Anda di halaman 1dari 9

Definisi Akuntansi

Menurut Asal Kata

Akuntansi yaitu berasal dari Accountancy / Accounting / Constituency yang diserap ke dalam
bahasa Indonesia Akuntansi yang berarti sebuah aktivitas atau proses dalam mengidentifikasi,
mencatat, mengklasifikasi, mengolah dan menyajikan data yang berhubungan dengan keuangan
atau transaksi agar mudah dimengerti dalam mengambil keputusan yang tepat.

Accounting Principle Board (APB)

pengertian-akuntansi-menurut-apb

Akuntansi adalah kegiatan jasa yang berfungsi menyediakan informasi kuantitatif terutama yang
bersifat keuangan yang kemudian dapat digunakan untuk pengambilan keputusan ekonomi.

American Accounting Association (AAA)

pengertian-akuntansi-menurut-aaa

Akuntansi adalah proses mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi ekonomi untuk
memungkinkan adanya penilaian dan pengambilan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka
yang menggunakan informasi tersebut.

American Institute of Certified Public Accountants (AICPA


pengertian-akuntansi-menurut-aicpa

Akuntansi adalah suatu aktivitas jasa (mengidentifikasikan, mengukur, mengkalsifikasikan dan


mengikhtisarkan) kejadian atau transaksi ekonomi yang menghasilkan informasi kuantitatif
terutama yang bersifat keuangan yang digunakan dalam pengambilan keputusan

ABP Statement No. 4 dalam Smith Skousen (1995 : 3)

Akuntansi merupakan sebuah kegiatan jasa yang bertujuan menyediakan informasi


kuantitatif/perhitungan, terutama yang mempunyai sifat dalam pengambilan keputusan ekonomis
dalam memberikan keputusan pilihan-pilihan yang logis diantara berbagai tindakan alternatif.

Charles T. Horngren dan Walter T.Harrison (Horngren Harrison,2007:4)

Akuntansi ialah suatu sistem informasi yang mampu mengukur kegiatan bisnis, memproses data
menjadi laporan, dan mengkomunikasikan hasilnya kepada para pengambil keputusan (manager).
Fungsi Akuntansi
5-p-manajemen-pemasaran

Fungsi akuntansi yang paling utama adalah sebagai media informasi keuangan suatu organisasi
karena dari laporan akuntansi kita dapat melihat seperti apa kualitas yang ada dalam suatu
organisasi dan seperti apa perubahan yang terjadi dalam organisasi. Akuntansi memberikan
informasi data kuantitatif dengan satuan ukuran uang. Informasi mengenai tata keuangan sangat
dibutuhkan oleh pihak yang akan membuat keputusan dalam aktivitas selanjutnya baik orang yang
ada di dalam organisasi maupun yang ada di luar organisasi.

Akuntansi dapat dijadikan sebagai alat yang membahasakan seperti apa yang terjadi dalam
organisasi atau perusahaan tersebut. Dalam akuntansi ada dua macam informasi yang diberikan
yaitu tentang nilai perusahaan dan informasi tentang untung-rugi perusahaan. Kedua informasi
tersebut bermanfaat untuk:

1. Mengetahui seberapa besar modal yang dimiliki suatu perusahaan


2. Mengetahui seperti apa perkembangan maju mundurnya perusahaan.
3. Sebagai landasan untuk menghitung pajak.
4. Menjelaskan kondisi perusahaan saat membutuhkan kredit dari bank atau pihak lain.
5. Sebagai dasar untuk memutuskan kebijakan yang akan dilaksanakan.
6. Untuk menarik para investor saham jika perusahan telah menjadi perseroan terbatas.

Pihak-pihak yang Berkepentingan


mf_s01_t05_020

1. Pihak Intern

Pihak manajemen yang berkepentingan langsung dan sangat membutuhkan informasi keuangan
untuk tujuan pengendalian (controlling), pengkoordinasian (coordinating), dan perencanaan
(planning) suatu perusahaan.

2. Pihak Ekstern

Pihak-pihak yang berada di luar perusahaan tetapi ia membutuhkan informasi keuangan


perusahaan tersebut, antara lain :

Pemilik/Investor
Pemilik memerlukan informasi akuntansi di perusahaannya untuk mengetahui maju mundurnya
perusahaan, sehingga ia dapat mengambil keputusan apakah akan mempertahankan
perusahaannya, menjualnya, atau menambah investasinya.

Calon Investor
Bagi calon investor sangat perlu informasi akuntansi perusahaan. Hal ini dilakukan dalam rangka
untuk mengambil keputusannya apakah akan menginvestasikan dananya di perusahaan tersebut
atau tidak.

Kreditor
Informasi akuntansi suatu perusahaan sangat dibutuhkan bagi kreditor untuk mengetahui
kemampuan perusahaan dalam mengembalikan pinjamannya. Hal ini dapat dijadikan oleh kreditor
sebagai bahan untuk mengambil keputusan apakah akan ditambah atau ditarik pinjamannya.

Calon Kreditor
Bagi calon kreditor informasi akuntansi suatu perusahaan sangat diperlukan sebagai bahan
pertimbangan bagi calon kreditor untuk menilai resiko serta memutuskan apakah perusahaan
tersebut akan diberikan pinjaman atau tidak.

Pemerintah
Informasi akuntansi perusahaan bagi pemerintah sangat berguna untuk penetapan besarnya pajak
penghasilan (PPh) badan usaha. Selain itu, juga dapat dipakai sebagai alat penilaian bagi
perusahaan apakah perusahaan tersebut mematuhi peraturan atau tidak.

Karyawan perusahaan yang bersangkutan


Informasi akuntansi perusahaan sangat bermanfaat bagi karyawan perusahaan yang bersangkutan
untuk kelangsungan hidupnya. Maju mundurnya perusahaan dapat berguna untuk kemantapan
kerja, bahan pertimbangan penuntutan naiknya gaji, dan jaminan sosial karyawan.

Prinsip Akuntansi
1. Prinsip Biaya Historis

Prinsip biaya historis atau historical cost principle merupakan sebutan pada keadaan di mana
GAAP mewajibkan sebagian besar aktiva diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan harga akuisi.
Prinsip ini menghendaki digunakannya harga perolehan dalam mencatat aktiva, utang, modal, dan
biaya. Harga perolehan tersebut artinya adalah harga pertukaran yang disetujui oleh kedua belah
pihak yang tersangkut dalam transaksi. Harga perolehan harus terjadi dalam suatu transaksi di
antara kedua belah pihak yang bebas.

2. Prinsip Mempertemukan

Prinsip mempertemukan atau yang juga disebut sebagai matching principle adalah prinsip yang
mempertemukan biaya dengan pendapatan yang timbul karena biaya tersebut. Prinsip ini dapat
menentukan besarnya penghasilan bersih dalam setiap periode. Akan tetapi untuk menerapkan
prinsip ini maka seorang penyusun laporan keuangan atau akuntan akan kerap menghadapai
beberapa kendala, misalnya dalam hal biaya-biaya yang tidak mempunyai hubungan yang jelas
dengan pendapatan maka akan sangat sulit untuk mempertemukan antara biaya dengan
pendapatannya. Walaupun demikian, kendala tersebut masih dapat diatasi dengan membebankan
biaya-biaya tersebut ke dalam periode selanjutnya, hal ini biasa disebut sebagai period cost.
Penerapan prinsip mempertemukan ini pada penyusunan laporan keuangan berakibat pada
penggunaan dasar waktu (accurual basis) dalam pembebanan biaya. Namun dalam praktiknya
digunakan jurnal penyesuaian pada setiap akhir periode untuk mempertemukan antara biaya
dengan pendapatan.

3. Prinsip Pengungkapan Penuh

Prinsip pengungkapan penuh atau full disclosure principle adalah prinsip-prinsip akuntansi yang
menyajikan informasi lengkap pada laporan keuangan. Informasi tersebut disajikan dalam sebuah
ringkasan dari transaksi-transaksi dalam satu periode dan juga saldo-saldo dari rekening-rekening
tertentu. Hal tersebut dilakukan sebab tidak akan mungkin menyajikan semua informasi ke dalam
sebuah laporan keuangan. Sedangkan untuk memberikan keterangan tambahan, maka perlu untuk
membuat catatan kaki (footnote) dan lampiran-lampiran penting yang dibutuhkan dalam sebuah
laporan keuangan.

4. Prinsip Pengakuan Pendapatan

Prinsip pengakuan pendapatan atau revenue recognition principle merupakan aliran masuk harta-
harta yang timbul dari penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama
suatu periode tertentu. Pendapatan di sini dihitung berdasarkan jumlah kas atau ekuivalen-nya
yang diterima dari proses transaksi penjualan dengan pihak bebas.

5. Prinsip Konsistensi

Prinsip konsistensi atau consistency principle adalah prinsip untuk membandingkan antara suatu
laporan keuangan yang dibuat dengan laporan keuangan pada tahun-tahun sebelumnya supaya
metode dan prosedur yang digunakan dalam proses akuntansi dapat diterapkan secara konsisten.
Jadi jika dalam laporan keuangan tersebut ditemukan suatu perbedaan antara suatu pos dalam dua
atau lebih periode, maka dapat segera diketahui bahwa perbedaan yang terjadi tersebut tidaklah
disebabkan oleh selisih akibat perbedaan metode.

Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode
akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Laporan
keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap
biasanya meliputi :

ü Laporan neraca keuangan

ü Laporan laba/rugi

ü Laporan Perubahan Ekuitas

ü Laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupa Laporan arus kas atau Laporan
arus dana

ü Catatan dan laporan keuangan perusahaan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian
integral dari laporan keuangan

Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah laporan aktiva,
kewajiban,dan ekuitas. Sedangkan unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinereja dalam
laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban. Bisa saja memanfaatkan jasa laporan keuangan
(jasa analisa keuangan / analisis keuangan) maupun akuntan publik. Laporan posisi keuangan
biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan perubahan dalam berbagai unsur
neraca. Selain itu juga biasanya laporan keuangan juga berisi analisis keuangan / analisa keuangan
selama setahun.

Bentuk – bentuk Laporan Keuangan


1. Neraca

Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan
pada suatu saat tertentu. Tujuan neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan suatu
perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu di mana buku-buku ditutup dan
ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender, sehingga neraca sering
disebut Balance Sheet. Neraca terdiri dari tiga bagian utama, yaitu aktiva, hutang dan modal.

ü Aktiva
Dalam pengertian aktiva tidak terbatas pada kekayaan perusahaan yang berwujud saja, tetapi juga
termasuk pengeluaran-pengeluaran yang belum dialokasikan (deffered charges) atau biaya yang
masih harus dialokasikan pada penghasilan yang akan datang, serta aktiva yang tidak berwujud
lainnya (intangible assets) misalnya goodwill, hak patent, hak menerbitkan dan sebagainya.
Pada dasarnya aktiva dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian utama yaitu aktiva lancar dan
aktiva tidak lancar. Aktiva lancar adalah uang kas atau aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk
dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumer dalam periode berikutnya
(paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal). Yang termasuk
aktiva lancar yaitu :
• Kas, atau uang tunai yang dapat digunkan untuk membiayai operasi perusahaan.
• Investasi Jangka Pendek (surat-surat berharga atau marketable securities) ; adalah

investasi yang sifatnya sementara (jangka pendek) dengan maksud untuk memanfaatkan uang
kas yang untuk sementara belum dibutuhkan dalam operasi.
• Piutang Wesel, adalah tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan dalam suatu
wesel atau perjanjian yang diatur dalam undang-undang.

Hutang
Hutang adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum terpenuhi,
dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditor.
Hutang dibedakan menjadi hutang lancar (hutang jangka pendek) dan hutang jangka panjang.
–Hutang lancar meliputi :
• Hutang Dagang, adalah hutang yang timbul karena adanya pembelian barang dagangan secara
kredit.
• Hutang Wesel, adalah hutang yang disertai dengan janji tertulis (yang diatur dengan UU) untuk
melakukan pembayaran sejumlah tertentu pada waktu tertentu di masa yang akan datang.
• Hutang Pajak, baik pajak untuk perusahaan yang bersangkutan maupun pajak pendapatan
karyawan yang belum disetorkan ke kas negara.
• Biaya yang masih harus dibayar, adalah biaya-biaya yang sudah terjadi tetapi belum dilakukan
pembayarannya.
• Hutang jangka panjang yang segera jatuh tempo, adalah sebagian (seluruh) hutang jangka
panjang yang sudah menjadi hutang jangka pendek, karena harus segera dilakukan
pembayarannya.
• Penghasilan yang diterima dimuka, adalah penerimaan uang untuk penjualan barang/ jasa yang
belum direalisir.
–Hutang jangka panjang, adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu pembayarannya (jatuh
temponya) masih jangka panjang (lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca), yang meliputi :
• Hutang Obligasi
• Hutang Hipotik (hutang yang dijamin dengan aktiva tetap tertentu)
• Pinjaman jangka panjang yang lain.

3. Modal

Merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukkan dalam pos
modal (modal saham), surplus dan laba yang ditahan. Atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki
oleh perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya.
Di dalam neraca sering muncul suatu klasifikasi dengan nama Reserve (cadangan) yang
membingungkan pembaca.seharusnya cadangan ini diklasifikasikan sesuai dengan klasifikasi
neraca yaitu : aktiva, hutang, dan milik sendiri (modal), sehingga cadangan pada prinsipnya juga
terdiri dari 3 golongan yaitu :
1. Cadangan sebagai pengurang aktiva. Biasa dikenal dengan akumulasi penyusutan atau
akumulasi depresiasi, sehingga dalam neraca nampak di sebelah debet mengurangi aktiva yang
bersangkutan.
2. Cadangan sebagai hutang, misanya cadangan untuk pajak, merupakan suatu hutang yang dicatat
sebagai cadangan. Ini tidak benar, seharusnya cadangan untuk pajak ini dimasukkan dalam hutang
lancar, yaitu hutang pajak atau taksiran hutang pajak.
3. Cadangan yang merupakan surplus, yang benar-benar merupakan hak para pemilik perusahaan,
misalnya ”cadangan untuk expansi” adalah merupakan pemisahan sebagian dari laba yang ditahan,
dan dalam neraca masuk dalam klasifikasi modal.

Isi Laporan Keuangan


ü Neraca

ü Laporan Laba Rugi


ü Laporan Perubahan Ekuitas

ü Laporan Arus Kas

ü Catatan Atas Laporan Keuangan

Tujuan Laporan Keuangan


I. Kegunaan Adanya Rumusan Tujuan Laporan Keuangan
– Pembahasan
– Keputusan ekonomi, alokasi kekayaan
– Tujuan, standar, dan praktek, dan hubungannya
– Kritik terhadap akutansi sekarang
II. Pemakai, Tujuan Pemakai Laporan dan Informasi yang Dibutuhkan
– Komponen Keputusan Ekonomi
– Kesamaan Informasi yang dibutuhkan pemakai laporan
– Keputusan kredit
– Keputusan Investasi
III. Tujuan Utama Perusahaan dan Kemampuan Mendapatkan Laba
– Pengukuran prestasi perusahaan berdasarkan tujuannya
– Peranan akutansi
– Akutansi dan laba ekonomi
– Kemampuan mendapatkan laba
IV. Pertanggungjawaban dan Laporan Keuangan
V. Laporan Keuangan: Pelaporan Pencapain Tujuan Perusahaan
– Indikator sukses dalam mencapai tujuan perusahaan
– Siklus perolehan laba
– Penggolongan siklus Perolehan laba
– Kegunaan penggolongan siklus perolehan laba
– Mengukur kemajuan kearah siklus laba yang sempurna
– Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
– Laba dan laporan keuangan
– Pelaporan keberhasilan dalam memcapai tujuan sifat informasi
– Laporan posisi keuangan
– Laporan laba
– Laporan kegiatan keuangan
– Sifat yang menguntungkan dari laporan keuangan
– Penyampaian data dalam angka tunggal dan angka relatif
VI. Laporan Keuangan:Biaya Historis dan Pertimbangan Nilai
VII. Proses Peramalan dan Kaitannya dengan Tujuan Laporan Keuangan
– Laporan Keuangan Konvensional dan Pertimbangan tentang masa depan
– Informasi yang berguna untuk meniali masa depan
– Ramalan keuangan akurasi dan kegunaanya
– Pelaporan Lamaran atau proyeksi
VIII. T ujuan Laporan Keuangan untuk Lembaga Pemerintah dan Lembaga yang tidak Mencari
Laba
– Pengambilan keputusan dalam lembaga pemerintah dan organisasi nirlaba
– Tujuan laporan keuangan untuk organisasi nirlaba
IX. Hubungan Antara Tujuan Perusahaan dengan Tujuan Sosial
– Interaksi langsung atau reciprical
– Interaksi tidak langsung atau nonreciprocal
– Pengukuran dan pelaporan interaksi sosial dalam laporan keuangan

X. Sifat Kualitatif dari Laporan


– Relevan dan materialitas
– Formal dan substansi
– Tingkat kepercayaan
– Dapat diperbandingkan
– Konsistensi
– Dapat dipahami

Manfaat Laporan Keuangan


1. Bagi Perusahaan

Bukti pertanggung jawaban bagi pemilik perusahaan atas kepercayaan yang diberikan kepadanya
untuk mengelola perusahaan.
Alat evaluasi pelaksanaan kegiatan perusahaan baik secara keseluruhan ataupun secara individu
yang diserahi wewenang dan tanggung jawab.
Alat untuk mengukur tingkat biaya dari kegiatan perusahaan.
Dasar dan bahan pertimbangan dalam menetapkan kegiatan dimasa mendatang.
Mengetahui perkembangan dan kondisi keuangan perusahaan.
Alat untuk menilai hasil yang dicapai pimpinan perusahaan.
Dasar penentuan tafsiran keuntungan yang akan diterima dimasa mendatang serta perkembangan
saham yang dimiliki
2. Bagi rumah tangga
Salah satu manfaat dari mempunyai neraca keuangan sendiri ini adalah:

Kemudahan dalam mengisi SPT setiap tahunnya. Dan ketika kita punya neraca satu tahun, ini bisa
dijadikan template untuk tahun-tahun berikutnya, sehingga ketika datang bulan Maret, kita dengan
cepat bisa menentukan kewajiban pajak kita kepada negara. Yang sulit adalah memulainya.
Disamping itu, yang lebih penting lagi, neraca bisa menjadi basis bagi Anda dalam menghitung
jumlah zakat maal yang harus dibayar. Dari tabel diatas, jelas orang tersebut – fiktif tentunya,
sudah wajib zakat; dan berdasarkan net worth-nya, kewajiban zakatnya lebih kurang Rp.
13,425,000 per tahun. Angka ini diperoleh dari perhitungan 2,5% dari nilai net worth.
Namun harus diperhatikan, untuk perhiasan atau harta yang sifatnya idle, seperti emas atau barang
antik, sebagian ulama mengharuskan pembayaran zakat yang lebih besar (5-10%).
Kegunaan lain dari neraca adalah sebagai alat kontrol bagi kita dalam menentukan kemampuan
going concern kita untuk tahun-tahun berikutnya. Neraca yang defisit (net worth nya minus)
menyiratkan perlunya pemangkasan kewajiban, mengurangi hutang dan langkah-langkah
penghematan lainnya.
Disisi lain, defisit juga bisa ditutupi dengan meningkatkan aset (mencari pendapatan tambahan)
atau konversi aset tetap menjadi cash – guna membayar hutang-hutang yang ada, dst.
Sementara, kalau neraca kita, langkah lanjutnya lebih kepada memanfaatkan kelebihan tersebut
untuk keperluan ibadah (haji, perbanyak infaq), membuka usaha, dan sebagainya.