Anda di halaman 1dari 2

Seni Menunda-nunda

15-Apr-18, 04:54

Foto: bingrahita.blogspot.com

Depoedu.com - Anda tipe orang yang baru on fire dalam menyelesaikan sesuatu ketika deadline sudah di depan
mata? Atau apakah Anda lebih sering mencoret item-item kegiatan yang tidak sempat terlaksana ketika tenggat
waktu terpaksa sudah lewat? Atau mungkin Anda tipe orang yang lebih banyak mengeluh tentang sedikitnya 24 jam
dalam sehari karena kadang Anda pergi tidur dengan meninggalkan seabrek rencana yang batal terlaksana? Atau
jangan-jangan Anda bahkan tipe orang yang tidak biasa melakukan segala sesuatu berdasarkan rencana? Kalau
sebagian jawaban Anda adalah “ya”, mungkin Anda tidak perlu lagi membaca tulisan kecil ini. Sebab Anda
sebenarnya sudah paham betul ‘seni’ dari kebiasaan menunda-nunda. Anda bisa jadi malah sudah tahu betul
bagaimana menjadi nyeni dalam hal tunda menunda ini.

Ya, sebab hanya orang-orang yang sudah biasa dan nyaman menunda-nunda pekerjaan dan tugas-tugas yang paham
betul soal hal ini. Ada dua hal yang sudah pasti menjadi pilihan mutlak bagi kita, orang-orang yang lebih sering
menunda daripada menyelesaikan tugas dan pekerjaan kita tepat waktu ini. Yang pertama adalah Anda tidak akan
menyelesaikannya, atau yang kedua Anda baru akan mengerjakannya dan (secara ajaib) menyelesaikan ketika
tenggat waktu sudah dekat dan bahkan tepat di tenggat waktunya. Ajaib! Tetapi itu terjadi. Oleh hampir semua
orang. Termasuk, saya(?).

Nah, dua hal tersebut di atas ternyata disebabkan oleh hanya satu hal saja, yakni, kalimat yang berbunyi: “ah, masih
ada waktu. Nanti saja! ”Saat membaca ini, mungkin Anda mengangguk atau tersenyum. Yes, betul sekali. Kalimat
di atas ampuh sekalisebagai perisai pembelaan diri. Kita selalu bermain-main dengan waktu sepanjang waktu dan
ketika kita gagal menyelesaikan sesuatu secara maksimal dan tepat waktu, kita tetap saja menyalahkan waktu. Ini
juga, ajaib lagi! Maka, di situlah seninya.

Di zaman ini tentu kita masing-masing punya alasan yang (menurut kita sendiri) kuat untuk membela diri saat kita
menunda-nunda tugas dan pekerjaan.Tetapi sebenarnya kadang kita lupa bahwa alasan-alasan itu hanyalah rekaan
belaka. Sebuah reaksi alamiah dari kodrat kita sebagai manusia yang adalah makhluk individu dan egois yang
bahkan terhadap diri sendiri pun kita tidak ingin kalah. Butuh bukti? Mari simak.

1. Menggerakkan jari telunjuk untuk swipe layar ponsel pintar kita sangat bersifat adiktif.

Kadang kita merasa “ah, nanti dulu, masih ada waktu,” lalu kita mulai menggeser layar sentuh ponsel kita naik dan
turun sambil mengikhrarkan niat “hanya 15 menit”. Melihat status si A membuat kita ingin berkomentar lalu dibalas
oleh si B. Kemudian karena balasannya menarik ,kita jadi membuka wall si B. Rupanya di sana ada postingan foto
yang di dalamnya ada wajah kita, sehingga kita merasa perlu meninggalkan komentar di sana. Kemudian datang
balasan si C. Atau si D yang kalau merasa ingin menanggapi lebih pribadi bisa langsung ke japri (jalur pribadi) kita
untuk membahas postingan di A dan si B, barangkali. Apakah Anda sedang mengangguk dan tersenyum lagi kali
ini? Ya, saya juga. Setuju. Itulah yang saya juga sering lakukan. Akibatnya lalu 15 menit sudah berlalu bahkan
sudah bisa dikali empat. 1 jam. Hanya untuk satu laman media social saja. Padahal kita punya berapa akun media
social? Dua, tiga, empat? Minimal dua? Oke. Nah, belum lagi saat hendak menutup ponsel muncul pemberitahuan,
pesan baru via WA di grup. Maka berlanjutlah dan berlanjutlah. Saat alarm berbunyi dalam kepala tentang tugas
yang seharusnya sedang dikerjakan, suara yang lain dari tempat yang sama akan berbunyi,”masih ada waktu, nanti
saja.”Maka berlanjutlah sampai senja menjadi malam dan apa yang kita hasilkan? Tunda lagi.

2. Browsing di terlalu banyak situs sebabkan banjir informasi.

Pengalaman ini bahkan sering sekali terjadi tidak hanya di kalangan siswa atau mahasiswa, tetapi juga mereka yang
sudah bekerja. Dunia teknologi dan informasi yang makin hari makin canggih rupanya tidak serta merta
memudahkan manusia dalam setiap tugas dan pekerjaannya. Justru sebaliknya, cenderung mengarahkan kita kepada
kebiasaan menunda-nunda. Misalnya si E sedang membuka laman internet untuk mencari informasi yang
mendukung tugas makalahnya tentang narkoba.
Dimasukkanlah kata kunci “narkoba” di mesin pencari lalu kegiatan browsing dan surfing dimulai. Sayangnya,
mesin pencari menampilkan sebegitu banyak situs yang mengarah ke kata kunci yang dimasukkan si E. Setelah
meng-klik jawaban teratas, ternyata E diharuskan untuk mengunjungi situs yang lain yang tersedia di bawah tulisan
uraian tentang narkoba di laman yang pertama itu. Dan begitulah seterusnya dan seterusnya. Satu informasi
mengarahkan pencari kepada situs informasi yang lain. Kadang isinya mirip, hanya mengulang. Kadang isinya
berbeda, hanya mendukung. Akibatnya, 30 menit akan dihabiskan si E dengan belasan window yang terbuka di layar
PC. Kebosanan melanda lalu ponsel pintar di sampingnya bergetar. Kembali lagi kepoin yang pertama, dan lewatlah
sudah 1 jam berikutnya bersama jari telunjuk dan layar sentuh ponsel pintarnya.

Sebenarnya masih ada banyak. Anda mungkin bisa menambahkan lebih banyak lagi.Tetapi hampir pasti bakal
kembali ke poin satu lagi. Si biang keladi ‘ketagihan’ teknologi itu tadi. Lalu apa sebenarnya yang terjadi?

Keinginan vs kebutuhanskala prioritas.

Konon katanya ada kata bijak yang berbunyi, seseorang tidak pernah menjadi terlalu sibuk untuk sesuatu. Itu hanya
karena ia belum menjadikannya prioritas. Nah, dari sudut pandang orang Barat (western people) lalu akan
mengatakan,”Indonesians have too many excuses.” Dan itu betul. Benar. Tepat sekali. Kita kerap banyak beralasan.
Untuk mentolerir tidak saja orang lain tetapi juga diri sendiri. Tidak hanya soal kebiasaan (yang kita anggap) baik
tetapi juga kebiasaan (yang sudah jelas) kurang baik. Mengapa begitu? Mungkin memang benar, kita bukannya tidak
sempat, hanya saja kita belum menjadikannya prioritas. Lalu bagaimana? Apakah itu salah? Nah, yang menentukan
itu benar atau salah hanyalah kita sendiri. Kita yang bertanggung jawab penuh atas apa yang kita prioritaskan dan
apa yang masih kita tangguhkan. Jika tidak, kita akan lebih mudah meraih ponsel pintar lalu asyik dengan segala
fiturnya sampai lupa waktu daripada menyadari betul apa yang semestinya kita kerjakan dan mengapa.

Sehingga sebenarnya balik lagi Ke diri sendiri. Segala macam perkembangan dunia masa kini yang semakin hari
semakin mencengangkan saja memang bisa menjadi bumerang. Tergantung kenali diri dan apa yang kita kenal
dengan skala prioritas tadi. Sebab kita diciptakan bukan saja dengan kodrat sebagai makhluk individu dan social
tetapi juga dengan kodrat sebagai pribadi yang berkehendak bebas. Maka bertanggungjawab lah. Dan janganlah
terlalu sering menunda-nunda.Tidak baik jika terlalu nyeni begitu, kan?! Salam. (erlynlasar)
Last edited by supermod; 15-Apr-18, 04:57.
Tags: #browsing, #menunda, #seni, #surfing