Anda di halaman 1dari 31

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Asuhan Keperawatan Post Op Laparatomi


2.1.1 Pengkajian
Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui
wawancara pengumpulan riwayat kesehatan, pengkajian fisik,
pemeriksaan laboratorium dan diagnostik, serta catatan sebelumnya
(E. Doenges, Moorhouse, & C. Geissler, 2000) .Tahap pengkajian
keperawatan pada klien dengan post laparatomi sama seperti pada
kasus keperawatan lainnya yaitu terdiri dari :
a. Identitas klien dan Penanggung jawab . (Brunner & Suddarth,
2002)
1. Identitas klien
Identitas klien terdiri dari : nama, umur, jenis kelamin,
agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, diagnosa medis,
tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian.
2. Penanggung jawab
Identitas penanggung jawab terdiri dari : nama, umur,
jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan
klien dan alamat.
b. Riwayat Kesehatan Klien
1. Keluhan utama : keluhan utama ini diambil dari data
subjektif atau objektif menonjol yang dialami oleh klien.
Klien post op laparatomi sering mengalami nyeri yang
lebih dari 5 (0-10), tampak meringis, bersikap protektif,
gelisah, frekuensi nadi meningkat, sulit tidur yang
merupakan efek dari insisi pada luka post op operasi,
mual,muntah, distensi abdomen, badan terasa lemas.
.(Brunner & Suddarth, 2002 : 1104).

6
7

2. Riwayat keluhan sekarang : riwayat kesehatan sekarang


adalah pengembangan dari keluhan utama dan data yang
menyertai menggunakan pendekatan dengan PQRST.
c. Riwayat kesehatan masa lalu ( Doenges ,2007)
Pada klien post operasi akibat peritonistis, perlu dikaji
mengenai riwayat penyakit saluran pencernaan, (seperti
thypoid, apensiotitis,dll) dan riwayat pembedahan sebelumnya.
d. Riwayat kesehatan keluarga :
Pada riwayat kesehatan keluarga ini dikaji apakan keluarga
memiliki penyakit yang sama atau memiliki penyakit
keturunan. ( Doenges ,2007)
e. Pola aktifitas harian :
Data yang diperoleh dalam kasus pembedahan menurut
Doenges (2007) adalah sebagai berikut:
1. Aktifitas / istirahat : lelah, letih sulit bergerak/berjalan,
gangguan tidur/istirahat, kekakuan otot, nyeri pada
abdomen.
2. Makanan dan cairan : anoreksia, mual ,muntah, nyeri
abdomen. Prosedur bedah mayor, trauma / pendarahan.
3. Eliminasi : pasien mengalami konstipasi pada awal dan
tidak bisa flatus karena peristaltik usus menurun/berhenti,
distensi perubahan pola BAB, perubahan pola berkemih,
rasa nyeri, kesulitan berkemih.
4. Istirahat dan tidur: klien tidak bisa tidur karena nyeri hebat
mual dan muntah, kembung.
5. Pola personal Hygiene: pasien tidak mampu merawat
dirinya karna keterbatasan gerak akibat pembedahan dan
nyeri.
8

f. Pemeriksaan fisik
1. Penampilan umum
Penampilan umum pasien setelah dilakukan pembedahan
biasanya tampak lemah, gelisah, meringis. (Doengoes,
2007 : 514)
2. Pemeriksaan fisik persistem (LeMone, M.Burke, &
Bauldoff, 2016)
a. Sistem pernapasan :
Kaji apakah pasien mengalami pneumonia dan
akteletasis atau tidak, kaji juga kepatenan jalan nafas,
frekuensi, kedalaman, dan karakter pernapasan,bunyi
dan sifat napas merupakan hal yang harus dikaji pada
pasien dengan post operasi. Pernapasan cepat dan
pendek sering terjadi mungkin akibat nyeri.
b. Sistem kardiovaskuler:
klien dengan post operasi biasanya ditemukan tanda-
tanda syok seperti takikardi, pucat, berkeringat,
hipotensi, penurunan suhu tubuh. Kemudian kaji juga
apakah pasien mengalami hemoragik, trombosit vena
dalam, atau embolisme paru.
c. Sistem integumen :
ditemukan luka akibat pembedahan di abdomen.
Karakteristik luka tersebut tergantung pada lamanya
waktu setelah pembedahan, kerusakan jaringan
dan/atau lapisan kulit, pendarahan, nyeri, hematoma,
kemerahan.
d. Sistem perkemihan:
Kaji apakah ada distensi kandung kemih, jumlah urine
dalam kandung kemih dengan pemindai ultrasound
9

portable. Pantau juga asupan dan haluaran serta


pertahankan infus intravena jika cairan diresepkan.
e. Sistem Muskuloskeletal:
kelemahan dan kesulitan ambulasi terjadi akibat nyeri
di abdomen dan efek samping dari anastesis yang di
sering terjadi adalah mual dan muntah, kekakuan otot
setelah operasi. Hal ini biasanya terjadi beberapa jam
dan biasanya di atasi dengan resep antibiotik. Selain
mual dan muntah biasanya pasien juga merasakan sakit
tenggorokan, terjadi ketika ada tabung dimasukkan ke
dalam tenggorokan untuk membantu pernapasan.

g. Pengkajian khusus nyeri


1. Pendekatan PQRST

Teknik pengkajian, prediksi hasil


Pengkajian Deskripsi
dan implikasi
Pengkajian untuk Pada keadaan nyeri abdomen dan
Provoking menentukan faktor biasanya disebabkan oleh adanya
incident atau peristiwa yang kerusakan jaringan saraf akibat
P mencetuskan nyeri suatu trauma atau merupakan
respon dari peradangan lokal
Pengkajian sifat Dalam hal ini perlu dikaji kepada
keluhan, seperti apa pasien apa maksud dari keluhan-
rasa nyeri yang keluhannya bersifat menusuk, tajam
Quality of pain
dirasakan atau atau tumpul menusuk, pengkaji
Q
digambarkan pasien harus menerangkan dalam bahasa
yang lebih mudah mendeskripsikan
nyeri tersebut
Pengkajian untuk Region merupakan pengkajian
menentukan area lokasi nyeri dan harus ditujukan
Region refered
atau lokasi keluhan dengan tepat oleh pasien, pada
R
nyeri kondisi klinik lokasi nyeri pada
sistem muskoloskeletal dapat
10

menjadi petunjuk area yang


mengalami gangguan
Pengkajian Pengkajian dengan menilai skala
seberapa jauh rasa nyeri merupakan pengkajian yang
Severity scalae of nyeri yang paling penting dari pengkajian nyeri
pain dirasakan pasien dengan pendekatan PQRST. Bisa
S dengan menggunakan skala analog,
verbal, numerik, ataupun skala
wajah
Berapa lama nyeri Sifat mula timbulnya (onset)
berlangsung, tentukan apakah gejala timbul
apakah bertambah mendadak, perlahan-lahan, atau
Time
buruk pada malam seketika itu juga. Tenyakan apakah
T
hari atau siang hari gejala-gejala timbul secara terus
menerus atau hilang timbul, lama
durasinya muncul
Tabel 2.1 : Pengkajian nyeri (Rosyidi, 2013)

2. Mengakaji persepsi nyeri (Smeltzer, 2002)


a. Intesits nyeri. Individu dapat diminta untuk membuat
tingkatan nyeri pada skala nyeri
b. Karakteristik nyeri. Individu dapat menunjukkan letak,
durasi, irama, dan kualitas nyeri.
c. Faktor-faktor yang meredahkan nyeri. Misalnya
gerakan, kurang bergerak, pengarahan tenaga, istirahat,
obat-obat bebas, dan apa yang dipercaya pasien dapat
membantu mengatasi nyeri.
d. Efek nyeri tehadap aktivitas kehidupan sehari-hari.
Misalnya tidur, nafsu makan, kosentrasi, interaksi
dengan orang lain, gerakan fisik, bekerja dan aktivitas-
aktivitas santai.
e. Kekhawatiran individu terhadap nyeri. Dapat meliputi
berbagai masalah yang luas, seperti beban ekonomi,
11

prognosis, pengaruh terhadap peran, dan perubahan


terhadap citra diri.
3. Mengkaji respon fisiologi dan perilaku terhadap nyeri
(Smeltzer, 2002)
a. Indikator fisiologis nyeri
Perubahan fisiologis inpolunter dianggap sebagai
indikator nyeri yang lebih akurat dibanding laporan
verbal pasien. Bagaimanapun, respon inpolunter seperi
ini (meningkatnya frekuensi nadi, pernapasan, pucat,
dan berkeringat) adalah indikator rangsangan sistem
saraf otonom, bukan nyeri.
b. Respon perilaku terhadap nyeri
Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup
pernyataan verbal, perilaku vokal, ekspresi wajah,
gerakan tubuh, kontak fisik dengan orang lain, atau
perubahan respon terhadap lingkungan.
2.1.2 Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi dan
mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon terhadap masalah
aktual dan risiko tinggi. Label diagnosa keperawatan memberi format
untuk mengekspresikan bagian identifikasi masalah dari proses
keperawatan. (E. Doenges, Moorhouse, & C. Geissler, 2000).
Diagnosa Keperawatan yang dapat ditemukan pada klien luka
laparatomi berdasarkan respon pasien yang disesuaikan dengan SDKI
2016, yaitu:
c. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (prosedur
operasi) (SDKI D.0077)
Ditandai dengan :
Data mayor
Subjektif:
Mengeluh nyeri
12

Objektif: Tampak meringis, bersikap protektif (misal: waspada,


posisi menghindari nyeri), gelisah, frekuensi nadi meningkat, sulit
tidur.
Data minor
Tekanan darah meningkat, pola napas berubah, nafsu makan
berubah, proses berpikir terganggu, menarik diri, berfokus pada
diri sendiri, diaphoresis.
d. Resiko infeksi berhubungan dengan terputusnya jaringan dan
terjadinya invasi mikroorganisme virus, bakteri dan parasite.
(SDKI D.0142)
Ditandai dengan :
Factor resiko: penyakit kronis, efek prosedur invasive, malnutrisi,
peningkatan paparan organisme pathogen lingkungan,
ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer, ketidakadekuatan
pertahanan tubuh skunder.
e. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Nyeri (SDKI D.
0054)
Ditandai dengan:
Data mayor
Subjektif:
Mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas
Objektif :
Kekuatan otot menurun, Rentang gerak (ROM) menurun
Data Minor
Subjektif:
Nyeri saat bergerak, Enggan melakukan pergerakan, Merasa
cemas saat bergerak
Objektif :
Sendi kaku , Gerakan tidak terkoordinasi, Gerakan terbatas, Fisik
lemah
13

2.1.3 Perencanaan (Tabel 2.2)

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan


No Diagnosa Keperawatan Rasional
SLKI SIKI
SIKI : Aroma terapi
1 Nyeri akut berhubungan dengan Setelah dilakukan intervensi 1. Mencegah terjadinya
agen pencedera fisik keperawatan selama….x24 jam, 1. Identifikasi pilihan aroma terapi penambahan gejala (mis.
Ditandai dengan diharapkan (SLKI) yang disukai dan tidak disukai Stress,nyeri) yang dirasakan
pasien akibat bau aromaterapi
DS : Kontrol Nyeri 2. Siapkan minyak esensial lemon yang tidak disukai pasien
1. Mengeluh nyeri  Ditingkatkan ke level
DO :  Dipertahankan ke level 2. Minyak esensial sesuai
1. Tampak meringis 3. Lakukan uji kepekaan kulit dengan indikasi data mempercepat
2. Bersikap protektif (mis. Keterangan Level: uji tempel (patch test) dengan proses penyembuhan
Waspada, posisi 1. Menurun larutan 2% pada daerah lipatan 1.
menghindari nyeri) 2. Cukup menurun lengan dan lipatan belakang leher 2. 3. Mencegah terjadinya alergi
3. Gelisah 3. Sedang
4. Frekuensi nadi meningkat 4. Cukup meningkat 4. Berikan minyak esensial lemon
5. Sulit tidur 5. Meningkat dengan metode inhalasi 4. Metode yang tepat dan
Dibuktikan dengan indikator: (1/2/ sederhana bisa memperepat
Gejala dan tanda minor : 3/4/5) 5. Monitor masalah yang terjadi saat proses pelaksanaan terapi
DS : 1. Melaporkan nyeri terkontrol pemberin aromaterapi (mis. nonfarmakologi aromaterapi
1. Tidak tersedia 2. Kemampuan mengenali onset Dermatitis kontak, asma)
DO : nyeri 5. Periksa respon pasien saat
1. Tekanan darah meningkat 3. Kemampuan mengenali 6. Monitor tanda-tanda vital pemberian aromaterapi untuk
2. Pola nafas berubah penyebab nyeri sebelum dan sesudah aromaterapi menghindarkan komplikasi
3. Nafsu makan berubah 4. Kemampuan menggunakan 3.
4. Proses berpikir terganggu teknik non-farmakologis 6. Pastikan tanda-tanda vital
5. Menarik diri 5. Dukungan orang terdekat 7. Identifikasi tingkat nyeri, stress, pasien sebelum dan sesudah
6. Berfokus pada diri sendiri kecemasan, dan alam perasaan tindakan untuk mengetahui
Diaforesis Tingkat Nyeri (SLKI) sebelum dan sesudah aromaterapi respon tubuh pasien
 Ditingkatkan ke level 4.
14

 Dipertahankan ke level 8. Monitor ketidaknyamanan 7. Obsevasi adanya perubahan


sebelum dan setelah pemberian yang dirasakan pasien sebelum
Keterangan Level: (mis. Mual, pusing) dan sesudah tindakan
1. Menigkat 5.
2. Cukup meningkat 9. Anjurkan menggunakan minyak 8. Hentikan tindakan jika
3. Sedang esensial secara bervariasi diidentifikasi ketidaknyaman
4. Cukup menurun pada pasien
5. Menurun 10. Ajarkan cara menyimpan minyak
Dibuktikan dengan indikator: (1/ 2/ esensial dengan tepat
3/4/5) 9. Minyak esensial secara
1. keluhan nyeri 11.Konsultasikan jenis dan dosis bervariasi dapat Membuat
2. meringis minyak esensial yang tepat dan aman perasaan pasien lebih naik dan
3. gelisah tidak merasa bosan.
4. kesulitan tidur
10. Menyimpan minyak esensial
sesuai anjuran dapat
mempertahankan bau minyak
esensial.

11. Dosis dan jenis minyak


esensial yang tepat dapat
mempercepat penyembuhan.

Resiko infeksi berhubungan Setelah dilakukan intervensi SIKI: Pencegahan Infeksi


2 dengan terputusnya jaringan keperawatan selama….x24 jam, 1. Monitor tanda dan gejala infeksi 1. Untuk mengetahui tanda dar
dan terjadinya invasi diharapkan (SLKI) lokal dan sistemik i infeksi
mikroorganisme virus, bakteri Integritas jaringan : kulit & membrane
dan parasite mukosa 2. Pertahanan teknik aseptic pada 2. Tatapkan mekanisme yang
 Ditingkatkan ke level pasien beresiko tinggi dirancang untuk mencegah
 Dipertahankan ke level infeksi.
3. Ajarkan cara memeriksa kondisi
luka atau luka operasi
3. Untuk menghindari Kondisi
15

Keterangan Level: 4. Cuci tangan sebelum dan sesudah luka yang tidak baik karna
1. Meningkat kontak dengan pasien dan dapat menyebabkan
2. Cukup meningkat lingkungan terjadinya infeksi
3. Sedang
4. Cukup menurun 5. Jelaskan tanda dan gejala infeksi 4. untuk menghindari bakteri
5. Menurun dan kuman
Dibuktikan dengan indikator: (1/ 2/ 6. Ajarkan cara cuci tangan dengan
3/4/5) benar 5. agar pasien dan keluarga
1. Suhu kulit dapat mengetahui gejala
2. Sensi 7. Batasi jumlah pengunjung bila infeksi dan
3. Tekstur perlu menghindarkannya
4. Pertumbuhan rambut
5. Perfusi jaringan 8. Anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi 6. cuci tangan dengan benar
dapat menghindarkan
9. Anjurkan meningkatkan asupan terjadinya infeksi
cairan
7. mencegah terjadinya
penularan kuman dari luar

8. Untuk membantu perbaikan


jaringan yang rusak dari
dalam tubuh

9. Asupan cairan yang baik


dapat membantu
memperbaiki sel/ jaringan
yang rusak dari dalam tubuh
16

Gangguan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan asuhan SIKI : Dukungan ambulasi
3 berhubungan dengan Nyeri keperawatan … x 24 jam (SLKI)
mobilitas1.fisik 1. Identifikasi adanya nyeri atau 1. Menentukan intervensi
Gejala dan tanda mayor : keluhan fisik lainnya selanjutnya
DS : 2.
1. Mengeluh sulit menggerak  3. Ditingkatkan ke level ….. 2. Anjurkan melakukan ambulasi
kan ekstremitas  Dipertahankan ke level …. dini 2. Untuk merenggangkan otot
4. pasien
DO : 5. 3. Jelaskan tujuan dan prosedur
Keterangan Level: ambulasi 3. Agar pasien tau manfaat
1. Kekuatan otot menurun 6. ambulasi dini jika dilakukan
2. Rentang gerak (ROM) 1. Meningkat
7. 4. identifikasi toleransi fisik
menurun 2. Cukup meningkat melakukan ambulasi 4. Pastikan keadaan pasien
3. 8.Sedang jika dilakukan ambulasi dini
4. 9.Cukup menurun 5. Ajarkan ambulasi sederhana yang
Gejala dan tanda minor : 5. Menurun harus dilakukan (mis. Berjalan dari 5. Menganjurkan pasien
tempat tidur ke kursi roda, berjalan melakukan ambulasi sesuai
DS : dari tempat tidur ke kamar mandi, kemampuan otot pasien
berjalan sesuai toleransi)
1. Nyeri saat bergerak
10.
2. Enggan melakukan Dibuktikan
11. dengan indikator:(1/ 2/ 6. Monitor frekuensi jantung dan 6. Pastikan kondisi pasien
pergerakan 3/4/5) tekanan darah sebelum memulai dalam batas normal
3. Merasa cemas saat bergerak
ambulasi
1. 12.
Nyeri 7. Pantau kondisi pasien saat
2. 13.
Kecemasan 7. Monitor kondisi umum selama dilakukan tindakan
DO : 3. Kaku sendi melakukan ambulsi
4. Gerakan tidak terkoordinasi 8. Jelaskan pada keluarga dan
1. Sendi kaku
Kelemahan
14. fisik 8.Libatkan keluarga untuk membantu orang terdekat pasien agar
2. Gerakan tidak terkoordinasi
3. Gerakan terbatas pasien dalam meningkatkan ambulasi membantu pasien dalam
Fisik lemah 1. melakukan ambulasi sesuai
toleransi
9. Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan 9. Berikan alat bantu untuk
alat bantu (mis. Tonkat, kruk) memudahkan pasien dalam
melakukan ambulasi
17

2.1.4 Implementasi Keperawatan


Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status
kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang lebih baik, sehingga
menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Potter & Perry,
2011). Implementasi pada pasien post op laparatomi dilakukan 3-5
hari atau maksimal 6-8 minggu masa pemulihan.
Implementasi menuangkan rencana asuhan kedalam
tindakan. Setelah rencana dikembangkan, sesuai dengan kebutuhan
dan prioritas klien, perawat melakukan intervensi keperawatan
spesifik, yang mencakup tindakan perawat. Rencana keperawatn
dilaksanakan sesuai intervensi. Tujuan dari implementasi adalah
membantu klien dalam mencapai peningkatan kesehatan baik yang
dilakukan secara mandiri maupun kolaborasi dan rujukan (Bulechek &
McCloskey: dikutip dari Potter, 2014)
2.1.5 Evaluasi Keperawatan
Menurut Craven dan Hirnle (2011) evaluasi didefenisikan
sebagai keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan antara dasar
tujuan keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon prilaku
klien yang tampil.

1. Tujuan evaluasi antara lain :


a.Untuk menentukan perkembangan kesehatan klien.
b.Untuk menilai efektifitas, efisiensi, dan produktifitas dari tindakan
keperawatan yang telah diberikan.
c. Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan.
d. Mendapatkan umpan balik
e. Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat dalam pelaksanaan
pelayanan keperawatan.
18

2. Evaluasi yang diharapkan pada pasien post op laparatomi sesuai


dengan kriteria hasil yang diharapkan adalah:
a. Manajemen Nyeri; keluhan nyeri tidak ada, meringis tidak ada,
sikap protektif pada luka tidak ada, gelisah tidak, dan kesulitan
tidur tidak ada
b. Pencegahan infeksi: tidak ada demam, kemerahan, nyeri, dan
bengkak.
c. Dukungan Mobilisasi: Pergerakan ekstermitas kembali normal,
kekuatan otot meningkat, dan rentang gerak (ROM) meningkat.
19

2.2 Konsep Dasar Laparatomi


2.2.1 Pengertian
Laparatomi merupakan salah satu prosedur pembedahan
mayor, dengan melakukan penyayatan pada lapisan-lapisan dinding
abdomen untuk mendapatkan bagian organ abdomen yang
mengalami masalah (hemoragi, perforasi, kanker, dan obstruksi)
(Sjamsuhidayat & jong, 2005). Laparatomi dilakukan pada kasus-
kasus digestif dan kandungan seperti apendiksitis, perforasi, hernia
inguinalis, kanker lambung, kanker colon dan rectum, obstruksi
usus, inflamasi usus kronis, kolestisitis dan peritonitis
(Sjamsuhidayat & jong, 2005).
2.2.2 Etiologi menurut (Haryono, 2012)
a. Trauma abdomen (tumpul atau tajam )/ruptur hepar
Trauma abdomen yaitu kerusakan terhadap struktur yang
terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh
luka tumpul atau menusuk.
b. Peritonitis
Ialah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga
abdomen, yang diklasifikasikan atas primer, sekunder, tersier.
Peritonitis primer dapat disebabkan oleh spontaneous bacterial
peritonitis (SBP) akibat penyakit kronis.
c. Sumbatan pada usus halus dan usus besar
Obstruksi usus dapat didefinsikan sebagai gangguan aliran
normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus biasanya
mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan
perkembangannya lambat. Obstruksi total usus halus merupakan
keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan
pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup.
Penyebabnya dapat berupa perlengketan (lengkung usus menjadi
melekat pada area yang sembuh secara lambat atau pada
jaringan parut setlah pembedahan abdomen). Intusepsi ( salah
20

satu bagian dari usus menyusup kedalam bagian lain yang ada
dibawahnya akibat penyempitan lumen usus), volvulus ( usus
besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri
dengan demikian menimbulkan penyumbatan dengan
menutupnya gelungan usus yang terjadi amat distensi). Hernia
(protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding
dan otot abdomen), tumor (tumor yang ada dalam dinding usus
meluas kelumen usus atau tumor diluar usus menyebabkan
tekanan dinding usus).
d. Pendarahan saluran pencernaan (Internal Blooding)
e. Masa pada abdomen
2.2.3 Jenis-jenis laparatomi (Haryono, 2012)
a. Midline incision
b. Paramedian, yaitu sedikit ke tepi dari garis tengah (±2,5 cm),
panjang 12,5 cm)
c. Transverse upper abdomen incision, yaitu insisi di bagian atas,
misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
d. Transerve lower abdomen incision, yaitu insisi melintang di
bagian bawah ±4 cm di atas anterior spinal iliaka,misalnya; pada
operasi appendectomy.
2.2.4 Manifestasi Klinis
Gambaran klinis pasca operasi Laparatomi yaitu
a. Nyeri tekan pada area abdomen disekitar insisi pembedahan
b. Peningkatan respirasi, tekanan darah, dan nadi
c. Kelemahan
d. Konstipasi , kembung tidak dapat buang air besar (BAB),
e. Mual dan muntah
f. Anoreksia (Moran,2007).
2.2.5 Komplikasi (Haryono, 2012)
a. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis post operasi biasanya timbul 7 -14 hari setelah
21

operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut


lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah
sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak. Pencegahan
tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan
kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.
b. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan luka infeksi.
Infeksi luka sering menimbulkan infeksi adalah staplokokus
aurens, organisme, gram positif. Staplokokus mengakibatkan
pernanahan untuk menghindari infeksi luka yang paling penting
adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan
antiaseptik.
c. Dehisensi luka atau eviserasi
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka yang telah
dijahit. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam
melalui insisi. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah
infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan
yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan
muntah
2.2.6 Pemeriksaan penunjang (Haryono, 2012)
a. Pemeriksaan rektum : adanya darah menunjukkan kelainan pada
usus besar : kuldosentesi, kemungkinan adanya darah dalam
lambung, dan kateterisasi,, adanya darah menunjukkan adanya
lesi pada saluran kencing.
b. Laboratorium : hemoglobin, hematokrit, leukosit, dan analisis
urine.
c. Radiologik: bila diindikasikan untuk melakukan laparatomi.
d. Respiratory: Bagaimana saluran pernapasan, jenis pernapasan,
bunyi pernapasan
e. Sirkulasi: tensi, nadi, respirasi, dan suhu, warna kulit, dan refill
kapiler.
f. Persarafan: Tingkat kesadaran.
22

g. Balutan: apakah ada tube, drainage? Apakah ada tanda-tanda


infeksi? Bagaimana penyembuhan luka?
h. Rasa nyaman: Rasa sakit, mual, muntah, posisi pasien, dan
fasilitas ventilasi.
i. Psikologis : kecemasan, suasana hati setelah operasi.
2.2.7 Penatalaksanaan (Haryono, 2012)
b. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
c. Mempercepat penyembuhan.
d. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti
sebelum operasi.
e. Mempertahankan konsep diri pasien.
f. Mempersiapkan pasien pulang.
2.2.8 Perawatan pasca pembedahan (Haryono, 2012)
a. Tindakan keperawatan post operasi
1. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output
2. Observasi dan catat sifat dari drain (warna, jumlah) drainage
3. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-
hati, jangan sampai drain tercabut.
4. Perawatan luka operasi secara steril.
b. Pengalihan nyeri dengan Aromaterapi
Mekanisme kerja perawatan aromaterapi dalam tubuh manusia
berlangsung melalui dua sistem fisiologis, yaitu sirkulasi tubuh
dan sistem penciuman. Wewangian dapat mempengaruhi
kondisi psikis, daya ingat, dan emosi seseorang. Aromaterapi
lemon merupakan jenis aroma terapi yang dapat digunakan
untuk mengatasi nyeri dan cemas. Zat yang terkandung dalam
lemon salah satunya adalah linalool yang berguna untuk
menstabilkan sistem saraf sehingga dapat menimbulkan efek
tenang bagi siapapun yang menghirupnya (fadhla purwandari,
2013).
23

2.2.9 Patofisiologi
Adanya trauma abdomen (tumpul/tajam), peritonitis,
obstruksi pada usus halus dan usus besar, serta radang pada
apendiks membutuhkan tindakan pembedahan untuk
mengembalikan fungsi organ yang terjadi masalah, tindakan
pembedahan tersebut yaitu laparotomi. Laparotomi adalah
pembedahan mayor, dengan melakukan penyayatan pada lapisan
dinding abdomen.
Penyayatan pada abdomen akan mengaktifkan reseptor nyeri
(nosiseptor) melalui sistem saraf asenden yang kemudian akan
merangsang hipotalamus dan korteks selebri dan mengeluarkan zat
kimia berupa histamine. Rasa nyeri juga akan menyebabkan
keterbatasan gerak pada anggota tubuh dan dapat menyebabkan
gangguan mobilitas fisik.
Terputusnya inkotinitas jaringan akan menyebabkan
terbukanya invasi sehingga mikroorganisme virus, bakteri dan
parasit mudah masuk ke dalam tubuh dan terjadi resiko infeksi
(Sjamsuhidayat,2008)
24

2.2.10 Web Of Caution ( WOC )

Trauma tumpul
atau tajam Pembedahan Benturan

Mengaktifkan Terputusnya
Operasi
reseptor nyeri Ikontinitas jaringan

Melalui system Terjadinya invasi


saraf asenden mikroorganisme virus,
bakteri dan parasit

Merangsang hipotalamus
dan korteks selebri Peradangan pada luka

Sensasi nyeri MK : Resiko infeksi

mengeluarkan zat
kimia berupa
histamin, bradikimin,
prostaglandin

MK: Nyeri

Kelemahan pada
tubuh

MK: Gangguan mobilitas fisik

Bagan 2.1 : Sjamsuhidayat, 2008


25

2.3 Konsep Nyeri


2.3.1 Pengertian

Gambar 2.1 : Kategori Skala Nyeri Medianers

Nyeri berperan sebagai mekanisme untuk memperingatkan


kita mengenai potensial bahaya fisik.oleh karenanya, nyeri
merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah kerusakan
lebih lanjut dengan memberikan dorongan untuk keluar dari situasi
yang menyebabkan nyeri. Nyeri merupakan fenomena
multidimensional sehingga sulit untuk didefinisikan. Nyeri
merupakan pengalaman personal dan subjektif, dan tidak ada dua
individu yang merasakan nyeri dalam pola yang identik. Nyeri
biasanya dikaitkan dengan beberapa jenis kerusakan jaringan, yang
merupakan tanda peringatan, namun pengalaman nyeri lebih dari itu.
(Hawks, 2009)
Association for the study of Pain (IASP) memberikan definisi
medis nyeri yang sudah diterima sebagai “pengalaman sensori dan
emosional yang tidk menyenagkan yang berkaitan dengan kerusakan
jaringan, aktual ataupun potensial, atau digambarkan sebagai
kerusakan yang sama. Margo McCaffery, salah seorang penggagas
dalam keperawatan nyeri, mendefinsikan nyeri sebagai “segala
sesuatu yang dikatakan oleh individu yang merasakan nyeri dan ada
ketika individu mengatakan ada” (M.Black & Hawks, 2009)
26

2.3.2 Etiologi nyeri . menurut smeltzer (2008)


a. Trauma
Trauma ini dibagi menjadi beberapa macam, penyebab trauma ini
terbagi menjadi:
1. Mekanik. Rasa nyeri yang diakibatkan oleh mekanik ini timbul
akibat ujung-ujung saraf bebas mengalami kerusakan. Contoh
dari nyeri akibat trauma mekanik ini adalah akibat adanya
benturan, gesekan, luka dan lain;lain.
2. Thermis. Nyeri karena hal ini timbul karena ujung saraf
reseptor mendapat rangsangan akibat panas, dingin, misal
karena api dan air.
3. Khemis . nyeri yang timbul karena adanya kontak dengan zat
kimia yang bersifat asam ataupun basa kuat.
4. Elektrik. Nyeri yang ditimbulkan karena adanya pengaruh
aliran listrik yang kuat mengenai reseptor rasa nyeri yang
menimbilkan kekejangan otot dan luka bakar.
b. Neoplasma
Neoplasma ini dibagi menjadi dua yaitu :
1. Neoplasma jinak
2. Neoplasma Ganas
3. Gangguan sirkulasi darah dan kelainan pembuluh darah. Hal
ini dapat dicontohkan pada pasien dengan infark miokard akut
ataupun angina pektoris yang dirasakan adalah adanya nyeri
dada yang khas.
4. Peradangan, Nyeri yang diakibatkan karena adanya kerusakan
ujung-ujung saraf reseptor akibat adanya peradangan atau
terjepit oleh pembengkakan,. Contohnya adalah nyeri karena
abses.
5. Trauma psikologis
27

2.3.3 Jenis-jenis nyeri (M.Black & Hawks, 2009)


a. Nyeri perifer, dibagi menjadi 3 macam:
1. Superficial : nyeri yang muncul karena rangsangan pada kulit
dan mukosa
2. Visceral : nyeri yang timbul karena simulasi rasa nyeri pada
rongga abdomen, kranium, dan thorax
3. Nyeri alih : nyeri yang di rasakan pada daerah simulasi pada
medulla spinalis jaringan penyebab nyeri.
b. Nyeri sentral nyeri yang muncul akibat stimulasi pada medulla,
spinalis, batang, otak, dan thalamus.
c. Nyeri psikogenik : nyeri yang tidak diketahui penyebab fisiknya,
atau dengan kata lain nyeri ini timbul akibat pikiran si penderita
itu sendiri yang dipengaruhi oleh faktor psikologis bukan
fisiologis.
2.3.4 Manifestasi nyeri menurut Smeltzer (2008)
a. Posisi menghindari nyeri
b. Gangguan tidur (insomnia)
c. Gerakan menghindari nyeri
d. Berhati-hati pada bagian nyeri
e. Pikiran tidak terarah
f. Pucat
g. Perubahan nafsu makan
h. Produksi keringat berlebih
2.3.5 Klasifikasi Nyeri (M.Black & Hawks, 2009)
a. Nyeri Akut
Nyeri Akut disebabkan oleh aktivitas nosiseptor, biasanya
berlangsung dalam waktu yang singkat (kurang dari 6 bulan), dan
memiliki onset yang tiba-tiba, seperti nyeri insisi setelah operasi.
Nyeri jenis ini juga dianggap memliki durasi yang terbatas dan
bisa diduga, seperti nyeri pasca operasi, yang biasanya
28

menghilang ketika luka sembuh. Klien menggunakan bahasa


seperti “tajam”, “tertusuk”, dan “tertembak” untuk
mendeskripsikan nyeri akut. Nyeri akut biasanya reversible atau
bisa dikontrol dengan pengobatan yang adekuat . Nyeri akut
mungkin disertai respon fisik yang dapat diobservasi, seperti (1)
peningkatan atau penurunan tekanan darah, (2) takikardi, (3)
diaforesis, (4) takipnea, (5) fokus pada nyeri dan (6) melindungi
bagian tubuh yang nyeri .
b. Nyeri Kronis
Nyeri kronis biasanya dianggap sebagai nyeri yang
berlangsung lebih dari 6 bulan (atau 1 bulan lebih dari normal di
masa-masa akhir kondisi yang menyebabkan nyeri) dan tidak
diketahui kapan akan berakhir kecuali jika terjadi penyembuhan
yang lambat, seperti pada luka bakar. Nyeri kronis dapat dimulai
sebagai nyeri akut atau penyebabnya dapat sangat tersembunyi
sehingga individu tidak mengetahui kapan nyeri tersebut pertama
kali muncul. Lamanya nyeri kronis dihitung bedasarkan nyeri
yang dirasakan dalam hitungan bulan atau tahun, bukan menit
atau jam. Klien dengan nyeri kronis mungkin mengalami nyeri
yang lokal atau menyebar serta terasa ketika disentuh, beberapa
terasa nyeri di titik yang dapat diprediksi, namun hanya disertai
sedikit temuan fisik. Jenis nyeri kronis :
1. Nyeri kronis persisten
Nyeri yang persisten merupakan pencampuran yang
kompleks dari manifestasi fisik dan psikologis. Biasanya
ditangani dengan pemberian intervensi secara fisik maupun
psikologis.
2. Nyeri kronis intermiten
Nyeri intermiten (hilang-timbul) mengacu pada eksaserbasi
atau kekambuhan kondisi kronis. Nyeri muncul pada periode
tertentu; diwaktu yang lain, klien tidak merasakan nyeri.
29

Kondisi tipikal ini biasanya termasuk migrain dan sakit


kepala kluster, krisis sel sabit, dan nyeri abdomen intermiten
yang dikaitkan dengan gangguan gastrointestinal yang kronis,
seperti sindrom iritasi bowel dan penyakit Chron.
3. Nyeri kronis malignan (terkait kanker)
Nyeri malignan dianggap sebagai nyeri hebat, baik nyeri akut
maupun kronis. Masing-masing tipe dari nyeri ini dapat
diatur dengan baik oleh strategi tipe khusus untuk menangani
nyeri tersebut. Oleh karena itu, perawat perlu mengkaji
secara cermat setiap tipe nyeri dan menanganinya secara
tepat.
2.3.6 Mekanisme Nyeri
Secara keilmuan, nyeri (pengalaman yang subjektif)
terpisah dan berbeda dan istilah nosipepsi. Nosisepsi merupakan
ukuran kejadian fisiologis. Nosisepsi merupakan sistem yang
membawa informasi mengenai peradangan, kerusakan, atau
ancaman kerusakan pada jaringan ke medulla spinalis dan otak.
Nosispesi biasanya muncul tanpa ada rasa nyeri dan berada di alam
bawah sadar. Terlepas dari nosisepsi memicu nyeri dan dan
perasaan tidak nyaman, sistem ini merupakan komponen yang
penting dari sistem pertahanan tubuh. (M.Black & Hawks, 2009)
2.3.7 Sumber Nyeri
Terdapat beberapa metode untuk mengklasifikasi nyeri ,
salah satunya adalah mengklasifikasi berdasarkan etiologi, baik
nyeri nonsiseptif ataupun neuropati. Nyeri nosiseptif disebabkan
aktivitas reseptor nyeri yang berlangsung , di salah satu bagian
permukaan atau dalam jaringan pada tubuh , terdapat tiga sumber
untuk nyeri jenis ini. (M.Black & Hawks, 2009)
30

2.3.8 Faktor yang mempengaruhi nyeri (M.Black & Hawks, 2009)


a. Persepsi nyeri
Persepsi nyeri atau interprestasi nyeri, merupakan komponen
penting dalam pengalaman nyeri. Oleh karena kita menerima dan
menginterprestasikan nyeri berdasarkan pengalaman individual
kita masing-masing, nyeri juga dirasakan berbeda pada tiap
individu. Persepsi nyeri tidak hanya bergantung pada derajat
kerusakan fisik. Baik stimulus fisik maupun fackor psikososial
dapat mempengaruhi pengalaman kita akan nyeri. Walaupun
beberapa ahli setuju mengenai efek spesifik dari faktor-faktor ini
dalam mempengaruhi persepsi nyeri: kecemasan, pengalaman,
perhatian, harapan, dan arti dibalik situasi pada saat terjadinya
cidera. Fungsi kognitif seperti distraksi, juga memberikan
pengaruh pada tingkat kegawatan dan kualitas pengalaman nyeri.
b. Faktor sosiobudaya
Ras, budaya, dan etnik merupakan faktor penting respon
individu terhadap nyeri. Factor-faktor ini mempengaruhi seluruh
respon sensori, termasuk respon terhadap nyeri. Kita belajar
bagaimana respon nyeri dan pengalaman lainnya dari keluarga
dan kelompok etnik.
c. Usia
Usia dapat mengubah persepsi dan pengalaman nyeri.
Terdapat beberapa variasi dalam batas nyeri yang dikaitkan
dengan kronologis usia, namun tidak ada bukti terkini
berkembang secara jelas. Individu dewasa mungkin tidak
melaporkan adanya nyeri karena takut bahwa hal tersebut
mengindikasikan diagnosis yang buruk.
31

2.4 Konsep aromaterapi


2.4.1 Pengertian
Aromaterapi adalah terapi atau pengobatan dengan
menggunakan bau-bauan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan,
bunga, pohon, yang berbau harum dan enak. ( Crag Hospital,2013).
Aromaterapi dapat juga didefinisikan sebagai penggunaan terkendali
esensial tanaman untuk tujuan terapeutik (Posadzki et al, 2012).
Mekanisme kerja perawatan aromaterapi dalam tubuh manusia
berlangsung melalui dua sistem fisiologis, yaitu sirkulasi tubuh dan
sistem penciuman. Wewangian dapat mempengaruhi kondisi psikis,
daya ingat, dan emosi seseorang.
2.4.2 Jenis-jenis aromaterapi (Craig hospital,2013)
a. Lemon
Membantu mengurangi stress dan anti depresi, meningkatkan
mood dan membantu rileks pikiran perasaan segar.
b. Vanilla
Dengan aroma lembut dan hangat mampu menenangkan pikiran.
c. Bunga melati (jasmine)
Sebagai aphrodisiacsensual untuk merangsang dan menciptakan
suasana romantis.
d. Thyme
Untuk mencegah flu,demam,detoksifikasi racun, mencegah
infeksi, meredakan hidung tersumbat alerga sinus
2.4.3 Mekanisme aromaterapi (Craig hospital,2013)
Bau-bauan tersebut masuk ke hidung dan berhubungan
dengan silia. Reseptor di silia mengubah bau tersebut menjadi
impuls listrik yang dipancarkan ke otak dan mempengaruhi bagian
otak yang berkaitan dengan mood (suasana hati), emosi, ingatan, dan
pembelajaran (Tara, 2005). Aromaterapi didasarkan pada teori
bahwa inhalasi atau penyerapan minyak esensial memicu perubahan
dalam sistem limbik. Bagian dari otak yang berhubungan dengan
32

memori dan emosi. Hal ini dapat merangsang respon fisiologis


saraf, endokrin atau sistem kekebalan tubuh, yang mempengaruhi
denyut jantung, tekanan darah, pernafasan, aktifitas gelombang otak
dan pelepasan berbagai hormon diseluruh tubuh.
Efeknya pada otak dapat menjadikan tenang atau merangsang
sistem saraf, serta mungkin membantu dalam menormalkan sekresi
hormon. Menghirup minyak esensial dapat meredakan gejala
pernafasan, sedangkan aplikasi lokal minyak yang diencerkan dapat
membantu untuk kondisi tertentu. Pijat dikombinasikan dengan
minyak esensial memberikan relaksasi, serta bantuan dan rasa nyeri.
(Hongratanaworakit,2004).
2.4.4 Teknik pemberian aromaterapi (Craig hospital,2013)
Teknik pemberian aromaterapi bisa digunakan dengan cara:
a. Inhalasi
Inhalasi merupakan salah satu cara yang diperkenalkan dalam
penggunaan metode aromaterapi yang sederhana dan cepat.
Aromaterapi masuk dari luar ke dalam tubuh dengan satu tahap
yang mudah, yaitu lewat paru-paru di alirkan ke pembuluh
melalui alveoli. Inhalasi sama dengan metode penciuman bau,
dimana dapat dengan mudah merangsang olfactory pada setiap
kali bernafas dan tidak akan mengganggu pernafasan normal
apabila mencium dan psikologis konsumen. Cara ini biasanya
terbagi menjadi langsung dan inhalasi tidak langsung inhalasi
langsung diperlakukan secara individual, sedangkan inhalasi
tidak langsung dilakukan bersama-sama dalam satu ruangan.
b. Message/pijat
Melalui pemijatan, daya penyembuhan yang terkandung
minyak esensial bisa menembus melalui kulit dan dibawa ke
dalam tubuh, kemudian akan mempengaruhi jaringan internal
dan organ-organ tubuh. Minyak esensial berbahaya jika
dipergunakan langsung ke kulit, maka dalam penggunaannya
33

harus dilarutkan dulu minyak dasar seperti minyak zaitun,


minyak kedelai dan minyak tertentu lainnya.
c. Kompres
Panas atau dingin yang mengandung minyak esensial dapat
digunakan untuk nyeri otot dan segala nyeri, memar dan sakit
kepala. Penggunaan melalui proses kompres membutuhkan
sedikit minyak aromaterapi. kompres hangat dengan minyak
aromaterapi dapat digunakan untuk menurunkan nyeri punggung
dan nyeri perut.
d. Perendaman
Cara ini efek minyak eseensial akan membuat perasaan (secara
psikologis dan fisik) menjadi rileks, serta dapat menghilangkan
nyeri dan pegal memberikan efek kesehatan.
2.4.5 Manfaat aromaterapi (Craig hospital,2013)
a. Meringkatkan pikiran dan mengurangi stress
b. Meningkatkan kekebalan tubuh baik secara jasmani maupun
rohani
c. Membangkitkan semangat
d. Membersihkan racun dalam tubuh
e. Peningkatan memori jangka panjang
f. Pencegahan rambut rontok
g. Mencegah insomnia
2.4.6 Penatalaksanaan (Haryono, 2012)
a. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
b. Mempercepat penyembuhan.
c. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti
sebelum operasi.
d. Mempertahankan konsep diri pasien.
e. Mempersiapkan pasien pulang.
34

2.4.7 Bentuk - Bentuk Aromaterapi (Craig hospital,2013)


a. Minyak Essensial Aroma Terapi /Essential Oil Aroma Therapy
Sesuai dengan namanya, aromaterapi jenis ini berbentuk
cairan/minyak. Penggunaannya bermacam-macam, dipanaskan
pada tungku (tungku listrik aroma terapi atau tungku lilin aroma
terapi), dioleskan pada kain, dioleskan pada bola lampu dan
dioleskan pada saluran udara.
b. Dupa Aroma Terapi/ Stick Incense Aromatherapy/
Dupa tidak hanya digunakan untuk kegiataan keagamaan
tertentu, kini bentuk dupa pun menjadi salah satu bentuk
aromaterapi. Dengan bentuk yang padat, sehingga tidak perlu
takut tumpah. Hanya saja karena jenis aromaterapi ini berasap,
aromaterapi jenis dupa lebih tepat digunakan untuk ruangan
yang besar atau di ruangan terbuka. Jenis dupa aromaterapi
sendiri saat ini ada 3 jenis, yaitu berupa dupa aromaterapi
panjang, dupa aroma terapi pendek dan dupa aromaterapi
berbentuk kerucut.
c. Lilin Aroma Terapi / Candle Aroma Therapy
Berkaitan dengan aromaterapi ada 2 jenis lilin yang
digunakan, lilin untuk pemanas tungku dan lilin aroma terapi.
Lilin yang digunakan untuk memanaskan tungku aroma terapi
tidak memiliki wangi aroma terapi karena fungsinya adalah
memanaskan tungku yang berisi aroma terapi essential oil.
Sedangkan lilin aromaterapi adalah lilin yang jika dibakar akan
mengeluarkan wangi aromaterapi.
d. Minyak Pijat Aroma Terapi/ Message Oil Aroma Therapy
Menggunakan minyak esensial aromatic dikombinasikan
dengan minyak dasar dapat menenangkan atau merangsang,
tergantung pada minyak yang digunakan. Pijat minyak esensial
dapat diterapkan ke erea masalah tertentu keseluruh tubuh.
35

e. Garam Aroma Terapi / Bath Salt Aromatherapy


Mandi menggunakan air garam hangat mampu mengeluarkan
toksin/racun yang ada di dalam tubuh. Dengan garam aroma
terapi suasana mandi air garam anda akan lebih menyenangkan.
Untuk menggunakan garam aroma terapi ini sebaiknya anda
mandi dengan cara berendam atau bisa juga digunakan untuk
merendam bagian tubuh tertentu seperti telapak kaki untuk
mengurangi rasa lelah anda.
f. Sabun Aroma Terapi / Soap Aroma Therapy
Sabun dengan aroma terapi, bentuknya yang saat ini beredar
adalah berupa sabun padat namun dengan berbagai wangi aroma
terapi, tidak hanya wangi saja namun berbagai kandungan/
ekstrak dari tumbuh-tumbuhan dibenamkan di dalam sabun ini
sehingga sabun ini juga baik untuk kesehatan tubuh, seperti
menghaluskan kulit, menjauhkan serangga dan lainnya.
2.4.8 Manajemen Nyeri dengan Aromaterapi Lemon
Aromaterapi lemon merupakan jenis aroma terapi yang dapat
digunakan untuk mengatasi nyeri dan cemas. Zat yang terkandung
dalam lemon salah satunya adalah linalool yang berguna untuk
menstabilkan sistem saraf sehingga dapat menimbulkan efek tenang
bagi siapapun yang menghirupnya (Wong, 2010).
Cara kerja bahan aromaterapi adalah melalui sistem sirkulasi
tubuh dan indera penciuman, dimana bau merupakan suatu molekul
yang mudah menguap apabila masuk ke rongga hidung melalui
pernafasan. Melalui penghirupan pada aromaterapi, sebagian
molekul-molekul akan masuk ke paru, kemudian molekul aromatik
akan diserap oleh lapisan mukosa pada saluran pernafasan, baik pada
bronkus atau pada cabang halus (bronchiole) dan terjadi pertukaran
gas didalam alveoli. Molekul tersebut akan diangkut oleh sistem
sirkulasi darah didalam paru. Pernafasan yang dalam akan
meningkatkan jumlah bahan aromatik yang ada ke dalam tubuh.
36

Minyak aromaterapi lemon mempunyai kandungan limeone (Young,


2011).
Limeone adalah komponen utama dalam senyawa kimia jeruk
yang dapat menghambat sistem kerja prostaglandin sehingga dapat
mengurangi nyeri dan mengurangi rasa sakit. Aromaterapi ini
bermanfaat untuk mengurangi ketegangan otot yang akan
mengurangi tingkat nyeri. Sebagian besar obat penghilang rasa sakit
dan obat antiinflamasi mengurangi rasa sakit dan peradangan dengan
mengendalikan enzim ini. Bisa disimpulkan bahwa limeono dalam
lemon (cytrus) akan mengontrol prostagladin dan mengurangi rasa
nyeri (Namazi, dkk., 2014). Wong juga mengatakan zat yang
terdapat dalam lemon adalah salah satunya zat linalool yang berguna
untuk menstabilkan system saraf sehingga dapat menimbulkan efek
tenang bagi siapapun yang menghirupnya (Kozier & Berman, 2010)
Aromaterapi diberikan setelah tindakan operasi dilakukan selama 2
hari, dan diterapkan 2 kali sehari dengan skala nyeri pasien 3-5
selama 5-10 menit.
Berdasarkan hasil penelitian (fadhla purwandari, 2013)
tentang “efektifitas terapi aroma lemon terhadap penurunan skala
nyeri pada pasien post laparatomi”, yang telah dilakukan terhadap 30
responden diperoleh rata-rata skala nyeri pada kelompok eksperimen
setelah menghirup aroma lemon lebih rendah dibandingkan rata-rata
skala nyeri sebelum menghirup aroma lemon. Sedangkan dari hasil
penelitian (El Rahmayati, 2018) didapatkan perbedaan nyeri
sebelum diberikan aromaterapi lemon adalah 5,25 dan setelah
diberikan aromaterapi lemon adalah 4,00 pada pasien post operasi
laparatomi.