Anda di halaman 1dari 4

IDENTIFIKASI JENIS MIKROORGANISME PADA KARIES GIGI ANTARA ANAK DAN LANSIA

(Skripsi) Oleh : Dita Ayu Permata Dewi

1. Mikroorganisme pada plak gigi

Spesies mikroorganisme spesifik yang dapat diidentifikasi sebagai mikroorganisme yang terlibat dalam
pengembangan karies, yaitu Streptococcus mutans, Streptococcus sobrinus, Lactobacillus, Actinomyces,
dan terkadang ditemukan Candida (Jared, 2010; Karpiński dan Szkaradkiewicz, 2013). Pada suatu
penelitian didapatkan jenis mikroorganisme dalam plak yang berbeda-beda. Pada awal pembentukan
plak, kokus gram positif merupakan jenis yang paling banyak dijumpai seperti Streptococcus mutans,
Streptococcus sobrinus, Streptococcus oralis, dan Streptococcus salivarius. Pada suasana mulut yang
asam mikroorganime penyebab karies gigi yang paling banyak ditemukan adalah dari spesies
Lactobacillus diantaranya Lactobacillus acidophilus dan Lactobacillus fermentum Mikroorganisme
penyebab karies memiliki sifat asidogenik (membentuk asam dari substrat) dan asidurik (resisten
terhadap asam dan memproduksi asam secara terus-menerus) (Loesche, 1996; Karpiński dan
Szkaradkiewicz, 2013; Aparna, 2013).

2. Substrat

Substrat adalah suatu molekul kimia yang berasal dari berbagai makanan halus dan minuman yang
dikonsumsi sehari-hari yang menempel pada gigi. Salah satu jenis substrat adalah gula. Terlalu sering
mengkonsumsi makanan yang mengandung gula akan meningkatkan jumlah plak dan pertumbuhan
mikroorganisme didalamnya. (Ramayanti dan Purnakarya, 2013). Sebuah teori dikatakan bahwa orang
yang banyak mengonsumsi karbohidrat cenderung mengalami kerusakan pada gigi, sebaliknya pada
orang dengan diet yang banyak mengandung lemak dan protein hanya sedikit atau sama sekali tidak
mempunyai karies gigi. Karbohidrat merupakan senyawa yang dipecah menjadi produk gula dan
merupakan konsumsi setiap individu sehari-hari seperti nasi (Pintauli dan Hamada, 2008; Ramayanti dan
Purnakarya, 2013).

3. Host

Ada beberapa hal yang dihubungkan dengan gigi sebagai host terhadap karies gigi, yaitu ukuran dan
bentuk gigi, struktur email, faktor kimia, dan saliva (Ramayanti dan Purnakarya, 2013). Pit dan fisur pada
gigi posterior sangat rentan terhadap karies karena sisasisa makanan mudah menumpuk di daerah
tersebut terutama pit dan fisur yang dalam. Pit dan fisur adalah bagian permukaan kunyah yang
memiliki dua struktur landasan halus dan kasar. Permukaan gigi yang kasar dapat menyebabkan plak
mudah melekat (Pintauli dan Hamada, 2008).

Pada gigi permanen orang dewasa email mengandung 96% mineral (ion kalsium fosfor dan
hidroksipatit), air 1%, dan bahan organik 3%. Bagian luar email mengalami mineralisasi yang lebih
sempurna dan mengandung banyak fluor, fosfat, sedikit karbonat, dan air. Kepadatan mineral pada
email sangat menentukan kelarutan email. Semakin banyak email mengandung mineral maka email
menjadi semakin padat dan resisten. Gigi susu lebih mudah terserang karies dari pada gigi permanen.
Hal ini disebabkan karena email gigi susu mengandung lebih banyak bahan organik dan air sedangkan
jumlah mineralnya lebih sedikit daripada gigi permanen. Selain itu, struktur pembentuk gigi susu tidak
sepadat gigi permanen (Pintauli dan Hamada, 2008).

Saliva adalah pelindung gigi dari asam. Sebuah penelitian klinis menunjukkan peningkatan kerusakan
struktur gigi dengan cepat yang diakibatkan oleh xerostomia (Penurunan produksi saliva). Saliva
berperan penting dalam melindungi struktur gigi karena memiliki kemampuan buffering yaitu
kemampuan membersihkan rongga mulut secara alami serta mengandung ion Ca2+, HPO42-dan fluoride
(Heasman, 2003; Senjaya, 2016).

4. Waktu lamanya plak

Waktu lamanya plak berhubungan dengan kecepatan terbentuknya karies. Secara umum, lamanya
waktu yang dibutuhkan plak untuk berkembang menjadi suatu karies diperkirakan 6-48 bulan dan
berbeda pada setiap orang (Quock, 2015).

Prosedur dan Pelaksanaan Penelitian

Pengambilan Sampel

1. Subjek diminta membuka mulut tidak terlalu lebar atau mengatakan“e”. Kemudian dicari bagian gigi
yang mengalami karies.

2. Dilakukan swab pada plak menggunakan copan swab steril daripermukaan gigi yang teridentifikasi
karies.

3. Copan hasil swab dimasukkan ke dalam BPS (Butter Phospat) danlilitkan parafilm pada tutup tabung.
Lalu dilabeli identitas pasiendan disimpan dalam kotak pendingin.

4. Copan swab dibawa ke Laboratorium Kesehatan Daerah ProvinsiLampung sesegera mungkin.

Pembuatan Media dan Isolasi Sampel

1. Mengambil cotton bud steril (swab transport) yang telah berada dalam BPS (Butter Phospat)
kemedium Agar darah yang sudah dilabeli identitas dan disebar dengan ose yang sudah disterilkan.

2. Dilakukan inkubasi pada inkubator selama 24 jam pada suhu 370 C.

Identifikasi Bakteri dengan Pewarnaan Gram


1. Ambil koloni yang tumbuh pada Agar darah.

2. Siapkan kaca preparat bersihkan kaca preparat. Setelah itu lalukan di atas api sebnayak 3x.

3. Teteskan kaca preparat dengan NaCl, kemudian ambil koloni bakteri pada agar plate menggunakan
ose yang telah dipanaskan kemudian oleskan pada tetesan NaCl di kaca preparat membentuk bulat atau
lonjong.

4. Diamkan kaca preparat hingga mengering kemudian lalukan diatas api sebanyak 3x untuk fiksasi.

5. Tetesi preparat tersebut dengan zat warna Karbol Gentian Violet. Diamkan selama 30 detik. Buang zat
warna berlebih.

6. Tambahkan zat pematek Lugol (Iodium : Kalium Iodium : Aquades = 1 : 2 : 300), selama 30 detik.
Kemudian cuci dengan air

7. Bilas preparat dengan alkohol 96% selama 2 detik hingga zat warna larut kemudian bilas dengan
akuades.

8. Tetesi preparat dengan pewarna kedua. Diamkan selama 30 detik. Buang kelebihan zat warna. Bilas
dengan akuades.

9. Keringkan preparat dan diatasnya diberi satu tetes minyak imersi untuk menghindarkan perbedaan
indek bias.

10. Hasil pewarnaan gram yang diamati dengan mikroskop

11. Hasil pengamatan dengan hasil koloni murni dikultur kemabali pada Agar darah II dan dinkubasi
kembali selama 24 jam pada suhu 370 C untuk identifikasi lebih lanjut.

Pengamatan Bakteri

1. Terdapat dua jenis bakteri yaitu jenis Coccus dan Bacil

2. Untuk bakteri jenis Coccus dilakukan uji VP (Vogest Proskauer). Ambil koloni bakteri yang tumbuh
pada media menggunakan ose bulat yang telah dipanaskan hingga pijar lalu didiamkan beberapa saat.
Masukkan ose dalam tabung reaksi, aduk dengan memutar dan menauk turunkan ose hingga koloni
tercampur dengan larutan. Kemudian media diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370 C. Hasil positif uji
adsalah terbentuknya warna merah pada medium setelah ditambahkan KOH.

3. Untuk bakteri jenis Coccus dan Bacil dilakukan uji identifikasi dengan uji biokimia.

a. TSIA (Triple Sugar Iron Agar)

Ambil koloni yang tumbuh pada media menggunakan ose bulat yang telah dipanaskan hingga pijar dan
sudah tidak terlalu panas. Kemudian buka tutup tabung media, oleskan secara zigzag pada lereng media
kemudian tusukan hingga sasar media. Tutup kembali tabung media dan diinkubasi selama 24 jam pada
suhu 370 C. Hasil pengamatan adalah lereng banding dasar, perubahan bermakna adalah perubahan
menjadi warna kuning.
b. SIM (Sulfida Indol Motil)

Ambil koloni pada media menggunakan ose bulat yang telah dipanaskan hingga pijar dan sudah tidak
terlalu panas. Kemudian tusukkan tegak luruspada media SIM. Lakukan inkubasi selama 24 jam dengan
suhu 370 C. Pada pengamatan tabung ditambahkan reagen kovac. Sulfida Positif jika terdapat endapan
hitam, Indol positif jika terbentuk cincin merah setelah pemberian reagen kovac, Motil positif jika
terdapat selaput putih seperti kapas pada bagian atas tabung.

c. Citrat (Simons Citrat)

Ambil koloni pada media menggunakan ose bulat yang telah dipanaskan hingga pijar dan sudah tidak
terlalu panas. Kemudian goreskanz ig-zag pada media. Lakukan inkubasi selama 24 jam dengan suhu
370C. Pada pengamatan warna media akan berubah menjadi merah atau merah muda untuk hasil
positif.

d. Pada uji media gula-gula (glukosam laktosa, maltosa, mannitol, sukrosa). Bakteri yang telah tumbuh
pada media agar darah diinokulasi pada media gula-gula. Ambil koloni bakteri yang tumbuh pada media
menggunakan ose bulat yang telah dipanaskan hingga pijar lalu didiamkan beberapa saat. Masukkan ose
dalam tabung reaksi, aduk dengan memutar dan menauk turunkan ose hingga koloni tercampur dengan
larutan. Kemudian media diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370. Hasil positif adanya perubahan
warna medium menjadi kuning dan membentuk gas apabila terdapat gelembung udara padatabung
durham.

4. Mengamati hasil uji tersebut kemudian diidentifikasi jenis bakterinya.

IDENTIFIKASI JENIS MIKROORGANISME PADA KARIES GIGI ANTARA ANAK DAN LANSIA

(Skripsi)

Dewi,Dita Ayu Permata.2018. IDENTIFIKASI JENIS MIKROORGANISME PADA KARIES GIGI ANTARA ANAK
DAN LANSIA (Skripsi). Lampung:Universitas lampung