Anda di halaman 1dari 4

BAB III

METODOLOGI PENULISAN

3.1 Rancangan Studi Kasus


Menurut Sukmadinata tahun 2011 mengatakan Penelitian kualitatif ini
menggunakan desain studi kasus deskriptif. Studi kasus yang dimaksudkan
adalah penelitian yang dilakukakan dengan tujuan utama untuk memberikan
gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif dan bersifat
faktual.
Pada penelitian ini penulis ingin studi kasus mengambarkan pendekatan
komunikasi terapeutik yang meliputi tahapan prainteraksi, orientasi, interaksi,
dan terminasi dengan pemberian relaksasasi nafas dalam untuk memberi
dukungan dalam mengatasi pola nafas tidak efektif pada pasien Dispnea
diruang Kemuning RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

3.2 Subyek Studi Kasus


Studi kasus akan mengambil subyek adalah pasien dengan Dispnea
yang mengalami pola nafas tidak efektif diruang Kemuning RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu. Jumlah subyek penelitian yang direncanakan berjumlah 2
orang pasien . kriteria inklusi dan eksklusi yang ditentukan pada subyek
penelitian ini yaitu:
3.2.1 Kriteria inklusi
3.2.11 Pasien yang terdiagnosa Dispnea yang mengalami pola nafas
tidak efektif diruang Kemuning RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
3.2.11 Pasien yang mengalami Dispnea diruang Kemuning RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu
3.2.11 Pasien yang bersedia menjadi responden
3.2.2 Kriteria eksklusi
3.2.2.1 Pasien Dispnea dengan komplikasi
3.2.2.2 Pasien Dispnea yang terdapat kelemahan fisik

3.3 Fokus Studi


Dalam penelitian difokuskan pada:
3.4.1 Pasien dengan dyspnea
3.4.2 Latihan pernafasan pada pasien dispnea dengan pemberian relaksasi
nafas dalam
3.4 Definisi Operasional
3.4.1 Dispnea adalah suatu diagnosis yang di tetapkan oleh dokter RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu berdasarkan manifestasi pada klien, hasil
pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan fisik dan hasil laboratorium.
3.4.2 Latihan pernafsan adalah suatu kumpulan prosedur medis yang
bertujuan untuk meredakan atau menghilangkan sesak pada pasien.
Sesak pada dasarnya merupakan suatu sesansi yang tidak nyaman atau
ketidaknyamanan yang muncul akibat peningkatan ventilasi, obstruksi
jalan nafas, dan kecemasan.
3.4.3 Relaksasi nafas dalam merupakan jenis relaksasi yang
dapat digunakan untuk mengatasi sesak dan cemas. Relaksasi nafas dalam
merupakan latihan pernafasan dengan teknik bernafas secara perlahan dan
dalam, menggunakan otot diafragma, sehingga memungkinkan abdomen
terangkat secara perlahan dan dada mengembang penuh, dapat menguatkan
otot pernafasan, membantu meminimalkan kolaps jalan kecil, dan memberikan
individu untuk mengontrol dispnea. Relaksasi nafas dalam diberikan setelah
ada indikasi yang akan membuat dispnea dan skala sesak, dan diterapkan
sebelum dan sesudah beraktivitas dengan skala sesak pasien 3-5 selama 15-30
menit. Melakukan setiap pengulangan dengan jeda 2 menit setiap
pengulangan.
3.5 Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan diruang Kemuning RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu dan dilakukan bulan September 2019 sampai maret 2020
3.6 Pengumpulan Data
3.6.1 Anamnesa
Hasil anamnesis pada pasien dispnea meliputi identitas pasien,
keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu,
riwayat penyakit keluarga, riwayat psikologi, pola pola kehidupan
sehari-hari. Data hasil anamnesa dapat bersumber dari pasien, keluarga
dan dari perawat lainnya.
3.6.1 Observasi dan Pemeriksaan fisik
Teknik pengumpulan data ini meliputi keadaan umum,
pemeriksaan integumen, pemeriksaan kepala, leher, pemeriksaan dada,
pemeriksaan abdomen, pemeriksaan inguinal, genetalia, anus,
ekstremitas, pemeriksaan pernafasan dengan pendekatan: inspeksi,
palpasi, perkusi, auskultasi pada sistem tubuh pasien. Data fokus yang
harus didapatkan adalah pada pernafasan pasien.

3.7 Penyajian Data


Pada penelitian kasusu ini data akan disajikan secara narasi dan teks,
pertama adalah karakteristik pasien, mendeskripsikan fase prainteraksi, fase
orientasi, fase interaksi, dan fase terminasi relaksasi nafas dalam uutuk
mendukung ventilasi dalam mengatasi pola nafas tidak efektif pada pasien
Dispnea diruang Kemuning RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu

3.8 Etika Studi Kasus


Peneliti akan berusaha mempertimbangkan etik dan legal peneliti untuk
melindungi responden agar terhindar dari hal yang dapat merugikan
responden, kenyamanan fisik serta psikologis. Ethical Clearance
mempertimbangkan hal-hal dibawah ini:
3.8.1 Self determinon
Penulis sepenuhnya memberikan kebebasan kepada responden
untuk memilih, memutuskan, menolak, dan bersedia menjadi
responden.
3.8.2 Tanpa nama (anonymity)
Nama responden tidak akan tercantumdalam lembar
pengumpulan data, peneliti akan menggunakan nama samaran sebagai
pengganti identitas responden.
3.8.3 Kerahasiaan (confidenally)
Pada penelitian ini penulis akan menjamin kerahasian responden
dan tidk akan menyebarluaskan semua informasi yang memuat
responden.
3.8.4 Keadilan (justice)
Peneliti akan mmeperlakukan responden secara adi, baik yang
bersedia menjadi responden ataupun yang menolak menjadi
responden.
3.8.5 Asas kemanfaatan (beneficiency)
Menjamin responden tidak akan cidera atau hal yang berakibat
fatal, bebas eksploitasi dimana pemberian informasi dari responden
akan digunakan sebaik mungking, bebas resiko yaitu responden
terhindar dari resiko bahaya kedepannya
3.8.6 Maleficience
Peneliti tidak akan menimbulkan kerugian kepada responden.
Peneliti menjamin kenyamanan responden, tidak menyakiti dan tidak
aan membahayakan responden.