Anda di halaman 1dari 19

RINGKASAN MATA KULIAH

PENGAUDITAN II

PENGAUDITAN SIKLUS PEMBELIAN DAN PEMBAYARAN

Oleh:

KELOMPOK 3

1. Raden Fernando Wijaya Kushendarto (1707532009)


2. Dewa Gde Yudhi Astawa (1707532018)
3. I Kadek Dwi Handika Putra (1707532034)

Dosen: Dr. Drs. I Dewa Gede Dharma Suputra, M.Si., Ak

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2019
1.1 AKUN-AKUN DAN GOLONGAN TRANSAKSI DALAM SIKLUS PEMBELIAN
DAN PEMBAYARAN

Tujuan pengauditan atas siklus pembelian dan pembayaran adalah untuk menilai
apakah akun-akun yang dipengaruhi oleh pembelian barang dan jasa serta pengeluaran kas
untuk pembelian tersebut telah disajikan secara wajar sesuai dengan standar akuntansi
keuangan. Gambar 15-1 melukiskan bagaimana aliran informasi akuntansi melalui berbagai
akun di dalam siklus pembelian dan pembayaran. Ada tiga kelompok transaksi yang tercakup
dalam siklus ini, yaitu:

1. Pembelian barang dan jasa


2. Pengeluaran kas
3. Retur pembelian dan potongan pembelian

Gambar 15-1 Akun-akun dalam Siklus Pembelian dan Pembayara

Ada 10 akun yang lazim digunakan dalam siklus pembelian dan pembayaran seperti
yang ada dalam akun T pada Gambar 15-1 di atas.
2.1 FUNGSI-FUNGSI BISNIS DAN DOKUMEN SERTA CATATAN DALAM SIKLUS
PEMBELIAN DAN PEMBAYARAN

Siklus pembelian dan pembayaran menyangkut pengambilan keputusan dan proses untuk
mendapatkan barang dan jasa untuk menyelenggarakan suatu bisnis. Siklus biasanya diawali
dengan pembuatan permintaan pembelian oleh pejabat yang memiliki kewenangan untuk
mengajukan permintaan pembelian, dan diakhiri dengan pembayaran utang usaha yang timbul
dari pembelian tersebut. Tiga fungsi pertama adalah untuk pencatatan pembelian barang dan
jasa secara kredit, dan fungsi keempat adalah untuk pencatatan pengeluaran kas untuk
pembayaran ke pemasok. Untuk menyederhanakan, dalam ilustrasi ini tidak akan dibahas
tentang retur pembelian dan potongan pembelian, walaupun kedua hal tersebut terjadi dalam
siklus ini, tetapi jumlahnya tidak signifikan.
Tabel 15-1 Golongan Transaksi, Akun-akun, Fungsi Bisnis, dan Dokumen serta Catatan
untuk Sikius Pembelian dan Pembayaran
Golongan
Akun Fungsi Bisnis Dokumen dan Catatan
Transaksi
Pembelian Persediaan Properti, Pembuatan order Permintaan pembelian
peralatan, aset tetap pembelian Order pembelian
lainnya Beban
dibayar di muka
Utang usaha Beban
pabrik Beban Laporan penerimaan
penjualan Beban Penerimaan barang barang dan jasa
administrasi dan jasa
Faktur dari penjual
Memo debet Voucher
Pengakuan utang File transaksi pembelian
Jurnal pembelian
Master file utang usaha
Daftar utang usaha
Laporan dari pemasok

Check Pembayaran
File transaksi kas

Jurnal pengeluaran kas


Kas di bank (untuk pengeluaran
pengeluaran kas)
Utang usaha
Pengeluaran kas Potongan pembelian
Pembayaran dan
pencatatan
pengeluaran kas.

2.2 PEMBUATAN ORDER PEMBELIAN


Pengajuan permintaan untuk membeli barang atau jasa oleh pejabat perusahaan klien
adatah kegiatan awal siklus ini. Formulir yang digunakan dan pemberian persetujuan
(approval) tergantung pada sifat barang dan jasa serta kebijakan yang diterapkan perusahaan.
Dokumen-dokumen yang lazim digunakan meliputi:
a) Permintaan Pembelian
Formulir permintaan pembelian digunakan untuk meminta barang dan jasa oleh pejabat
perusahaan yang diberi kewenangan untuk mengajukan permintaan pembelian (misalnya:
Kepala Gudang atau Kepala Departemen Produksi).
b) Order Pembelia
Order pembelian adalah dokumen yang digunakan untuk memesan barang dan jasa dari
pemasok. Dokumen ini berisi deskripsi, kuantitas, dan informasi lain yang berhubungan
dengan barang dan jasa yang diinginkan perusahaan untuk dibeli dan seringkali digunakan
untuk menunjukkan persetujuan pembelian.
2.3 PENERIMAAN BARANG DAN JASA
Penerimaan barang dan jasa oleh perusahaan dari pemasok adalah saat yang paling
kritis dalam sikius ini, karena saat ini oleh kebanyakan perusahaan dipakai pertama kali untuk
mengakui pembelian dan utang yang bersangkutan.
2.4 PENGAKUAN KEWAJ1BAN (UTANG)
Pengakuan kewajiban yang tepat atas barang dan jasa yang telah diterima menuntut
adanya pencatatan yang tepat dan akurat. Pencatatan pertama kali mempengaruhi laporan
keuangan dan pengeluaran kas yang sesungguhnya. Oleh karena itu perusahaan harus seksama
dalam memasukkan semua transaksi pembelian.
a. Faktur dari Pemasok
Faktur dari pemasok adalah dokumen yang diterima dari penjual dan
menunjukkan jumlah yang terutang yang berasal dari pembelian barang dan jasa.
Dokumen tersebut menyebutkan deskripsi barang atau, jasa, kuantitas barang dan jasa
yang diterima, harga (termasuk biaya pengangkutan), ketentuan tentang potongan
harga, tanggal faktur, dan total harga faktur.
b. Memo Debet
Memo Debet juga merupakan dokumen yang diterima dari pemasok dan
menunjukkan pengurangan atas jumlah yang terutang yang disebabkan karena adanya
pengembalian (retur) barang ke pemasok atau diterimanya pengurangan harga.
c. Voucher
Voucher biasanya digunakan dalam suatu organisasi untuk menetapkan cara
yang formal dalam pencatatan dan pengawasan pembelian, terutama dengan membuat
agar setiap transaksi pembelian bernomor urut.
d. File Transaksi Pembelian
File transaksi pembelian adalah file yang dihasilkan komputer yang mencakup
semua transaksi pembelian yang diproses oleh sistem akuntansi untuk suatu periode
tertentu, misalnya satu hari, satu minggu, atau sebulan. File tersebut berisi semua
informasi.
e. Jurnal Pembelian
Jurnal Pembelian dihasilkan dari file transaksi pembelian dan biasanya berisi
nama pemasok, tanggal, jumlah, dan kelompok akun untuk setiap transaksi, seperti
reparasi dan pemerliharaan, persediaan, atau kelompok akun lainnya.
f. Master File Utang Usaha
Master file utang usaha mencatat transaksi pembelian, pengeluaran kas, dan
retur pembelian untuk setiap pemasok. Master file ini dimutahirkan (updated) dari file
transaksi komputer untuk pembelian, retur pembelian, dan pengeluaran kas.
g. Daftar Utang Usaha
Sesuai dengan namanya, daftar utang usaha berisi daftar jumlah yang terutang
kepada masing-masing pemasok atau untuk setiap faktur, atau voucher pada suatu saat
tertentu. Daftar ini dibuat langsung dari master file utang usaha.
h. Laporan dari Pemasok (Vendor's Statement)
Laporan dari pemasok adalah dokumen yang dibuat oleh pemasok setiap akhir
bulan dan menunjukkan saldo awal, pembelian, retur pembelian, dan pembayaran ke
pemasok tersebut, serta saldo akhir.
2.5 PENGOLAHAN DAN PENCATATAN PENGELUARAN KAS
Pada kebanyakan perusahaan, pembayaran untuk pembelian barang dan jasa
merupakan aktivitas yang signifikan. Aktivitas ini secara langsung akan mengurangi saldo
akun kewajiban, biasanya akun utang usaha. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan proses
pembayaran yang akan diperiksa auditor meliputi:
1. Check
Dokumen ini biasa digunakan untuk pembayaran pembelian pada saat
kewajiban jatuh tempo. Banyak perusahaan menggunakan komputer untuk menyiapkan
check berdasarkan informasi yang tercantum dalam file transaksi pembelian pada saat
barang dan jasa diterima.
2. File Transaksi Pengeluaran Kas
File ini dihasilkan komputer yang meliputi seluruh transaksi pengeluaran kas
yang diolah sistem akuntansi untuk suatu periode tertentu, mungkin per hari, per
minggu, atau per bulan. File ini berisi jenis informasi yang sama seperti telah dibahas
pada file transaksi pembelian.
3. Jurnal Pengeluaran Kas
Ini adalah daftar atau laporan yang dihasilkan dari file transaksi pengeluaran
kas yang mencakup seluruh transaksi pada suatu periode waktu tertentu. Transaksi yang
sama, termasuk semua informasi yang relevan, dimasukkan ke dalam master file utang
usaha dan buku besar.

3.1 METODOLOGI UNTUK PERANCANGAN PENGUJIAN PENGENDALIAN


DALN PENGUJIAN SUBSTANTIF GOLONGAN TRANSAKSI

Dalam pengauditan pada umumnya, akun-akun yang paling banyak menyerap waktu
pemeriksaan adalah piutang usaha, persediaan, aset tetap, utang usaha, dan akun beban.
Pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi untuk siklus pembelian dan
pembayaran terbagi dalam dua bagian besar berikut:
1. Pengujian pembelian, yang berkaitan dengan tiga dari empat fungsi bisnis yang telah
disinggung di atas, yakni: order pembelian, penerimaan barang dan jasa, dan pengakuan
utang.
2. Pengujian pengeluaran kas, yang berkaitan dengan fungsi keempat, yakni; pengolahan
dan pencatatan pengeluaran kas.
3.2 PEMAHAMAN PENGENDALIAN INTERNAL
Pemahaman tentang pengendalian internal untuk siklus pembelian dan pembayaran
sebagai bagian dari prosedur penilaian risiko, dapat diperoleh auditor dengan mempelajari
bagan alir yang berlaku pada perusahaan klien, mereview daftar pertanyaan pengendalian
internal, dan melaksanakan pengujian mengikuti jejak transaksi pembelian dan pengeluaran
kas
3.3 MENILAI RISIKO PENGENDALIAN YANG DIRENCANAKAN

Selanjutnya pemeriksakan di lakukan atas pengendalian internal kunci untuk setiap fungsi
bisnis seperti:

1. Otorisasi Pembelian
Memastikan bahwa barang dan jasa yang diperoleh adalah demi memenuhi tujuan
perusahaan yang diotorisasi, dan menghindari pembelian yang berlebihan atau tidak
diperlukan.
2. Pemisahan Pemegang Aset Dari Fungsi Lainnya
Untuk mencegah pencurian dan penyalahgunaan, barang harus dikendalikan secara
fisik dari saat penerimaannya hingga penggunaan atau pelepasannya. Personel di
departemen harus independen dari bagian gudang dan departemen akuntansi.
3. Pencatatan Tepat Waktu dan Review Independen Atas Transaksi
Pembelian harus dicatat tepat waktu tergantung kebijakan perusahaan, bisa pada saat
penerimaan barang atau ditangguhkan sampai faktur pemasok diterima. Pencatat
pembelian tidak boleh memiliki akses ke kas, sekuritas, dan aktiva lainnya.
4. Otorisasi pembayaran
Pengendalian terpenting atas pengeluaran kas meliputi :
 Penandatanganan check oleh individu yang diberi otorisasi oleh perusahaan
 Pemisahan tanggungjawab untuk menandatangani check dan melaksanakan fungsi
utang usaha
 Pemisahan yang cermat atas dokumen pendukung oleh penandatanganan check
sebelum suatu check ditandatangani.
3.4 MENENTUKAN LUASNYA PENGUJIAN PENGENDALIAN

Apabila auditor bermaksud untuk mengandalkan pada pengendalian untuk mendukung


penilaian risiko pengendalian pendahuluan di bawah maksimum, auditor melakukan pengujian
penegndalian untuk mendapatkan bukti bahwa pengendalian telah beroperasi denga efektif.
Dengan telah beroperasinya pengendalian secara efektif yang didukung dengan tambahan
pengujian pengendalian, auditor akan bisa menurunkan pengujian substantifnya.

3.5 MERANCANG PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN SUBSTANTIF


GOLONGAN TRANSAKSI UNTUK PEMBELIAN

Bukti audit untuk suatu perikatan audit akan bervariasi tergantung pada pengendalian
internal serta keadaan lainnya. Efisiensi audit yang signifikan akan tercapai dalam audit apabila
pengendalian beroperasi secara efektif. Empat dari enam tujuan audit golongan transaksi pantas
untuk mendapatkan perhatian khusus oleh karena itu akan dibahas lebih dalam dibawah ini.

1. Pembelian terbukukan adalah untuk barang dan jasa yang diterima (keterjaadian)
Pengendalian yang memadai bisa mencegah terjadinya pencatatan transaksi yang tidak
pernah terjadi secara tidak sengaja, terutama yang berupa pencatatan pembelian ganda.
Pengendalian yang memadai juga bisa mencegah klien dari kesalahan mencatat beban
bukan beban perusahaan, atau ttransaksi penyalahgunaan aset atau hal-hal yang
mendatangkan keuntungan bagi manajemen dan bukan untuk kepentingan perusahaan
yang diaudit.
2. Pembelian yang terjadi telah dibukukan (kelengkapan)
Kegagalan mencatat pembelian barang dan jasa yang diterima menyebabkan utang usaha
kurang saji dan mengakibatkan laba bersih dan ekuitas pemilik lebih saji. Auditor kadang
kesulitan melakukan audit rinci saldo untuk menentukan apakah suatu transaksi tidak
tercatat, maka lebih mengandalkan pengendalian dan pengujian substantif golongan
transaksi untuk tujuan ini.
3. Pembelian dicatat dengan akurat (ketelitian)
Apabila auditor yakin bahwa transaksi aset tetap dicatat dengan benar dalam jurnal
pembelian, maka bisa diterima apabila auditor memutuskan untuk memeriksa dokumen
pendukung pembelian periode ini yang lebih sedikit selama melakukan pengujian rinci
saldo dibandingkan dengan apabila pengendalian tidak memadai. Apabila klien
mengunakan catatan persediaan perpetual, pengujian rinci saldo juga dapat dikurangi
secara signifikan seandainya auditor percaya bahwa catatan perpetual adalah akurat.
4. Pembelian digolongkan dengan benar (penggolongan)
Pengujian rinci akun individual tertentu dapat dikurangi apabila auditor yakin bahwa
pengendalian internal mencukupi untuk dapat memberikan keyakinan yang memadai
mengenai penggolongan yang benar dalam jurnal pembelian. Auditor akan banyak
membutuhkan waktu untuk melaksanakan pengujian dokumen pembelian aset tetap dan
akun-akun beban periode ini guna memeriksa ketelitian dan kebenaran penggolongan.
Oleh karena itu akan sangat menghemat waktu apabila pengendalian internal efektif.
3.6 PERANCANGAN PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN
SUBSTANTIF GOLONGAN TRANSAKSI UNTUK PENGELUARAN KAS
Auditor biasanya melaksanakan pengujian pembelian dan pengeluaran kas pada saat yang
sama. Untuk transaksi-transaksi tertentu yang dipilih dari jurnal pembelian untuk diperiksa,
faktur penjual, laporan penerimaan barang, dan dokumen pendukung lainnya diperiksa pada
saat yang sama. Dengan demikian verifikasi dilakukan secara efisien tanpa mengurangi
efektivitas pengujian.
3.7 SAMPLING ATRIBUT UNTUK PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN
PENGUJIAN SUBSTANTIF GOLONGAN TRANSAKSI
Mengingat pentingnya pengujian pengendalian dan pengujian golongan transaksi untuk
pembelian dan pembayaran, maka penggunaan sampling atribut menjadi sangat lazim
dilakukan. Ada tiga hal yang berbeda pada siklus pembelian dan pembayaran dibandingkan
dengan siklus lainnya :
1. Siklus ini menyangkut banyak akun, baik yang berupa akun-akun laba rugi, maupun
akun neraca. Dampaknya ialah kemungkinan terjadinya kesalahan dalam penggolongan
menjadi tinggi, bahkan beberapa diantaranya berpengaruh terhadap laba bersih.
2. Dalam siklus ini sangat lazim diperlukan pertimbangan yang signifikan, kebutuhan atas
pertimbangan ini meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan penyajian.
3. Jumlah rupiah untuk transaksi individual, seringkali berjumlah sangat besar. Akibatnya,
auditor menggabungkan unsur-unsur yang besar dan tidak biasa seperti itu dan
mengujinya 100%.
4.1 METODOLOGI UNTUK PERANCANGAN PENGUJIAN RINCI SALDO UNTUK
UTANG USAHA

Utang usaha adalah kewajiban yang belum dibayar yang timbul dari pembelian barang dan
jasa yang telah diterima dalam kegiatan normal perusahaan. Utang usaha meliputi kewajiban
yang timbul dari pembelian bahan baku, peralatan, listrik, reparasi dan jenis barang dan jasa
lainnya yang diterima sebelum akhir tahun buku. Utang usaha dapat diidentifikasi melalui
keberadaan faktur dari penjual yang menunjukkan kewajiban perusahaan. Utang usaha
dibedakan dari utang biaya dan kewajiban utang bunga. Kewajiban merupakan utang usaha
hanya apabila total kewajiban diketahui dan terutang pada tanggal neraca.

4.2 MENGIDENTIFIKASI RISIKO BISNIS KLIEN YANG MEMPENGARUHI


UTANG USAHA (TAHAP 1)

Banyak perusahaan yang fokus untuk memperbaiki manajemen aktivitas rantai pemasokan
yang mengubah rancangan sistem yang digunakan untuk menginisiasi dan mencatat aktivitas
pembelian dan pembayaran. Upaya untuk merampingkan pembelian dan pembayaran barang
dan jasa, termasuk meningkatkan embelian persediaan secara just in time, meningkatkan
berbagai informasi dengan pemasok, dan penggunaan teknologi informasi dan e-commerce
untuk transaksi bisnis, telah mengubah semua aspek siklus pembelian dan pembayaran pada
banyak perusahaan. Perubahan ini bisa meningkatkan risiko bisnis secara signifikan.

4.3 MENETAPKAN MATERIALITAS KINERJA DAN MENILAI RISIKO INHEREN


(TAHAP I)

Seperti piutang usaha, sejumlah transaksi bisa memengaruhi utang usaha. Saldonya
seringkali berjumlah besar dan meliputi sejumlah besar pemasok dan biasanya akan mahal
untuk mengaudit akun tersebut. Auditor biasanya menetapkan materialitas kinerja untuk utang
usaha relatif tinggi dan sering menilai risiko inheren pada tingkat medium atau tinggi. Auditor
biasanya menaruh perhatian pada tujuan kelengkapan dan tujuan saldo pisah batas karena
potensi terjadinya kurang saji dalam saldo utang usaha.

4.4 MENILAI RISIKO PENGENDALIAN DAN MERANCANG SERTA


MELAKSANAKAN PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN
SUBSTANTIF GOLONGAN TRANSAKSI (TAHAP I DAN II)

Pengujian substantif auditor pada akhirnya akan tergantung pada efektivitas pengendalian
internal yang berkaitan dengan utang usaha. Pengaruh pengendalian internal klien atas
pengujian pengendalian internal dapat dilakukan dengan dua contoh berikut:

1. Misalkan klien memiliki pengendalian internal yang efektif atas catatan dan pembayaran
untuk pembelian. Penerimaan barang didokumentasi melalui penggunaan laporan
penerimaan barang bernomor urut tercetak, voucher bernomor urut tercetak dibuat dengan
tepat dan efisien dan dicatat dalam file transaksi pembelian dan master file utang usaha.
Pengeluaran kas dilakukan tepat pada tanggal jatuhnya dan dicatat dalam file transaksi
pembayaran dan master file utang usaha. Saldo utang usaha individual dalam master file
direkonsiliasi secara bulanan dengan laporan dari pemasok, dan computer secara otomatis
merekonsiliasi total master file dengan buku besar. Verifikasi atas utang usaha tersebut
hanya membutuhkan sedikit usaha dari auditor, karena auditor berkesimpulan bahwa
pengendalian internal telah beroperasi dengan efektif.
2. Misalkan perusahaan tidak menggunakan laporan penerimaan barang, klien menunda
pencatatan pembelian hingga dilakukan pembayaran kas dan karena kekuranan kas,
tagihan dari pemasok sering dibayar beberapa bulan setelah tanggal jatuhnya. Dalam
situasi ini diperlukan pengujian rinci yang ekstensif untuk memastikan apakah utang usaha
telah ditetapkan dengan tepat pada tangal neraca.

4.5 MERANCANG DAN MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS (TAHAP III)

Auditor harus membandingkan total beban tahun ini dengan tahun sebelumnya untuk
menemukan kesalahan penyajian dalam utang usaha maupun dalam akun beban. Karena
penggunaan pembukuan berpasangan (double entry accounting), suatu kesalahan penyajian
dalam akun beban biasanya juga akan berakibat kesalahan penyajian yang sama pada akun
utang usaha. Oleh karena itu, pembandingan beban-beban tahun ini misalnya sewa, listrik, dan
beban-beban terjadwal dengan regular dengan tahun sebelumnya merupakan prosedur yang
efektif dalam menganalisis utang usaha apabila beban dari tahun ke tahun relatif stabil.

4.6 MERANCANG DAN MELAKSANAKAN PENGUJIAN RINCI SALDO AKUN


UTANG USAHA (TAHAP III)

Tujuan keseluruhan audit utang usaha adalah untuk menentukan apakah saldo utang usaha
telah disajikan secara wajar dan diungkapkan dengan tepat. Dalam audit utang usaha diterapkan
keberadaan, kelengkapan,penggolongan, pisah batas, kecocokan saldo, dan hak serta
kewajiban. Nilai bersih bisa direalisasi tidak bisa diterapkan pada utang usaha. Ada perbedaan
penting dalam penekanan audit atas liabilitas dan aset.

Apabila auditor mengaudit aset, auditor akan menekankan pada lebih saji melalui
verifikasi dengan konfirmasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan dokumen. Sebaliknya pada
liabilitas auditor menekankan terjadinya kurang saji atau penghilangan liabilias. Apabila
penanamanmodal, kreditur, dan pengguna lainnya setelah diterbitkannya laporan keuangan
auditan menentukan laba dan ekuitas pemilik lebih saji material, maka tuntutan hukum pada
KPA dapat dilakukan.
Karena kesalahan penyajian ekuitas pemilik dapat timbul baik dengan membuat lebih saji
aset atau kurang saji liabilitas, wajar jika auditor memberi perhatian yang besar yang
ditimbulkan dari kesalahan penyajian berupa lebih saji dalam utang usaha. Berikut ini tjuan
audit saldo yang diterapkan dalam mengaudit piutang usaha yaitu:

a. Tujuan nilai bersih bisa direalisasi tidak diterapkan untuk liabilitas. Nilai bersih bisa
direalisasi hanya diterapkan untuk aset.
b. Aspek hak pemilikan dari tujuan hak dan kewajiban tidak diterapkan untuk liabilitas.
Untuk aset, auditor sangat menekankan pada hak klien atas penggunaan dan
penghapusbukuan aset. Untuk liabilitas, auditor memusatkan perhatian pada
kewajiban klien untuk membayar utang. Apabila klien tidak mempunyai kewajiban
untuk membayar, maka tidak akan dicantumkan sebagai liabilitas.
c. Untuk liabilitas, lebih ditekankan pada pencarian kurang saji daripada lebih saji.
Prosedur audit yang diterapkan auditor dapat bervariasi tergantung pada sifat entitas,
materialitas utang usaha, sifat dan efektivitas pengendalian internal, serta risiko inheren.

Prosedur Pengujian Rinci


Tujuan Audit Saldo Komentar
Saldo
Utang usaha dalam daftar  Jumlahkan utang atau  Pila penjumlahan
utang usaha cocok dengan gunakan computer untuk dilakukan secara manual
yang tercantum dalam menjumlahkan daftar tidak perlu seluruh
master file yang utang usaha halaman dijumlah
bersangkutan dan totalnya  Telusur total ke buku
cocok dengan yang besar
tercantum di buku besar  Telusur faktur penjual  Penelusuran ke master
(kecocokan saldo) individual ke master file file bisa dibatasi, kecuali
untuk mencocokkan bila pengendalian rendah
nama dan jumlahnya
Utang usaha dalam daftar  Telusur dari daftar utang Biasanya kurang mendapat
utang usaha sungguh- usaha ke faktur penjual perhatian karena perhatian
sungguh ada (keberadaan) dan laporan dari utama adalah lebih saji
pemasok
 Konfirmasi utang usaha,
terutama untuk yang
berjumlah besar dan
tidak biasa
Utang usaha yang ada telah Lakukan pengujian liabilitas Ini adalah pengujian audit
tercantum dalam daftar setelah tanggal penutupan yang penting untuk utang
utang usaha (kelengkapan) buku usaha
Utang usaha yang tercantum Lakukan prosedur yang Biasanya tekanan pada
dalam daftar telah akurat sama dengan yang prosedur ini adalah kurang
(ketelitian) digunakan untuk tujuan saji dibandingkan dengan
keberadaan dan pengujian untuk penghilangan
setelah tanggal penutupan
buku
Utang usaha yang tercantum Review daftar dan master Pengetahuan tentang bisnis
dalam daftar telah file yang bersangkutan klien sangat penting untuk
digolongkan dengan benar dengan pihak berelasi, pengujian ini
(penggolongan) liabilitas berbunga, utang
jangka panjang, utang
bersaldo debet
Transaksi dalam siklus  Lakukan pengujian Ini merupakan pengujian
pembelian dan pembayaran setelah tanggal yang sangat penting untuk
telah dicatat pada periode penutupan buku utang usaha disebut dengan
yang tepat (batas-batas)  Lakukan pengujian rinci pengujian pisah batas
sebagai bagian dari
observasi penghitungan
persediaan
 Lakukan pengujian
untuk persediaan dalam
perjalanan
Perusahaan memiliki Periksalah laporan dari Biasanya bukan merupakan
kewajiban untuk membayar pemasok dan konfirmasi perhatian utama dalam audit
liabilitas yang tercantum utang usaha utang usaha, karena semua
dalam utang usaha utang usaha adalah
(kewajiban) kewajiban
1. Pengujian Liabilitas Sesudah Tanggal Neraca
Luasnya pengujian untuk menemukan utang yang tidak dicatat, sangat tergantung
pada penilaian risiko pengendalian dan materialitas saldo potensial dalam akun
bersangkutan. Prosedur audit yang sama yang digunakan untuk mencari utang tidak
dicatat diterapkan pula untuk tujuan ketelitian. Berikut ini prosedur yang sering
digunakan:
2. Periksalah Dokumen Pendukung untuk Pengeluaran Kas Sesudah Tanggal
Neraca
Auditor memeriksa dokumen pendukung untuk pengeluaran kas sesudah tanggal
neraca untuk menentukan apakah pengeluaran kas itu untuk membayar utang dari
periode yang diperiksa. Apabila pembayaran itu untuk pembayaran periode ini,
auditor harus menelusur ke daftar utang usaha untuk memastikan utang termaksud
tercantum dalam daftar. Laporan penerimaan barang menunjukkan tanggal barang
diterima dan faktur penjual biasanya menunjuukan tangga suatu jasa yang diberikan.

Auditor sering memeriksa dokumen-dokumen pendukung pengeluaran kas yang


dilakukan pada periode sesudah tanggal neraca beberapa minggu sesudah tanggal
neraca, terutama apabila klien sering tidak melakukan pembayaran tepat waktu.

3. Periksalah Dakumen Pendukung untuk Faktur Tagihan yang Belum Dibayar


Sampai Beberapa Minggu Setelah Akhir Tahun
Auditor melakukan prosedur ini di pcriode berikutrya dengan cara yang sama
seperti prosediur di alas untuk tujuan yang sama. Prosedur ini berbeda dengan yang
di atas, yaitu dalam hal kewajiban yang belun dibayar sampai menjelang akhir audit,
bukan kewajiban yang sudah dibayar. Sebagai contoh. dalam suatu audit untuk tahun
yang berakhir tanggal 31 Maret, dimisalkan auditor memeriksa dokumenn pendukung
untuk check yang dibayar melewali tanggal 28 Juni. Tagihan yang masih belum
dibayar pada tanggal 28 Juni harus diperiksa untuk menentukan apakah merupakan
kowajiban pada tanggal 31 Marct?
4. Telusur Laporan Penerimaan Barang yang Diterbitkan Sebelum Akhir Tahun
dengan Faktur Penjual yang Bersangkutan.
Samua barang yang diterima sebelum akhir tahun buku harus dimasukkan
sebagai utang usaha. Dengan menelusur laporan penerimaan barang yang diterbitkan
menjelang akhir tahun buku ke faktur penjual den meyakinkan banwa semua telah
dimasukkan sabaai utang usaha, auditor menguji ada tidaknya utang yang tidak
dicatat.
5. Telusur Laporan dari Pemasok yang Menunjukkan Saldo Terutang ke Daftar
Saldo Utang Usaha
Apabila klien menyimpan arsip laporan bulanan dari pemasok, auditor dapat
menelusuri setiap laporan yarg menunjukkan saldo terutang pada setiap tanggal neraca
ke daftar utang usaha, untuk memastikan telah dimasukkan sebagai utang usaha.
6. Pengiriman Konfirmasi kepada Pemasok yang Memiliki Hubungan Bisnis
dengan Klien
Meskipun pengiriman konfirmasi untuk utang usaha tidak begitu lazim
dibandingkan dengan konfirmasi intuk piutang usaha, namun auditor dapat
menggunakan prosedur ini jika dipandang perlu untuk menguji jangan-jangan nama
pemasok tidak tercantum dalam daftar utang, atau ada transaksi yang dihilangkan, atau
saldonya tidak sesuai dengan catatan pemasok. Perngiriman konfirmasi kepada
pemasok aktif yang saldonya tidak tercantum dalam daftar utang adalah cara yang
efektif untuk mengungkapkan utang tidak dicatat. Jenis korfirmasi ini biasanya
disebut konfimasi saldo nol (zero balance confirmation).
7. Pengujian Pisah Batas
Pengujian pisah batas utang usaha dilakukan untuk menentukan apakah
transaksi yang dibukukan beberapa hari sebelum dan beberapa hari sesudah tanggal
neraca telah dibukukan pada periode yang tepat. Lima pengujian audit liabilitas yang
telah dikemukakan di atas semau merupakan pengujian pisah batas untuk pembelian,
tetapi semuanva ditekankan untuk menemukan kurang saji. Tiga prosedur pertama
juga bermanfaat untuk memeriksa dokumen pendukung sebagai pengujian untuk lebih
saji utang usaha. Sebagai contoh, prosedur pengujian ketiga untuk kurang saji (utang
tidak dicatat) dengan menelusur laporan penerimaan barang yang diterbitkan sebelum
akhir tahun buku kepada pemasok yang bersangkutan. Untuk menguji lebih saji pisah
batas, auditor harus menelusur laporan penerimaan barang yang diterbitkan setelah
akhir tahun buku ke faktur yang bersangkutan untuk meyakinkan bahwa transaksi
yang bersangkutan tidak dimasukkan sebagai utang usaha (kecuali jika itu merupakan
barang dalam perjalanan yang akan dibahas nanti).
8. Hubungan antara Pisah Batas dengan Observasi Fisik Persediaan
Dalam menentukan apakah pisah batas sudah benar, sebaiknya pangujian pisah
batas dikoordinasikan dengan observasi penghitungan fsik persediaan. Sebagai
contoh, misalkan suatu pembelian persediaan seharga Rp40.000.000, telah diterima
pada tanggal 31 Desember petang tak lama setelah penghitungan fisik selesai. Apabila
pembelian ini dimasukkan dalam utang usaha dan pembelian tetapi dikeluarkan dari
persediaan akhir, hasilnya adalah laba bersih akan kurang saji sebesar Rp40.000.000
Sebaliknya, apabila pembelian dikeluarkan baik dari persediaan maupun dari utang
usaha, maka kesalahan penyajian akan terjadi dalam neraca, tetapi laporan laba-rugi
benar. Satu-satunya cara agar auditor bisa mengetahui tipe kesalahan penyajian mana
yang telah terjadi adalah dengan mengkoordinasi pengujian pisah batas dengan
observasi persediaan. Informasi pisah batas untuk pembelian harus diperoleh selama
observasi fisik persediaan. Pada waktu itu, auditor harus mereview prosedur-prosedur
di bagian penerimaan barang untuk memastikan hahwa semua barang yang diterima
telah dihitung, dan auditor harus mancatat dalam dokumentasi audit nomor laporan
penerimaan barang terakhir yang dicantumkan dalam penghitungan fisik. Setelah
tanggal penghitungan fisik, auditor kemudian harus menguji catatan akuntansi untuk
pisah batas. Auditor harus menelusur nomor- nomor laporan penerimaan barang yang
sebelumnya sudah didokumentasi ke catatan utang usaha untuk melakukan verifikasi
bahwa mereka telah dimasukkan atau dikeluarkan dengan benar.
9. Persediaan dalam Perjalanan (Inventory in transit)
Dalam menentukan utang usaha, auditor harus membedakan antara pembelian
porsediaan yang dilakukan atas dasar FOB destination dengan yang dilakukan atas
dasar FOB origin. Untuk FOB destination, hak pemilikan atas barang berpindah
kepada pembeli apabila barang telah diterima pembeli. Jadi hanya persediaan yang
diterima sebelum atau tepat pada tanggal neraca yang harus dimasukkan ke dalam
persediaan dan utang usaha pada akhir tahun. Apabila pembelian dilakukan atas dasar
FOB origin, perusahaan harus meneatat persediaan dan utang yang bersangkutan pada
periode ini apabila pengiriman telah lakukan sebelum atau tepat pada tanggal neraca.
Auditor akan dapat menentukan apakah persediaan telah dibeli atas dasar FOB
destination ataukah FOB origin dengan memeriksa faktur penjual. Auditar harus
memeriksa faktur untuk barang-barang yang diterima beberapa waktu setelah akhir
tahun untuk menentukan apakah barang tersebut dibeli atas dasar FOB origin.

4.7 KEANDALAN BUKTI

Auditor harus memahami keandalan relatif tiga tipe utama bukti yang biasa digunakan untuk
memeriksa utang usaha, yaitu: faktur penjual, laporan dari penjual (pemasok), dan konfirmasi
1. Perbedaan antara Faktur dari Penjual dengan Laporan dari Penjual
Auditor harus bisa membedakan antara faktur dari penjual dengan laporan dari
penjual dalam melakukan verifikasi atas jumlah yang terutang kepada pemasok.
Auditor mendapat bukti tentang transaksi individual dengan keandalan tinggi ketika ia
memeriksa faktur dari penjual beserta dokumen pendukungnya, seperti laporan
penerimaan barang dan order pembelian. Berbeda dengan faktur penjualan, laporan dari
penjual tidak begitu diperlukan untuk memeriksa transaksi individual, karena laporan
dari penjual hanya mercakup jumlan total transaksi. Jumlah unit yang dibeli, harga
biaya angkut, dan data lain tidak tercantum dalam laporan itu. Laporan dari penjual
lebih baik untuk memeriksa utang usaha karena didalamnya ditunjukkan saldo akhir.
Auditor dapat membandingkan faktur penjual yang ada dengan daftar utang usaha yang
dibuat klien, tapi tetap kehilangan sesuatu yang merupakan hal utama dalam utang
usaha. Faktur dari penjual lebih baik untuk memeriksa transaksi karena auditor
memeriksa transaksi individual dan faktur menunjukkan rincian pembelian.
2. Perbedaan antara Laporan dari Penjual dengan Konfirması
Perbedaan terpenting antara laporan dari penjual dengan konfirmasi utang usaha
adalah sumber informasinya. Laporan dari penjual dibuat oleh penjual (pihak ketiga
yang independen) tetapi berada ditangan klien ketika auditor memeriksanya. Hal ini
bisa memberi kesempatan kepada klien untuk merekayasa/mengubah laporan dari
penjual atau menyembunyikan laporan dari auditor. Dengan adanya laporan dari
penjual dan faktur yang diterbitkan penjual, yang keduanya merupakan bukti yang bisa
dipercaya karena dibuat oleh pihak ketiga, konfirmasi menjadi kurang lazim digunakan
dalam audit atas utang usaha dibandingkan dengan konfirmasi yang sangat lazim
digunakan dalam audit atas piutang usaha.

4.8 UKURAN SAMPEL

Pembahasan tentang pengujian rinci atas saldo utang usaha di atas dititikberatkan pada
prosedur-prosedur audit yang lazim dilakukan dokumen dan catatan yang diperiksa, serta saat
pengujian. Auditor harus juga mempertimbangkan ukuran sampel dalam audit atas utang usaha
Ukuran sampel dalam pengujian utang usaha sangat bervariasi tergantung pada berbagai faktor
seperti misalnya: materialitas utana usaha, jumlah akun yang ada, hasil penilaian risiko
pengendalian, dan hasil audit tahun yang lalu. Apabila pengendalian internal klien lemah, yang
tidak jarang dijumpai pada utang usaha, hampir seluruh populasi harus diperiksa. Dalam situasi
yang lain hanya sebagian kecil dipandang perlu untuk diperiksa. Sampling statistikal kurang
lazim digunakan untuk pengauditan utang usaha dibandingkan dengan untuk piutang usaha.
Perumusan populasi dan penentuan ukuran populasi sering lebih sulit untuk utang usaha.
Karena tekanan audit adalah pada utang usaha yang tidak dicatat, auditor harus mencoba agar
populasi mencakup semua kewajiban potensial.

DAFTAR PUSTAKA

Al Haryono Jusup. (2011). Auditing Buku II. Yogyakarta : STIE YPKN.