Anda di halaman 1dari 3

KONSEP DASAR MANAJEMEN

(Materi Kuliah 20 Februari 2018)

A. PENGERTIAN MANAJEMEN
Dewasa ini istilah manajemen sangatlah terkenal. Tidak hanya kalangan akademisi
atau birokrasi saja yang sering membicarakan tentang manajemen, namun hampir seluruh
lapisan masyarakat sesekali juga memperbincangkannya. Ini menunjukkan bahwa sitilah
manajemen bukan istilah yang asing bagi semua kalangan. Meski telah dipahami secara
luas, namun tentu saja terdapat perbedaan antara kalangan awam dengan akademisi dalam
membahas tentang manajemen. Kalangan awam mungkin hanya melihat praktiknya saja,
sementara akademisi melihatnya dari berbagai segi, mulai dari substansi, teori, sampai
pada sejarahnya. Dalam tulisan ini, akan dibahas tentang hakikat manajemen.
Dalam tinjauan akademik, bila disebut kata manajemen, maka kemungkinannya
adalah tiga hal, yaitu (1) manajemen sebagai ilmu, (2) manajemen sebagai seni, dan (3)
manajemen sebagai profesi. Penjelasan masing-masing adalah sebagai berikut.
1. Manajemen sebagai Ilmu
Manajemen sebagai ilmu, adalah sebagai bidang pengetahuan yang mempelajari tentang
mengapa dan bagaimana manusia bekerja dan bekerja sama (Gulick, dalam Nanang
Fattah, 2001: 1). Ilmu manajemen mulai dikenal dari sejarah peradaban bangsa Mesir
Kuno, yang telah menggunakan catatan untuk perdagangan dan pemerintahan kala itu.
Kemudian pada kekaisaran Roma, telah terdapat komunikasai dan pengendalian yang
efektif terhadap pemerintahan. Selanjutnya, puncaknya ketika dimulainya revolusi industri
pada abad ke-17, dan kemudian berkembang luas pada abad ke-18 sampai permulaan abad
ke-19. Pada masa ini banyak dihasilkan kajian dan teori manajemen yang disebut dengan
teori manajemen klasik. Selanjutnya berkembang teori-teori manajemen neo klasik atau
teori human relation, dankemudian disusul dengan teori manajemen modern. Manajemen
sebagai ilmu, berisi teori-teori yang memberikan penjelasan (deskripsi) dan tuntunan
(preskripsi) bagi para manajer dalam memahami apa yang terjadi serta dalam mengambil
langkah yang harus dilakukan pada situasi-situasi tertentu, serta memungkinkan mereka
meramalkan (prediksi) akibat-akibat dari tindakannya.
2. Manajemen sebagai Seni
Follet (Stoner, 1986) menyebut manajemen sebagai The art of getting things done trough
people. Seni untuk mendapatkan sesuatu (melaksanakan pekerjaan) melalui orang lain.
Definisi ini dadasarkan pada kenyataan bahwa manajemen merupakan sarana untuk
mencapai tujuan organisasi, yang dilakukan dengan cara mengatur orang lain. Dalam
praktik “mengatur orang” ini tidak cukup hanya didasarkan pada pengetahuan semata,
melainkan leyaknya sebuah seni, juga dibutuhkan intuisi, keterampilan dan pengalaman.
Intuisi menjadikan seorang manajer memiliki ketajaman pandangan terhadap individu-
individu yang dipimpinnya, dan bagaimana harus memperlakukan mereka. Keterampilan
memberinya bekal teknis untuk mengatur orang, tanpa merasa diperintah. Dengan
keterampilan, seorang manajer dapat membuat orang bekerja untuk mencapai tujuan
organisasi, namun seolah-olah orang tersebut sedang bekerja untuk dirinya sendiri.
Kemampuan ini akan semakin terasah bila ditunjang dengan pengalaman.
3. Manajemen sebagai Profesi
Profesi adalah pekerjaan yang menuntut persyaratan tertentu. Sebuah profesi
menghendaki adanya keahlian khusus, yang diperoleh melalui pendidikan, latihan atau
pengalaman, yang diakui oleh masyarakat, dan memiliki kode etik tertentu. Manajemen
sebagai profesi, berarti suatu pekerjaan yang menuntut keahlian atau keterampilan
tertentu, yang disebut dengan managerial skills. Keterampilan manajerial meliputi (a)
keterampilan konseptual (conceptual skills), (b) keterampilan hubungan manusiawi
(human relations skills), dan (3) keterampilan teknis (technical skills). Sebagai profesi,
manajemen juga memiliki tingkatan kedudukan atau level, yaitu (a) manajemen
puncak/tingkap atas, (b) manajemen tingkat menengah, dan (c) manajemen tingkat bawah.
Pada ketiga tingkatan ini dibutuhkan jenis keterampilan yang berbeda. Manajemen tingkat
puncak lebih dituntut keterampilan konbseptual, yaitu dalam mempersepsikan organisasi
secara keseluruhan, memahami kondisi internal dan eksternal serta perubahan yang
terjadi, serta mengkoordninasikan seluruh kepentingan dan kegiatan organisasi. Pada lvel
bawah, lebih dituntut keterampilan teknis, yaitu terkait dengan fungsi-fuungsi atau
pekerjaan tertentu dalam suatu organisasi.
B. FALSAFAH MANAJEMEN
Karena ilmu manajemen membicarakan tentang mengapa dan bagaimana manusia bekerja
dan bekerjasama, maka falsafah manajemen membahas tiga hal, yaitu (1) hakikat tujuan
manajemen, (2) hakikat manusia, dan (3) hakikat kerja.

1. Hakikat tujuan manajemen


Menurut Shrode Dan Voich (Nanang Fattah, 2001: 15), hakikat tujuan manajemen
adalah untuk mencapai produktivitas dan kepuasan dalam suatu organisasi. Produktivitas
berarti kuantitas dan kualitas yang dihasilkan, dengan mempertimbangkan jumlah
sumberdaya yang digunakan. Produktivitas meliputi produktivitas teknis dan perilaku.
Produktivitas teknis, berarti keefektivan dalam mencapai hasil, dan efisiensi dalam
penggunaan sumberdaya. Produktivitas perilaku, mengukur kinerja seoserang yang
dipengaruhi oleh motivasi dan kemampuannya.
Pendek kata organisasi yang memiliki produktifitas akan dapat menghasilkan (a)
lebih banyak (produk/program), (b) lebih berkualitas (produk/programnya), (c) lebih
inovatif menyahuti kebutuhan stakeholdernya. Dengan produktivitas ini, maka manajemen
dapat memberikan kepuasan, baik kepada internal (pegawai dan stafnya), maupun kepada
pihak eksternal, yaitu para pengguna produk/jasanya, serta semua pemangku kepentingan
yang berhubungan dengan organisasi ini.
Dalam kaitannya dengan manajemen pada lembaga pendidikan, maka menurut
Allah Thomas (1976), terdapat tiga fungsi yang menjadi ukuran produktivitasnya, yaitu (1)
Fungsi administrasi, di mana sekolah dapat dikelola administrasinya dengan baik, (2)
Fungsi psikologis, yaitu sekolah dapat memberikan layanan yang baik kepada siswanya,
dan (3) Fungsi ekonomi, di mana sekolah dapat membiayai dirinya.

2. Hakikat Manusia
Manusia adalah mahluk tertinggi ciptaan Allah yang diberikan potensi: fisik, panca
indera, akal, hati, dan ruh. Status manusia adalah sebagai hamba, yang harus mengabdi
atau beribadah kepada Allah. Selain itu, dengan potensinya manusia diberikan tugas
sebagai khalifah (wakil) Allah di muka bumi, yang bertugas mengelola dan
memakmurkannya. Manusia diberikan potensi unik dan berbeda-beda oleh Allah, serta
ditinggikan kedudukannya sebagian di atas sebagian yang lain, agar manusia dapat saling
memberikan manfaat satu sama lain. Dengan bakatnya masing-masing, manusia bekerja
melayani orang lain, sebagai bagian dari ibadah (pengabdiannya kepada Allah).
Dari status dan fungsi manusia di atas, maka hakikatnya manusia adalah mahluk
yang bisa mengatur dan bisa diatur. Manusia dapat mengatur alam lingkungannya maupun
mengatur kehidupan bersama manusia lainnya (kehidupan sosial). Pada dirinya sendiri,
manusia adalah mahluk yang bisa diatur, apa lagi bila aturan itu disadari adalah untuk
kebaikan kehidupannya. Inilah sisi penting hakikat manusia, yang menjadi kawasan ilmu
dan praktik manajemen, yaitu perlu memahami manusia dengan segala potensi dan
keunikannya.

3. Hakikat Kerja
Dalam pandangan umum, orang bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya atau mencari nafkah. Kinerja (unjuk kerja atau prestasi kerja) seseorang adalah
ungkapan atau perwujudan dari kemampuan seseorang, yang didasari oleh pengetahuan,
sikap, keterampialn dan motivasinya dalam menghasilkan sesuatu. Terdapat banyak teori
kebutuhan, yang berusaha menjelaskan alasan manusia bekerja, antara lain dari Abraham
Maslow, Frederick Herzberg, McClelland, Smith dan Crany, dan sebagainya.
Bekerja bagi manusia sebenarnya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan
(primer) saja. Namun lebih dari itu, melalui pekerjaan manusia dapat menjadi pribadi yang
sempurna di tengah masyarakatnya. Tanpa pekerjaan, kehidupan individu di tengah
masyarakat tidak dianggap sebagai pribadi yang lengkap. Jadi pekerjaan itu bagi manusia
adalah sarana untuk memiliki status atau kedudukan di masyarakat, sehingga dipandang
sebagai pribadi yang utuh atau sempurna.
Dengan pemahaman tentang hakikat kerja di atas, maka manajemen dapat
memperlakukan dan mengatur manusia dalam bekerja dan bekerja sama.

C. MANAJEMEN BERSIFAT UNIVERSAL


Berangkat dari falsafah manajemen di atas, maka manajemen merupakan praktik
yang bersifat universal, artinya ada dan bisa diterapkan di mana saja. Setiap organisasi
kecil maupun besar, bergerak dalam bidang apa pun, memerlukan manajemen. Bahkan
pada diri individu setiap orang pun, membutuhkan manajemen diri agar memiliki
kehidupan yang baik dan produktif. Organisasi terkecil yaitu keluarga, membutuhkan
manajemen. Organisasi yang sangat besar seperti negara, juga membutuhkan manajemen.
Semuanya memerlukan manajemen agar bisa mewujudkan produktivitas, kualitas,
efektivitas dan efisiensi, serta dapat memberikan kepuasan.

D. PRAKTIK MANAJEMEN
Praktik atau pelaksanaan manajemen dalam suatu organisasi merupakan rangkaian
proses kegiatan mengatur dan mendayagunakan sumberdaya yang ada (manusia, sarana,
biaya, teknologi, informasi, waktu, dsb) untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif
dan efisien. Prosesnya adalah dengan melakukan (1) perencanaan, (2) pengorganisasian,
(3) kepemimpinan (dalam pelaksanaan), dan (4) pengawasan.
Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai,
serta menetapkan cara dan sumber daya (yang dibutuhkan) untuk mencapai tujuan
tersebut seefektif dan seefisien mungkin. Dalam perencanaan ditetapkan lebih dahulu apa
yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, siapa mengerjakan apa, dan
seterusnya. Perencanaan menjadi dasar dan acuan semua kegiatan dalam organisasi. Oleh
karena itu apabila perencanaanya baik, maka jalannya organisasi diharpkan akan menjadi
baik.
Pengorganisasian merupakan proses menata atau mengatur orang-orang serta
tugas-tugas yang harus dikerjakan dalam suatu organisasi, sehingga jelas kedudukan,
tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing. Dengan pengorganisasian yang baik,
maka semua kegiatan dalam organisasi akan terkoordinasi dengan baik, tidak terjadi
tumpang tindih, saling bertabrakan, atau saling lempar tanggung jawab antara satu orang
(bagian) dengan bagian yang lain. Proses pengorganisasian meliputi (a) pemerincian
pekerjaan, (b) pembagian kerja, (c) pengelompkan/penggabungan pekerjaan, (d)
koordinasi pekerjaan, dan (e) monitoring dan reorganisasi.
Kepemimpinan diperlukan agar semua orang yang telah mendapatkan pembagian
kerja, mau bekerja dengan baik. Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi
perilaku orang lain (bawahan) dalam bekerja, dengan menggunakan kekuasaan (power)
yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Sumber kekuasaan, ini tidak hanya legal (karena
dianggkat dalam jabatan), namun bermacam-macam, ada kharisma, keahlian, kemampuan
memberikan imbalan dan hukuman, dan sebagainya.
Pengawasan merupakan salah satu proses dasar yang dibutuhkan setiap organisasi.
Terdapat tiga tahapan dalam pengawasan, yaitu: (a) menetapkan standar pekerjaan-
pekerjaan, (b) mengukur pelaksanaan pekerjaan menggunakan standar yang ada, dan (c)
membandingkan dan menemukan kesenjangan antara pelaksanaan pekerjaan dengan
standar. Hal ini penting untuk menjamin agar semua berjalan sesuai dengan perencanaan
dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Tugas:
1. Diskusikan materi dengan teman satu kelompok Anda.
2. Untuk memahami dapat dicari sumber-sumber lain dari buku/interne. Bila masih
ada konsep-kosep/hal-hal yang belum dipahami dari materi ini kirimkan ke WA
grup (tiap kelompok tiga pertanyaan).
3. Tuliskan pendapat (kelompok) Anda, mengenai perlunya seseorang belajar
manajemen (satu-dua paragraf).

Selamat Belajar !