Anda di halaman 1dari 18

Ringkasan Materi Kuliah (RMK)

PENGAUDITAN II
“PENYELESAIAN PENGUJIAN DALAM SIKLUS PEMBELIAN DAN
PEMBAYARAN PENGAUDITAN AKUN-AKUN TERPILIH”

Oleh:

Kelompok 3

1. Raden Fernando Wijaya Kushendarto (1707532001)


2. Dewa Gde Yudhi Astawa (1707532011)
3. I Kadek Dwi Handika Putra (1707532080)

Dosen Pengampu: Dr. Drs. I Dewa Gede Dharma Suputra, M.Si., Ak.

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2019
1. JENIS AKUN – AKUN LAIN DALAM SIKLUS PEMBELIAN DAN
PEMBAYARAN

Jenis aset, beban, dan liabilitas, bisa berbeda-beda antara perusahaan yang Satu dengan
perusahaan Iainnya, terutama perusahaan yang bergerak dalam bidang-bidang usaha selain
perusahaan dagang pengecer dan manufaktur.

Metodologi berkaitan dengan audit atas akun-akun ini serupa dengan audit untuk akun-
akun lain yang telah dibahas pada bab-bab yang sebelumnya. Dalam bab ini akan dibahas
persoalan-persoalan audit yang berkaitan hanya untuk beberapa akun terpilih, yaitu audit atas:

 Properti, mesin, dan peralatan


 Beban dibayar di muka
 Utang lain-Iain
 Akun-akun pendapatan dan beban

2. PENGAUDITAN ATAS PROPERTI, MESIN, DAN PERALATAN

Properti, mesin, dan peralatan adalah akun-akun yang tergolong sebagai aset tetap,
yaitu aset yang diharapkan akan bisa digunakan dalam jangka waktu lebih dari satu tahun,
digunakan dalam operasi perusahaan, dan tidak dimaksudkan untuk dijual kembali dalam
kegiatan normal perusahaan. Tujuan untuk menggunakan aset sebagai bagian dari operasi
bisnis klien dan taksiran umur penggunaan labih dari satu tahun adalah karakteristik utama
yang membedakannya dari aset-aset seperti persediaan, beban dibayar di muka, dan investasi.
Pembelian properti, mesin, dan peralatan terjadi melalui siklus pembelian dan pembayaran.

1
A. Akun-Akun Terkait Dengan Akun Peralatan

Akun-akun yang biasanya digunakan dan berkaitan erat dengan peralatan dijelaskan pada
Gambar diatas. Perhatikan bahwa pendebetan atas peralatan timbul dari siklus pembelian dan
pembayaran. Karena sumber pendebitan dalam akun aset adalah jurnal pembelian, sistem
akuntansi biasanya sudah diuji untuk mencatat penambahan yang terjadi dalam periode ini ke
akun peralatan sebagai bagian dari pengujian siklus pembelian dan pembayaran. Namun
demikian, karena penambahan peralatan relatif jarang terjadi, sering melibatkan jumlah rupiah
yang besar, dan perlu mendapat pengawasan khusus, seperti misalnya persetujuan dari dewan
komisaris, maka auditor biasanya memutuskan untuk tidak terlalu mengandalkan pada
pengujian tersebut sebagai bukti pendukung penambahan aset tetap.

Total dari semua catatan dengan saldo di buku besar untuk akun yang bersangkutan: peralatan,
depresiasi, dan akumulasi depresiasi. Master file juga berisi informasi tentang peralat~ an yang
dibeli dan dilepaskan ( dijual, ditukar, atau tidak dipakai lagi) selama tahun yang diperiksa.
Audit atas peralatan dan aset-aset tetap lainnya, berbeda dari audit atas akun-akun yang
tergolong aset Iancar, karena tiga alasan berikut:

 Pembelian peralatan dalam suatu periode biasanya tidak begitu sering terjadi, lebih-
lebih yang berupa peralatan berat yang digunakan dalam perusahaan manufaktur.
 Jumlah rupiah dari setiap pembelian biasanya material.
 Peralatan biasanya dibukukan dan berada dalam catatan akuntansi selama beberapa
tahun.

Dalam mengaudit akun peralatan dan akun-akun terkait, akan sangat bermanfaat apabila
dilakukan pemisahan pengujian menjadi beberapa kategori berikut:

 Melaksanakan proseduranalitis
 Memeriksa pembelian peralatan periode ini.
 Memeriksa pelepasan peralatan periode ini.
 Memeriksa saldo akhir dalam akun aset.
 Memeriksa beban depresiasi.
 Memeriksa saldo akhir dalam akumulasi depresiasi.

2
B. Melaksanakan Prosedur Analitis

Berikut adalah prosedur analitis yang sering digunakan untuk peralatan

 Bandingkan beban penyusutan dibagi biaya peralatan manufaktur kotor dengan tahun
sebelumnya.
 Bandingkan akumulasi penyusutan dibagi biaya peralatan manufaktur kotor dengan
tahun sebelumnya.
 Bandingkan beban perbaikan dan pemeliharaan, beban perlengkapan, beban peralatan
kecil tahunan dengan tahun sebelumnya.
 Bandingkan biaya manufaktur kotor dibagi dengan suatu pengukur produksi dengan
tahun lalu. (Peralatan menganggur atau telah dilepas tetapi tidak dihapus dari
pembukuan).

C. Memeriksa Pembelian Peralatan Tahun Ini

Perusahaan harus mencatat penambahan pembelian asset tahun berjalan dengan benar
karena asset tetap memiliki dampak jangka panjang pada laporan keuangan. Tujuan Audit
Saldo:

 Perolehan tahun berjalan pada skedul perolehan cocok dengan jumlah pada berkas
induk yang terkait, dan jumlah total cocok dengan buku besar.
 Perolehan tahun berjalan yang tercatat adalah ada
 Perolehan yang ada telah dicatat
 Perolehan tahun berjalan yang tercatat dihitung dengan akurat
 Perolehan tahun berjalan yang tercatat diklasifikasikan dengan tepat
 Verifikasi Pelepasan TPerolehan tahun berjalan dicatat dalam periode yang benar
 Klien memiliki hak kepemilikan dan perolehan tahun berjalan.

D. Memeriksa Pelepasan Aset (Disposal) Tahun ini

Tujuan utama auditor dalam verifikasi atas penjualan, pertukaran, atau penghentian
pemakaian aset, adalah untuk memperoleh bukti yang cukup dan tepat bahwa semua pelepasan
telah dicatat pada jumlah yang tepat. Titik tolak pemeriksaaan atas pelepasan aset adalah daftar
tentang pelepasan aset yang dibuat klien. Daftar semacam itu biasanya berisi tanggal pelepasan

3
aset, nama orang atau perusahaan yang membeli aset. Harga jual, biaya perolehan, tanggal
pembelian, dan akumulasi depresiasi.

Karena kesalahan pencatatan pelepasan aset yang tidak digunakan Iagi dalam perusahaan bisa
berpengaruh terhadap laporan keuangan secara signifikan, maka mencari pelepasan aset yang
tidak dicatat menjadi hal yang penting. Sifat dan kecukupan pengenda|ian atas pelepasan
mempengaruhi Iuasnya pencarian. Prosedur-prosedur di bawah ini sering digunakan untuk
memeriksa pelepasan:

 Review apakah aset yang baru diperoleh diganti dengan aset yang lama.
 Analisis Iaba atau rugi pelepasan aset dan pendapatan lain-lain yang diterima dari
pelepasan aset.
 Review modifikasi pabrik dan perubahan produk yang dihasilkan, perubahan dalam
peralatan berkomputer berharga mahal, pajak kekayaan, atau coverage asuransi untuk
melihat kemungikinan adanya peralatan yang ditiadakan.
 Melakukan wawancara dengan manajemen dan personil produksi tentang
kemungkinan adanya pelepasan aset.
Apabila suatu aset dijual atau dilepas tanpa ditukar untuk penggantinya, keteltian
pencatatan transaksi bisa diverifikasi dengan memeriksa faktur penjualan terkait dan
master file properti. Auditor harus membandingkan biaya perolehan dan akumulasi
depresiasi dalam master file dengan catatan dalam jurnal umum dan hitung ulang laba
atau rugi yang timbul dari pelepasan aset untuk dibandingkan dengan catatan akuntansi.

E. Memeriksa Saldo Akhir Akun Aset


Petimbangan utama dalam memeriksa pengungkapan tentang aset adalah kemungkinan adanya
larangan hukum. Auditor bisa menggunakan beberapa metoda untuk menentukan apakah
peralatan dilarang secara hukum, dengan cara:
 Membaca pasal-pasal yang tercantum dalam perjanjian kredit.
 Mengirim permintaan konfirmasi utang ke bank atau ke lembaga
 keuangan Iain.
 Melakukan diskusi dengan klien atau mengirim surat ke
 penasehat hukum.

4
F. Memeriksa Beban Depresiasi

Beban depresiasi adalah satu dari sedikit beban yang tidak diverifikasi sebagai bagian
dari pengujian pengendalian dan pengujian substantif golongan transaksi. Jumlah terbukukan
ditentukan melalui pengalokasian internal bukan melalui transaksi pertukaran dengan pihak
luar. Apabila beban depresiasi material, diperlukan Iebih banyak pengujian rinci depresiasi
dibandingkan dengan akun yang telah diverifikasi melalui pengujian pengendalian dan
pengujian substantif golongan transaksi. Tujuan audit saldo terpenting untuk beban depresiasi
adalah ketelitian. Auditor fokus pada penentuan apakah klien mengikuti kebijakan depresiasi
yang konsisten dari periode ke periode dan apakah perhitungan klien sudah benar. Dalam
menentukan konsistensi, auditor harus mempertimbangkan empat hal berikut:

1. Masa manfaat aset yang dibeli pada periode ini.

2. Metoda depresiasi.

3. Taksiran nilai residu.

4. Kebijakan depresiasi aset pada periode pembelian dan pelepasan.

Kadang-kadang perubahan situasi menyebabkan perusahaan merasa perlu untuk


menilai kembali masa manfaat suatu aset. Apabila hal ini terjadi, penilaian kembali harus
meliputi perubahan dalam estimasi akuntansi, bukan perubahan dalam prinsip akuntansi.
Pengaruh hal ini terhadap depresiasi perlu dievaluasi. Metoda yang bermanfaat dalam
pengauditan depresiasi adalah pengujian prosedur analitis tentang kewajaran yang dilakukan
dengan mengalikan aset tetap yang belum didepresiasi dengan tarif depresiasi.

G. Memeriksa Saldo Akhir Dalam Akun Akumulasi Depresiasi

Pendebetan atas akun akumulasi depresiasi pada umumnya diuji sebagai bagian dari
pengauditan atas pelepasan aset, sedangkan kreditnya diperiksa sebagai bagian dari beban
depresiasi. Apabila auditor menelusur transaksi-transaksi tertentu ke catatan akumulasi
depresiasi dalam master file property sebagai bagian dari pengujian ini, maka hanya tinggal
sedikit yang membutuhkan pemeriksaan untuk saldo akhir akun akumulasi depresiasi.

Dua tujuan yang biasanya ditekankan dalam pengauditan atas saldo akhir dalam akumulasi
depresiasi :

5
1. Akumulasi depresiasi sebagaimana tercantum dalam master file properti cocok dengan buku
besar. Tujuan ini dapat dicapai dengan menguji kebenaran penjumlahan vertikal akumulasi
depresiasi dalam master file properti dan menelusurnya ke buku besar

2. Akumulasi depresiasi dalam master file adalah akurat.

Dalam hal tertentu, masa manfaat bisa berkurang secara signifikan karena terjadinya
penurunan permintaan konsumen atas produk, penurunan fisik yang tak terduga, modifikasi
dalam Operasi, atau perubahan Iainnya. Karena kemungkinan-kemungkinan tersebut, auditor
harus mengevaluasi kecukupan cadangan untuk akumulasi depresiasi setiap tahun untuk
memastikan bahwa nilai buku tidak lebih tinggi dari nilai bersih aset bisa direalisasi.

3. PENGAUDITAN BEBAN DIBAYAR DI MUKA

` Beban dibayardi muka, beban ditangguhkan, dan aset tak berujud, iangka Waktunya
bisa bervariasi mulai dari beberapa bulan sampai beberapa tahun. Termasuk dalam kategori ini
adalah:

 Sewa dibayardi muka


 Hak paten
 Beban ditangguhkan
 Biaya organisasi
 Asuransi dibayar di muka
 Copyright
 Pajak dibayar di muka
 Merek dagang
 Goodwill

Dalam kasus tertentu, akun-akun di atas bisa sangat material. Namun dalam
kebanyakan audit, perusahaan tidak memiliki akun sebanyak dicontohkan di atas, atau
jumlahnya tidak material. Prosedur analitis kadang-kadang sudah dipandang cukup untuk
mengaudit beban dibayar di muka, beban ditangguhkan, dan aset tak berwujud. Dalam audit
tertentu, beberapa dari aset tersebut bisa signifikan dan menyangkut pertimbangan yang rumit.
Sebagai contoh, pengauditan aset tak berujud seperi misalnya goodwill, sangat tergantung pada
pengetahuan auditor tentang sifat bisnis dan bidang usaha klien, dan kebutuhan akan pengujian
atas asumsi-asumsi manajemen yang signifikan, model evaluasinya, dan data pendukung yang
digunakan sebagai masukan untuk model tersebut. Dihadapkan pada pengevaluasian aset tak

6
berwujud yang kompleks, auditor seringkali memerlukan bantuan pakar yang bisa membantu
mengevaluasi apakah nilai dari aset tak berujud telah berkurang.

Pada bagian ini, kita akan membahas tipikal pengendalian internal dan pengujian audit
terkait yang biasa digunakan dalam audit atas beban asuransi dibayar di muka. Dalam
pembahasan berikut, digunakan suatu contoh yang mewakili akun-akun sejenis ini, karena :

1. Asuransi dibayar di muka sering dijumpai pada kebanyakan audit hampir semua perusahaan
berhubungan dengan urusan asuransi.

2. Sering muncul masalah dalam pengauditan asuransi dibayar di muka.

3. Tanggungjawab auditor untuk mereview coverage asuransi adalah pertimbangan tambahan


yang tidak dijumpai pada akun lain dalam kategori ini.

A. Pengendalian Internal

Pengendalian internal untuk asuransi dibayar di muka dan beban asuransi dapat dibagi
menjadi tiga kategori, yaitu: pengendalian atas pembelian dan pencatatan asuransi,
pengendalian atas register asuransi, dan pengendalian atas pembebanan terhadap beban
asuransi. Pengendalian atas pembelian dan pencatatan asuransi adalah bagian dari siklus
pembelian dan pembayaran. Konsisten dengan prosedur-prosedur yang telah dibahas untuk
siklus tersebut, otorisasi yang tepat untuk polis asuransi yang baru dan pembayaran premi
asuransi adalah pengendalian yang amat penting.

Register asuransi adalah suatu catatan polis-polis asuransi yang sedang berjalan dan
tanggal akhir berlakunya setiap polis asuransi. Auditor menggunakan register asuransi untuk
mengidentifikasi polis-polis yang masih berlaku dalam kaitannya dengan akun asuransi dibayar
di muka. Termin pembayaran dan jumlah untuk polis yang sedang berjalan tercantum pula
dalam register tersebut. Karena termin dan besarnya premi merupakan basis untuk menentukan
jumlah asuransi dibayar di muka, auditor secara independen melakukan verifiksasi atas termin
dan jumlah untuk setiap polis atau kontrak asuransi.

B. Pengujian Audit

Dalam mengaudit asuransi dibayar di muka, auditor mendapatkan daftar asuransi dari
klien yang mendaftar setiap asuransi yang sedang berlaku yang berisi informasi tentang :

 Informasi polis, termasuk nomor polis, jumlah pertanggungan (coverage), dan premi
pertahun.

7
 Saldo awal asuransi dibayar di muka.
 Pembayaran premi polis.
 Jumlah yang dibebankan ke beban asuransi.
 Saldo akhir asuransi dibayar di muka.

Selama melakukan audit atas asuransi dibayar di muka dan beban asuransi, auditor
harus mencamkan dalam pikirannya bahwa jumlah dalam beban asuransi adalah residual. Satu-
satunya pengujian atas saldo dalam akun beban yang biasanya perlu dilakukan meliputi
prosedur analitis dan pengujian untuk memastikan bahwa semua pembebanan ke dalam beban
asuransi timbul dari pengkreditan terhadap akun asuransi dibayar di muka. Karena pembayaran
premi diuji sebagai bagian dari pengujian pengendalian dan pengujian substantif golongan
transaksi serta prosedur analitis, maka tekanan dalam pengujian rinci saldo adalah pada
asuransi dibayar di muka.

1) Polis Asuransi dalam Daftar Asuransi Dibayar di Muka benar - benar Ada dan Semua
Polis yang Berlaku Tercantum dalam Daftar (Keberadaan dan Kelengkapan)

Pengujian keberadaan dan penghilangan polis asuransi yang sedang beriaku dapat dilakukan
pada daftar polis asuransi dibayar di muka melalui salah satu dari dua cara berikut :

1. Memeriksa suatu sampel faktur asuransi dan polis yang sedang berlaku untuk dibandingkan
dengan daftar.

2. Dapatkan suatu konfirmasi informasi asuransi dari agen perusahaan asuransi. Auditor
biasanya lebih menyukai untuk mengirim konfirmasi ke agen perusahaan asuransi klien, karena
pendekatan ini biasanya tidak begitu memakan waktu daripada memeriksa pembukuan klien
dan melakukan pencocokan ke dokumen - dokumen pendukung.

2) Klien Memiliki Hak atas Semua Polis Asuransi yang 'I'ercantum dalam Daftar
Asuransi Dibayar di Muka (Hak)

Pihak yang akan menerima ganti-rugi atas klaim asuransi disebut sebagai pihak yang berhak.
Biasanya nama penerima ganti rugi yang tertulis dalam polis adalah klien, tetapi dalam hal
kredit hipotik atau kredit lain, klaim asuransi bisa juga dibayarkan kepada kreditur. Review
atas polis asuransi untuk menentukan pihak yang berhak atas claim selain klien merupakan

8
pengujian yang baik untuk memeriksa ada tidaknya utang tidak dicatat dan aset yang
digadaikan.

3) Jumlah yang Dibayar di Muka dalam Daftar adalah Akurat dan Totalnya telah
Dijumlah dengan Benar dan Cocok dengan Buku Besar (Ketelitian dan Kecocokan
Saldo)

Pengujian audit untuk memeriksa ketelitian asuransi dibayar di muka menyangkut pemeriksaan
jumlah premi asuransi, jangka waktu poIis, dan pengalokasian premi ke asuransi belum
terpakai (unexpired insurance). Jumlah premi untuk suatu polis tertentu dan jangka waktu
pertanggungan dapat diperiksa pada saat yang sama dengan memeriksa faktur premi atau
dengan mengirim konfirmasi ke agen asuransi. Setelah dua hal ini diperiksa, perhitungan klien
tentang asuransi yang belum terpakai (yang merupakan asuransi dibayar di muka) dapat diuji
dengan melakukan rekalkulasi. Selanjutnya daftar polis asuransi dibayar di muka dapat
diperiksa penjumlahan vertikalnya dan totalnya ditelusur ke buku besar untuk merampungkan
pencocokan saldo.

4) Beban Asuransi yang Berkaitan dengan Asuransi Dibayar di Muka telah Digolongkan
dengan Benar (Penggolongan)

Penggolongan yang benar pada berbagai akun beban asuransi yang berbeda harus direview
sebagai pengujian atas Iaporan laba-rugi. Dalam hal tertentu. akun beban yang tepat cukup
jelas karena jenis asuransinya, seperti misalnya asuransi untuk mempertanggungkan sejenis
peralatan Namun dalam situasi lain dibutuhkan pengalokasian. Sebagai contoh dalam hal
asuransi kebakaran bangunan memerlukan pengalokasian ke beberapa akun, termasuk
diantaranya akun beban overhead pabrik. Pembebanan ke akun yang tepat dan konsistensi
dengan tahun sebelumnya merupakan pertimbangan utama dalam mengevaluasi
penggolongan.

5) Transaksi Asuransi Dicatat pada Periode yang Tepat (Pisah Batas)

Pisah batas untuk pembelian asuransi biasanya tidak merupakan masalah yang signifikan
karena jumlah polis biasanya tidak begitu banyak dan jumlahnya tidak begitu material. Apabila
auditor melakukan pengujian pisah batas atas pembelian asuransi, hal itu biasanya dilakukan
auditor sebagai bagian dari pengujian pisah batas utang usaha.

9
4. PENGAUDITAN BEBAN-BEBAN TERUTANG

Kategori ketiga dari akun-akun dalam siklus pembelian dan pembayaran adalah beban-
beban terutang yaitu estimasi kewajiban yang belum dibayar yang timbul dari jasa atau manfaat
(benefit) yang telah diterima sebelum tanggal neraca. Banyak diantara beban terutang
merupakan kewajiban di masa datang untuk jasa yang belum dibayar yang timbul dari
berlalunya waktu tetapi belum saatnya dibayar pada tanggal neraca. Sebagai contoh, benefit
atau manfaat yang diperoleh dari property sewaan terutang dengan berjalannya waktu
sepanjang tahun. Oleh karena itu pada tanggal neraca, bagian tertentu dari total beban sewa
yang beium dibayar harus diakui sebagai utang. Kewajiban-kewajiban Iain semacam itu
misalnya :

 Utang gaji dan upah


 Utang hororarium profesional
 Utang pajak penghasilan karyawan
 Utang sewa
 Utang bonus pimpinan
 Utang bunga
 Utang komisi

Tipe kedua adalah beban terutang yang menyangkut estimasi dimana jumlah yang
terutang belum dapat ditentukan, seperti misalnya kewajiban yang timbul sehubungan dengan
pajak penghasilan di mana ada kemungkinan yang masuk akal bahwa jumlah pajak penghasilan
yang dilaporkan bisa berubah setelah Kantor Pajak mengaudit pajak yang seharusnya dibayar
perusahaan. Utang garansi dan utang beban pensiun merupakan contoh lain yang termasuk
dalam tipe kewajiban ini.

A. Pengauditan Pajak Kekayaan Terutang

Sebagaimana halnya dengan beban asuransi, saldo dalam akun pajak kekayaan terutang
adalah jumlah residual dari saldo awal dalam akun pajak kekayaan terutang, ditambah pajak
kekayaan periode ini, dikurangi dengan pembayaran kas yang dilakukan pada periode ini. Oleh
karena itu, tekanan pengujian harus dilakukan atas saldo akhir akun pajak kekayaan terutang
dan pembayaran. Ketika auditor memeriksa pajak kekayaan terutang, kedelapan tujuan audit
saldo adalah relevan, kecuali nilai bersih bisa direalisasi. Dua diantaranya sangat signifikan,
yakni:

10
1. Pajak kekayaan terutang tercantum dalam daftar beban-beban terutang. Tidak
mencantumkan pajak kekayaan yang terutang akan menyebabkan utang pajak kekayaan
menjadi kurang saji (kelengkapan). Kesalahan penyajian material bisa terjadi, sebagai
contoh apabila pajak kekayaan tidak dibayar sebelum tanggal neraca dan tidak
dimasukkan sebagai utang pajak.

2. Pajak kekayaan terutang dicatat dengan akurat. Perhatian auditor adalah pada perlakuan
yang konsisten atas utang dari tahun ke tahun.

Auditor menggunakan dua pengujian utama untuk menguji apakah semua utang beban
telah dimasukkan. Auditor memeriksa jumlah pajak kekayaan terutang bersamaan dengan
audit atas pembayaran pajak kekayaan tahun ini. Dalam kebanyakan audit, biasanya hanya
terjadi sedikit transaksi pembayaran pajak kekayaan, tetapi setiap pembayaran seringkan
material, dan oleh karenanya perlu diperiksa satu per satu. Auditor iuga perlu
membandingkan jumlah pajak kekayaan terutang tahun ini dengan tahun sebelumnya.
Auditor biasanya memulai pemeriksaannya dengan meminta daftar pembayaran pajak
kekayaan kepada klien dan kemudian membandingkan setiap pembayaran dengan daftar
tahun yang Ialu untuk memastikan apakah semua pembayaran telah dimasukkan dalam
daftar yang dibuat klien. Daftar aset tetap juga perlu diperiksa untuk memeriksa
kemungkinan adanya penambahan dan pelepasan aset yang bisa mempengaruhi pajak
kekayaan terutang. Semua kekayaan perusahaan yang terkena palak sesuai dengan
peraturan yang berlaku, harus dimasukkan ke dalam daftar, walaupun belum sekalipun
dibayar pajaknya. Setelah auditor yakin bahwa semua kekayaan yang merupakan objek
pajak telah dimasukkan ke dalam daftar, auditor selanjutnya mengevaluasi kewajaran pajak
kekayaan atas setiap kekayaan yang dimiliki klien untuk menaksir jumlah pajak terutang.
Dalam hal tertentu, jumlah pajak terutang sudah dibuat oleh otoritas pajak berupa tagihan
pajak dan dikirimkan kepada klien, sehingga auditor bisa menggunakan nya untuk
membandingkan antara jumlah dalam daftar dengan tagihan pajak. Dalam situasi lain, total
pembayaran pajak tahun Ialu perlu disesuaikan dengan perkiraan kenaikan pajak kekayaan.

5. PENGAUDITAN AKUN-AKUN PENDAPATAN DAN BEBAN

Gambaran umum tentang tipikal prosedur-prosedur yang sering digunakan auditor


untuk menentukan apakah pendapatan dan beban dalam laporan keuangan bebas dari kesalahan
penyajian material. Auditor harus memahami bahwa kebanyakan pengguna laporan keuangan
dalam pengambilan keputusan seringkali Iebih mengutamakan laporan Iaba-rugi dibandingkan

11
dengan neraca. Investor ekuitas, kreditor jangka panjang, perwakilan buruh/karyawan, dan
kadang-kadang juga kreditor jangka pendek Iebih tertarik pada kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba daripada terhadap biaya perolehan historis atau nilai buku dari aset-aset
individual.

Dua konsep pengauditan akun-akun pendapatan dan beban berikut ini sangat penting
dalam mempertimbangkan tujuan laporan laba-rugi:

1. Penandingan (matching) periodik pendapatan dan beban perlu dilakukan untuk menentukan
hasil operasi yang tepat.

2, Penerapan prinsip akuntansi secara konsisten untuk periode yang berbeda diperlukan agar
laporan bisa diperbandingkan.

Kedua konsep di atas harus diterapkan dalam pencatatan transaksi individual dan untuk
menggabungkan akun-akun di buku besar sehingga menjadi laporan keuangan.

A. Pendekatan Untuk Pengauditan Akun-Akun Pendapatan Dan Beban

Pengauditan akun-akun pendapatan dan beban berhubungan langsung dengan neraca dan tidak
merupakan bagian yang terpisah dari proses audit. Kesalahan penyajian suatu akun laba-rugi
hampir selalu mempunyai dampak yang sama terhadap suatu akun neraca, dan sebaliknya.
Seperti telah kita bahas dalam bab yang Ialu, pengauditan akun-akun labarugi berkaitan erat
dengan bagian audit Iainnya. Untuk memperjelas hal tersebut, marilah kita review materi yang
telah kita bahas pada bab-bab yang Ialu. Dalam review ini akan terlihat saling terkaitnya
berbagai bagian audit dengan pengujian akun-akun pendapatan dan beban. Bagian-bagian audit
yang berpengaruh langsung atas akaun-akun ini adalah:

1) Proseduranalitis

2) Pengujian pengendalian dan pengujian substantif golongan transaksi

3) Pengujian rinci saldo akun

Pembahasan kita di sini ditekankan pada akun-akun pendapatan dan beban yang
langsung berhubungan dengan siklus pembelian dan Dembayaran, tetapi konsep yang sama
bisa diterapkan pada akun-akun laba-rugi dalam semua siklus Iainnya.

B. Prosedur Analitis

12
Bab 6 membahas tentang prosedur analitis. Bab-bab selanjutnya merujuk balik pada prosedur
tersebut sebagai bagian dari area audit khusus. Prosedur analitis harus dipandang sebagai
bagian dari pengujian kewajaran penyajian, baik untuk akun-akun neraca maupun akun-akun
laba-rugi. Tabel 16-4 menunjukkan sejumlah kecil prosedur analitis beserta kemungkinan
kesalahan penyajian dalam pengauditan akun-akun pendapatan dan beban.

Tabel 16-4 Prosedur Analitis Untuk Akun-Akun Pendapatan Dan Beban

Prosedur Analitis Kemungkinan Kesalahan Penyajian


Membandingkan beban-beban individual Lebih saji atau kurang saji dalam saldo suatu
dengan tahun yang lalu. akun beban
Membandingkan saldo asset dan liabilitas Lebih saji atau kurang saji dalam suatu saldo
individual dengan tahun yang lalu. asset yang juga akan mempengaruhi akun
laba-rugi
Membandingkan beban individu dengan Kesalahan penyajian akun bebean dan
anggaran. akuntansi asset yang terkait.
Membandingkan persentase laba kotor Kesalahan penyajian harga pokok penjual
dengan tahun yang lalu. dan persediaan.
Membandingkan rasio perputaran (turn over) Kesalahan penyjian harga pokok penjualan
persediaan dengan tahun yang lalu. dan persediaan
Membandingkan beban asuransi dan Kesalahan penyaji beban asuransi dan
asuransi dibayar dimuka dengan tahun yang dibayar dibayar dimuka
lalu.
Membandingkan beban komisi dibagi Ksalahan panyajian dan beban komisi
dengan penjualan dengan tahun yang lalu. terutang
Membandingkan beban manufaktur Kwsalahan penyajian beban manufatur
individual dibagi dengan total biaya individual dan akun neraca terkait
manufaktur dengan tahun yang lalu.

C. Pengujian Pengendalian Dan Pengujian Substantif Golongan Transaksi

Pengujian pengendalian dan penjualan substantif transaksi keduanya memiliki pengaruh


simultan terhadap pemeriksaan akun-akun neraca dan laba-rugi. Sebagai contoh, misalkan
auditor menyimpulkan bahwa pengendalian internal mencukupi untuk memperoleh keyakinan
memadai bahwa transaksi-transaksi yang terjadi dalam jurnal pembelian, telah dicatat dan

13
digolongkan dengan akurat, dan dicatat tepat waktu. Dengan melakukan hal itu, auditor
memperoleh bukti bahwa apabila akun neraca individual benar (seperti misalnya akun utang
usaha atau aset tetap), maka akun laba-rugi (misalnya beban advertensi dan beban reparasi &
pemeliharaan) akan benar pula. Sebaliknya, dalam situasi pengendalian internal tidak
mencukupi dan kesalahan penyajian dijumpai sepanjang pengujian pengendalian dan
pengujian substantif golongan transaksi menunjukkan kemungkinan adanya kesalahan
penyajian baik dalam Iaporan laba-rugi maupun neraca.

Cara terbaik dalam pemeriksaan atas kebanyakan akun laba-rugi pada setiap siklus
transaksi adalah memahami pengendalian internal dan pengujian pengendalian serta pengujian
substantif golongan transaksi. Sebagai contoh, apabila auditor setelah melakukan pengujian
secukupnya menyimpulkan bahwa risiko pengendalian rendah untuk transaksi-transaksi dalam
siklus pembelian dan pembayaran, maka tambahan verifikasi yang diperlukan untuk akun-akun
laba rugi terkait (misalnya beban listrik dan advertensi), hanyalah tinggal melakukan prosedur
analitis dan pengujian pisah batas. Namun, hendaknya diingat bahwa akun beban dan
pendapatan tertentu sama sekali belum teruji melalui pengujian pengendalian dan pengujian
substantif transaksi, dan oleh karenanya perlu diuji secara lebih ekstensif dengan pengujian
substantif yang Iain.

D. Pengujian Rinci Saldo Akun Analisis Beban

Auditor harus menganalisis jumlah-jumlah yang tercantum dalam akun-akun laba-rugi tertentu
meskipun pengujian yang telah disebutkan di atas telah dilakukan. Di bawah ini akan dijelaskan
apa yang dimaksud dengan metodologi menganalisis akun-akun sebelum melangkah lebih
lanjut untuk mendiskusikan kapan analisis akun sebaiknya dilakukan.

Analisis akun beban adalah pemeriksaan yang dilakukan auditor atas dokumen-
dokumen pendukung transaksi individual dan jumlah-jumlah yang membentuk rincian dari
total suatu akun beban. Dokumen-dokumen sama jenisnya dengan yang telah diuraikan dan
digunakan untuk pengujian transaksi sebagai bagian dari pengujian transaksi pembelian.

termasuk misalnya faktur, Iaporan penerimaan barang, order pembelian, dan kontrak-kontrak
pembelian.

Meskipun fokus analisis, akun beban adalah pada transaksi, pengujian ini berbeda
dengan pengujian pengendalian dan pengujian substantif golongan transaksi. Pengujian
pengendalian dan pengujian substantif golongan transaksi dimaksudkan untuk menilai risiko

14
pengendalian. Dengan cara itu, pengujian dilakukan atas golongan transaksi, seperti misalnya
pembelian, dan oleh karenanya menyangkut banyak akun yang berbeda-beda. Dalam analisis
beban dan akun laba-rugi Iainnya, auditor memeriksa transaksi-transaksi dalam akun tertentu
untuk menentukan apakah transaksi-transaksi tepat untuk klien, digolongkan dengan tepat, dan
dicatat dengan akurat.

Seandainya diperoleh hasil yang memuaskan dari pengujian pengendalian dan


pengujian substantif golongan transaksi, auditor biasanya membatasi analisis beban pada akun-
akun yang diperkirakan memiliki kesalahan penyajian yang tinggi. Sebagai contoh, auditor
biasanya menganalis:

1) Akun beban reparasi dan pemeliharaan untuk menentukan apakah ada transaksi yang
seharusnya merupakan transaksi properti, mesin, dan peralatan yang dimasukkan ke
dalamnya (seharusnya dikapitalisasi, tetapi telah diperlakukan sebagai beban reparasi
dan pemeliharaan).

2) Beban sewa dan sewa guna untuk menentukan apakah ada yang perlu dikapitalisasi.

3) Beban hukum untuk menentukan apakah ada yang berpotensi menjadi utang kontinjen
(contingent liabilities), tindakan melawan hukum, atau persoalan hukum Iainnya yang
mempengaruhi laporan keuangan.

Akun beban listrik, beban perjalanan, beban advertensi jarang dianalisis kecuali apabila
prosedur analitis menunjukkan potensi yang tinggi untukterjadinya kesalahan penyajian
material.

Auditor sering menganalisis transaksi akun beban sebagai bagian dari verifikasi atas aset
terkait. Sangat lazim bagi auditor untuk menganalisis beban reparasi dan pemeliharaan sebagai
bagian dari pemeriksaan atas aset tetap, atau memeriksa beban asuransi sebagai bagian dari
pemeriksaan atas asuransi dibayar di muka.

6. PENGUJIAN RINCI SALDO AKUN PENGALOKASIAN

Sejumlah saldo akun merupakan akibat dari pengalokasian data akuntansi dan bukan
mempakan transaksl tersendiri (discrete transactions). Beban-beban seperti itu misalnya
depresiasi, deplesi, dan amortisasi copyright. Pengalokasian overhead pabrik menjadi

15
persediaan dan harga pokok penjualan adalah contoh tipe lain pengalokasian yang
mempengaruhi beban.

Pengalokasian penting karena hal tersebut mempengaruhi apakah suatu pengeluaran


merupakan aset atau beban periode ini. Apabila klien gagal mengikuti standar akuntansi
keuangan atau gagal menghitung pengalokasian dengan benar, laporan keuangan bisa
mengandung kesalahan penyajian material. Pengalokasian beban seperti depresiasi aset tetap
dan amortisasi copyright diperlukan karena aset memiliki masa mantaat lebih dari setahun.
Biaya perolehan asli dari suatu aset diverifikasi pada saat pembelian, tetapi penyusutannya
terjadi selama bertahun-tahun.

Tipe Iain pengalokasian yang langsung mempengaruhi laporan keuangan timbul karena
aset berumur pendek masih belum terpakai seluruhnya pada tanggal neraca. Contoh akun
semacam ini misalnya sewa dibayar di muka dan asuransi dibayar di muka. Dan terakhir,
standar akuntansi mengharuskan dilakukan pengalokasian biaya menjadi biayabiaya
manufaktur periode ini dan persediaan, sebagai cara untuk mencerminkan seluruh biaya
pembuatan produk.

Dalam pengauditan pengalokasian pengeluaran seperti misalnya asuransi dibayar di


muka dan overhead pabrik, dua petimbangan panting yang harus diperhatikan auditor adalah
ketaatan pada standar akuntansi keuangan dan konsistensi dengan periode sebelumnya. Dua
prosedur audit terpenting dalam pengauditan pengalokasian adalah pengujian tentang
kewajaran keseluruhan dengan menggunakan prosedur analitis dan rekalkulasi hasil
perhitungan klien.

Auditor biasanya melakukan pengujian-pengujian berikut sebagai bagian dari


pengauditan atas aset atau liabilitas terkait. lni meliputi pemariksaan atas beban depresiasi yang
merupakan bagian dari audit atas properti, mesin, dan peralatan, pengujian amortisasi hak paten
sebagai bagian dari pemeriksaan hak paten baru atau pelepasan yang lama dan verifikasi
pengalokasian antara persediaan dan harga pokok penjualan sebagai bagian dari pengauditan
persediaan.

DAFTAR PUSTAKA

Auditing / Al. Haryono Jusup.-Ed. 2-. Yogyakarta. Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi YKPN, 2011

16
17