Anda di halaman 1dari 57

ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

ILMU ANESTESIOLOGI
DAN TERAPI INTENSIF

i
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta

Lingkup Hak Cipta


Pasal 1
1. Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan
prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa
mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketentuan Pidana
Pasal 113
1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf I untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana
dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan / atau pidana denda paling
banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan / atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak
Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan / atau huruf h untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan / atau pidana
denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

ii
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

ILMU ANESTESIOLOGI
DAN TERAPI INTENSIF

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH
DENPASAR
2017

iii
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

ILMU ANESTESIOLOGI
DAN TERAPI INTENSIF
Tim Penyusun:

Made Wiryana I Ketut Wibawa Nada


I Ketut Sinardja Dewa Ayu Mas ShintyaDewi
IB Gde Sujana I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa
I Made Subagiartha IGAG. Utara Hartawan
I Gusti Putu Sukrana Sidemen Pontisomaya Parami
I Wayan Suranadi I Putu Kurniyanta
I Gede Budiarta Kadek Agus Heryana Putra
I Putu Pramana Suarjaya Cynthia Dewi Sinardja
Tjokorda Gde Agung Senapathi I Made Agus Kresna Sucandra
I Made Gede Widnyana IB Krisna Jaya Sutawan
Putu Agus Surya Panji Tjahya Aryasa EM
I Wayan Aryabiantara

Tim Editor:
Putu Wardani
IGA Harry Sundariyati

Repro

Hak Cipta pada Penulis.


Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang :
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit.

iv
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

PRAKATA

P uji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang


Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), karena Buku
Panduan Belajar Ilmu Anestesiologi dan Reanimasi ini dapat
terselesaikan.
Buku ini dibuat dengan tujuan sebagai pegangan bagi
mahasiswa pendidikan dokter tingkat profesi (koas) agar lebih
terarah dalam mengikuti proses belajar mengajar di Bagian
Ilmu Anestesiologi dan Terapi Intensif, maupun saat bertugas di
bagian lain.
Buku ini mengacu pada Standar Kompetensi Dokter
Indonesia tahun 2012 yang berisi daftar kasus klinik dan
keterampilan klinik yang harus dikuasai oleh seorang dokter
muda. Pendekatan dalam buku ini menggunakan pendekatan
terhadap gejala klinis (symptom approached) dari keluhan pada
penyakit di bidang Ilmu Anestesiologi dan Terapi Intensif
yang sering dijumpai. Berdasarkan gejala yang didapatkan,
maka dokter muda diajak untuk berpikir secara sistematis
dan komprehensif dengan cara melakukan proses anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, perumusan masalah
atau diagnosis klinis, hingga menetapkan manajemen terapi pada
kasus tersebut.
Ucapan terimakasih kami haturkan kepada semua pihak
yang telah membantu tersusunnya buku ini, terutama kepada
Dekan, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan,
Tim Pendidik Klinik, Department of Medical Education, dan seluruh
staf Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas

v
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

Kedokteran Universitas Udayana. Kami menyadari buku ini


belumlah sempurna dan akan terus mengalami perbaikan seiring
perkembangan kemajuan pendidikan kedokteran, utamanya
di bidang Ilmu Anestesiologi dan Terapi Intensif, sehingga
masukan untuk perbaikan di masa yang akan datang sangat
kami nantikan. Akhirnya kami berharap semoga Buku Panduan
ini dapat memberikan manfaat utamanya bagi calon dokter
umum yang akan menjalankan kepaniteraan klinik di Bagian
Ilmu Anestesiologi dan Terapi Intensif.

Januari, 2017
Tim Penyusun

vi
CARA MENGGUNAKAN
PANDUAN BELAJAR

B uku panduan belajar ini ditujukan untuk mempelajari


kasus klinis dan keterampilan klinik di bidang
Anestesiologi dan Reanimasi saat bertugas stase di Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif. Kompetensi yang tercakup
dalam buku panduan ini adalah kompetensi minimal seorang
dokter umum yang harus anda kuasai saat anda belajar dan
bertugas di rotasi pendidikan klinik.
Buku ini tersusun atas 6 (enam) bab, berdasarkan kasus
yang dapat ditangani seorang dokter umum. Setiap bab memuat
tujuan belajar, pertanyaan terkait kesiapan dokter muda, daftar
keterampilan/ prosedur klinik, dan algoritma kasus yang harus
dikuasai.
Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan buku
panduan ini adalah :
1. Bacalah daftar kompetensi kasus klinis dan keterampilan
klinik yang harus anda kuasai selama anda belajar dan
bertugas di Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. Daftar
kompetensi ini juga dapat anda temukan di buku kerja
harian (buku log dokter muda).
2. Pada setiap bab, bacalah tujuan belajar yang harus dicapai
saat mempelajari bab tersebut. Selanjutnya cobalah menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang tersedia dengan menggunakan
prior knowledge anda. Apabila anda mengalami kesulitan
saat menjawabnya, anda dapat menggunakan buku
referensi yang dianjurkan, tercantum pada bagian akhir
buku ini. Setelah anda mampu menjawab semua pertanyaan

vii
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

pertanyaan tersebut, mulailah membaca algoritma kasus


yang digunakan. Anda dapat menggunakan referensi untuk
mengklarifikasi algoritma tersebut. Baca juga beberapa
keterangan tambahan yang terdapat pada algoritma kasus.
3. Kemudian bacalah daftar keterampilan yang diperlukan
untuk menangani kasus yang bersangkutan. Beberapa
prosedur penting yang belum anda peroleh di Skill Lab
dijelaskan dalam buku ini.

Jika terdapat pertanyaan yang berkaitan dengan materi


yang ada dalam buku panduan belajar ini, dan anda kesulitan
mendapat jawabannya meskipun telah membaca referensi yang
ada, tanyakan dan diskusikan pada saat kegiatan pendidikan
klinik.

viii
STANDAR KOMPETENSI
DOKTER INDONESIA
ILMU ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI

D alam melaksanakan praktek kedokteran, seorang


dokter harus mampu bekerja berdasarkan keluhan
atau masalah pasien, melakukan pemeriksaan, menganalisis data
klinis sehingga dapat membuat diagnosis yang tepat agar dapat
melakukan penatalaksanaan yang sesuai. Untuk itu diperlukan
pembelajaran dan pelatihan yang berkesinambungan. Agar
pembelajaran terarah maka dibuatlah standar minimal yang
harus dimiliki seorang dokter dengan diterbitkannya Standar
Kompetensi Dokter Indonesia. Diharapkan lulusan dokter dapat
memiliki keterampilan minimal sesuai yang telah ditetapkan.
Untuk mencapai kompetensi sesuai Standar Kompetensi Dokter
Indonesia diperlukan strategi pembelajaran dengan menerapkan
target. Target tingkat kompetensi dibagi menjadi 4, yaitu:
1. Tingkat kompetensi 1 (Knows)
Mampu mengetahui pengetahuan teroritis termasuk aspek
biomedik dan psikososial keterampilan tersebut sehingga
dapat menjelaskan kepada pasien atau klien dan keluarganya,
teman sejawat, serta profesi lainnya tentang prinsip, indikasi,
dan komplikasi yang mungkin timbul. Keterampilan ini
dapat dicapai mahasiswa melalui perkuliahan, diskusi,
penugasan, dan belajar mandiri, sedangkan penilaiannya
dapat menggunakan ujian tulis.
2. Tingkat Kompetensi 2 (Knows How)
Pernah melihat atau didemonstrasikan. Menguasai
pengetahuan teoritis dari keterampilan ini dengan
penekanan pada clinical reasoning dan problem solving serta

ix
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

berkesempatan untuk melihat dan mengamati keterampilan


tersebut dalam bentuk demonstrasi atau pelaksanaan
langsung pada pasien atau masyarakat.
3. Tingkat Kompetensi 3 (Shows)
Pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah
supervisi. Menguasai pengetahuan teori keterampilan ini
termasuk latar belakang biomedik dan dampak psikososial
keterampilan tersebut, berkesempatan untuk melihat dan
mengamati keterampilan tersebut dalambentuk demonstrasi
atau pelaksanaan langsung pada pasien atau masyarakat,
serta berlatih keterampilan tersebut pada alat peraga dan
atau pasien standar.
4. Tingkat kompetensi 4 (Does):
Mampu melakukan secara mandiri. Dapat memperlihatkan
keterampilannya tersebut dengan menguasai seluruh
teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan,
komplikasi, dan pengendalian komplikasi. 4A. Kompetensi
yang dicapai pada saat lulus dokter.

Pada akhir siklus stase, diharapkan kompetensi yang harus


dimiliki oleh seorang Koas di Bagian Anestesiologi dan Reanimasi
berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia tahun 2012:
1. Mampu mendiagnosis dan mendeteksi kegawatdaruratan
medis.
2. Mampu mengelola kasus kegawatdaruratan medis (advance
life support).
3. Mampu untuk menjawab kasus yang seharusnya dirujuk.
4. Mengelola pasien yang sedang dirujuk dengan baik.
5. Mampu mengelola nyeri.

x
DAFTAR KOMPETENSI KLINIK

Target
NO Daftar Kompetensi Keterampilan Klinik
Kompetensi
I Pengelolaan Jalan Nafas
1. Inspeksi Leher 4A
2. Penilaian Respirasi 4A
3. Inspeksi Dada 4A
4. Palpasi Dada 4A
5. Perkusi Dada 4A
6. Auskultasi Dada 4A
7. Terapi Oksigen 4A
8. Laringoskopi, Intubasi 3
9. Manuver Heimlich 4A
10. Membuka dan membersihkan jalan nafas 4A
11. Triple Airway Manuver (Bantuan Hidup Dasar) 4A

II Syok
1. Syok Septik 3B
2. Syok Hipovolemik 3B
3. Syok Kardiogenik 3B
4. Syok Neurogenik 3B

III Terapi Cairan dan Nutrisi


1. Resusitasi Cairan 4A
2. Punksi Vena 4A
3. Punksi Arteri 3
4. Pemeriksaan turgor kulit untuk menilai dehidrasi 4A
5. Inspeksi bibir & kavitas oral 4A
6. Pemasangan Pipa Nasogastrik 4A
7. Nasogastric Suction 4A
8. Manajemen Cairan pada Shock 4A

xi
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

IV Resusitasi Jantung Paru dan Otak


1. Airway (Bantuan Hidup Dasar) 4A
2. Breathing (Bantuan Hidup Dasar) 4A
3. Mask Ventilation 4A
4. Circulation (Bantuan Hidup Dasar) 4A
5. Pijat Jantung Luar 4A
6. Drug & Fluids 4A
7. Resusitasi Cairan 4A
8. Life Threatening Electrocardiography 4A
9. EKG pemasangan & interpretasi hasil EKG 4A
sederhana
(VES, AMI, VT, AF) 4A
10. Penilaian Kesadaran 3B
11. Koma

V Monitoring
1. Tanda vital 4A
2. Pengukuran Tekanan Darah 4A
3. Pengukuran Tekanan Vena Jugularis 4A
4. Palpasi Denyut Arteri Ekstremitas 4A
5. EKG Pemasangan & Interpretasi Hasil EKG (VES, 4A
AMI, VT, VF) 3B
6. Fibrilasi Ventrikel 2
7. Aritmia Lainnya 3B
8. Henti Napas Henti Jantung 4A
9. Penilaian Tingkat Kesadaran GCS 4A
10. Pemeriksaan Refleks gag 3B
11. Koma

VI Pengelolaan Nyeri
1. Anestesi Infiltrasi 4A
2. Pemberian Analgesik 4A
3. Nyeri Alih 3A
4. Nyeri Neuropatik 3A

xii
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

DAFTAR ISI

PRAKATA ......................................................................................... v

CARA MENGGUNAKAN PANDUAN BELAJAR ................vii

STANDAR KOMPETENSI DOKTER INDONESIA


ILMU ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI ......................... ix

DAFTAR KOMPETENSI KLINIK .............................................. xi

BAB 1 AIRWAY MANAGEMENT ...............................................1

BAB 2 SYOK.....................................................................................6

BAB 3 TERAPI CAIRAN DAN NUTRISI ................................17

BAB 4 RESUSITASI JANTUNG PARU DAN OTAK ............21

BAB 5 MONITORING PASIEN .................................................29

BAB 6 PENGELOLAAN NYERI.................................................33

DAFTAR PUSTAKA .................................................................38

xiii
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

xiv
BAB 1
AIRWAY MANAGEMENT

Tujuan Pembelajaran Mahasiswa

1. Mampu menjelaskan anatomi dan fisiologi jalan nafas.


2. Mampu mengetahui gejala dan tanda kegawatdaruratan
jalan nafas.
3. Mampu membebaskan jalan nafas secara manual dan dengan
alat sederhana.
4. Membersihkan jalan nafas dari benda asing.
5. Mampu melakukan bantuan nafas dengan sungkup muka.
6. Mampu melakukan terapi oksigen.
7. Mampu melakukan pemeriksaan laringoskopi dan intubasi
endotrakeal.
8. Mengetahui indikasi dan indikasi kontra intubasi
endotrakeal.
9. Mengetahui komplikasi dan tatalaksanakomplikasi intubasi
endotrakeal.
10. Mengetahui beberapa teknik pengelolaan jalan nafas
darurat.
11. Mampu menjelaskan dan melakukan beberapa teknik airway
management terkini.

1
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

Pertanyaan dan Kesiapan Dokter Muda


1. Jelaskan anatomi dan fisiologi jalan nafas?
2. Jelaskan fisiologi pertukaran gas pernafasan di alveolus?
3. Sebutkan gejala dan tanda kegawatan jalan nafas?
4. Jelaskan cara sederhana membebaskan jalan nafas tanpa
alat?
5. Apa indikasi kontra untuk triple airway maneuver?
6. Jelaskan cara membersihkan benda asing di jalan nafas
secara manual.
7. Jelaskan cara memberikan bantuan nafas dengan sungkup
muka.
8. Jelaskan bagaimana cara-cara memberikan terapi oksigen.
9. Sebutkan tanda intubasi berhasil.
10. Jelaskan komplikasi laringoskopi dan intubasi.
11. Jelaskan macam-macam pengelolaan jalan nafas pada
kondisi yang darurat.
12. Sebutkan beberapa teknik pengelolaan jalan nafas terkini.
13. Jelaskan posisi stabil untuk pasien yang tidak sadar.

1. Melakukan pemasangan oropharyngeal airway


2. Melakukan laringoskopi dan intubasi endotrakea
3. Melakukan assessment dan koreksi setiap langkah airway
management.
4. Melakukan bantuan nafas dengan sungkup muka.
5. Memposisikan pasien pada posisi stabil.

2
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

Pasien kesadaran
menurun

Tidak mampu menjaga jalan nafas


(airway)

Head-tilt chin lift ( tidak ada trauma servikal )

Jaw thrust ( bila ada kecurigaan trauma servikal )

3
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

A B

Jaw thrust

Keterangan :
(A) Kehilangan kesadaran sering disertai dengan hilangnya
tonus otot sub-mandibula.
(B) Sumbatan jalan nafas akibat lidah dapat diatasi dengan
head–tilt chin lift atau
(C) Jaw thrust.

4
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

Keterangan :
Kedua tangan penolong mengepal dan saling mengkait satu
sama lain, diletakkan pada ulu hati perut penderita di bawah
processus xyphoideus kemudian menekan abdomen keatas
belakang dengan hentakan keras.
A. Heimlich Maneuver on an unconscious victim
B. Heimlich Maneuver on conscious victim ( standing victim )

Tabel Alat dan Sistem Yang Digunakan Dalam Terapi Oksigen


Pemberian Oksigen
Ketepatan Aliran Oksigen
Alat dan Sistem FiO2 Range
( L/min )
1 0,21-0,24
2 0,23-0,28
Nasal Cannula
3 0,27-0,34
4 0,31-0,38
5-6 0,32-0,44
5-6 0,30-0,45
Simple Mask
7-8 0,40-0,60
Mask With Reservoir 5 0,35-0,50
7 0,35-0,75
Partial rebreathing mask-bag
15 0,65-1,00
Nonrebreathing mask-bag 7-15 0,40-1,00
4-6 (total Flow = 15 ) 0,24
4-6 (total Flow = 45 ) 0,28
Venturi Mask and jet
8-10 (total Flow =45 ) 0,35
nebulizer
8-10 (total Flow =33 ) 0,40
8-12 (total Flow =33 ) 0,50

5
BAB 2
SYOK

Tujuan Pembelajaran Dokter Muda

1. Mampu menjelaskan patofisiologi syok.


2. Mampu menganalisa tanda dan gejala syok.
3. Mampu melakukan tatalaksana awal syok.
4. Mampu menerangkan komplikasi dan kegawatan syok.
5. Mampu menerangkan jenis-jenis syok.
6. Mengetahui dan bisa menggunakan obat-obat inotropic dan
vasopressor.

Pertanyaan dan Kesiapan Dokter Muda

1. Mampu menjelaskan patofisiologi syok.


2. Sebutkan pembagiansyok berdasarkan penyebabnya!
3. Bagaimana penatalaksanaan awal pasien syok?
4. Apakah definisi dan contoh inotropic dan vasopressor?
5. Bagaimanakah cara menggunakaninotropic dan vasopressor?
6. Apakah indikasi dan indikasi kontra obat-obat inotropic dan
vasopressor?
7. Apakah komplikasi syok?
8. Kapan pasien dengan syok harus dirujuk?

6
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

1. Mampu mengetahui tanda dan gejala syok.


2. Mampu melakukan bantuan hidup dasar pada penderita
syok.
3. Mampu melakukan pemasangan kanul intravena.
4. Mampu memberikan cairan resusitasi secara cepat.

5. Mengetahui obat-obat inotropic dan vasopressor.


6. Mengetahui indikasi dan kontraindikasi obat inotropic dan
vasopressor.
7. Mengetahui tatalaksana merujuk pasien syok.

7
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

ALGORITME KASUS

8
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

Syok Anafilaksis

Reaksi Anafilaksis

Airway, Breathing, Circulation, Disability,


Exposure

Diagnosis
Onset Akut
Ancaman airway dan atau
breathing dan atau circulation
Seringkali disertai perubahan pada
kulit

Minta Pertolongan
Posisikan pasien telentang /
supine
Tinggikan kaki pasien

Adrenaline

Apabila memiliki keterampilan dan


peralatan tersedia:
Amankan airway
Oksigen tinggi
IV fluid challenge
Chlorpeniramine
Hydrocortisone

Monitoring :
Oksimeter Nadi
Elektrokardiografi
Tekanan darah

9
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

• Masalah yang mengancam:


Airway edema, suara serak, stridor
Breathing takipneu, wheezing, fatique, sianosis, SpO2 <
92%, bingung
Circulation pucat, basah berkeringat, tekanan darah
rendah, faintness, drowsy/coma

• Adrenalin :
Berikan IM, kecuali berpengalaman memberikan adrenalin
IV
Dosis IM 1:1000 adrenalin (diulang setiap 5 menit apabila
belum ada perbaikan)
Dewasa 500 mikrogram IM (0,5 mL)
Anak> 12 tahun 500 mikrogram IM (0,5 mL)
Anak 6-12 tahun 300 mikrogram IM (0,3 mL)
Anak< 6 tahun 150 mikrogram IM (0,15 mL)
Adrenalin IV hanya diberikan oleh spesialis yang
berpengalaman, dengan dosis titrasi.
Dewasa 50 mikrogram, anak-anak 1 mikrogram/kgbb

• IV Fluid challenge :
Dewasa 500-1000 mL
Anak kristaloid 20 mL/kg
Stop IV koloid bila hal ini yang dianggap sebagai penyebab
anafilaksis

• Chlorpeniramine (IM atau IV perlahan)


Dewasa / anak>12 tahun 10 mg
Anak 6-12 tahun 5 mg
Anak 6 bulan – 6 tahun 2,5 mg
Anak< 6 bulan 2 50 mikrogram/kgbb

10
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

• Hidrokortison (IM atau IV perlahan)


Dewasa / anak>12 tahun 200 mg
Anak 6-12 tahun 100 mg
Anak 6 bulan – 6 tahun 50 mg
Anak< 6 bulan 25 mg

Keterangan

Klasifikasi Syok:
Berdasarkan mekanisme dan penyebabnya, syok dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Syok hipovolemik
• Syok hemoragik (kehilangan darah)
Perdarahan eksternal (trauma)
Perdarahan internal (hematoma, hematothoraks, dll)
• Kehilangan plasma
Luka bakar
Dermatitis eksfoliatif
• Kehilangan cairan dan elektrolit
Kehilangan eksternal (muntah, diare, keringat, keadaan
hiperosmolar,dll)
Kehilangan internal (pankreatitis, ascites, obstruksi
saluran cerna)
2. Syok kardiogenik
• Disritmia
• Kegagalan pompa (sekunder akibat miokard infark,
kardiomiopati)
• Disfungsi katup akut (terutama regurgitasi)
• Ruptur septum ventrikel
3. Syok obstruktif
• Tension peumothoraks
• Pericardial diseases
• Left atrial mural thrombus
• Obstructive valvular diseases (aortic / mitral stenosis)

11
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

4. Syok distributif
• Septik syok
• Anafilaksis syok
• Neurogenik syok
• Obat vasodilatasi

Disfungsi Sistem Organ dalam Syok

Sistem Saraf Pusat Ensefalopati (Iskemik atau septik)


Takikardia, Bradikardia
Supraventrikular takikardia
Jantung Ventrikular Ektopik
Miokardial iskemia
Miokardial depresi
Gagal napas akut
Sustem Pernapasan
Sindrom Gangguan Napas

Gagal ginjal prerenal


Ginjal
Acute tubular necrosis
Ileus
Gastritis erosifa
Pankreatitis
Sistem Gastrointestinal
Kolesistitis Akalkulus
Pendarahan submucosa kolon
Transluminal translocation of bacteria/antigens

Hepatitis iskemik
Hati Syok hati
Kolestatis intrahepatic

DIC
Sistem Hematologi
Dilutional thrombocytopenia

Hiperglikemia
Glikogenolisis
Metabolic Glukoneogenesis
Hipoglikemia
Hipertrigliseridemia
Depresi fungsi sawar usus
Sistem Imun Depresi imunitas seluler
Depresi imunitas humoral

12
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

Respon Kompensasi Syok

13
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

Pendekatan Pada Syok: Diagnosis Awal dan Evaluasi


Klinis (Diagnosis primer)
Takikarkadia, takipnea, sianosis, oliguria, ensefalopati, (bingung), hipoperfusi perifer
(mottled anggota gerak), hipotensi (tekanan darah sistol < 90 mmHg)

Laboratorium
Hemogloblin, Sel Darah Putih, Trombosit
PT/PTT
Elektrolit, Analisa Gas Darah Arterial
Ca, Mg
BUN, Kreatinin
Serum Laktat
EKG

Pemantauan
Pantau napas dan EKG berkelanjutan
Kateter tekanan arteri
Monitor tekanan vena sentral
Oksimetri vena
Kateter arteri pulmonalis
Curah Jantung
Tekanan oklusi arteri paru
Saturasi oksigen darah vena/arteri campuran (Berkala atau berkelanjutan)
Oksimetri
Ekokardiogram

Pencitraan
Rontgen dada
Rontgen abdomen
CT-Scan dada dan abdomen
Ekokardiogram
Pulmonary perfusion scan

14
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

Pendekatan Umum Pada Syok : Target Menengah

Hemodinamik
• MAP >60 sampai 65 mm Hg (lebih tinggi targetnya pada
kasus penyakit jantung koroner)
• CVP = 8 sampai 12 mm Hg/PAOP = 12 sapai 15 mm Hg (lebih
tinggi nilainya pada kasus syok kardiogenik
• CI > 2.1 L/min/m2

Optimasi Pengiriman Oksigen


• Hemoglobin > 9 g/dL; > 7 g/L pasca syok adalah cukup
• Saturasi arterial > 92%
• MVO2 > 60%, sCVO2 >70%
• Normalisasi serum laktat (hingga <2.2 mM/L)

Reverse Organ System Dysfunction


• Reverse encelopathy
• Pertahanakn produksi urin > 0.5 mL/kg/jam

15
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

Potensi Penggunaan Vasopresor/Inotropik IV Dalam


Keadaan syok

16
BAB 3
TERAPI CAIRAN DAN NUTRISI

Tujuan Pembelajaran Dokter Muda

1. Mengetahui fisiologi dan patofisiologi cairan tubuh.


2. Memahami pengaturan cairan dan elektrolit.
3. Mengetahui indikasi terapi cairan.
4. Mengetahui macam-macam cairan rumatan dan cairan
terapi.
5. Mengetahui gejala dan tanda kekurangan cairan dan
elektrolit.
6. Mampu melakukan terapi cairan.
7. Mengetahui pemberian nutrisi enteral dan parenteral.
8. Mampu melakukan pemeriksaan status nutrisi pasien.
9. Mengetahui indikasi dan indikasi kontra pemberian nutrisi
enteral.
10. Mampu melakukan pemasangan nasogastric tube (NGT) dan
kanul intra vena.
11. Mengetahui fungsi dan pemasangan kanul vena sentral.
12. Mampu melakukan pengambilan sampel darah vena dan
arteri.
13. Mampu melakukan permintaan pemeriksaan darah,
elektrolit, fungsi organ dan analisa gas darah.

17
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

Pertanyaan dan Kesiapan Dokter Muda

1. Bagaimana distribusi cairan kedalam tubuh?


2. Terangkan dan sebutkan komposisi cairan ekstra dan intra
seluler?
3. Sebutkan macam macam cairan rumatan dan
komposisinya?
4. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan status nutrisi
pasien?
5. Bagaiman cara memasang NGT, kanulasi intravena dan vena
sentral?
6. Apa indikasi dan indikasi kontra pemberian nutrisi enteral?
7. Apa indikasi dan indikasi kontra pemberian nutrisi
parenteral?
8. Bagaiman cara melakukan pengambilan sampel darah vena,
arteri?

1. Mampu melakukan penilaian status cairan dan nutrisi.


2. Mengetahui cara memberikan terapi cairan dan nutrisi.
3. Mampu melakukan pemasangan kanulasi vena perifer dan
NGT.
4. Mampu melakukan pengambilan contoh darah vena dan
arteri.
5. Mengetahui cara pemasangan vena sentral.

18
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

Keterangan

Tabel Perkiraan Kebutuhan Cairan Pemeliharaan


Berat badan (kg) Kebutuhan cairan tiap jam
10 kg pertama 4 ml/kg/jam
10 kg berikutnya Tambahkan 2 ml/kg/jam
Tiap kg (diatas 20 kg) Tambahkan 1 ml/kg/jam

Tabel Tanda Kehilangan Cairan (hipovolemia)


Kehilangan cairan (ditunjukkan dalam persentase berat
Tanda badan)
5% 10% 15%
Membranmukosa Kering Sangat kering Pecah-pecah
Sensoris Normal Letargik Tidak sadar
Ada, sangat
Perubahan ortostatik bermakna
Tidak ada
-pada denyut nadi Ada
>15 x/menit ↑
-pada tensi darah
> 10 mmhg ↓
Sedikit
Produksi urin Berkurang Sangat berkurang
berkurang
Normal atau Meningkat>100 Sangat meningkat
Denyut nadi
meningkat x/menit >120 x/menit
Sedikit berkurang
Tekanan darah Normal terhadap variasi Berkurang
respirasi

Tabel Volume Darah


Usia Volume darah
Neonatus
Prematur 95 ml/kg
Matur 85ml/kg
Infants 80 ml/kg
Adults
Laki-laki 75 ml/kg
Perempuan 65 ml/kg

19
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

Tranfusi tidak direkomendasikan sampai hematokrit


dibawah 24% atau hemoglobin di atas 8gr/dL, tetapi tetap
memperhatikan jumlah kehilangan darah yang masih terjadi
dan komorbid masing–masing pasien (missal penyakit jantung
dan sebagainya). Guidelines klinis yang umum digunakan antara
lain:
1. Satu unit RBC akan meningkatkan hemoglobin 1gr/dL dan
hematokrit 2-3% pada orang dewasa.
2. Transfusi 10 ml/kg RBC akan meningkatkan konsentrasi
hemoglobin sebanyak 3gr/dL dan hematokrit sebanyak
10%.

Keterangan

Rincian Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV


Darah hilang
mL < 750 750 - 1500 > 1500-2000 > 2000
% < 15 15 - 30 >30-40 > 40
Detak jantung < 100 >100 < 120 > 140
Tekanan darah Normal Normal Menurun Menurun
Tekanan nadi Normal Menurun Menurun Menurun
Laju napas 14 - 20 20 – 30 30 – 40 > 40
Urine buang
> 30 20 – 30 5 - 15 Tak terukur
(mL/jam)
Lumayan
Status mental Agak cemas Sangat cemas Panik
cemas
Kristalod/ Kristaloid dan Kristaloid dan
Terapi cairan Kristaloid
Koloid darah darah

20
BAB 4
RESUSITASI JANTUNG PARU DAN OTAK

Tujuan Pembelajaran Dokter Muda


1. Mampu mengenali tanda dan gejala gawat darurat pada
pasien (life threatening).
2. Mampu melakukan bantuan hidup dasar (basic life support).
3. Mampu melakukan bantuan hidup lanjut (advance life
support).
4. Mampu melakukan nafas buatan dari mulut ke mulut dan
dari alat ke mulut.
5. Mampu melakukan pijat jantung paru dengan satu atau dua
penolong.
6. Mampu melakukan evaluasi dari tindakan resusitasi.
7. Mengetahui indikasi dan kontraindikasi resusitasi jantung
paru dan otak.
8. Mengetahui kapan harus menghentikan resutasi jantung
paru dan otak.
9. Mengetahui obat-obat emergensi dan cara pemberiannya.
10. Mengetahui indikasi dan kontraindikasi pemakaian obat-
obatan emergensi.
11. Mengetahui jenis, jumlah dan cara resusitasi cairan.
12. Mengetahui dan mengenali gambaran EKG yang mengancam
jiwa.
13. Mengetahui cara, indikasi, dan kontra indikasi penggunaan
DC shock, automated eksternal defibrillator (AED), maupun
defibrillator.

21
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

Pertanyaan dan Kesiapan Dokter Muda

1. Keadaan apa saja yang dapat mengancam jiwa seseorang?


2. Bagaimanacara melakukan bantuan hidup dasar?
3. Bagaimana cara melakukan bantuan hidup lanjut?
4. Bagaimana cara melakukan resusitasi jantung paru dan otak
(RJPO) dengan satu atau dua orang penolong?
5. Apa saja yang harus dinilai setiap melakukan resusitasi dan
kapan?
6. Kapan resusitasi dihentikan?
7. Kapan resusitasi tidak perlu dilakukan?
8. Apa saja macam-macam obat-obat emergensi dan bagaimana
pemberiannya?
9. Sebutkan indikasi dan kontraindikasi obat emergensi?
10. Bagaimana cara memberikan resusitasi cairan?
11. Apa saja pemilihan cairan yang diberikan untuk resusitasi?
12. Bagaimana menilai kecukupan cairan?
13. Bagaimana gambaran EKG yang mengancam jiwa?
14. Ada berapa macam DC shock?
15. Apa indikasi dan kontraindikasi DC shock?
16. Bagaimana cara melakukan DC shock?
17. Bagaimana cara memonitor keberhasilan tindakan
kardioversi dengan DC shock?

22
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

1. Mampu melakukan pertolongan bantuan hidup dasar.


2. Mampu melakukan bantuan hidup lanjut.
3. Mengatuhui macam dan cara pemberian obat-obat
emergensi.
4. Mengetahui indikasi dan kontraindikasi obat-obat
emergensi.
5. Mengetahui cara resusitasi cairan.
6. Mengetahui gambaran EKG yang mengancam jiwa.
7. Mengetahui jenis alat AED, DC shock serta dapat
menggunakannya.
8. Mengetahui indikasi dan kontraindikasi AED dan DC shock.

23
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

24
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

Ringkasan Komponen Bantuan Hidup Dasar Yang Berkualitas


Untuk Resusitasi Jantung Paru.

25
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

Bantuan Hidup Dasar Untuk Resusitasi Jantung Paru Pada


Pasien Dewasa Yang Berkualitas.

26
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

Algoritme Gawat Darurat ( Dewasa ) Yang Terkait Opoid

27
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

Algoritme Gawat Darurat ( Dewasa ) Yang Terkait Opoid

HENTI JANTUNG

BHD

Precordial Thumb

Pasangkan
Defibrilator/ Monitor ECG

Tentukan aritmia

± Raba denyut nadi carotis

VF/VT Selama RJP: Bukan VF/VT


Periksa konta kelektroda/padlle
Upayakan jalan napas bebas,
oksigenasi, akses vena.
DC-shock kalau Adrenalin 1 mg i.v.tiap 3 menit
perlu 3x Pertimbangkan : RJP 3 menit
Na Bikarbonat (1 menit jika sudah
Obat anti aritmia diberi DC-shock)
Atropine/pacujantung
RJP
2 menit

Penyebab Henti Jantung (yang perlukoreksi):


Hipoksia
Hipovolemia
Hiper/hypokalemia & gangguan metabolik
Hipotermia
Tension pneumothoraks
Tamponade perikardial
Toksik / over dosis obat
Thromboemboli

28
BAB 5
MONITORING PASIEN

Tujuan Pembelajaran Dokter Muda


1. Mengetahui tanda dan gejala dini kegawatan.
2. Mampu melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital.
3. Mengetahui pemeriksaan tekanan darah kontinyu.
4. Mengetahui pemeriksaan EKG kontinyu.
5. Mengetahui pemeriksaan pulse oksimetri.
6. Mengetahui pemeriksaan tekanan vena sentral.
7. Mengetahui pemeriksaan analisa gas darah.
8. Mengetahui pemeriksaan tingkat kesadaran.
9. Mengetahui pemeriksaan mati batang otak.

Pertanyaan dan Kesiapan Dokter Muda

1. Apa saja yang bisa menyebabkan kematian?


2. Apa saja pemeriksaan tanda-tanda vital?
3. Sebutkan macam-macam kegawatan jantung?
4. Bagaimana cara mengukur dan kegunaan tekanan vena
sentral?
5. Apakah Glassgow Coma Scale?
6. Sebutkan tanda-tanda mati batang otak?
7. Sebutkan cara pemeriksaan mati batang otak?

29
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

1. Mampu melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital.


2. Mengetahui tanda-tanda kegawatan jantung.
3. Mampu melakukan pemeriksaan dan penelitian EKG
kontinu.
4. Mampu mengukur tekanan vena sentral dan mengetahui
maknanya.
5. Mampu melakukan pemeriksaan pulse oksimetri dan
mengetahui maknanya
6. Mampu melakukan penilaian tingkat kesadaran.
7. Mampu melakukan penilaian mati batang otak.

Keterangan

Cardiac Arrest.
Penyebab kematian tersering pada penyakit kardiovaskuler,
terutama penyakit jantung iskemik. Dapat juga disebabkan oleh
emboli paru, gangguan elektrolit, hipoksemia, hiperkapnea,
hipotensi, vagal reflex, hipotermi, anafilaksis, sengatanlistrik,
obat-obatan, dan manipulasi pada organ jantung. Gambaran
elektrokardiografi pada henti jantung dapat berupa:

VF ( Ventrikel Fibrilasi ) biasanya berhubungan dengan iskemik


miokard. Temuan tersering (lebih kurang 60%), prognosis paling
baik.

30
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

Asystole ditemukan pada lebih kurang 30% kasus. Irama ini sering
ditemukan pada keadaan hipoksemia dan hipovolemia. Asystole
sering ditemukan pada bradikardia yang diakibatkan oleh refleks
vagal.

EMD (electromechanical dissociation) atau PEA (pulseless electrical


activity) dapat terjadi pada kerusakan miokard luas. Irama ini
paling jarang ditemukan, namun saat ditemukan memiliki
prognosis paling buruk. Irama ini dapat juga ditemukan pada
kasus emboli paru, cardiac tamponade, dan pneumothorax.

31
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

32
BAB 6
PENGELOLAAN NYERI

Tujuan Pembelajaran Dokter Muda

1. Mengetahui fisiologi dan patofisiologi nyeri.


2. Mampu melakukan penilaian derajat nyeri.
3. Mampu melakukan penatalaksanaan nyeri akut.
4. Mengetahui penatalaksanaan nyeri kronis.
5. Mengetahui cara penatalaksanaan nyeri paripurna.
6. Mengetahui pemberian obat enteral dan parenteral.

Pertanyan dan Kesiapan Dokter Muda

1. Apakah definisi nyeri?


2. Bagaimanakah fisiologi dan patofisiologi nyeri?
3. Bagaimanakah cara melakukan penilaian derajat nyeri?
4. Bagaimanakah tatalaksana nyeri akut?
5. Bagaimanakah tatalaksana nyeri kronis?
6. Apakah WHO dalam penanganan nyeri?
7. Apakah balans analgesia?

33
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

1. Mampu melakukan pemeriksaan penilaian derajat nyeri.


2. Mampu melakukan penanganan nyeri akut.
3. Mengetahui penanganan nyeri kronis.
4. Mengetahui indikasi dan indikasi kontra obat-obat NSAIDs.
5. Mengetahui indikasi dan indikasi kontra obat-obat opioid.
6. Mengetahui penatalaksanaan balans analgesik.
7. Mengetahui penatalaksanaan nyeri paripurna.

34
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

Algoritme Kasus

NYERI
(patofisiologi nyeri)
Transduksi
Transmisi
Modulasi
Persepsi

Jenis Nyeri

Nyeri Akut Nyeri kronis

Penilaian derajat nyeri Penilaian derajat nyeri

Tatalaksana nyeri akut Tatalaksana nyeri kronis

35
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

Keterangan

PENILAIAN DERAJAT NYERI.

Penilaian derajat nyeri dapat dilakukan dengan menggunakan


visual analogue scale, numerical rating scale dan category rating scale.
Gambar dibawah ini merupakan penilaian derajat nyeri dengan
menggunakan numerical rating scale.

0-10 Numeric Pain Rating Scale

No Pain Moderate Pain Worst Possible Pain

Gambar dibawah ini merupakan penilaian derajat nyeri


dengan menggunakan visual analogue scale.

Visual Analog Scale

No Pain Worst Possible Pain

36
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

TATALAKSANA NYERI AKUT DAN KRONIS

Nyeri akut Opioid Kuat


±NSAIDs
±Adjuvan
Codein
± NSAIDs
± Adjuvan

± NSAIDs
± Adjuvan
Nyeri Kronik

37
DAFTAR PUSTAKA

1. Barash PG, Cullen BF, Stoelting RK, et al, eds. Clinical

Wilkins; 2013.

&Mikhail’s Clinical Anesthesiology, Fifth edition,


International edition; McGrawHill Education; 2013.
3. Cancer Pain Release, a publication of the World Health
Organization global communities program to improve
cancer and HIV pain control and palliative car.
whocancerpain.bcg.wisc.edu/?q=node/86.
4. Charles EA and Gary M. Pain Management Secrets, Third
edition; Mosby Elseiver; Philadelphia; 2009.
5. Emergency treatment of anaphylactic reactions, Guidelines
for healthcare providers Working group of the resuscitation
council (UK) January 2008, review date : 2016 from
www.resus.org.uk> anaphylaxis
6. Mary FH, Michael S, Michael WD, Andrew HT, Ricardo
AS, et al. (2015). Highlights of the 2015 American Heart
Association Guidelines Update for CPR and ECC. United
States of America, American Heart Association.
7. Miller RD, Cohen NH, Eriksson LI, Fleisher LA, Wiener-
Kronish JP, Young WL. Miller’s Anesthesia, Eighth edition;
Elseiver Saunders; Philadelphia; 2015.
8. Papadakos PJ, Szalados JE. Critical Care TheRequisities in
Anesthesiology, Elsevier Mosby, Philadelphia, 2005.

38
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

9. Parrillo JE, Dellinger RP. Critical Care Medicine Principles


of Diagnosis and Management in Adult, Fourth edition;
Elseiver Saunders; Philadelphia, PA; 2014.
10. Yentis SM, Hirsch NP, Ip JK. Anaesthesia and Intensive
Care A-Z An Encyclopaedia of Principles and Practice, Fifth
edition, Churchill Livingstone, Edinburgh, 2013.
11. WHO Pain and Palliative Care Communications Program.
(2006). Cancer Pain Release. Available at:
whocancerpain.bcg.wisc.edu/index?q=node/15

39
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

40
ILMU ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

41
BUKU PANDUAN BELAJAR KOAS

42