Anda di halaman 1dari 13

SIFAT-SIFAT FISIK LINGKUNGAN PERAIRAN

MAKALAH TEORI
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Limnologi
yang dibina oleh Ibu Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si

Oleh:
Kelompok 1 / Offering L
Ade Ayu Chusnul . M (160342606234)
Permata Windra Deasmara (160342606241)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
PRODI BIOLOGI
Agustus 2019
1.1 Berat Jenis
Berat jenis air pada tempat dan waktu yang berlainan akan berbeda. Perbedaan ini,
walaupun sangat kecil, tetapi pengaruhnya sangat penting terhadap organisme di dalam air.
Pengaruh berat jenis terhadap kehidupan organisme di dalam air adalah adanya kemampuan
air tersebut untuk mengapungkan organisme dan benda lainnya. Berat jenis dipengaruhi oleh:

1. Tekanan (pressure).
2. Kadar garam terlarut dalam air.
3. Kadar garam tersuspensi dalam air.
4. Suhu.

1.1.1 Pengaruh Tekanan dan Zat Tertentu Terhadap Berat Jenis Air
Tekanan hidrostatik merupakan faktor lingkungan yang penting bagi
organisme laut dalam. Semakin dalam perairan semakin tinggi pula tekanan
hidrostatiknya. Setiap turun sedalam 10 meter, tekanan hidrostatik meningkat sebesar
1 atmosfir. Dapat dibayangkan bahwa pada kedalaman 7.000 meter atau daerah hadal
dimana setiap hewan yang hidup pada kedalaman tersebut harus mampu menghadapi
tekanan yang cukup besar yaitu sebesar 700 atmosfir. Suatu tekanan yang luar biasa
besarnya. Sudah dapat dipastikan bahwa yang hidup pada kedalaman tersebut adalah
yang telah terbiasa menghadapi keadaan yang ekstrim.
Pengaruh tekanan terhadap berat jenis air adalah pada tekanan yang lebih
tinggi, berat jenis maksimum berkurang. Kenaikan 10 atmosfir (pada kedalaman
sekitar 100 m di bawah permukaan) suhu dari berat jenis air maksimum berkurang
sebesar sekitar 0,1ºC. Selanjutnya, pengaruh unsur tertentu seperti garam terlarut
dapat menurunkan suhu dari berat jenis air maksimum. Penurunan suhu oleh garam
tersebut adalah sebesar 0,2ºC untuk setiap kenaikan kadar garam 1%. Jadi di laut yang
mempunyai kadar garam 35%, suhu dari berat jenis maksimum adalah -3,52ºC dan
hal ini tidak akan dicapai pada fase cair pada tekanan normal.
1.1.2 Pengaruh Kadar Garam Terhadap Berat Jenis Air
Berat jenis air akan bertambah dengan bertambahnya kadar garam. Hal ini
disebabkan karena tidak semua perairan mengandung kadar bahan terlarut (bahan
tersuspensi) yang sama.

1.1.3 Pengaruh Suhu Terhadap Berat Jenis Air


Perubahan berat jenis air yang disebabkan oleh perubahan suhu merupakan hal
yang penting. Air mempunyai sifat bahwa berat jenisnya tidak bertambah dengan
menurunnya suhu, tetapi mencapai nilai maksimum pada suhu 4ºC (tepatnya 3,94ºC).
Setelah mencapai nilai maksimum pada suhu 4ºC, lalu berkurang sedikit demi
sedikit dan tepat pada waktu membeku mengalami penurunan berat jenis secara
drastis.
Air mempunyai sifat yang khusus diantara zat cair karena molekulmolekulnya
cenderung kuat membentuk kelompok (agregasi) karena sifat-sifat listriknya yang
sangat tergantung pada suhu. Pengaruh suhu terhadap molekul-molekul air ini
menyebabkan terjadinya pemuaian zat cair, akhirnya memberikan grafik suhu dan
berat jenis anomaly. Sifat anomaly air ini sangat penting bagi kehidupan organisme
air di musim dingin. Hal ini karena perairan hanya membeku pada bagian atas,
sedangkan pada bagian bawah air tidak membeku, dan suhu hanya sedikit di bawah
4ºC. Jadi hewan dan tumbuhan yang berada di bawah lapisan es dipengaruhi
perubahan suhu yang terkecil daripada di daratan. Oleh karena itu, perubahan suhu
tersebut tidak terlalu mempengaruhi kehidupan hewan dan tumbuhan yang berada di
bawah lapisan es tersebut.
Terlepas dari sifat anomaly air, perbedaan berat jenis air yang kecil akibat
pengaruh perubahan suhu adalah amat penting bagi kejadian di dalam air. Dengan
kata lain, perbedaan jenis air akan mempengaruhi proses kehidupan di dalam suatu
perairan
1.2 Kekentalan
Kekentalan air merupakan sifat fisika air yang tidak boleh diabaikan. Hal ini
merupakan akibat dari tahanan gesekanyang ditimbulkan oleh suatu zat cair pada benda
bergerak. Besarnya tahanan gesekan ini sebanding dengan :

1. Luas permukaan benda yang berhubungan dengan air.


2. Kecepatan gerak benda.
3. Konstanta yang tergantung pada suhu dan sifat-sifat zat cair

Faktor-faktor yang mempengaruhi kekentalan air, antara lain adalah suhu. Faktor suhu
sangat berpengaruh terhadap kekentalan air, jika suhu naik, maka kekentalan air akan
menurun, sehingga kekentalan air padasuhu 0ºC dua kali lebih besar daripada suhu 25ºC pada
keadaan faktor lainnya. Jasad plankton pada suhu 25ºC akan tenggelam dua kali lebih cepat
daripada 0ºC.
Kekentalan air kira-kira 100 kali lebih besar daripada udara, maka hewan-hewan air
harus mengatasi tekanan yang lebih besar jika dibandingkan dengan hewan yang hidup di
udara. Hal inimenunjukkan bahwa kekentalan air dapat menentukan :

1. Kebiasaan hidup organisme.


2. Bentuk tubuh (morfologi) dari hewan air.
3. Penggunaanenergioleh hewan-hewan air.
4. Merupakan penghalang besar bagi pergerakannya.

1.3 Tegangan Permukaan (Buoyancy)


Tegangan permukaan air timbul akibat aktivitas molekul-molekul air yang tidak
seimbang pada bagian atas dan di bawah permukaan air. Molekul air itu mempunyai
dayatarik menarik terhadap molekul-molekul tetangganya, walaupun mereka mempunyai
kecenderungan untuk bergerak sendiri-sendiri.
Dalam fase cair, daya tarik-menarik masih cukup besar sehingga molekul-molekul zat
cair itu masih tetap ingin berkumpul, yang dinamakan adanya sifat kohesi di dalam cairan
tersebut. Pada bagian permukaannya yang berhubungan dengan udara, ada beberapa molekul
air yang melepaskan diri dari ikatannya dengan molekul-molekul yang lain yang disebut
dengan penguapan.
Daya tarik-menarik terhadap tiap-tiap molekul tersebut ke setiap penjuru, rata-rata
adalah sama. Terjadi gaya tarik-menarik yang orientasinya menuju ke dalam cairan dan yang
menuju ke samping saja, dan daya itu menyebabkan suatu tegangan di lapisan permukaan air
tersebut. Pada permukaan air ini akan ada suatu tegangan juga yang membentuk semacam
“kulit” permukaan. Binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan yang ringan dapat berjalan atau
bergerak di atas “kulit” permukaan air ini. Faktor-faktor yang mempengaruhi tegangan
permukaan air adalah :
1. Suhu
pada suhu tinggi tegangan permukaan air berkurang.
2. Bahan organik dan garam-garam terlarut.
Kenaikan kadar garam menyebabkan kenaikan tegangan permukaan.

1.4 Radiasi Matahari


Radiasi matahari menentukan intensitas cahaya pada suatu kedalaman tertentu dan
juga sangat mempengaruhi suhu perairan. Variasi suhu harian atau tahunan dari suatu
perairan merupakan hasil dari

1. pancaran sinar,
2. penguapan (evaporasi) dan
3. konduksi panas.

Sinar matahari yang jatuh di permukaan air, sebagian akan dipantulkan dan sebagian
lagi menembus ke dalam air. Sinar yang dipantulkan tergantung pada :

1. Bila di dalam perairan Sudut jatuh (sudut inklinasi) Sudut jatuh ialah sudut yang
dihitung dari garis tegak lurus pada permukaan air. Pada sudut jatuh 60o cahaya
dipantulkan sebesar 6%; pada 70o sebesar 13,4% dan 80o sebesar 34,8%.
2. Naungan
3. Keadaan permukaan air Untuk permukaan yang tenang cahaya yang dipantulkan
lebih besar dibandingkan dengan permukaan air yang bergelombang.
4. Lamanya penyinaran Selama sehari terjadi perubahan tinggi matahari sehingga
menyebabkan perubahan-perubahan yang besar dalam bagian cahaya yang
dipantulkan. Hal ini dapat dilihat dari intensitas penyinaran pada sore hari
berkurang lebih cepat di bawah permukaan air daripada di atasnya, sehingga pada
waktu malam hari cahaya bulan yang dipantulkan akan lebih besar.
5. Sifat perairan itu sendiri banyak terdapat partikel-partikel, baik berupa tanah liat
yang sangat halus, butiran-butiran lumpur, fitoplankton maupun zooplankton
akan mempengaruhi cahaya matahari yang menembus perairan. Ditinjau dari segi
produktivitas perairan, cahaya yang menembus permukaan air sangat penting.
Cahaya ini mengalami pembauran (disperse) dan terserap (absorbsi) dan yang
terserap akan dirubah menjadi energi panas.

1.5 Suhu
Intensitas dan kualitas cahaya yang masuk ke dalam air dan yang diserap
menghasilkan panas. Dari sudut ekologi, energi panas ini dan hubungannya dengan hal-hal
yang terjadi di dalam air, merupakan faktor yang sangat penting dalam mempertahankan air
sebagai suatu lingkungan hidup bagi hewan dan tumbuhan.
Suhu merupakan faktor fisika yang penting dimana-mana di dunia. Kenaikan suhu
mempercepat reaksi-reaksi kimiawi; menurut Hukum van't Hoff kenaikan suhu 10°C akan
melipatgandakan kecepatan reaksi, walaupun hukum ini tidak selalu berlaku. Misalnya saja
proses metabolisme akan meningkat sampai puncaknya dengan kenaikan suhu tetapi
kemudian menurun lagi. Setiap perubahan suhu cenderung untuk mempengaruhi banyaknya
proses kimiawi yang terjadi secara bersamaan pada jaringan tanaman dan binatang,
karenanya juga mempengaruhi biota secara keseluruhan. Pada proses penetasan telur
Suhu sangat berpengaruh terhadap lama waktu inkubasi telur, contohnya pada ikan
bandeng makin tinggi suhu air penetasan, makin cepat waktu inkubasi. Pada suhu 29°C
waktu inkubasi 27 – 32 jam dan pada suhu 31,5oC waktu inkubasi 20,5 – 22 jam.
Suhu merupakan salah satu parameter air yang sering diukur, karena kegunaannya
dalam mempelajari proses fisika, kimia dan biologi. Suhu air berubah-ubah terhadap keadaan
ruang dan waktu. Suhu perairan tropis pada umumnya lebih tinggi daripada suhu perairan sub
tropis utamanya pada musim dingin. Penyebaran suhu di perairan terbuka terutama
disebabkan oleh gerakan air, seperti arus dan turbulensi. Penyebaran panas secara molekuler
dapat dikatakan sangat kecil atau hampir tidak ada (Romimohtarto, 1985).
1.6 Warna air

Air murni dan tidak mengandung bahan-bahan yang melayang akan mengabsorpsi
semua bagian cahaya sehingga warnanya hampir hitam. Namun, di alam tidak pernah
ditemukan karena selalu terjadi pemantulan cahaya. Kelompok bahan-bahan yang larut dan
yang melayang yang terdapat di perairan adalah sebagai berikut, seperti protein, lemak,
karbohidrat, serta perombaan ketiga senyawa tersebut. Bahan organik yang melayang (seston)
adalah jasad hidup seperti fitoplankton maupun zooplankton dan bahan mati seperti
tripton:jasad mati, detritus.

Warna perairan dapat ditimbulkan karena adanya bahan-bahan organik (keberadaan


plankton atau humus) maupun anorganik (seperti ion-ion logam besi, dan mangan) (Effendi,
2003). Kebanyakan warna perairan ditentukan oleh komponen seston yang paling banyak.
Plankton alga sering memberikan warna pada air, seperti alga hijau memberikan warna
kehijauan, diatom memberi warnan kekuningan, zooplankton memberi warna kemerahan
sedangkan humus menyebabkan air berwarna hijau atau coklat kuning. Tanin, lignin, dan
asam humus yang berasal dari proses dekomposisi (pelapukan) tumbuhan yang telah mati
menimbulkan warna kecoklatan pada air (Effendi, 2003).

Bahan anorganik juga mampu memberikan warna tertentu, seperti kalsium karbonat
akan menyebabkan warna putih kehijauan. Adanya kandungan bahan-bahan anorganik seperti
oksida pada besi menyebabkan air bewarna kemerahan, sedangkan oksida pada mangan
menyebabkan air menjadi berwarna kecoklatan/kehitaman. Kalsium karbonat yang berasal
dari daerah berkapur juga dapat menimbulkan warna kehijauan pada air (Effendi, 2003).

Sementara itu, warna air pada umumnya disebabkan oleh partikel koloid bermuatan negatif,
sehingga pemurnian warna pada air dilakukan dengan cara menambahkan bahan koagulan
yang bermuatan positif seperti alumunium dan besi (Gabriel, 2001). Warna perairan juga
dapat disebabkan oleh peledakan (blooming) Fitoplankton (algae) (Effendi, 2003). Oleh
karena itu, warna air dapat mengindikasikan adanya zat-zat terlarut dalam air yang sangat
berpengaruh terhadap kualitas air. Misalnya pada peningkatan kadar parameter warna,
berubahnya warna air menjadi kecoklatan hingga hitam dapat mengindikasikan adanya
kandungan bahan kimia seperti logam besi, mangan dan sianida yang berasal dari
pembuangan limbah pabrik (Handayani, 2010).
1.7 Penyebaran panas

Sifat panas air yang mempengaruhi lingkungan perairan adalah panas jenis dan suhu.
Panas jenis adalah banyaknya panas yang diperlukan untuk menaikkan suhu satu satuan berat
air 1 ºC. air termasuk salah satu zat yang mempunyai panas jenis yang tinggi dan hanya
dilampaui oleh beberapa zat saja seperti hydrogen cair, atau ammonia cair (Welch, 1952).
Suhu merupakan factor intensitas dari energy panas. Sumber panas terbesar adalah radiasi
matahari. Panas diambil secara absorpsi langsung oleh air dan sebagian kecil dengan transfer
panas dari udara atau dasar perairan. Energy yang menyebarkan panas suatu perairan
terutama adalah oleh angin. Angin yang menghembus air di permukaan menghasilkan arus.
Kecepatan arus bergantung pada kekuatan angin. Ketika mencapai pantai, maka air yang
bergerak akan dibelokkan kebawah oleh tahanan lapisan bawah yang lebih dingin, berat, dan
tenang. Arus menimbulkan pusaran yang menyebabkan pertukaran partikel air dan
pencampuran air sebagian atau seluruhnya. Pertukaran ini mekin besar dan dibawa ke lapisan
yang lebih dalam dengan makin besarnya kecepatan arus, atau makin kuatnya angin dan
makin kecil perbedaan berat jenis air danau (Suwono, H. 2011)

1.8 Kandungan energy dan kemantapan danau

Kandungan energy yang diakibatkan oleh adanya stratifikasi suhu dan berat jenis
merupakan hal yang penting bagi hidrografi dan jasad-jasad di danau. Setiap perairan
memiliki kandungan panas tertentu. Titik berat suatu perairan yang berada dalam keadaan
stratifikasi terletak lebih dalam daripada yang tidak berada pada stratifikasi. Hal ini
disebabkan karena lapisan yang mempunyai berat jenis lebih besar terletak di bawah.

Berdasarkan perbedaan panas dalam bentuk perbedaan suhu pada setiap kedalaman,
stratifikasi vertikal kolom air pada perairan tergenang dikelompokkan menjadi :

1. Epilimnion, yaitu lapisan sebelah atas perairan yang hangat, perubahan suhu secara
vertikal sangat kecil, seluruh massa air pada ini mengalami pencampuran dengan
baik, karena daya angin dan gelombang.
2. Metalimnion/termoklin, yaitu lapisan di bawah epilimnion, pada mintakat ini setiap
penambahan kedalaman 1 meter terjadi penurunan suhu sekurangkurangnya 1 ºC
3. Hipolimnon, yaitu lapisan di bawah metalimnion, lebih dingin, perbedaan suhu secara
vertikal relatif kecil. Massa air bersifat stagnan, tidak mengalami pencampuran, dan
memiliki air yang lebih besar.
Selanjutnya dijelaskan bahwa lapisan yang terbentuk pada stratifikasi vertikal kolom
air berdasarkan intensitas cahaya (eufotik, kompensasi, afotik) kadangkala berada pada posisi
yang sama dengan lapisan-lapisan yang terbentuk akibat perbedaan panas (epilimnion,
metalimnion/termoklin, dan hipolimnion). Lapisan eufotik merupakan lapisan epilimnion,
adalah lapisan yang paling produktif karena mendapat pasokan cahaya matahari yang cukup
sehingga proses fotosintesis berlangsung optimum (Effendi 2003).

Pada waduk yang memiliki kecerahan sangat tinggi, produksi oksigen oleh
fitoplankton dapat terjadi di epilimnion sampai metalimnion bahkan hipolimnion yang masih
mendapat bagian cahaya (Kimmel et al. 1990 in Octviany 2005). Distribusi horizontal
oksigen di hipolimnion dimodifikasi oleh turbulensi vertikal, perpindahan secara horizontal,
dan aliran air yang bergerak sebagai arus densitas di lapisan bawah (underflow) (Wetzel
2001). Perambatan oksigen juga dapat terjadi dari lapisan atas pada kondisi air yang tenang.

1.9 Pergerakan dan Arus Air

Arus merupakan gerakan massa air dari suatu tempat (posisi) ke tempat yang lain.
Arus dapat bergerak secara vertical maupun horizontal. Pergerakan secara horizontal
terutama diakibatkan oleh angin, sedangkan pergerakan secara vertical disebabkan oleh
perbedaan suhu. Arus yang disebabkan oleh tiupan angin merupakan arus permukaan (drift).
Arus vertical berperan penting terhadap distribusi gas terlarut, mineral, kekeruhan, dan
organisme plantonik. Arus memainkan peranan penting dalam memodifikasi cuaca dan iklim
dunia (Duxbury et al, 2002). Di lingkungan danau dikenal dengan istilah “overturn” atau
pembalikan, yaitu perpindahan masa air dari bagian dalam ke bagian permukaan dan dari
bagian permukaan ke bagian dalam. Pergerakan ini diakibatkan oleh keadaan danau yang
tidak stabil. Misalnya, akibat suhu di bagian dalam sama atau lebih tinggi dari pada suhu di
bagian permukaan, maka terjadi pergerakan air dari bagian dalam ke atas. Pembalikan ini
menyebabkan kadar oksigen bagian permukaan menurun (karena air yang ada di permukaan
berasal dari bagian dalam yang miskin oksigen) akibatnya banyak ikan dan zooplankton
mengalami kematian.

Arus memiliki peran yang sangat penting terutama pada pola sebaran organisme,
pengangkutan energy, pelarutan gas dan mineral dalam air. Terdapat dua tipe arus, yaitu
turbulen dan laminar. Turbulen merupakan arus yang bergerak ke segala arah, sedangkan
laminar merupakan arus yang bergerak ke satu arah saja. Aliran turbulensi merupakan sifat
dari pergerakan dari danau. Gerak turbulensi menjadi besar dan disebut system arus. Menurut
letaknya arus dibedakan menjadi :

1. Arus atas adalah arus yang bergerak di permukaan laut. Faktor pembangkit arus permukaan
disebabkan oleh adanya angin yang bertiup diatasnya. Tenaga angin memberikan pengaruh
terhadap arus permukaan (atas) sekitar 2% dari kecepatan angin itu sendiri. Kecepatan arus ini
akan berkurang sesuai dengan makin bertambahnya kedalaman perairan sampai pada akhirnya
angin tidak berpengaruh pada kedalaman 200 meter (Bernawis,2000).
Oleh karena dibangkitkan angin, arah arus laut permukaan (atas) mengikuti arah angin yang
ada. Khususnya di Asia Tenggara karena arah angin musim sangat terlihat perubahannya
antara musim barat dan musim timur maka arus laut permukaan juga banyak dipengaruhinya.
Arus musim barat ditandai oleh adanya aliran air dari arah utara melalui laut Cina bagian atas,
laut Jawa, dan laut Flores. Adapun pada musim timur sebaliknya mengalir dari arah selatan.

2. Sedangkan arus bawah adalah arus yang bergerak di bawah permukaan laut. Selain
pergerakan arah arus mendatar, angin dapat menimbulkan arus air vertikal yang dikenal
dengan upwelling dan downwelling di daerah-daerah tertentu. Proses upwelling adalah suatu
proses massa air yang didorong ke atas dari kedalaman sekitar 100 sampai 200 meter. Angin
yang mendorong lapisan air permukaan mengakibatkan kekosongan di bagian atas, akibatnya
air yang berasal dari bawah menggantikan kekosongan yang berada di atas.
Oleh karena air yang dari kedalaman lapisan belum berhubungan dengan atmosfer, maka
kandugan oksigennya rendah dan suhunya lebih dingin dibandingkan dengan suhu air
permukaan lainnya. Walaupun sedikit oksigen, arus ini mengandung larutan nutrien seperti
nitrat dan fosfat sehingga cederung mengandung banyak fitoplankton. Fitoplankton
merupakan bahan dasar rantai makanan di lautan, dengan demikian di daerah upwelling
umumnya kaya ikan.
Gambar 1. Gambaran arus atas dan arus bawah

Menurut Bishop (1984), gaya-gaya utama yang berperan dalam sirkulasi massa air
adalah gaya gradien tekanan, gaya coriolis, gaya gravitasi, gaya gesekan, dan gaya sentrifugal.
Gaya-gaya yang bekerja dalam pembentukan arus antara lain tegangan angin, gaya Viskositas,
gaya Coriolis, gaya gradien tekanan horizontal, gaya yang menghasilkan pasut.
Selain angin, arus dipengaruhi oleh paling tidak tiga faktor, yaitu:
1. Bentuk Topografi dasar lautan dan pulau – pulau yang ada di sekitarnya. Beberapa
sistem lautan utama di dunia dibatasi oleh massa daratan dari tiga sisi dan pula oleh
arus equatorial counter di sisi yang keempat. Batas – batas ini menghasilkan sistem
aliran yang hampir tertutup dan cenderung membuat aliran mengarah dalam suatu
bentuk bulatan.

2. Gaya Coriollis dan arus ekman. Gaya Corriolis mempengaruhi aliran massa air, di
mana gaya ini akan membelokkan arah mereka dari arah yang lurus. Gaya corriolis
juga yangmenyebabkan timbulnya perubahan – perubahan arah arus yang kompleks
susunannya yang terjadi sesuai dengan semakin dalamnya kedalaman suatu
perairan.Pembelokan itu akan mengarah ke kanan di belahan bumi utara dan
mengarah ke kiri di belahan bumi selatan. Gaya ini yang mengakibatkan adanya aliran
gyre yang searah jarum jam (ke kanan) pada belahan bumi utara dan berlawanan
dengan arah jarum jam di belahan bumi selatan. Perubahan arah arus dari pengaruh
angin ke pengaruh gaya coriolis dikenal dengan spiral ekman (Pond dan Pickard,
1983).

3. Perbedaan densitas serta upwelling dan sinking. Perbedaan densitas menyebabkan


timbulnya aliran massa air dari laut yang dalam di daerah kutub selatan dan kutub
utara ke arah daerah tropik. Proses upwelling adalah suatu proses massa air yang
didorong ke atas dari kedalaman sekitar 100 sampai 200 meter. Angin yang
mendorong lapisan air permukaan mengakibatkan kekosongan di bagian atas,
akibatnya air yang berasal dari bawah menggantikan kekosongan yang berada di atas.
Oleh karena air yang dari kedalaman lapisan belum berhubungan dengan atmosfer,
maka kandugan oksigennya rendah dan suhunya lebih dingin dibandingkan dengan
suhu air permukaan lainnya.
Walaupun sedikit oksigen, arus ini mengandung larutan nutrien seperti nitrat dan
fosfat sehingga cederung mengandung banyak fitoplankton. Fitoplankton merupakan
bahan dasar rantai makanan di lautan, dengan demikian di daerah upwelling
umumnya kaya ikan.

1.10 Kekeruhan/Turbiditas
Kekeruhan/turbiditas adalah banyaknya partikel tersuspensi di dalam air. Kekeruhan
pada ekosistem perairan berhubungan dengan kedalaman, kecepatan arus, tipe substrat dasar,
dan suhu perairan. Mahida (1986) mendefinisikan kekeruhan sebagai intensitas kegelapan di
dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Kekeruhan perairan umumnya
disebabkan oleh adanya partikel-partikel suspensi seperti tanah liat, lumpur, bahan-bahan
organik terlarut, bakteri, plankton dan organisme lainnya. Effendi (2003), menyatakan bahwa
tingginya nilai kekeruhan juga dapat menyulitkan usaha penyaringan dan mengurangi
efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air. Kekeruhan menyebabkan cahaya matahari
tidak dapat masuk kedalam air sehingga proses fotosintesis terganggu yang menybabkan
adanya gangguan pada vegetasi lain dalam air. Peningkatan kekeruhan pada perairan
berakibat terhadap mekanisme pernafasan organisme perairan. Semakin tinggi kekeruhan,
maka sebagian materi terlarut akan menempel pada bagian rambut-rambut insang sehingga
kemampuan ikan untuk mengambil oksigen akan menurun.
Daftar Rujukan

Bernawis, Lamona I. 2000. Temperature and Pressure Responses on El-Nino 1997 and La-
Nina 1998 in Lombok Strait. Proc. The JSPS-DGHI

Bishop, J.M. 1984. Aplied Oceanography. John Willey and Sons, Inc. New York. 252 p

Duxbury, a; b. Alyn; c. Duxbury and k.a. Sverdrup 2002. Fundamentals of Oceanography-4th


Ed, McGraw-Hill Publishing, New York

Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan
Perairan. Kanisius : Jakarta.

Gabriel, J. F. 2001. Fisika Lingkungan . Penerbit Hipokrates : Jakarta.

Handayani, Novi . 2010. Studi Awal Tentang Sistem Penyediaan Air Bersih di Desa
Karangduwur Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo. Skripsi S-1. UNNES.

Mahida, U. N. 1986. Pencemaran dan Pemanfaatan Limbah Industri. Rajawali Press :


Jakarta.

Octataviany MJ. 2005. Fluktuasi Kandungan Oksigen Terlarut Selama 24 Jam Pada Lokasi
Keramba Jaring Apung Ciputri Di Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur. Skripsi.
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan Dan ILmu
Kelautan. Ianstitut Pertanian Bogor. Bogor. [ Tidak dipublikasikan ]

Pond dan Pickard, 1978. Introductory to Dynamic Oceanography. Pergamon Press,


Oxford Priyana, 1994. Studi pola Arus Pasang Surut di Teluk

Suwono, H. 2011. Limnologi : Konsep Dasar dan Pembelajarannya. Bayumedia