Anda di halaman 1dari 63

DAUN

LAPORAN PRAKTIKUM
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Struktur dan Perkembangan Tumbuhan II
Yang dibimbing oleh Dr. Murni Sapta Sari, M.Si. dan Umi Fitriyati, S.Pd., M.Pd

Oleh :
Offering A 2018
Ana Saniatur Rohmah (180341617525)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIIDIKAN BIOLOGI
September 2019

BAB I
PENDAHULUAN
A. Dasar Teori

Dalam suatu tumbuhan daun biasanya terdapat pada batang dan cabang-cabangnya. Ada pula daun-daun
suatu tumbuhan yang berjejal-jejal pada suatu bagian batang yaitu pada pangkal batang atau pada ujung-ujungnya
setiap tumbuhan memiliki system percabangan yang berbeda-beda. Misalkan pada pohon papaya, pohon sirkaya,
dan bunga soka. Dari ketiga jenis tumbuhan tersebut terlihat jelas perbedaan system percabangan serta tata letak
daun pada batang. Dari perbedaan tata letak daun inilah maka, setiap tumbuhan memiliki system phillotaxis yang
berbeda. Dari phillotaxis ini dapat ditentukan rumus daun serta diagram duduk daun pada tumbuhan. Untuk
tumbuhan yang sejenis (missal semua pohon papaya) akan kita dapati tata letak daun yang sama. Oleh dapat kita
gunakan sebagai tanda pengenal suatu tumbuhan. (Rosanti, 2013).
Tata letak daun atau phillotaxis adalah aturan tata letak daun pada batang. Pada batang dewasa, daun dapat
tersusun dalam pola tertentu dan berulang-ulang. Susunan daun pada batang tersebut disebut duduk daun
atau filotaksis. Istilah filotaksis sebenarnya merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan urutan
terbentuknya daun pada batang, tetapi dikarenakan urutan daun tersebut tampak jelas setelah daun maupun batang
yang ditempatinya mengalami pendewasaan, maka istilah tersebut digunakan secara umum untuk menyatakan
susunan daun pada batang. Susunan daun dari suatu tumbuhan biasanya bersifat konstan. Susunan daun pada batang
biasanya turut ditentukan oleh banyaknya helai daun yang terbentuk dalam suatu nodus (buku). Untuk itu, daun
dapat dibentuk secara tunggal bila ada satu helai daun pada setiap buku, berpasangan bila ada dua helai daun pada
setiap buku, atau dalam karangan bila terdapat tiga helai daun atau lebih pada setiap buku (Tjitrosoepomo, 2007).
Duduknya daun pada batang memiliki aturan yang disebut tata letak daun. Untuk mengetahui bagaimana
tata letak daun pada batang, harus ditentukan terlebih dahulu berapa jumlah daun yang terdapat pada suatu buku-
buku batang, yang kemungkinannya adalah :
Pada Setiap buku-buku batang hanya terdapat satu daun
Dinamakan dengan folia sparsa (tersebar). Walaupun dinamakan tersebar, apabila diteliti justru ditemukan
adanya hal-hal yang bersifat beraturan. Jika pada suatu tumbuhan, batangnya kita anggap mempunyai bentuk
silinder tadi, dan tempat duduk daun adalah suatu titik pada lingkaran itu, maka ketika kita menjadikan satu titik
(tempat duduk daun) sebagai suatu titik tolak kemudian bergerak mengikuti garis yang ada diatasnya dengan jarak
terpendek, demikian seterusnya, kita akan sampai pada garis vertical di atas pangkal tolakan yang pertama.
Kejadian seperti ini akan terus berulang kembali, walaupun kita menggunakan daun lain sebagai titik tolak
(Puryaningsih, 2009).
Pada setiap buku-buku batang terdapat dua daun yang berhadapan
Pada setiap buku-buku terdapat 2 daun yang berhadapan (terpisah oleh jarak sebesar 1800). Pada buku-buku
batang berikutnya biasanya kedua daunnya membentuk suatu silang dengan dua daun yang dibawahnya tadi. Tata
letak daun yang demikian ini dinamakan : berhadapan-bersilang (folia opposite atau folia descussata)
(Puryaningsih, 2009).
Pada setiap buku-buku batang terdapat lebih dari dua daun
Tata letak daun yang demikian ini dinamakan : berkarang (Folia verticillata), dapat a.l. ditemukan pada
pohon pulai (Alstonia scholaris R.Br.), alamanda (Allamanda cathartica L.), oleander (Nerium oleander L.). pada
tumbuhan dengan tata letak daun berhadapan dan berkarang tak dapat ditentukan rumus daunnya, tetapi juga duduk
daun yang demikian dapat juga diperlihatkan adanya ortostik-ortostik yang menghubungkan daun-daun yang tegak
lurus satu sama lain (Puryaningsih, 2009).
Roset adalah susunan daun yang melingkar rapat berimpitan. Menurut letaknya, ada dua macam roset
yaitu roset akar apabila batang amat pendek, sehingga semua daun berjejal-jejal di atas tanah, jadi roset itu amat
dekat dengan akar. Sedangkan roset batang apabila daun yang rapat berjejal-jejal itu terdapat pada ujung batang
(Rosanti, 2013).
Rumus daun atau divergensi, jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun permulaan garis spiral
mengelilingi batang a kali, dan jumlah daun yang dilewati selama itu adalah b, maka perbandingan kedua bilangan
tadi merupakan pecahan a/b. Ortostik merupakan batang yang memiliki sejumlah b garis-garis tegak lurus
(vertikal). Spiral genetic adalah garis spiral yang merupakan suatu garis yang menghubungkan daun-daun beturut-
turut dari atas ke bawah. Sudut divergensi pecahan a/b menunjukan jarak antar sudut dua daun berturut-turut,
apabila diproyeksikan pada batang datar maka jaraknya tetap dan besarnya a/b x besar lingkaran = a/b x 360˚
(Puryaningsih, 2009).
Tata letak daun pada batang ditempuh dengan dua jalan,yaitu membuat bagan atau skema letaknya daun.
Bagan tata letak daun batang tumbuhan digambarkan sebagai silinder dan padanya digambar membujur ortostik-
ortostiknya demikian pula buku-buku batangnya. Daun-daun digambar sebagai penampang melintang helaian daun
yang kecil. Pada bagan akan terlihat misalnya pada daun dengan rumus 2/5 maka daun-daun dengan nomor 1, 6, 11,
dst atau daun-daun nomor 2, 7, 12, dst akan terletak pada ortostik yang sama (Rosanti, 2013).
Diagram tata letak daun atau disingkat diagram daun, untuk membuat diagram batang tumbuhan harus
dipandang sebagai kerucut yang memanjang, dengan buku-buku batangnya sebagai lingkaran-lingkaran yang
sempurna. Pada setiap lingkaran berturut-turut dari luar kedalam digambarkan daunnya, seperti pada pembuatan
bagan tadi dan diberi nomor urut. Dalam hal ini perlu diperhatikan, bahwa jarak antara dua daun adalah 2/5
lingkaran, jadi setiap kali harus meloncati satu ortostik. Spiral genetiknya dalam diagram daun akan merupakan
suatu garis spiral yang putarannya semakin keatas digambar semakin sempit (Puryaningsih, 2009).
B. Tujuan

1. Mahasiswa mampu menganalisis kedudukan daun pada batang (filotaksis) tumbuhan berbunga.
2. Mahasiswa mampu menganalisis divergensi (rumus daun) dan diagram daun tumbuhan berbunga.
3. Mahasiswa mampu menganalisis struktur morfologi organ daun tumbuhan berbunga.
4. Mahasiswa mampu menganalisis variasi daun berdasarkan helaian daun tumbuhan berbunga.
5. Mahasiswa mampu menganalisis variasi daun berdasarkan letak dan fungsinya.
6. Mahasiswa mampu menganalisis perkembangan daun tumbuhan berbunga.

BAB II
METODE PENELITIAN

A. Alat dan Bahan


a) Alat

1. Kamera Smartphone
2. Alat tulis
b) Bahan

1. Alocasia sp.
2. Ixora sp
3. Pluchea indica
4. Psidium guajava
5. Oryza sativa
6. Hibiscus rosasinensis
7. Gentum gnemon
8. Zea mays
9. Pandanus sp
10. Allamanda cathratica
11. Costus specious
12. Zinnia sp
13. Cyperus rotundatus
14. Sonchus oleraceus
15. Iris pseudacorus
16. Hibiscus tiliaceus
17. Manihot esculenta
18. Mirabilis jalapa
19. Sebania grandiflora
20. Erythrina variegata
21. Mimosa pudica
22. Caesalpina pulcherrima
23. Ceiba petandra
24. Citrus hystrix
25. Bauhinia purpurea
26. Rosa sp
27. Centella asiatica
28. Solanum lycopersium
29. Gliricidia sepium

B. Hasil Pengamatan
Tabel Hasil Pengamatan Daun
BAB III

PEMBAHASAN

Daun merupakan salah satu bagian yang terpenting dari salah satu organ tanaman.
Karena fungsinya sebagai tempat membuat makanan melalui proses fotosintesis, tempat
pengeluaran air melalui trasfirasi dan gutasi, tempat menyerap CO2 dari udara serta sebagai
tempat respirasi. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan serta hasil yang didapat
mengenai morfologi dari daun, di sini dapat dijelaskan bahwa dalam pengamatan ini
digunakan tiga puluh satu jenis daun diantaranya daun melinjo, pacing, alamanda
(Allamanda cathratica), pandan (Pandanus sp.), bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis),
beluntas (Pluchea indica), soka (Ixora sp.), jagung (Zea mays), padi (Oryza sativa), jambu
biji (Psidium guajava), rumput teki (Cyperus rotundatus), Allocasia sp, Zinnia sp,
tempuyung, waru, tomat, jeruk purut (Citrus hystrix), pegagan, randu, gammal, iris (Iris
pseudacorus), mawar (Rosa sp.), singkong (Manihot esculenta), kembang merak, kupu-kupu,
turi, cangkring, bunga pukul 4, putri malu (Mimosa pudica)
Pada praktikum dilakukan pengamatan terhadap beberapa aspek pada daun. Aspek
pertama yaitu tipe daun, dapat diketahui bahwa yang termasuk daun tunggal yaitu daun
pacing, pandan, bunga sepatu, beluntas, soka, jagung, padi, Allocasia sp, tempuyung,
gammal, iris, talas. Sedangkan yang termasuk dalam daun majemuk yaitu daun melinjo,
alamanda, jambu biji, rumput teki, Zinnia sp, tomat, jeruk purut, jeruk lemon, randu, mawar,
singkong, kembang merak, waru, gammal, kupu-kupu, turi, cangkring, padi, bunga pukul 4,
putri malu, pegagan.
Tipe daun dibagi menjadi dua yaitu tunggal dan majemuk, perbedaan antara daun
majemuk dan daun tunggal yaitu daun tunggal (folium simplex) yaitu dimana pada tangkai
daun (petiolus) hanya terdapat satu helaian daun (lamina) saja. Daun majemuk (folium
kompositum) yaitu dimana pada tangkai daun (petiolus) terdapat cabang-cabang yang
memiliki helaian daun (lamina), sehingga dalam satu batang terdapat lebih dari satu helaian
daun. Daun majemuk dibedakan lagi berdasarkan susunan anak daun pada ibu tangkainya
yaitu majemuk menyirip, menjari, campuran, dan bentuk kaki. Pada majemuk menjari dan
menyirip dibedakan lagi menjadi beberapa golongan. Pada tipe daun majemuk menjari dilihat
berdasarkan jumlah anak daun yang melekat pada ibu tangkai. Sementara pada tipe daun
menyirip dibagi berdasarkan jumlah anak daun yang melekat pada ibu tangkai, kedudukan
anak daun pada ibu tangkai, letak anak daun pada cabang tingkat berapa pada ibu tangkainya
yang kemudian dibagi lagi menjadi duduknya anak daun pada rakis (sempurna dan tidak
sempurna) (Tjitrosoepomo, 2009).
Berdasarkan pernyataan diatas dan hasil pengamatan, maka pada tipe daun majemuk,
tipe daun dibedakan menurut susunan anak daun pada ibu tangkainya yang dibagi menjadi
empat golongan yaitu majemuk menyirip, majemuk menjari, majemuk bangun kaki, dan
majemuk campuran yang kemudian dibedakan lagi menjadi berbagai macam golongan.
Rumput teki termasuk ke dalam tipe daun majemuk. Pada tipe daun majemuk menjari
berdasarkan jumlah anak daunnya, tipe daun majemuk menjari beranak daun banyak didapati
pada tipe daun tumbuhan randu, tipe daun majemuk menjari beranak daun satu didapati pada
tipe daun tumbuhan jeruk lemon, tipe daun majemuk menjari beranak daun dua didapati pada
tipe daun tumbuhan kupu-kupu dan pegagan. Pada tipe daun menyirip dibedakan lagi
berdasarkan jumlah anak daun, dan letak anak daun pada cabang tingkat berapa pada ibu
tangkainya yang kemudian juga dibagi lagi menjadi beberapa golongan. Pada tipe daun
menyirip berdasarkan jumlah anak daun, beranak daun tiga didapati pada tipe daun tumbuhan
cangkring. Sedangkan pada tipe daun menyirip berdasarkan letak anak daun pada cabang
tingkat berapa pada ibu tangkainya, tipe daun majemuk menyirip gasal berseling sempurna
didapati pada daun tumbuhan tomat, waru dan gamal, tipe daun majemuk menyirip gasal
berhadapan sempurna didapati pada daun tumbuhan mawar. Tipe daun majemuk menyirip
genap berhadapan sempurna didapati pada daun tumbuhan turi, melinjo, dan jambu biji, tipe
daun majemuk menyirip genap berseling sempurna didapati pada daun tumbuhan alamanda
dan Zinnia sp. Tipe daun majemuk menyirip genap ganda 2 berseling sempurna didapati pada
daun tumbuhan kembang merak dan bunga pukul empat. Sementara pada tipe daun majemuk
campuran didapati pada daun tumbuhan putri malu.
Aspek kedua yang diamati adalah tata letak daun atau filotaksis, setelah dilakukan
pengamatan, terdapat 4 macam tata letak daun yaitu folia sparsa, folia decussata, folia
opposita, folia verticilla. Pada folia sparsa dibagi lagi berdasarkan jumlah dan letak ortostik
daun yaitu, monostik, distik, tristik, dan spirositik. Dapat diketahui bahwa yang termasuk
folia sparsa yaitu daun pacing, pandan, bunga sepatu, beluntas, soka, jagung, padi, Allocasia
sp, tempuyung, kupu-kupu, tomat, singkong, kembang merak, turi, cangkring, padi, iris,
randu, gamal, jeruk purut. Folia sparsa monostik terdapat pada jeruk purut, folia sparsa
tristik terdapat pada randu dan gamal, sementara folia sparsa spirositik terdapat pada pacing.
Daun tumbuhan yang termasuk ke dalam filotaksis Folia decussata adalah jambu biji, rumput
teki, Allocasia sp, Zinnia sp, jeruk lemon, dan bunga pukul 4. Daun tumbuhan yang termasuk
ke dalam filotaksis Folia opposita adalah melinjo, soka, dan jagung. Sementara daun
tumbuhan yang termasuk ke dalam filotaksis Folia verticillata adalah alamanda dan mawar.
Hal ini sesuai dengan literatur Hidajat (1994), bahwa berdasarkan jumlah daun pada buku-
buku batang, filotaksis atau tata letak daun dibagi menjadi tiga yaitu, tersebar (folia sparsa)
dimana hanya terdapat satu daun pada setiap buku daun namun juga bisa memiliki ortostik
yang berbeda pula. Folia sparsa dibedakan menjadi empat yaitu folia sparsa monostik
dimana hanya terdapat satu garis sejajar tempat tumbuhnya daun pada batang atau
ortostiknya. Folia sparsa distik dimana terdapat dua garis sejajar tempat tumbuhnya daun
pada batang. Folia sparsa tristik dimana terdapat tiga garis sejajar tempat tumbuhnya daun
pada batang. Folia sparsa spirostik dimana ortostik pada batang seperti membentuk lingkaran
atau spiral. Menurut Tjitrosoepomo (2009) Juga terdapat pula Folia sparsa spirotristik
dimana terdapat 3 ortostik spiral pada batang tumbuhan, contohnya adalah tumbuhan pandan.
Aspek selanjutnya yang diamati adalah rumus daun, setelah dilakukan pengamatan
ternyata tidak semua bahan amatan memiliki rumus daun. Rumus daun hanya dimiliki oleh
tipe daun tunggal tertentu. Jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun
permulaan garis spiral tadi mengelilingi batang a kali, dan jumlah daun yang di lewati selama
itu adalah b, juga dinamakan rumus daun atau disvergensi. Pecahan a/b selanjutnya dapat
menunjukkan sudut antara dua daun berturut-turut jika diproyeksikan pada bidang datar.
Jarak antara kedua daun pun tetap dan besarnya adalah a/b x 3600, yang di sebut sudut
disvergensi, ternyata didapati pecahan a/b dapat terdiri dari pecahan 1/2, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13,
8/21 dan seterusnya. Hanya tata letak daun tersebar yang dapat diketahui rumus daunnya
sehingga dapat dibuat diagram dan bagannya (Tjitrosoepomo, 2009). Pada daun tumbuhan
yang memiliki rumus daun 1/5 hanya terdapat pada daun tumbuhan pacing, Pada daun
tumbuhan yang memiliki rumus daun 1/5 hanya terdapat pada daun tumbuhan pacing,
sementara rumus daun 1/3 dimiliki oleh daun tumbuhan jagung, tempuyung, dan Allocasia
sp. Rumus daun 2/5 dimiliki oleh tumbuhan bunga sepatu, beluntas, singkong, waru. Rumus
daun 2/5 dimiliki oleh tumbuhan bunga sepatu, beluntas, singkong, waru.. Rumus daun 1/2
dimiliki oleh tumbuhan iris. Tata letak daun pada tanaman pandan mengikuti garis ortostik
yang telah berubah menjadi garis spiral yang melingkari batang karena terjadi pertumbuhan
batang yang tidak lurus melainkan memutar, akibatnya ortostiknya ikut memutar yang
disebut spirostik. Batang tanaman pandan memperlihatkan tiga spirostik atau disebut
trispirotik (Tjitrosoepomo, 2009). Oleh karenanya, tanaman pandan tidak dapat ditentukan
rumus daunnya. Hal ini sesuai dengan literatur Hidajat (1994), bahwa rumus daun tanaman
dapat diketahui dengan cara mengambil satu daun sebagai titik tolak, bergerak mengikuti
garis yang menuju ke titik duduk daun pada buku-buku batang di atasnya dengan mengambil
jarak terpendek, demikian seterusnya, hingga sampai pada daun yang letaknya tepat pada
garis vertikal (sejajar) di atas daun pertama yang dipakai sebagai titik tolak. Ada 5 daun yang
dilewati dari titik tolak sampai daun yang sejajar itu, tanpa menghitung daun titik tolak dan
menghitung daun yang sejajar. Juga telah dua kali mengelilingi batang bayam hingga
mencapai daun yang sejajar tadi.
Aspek berikutnya yang diamati adalah kelengkapan daun, apakah daun tersebut
bertangkai, berpelepah atau berupih, ataupun lengkap. Dalam satu struktur daun terdiri dari
satu pelepah daun (vagina), satu tangkai daun (petioles), dan satu helaian daun (lamina)..
Daun bertangkai terdapat pada daun tumbuhan randu, jeruk lemon, jeruk purut, cangkring,
kupu-kupu, tomat, turi, kembang merak, gamal, putri malu, singkong, waru, bunga pukul 4,
mawar, soka, melinjo, alamanda, bunga sepatu, dan beluntas, daun berupih atau berpelepah
terdapat pada daun tumbuhan iris, pacing, pandan, jagung, rumput teki, dan padi, sementara
daun dengan kelengkapan daun lengkap terdapat pada daun tumbuhan Allocasia sp, talas, dan
pegagan. Terdapat pula daun yang hanya memiliki helaian daunnya saja, daun memeluk
batang yaitu pada daun tumbuhan Zinnia sp, dan juga daun duduk yang terdapat pada daun
tumbuhan tempuyung.
Menurut Tjitrosoepomo (2009) daun lengkap memiliki bagian-bagian seperti
pelepah daun (vagina), satu tangkai daun (petioles), dan satu helaian daun (lamina), namun
tidak begitu banyak dijumpai, kebanyakan tumbuhan memiliki daun yang kehilangan satu
atau dua dari tiga bagian yang telah disebutkan. Daun bertangkai hanya terdiri dari tangkai
dan helaian, daun berupih atau berpelepah hanya terdiri dari helaian dan pelepah daun saja,
juga ada daun yang hanya memiliki helaian daunnya saja yang dibagi menjadi dua yaitu,
daun duduk dimana helaian langsung melekat duduk pada batang dan daun memeluk batang
dimana pangkal daun seakan-akan melingkari memeluk batang, kemudian juga ada yang
terdiri hanya tangkai daun saja namun pada praktikum ini tidak ditemukan.
Kemudian yang diamati adalah bentuk irisan melintang tangkai daun. Tangkai daun
memiliki bentuk irisan melintang tangkai yang beragam, namun ada beberapa tumbuhan yang
tidak memiliki tangkai daun. Pada kebanyakan tumbuhan bentuk irisan melintang daun
adalah bulat, ada yang bulat berongga dan bulat padat, kemudian juga ada yang berbentuk
pipih, bersegi, dan setengah lingkaran. Bentuk irisan melintang tangkai daun bulat berongga
ada pada daun tumbuhan melinjo, alamanda, bunga sepatu, sok, dan jambu biji, sementara
bentuk irisan melintang tangkai daun bulat padat terdapat pada tumbuhan beluntas, Allocasia
sp, jeruk purut, dan jeruk lemon, randu, cangkring, kupu-kupu, tomat, turi, kembang merak,
gamal, singkong, putri malu,,waru, dan bunga pukul 4. Bentuk irisan melintang tangkai
setengah lingkaran terdapat pada daun tumbuhan mawar. Sedangkan sisanya adalah daun
berpelepah atau tidak memiliki tangkai yaitu daun, pacing, pandan, jagung, padi, rumput teki,
dan iris. Hal ini sesuai dengan literatur Hidajat (1994), bahwa bentuk dan ukuran tangkai
daun amat berbeda-beda menurut jenis tumbuhannya, umumnya tangkai daun berbentuk
silinder atau bulat dengan sisi atas agak pipih dan menebal pada pangkalnya, jika dilihat dari
bentuk irisan melintangnya terdapat bentuk bulat padat dimana saat disayat tidak terdapat
rongga pada bagian dalamnya, bulat berongga pada saat disayat terdapat lubang atau rongga
pada bagian dalamnya. Ada bentuk setengah lingkaran yang mana terdapat sisi lengkung dan
sisi datar yang beralur dangkal pada tumbuhan mawar, ada pula tangkai daun yang menebal
pada bagian pangkal dan ujungnya yaitu pada tangkai daun tumbuhan kupu-kupu
(Tjitrosoepomo, 2009). Sedangkan pada daun berpelepah atau berupih tidak memiliki tangkai
sehingga tidak memiliki bentuk irisan melintang tangkai daun.
Aspek lain yang diamati adalah permukaan daun. Permukaan daun yang diamati ada
dua aspek, yaitu bagian permukaan adaksial (atas) dan abaksial (bawah) daun. Pengamatan
dilakukan dengan cara meraba permukaan daun baik bagian adaksial maupun abaksial searah
dengan pertulangan daun. Aspek pertama yang diamati pada tipe permukaan daun pada
bagian adaksial, tipe permukaan licin mengkilap terdapat pada daun tumbuhan pacing, soka,
bunga sepatu, pandan, rumput teki, melinjo, randu, jeruk, cangkring, singkong, putri malu,
bunga pukul 4, dan gamal. Tipe permukaan daun gundul didapati pada daun tumbuhan iris,
tipe permukaan daun kasar didapati pada didapatai pada daun tumbuhan kupu-kupu dan
waru, tipe permukaan daun licin buram didapati pada daun tunbuhan turi dan kembang
merak, tipe permukaan daun berbulu terdapat pada daun tumbuhan tomat, tipe permukaan
daun berlapis lilin terdapat pada daun tumbuhan Allocasia sp, dan jambu biji, tipe permukaan
daun berambut terdapat pada daun tumbuhan alamanda, beluntas, jagung, padi, dan
tempuyung, tipe permukaan daun berambut kasar terdapat pada daun tumbuhan Zinnia sp.
Aspek kedua yang diamati pada tipe permukaan daun pada bagian abaksial, tipe permukaan
licin mengkilap terdapat pada daun tumbuhan pacing,. Tipe permukaan daun gundul didapati
pada daun tumbuhan iris, tipe permukaan daun kasar didapati pada didapatai pada daun
tumbuhan kupu-kupu dan waru, tipe permukaan daun licin buram didapati pada daun
tunbuhan soka, bunga sepatu, Allocasia sp, jambu biji, rumput teki, melinjo, randu, jeruk
pururt, jeruk lemon, turi, kembang merak, putri malu, singkong, bunga pukul 4, mawar, dan
gamal, tipe permukaan daun berbulu terdapat pada daun tumbuhan tomat, , tipe permukaan
daun berambut terdapat pada daun tumbuhan beluntas dan jagung, tipe permukaan daun
berambut kasar terdapat pada daun tumbuhan Zinnia sp, padi, dan tempuyung, tipe
permukaan daun kasar terdapat pada daun tumbuhan kupu-kupu dan waru. Hal ini sesuai
dengan literatur Tjitrosoepomo (2009), bahwa pada umumnya permukaan daun sisi atas
(adaksial) dan bawah (abaksial) jelas berbeda, namun tidak menutup kemungkinan ada yang
sama. Terdapat juga perbedaan warna dan kadang juga terdapat alat tambahan berupa sisik,
rambut, durii, dan lainnya. Menurut hasil praktikum, melihat keadaan permukaan daun dapat
dibedakan menjadi licin (laevis) yang dibedakan menjadi licin mengkilap, suram dan
berselaput lilin, kemudian ada gundul (glaber), kasar (scaber), berbulu (pilosus), berambut
kasar (hispidus) yang memiliki rambut kaku dan kasar, dan masih banyak lagi namun tidak
didapati pada saat pengamatan.
Warna daun juga menjadi salah satu aspek yang diamati. Mayoritas dari warna daun
tumbuhan adalah hijau karena kandungan klorofilnya. Tetapi tak jarang pula yang memiliki
warna tidak hijau. Daun tumbuhan yang berwarna hijau sesuai hasil pengamatan adalah
soka, pandan, jambu, alamanda, beluntas, jagung, padi, tempuyung, randu, jeruk pururt, jeruk
lemon, cangkring, kupu-kupu, tomat, turi, putri malu, singkong, waru, bunga pukul 4, mawar,
iris, kembang merak, gamal, daun tumbuhan yang berwarna hijau muda terdapat pada pacing
dan Zinnia sp, daun tumbuhan yang berwarna hijau tua terdapat pada rumput teki dan
melinjo, daun tumbuhan yang berwarna hijau bercorak merah terdapat pada daun bunga
sepatu, daun tumbuhan yang berwarna hijau keunguan terdapat pada daun Allocasia sp. Hal
ini sesuai dengan literatur Hidajat (1994). bahwa daun memiliki warna yang umumnya
hijau, namun juga ada yang memiliki corak atau pola tertentu dan berwarna selain hijau yang
dapat diamati menggunakan mata telanjang saja. Warna daun suatu jenis tumbuhan dapat
berubah menurut keadaan tempat tumbuhnya dan erat sekali hubungannya dengan persediaan
air dan makanan serta penyinaran (Tjitrosoepomo, 2009)..
Pada daun memilki bagian lain yang berupa alat tambahan, yaitu ada yang berbentuk
stipula dan adapula yang berbentuk ligula. Stipula atau daun penumpu, yang biasanya berupa
dua helai lembaran serupa daun yang kecil, yang terdapat dekat dengan pangkal tangkai daun
dan umumnya berguna untuk melindungi kuncup yang masih muda. Ada kalanya daun
penumpu nampak lebih besar dan lebar seperti daun biasa dan berguna pula sebagai alat
untuk berasimilasi (Tjitrosoepomo, 2009). Beberapa daun amatan yang memiliki stipula
adalah Hibiscus rosa-sinensis, mawar, singkong, waru, dan putri malu. Hal tersebut dapat
diketahu dari adanya helai-helai kecil seperti sayap daun di sekitaran ketiak daun dan
berjumlah sepasang melingkupi sendi daun tersebut. Bentuk selanjutnya pada tambahan daun
adalah adanya ligula. Menurut Tjireosoepomo (2009), ligula atau lidah daun merupakan
suatu selaput kecil yang biasanya terdapat pada batas antara upih dan helaian daun pada
rumput atau bisa dikatakan, ligula ini hanya ada pada jenis tumbuhan semak. Alat ini berguna
untuk mencegah mengalirnya air hujan ke dalam ketiak antara batang dan upih daun sehingga
kemungkinan pembusukan dapat dihindarkan. Pada pengamatan daun, yang memiliki
tambahan daun berupa ligula adalah Alokasia. Hal tersebut dapat dilihat di bagian bawah
batang yang tertutupi oleh pelepah daun dan nampak seperti lidah-lidah daun.
Dalam struktur daun, terdapat helaian daun. Yang temasuk ke dalam helaian daun
adalah bangun umum dan bangun khusus. Dalam bentuk umumnya, harus diketahui terlebih
dahulu bagian terlebar dari daun tersebut untuk kemudian dibandingkan dengan panjang dari
daun tersebut. Bagian daun terlebar dapat berada pada ujung daun, tengah daun, maupun
pangkal daun. Pada bagian daun terlebar dan berada di bagian tengah, terdapat contoh seperti
elipticus yan terdapat pada tanaman alokasia, asoka, genetum, pacing, padi, mawar, daun
kupu-kupu, dan gamal. Selanjutnya ada contoh bangun lanset (lanceolatus) yang terdapat
pada tumbuhan putri malu. Kemudian bangun panjang (oblongus) yang terdapat pada
tanaman hibiscus rosa-sinensis, zinia, randu, cangkrin, turi, tomat, dan bunga pukul 4. Pada
bagina daun dengan sisi terlebar yang ada pada tengah daun, terdapat contoh seperti obovatus
atau bentuk bulat telur terbalik, maksudnya adalah daun tersebut berbentuk seperti telur
namun dengan bagian terletak di ujung distal. Tanaman dengan tipe bangun daun seperti itu
adalah beluntas, psidium guajava, sonchus, alamanda, jeruk purut, singkong, bunga merak,
dan waru. Pada tipe daun dengan bagian terlebar helai daun berada di pangkal daun atau di
bagian bawah tengah daun. Contoh dari tipe bangun tersebut adalah bangun bulat telur
(ovatus). Adapula tipe bangun daun seperti pita yang pada pengamatan terdapat di cyperus
dan iris. Kemudian tipe lineralis yan terdapat pada jagung dan pandan dalam pengamatan
(Hidajat, 1994).
Dalam mengamati bentuk umum dari daun pastinya juga akan mengamati adanya
perbedaan pada bentuk khususnya agar bentuk daun tersebut lebih spesifik. Terdapat banyak
sekali bangun khusus yang ada pada daun. Antara lain oblong yang dalam pengamatan
tumbuhan tersebut disebut turi. Sagitatus dengan contoh alokasia. Ovate dengan contoh
hibiscus rosa-sinensis, mawar, jeruk purut, dan tomat. Tipe obovate dengan contoh beluntas.
Tipe bundar telur sungsang dengan hasil pengamatan psidium guajava dan bungan merak.
Tipe oblancelate dengan contoh sonchus. Tipe pedang dengan contoh cyperus, zinia, pandan,
dan iris. Tipe eliptic dengan contoh asoka. Tipe lanset dengan contoh alamanda, genetum,
pacing, randu, singkong, dan gamal. Tipe runcing dengan contoh padi. Tipe joron dengan
contoh waru. Tipe bersegi dengan contoh bunga pukul empat. Ttipe linear dengan contoh
putri malu. Yang terakhir berdasarkan pengamatan adalah tipe ginjal seperti yang dimiliki
daun kupu-kupu (Hidajat, 1994).
Ujung daun dapat memperlihatkan bentuk yang beraneka ragam. Beberapa contoh
tipe dari ujung daun adalah runcing (acutus), meruncing (acuminatus), tumpul (obtusus),
membulat (rotundatus), rompang (truncatus), terbelah (retusus), dan duri (mucronatus).
Runcing jika kedua tepi daun di kanan dan di kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju ke
atas dan pertemuannya pada puncak daun daun membentuk suatu sudut lancip (lebih kecil
dari 90o). Ujung daun lazim ditemui dengan bangun daun bulat memanjang, lanset, segitia,
delta, belah ketupat. Contoh dari tipe runcing berdasarekan pengamatan yang telah dilakukan
adalah hibiscus rosa-sinensis, mawar, dan jeruk purut. Meruncing jika bentuknya sama
seperti pada ujung runcing tetapi ujung pertemuan kedua bagiannya tepi daunnya jauh lebih
tinggi dari dugaan, sehingga ujung daun nampak menalami penyempitan panjang dan
runcing. Contoh dari tipe meruncing berdasarkan pengamatan adalah alokasia dan alamanda
dengan tipe aristatus, zinia, genetum, pandan, pacing, dan singkong sebagai tipe akuminatus,
cangkring dan bunga pukul empat sebagai tipe ujung daun kuspidatus, syperus dan pada
sebagai tipe acuminate, asoka, waru amar, randu, dan iris dengan tipe ujung daun spesifiknya
atenuatus-akuminatus. Tumpul jika tepi daun yang semula masih agak jauh dari ibu tulang,
cepat menuju ke suatu titik pertemuan, hinga terbentuk sudut yang tumpul (lebih dari 90o),
sering dijumpai dengan bangun daun yang bulat telur sungsang terbalik atau bangun sudip.
Contoh hasil pengamatan yang memiliki tipe daun seperti ini adalah daun kupu-kupu.
Membulat jika seperti pada ujung yang tumpul, tetapi tidak terbentuk sudut sama sekali,
hinga ujung daun merupakan semacam suatu busur, terdapat pada daun yang bulat atau
jorong atau pada daun bangun ginjal. Contoh dari tipe daun ini berdasarkan pengamatan
adalah sonchus, tomat, bunga merak, putri malu, dan psidium guajava (obtuse). Rompang
adalah jika ujung daun tampak sebagai garis yang rata, contohnya berdasarkan pengamatan
adalah bunga turi. Tipe berduri adalah jika ujung daun ditutup denan suatu bagian yang
runcing keras, maka merupakan duri. Contoh tipe tumbuhan ini berdasarkan pengamatan
adalah beluntas (Tjitrosoepomo, 2009).

Adanya ujung daun maka ada juga pangkal daun yang merupakan titik temu dari
kedua tepi daun di kanan kiri. Menurut Tjitrosoepomo (2009) pangkal daun dibedakan
menjadi yang tepi daunnya tidak pernah bertemu tetapi terpisah oleh pangkal tulang/ujung
tangkai daun dan pangkal daun yang tepinya dapat bertemu dan berlekatan. Pada tipe pangkal
daun yang tepinya bertemu dan berlekatan, masih terbagi menjadi 2 tipe, yaitu pertemuan tepi
daun pada pangkal terjadi pada sisi yang sama terhadap batang sesuai dengan letak daun pada
batang tersebut, lazim ditemui pada daun bangun perisai. Yang kedua tipenya adalah yan
pertemuan tepi daun terjadi pada sisi sebran batang yang berlawanan atau berhadapan dengan
letak daunnya. Dalam hal ini tampak seperti pangkal daun tertembus oleh batangnya.
Berdasarkan pengamatan, terdapat beberapa tipe-tipe pangkal daun yang berbeda-beda setiap
tanamannya. Tipe sagitatus dengan tumbuhan alokasia. Tipe ontuse dengan tumbuhan
hibiscus rosa-sinensis dan psidium guajava. Tipe abtusus dengan tumbuhan beluntas, asoka,
genetum, pacing, bunga pukul empat, dan padi. Tipe trunkutus dengan tumbuhan sonchus,
cyperus, zinia, pandan, turi, iris, jeruk purut, cangkring, bunga merak, dan gamal. Tipe
atenatus dengan tumbuhan alamanda. Tipe octusus dengan tumbuhan mawar. Tipe lancaste
dengan tumbuhan daun kupu-kupu. Tipe cruneate dengan tumbuhan randu. Tipe reniformis
dengan tumbuhan singkong. Tipe rotundatus dengan tumbuhan tomat dan putri malu. Tipe
kaudatus debfab tumbuhan waru.
Menurut Hidajat, 1994, tepi daun dapat dibedakan menjadi yang rata dan bertoren.
Tepi daun rata, utuh ada pada kebanyakan tumbuhan monokotil. Tepi bertoreh terbagi
menjadi tepi bertored merdeka, dimana bangun umum dari daun tersebut tidak dipengaruhi
oleh torehannya, seringkali torehan tidak berkaitan dengan tulang daun tengah atau
cabangnya. Yang kedua adalah tepi bertoreh tidak merdeka, dimana tipe ini mengubah
bangun daun umum dari helai daun. Torehan terjadi diantara tulang-tulang cabang atau antar
tulang cabang dengan tulang daun utama. Berdasarkan hasil pengamatan, tipe tepi daun
berombak adalah alokasia. Tipe tepi daun crenatus adalah hibiscus, beluntas, dan mawar.
Tipe tepi daun rata adalah psidium, syperus, asoka, zinia, pandan, pacing, padi, daun kupu-
kupu, randu, cangkring, turi, bungan merak, gamal, iris, bunga pukul empat, dan putri malu.
Tulang-tulang daun akan membentuk pertulangan daun, yang merupakan bagian daun
dengan fungsi untuk memberi kekuatan pada daun sehingga seluruh tulang-tulang pada daun
dinamakan pula sebagai rangka daun. Selain digunakan sebagai penguat, tulang-tulang daun
sesungguhnya adalah berkas-berkas pembuluh yang berfungsi sebagai jalan untuk
pengangkutan zat-zat, yaitu jalan pengangkutan zat-zat yang diambil tumbuhan dari tanah
(air beserta garam-garam terlarut), jalan pengangkutan hasil asimilasi dari tempat
pembuatannya, yaitu dari daun ke bagian lain yang memerlukan zat-zat tersebut
(Tjitrosoepomo, 2009). Pada pengamatan ditemukan 4 tipe tulang daun, yaitu melengkung,
menyirip, sejajar, dan menjari. Menurut Tjitrosoepomo (2009) daun-daun yang bertulang
menyirip mempunyai satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan
terusan tangkai daun. Dari ibu tangkai daun ini ke samping ke luar tulang-tulang cabang,
sehinga susunannya terkihat seperti susunan sirip-sirip pada ikan. Contoh dari daun dengan
tulang daun menyirip adalah soka, hibiscus, alocasia, jambu, alamanda, plucea, zinia,
melinjo, sonchus, randu, jeruk purut, cankring, daun kupu-kupu, tomat, turi, putri malu,
bunga pukul empat, mawar, kemban merak, dan gamal. Daun-daun yang bertulang menjari
yaitu jika dari ujung tangkai daun keluar beberapa tulang yang memencar, memperlihatkan
susunan seperti jari-jari pada tangan. Jumlah tulang ini umumnya gasal denan bagian tengah
merupakan yang paling besar. Contoh dari tulang daun menjari adalah ketela pohon dan
waru. Daun-daun yang bertulang melengkung mempunyai beberapa tulang yang besar,
dengan bagian satu di tengah merupakan yan paling besar, sedankan yang lainnya menikuti
jalannya ke tepi daun. Contoh dari tulang daun melengkung adalah pacing. Daun daun
dengan tulang jari sejajar, biasanya terdapat pada daun-daun bangun garis atau bangun pita
yang mempunyai satu tulang di tengah yang membujur daun, sedang tulang-tulang lainnya
jelas nampak lebih kecil dan sejajar dengan ibu tulangnya. Contoh dari tulang daun sejajar
adalah pandan, rumput teki, jagung, padi, dan iris.
Peruratan adalah bentuk urat yang berada pada daun tersebut. Urat daun adalah
cabang kecil-kecil dari tulang daun. Menurut Tjitrosoepomo (2009) urat-urat daun
sesungguhnya merupakan tulang-tulang dari cabang tetapi yang berbentuk lebih kecil atau
lembut dan satu sama lain beserta tulang-tulang yang lebih besar membentuk susunan seperti
jala, kisi, dan lainnya. Pada hasil pengamatan, didapatkan bentuk peruratan adalah menjala
dengan tumbuhan yang termasuk di dalamnya adalah nyaris keseluruhan daun amatan dengan
pertulangan menyirip dan menjari, kecuali iris, pandan, rumput teki, jagung, dan padi yang
termasuk dalam bentuk peruratan sejajar.
Terakhir, aspek yang diamati pada pengamatan daun adalah tekstur atau daging
daun (Intervenium). Daging daun merupakan bagian daun yang terdapat di antara tulang-
tulang daun dan urat-urat daun (Tjitrosoepomo, 2009). Tekstur daging daun dapat diamati
dengan cara meraba dan ditekuk atau dilipat sedikit untuk mengetahui teksturnya kemudian
disimpulkan. Tebal atau tipisnya helaian daun, juga bergantung pada tebal tipisnya daging
daun. Tekstur tipis lunak terdapat pada daun tumbuhan pacing, soka, bunga sepatu, alamanda,
beluntas, Zinnia sp, melinjo, tempuyung, randu, jeruk purut, jeruk lemon, cangkring, kupu-
kupu, tomat, turi, putri malu, singkong, bunga pukul 4, mawar, kembang merak, dan gamal,
kemudian tekstur tipis seperti kertas terdapat pada daun tumbuhan pandan dan iris, tekstur
tipis kering terdapat pada daun tumbuhan waru, tekstur tipis seperti selaput terdapat pada
daun tumbuhan Allocasia sp dan jambu, tekstur tipis keras terdapat pada daun tumbuhan
rumput teki, jagung, dan padi. Hal ini sesuai dengan literatur Tjitrosoepomo (2009), bahwa
daging daun merupakan bagian yang terdapat tulang daun dan urat daun, dimana bagian ini
merupakan dapur tumbuhan terjadi perubahan zat yang diambil oleh tumbuhan menjadi zat
yang dibutuhkan oleh tumbuhan sesuai keperluan, tekstur daging daun bergantung pada tebal
tipisnya daging daun yang dibedakan menjadi tipis seperti selaput (membranaceus) atau
menerna, tipis seperti kertas (papyraceus) yaitu tipis namun cukup tegar, tipis lunak
(herbaceous) yaitu tipis namun memiliki tekstur lembek atau lunak, tipis seperti perkamen
(perkamenteus) yaitu tipis namun cukup kaku, seperti kulit/belulang (coriaceus) yaitu
memiliki tekstur tebal dan kaku, dan berdaging (carnosus) yaitu tebal dan berair.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Saat mengamati satu helai daun, akan terlihat struktur (bagian-bagian) daun yaitu
tangkai daun (petiolus), helaian daun (lamina) dan pelepah daun (vagina). Bila daun
memiliki tiga struktur tersebut, yaitu pelepah, tangkai daun dan helaian daun maka daun
tersebut digolongkan sebagai daun lengkap. Tata letak daun adalah aturan tentang daun
pada batang. Berdasarkan jumlah daun setiap buku maka duduk daun diberikan tersebar,
duduk daun berhadapan, bersilang berhadapan dan duduk daun berkarang. Penentuan
bentuk daun berdasarkan bentuk dan helaian daun pada tangkai daun tidak menentukan
bentuk daun.
Bentuk daun dibagi menjadi dua yaitu bentuk umum dan bentuk khusus. Bentuk
umum dibagi tiga berdasarkan bagian terlebarnya yaitu bagian bawah tengah daun, di
tengah daun, dan di atas tengah daun. Bagian terlebar di bawah tengah daun memiliki
beberapa tipe yaitu bulat telur melebar, bulat telur, bulat telur lonjong, dan bulat telur
lanset. Bagian yang terlebar di tengah daun memiliki beberapa tipe yaitu bulat, jorong,
lonjong, lanset, pita lanset, dan pita. Bagian terlebar di atas tengah daun memiliki
beberapa tipe yaitu bulat telur terbalik melebar, bulat telur terbalik, bulat telur terbalik
lonjong, dan bulat telur terbalik lanset.
Pecahan a/b dapat menunjukkan sudut antara dua daun berturut-turut jika
diproyeksikan pada bidang datar. Jarak antara kedua daun pun tetap dan besarnya adalah
a/b x 3600, yang di sebut sudut disvergensi, ternyata didapati pecahan a/b dapat terdiri
dari pecahan 1/2, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21 dan seterusnya.
Modifikasi daun sangat bervariasi pada group tanaman yang berbeda, beberapa
tanaman primitif daunya merupakan perluasan secara lateral dari tumbuh dimana
epidermis batang dan pada beberapa tanaman paku-pakuan dan tanaman berbiji
kemungkinan merupakan sistem cabang dengan komponen yang bergabung sebagian
besar daun tanaman dikotil dan monokotil pasti phyllase yaitu berupa petiole yang pipih
dan meluas dan disokong dengan petiole. Bentuk khusus, yaitu pedang, jarum, lanset,
lanset oval, linear, jorong, lonjong, bundar telur sungsang, sudip, bundar telur, lingkaran,
ginjal, jantung terbalik, jantung, belah ketupat, berbagi menyirip, tombak, mata panah,
dan segitiga.

B. Saran
Penulis menyarankan untuk mengamati permukaan daun sebaiknya menggunakan
mikroskop stereo agar dapat terlihat bagian-bagian morfologi daun pada permukaan yang
berbeda-beda. Kemudian, agar lebih paham mengenai daun besertaa filotaksisnya,
disarankan mencari informasi terkait aspek-aspek yang dapat diamati pada daun beserta
kaitan antara struktur dan fungsinya pada literatur-literatur yang relevan dan terpercaya.
Dikarenakan informasi yang diberikan oleh penulis masih belumlah lengkap, dan tidak
sepenuhnya menjawab pertanyaan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA

Hidajat, Estiti B. 1994. Morfologi Tumbuhan. Bandung: Departemen Kebudayaan.


Puryaningsih, Sri. 2009. Diktat Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. Palangkaraya :
STAIN Palangkaraya
Rosanti, dewi. 2013, Morfologi Tumbuhan, Jakarta : Erlangga
Tjitrosoepomo, Gembong. 2007, Morfologi Tumbuhan, Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press
Tjitrosoepomo, Gembong. 2009. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
LAMPIRAN

Gambar 1. Allocasia sp. Gambar 2. Beluntas

Gambar 3. Putri Malu Gambar 4. Singkong


Gambar 5. Randu Gambar 6. Allamanda sp.

Gambar 7. Bunga Kupu-Kupu Gambar 8. Bunga Pukul Empat

Gambar 9. Hibiscus rossasinensi Gambar 10. Rossa sp.


Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner
Scanned by CamScanner

Anda mungkin juga menyukai