cara menentukan kadar Cl- dalam air kran di Kos Putri Jalan
Ketintang Pratama V No. 44, Gayungan, Surabaya, Jawa Timur?
1.3 Tujuan
1.3.1 Menentukan standarisasi larutan AgNO3.
1.3.2 Menentukan kadar Cl- dalam air kran di Kos Putri Jalan Ketintang
Pratama V No. 44, Gayungan, Surabaya, Jawa Timur.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Umum Titrasi Pengendapan


Titrasi adalah suatu metode analisis secara kuantitatif dimana suatu titran
atau larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya diteteskan melalui
buret kedalam larutan lain yang belum diketahui konsentrasinya hingga
mencapai titik ekivalen yang ditandai adanya perubahan warna larutan yang
telah ditetesi indikator. Titk ekivalen adalah titik ketika mol ekivalen titran
sama dengan mol ekivalen titrat atau dengan kata lain adalah titik ketika titran
dan titrat telah habis bereaksi. Setelah titik ekivalen tercapai yang ditandai
dengan perubahan warna indikator, maka titrasi harus dihentikan yang dikenal
dengan titik akhir. Zat yang hendak dicari kadarnya disebut titrat atau analit
sedangkan zat yang sudah kadarnya sudah diketahui disebut titran (Ika, 2009).
Terdapat empat reaksi kimia yang mungkin diperlakukan sebagai basis
dari penentuan titrimetrik. Salah satu reaksi yang mungkin digunakan adalah
reaksi pengendapan. Titrasi yang menggunakan prinsip dari reaksi
pengendapan disebut titrasi pengendapan. Titrasi pengendapan merupakan
metode analisis yang didasarkan pada pengendapan dari kation perak dengan
anion perak. Reaksinya sebagai berikut :
Ag+ + X-  AgX(s)
dimana X- berupa ion klorida, bromida, iodida, ataupun tiosianat (SCN-).
(Day, Underwood, 1999)
Titrasi pengendapan terdiri dari titran yang telah diketahui konsnetrasinya
yang telah distandarisasi dan analit yang hendak diketahui konsentrasinya.
Titran diteteskan kedalam analit hingga mencapai titik akhir titrasi. Endapan
merupakan zat yang memisahkan diri menjadi suatu fase padat keluar dari
larutan. Titrasi pengendapan adalah salah satu golongan titrasi dimana hasil
reaksi dari titrasinya merupakan endapan atau garam yang tidak mudah larut.
Prinsip dasar dari titrasi ini adalah reaksi pengendapn yang terjadi cepat
mencapai kesetimbangan pada setiap penambahan titran, tidak ada pengotor
yang mengganngu serta diperlukan indikator untuk mengetahui titik akhir
titrasi (Khopkar, 1990).
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah titrasi
yang melibatkan reaksi pengendapan anatara ion halide (Cl-, I-, Br-) dengan ion
perak Ag+. Titrasi yang seperti ini biasanya disebut sebagai argentometri.
Istilah Argentometri diturunkan dari bahasa latin Argentum yang berarti perak.
Jadi, argentometri adalah metode analisis kuantitatif untuk menentukan kadar
zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasarkan
pembentukan endapan Ag+. Pada titrasi argentometri, zat analit telah diberi
indikator dicampur dengan larutan garam perak nitrat (AgNO3). Dengan
mengukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag+
dapat tepat diendapkan, kadar garam dalam larutan analit dapat ditentukan
(Day, Underwood, 1999).
Argentometri adalah metode analisis secara kuantitatif yang umum untuk
menetapkan kadar halogenasi dan senyawa lain yang membentuk endapan
dengan perak nitrat pada suasana tertentu (Gandjar,2007). Argentometri tidak
hanya dapat digunakan untuk menentukan ion halida tetapi juga dapat dipakai
untuk menetapkan merkaptan (thioalkohol), asam lemak, dan beberapa anion
divalent seperti ion fosfat dan ion arsenat (Kisman, 1988).
Prinsip dasar dari argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak
mudah larut antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai
adalah titrasi penentuan kadar Cl- pada larutan yang mengandung senyawa
NaCl yang direaksikan dengan titran larutan AgNO3 yang kemudian ion Ag+
dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam AgCl
berwarna putih yang tidak mudah larut. Reaksinya sebagai berikut :
AgNO3(aq) + NaCl(aq)  AgCl(s) + NaNO3(aq)
(Endapan Putih)
(Day, Underwood, 1999)

Dalam suatu titrasi, diketahui bahwa harus tercapai titik ekivalen atau
dalam arti lain saat ekivalen mol titran sama dengan mol analitnya, begitu pula
mol ekivalennya juga berlaku sama. Rumusnya sebagai berikut :
n titran = n analit

n. ekivalen titran = n ekivalen analitnya

n x M titran x V titran = n x M analit x V analit

N titran x V titran = N analit x V titran

(Day, Underwood, 1999)


2.2 Kurva Titrasi Pengendapan
Kurva titrasi untuk titrasi pengendapan dapat dibuat dan secara
keseluruhan analog dengan titrasi asam basa dan pembentukan kompleks.
Perhitungan-perhitungan kesetimbangan yang didasarkan atas tetapan
kelarutan produk diperlukan pada titik ekivalen. (Day, Underwood, 1999).
Perbedaan dari kurva titrasi asam basa dan titrasi pengendapan yaitu pada
kurva titrasi pengendapan hasil kelarutan endapan disubstitusikan ke dalam
harga Ksp. Ada 4 daerah perhitungan pX untuk titrasi pengendapan yaitu :
1. pX mula-mula ditentukan dari konsentrasi analit.
2. pX sebelum titik ekivalen ditentukan dari setelah penambahan titran tapi
belum mencapai titik ekivalen dengan analit.
3. pX titik ekivalen ditentukan saat titik ekivalen tercapai.
4. pX setelah titik ekivalen ditentukan oleh kelebihan titran setelah mencapai
titik ekivalen.

Faktor yang memepengaruhi titik ekivalen :

a. Konsentrasi analit dan titran : makin besar konsentrasinya maka semakin


besar daerah perubahan pAg (pX) sekitar titik ekivalen, sehingga makin
mudah menentukan titik ekivalen
b. Harga Ksp : makin kecil harga Ksp, maka makin cepat terbentuk endapan,
sehingga makin sempurna reaksi pengendapan dan daerah perubahan pAg
sekitar titik ekivalen semakin besar, sehingga makin mudah menentukan
titik ekivalen.

(Harjadi, W, 1990)
Harap dicatat pula bahwa nilai K untuk reaksi titrasi pengendapan :

Ag+ + X-  AgX(s)

adalah

1 1
K=
[𝐴𝑔+ ][𝑋 − ]
=
𝐾𝑠𝑝

Jadi semakin kecil Ksp, semakin besar K untuk titrasi. (Day, Underwood,
1999)

Ketajaman titik ekivalen tergantung dari kelarutan endapan yang terbentuk


dari reaksi antara analit dan titrant. Endapan dengan kelarutan yang kecil akan
menghasilkan kurva titrasi argentometri yang memiliki kecuraman yang tinggi
sehingga titik ekuivalen mudah ditentukan, akan tetapi endapan dengan
kelarutan rendah akan menghasilkan kurva titrasi yang landai sehingga titik
ekivalen agak sulit ditentukan. Hal ini analog dengan kurva titrasi antara asam
kuat dengan basa kuat dan anatara asam lemah dengan basa kuat. (Harjadi,
W,1990)

2.3 Indikator dalam Penentuan Titik Akhir Titrasi Pengendapan


Seperti yang telah diketahui bahwa prinsip dasar dari titrasi pengendapan
adalah pemilihan indikator yang tepat dan cocok untuk menentukan titik akhir
titrasi. Dalam titrasi yang melibatkan garam-garam perak ada tiga indikator
yang telah sukses dikembangkan selama ini. Ketiga metode ini sebagai berikut:
a. Pembentukan dari Sebuah Endapan Berwarna : Metode Mohr
Pada metode ini, indikator yang diguanakan dalam titrasi argentometri
dengan larutan standar AgNO3 adalah Kalium kromat (K2CrO4). Pada titrasi
dengan metode ini akan terbentuk endapan baru yang berwarna. Metode
Mohr daoat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromide dalam
suasana netral dengan larutan standar AgNO3 dan penambahan indikator
K2CrO4. Titrasi dengan metode ini harus dilakukan dalam suasan netral atau
dengan sedikit alkalis pada pH 6,5 – 9,0. Dalam suasana asam, perak kromat
akan larut karena akan terbentuk dikromat dan dalam suasana basa akan
terbentuk endapan perak hidroksida. Reaksinya sebagai berikut :
Asam : 2CrO42- + 2H- ↔ CrO72- + H2O
Basa : 2 Ag+ + 2 OH- ↔ 2AgOH
Indikator menyebabkan terjadinya reaksi pada titik akhir dengan titran
sehingga terbentuk endapan baru berwarna merah bata yang menunjukkan
titik akhir karena warnanya berbeda dari warna endapan analit dengan Ag+.
Pada analisa Cl- mula-mula terjadi reaksi :
Ag+ + Cl-  AgCl
Endapan putih
Sedang pada titik akhir, titrant juga bereaksi menurut reaksi :
2Ag+ + CrO42-  Ag2CrO4
Endapan merah bata
(Khopkar, 1990)
Perak kromat lebih mudah larut daripada perak klorida. Jika ion-ion
perak ditambahkan ke dalam suatu larutan yang mengandung ion klorida
dengan konsentrasi besar dan ion kromat dengan konsentrasi kecil, perak
klorida mengendap terlebih dahulu karena perak kromat tidak terbentuk
sebelum konsentrasi ion perak meningkat samapi kenilai yang cukup besar
untuk melebihi Ksp dari perak kromat (Day, Underwood, 1999).
b. Pembentukan Kompleks Berwarna : Metode Volhard
Metode Volhard didasari oleh pengendapan dari perak tiosinat dalam
larutan asam nitrit, dengan ion besi(III) dipergunakan untuk mendeteksi
kelebihan tiosinat. Reaksinya sebagai berikut :
Ag+ + SCN- AgSCN(s)
Fe3+ + SCN- FeSCN2+ (merah)
(Day, Underwood, 1998)

Metode ini dapat digunakan untuk titrasi langsung dari perak dengan
larutan standar tiosinat atau titrasi tidak langsung dari ion klorida, bromida
dan iodida. Pada titrasi tidak langsung, kelebihan dari perak nitrat standar
ditambahkan yang kemudian dititrasi dengan larutans standar tiosinat
dengan menggunakan indicator ion Fe3+. Ion besi (III) ini akan bereaksi
dengan ion tiosianat membentuk kompleks yang berwarna merah. Reaksi
yang terjadi sebagai berikut :
Ag+(aq) + Cl-(aq)  AgCl(s) (endapan putih)
Ag+(aq) + SCN-(aq)  AgSCN(s) (endapan putih)
Fe3+(aq) + SCN-(aq)  Fe(SCN)2+ (kompleks berwarna merah)
(Khopkar, 1990)
Dalam analisis klorida terdapat sebuah kesalahan yang dibolehkan
bereaksi mengingat AgSCN kurang dapat larut dibandingkan dengan AgCl
karena reaksi ini cenderung bergeser dari kiri ke kanan yang akan
menyebabkan hasil-hasil yang rendah dalam analisis klorida. Dalam
menentukan bromide dengan iodida dengan menggunakan metode tak
langsung Volhard, reaksi dengan tiosinat tidak menimbulkan masalah
karena AgBr mempunyai kelarutan yang hampir sama dengan AgSCN dan
AgI dianggap jauh kurang larut dibandingkan dengan AgSCN. (Day,
Underwood, 1999).
c. Penggunaan Indikator Adsorpsi : Metode Fajans
Titrasi dengan metode ini, senyawa organik yang dipergunakan untuk
hal seperti ini diacu sebagai indikator adsorpsi. Mekanisme yang berlaku
pada metode ini sebagai berikut : dalam titrasi Cl- dengan Ag+, sebelum titik
ekivalen partikel-partkel koloid dari AgCl bermuatan negative, akibat
adsorpsi ion Cl- dari larutan. ion-ion Cl- yang teradsorpsi membentuk
lapisan primer yang mengakibatkan partikel-partikel koloid bermuatan
negative. Partikel-partikel ini menarik ion-ion positif dari larutan untuk
membentuk sebuah lapisan sekunder yang lebih longgar keadaannya. Diatas
titik ekivalen, kelebihan ion-ion Ag+ menggantikan ion-ion Cl- dari lapisan
primer dan pertikel-partikelnya menjadi bermuatan positif (Day,
Underwood, 1999).
Titrasi dengan metode ini contohnya adalah titrasi ion klorida yang
menggunakan flouresein. Fluoresein adalah sebuah asam organik lemah
yang biasa disebut dengan HFI. Dalam larutan, fluoresein akan mengion
menjadi :
HFI  H+ +FI-
Ion FI- inilah yang diserap oleh endapan AgX dan menyebabkan endapan
berwarna merah muda. Flouresein sendiri dalam larutan berwarna hijau
kuning, sehingga titik akhir dalam titrasi ini diketahui berdasar tiga macam
perubahan, yakni endapan yang semula putih menjadi merah muda dan
endapan terlihat menggumpal, larutan yang semula keruh menjadi lebih
jernih, dan yang terakhir larutan yang semula kuning hijau hampir tidak
berwarna lagi. (Harjadi, W, 1990).
Sejumlah factor harus dipertimbangkan dalam memilih sebuah
indikator adsorpi yang cocok untuk sebuah titrasi pengendapan. Faktror-
faktor tersebut antara lain :
a. AgCl seharusnya tidak diperkenankan untuk mengental menjadi partikel-
partikel besar pada titik ekivalen, mengingat hal ini akan menurunkan
secara drastis permukaan yang tersedia untuk adsorpsi dari indikator.
b. Adsorpsi dari indikator seharusnya dimulai sesaat sebelum titik ekivalen
dan meningkat secara cepat pada titik ekivalen.
c. pH dari media titrasi harus dikontrol untuk menjamin sebuah konsentrasi
ion dari indikator asam lemah atau basa lemah tersedia cukup.
d. Amat disarankan bahwa ion indikator bermuatan berlawanan dengan ion
yang ditambahkan sebagai titran.

(Day, Underwood, 1999)


2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan
Dalam penegendapan, dikenal istilah kelrutan. Istilah kelarutan sendiri
mengacu pada konsentrasi sebuah larutan jenuh dari sebuah larutan dalam
sebuah temperature tertentu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
kelarutan adalah sebagai berikut :
1. Temperatur. Semakin meningkat temperatur, maka kelarutannya juga
semakin meningkat
2. Pemilihan Pelarutan. Garam anorganik lebih dapat larut dalam air daripada
dalam larutan organik, kelarutan dalam air lebih besar dari pada dalam
larutan organik.
3. Efek ion-sekutu. Dengan adanya ion sekutu yang berlebihan, kelarutan dari
sebuah endapan bisa jadi lebih besar dari pada tetapan kelarutan produk.
Sebuah endapan secara umum lebih dapat larut dalam air murni
dibandingkan di dalam sebuah larutan yang mengandung satu dari ion-ion
endapan.m
4. Efek aktivitas. Kenaikan kelarutan suatu senyawa akibat hadirnya suatu
garam netral – garam yang tidak mengandung ion yang bereaksi secara
kimiawi dengan endapan.
5. Efek pH. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan efek konsentrasi
ion hidrogen pada kelarutan garam suatu asam lemah.
6. Efek hidrolisis. Jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam air, akan
menghasilkan perubahan (H+), kation dari spesies garam mengalami
hidrolisis sehingga menambah kelarutannya.
7. Hidroksida metal.
8. Efek pembentukan kompleks. Bertambahnya kelarutan suatu senyawa
akibat hadirnya suatu zat yang kompleks-kompleks yang stabil dengan
kation garam itu.

(Day, Underwood, 1999)

2.4 Kelebihan dan Kekurangan Titrasi Pengendapan


Setiap metode yang digunakan dalam penelitian maupun praktikum tentu
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sama halnya dengan metode analisis
titrasi pengendapan juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut
merupakan kelebihan dan kekurangan titrasi pengendapan :
a. Kelebihan
1. Jumlah metode titrasi pengendapan tidak sebanyak titrasi asam basa dan
titrasi redoks.
2. Jumlah sampel yang diperlukan tidak sebanyak titrasi asam basa dan
titrasi redok.
b. Kekurangan
1. Sulitnya memperoleh indikator yang sesuai untuk menentukan titik
akhir pengendapan.
2. Komposisi endapan tidak selalu dapat diketahui secara pasti.

(Khopkar, 1990)

2.5 Standarisasi Larutan AgNO3


Standarisasi merupakan proses dimana konsentrasi ditentukan secara
akurat. Suatu larutan standar terkadang diepersiapkan dengan menguraikan
suatu sampel dari zat terlarut yang diinginkan dan menimbang secara akurat
dalam suatu larutan yang volumenya diukur secara akurat. Sebelum
standarisasi dilakukan, biasanya disiapkan terlebih dahulu larutan baku.
Larutan baku adalah larutan yang mendandung zat yang telah ditetapkan
konsentrasinya secara tepat melalui penimbangan dan perhitungan yang
selanjutnya larutan baku ini digunakan untuk standarisasi larutan. Penentuan
konsentrasi larutan baku ini diperoleh dari perhitungan stoikiometri dengan
rumus sebagai berikut :

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑧𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑘𝑢 1000


𝑀𝑧𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑘𝑢 = ×
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑜𝑙𝑎𝑟 𝑧𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑘𝑢 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒(𝑚𝑙)

Reaksi antara titran dengan substansi yang terpilih sebagai standar primer
harus memenuhi sejumlah persyaratan untuk analisis titrimetrik. Di samping
itu, standar primer harus mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. Harus tersedia dalam bentuk murni, atau dalam suatu tingkat kemurnian
yang diketahui, pada suatu tingkat biaya yang logis. Secara umum, jumlah
total dari pengotor tidak boleh melebihi 0,01 sampai 0,02%, dan harus
dilakukan tes untuk mendeteksi kuantitas pengotor-pengotor tersebut
melalui tes kualitatif dengan sensitivitas yang diketahui.
2. Substansi tersebut harus stabil. Harus mudah dikeringkan dan tidak terlalu
higroskopis sehingga tidak banyak menyerap air selama penimbangan.
Substansi tersebut seharusnya tidak kehilangan berat bila terpapar udara.
Garam hidrat biasanya tidak dipergunakan sebagai standar primer.
3. Yang diinginkan adalah standar primer tersebut mempunyai berat ekivalen
yang cukup tinggi agar dapat meminimalisasi konsekuensi galat pada saat
penimbangan. (Day, Underwood, 1999)

Contoh standarisasi larutan yang biasa dilakukan sebelum melakukan titrasi


pengendapan adalah standarisasi larutan AgNO3 dengan menggunakan larutan
baku NaCl p.a. dengan menggunakan indicator K2CrO4. Reaksi yang terjadi
sebagai berikut :

NaCl(aq) + H2O(l)  NaCl(aq)

Ag+ (aq) + Cl-(aq)  AgCl(s) (aq)

(Endapan Putih)

2Ag+ + CrO42-  Ag2CrO4

Endapan merah bata

(Hadyana, 1989)

2.6 Penentuan Kadar Cl- pada Air Kran


Air merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, hampir 2/3 bagian massa
tubuh berisi cairan. Oleh karena itu, setiap hari dianjurkan untuk minum
delapan gelas air putih. Selain itu, air banyak dimanfaatkan dalam kehidupan
sehari-hari. Air dalam tubuh membantu oksigen untuk bersirkulasi secara
keseluruhan dalam sel tubuh. Air yang sehat harus memenuhi persyaratan fisik,
kimia maupun bakteriologis. Ion klorida merupakan salah anion yang terdapat
dalam air terutama air kran. Tetapi kadar yang dimiliki berbeda-beda dari tiap
air itu sendiri. Unsur klor dalam air terdapat dalam bentuk ion klorida. Korida
biasanya terdapat dalam bentuk senyawa NaCl, KCl, dan CaCl2. Klorida tidak
bersifat toksik pada makhluk hidup, bahkan berperan dalam pengaturan
tekanan osmotic sel (Effendi, Hefni, 2003).
Titasi pengendapan sendiri merupakan suatu metode analisis kuantitatif
yang dapat digunakan untuk mengetahui kadar suatu anion atau kation dalam
suatu larutan. Sehingga titrasi pengendapan ini dapat digunakan untuk
mengetahui kadar Cl- dalam suatu air kran. Reaksinya sebagai berikut :

Ag+ (aq) + Cl-(aq)  AgCl(s) (aq)

(Endapan Putih)

2Ag+ + CrO42-  Ag2CrO4

Endapan merah bata

(Hadyana, 1989)

Setelah didapatkan data dari titrasi yang telah dilakukan, maka dapat
dihitung nilai kadarnya melalui perhitungan stoikiometri dengan rumus sebagai
berikut :
𝑉𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 × 𝑁𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 × 𝐵𝐸𝑎𝑛𝑎𝑙𝑖𝑡
% 𝐶𝑙 − = × 𝐹𝑃 𝑋 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝐵𝑀
Dimana : BE analit = dan FP adalah faktor pengenceran. (Day,
𝑛
Underwood, 1999)
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kadar air kran yang
bersumber dari PDAM adalah sebesar 185 ppm atau sekitar 0,0185% (Ngabid,
2019).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 ALAT
1. Neraca Analitik 1 buah
2. Erlenmeyer 250 mL 3 buah
3. Buret 50 mL 1 buah
4. Labu ukur 100 mL 1 buah
5. Pipet tetes 3 buah
6. Pipet gondok 10 mL 1 buah
7. Gelas kimia 250 mL 2 buah
8. Corong 1 buah
9. Piknometer 25 mL 1 buah
10. Botol vial 1 buah
11. Statif dan Klem 1 set
12. Spatula 1 buah
13. Gelas ukur 10 mL 1 buah
3.2 BAHAN
1. AgNo3 ±0,1 N 50 mL
2. NaCl p.a 0,059 gram
3. Aquades 200 mL
4. Indikator K2CrO4 5% 60 tetes
5. Air kran 10 mL
3.3 PROSEDUR
1. Standarisasi Larutan Basa AgNO3 ± 0,1 N dengan NaCl p.a sebagai
Larutan Baku
Pertama membuat larutan baku NaCl ± 0,1 N. NaCl p.a ditimbang
dengan teliti menggunakan neraca analitik sebanyak 0,059 gram dalam
botol timbang. Kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur 100 mL,
dilarutkan dengan aquades dan diencerkan sampai tanda batas. Lalu dikocok
dengan baik agar tercampur sempurna.
Buret dibilas dan diisi dengan larutan AgNO3. Larutan baku NaCl yang
telah disiapkan, dipipet dengan pipet seukuran (pipet gondok) 10 mL dan
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 mL. Lalu ditambahkan dengan 10
mL aquades dan 10 tetes indikator K2CrO4. Selanjutnya dititrasi dengan
larutan AgNO3 sambil terus dikocok dan titrasi dihentikan ketika terbentuk
endapan berwarna merah bata. Angka pada buret pada saat awal dan akhir
titrasi dicatat, serta volume larutan AgNO3 yang digunakan untuk titrasi
dicatat juga. Kemudian dihitung konsentrasi larutan AgNO3. Titrasi
diulangi hingga 3 kali menggunakan volume larutan NaCl yang sama dan
dihitung konsentrasi rata-rata dari larutan AgNO3.
2. Penentuan Kadar Cl- dalam Air Kran
Air kran diukur berat jenisnya terlebih dahulu dengan piknometer dan
dicatat tempat pengambilan sampel. Air kran dipipet sebanyak 10 mL dan
diencerkan dalam labu ukur 100 mL. Larutan yang telah diencerkan,
diambil 10 mL dan ditambah dengan 10 tetes indikator K2CrO4 5%.
Kemudian dititrasi dengan larutan standar AgNO3 sampai terjadi endapan
merah bata. Percobaan diulang hingga sebanyak tiga kali. Langkah terakhir
adalah dihitung kadar Cl- air kran tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Day, R.A., Underwood, A.L.1999.Quantative Analysis (fifth ed).New York :


Prentice Hall.(terjemahan oleh A.Handayana P.(1989). Analisis Kimia
Kuantitatif (ed ke-5).Jakarta : Erlangga).

Effendi, Hefni.2003.Telaah Kualitas Air.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Gandjar, I.G dan Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.

Hadyana, P.A. 1989. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga. (Terjemahan


dari Day,Jr,R.A.1986.Quantitatives Analysis (sixth ed).London: Prentice
Hall).

Harjadi, W.1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : Gramedia.

Ika, Dani. 2009. Alat Otomatisasi Pengukur Kadar Vitamin C Dengan Metode
Titrasi Asam Basa. Jurnal neutrino. Vol. 1, No 2.

Khopkar,S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.

Kisman, Sarjono. 1988 . Analisis Farmasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press.

Ngibad, Khoirul. 2019. Analisis Kadar Klorida dalam Air Sumur dan Air PDAM
di Desa Ngelom Sidoarjo. Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia. Vol 4, No
1, Hal 1-6.

Anda mungkin juga menyukai