Anda di halaman 1dari 11

HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN

KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 1-3 TAHUN DI WILAYAH


PUSKESMAS PARONGPONG, BANDUNG BARAT TAHUN 2019.

Beauty Grace Nainggolan*, Monalisa Sitompul**


Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Advent Indonesia
Emai : nainggolan.grace@ymail.com

Abstrak

Gizi merupakan bagian penting dalam pertumbuhan dan perkembangan, karena


terdapat keterkaitan antara kesehatan dan kecerdasan. Permasalahan gizi, khususnya
stunting pada anak merupakan salah satu keadaan kekurangan gizi yang menjadi
perhatian utama di dunia terutama di negara-negara berkembang. Stunting merupakan
masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu
cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai kebutuhan gizi dan
merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia, dan daya saing bangsa
Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara BBLR
dengan kejadian stunting pada anak usia 1-3 tahun. Penelitian ini menggunakan metode
descriftiv. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara terbuka. Jumlah sampel
pada penelitian ini sebanyak 38 responden dengan menggunakan total sampling dan
uji yang digunakan adalah Chi Square. Hasil penelitian didapatkan bahwa nilai Pvalue
0,005 sehingga dapat disimpulkan ada hubungan signifikan antara BBLR dengan
kejadian stunting. Penelitian ini dapat menjadi bahan masukan untuk mutu pelayanan
kesehatan dan pengembangan keilmuan, keterampilan dalam bidang keperawatan anak
serta kepada peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini dengan
variabel yang lain.

Kata Kunci : BBLR, Stunting pada anak


Daftar Pustaka : 16 (2001-2018)
RELATIONSHIP BETWEEN LOW BIRTH WEIGHT (LBW) WITH STUNTING
EVENTS IN CHILDREN OF 1-3 YEARS IN THE PARONGPONG PUSKESMAS
REGION, BANDUNG BARAT IN 2019

Abstract

Nutrition is an important part of growth and development, because there is a link


between health and intelligence. Nutritional problems, especially stunting in children
is one of the malnutrition conditions which is a major concern in the world, especially
in developing countries. Stunting is a problem of chronic malnutrition caused by
insufficient nutritional intake in a long time due to feeding that does not fit nutritional
needs and is a major threat to human quality, and the competitiveness of the Indonesian
people. The purpose of this study was to determine the relationship between LBW and
the incidence of stunting in children aged 1-3 years. This study uses the descriftiv
method. Data collection uses open interview techniques. The number of samples in this
study were 38 respondents using total sampling and the test used was Chi Square. The
results showed that the value of Pvalue is 0.005 so it can be concluded that there is a
significant relationship between LBW and the incidence of stunting. This research can
be an input for the quality of health services and scientific development, skills in the
field of child nursing and other researchers are expected to develop this research with
other variables.

Keywords : LBW, Stunting in children aged 1-3 years


Bibliography : 16 (2001-2018)
Pendahuluan menjadi 27,5%. Namun prevalensi
balita pendek pada tahun 2017 kembali
Gizi merupakan bagian penting
meningkat menjadi 29,6% (Buletin
dalam pertumbuhan dan
Stunting, 2018).
perkembangan, karena terdapat
Sementara itu, Badan
keterkaitan dan berhubungan dengan
Kependudukan dan Keluarga
kesehatan dan kecerdasan (Ririn,
Berencana Nasional (BKKBN) Jawa
2016). Permasalahan gizi, khususnya
Barat melansir prevalensi stunting di
stunting pada anak merupakan salah
Jawa Barat sudah mencapai angka
satu keadaan kekurangan gizi yang
29,2% atau 2,7 juta balita termasuk di
menjadi perhatian utama di dunia
delapan kabupaten/kota yang memiliki
terutama di negara-negara berkembang
prevalensi stunting masih tinggi
(Darwin 2014).
(BKKBN, 2018). Delapan
Stunting merupakan masalah
kabupaten/kota yang memiliki
kurang gizi kronis yang disebabkan
prevalensi stunting masih tinggi
oleh asupan gizi yang kurang dalam
diantaranya : Garut (43,2%), Sukabumi
waktu cukup lama akibat pemberian
(37,6%), Tasikmalaya (33,3%),
makanan yang tidak sesuai kebutuhan
Bandung barat (34,2%), Majalengka
gizi (MCA-Indonesia, 2014).
(30,2%), dan Purwakarta (30,1%)
Kekurangan gizi terjadi sejak bayi
(BAPPEDA, 2018).
dalam kandungan dan pada masa awal
Stunting merupakan ancaman
setelah bayi lahir, akan tetapi kondisi
utama terhadap kualitas manusia
stunting baru nampak setelah bayi
Indonesia, juga ancaman terhadap
berusia 2 tahun.
kemampuan daya saing bangsa. Hal ini
Prevalensi stunting di dunia
dikarenakan stunted, bukan hanya
sebesar 26,9% dan di negara-negara
terganggu pertumbuhan fisiknya
berkembang di Asia sebesar 31,3%.
(bertubuh pendek/kerdil) saja,
Berdasarkan hasil PSG (2015),
melainkan juga terganggu
prevalensi balita pendek di Indonesia
perkembangan otaknya, yang mana
mencapai angka 29%. Angka ini
tentu akan sangat mempengaruhi
mengalami penurunan pada tahun 2016
kemampuan dan prestasi di sekolah, pada anak-anak dan status gizi kurang
produktivitas dan kreativitas di usia- (DepKes, 2015).
usia produktif (DepKes, 2018). Tingginya angka BBLR
Beberapa faktor yang diperkirakan menjadi penyebab
mempengaruhi kejadian stunting antara penyebab tingginya kejadian stunting di
lain faktor karakteristik orang tua Indonesia. Penelitian di Malawi dengan
seperti pendidikan, pekerjaan, desain kohort menunjukkan bahwa
pendapatan, pola asuh, pola makan, berat badan lahir rendah merupakan
faktor genetik, penyakit infeksi, predictor terkuat kejadian stunting pada
kejadian BBLR, kekurangan energi dan balita usia 12 bulan ( Friska, 2014).
protein, sering mengalami penyakit Pada penelitian lainnya oleh
kronis, dan praktik pemberi makan Sulastri (2012), mendapatkan bahwa
yang tidak sesuai. Defisiensi energi penyebab stunting pada anak sekolah
kronis atau anemia selama kehamilan adalah tingkat pendidikan ibu dan
dapat menyebabkan ibu melahirkan tingkat ekonomi. Penelitian Hidayah
bayi dengan berat badan lahir rendah. (2013) menemukan bahwa ada
Stunting yang dialami anak dapat pula hubungan bermakna antara ASI
disebabkan oleh tidak terpaparnya eksklusif dengan kejadian stunting pada
periode 1000 hari pertama kehidupan anak.
(golden periode) mendapat perhatian Berdasarkan uraian diatas,
khusus karena menjadi penentu tingkat peneliti tertarik untuk lebih lanjut
pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan mengenai Hubungan Berat Badan Bayi
produktivitas seseorang di masa depan, Lahir Rendah (BBLR) dengan kejadian
selain itu pada masa tersebut nutrisi Stunting pada anak usia 1-3 tahun di
yang diterima bayi didalam kandungan Wilayah Puskesmas Parongpong,
dan menerima ASI memiliki dampak Bandung barat tahun 2019.
jangka panjang terhadap kehidupan saat
dewasa. Hal ini dapat terlampau maka
akan terhindar dari terjadinya stunting
Metode Penelitian Dalam penelitian ini rumus
sample yang digunakan adalah total
Penelitian ini menggunakan sampling dengan tekhnik probability
metode deskriptif, dengan desain studi sampling dengan tipe random sampling
cross sectional. Instrumen yang yaitu metode pengambilan sampel
digunakan dalam pengumpulan data secara acak sederhana tanpa
adalah wawancara dengan metode memperhatikan strata yang ada dalam
pertanyaan terbuka. populasi. Instrumen yang digunakan
untuk pengumpulan data adalah
Pada penelitian ini
wawancara yang terdiri dari nama anak,
menggunakan 2 analisa yaitu analisa
pekerjaan ibu, pendidikan ibu, BB lahir
univariat untuk menghitung distribusi
anak, Panjang badan lahir anak, riwayat
frekuensi dan analisa bivariat
ASI Eksklusif, Riwayat imunisasi
menggunakan uji chi square karena
lengkap.
data yang digunakan adalah kategorik.

Skema 1 Hasil Penelitian


Kerangka Konsep Penelitian

Hubungan Berat Badan Bayi


BBLR STUNTING
Lahir Rendah (BBLR) dengan kejadian
Stunting pada anak di Wilayah
- Pendidikan Ibu Puskesmas Parongpong, Bandung barat
- Jenis Kelamin tahun 2019.
- Panjang badan lahir
- BB Lahir
- ASI Ekslusif

Keterangan
: Variabel Independen
: Variabel Dependen
: Covariate
Tabel 1 Berdasarkan tabel 1 distribusi

Kategori Frekuensi % responden berdasarkan pendidikan ibu


bahwa sebagian besar ibu responden
Pendidikan
berpendidikan SD yaitu 16 responden
Ibu
(42,1%). Distribusi responden
SD 16 42,1
berdasarkan jenis kelamin menunjukan
SMP 8 21,1
bahwa 20 responden (52,6%) berjenis
SMA 14 36,8
kelamin perempuan. Distribusi
PT - -
responden berdasarkan pemberian ASI
Total 38 100
Eksklusif menunjukan bahwa sebanyak
Jenis Kelamin
22 (57,9%) memiliki riwayat ASI
Anak
Eksklusif. Responden berdasarkan PBL
Perempuan 20 52,6
Anak bahwa sebesar 94,7% anak
Laki-laki 18 47,4
memiliki panjang badan lahir ≥45cm
Total 38 100
sebanyak 36 responden (100%).
ASI Ekslusif
Responden berdasarkan BBL Anak
Ya 22 57,9
bahwa sebagian besar responden
Tidak 16 42,1
memiliki BBL <2500 gram yaitu 9
Total 38 100
responden (76,3%).
PBL Anak
<45 cm 2 5,3
≥45 cm 36 94,7
Total 38 100
BBL Anak
<2500 gram 29 76,3
≥2500 gram 9 23,7
Total 38 100
Tabel 2

Jenis Faktor BBL Total OR P


Normal Rendah (95% CI) Value
n % n % n %
Stunting
Ya 9 23,7 4 10,6 13 34,3 25,5 0,005
Tidak 0 0 25 65,7 25 65,7
Total 9 23,7 29 76,3 38 100

Pada tabel 2 Hubungan Berat 16 responden (42,1%) dengan


Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) pendidikan SD. Pendidikan merupakan
dengan kejadian Stunting pada anak di pembelajaran pengetahuan,
Wilayah Puskesmas Parongpong, keterampilan, dan kebiasaan seseorang,
Bandung barat. Hasil uji statistik semakin tinggi tingkat pendidikan
didapatkan nilai Pvalue 0,005 yang seseorang maka semakin banyak
artinya Pvalue >0,05, maka dapat pengetahuan yang didapat dan semakin
disimpulkan ada hubungan yang mudah dalam memperoeh pekerjaan
signifikan antara Berat Badan Bayi (Desiana, 2018). Sebaliknya
Lahir Rendah (BBLR) dengan kejadian pendidikan yang kurang akan
Stunting. Dengan nilai OR 25,5, artinya menghambat perkembangan sikap
bayi yang mengalami BBLR seseorang terhadap nilai-nilai yang baru
mempunyai peluang 25 kali untuk dikenal.
mengalami stunting dibandingkan bayi Selain itu, tingkat pendidikan
yang BBL normal. turut menentukan mudah tidaknya
seseorang menyerap dan memahami
Pembahasan pengetahuan gizi dan kesehatan. Hal ini
berkaitan erat dengan wawasan
Berdasarkan hasil data yang
pengetahuan mengenai sumber gizi dan
didapat, berdasarkan tingkat
jenis makanan yang baik untuk
pendidikan ibu responden menunjukan
konsumsi keluarga. Kondisi demikian
ini menyebabkan orang tua kurang stunting. Hasil ini tidak sejalan dengan
optimal dalam memenuhi kebutuhan penelitian yang dilakukan oleh Hidayah
gizi anak, sehingga menyebabkan anak (2013) yang mengemukakan bahwa ada
mengalami stunting (Almatsir dalam hubungan bermakna antara ASI
Putra, 2016). eksklusif dengan kejadian stunting pada
Berdasarkan hasil data jenis anak.
kelamin yang didapat, bahwa sebanyak ASI adalah cairan hidup yang
20 responden (52,6%) berjenis kelamin mengandung zat kekbalan tubuh yang
perempuan. Hal tersebut sejalan dengan akan melindungi bayi dari berbagai
penelitian yang dilakukan oleh penyakit infeksi bakteri, virus, parasit
Winowatan (2016) bahwa kejadian dan jamur. ASI mengandung lebih dari
stunting pada anak perempuan lebih 200 unsur-unsur pokok, antara lain zat
banyak dibanding anak laki-laki. putih telur, lemak, karbohidrat, vitamin,
Namun hal ini tidak sesuai dengan mineral, faktor pertumbuhan, hormon,
penelitian yang dilakukan oleh Nadiyah enzim, zat kekebalan, dan sel darah
(2014) dimana anak yang berjenis laki- putih. Semua zat ini terdapat secara
laki cenderung lebih besar terjadi proporsional dan seimbang satu dengan
stunting dibanding anak perempuan. yang lainnya (Fikawati, 2015).
Berdasarkan hasil data riwayat Rekomendasi dari The American
ASI Ekslusif didapat, jumlah responden Dietetic Association (ADA) dan The
yang mendapatkan ASI Ekslusif American Academy of Pediatric (AAP)
sebanyak 22 responden (57,9%). Hal adalah memberikan ASI Eksklusif.
tersebut sama dengan penelitian yang Pemberian ASI Eksklusif dilakukan
dilakukan oleh Putra pada tahun (2016), pada bayi selama 6 bulan pertama,
hasil menunjukan bahwa pemberian kemudian dilanjutkan dengan diberikan
ASI Ekslusf tidak berhubungan secara makanan pendamping ASI (MP-ASI)
signifikan terhadap kejadian stunting. minimal hingga usia 24 bulan (Trahms,
Akan tetapi, jika tidak memberikan ASI 2004).
Ekslusif akan meningkatkan risiko Hasil hubungan Berat Badan
sebesar 2 kali terhadap kejadian Bayi Lahir Rendah (BBLR) dengan
kejadian Stunting pada anak di Wilayah infeksi atau diare, konsumsi makanan
Puskesmas Parongpong, Bandung yang menurun (Gizi Indonesia).
barat, berdasarkan uji statistik Chi Selain itu juga beberapa faktor
square diperoleh nilai Pvalue 0,005 yang mempengaruhi kejadian stunting
artinya Pvalue > 0,05, sehingga seperti status ekonomi yang menjadi
disimpulkan ada hubungan yang penunjang dalam tumbuh kembang
signifikan antara hubungan Berat anak, karena orang tua dapat
Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) menyediakan semua kebutuhan anak
dengan kejadian Stunting pada anak. baik primer maupun sekunder
Hasil tersebut sama dengan (Soetjiningsih, 2004). Anak kurang gizi
penelitian yang dilakukan oleh Rahayu yang daya tahan terhadap penyakitnya
(2015) dan Putra pada tahun (2016), rendah, jatuh sakit, sehingga
hasil penelitian menunjukan ada mengurangi kapasitasnya untuk
hubungan antara BBLR dengan melawan penyakit (Sitepoe, 2013).
kejadian stunting pada anak dibawah Sehingga hal ini dapat menggambarkan
usia 2 tahun. adanya gangguan pertumbuhan tinggi
Namun penelitian ini tidak badan dan menurunnya berat badan
sejalan dengan penelitian yang (Welassih, 2012)
dilakukan oleh Winowatan pada tahun
Kesimpulan
(2016), hasil penelitian menunjukan
bahwa tidak terdapat hubungan antara Hasil uji statistik Chi square
berat badan lahir dengan stunting pada diperoleh nilai Pvalue 0,005 artinya
balita. Hal tersebut dikarenakan berat Pvalue > 0,05, sehingga disimpulkan
badan yang merupakan salah satu ada hubungan yang signifikan antara
ukuran tubuh yang paling banyak hubungan Berat Badan Bayi Lahir
digunakan dalam memberi gambaran Rendah (BBLR) dengan kejadian
massa jaringan, termasuk jaringan Stunting pada anak. Dengan nilai OR
tubuh sangat mudah dipengaruhi oleh 25,5, artinya bayi yang mengalami
keadaan mendadak, seperti terserang BBLR mempunyai peluang 25 kali
untuk mengalami stunting Friska. (2014). Pengaruh BBL terhadap
Kejadian Stunting. Malawi :
dibandingkan bayi yang BBL normal.
UMS

Saran
Hidayah, F. (2013). Eksklusif sebagai
Faktor Kejadian Stunting pada
Anak. Yogyakarta : UGM
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat menjadi bahan masukan untuk
Notoatmodjo. (2010). Metodologi
mutu pelayanan kesehatan dan
Penelitian Kesehatan. Jakarta :
pengembangan keilmuan, keterampilan Rineka Cipta
dalam bidang keperawatan anak serta
kepada peneliti lain diharapkan dapat Nursalam. (2014). Metodologi
Penelitian Ilmu Keperawatan
mengembangkan penelitian ini dengan
Edisi 3. Jakarta : Salemba Medika
variabel lain yang lebih luas dan uji
statistik yang memiliki akurasi lebih.
Putra, Onetusfifsi. (2016). Pengaruh
BBLR terhadap kejadian stunting
pada anak. Padang : Universitas
Daftar Pustaka
Andalas
Almatsier. (2001). Prinsip Dasar Ilmu
Gizi. Jakarta : PT Gramedia
Rahayu, Atikah. (2016). Riwayat BBL
Pustaka Utama
dengan Kejadian Stunting pada
Anak Usia dibawah Dua Tahun.
Banjarmasin : Universitas
Balitbangkes. (2018). Riset Kesehatan
Lambung Mangkurat
Dasar. Jakarta : Kementerian
Kesehatan RI
Ririn. (2016). Pengaruh Pos Gizi
terhadap Pengetahuan dan Pola
DKK. (2018). Profil Kesehatan Prov.
Asuh Ibu Balita. Ngawi : UMS
Jawa Barat.

Sitepoe M. (2013). ASI Eksklusif.


Fikawati. (2015). Gizi Ibu dan Bayi.
Jakarta : PT. Index
Jakarta : PT Grafindo Persada

Soetjiningsih. (2004). Tumbuh


Kembang Anak. Jakarta : EGC
Trahms, dkk. (2004). Krauses food,
nutrition, and diet therapy. USA :
Saunders

Welassih BD. (2012). Beberapa Faktor


yang Berhubungan dengan Status
Gizi Balita Stunting. The
Indonesian Journal of Public
Health

Winowatan, Gabrielisa. (2015).


Hubungan antara BBL anak
dengan Kejadian Stunting pada
Anak Batita. Indonesia : Fakultas
Kesehatan Masyarakat
Universitas Sam Ratulangi