Anda di halaman 1dari 27

PENGARUH MULSA DAN DOSIS PUPUK ORGANIK TERHADAP

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TOMAT


(Lycopersicum esculentum Mill.)

PROPOSAL

Disusun Oleh:
Fitriana Febrianti A / 1625010002
Maharani Putri Puji A / 1625010003
Kiki Dita Ayu / 1625010007
Fitrotin Nufus / 1625010011
Choirotun Nisa’iyah / 1625010020
Ardianti Pramesti / 1625010037

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
2019
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) termasuk family

solanaceae yang berasal dari daratan Amerika latin tepatnya di sekitar Peru dan

Akuador (Wiryanta, 2002). Tomat merupakan tanaman asli Benua Amerika yang

tersebar dari Amerika Tengah hingga Amerika Selatan, tanaman tomat pertama kali

dibudidayakan oleh suku Inca dan suku Aztec pada tahun 700 SM. Pada mulanya

penyebaran tomat terkonsentrasi di Amerika Selatan dan beberapa Negara di Eropa,

Afrika dan Asia, terutama di kawasan India bagian Barat. sampai tahun 1974, FAO

melaporkan bahwa tanaman tomat berkembang pesat di beberapa Negara yang

sedang berkembang, tetapi rata-rata produksinya bervariasi dan masih rendah

(Rukmana, 1994).

Penyebaran tomat di Indonesia dimulai dari Filipina dan Negara –negara

Asia lainnya pada abad ke -18. Di Indonesia pengembangan budidaya tanaman

tomat mendapat prioritas perhatian sejak tahun 1961. Terbukti pada periode tahun

1961-1965 sudah di budidayakan rata-rata seluas 41.000 hektar/tahun, dan periode

tahun 1973-1977 naik menjadi 59.000 hektar. Dari areal seluas itu sebagian besar

masih berpusat di Pulau Jawa, terutama di daerah dataran tinggi diatas 1000 meter

dari permukaan laut (dpl). Pusat pertama yang di duga sebagai daerah penyebaran

tanaman tomat di Indonesia antara lain: Lembang, Pangalengan, Salatiga,

Bondowoso, Malang, dan Tanah karo (Rukmana,1994).

Dari rata-rata hasil per hektar tomat di Indonesia, relatif masih sangat

rendah, yakni pada kisaran 5,0-6,30 ton ha-1. Pesatnya perkembangan berbagai

1
2

varietas unggul tomat dibelahan dunia, mengakibatkan potensi hasil hingga 40 ton

ha-1. Jenis tomat yang dikembangkan di berbagai Negara maju sudah beragam,

termasuk tomat. sementara di Indonesia umumnya baru terbatas tomat kelompok

Lycopersicum esculentum, dikalangan petani tertentu saja. Selain di konsumsi segar

buah tomat juga dimanfaatkan untuk berbagai industri misalnya sambal, saus,

minuman, jamu dan kosmetik ( Bernadinus, 2002).

Produksi buah tomat persatuan lahan bervariasi, tergantung varietasnya.

Pada pertanaman yang baik dan di pelihara secara intensif, dapat berproduksi antara

10-60 ton ha-1. Bahkan potensi produksi tomat hibrida seperti precious 375 dan new

kingkong yang produktivitasnya antara 5-8 kg/tanaman, dapat menghasilkan

minimal 80 ton ha-1 bila populasinya antara 16000 - 18000 tanaman. Sementara

produktivitas tomat hibrida seperti santa rata-rata 500 butir buah/tanaman dan

beratnya ± 4 gram/buah, dapat berproduksi antara 32-36 ton ha-


1
. Sekalipun potensi produksi tomat varietas unggul cukup tinggi, tetapi produksi

rata-rata tomat nasional masih rendah karena berbagai hambatan, antara lain teknik

budidayanya belum memadai secara intensif, adanya serangan penyakit yang

berbahaya, dan masih terbatasnya varietas tomat yang tahan (toleran) terhadap suhu

panas di daerah tropis (Rukmana, 1994).

Rendahnya produksi tomat di Indonesia kemungkinan disebabkan varietas

yang ditanam tidak cocok, kultur teknis yang kurang baik atau pemberantasan

hama/penyakit kurang efesien (Kartapradja dan Djuariah, 1992). Oleh karena itu,

perbaikan system budidaya perlu terus dilakukan dalam upaya meningkatkan

produktivitas tomat.
3

Salah satu aspek budidaya dalam upaya meningkatkan produksivitas

tanaman tomat adalah dengan pemberian mulsa. Mulsa adalah bahan yang sengaja

dihamparkan ke permukaan tanah untuk penutup tanah, pemberian mulsa dapat

membantu pertumbuhan tanaman yang lebih baik, manfaat mulsa antara lain dapat

menghemat penggunaan air yang menekan laju evaporasi dari permukaan lahan,

memperkecil fluktuasi suhu tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan akar dan

mikro organisme tanah, memperkecil laju erosi dan menghambat pertumbuhan

gulma (Lakitan, 1995).

Keuntungan pemberian mulsa antara lain dapat menjaga suhu tanah,

cadangan air tanah serta dapat menjaga kerusakan struktur tanah akibat dari air

hujan. Selain itu pemberian mulsa juga dapat mempercepat dekomposisi bahan

organik dan dapat menambah unsur hara dari bahan mulsa alami (Indradana, 1986).

Selain pemberian mulsa dalam upaya meningkatkan produksivitas tanaman

tomat, pemberian pupuk juga perlu dilakukan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia

dan biologi tanah. Pemberian pupuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan

produksi tanaman yang lebih baik (Moenandir, 2004).

Pemupukan organik merupakan salah satu usaha untuk menambah hara

makro dan mikro bagi tanaman sekaligus memperbaiki struktur tanah (Musmanar,

2006).

Kandungan unsur hara bahan organik sangat penting dalam menyediakan

hara makro dan mikro seperti Zn, Cu, Mo, Co, Ca, Mg dan Si. Meningkatkan

kapasitas tukar kation (KTK) tanah, serta dapat bereaksi dengan ion logam untuk

membentuk senyawa kompleks, sehingga ion logam yang meracuni tanaman atau
4

menghambat penyediaan hara seperti Al, Fe dan Mn dapat dikurangi (Setyorini,

2005).

Pupuk organik merupakan hasil akhir atau hasil dari perubahan peruraian

bagian dari sisa tanaman dan hewan misalnya bungkil, guano dan tepung tulang.

Pupuk organik berasal dari bahan organik yang mengandung berbagai macam unsur

meskipun ketersedian dalam jumlah sedikit (Samekto, 2006 ).

Dari permasalah yang telah diuraikan diatas maka perlu dilakukan penelitian

untuk mengetahui jenis mulsa dan dosis pupuk organik yang tepat agar diperoleh

pertumbuhan dan hasil tanaman tomat yang optimal.

1.2. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mulsa dan dosis pupuk

organik terhadap petumbuhan dan produksi tanaman tomat serta nyata tidaknya

interaksi kedua faktor tersebut.

1.3. Hipotesis

1. Mulsa berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat

2. Dosis pupuk organik berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil

tanaman tomat

3. Terdapat interaksi antara jenis mulsa dan dosis pupuk organik terhadap

pertumbuhan dan hasil tanaman tomat.


II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Botani Tanaman Tomat

2.1.1. Sistematika

Menurut Tugiyono (1999), kedudukan tanaman tomat dalam sistematika

tanaman dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiosspermae

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Tubiflorae

Family : Solanaceae

Genus : Lycopersicum

Spesies : Lycopersicum esculentum Mill

2.1.2. Morfologi

a. Akar

Tanaman tomat berakar pancar, namun relatif tidak dalam akar datarnya

halus dan cukup tebal.Tanaman tomat memiliki akar tunggang yang tumbuh

menembus ke dalam tanah dan akar-akar cabang yang tumbuh menyebar kesemua

arah pada kedalaman 60-70 cm (Rukmana,1999 ).Akar tanaman tomat berbentuk

serabut yang menyebar ke segala arah (Wiryanta,2002).

b. Batang

Batang tanaman tomat berbentuk bulat dan membengkak pada buku- buku.

Bagian yang masih muda berambut biasa dan ada yang bekelenjar. Mudah patah,

dapat naik bersandar pada turus atau merambat pada tali, namun harus

5
6

dibantu dengan beberapa ikatan dibiarkan melata cukup rimbun dan menutupi

tanah(Rukmana 1994). Batang tanaman tomat berbentuk bulat,bercabang banyak

sehingga secara keseluruhannya berbentuk perdu dan teksturnya lunak,tetapi

setelah tua batangnya berubah menjadi bersudut berstektur keras dan berkayu.

Tinggi tanaman tomat mencapai 2-3 m (Wiryanta,2002).

Batang tanaman tomat berfungsi sebagai organ lintasan air dan mineral

dari akar ke daun dan lintasan zat makanan hasil fotosintesis dari daun keseluruh

bagian tumbuhan (Purwati, 2007).

c. Daun

Daun tomat berwarna hijau dan berbulu. Panjangnya sekitar 20-30 cm.

Daun tomat ini tumbuh didekat ujung dahan atau cabang. Sementara itu tangkai

daunnya berbentuk bulat memanjang sekitar 7-10 cm dan ketebalan 0,3-0,5 cm

(Wiryanta,2002).

Daun merupakan organ pada tumbuhan yang berfungsi sebagai tempat

fotosintesis, transpirasi dan sebagai alat pernapasan. Hasil fotosintesis berupa gula

(glukosa) dan oksigen. Glukosa hasil-hasil fotosintesis akan diangkut oleh

pembuluh tapis dan diedarkan keseluruh bagian tumbuhan. Oksigen dikeluarkan

melalui stomata daun dan sebagian digunakan untuk respirasi sel-sel didaun. Daun

juga berperan penting dalam transpirasi yang merupakan peristiwa penguapan pada

tumbuhan. Transpirasi dapat pula melalui batang, tetapi umumnya berlangsung

melalui daun. Melalui transpirasi, air dari tumbuhan dalam bentuk uap air akan

dikeluarkan melalui stomata ke udara. Adanya transpirasi menyebabkan aliran dan

mineral dari akar, batang dan tangkai daun terjadi secara terus-menerus (Purwati,

2007).
7

d.Bunga

Bunga tanaman tomat berwarna kuning dan tersusun dalam dompolan

dengan jumlah 5-10 bunga perdompolan atau tergantung varietasnya. Kuntum

bunganya terdiri dari lima helai daun kelopak dan lima helai mahkota. Pada serbuk

sari bunga terdapat kantong yang letaknya menjadi satu dan membentuk bumbung

yang mengelilingi tangkai kepala putik.Bunga tomat dapat melakukan penyerbukan

sendiri karena tipe bunganya berumah satu. meskipun demikian tidak menutup

kemungkinan terjadi penyerbukan silang (Wiryanta, 2002).Bunga tumbuh dari

batang (cabang) yang masih muda membentuk jurai yang terdiri atas dua baris

bunga.Mahkota bunganya berwarna kuning muda, bentuk bakal buahnya ada yang

bulat panjang berbentuk bola atau jorong melintang, (Rismundar, 1995)

e. Buah

Buah tomat berbentuk bulat,bulat lonjong,bulat pipih atau oval. Buah yang

masih muda berwarna hijau muda sampai hijau tua. Sementara itu buah yang sudah

tua berwarna merah cerah atau merah gelap, merah kekuning-kuningan atau merah

kehitaman. Buah tomat ada juga berwarna kuning tergantung jenis dan varietasnya

(Wiryanta,2002).

2.2. Syarat tumbuh Tanaman Tomat

1. Iklim

Tanaman Tomat dapat tumbuh dalam musim hujan ataupun musim

kemarau namun dalam musim yang basah tidak akan terjamin baik hasilnya, iklim

yang basah akan membentuk tanaman yang rimbun, tetapi bunganya berkurang.

Musim kemarau yang terik dengan angin yang kencang akan menghambat

pertumbuhan bunga (Mengering dan Berguguran). walaupun tomat tahan terhadap


8

kekeringan namun tidak berarti tomat dapat tumbuh dengan subur dalam keadaan

kering tanpa pengairan oleh karena itu didataran tinggi maupun dataran rendah pada

musim kemarau tomat memerlukan penyiraman atau pengairan demi kelangsungan

hidup dan produksinya.

Untuk pertumbuhan tanaman tomat yang memuaskan dalam bentuk

vegetatif maupun generatif diperlukan :

- Curah hujan yang cukup tidak deras dalam masa pertumbuhan bunga dan

buahnya.

- Suhu udara rata-rata 20-300 C pada siang hari, 10-200 C pada malam hari

untuk menjamin perairan yang baik

- Angin yang tidak kering dan kecepatan yang sedang.

Persyaratan iklim lain yang dikehendaki tanaman tomat adalah memerlukan sinar

matahari minimal 8 jam perhari dan curah hujan pada kisaran 750 - 1,250 mm

pertahun.

2. Tanah

Tanaman tomat dapat tumbuh dan berproduksi baik pada berbagai jenis

tanah tetapi paling baik adalah pada tanah liat yang mengandung pasir, hal yang

paling penting keadaan tanah tersebut subur, gembur banyak mengandung bahan

organik (Humus) sirkulasi udara dan tata air dalam tanah baik serta memiliki pH

antara 3-6 dan dapat menahan air dengan baik.

Kesesuaian tanah untuk bercocok tanam tomat ditentukan oleh sifat-sifat

fisik tanah, kimia tanah dan biologi tanah.


9

a. Sifat-sifat fisik tanah.

Keadaan fisis tanah yang baik akan meningkatkan peredaran oksigen dan

menjamin ketersediaan oksigen di dalam tanah. dengan demikian, aktivitas mikro

organisme tanah dalam menguraikan bahan-bahan organik tanah menjadi zat yang

dapat diserap oleh tanaman juga meningkat (Silvi dan Rian, 2008).

Ketersedian oksigen didalam tanah sangat penting untuk pernapasan akar

tanaman dan meningkatkan drainase, sehingga dapat mencegah pengenangan air

yang dapat merugikan kehidupan tanaman tomat. Pertumbuhan tanaman tomat akan

baik pada tanah yang mempunyai drainase yang baik, tanah gembur, subur,

permeabilitas. Tanah yang baik bagi pertumbuhan juga harus mampu menahan air

yang cukup dan hara yang tinggi secara alamiah maupun hara tambahan (Silvi dan

Rian, 2008).

b. Sifat kimia tanah

Sifat kimia tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Sifat

kimia yang sangat berpengaruh tersebut adalah derajat keasaman tanah (pH) dan

keadaan sanilitas (kadar garam) dalam tanah. Tanaman tomat dapat tumbuh optimal

pada tanah dengan pH 5,5 – 6,8. Namun, tanaman tomat masih toleran pada derajad

keasaman hingga dengan pH 5 hingga 7 (Pracaya, 1998).

c. Sifat biologis tanah.

Sifat biologis tanah sangat dipengaruhi oleh sifat fisis tanah yang akan

berpengaruh baik terhadap sifat biologis tanah. Sifat biologis tanah yang baik

membantu melarutkan unsur-unsur hara yang tidak larut, dan dapat menyimpan

kelebihan unsur hara. selain itu juga dapat membantu proses nutrifikasi, dapat
10

menyuburkan tanah dan membantu melancarkan peredaran udara didalam tanah

(aerasi) (Pracaya, 1998).

2.3. Mulsa

Mulsamerupakanmaterial penutup tanaman budidayayang dimaksudkan

untuk menjaga kelembabantanah serta menekan pertumbuhan gulma danpenyakit

sehingga membuat tanaman tersebuttumbuh dengan baik dan optimal (Lesmana,

2010). Mulsa adalah bahan yang dipakai pada permukaan tanah yang berfungsi

untuk menhindari kehilangan air melalui penguapan dan menekan pertumbuhan

gulma (Adisarwanto 1999).Fungsi mulsa jerami adalah untuk menekan

pertumbuhan gulma,mempertahankan agregat tanah dari hantamam air

hujan,memperkecil erosi permukaan tanah,mencegah penguapan airdan melindungi

tanah dari terpaan sinar matahari. juga dapat membantu memperbaiki sifat fisik

tanah terutama struktur tanah sehingga memperbaiki stabilitas agregat

tanah.Umboh (2000) menyatakan bahwa pemberian mulsa pada permukaan tanah

dapat mengurangi air, mengontrol tanaman pengganggu, mengatasi perbedaan

suhu, memperbaiki dan mencegah erosi. Keuntungan pemberian mulsa antara lain

suhu tanah rendah, cadangan air tanah lebih besar, kerusakan struktur tanah akibat

dari air hujan dan penyiraman berkurang, dekomposisi bahan organik tanah tidak

terlalu cepat dan bahkan menambah unsur hara dalam bahan mulsa alami

(Indradana, 1986).

Mulsa jerami sesuai digunakan untuk tanaman semusim atau non-semusim

yang tidak terlalu tinggi dan memiliki struktur tajuk berdaun lebat dengan sistem

perakaran dangkal. Tanaman-tanaman yang selama ini sukses diberi mulsa jerami

antara lain kentang, kedelai, bawang putih dataran rendah, semangka dan melon.
11

dengan adanya mulsa jerami yang memilki efek menurunkan suhu tanah, kentang

pada dataran medium sampai rendah dapat menghasilkan umbi.Rata-rata

kandungan unsur hara yang terkandung dalam jerami adalah 0,4 % N, 0,02 % P, 1,4

%K dan 5,6 % Si.

Dengan adanya bahan mulsa di atas permukaan tanah, benih gulma akan

sangat terhalang. akibatnya tanaman yang ditanam akan bebas tumbuh tanpa

kompetisi dengan gulma dalam penyerapan hara mineral tanah. tidak adanya

kompetisi dengan gulma tersebut merupakan salah satu penyebab keuntungan yaitu

meningkatnya produksi tanaman budidaya. Noorhadi (2003) menambahkan bahwa

mulsa jerami padi merupakan mulsa yang bersifat sarang dan dapat menahan suhu

dan kelembaban tanah, memperkecil penguapan air tanah sehingga tanaman yang

tumbuh pada tanah tersebut dapat tumbuh dengan baik. Mulsa jerami manpu

mengurangi pertumbuhan gulma dan dapat menjaga kestabilan kelembaban dalam

tanah sehingga mendorong aktifitas mikro organisme tanah tetap aktif dalam

mendekomposisi untuk mengsuplai kebutuhan unsur hara yang dibutuhkan pada

pertumbuhan organ vegetatif tanaman (Ramli, 2009). Nurhayati (1986) juga

menjelaskan bahwa salah satu tujuan pemberian mulsa jerami padi adalah untuk

menghambat penguapan yang cukup tinggi khususnya pada daerah- daerah tropis.

2.4. Pupuk Organik

Pupuk organik merupakan bahan yang ditambahkan kedalam tanah untuk

memenuhi tersedianya unsur hara bagi pertubuhan dan produksi tanaman sehingga

sangat jelas lahan yang tidak menggunakan pupuk organik akan


12

mengalami kerusakan yang hebat. jadi pupuk organik merupakan satu-satunya

jawaban pertanian kita kedepan.

Pupuk organik merupakan hasil akhir atau hasil dari perubahan peruraian

bagian dari sisa tanaman dan hewan misalnya bungkil, guano dan tepung tulang.

Pupuk organik berasal dari bahan organik yang mengandung berbagai macam unsur

meskipun ketersedian dalam jumlah sedikit (Samekto,2006 ).Pupuk organik tidak

lain adalah bahan yang dihasilkan dari pelapukan sisa-sisa tanaman,hewan,dan

manusia.Ada beberapa macam kelebihan dari pupuk organik ini sehingga ia sangat

disukai petani, diantaranya sebagai berikut.

Memperbaiki struktur tanah.ini dapat terjadi karena organisme tanah saat

penguraian bahan organik dalam pupuk bersifat sebagai perekat dan dapat mengikat

butir-butir tanah menjadi butiran yang lebih besar.Menaikkan daya serap tanah

terhadap air.Bahan organik memiliki daya serap yang besar terhadap air tanah.

itulah sebabnya pupuk organik sering berpengaruh positif terhadap hasil

tanaman,terutama pada musim kering.Menaikkan kondisi kehidupan di dalam

tanah. Hal ini terutama disebabkan oleh organisme dalam tanah yang

memanfaatkan bahan organik menjadi makanan.oleh karena itu,pupuk organik

seperti pupuk kandang yang diberikan pada tanah harus diuraikan terlebih dahulu

oleh jasad renik melalui proses pembusukan atau peragian sebelum diisap oleh akar

tanaman.

Dari proses pembusukan ini,jasad renik memperoleh makanan dan sumber

tenaga. Semakin banyak pula jasad renik dalam tanah.sebagai sumber zat

makanan.Pupuk organik mengandung zat makanan yang lengkap meskipun

kadarnya tidak setinggi pupuk anorganik.selain itu,caranya diakui memang agak


13

lambat dibanding pupuk anorganik. itulah sebabnya untuk mencapai hasil

maksimal,pemakaian pupuk organik hendaknya diimbangi dengan pupuk

anorganik agar keduanya saling melengkapi. dengan demikian,akan tercipta tanah

pertanian yang kaya zat hara,strukturnya gembur atau remahdan berwarna coklat

kehitaman. Jenis pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang.pupuk

kandang adalah pupuk yang berasal dari kandang ternak,baik berupa kotoran

padat(feses) yang bercampur sisa makanan maupun(urine). itulah sebabnya pupuk

kandang terdiri dari dua jenis,yaitu padat dan cair(Lingga,2008)

Pupuk kandang adalah pupuk alam yang berasal dari kotoran ternak yang

bercampur dengan sisa makanan yang membusuk dan urine (Tim Penyusun Kamus

PS, 2003 dalam Nova, 2012). Kandungan unsur hara yang terkandung dalam pupuk

kandang kotoran sapi adalah Air (H2O) 85%, N 0,40%, P2O5 0,20% dan K2O 0,10%

(Sutejo, 2002).

Penggunaan pupuk kandang organik dapat memperbaiki kesuburan tanah

dan meningkatkan efesien penggunaan pupuk anorganik sehingga mempercepat

pertumbuhan tanaman. Kandungan N, P, K dalam pupuk kandang tidak terlalu

tinggi dapat memperbaikipermeabilitas tanah, porositas, struktur tanah, daya

menahan air dan kandungan kation tanah. Pemberian pupuk kandang pada tanaman

dapat membantu menetralkan pH tanah, meningkatkan kesuburan tanah dan

memperbaiki struktur tanah menjadi lebih gembur (Samekto, 2006).

2.5. Peranan Unsur Hara Bagi Tanaman.

2.5.1. Nitrogen (N).

Secara umum nitrogen berperan dalam memacu pertumbuhan tanaman

terutama pada fase vegetatif, berperan dalam pembentukan klorofil serta


14

komponen pembentuk lemak, protein dan persenyawaan lain (Marsono dan Sigit,

2001). Parker (2004) menambahkan bahwa nitrogen berperan dalam proses

pertumbuhan, sintesis asam amino dan protein serta merupakan pembentuk struktur

klorofil. Nitrogen sebagai pembentuk struktur klorofil, nitrogen akan

mempengaruhi warna daun. ketika tanaman tidak mendapatkan cukup nitrogen,

warna hijau daun akan memudar dan akhirnya menguning. Kekurangan nitrogen

akan menyebabkan pertumbuhan terhambat, daun berwarna kuning, tangkai tinggi

kurus dan warna hijau daun menjadi pucat.

Pemberian unsur hara nitrogen dapat dilakukan melalui pemupukan. Pupuk

nitrogen termasuk pupuk kimia buatan tunggal. Jenis pupuk ini termasuk pupuk

makro. sesuai dengan namanya pupuk-pupuk dalam kelompok ini didominasikan

oleh unsur nitrogen. Adanya unsur lain didalamnya lebih bersifat sebagai pengikat

atau juga sebagai katalisator. Salah satu jenis pupuk nitrogen yang sering digunakan

adalah urea. Urea adalah pupuk buatan hasil persenyawaan NH4(ammonium)

dengan CO2. Bahan dasarnya biasanya berupa gas alam dan merupakan hasil ikutan

tambang minyak bumi. Kandungan N berkisar antara 45 – 46 % (Marsono dan Sigit,

2001).

2.5.2. Phosfor (P).

Phosfor disebut sebagai kunci kehidupan bagi tanaman karena unsur ini

terlibat lansung dalam proses hidup tumbuhan. Unsur P adalah hara kedua setelah

nitrogen dalam frekuensi atau kegunaanya sebagai pupuk. Keperluan P kadang-

kadang lebih kritik dari pada N pada tanah-tanah tertentu. Nitrogen dapat ditambat

oleh mikroba dari udara, tetapi unsur P hanya berasal dari batuan. Tanpa kecukupan

P sebagai proses didalam tanaman akan terhambat sehingga


15

pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak berlangsung secara optimal (Balai

Penelitian Tanaman Pangan Bogor, 1991).

Phosfor berperan dalam meransang pertumbuhan dan perkembangan akar,

sebagai bahan dasar (ATP dan ADP), membantu asimilasi dan respirasi,

mempercepat proses penbungaan dan pembuahan, serta pemasakan biji dan buah

(Marsono dan Sigit, 2001). Parker (2004) menambahkan phosfor berperan dalam

mestimulasi pertumbuhan akar, membantu pembentukan benih, berperan dalam

proses fotosintesis dan respirasi. Kekurangan unsur phosfor akan menyebabkan

warna keunguan pada daun dan batang serta bintik hitam pada daun dan buah.

Menurut Tan (1996) phosfor merupakakan hara tanaman esensial dan

diambil oleh tanaman dalam bentuk ion anaorganik :H2 PO4. phosfor diperlukan

dalam perkembangan akar untuk mempertahankan vigor tanaman, untuk

pembentuk benih, dan pengontrolan kematangan tanaman. Phosfor juga merupakan

komponen esensial ADP (Adenosine Di Phospate) dan ATP (Adenosine Th

Phospate), yang bersama-sama memerankan bagian penting dalam fotosintesis dan

penyerapan ion serta sebagai transportasi dalam tanaman. Phosfor juga merupakan

bagian esensial dari asam nukleat (DNA dan RNA).

2.5.3. Kalium

Kalium berperan dalam membantu pembentukan protein dan karbohidrat,

memperkuat jaringan tanaman, berperan membentuk antibody tanaman terhadap

penyakit serta kekeringan (Marsono dan Sigit, 2001). Kalium tidak disintensis

menjadi senyawa organik oleh tumbuhan, sehingga unsur ini tetap sebagai ion

didalam tumbuhan. Kalium berperan sebagai aktivator dari berbagai enzim yang

esensial dalam reaksi-reaksi fotosintesis dan respirasi, serta untuk enzim yang
16

terlibat dalam sintensis protein dan pati. Kalium juga merupakan ion yang berperan

dalam mengatur potensi osmotik sel, dengan demikian akan berperan dalam

mengatur tekanan turgor sel. berkaitan dengan pengaturan turgor sel ini, peran yang

penting dalam proses membuka dan menutupnya stomata (Lakitan, 2004). Tanaman

yang kekurangan kalium akan lebih peka terhadap penyakit dan kualitas produksi

biasanya rendah baik daun, buah maupun biji seperti pada tanaman kedelai

(Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).

Kebutuhan tanaman akan unsur K dapat diperoleh dari pemupukan. Salah

satu jenis pupuk kalium yang dikenal adalah KCl (Marsono dan Sigit, 2001). Upaya

pemupukan kalium harus memperhatikan asas efektifitas karena selain mudah larut

dan tercuci bersama air perlokasi, unsur kalium juga mudah terikat dalam tanah.

Efektifitas pemupukan kalium dapat dicapai antara lain dengan memperhatikan

waktu dan cara pemupukan yang tepat. Pemberian pupuk kalium secara bertahap

diperlukan untuk mencegah penyerapan berlebihan oleh tanaman “luxury

Consumption”. Pada tanah yang mengandung kalium cukup tersedia pemberian

pupuk kalium dapat dikurangi. dibandingkan tanaman pangan, tanaman perkebunan

dan industri lebih banyak menggunakan pupuk kalium anorganik (Runhayat, 1995).
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur mulai dari tanggal 3

Desember sampai 15 Maret 2019.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

1. Benih

Benih tomat yang digunakan dalam penelitian iniadalah varietas hibrida

montero disediakan sebanyak 10 grm.

2. Mulsa

Mulsa yang digunakan dalam penelitian ini adalah mulsa jerami padi

diambil dari desa Pulo Ie kecamatan Kuala,Kabupaten Nagan Raya danmulsa

serbuk gergajidiambil dari desa Suak Puntong.

3. Kapur

Kapur pertanian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dolomit.

4. Pupuk

Pupuk organik yang digunakan dalam penelitian ini adalah pupuk kandang

dari kotoran sapi yang telah terdekomposisidiambil dari desa Suak Puntong

kecamatan Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya dan pupuk Urea, KCl dan SP-36.

17
18

5. Polybag

Polibag yang digunakan dalam penelitian ini adalah polybag kecil atau

babybag untuk persemaian.

6. Pestisida

Pestisida yang digunakan dalam penelitian ini adalah furadan, selvin

dithane M-45 dansynbus.

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

Cangkul, garu, Parang, Pisau, ajir, tali rapia, timbangananalitik, hand

spayer, jangka sorong,papan nama, cat, gembor, ember, sekop, ayakan pasir,

meteran dan alat-alat tulis.

3.3. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan maka

terdapat 9 kombinasi perlakuan sehingga terdapat 27 unit satuan percobaan. Faktor

yang di teliti meliputi mulsa dan dosis pupuk kandang.

Faktor Mulsa (M) yang terdiri dari 3 taraf yaitu

M0 = Tanpa Mulsa

M1 = Mulsa Jerami

M2= Mulsa Serbuk Gergaji

Faktor Dosis Pupuk Organik (P) terdiri dari 3 taraf yaitu :

P1= 10 ton ha-1 (2,25 gr bedengan-1)

P2= 20ton ha-1 (4,50 gr bedengan-1)

P3=30 ton ha-1 (6,75 gr bedengan-1)


19

Dengan demikian terdapat 9 kombinasi perlakuan masing-masing perlakuan

di ulang sebanyak 3 kali sehingga berjumlah 27 satuan percobaan. Susunan

kombinasi perlakuan antara mulsa dan dosis pupuk organik dapat dilihat pada Tabel

1.

Tabel 1. Susunan Kombinasi Perlakuan antara Mulsa dan Dosis Pupuk Organik

Kombinasi Dosis Pupuk Organik


No Mulsa
Perlakuan (ton ha-1)
1 M0P1 Kontrol 10
2 M0P2 Kontrol 20
3 M0P3 Kontrol 30
4 M1P1 Jerami 10
5 M1P2 Jerami 20
6 M1P3 Jerami 30
7 M2P1 Sebuk gergaji 10
8 M2P2 Sebuk gergaji 20
9 M2P3 Sebuk gergaji 30

Model matematis yang akan digunakan adalah :

Yijk = µ + βi + Mj + Pk +(MP)jk+ εijk

Keterangan :
Yijk = Nilai pengamatan untuk faktor mulsa taraf ke – j, faktor dosis pupuk
organik taraf ke- k dan ulangan ke-k
µ = Nilai tengah umum
βi = Pengaruh ulangan ke-i (i =1,2,3)
Mj = Pengaruh faktor mulsa ke-j(j=1,2,3)
Pk = Pengaruh faktor dosis pupuk organik ke-k (k=1,2,3)
(MP)jk = Interaksi mulsa pada taraf mulsa ke –j, taraf dosis pupuk organik ke-k

εijk = Galat percobaan untuk ulangan ke-i, faktor mulsa taraf ke-j, faktor

pupuk organik taraf ke-k.


20

Apabila Hasil uji F menunjukkan pengaruh yang nyata maka


dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Dengan rumus
sebagai berikut:

BNT0,0,5 = t0,0 5 (;dbg)

Dimana :
BNT0,0 5 = Beda Nyata Terkecil pada taraf 5%
t0,0 5 (;dbg ) = Nilai baku t pada taraf 5%
KTg = Kuadrat Tengah Galat
r = Jumlah ulangan.

3.4. Pelaksanaan Penelitian

1. Pengolahan tanah

Pengolahan tanah dilakukan dengan mencangkul sedalam 20 cm. setelah

tanah dicangkul kemudian diratakan dan dibuatkan bedengan dengan ukuran lebar

1,5 m panjang 1,5 m.

2. Pengapuran

Untuk mengurangi keasaman tanah maka dilakukan pengapuran.

Pengapuran dilakukan dengan cara mencampur atau mengaduk dengan tanah

hingga rata dengan dosis 2 ton ha-1 ( 450 gr bedengan-1), kapur yang di gunakan

adalah dolomit.

3. Persemaian

Benih terlebih dahulu disemai, Sebelum disemai benih direndam dalam air

selama 30 menit kemudian benih dibiarkan berkecambah didalam pletidis selama 3

hari setelah benih sudah berkecambah lalu disemaikan dalam polybag kecil yang

sudah diisi tanah dengan pupuk kandang 2 : 1 (dua bagian tanah satu
21

bagian pupuk kandang ), dan benih yang sudah di semai ke dalam polybag kecil

atau babybag ditaruh di tempat penyemaian yang sudah disediakan dan ditutup

kembali dengan naungan guna untuk melindungi dari pancaran sinar matahari

supaya tidak terlalu panas, selanjutnya ditaburkan furadan guna untuk menhindari

tanaman semai dari gangguan hama semut.

4.Pemupukan

Pupuk dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah Urea, KCl dan

SP-36. Dengan dosis Urea 150 kg ha-1, KCl 100 kg ha-1 dan SP-36 100 kg ha-1.

Pupuk dasar diberikan pada saat tanam dengan cara ditaburkan di sekitar tanaman.

Pupuk organik yang digunakan dalam penelitian ini adalah pupuk organik

dari kotoran sapi yang telah terdekomposisi dengan sempurna, dengan dosis

pemberian pupuk organik sesuai dengan perlakuan yaitu (P1) 2,25 kg plot-1, (P2)

4,50 kg plot-1, (P3) 6,75 kg plot-1yang diambil di desa Suak Puntong Kecamatan

Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya, pupuk perlakuan diberikan sebelum

penanaman.

4. Pemberian mulsa

Pemberian mulsa dilakukan sesuai perlakuan yaitu tanpa mulsa, mulsa

jerami dan mulsa serbuk gergaji. Pemberian mulsa jerami dan mulsa serbuk gergaji

dilakukan bersamaan dengan waktu penanaman, ketebalan masing-masing mulsa 2

cm yang diambil dari desa Pulo Ie Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya.

5. Penanaman

Pemindahan bibit kelapangan dilakukan setelah bibit berumur 15 hari

setelah semai, bibit terlebih dahulu diseleksi dan bibit diangkat satu persatu untuk
22

dipindahkan kemedia tanam yang telah disediakan, bibit ditanam ditengah-tengah

lubang tanam dengan jarak tanam 70 x 70 cm, selanjutnya disiram hingga cukup

basah.

6. Pemeliharaan tanaman

Pemeliharaan tanaman meliputi :

a. Penyiraman

Penyiraman dilakukan dengan hati-hati diusahakan air tidak mengenai

batang dan daun tanaman. Air disiram sekitar tanaman saja. Penyiraman

dilakukan pada pagi dan sore hari dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

b.Penyulaman

Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati, rusak atau

kurang baik pertumbuhannya. Bibit pengganti dipilih yang baik pertumbuhannya.

Penyulaman dilakukan seminggu setelah tanam.

c.Pemasangan Ajir

Pemasangan ajir pada tanaman tomat dilakukan pada saat tanaman berumur

14 HST, yang berfungsi untuk penompang tanaman dan buah.

c. Pemangkasan

Pemangkasan dilakukan terhadap tunas-tunas muda dan pucuk batang. Pada

setiap batang cukup ditinggalkan 2 cabang utama. Tujuan pemangkasan adalah

untuk menjaga waktu berubah. Biasanya tanaman yang bercabang banyak,buahnya

menjadi kerdil dan terlalu lama masak. Selain itu tanaman yang dipangkas

penyakitnya juga berkurang.


23

d.Pengendalian hama dan penyakit

Untuk mengendalikan hama dan penyakit digunakan insektisida selvin

dithane M-45, Furadan yang menyerang percabangan tanaman tomat dengan cara

ditabur di sekitar tanaman yang terkena serangan, sedangkan selvin dithane M-45

dilakukan dengan cara disemprot. Penyemprotan insektisida synbus dilakukan pada

hama yang menyerang pembusukan buah terhadap tanaman tomat.

7. Panen

Pemanenan dilakukan pada tingkat kemasakan buah 75% yaitu ketika buah

berwarna kuning kemerahan saat tanaman berumur 60 hari setelah tanam. Kondisi

buah saat dipanen kulit buah berubah kekuning-kuningan.

3.5. Pengamatan

Adapun peubah – peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Tinggi Tanaman (cm)

Pengamatan tinggi tanaman dilakukan dengan cara mengukurpangkal batang

sampai titik tumbuh tertinggipada umur 15, 30 dan 45 HST dengan menggunakan

meteran dalam satuan centi meter.

2. Diameter Pangkal Batang (mm)

Pengamatan diameter pangkal batang dilakukan dengan cara mengukur

diameter pangkal batang pada umur 15, 30 dan 45 HST dengan menggunakan

jangka sorong dalam satuan mili meter.


24

3. Jumlah Buah Per Tanaman (buah).

Pengamatan jumlah buah pertanaman dilakukan dengan menghitung buah

pada umur 60, 65 dan 72 HST.

4. Berat Buah Per Tanaman (gr)

Pengamatan berat buah per tanaman dilakukan dengan cara menimbang

buah tomat yang sudah dipanen pada umur 60, 65 dan 72 HST dengan

menggunakan timbangan analitik dalam satuan gram.

5.Produksi Per Hektar (Ton)

Produksi tomat per hektar dihitung dengan cara mengkonversikan berat

buah pertanaman dengan populasi tanaman dalam satuan ton.


DAFTAR PUSTAKA

Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor, 1991. Efektivitas Pupuk Daun Terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Cabai Merah (Capsicum annum L). Program studi
Holtikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
http://repositoryIpb.Ac.Id/tstream/handle/123456789/5283/BAB%201%
Tinjauan%20 Pustaka. Pdf? Sequence=3 di akses pada tanggal 10/7/2012.
Bernadinus, T. 2002. Pembudiaan secara komersial. Jakarta.
Indradana, H. K. 1986. Pengolahan Kesuburan Tanah. Bisma Aksara. Jakarta 90
hal.
Kartapradja, R dan D. Djuariah, 1992. Pengaruh Tinggkat Kematangan Buah Tomat
terhadap Daya Kecambah, Pertumbuhan dan Hasil Tomat. Buletin
penelitian holtikultura Vol XXIV/2.
Kartasapotra.1988. Ilmu tanah. (terjemahan soegiman) Bharata Karya Aksara,
Jakarta.
Koryati T, 2004. Pengaruh Penggunaan Mulsa dan Pemupukan Urea Terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Cabai merah (Capsicum annum L). Dalam J.
Penelitian Bidang Ilmu Pertanian volume 2. Hal 13-16.
Lakitan, B. 2004. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Cetakan I
PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Lakitan. 1995. Hortikutura (teori budidaya dan paska panen) Raja Gravindo
Persada. Jakarta. 219 hal.
Leiwakabessy, F. M. 1998. Ilmu Kesuburan Tanah dan Penuntun Praktikum.
Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB, Bogor. 163 hlm. Dalam
skripsi Cut Indrawati, 2002, Pengaruh Mulsa dan Zat Pengatur Tumbuh
terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Tomat (Lycopersicum
esculentum Mill) 62 hlm.
Leiwakabessy, F. M. dan A. Sutandi. 2004. Pupuk dan Pemupukan. Departemen
Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Lesmana d, 2010. Dampak Teknologi Mulsa Plastik terhadap Produksi dan
Pendapatan Petani Tomat (Lycopersicum esculentummill) di Desa
Bangunrejo Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai
Kartanegara
Linggap dan Marsono.2008. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya,
Jakarta.150 hlm.
Marsono dan P. Sigit, 2001. Jenis Pupuk dan Aplikasinya. PT Penebar swadaya,
Jakarta.
Moenandir, J., 2004. Prinsip-prinsip Utama Cara Menyukseskan Produksi
Pertanian. Unibraw, Malang.
Musmanar, E. 1., 2006. Pupuk Organik. Penebar Swadaya, Jakarta.
Nova O, 2012. Pengaruh Dosis Pupuk Kandang dan Kesentrasi Pupuk Agrobots
Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica juncea L). Fakultas
Pertanian. UTU. Aceh Barat.
Parker, 2004. Pengantar Agronomi. Gramedia, Jakarta.
Pracaya, 1998. Bertanam Tomat. Kanisius, Yogyakarta.
Purwati, 2007. Budidaya Tomat. Penebar Swadaya, Jakarta.
Ramli, 2009. Pengaruh Berbagai Jenis Mulsa Terhadap Pertumbuhan Awal
Tanaman Mangga (Mangifera indica L). Dalam J. Jurusan Budidaya
Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Sulawesi tengah.
Rismunandar. 1995. Tanaman Tomat. Penebar Swadaya, Bandung. 60 hlm
Rukmana. 1994. Budidaya Tomat. Kanisius. Yogjakarta.
Runhayat, 1995. Pengguna Pupuk dalam Budidaya Tanaman. Agromedia Pustaka.
Jakarta.
Samekto, R . 2006 . Pupuk Kompos. Yogjakarta
2006. Pupuk Kandang. PT Citra Aji Parama. Yogyakarta.
Setyorini, D., 2005. Pupuk Organik Tingkatkan Produksi Pertanian, (http://www.
Pustaka-deptan.go.Id).
Silvi dan Rian, 2008. Meraup Rizki dengan Bertanam Tomat. Pringgadani,
Bandung 85 Hlm.
Sutejo, M. M, 2002. Pupuk dan Pemupukan. Pustaka Buana. Bandung.
Tan, 1996. Plant Physiology. The Benjamin/Cummings pub. Co., Inc. California.
Tugiono, H. 1999, Bertanam Tomat. Penebar swadaya. Jakarta. 38 hal.
Umboh. A. H. 2000 Petunjuk Penggunaan Mulsa. Penebar swadaya, Jakarta. 89 hal.
Wattimena,G. A., 1990. Penggunaan Zat Pengatur Tumbuh-tumbuhan pada
Perbanyakan Propagula Tanaman, Prosiding Seminar Agrokimia Fakultas
Pertanian UNPAD Bandung.
Wibawa, A. 1998. Intensifikasi Pertanaman Kopi dan Kakao Melalui Pemupukan.
Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. 14 (3): 245-262.
Wiriyanta. 2002. Budidaya Tomat. Agromedia pustaka. Jakarta. 101 hal.