Anda di halaman 1dari 2

Ambon Manise

10-Jun-18, 00:54

Depoedu.com - Perjalanan kali ini, Tuhan membawa saya ke satu kepualauan, yaitu Kepulauan Maluku., khususnya
ke Kota Ambon. Ambon adalah ibu kota Provinsi Maluku. Dahulu Ambon dikenal sebagai daerah penghasil
rempah-rempah terbaik dunia. Sampai sekarang pun masih. Selain penghasil rempah-rempah, Ambon juga dikenal
lewat keindahan alamnya yang begitu memukau bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Kota Ambon terletak di daerah datar, dikelilingi oleh Teluk Ambon yang indah, yang didukung oleh pegunungan
hijau subur dan menghadap ke lautan jernih nan biru. Kota Ambon juga dikenal sebagai "Ambon Manise" yang
berarti Ambon itu manis atau cantik. Nama ini dikarenakan keindahan alam Ambon yang menawan dan keramahan
orang-orang Ambon.

Kami, rombongan guru-guru Santa Ursula berangkat dari Bandar Udara Sukarno Hata dengan flight Garuda
Indonesia GA646. Tiba di Banda Udara Internasional Pattimura pada pukul 13.00 WITA. Bandara ini melayani
kedatangan dalam dan luar negeri. Dengan luas landasan 2.500 m² untuk dalam negri dan luar negeri dengan luas
landasan 400 m2 relatif kecil jika dibandingkan dengan Bandar Udara Sukarno Hatta. Bandara ini berjarak 38
kilometer dari Kota Ambon dikelilingi oleh lautan yaitu di sebelah Utara Laut Seram, Selatan Laut Banda, dan
Timur Laut Arafura.
Setiba di Ambon, kami langsung menuju Pantai Pintu Kota. Pantai ini merupakan salah satu yang paling dikenal di
Ambon. Pantai ini merupakan pantai jurang yang curam dengan kemiringan sekitar 80 derajat. Pantai Pintu Kota
merupakan pantai berbentuk teluk dengan batu-batu karang tajam yang indah. Pantai satu ini tidak memiliki bibir
pantai dan pasir, tetapi kita bisa menemukan keindahannya dalam keeksotisan yang mungkin jarang kita temukan di
pantai lainnya. Hal yang paling unik dan dikenal dari Pantai Pintu Kota ini adalah adanya sebuah karang bolong
berbentuk seperti gerbang atau pintu. Celah karang besar tersebut terbentuk akibat dari adanya benturan air laut yang
keras selama bertahun-tahun. Hal tersebut ternyata membuat karang menjadi terkikis, bahkan menimbulkan sebuah
lubang besar. Bagi para penyuka wista laut, bisa menmukan spot diving yang sangat indah di lokasi ini. Spot
divingnya dikenal memiliki keindahan yang bisa membuai para diver sekalian yang memang hobi menikmati
keindahan bawah laut. Keindahannya yang menawan dan keunikannya yang begitu eksotis membuat banyak orang
tertarik datang berkunjung.

Saya bukan penyuka kegiatan ekstrim di laut. Jadi cukup untuk saya menikmati indahnya Pantai Pintu Kota sambil
minum teh panas dengan pisang dan sukun goreng panas. Sesungguhnya perut saya sangat lapar karena kami
rombongan tidak mendapatkan makan siang begitu kami turun di bandara dari penyelenggara tour kami. Sepertinya
agent tour ingin cepat kaya sehingga membiarkan kliennya tidak makan siang. Bahkan air mineral pun kami tak
mendapatkannya. Akhirnya kami, di bis satu mampir di jalan untuk membeli air mineral dengan kocek sendiri.
Meski menikmati pantai ini dengan perut kelaparan dan hati dongkol kepada agent tour yang pelayanannya parah
sekali, tetapi tak sedikit pun mengurangi keeksotisan pantai ini. Pantai Pintu Kota ini terletak di Dusun Airlouw,
Kecamatan Nusaniwe, Ambon. Dengan titik awal keberangkatan dari pusat kota Ambon, kita akan menempuh
perjalanan selama kurang lebih 45 sampai dengan 60 menit menuju ke pantai indah nan menawan ini.

Pantai Pintu Kota tidak terlalu aman untuk dijadikan lokasi berenang. Karena bagian bibir pantai yang berpasir
hanya sedikit saja dan pantainya memiliki karang dengan batu yang tajam. Arus air laut di kawasan Pantai Pintu
kota pun sangat kencang, dengan gelombang ombak tinggi. Gugusan bebatuan karang yang berada di sekitar karang
berlubang besar Pintu Kota yang menjadi daya tarik kuat. Lokasi ini banyak dijadikan sebagai tempat favorit untuk
berfoto.

Beberapa teman saya tidak turun ke pantai karena jalan untuk menuju ke pantai berupa tangga semen yang cukup
curam, terutama bagi orang yang bermasalah dengan lutut. Namun, saya ingin menikmati keindahan pantai dan
karang di Pantai Pintu Kota karena itulah saya turun. Saat turun di pantai pun perlu berhati-hati karena tempat
berpijak di sekitar pantai di dominasi oleh batu- batu yang cukup tajam. Jadi diperlukan kewaspadaan saat
melangkahkan kaki di antara bebatuan.

Di lokasi pantai terdapat pondok-pondok untuk tempat berteduh dan beristirahat sambil memesan cemilan. Di
sekitar pantai ditumbuhi pepohonan yang cukup besar membuat kawasan ini cukup rimbun. Pantainya mirip dengan
Pulau Bunaken, rimbun dengan pepohonan. Pantai Pintu Kota. Itulah destinasi kami pertama di Ambon.
Mengesankan, meskipun dinikmati tanpa makan siang.

Destinasi kedua kami adalah Pantai Namalatu. Tak begitu banyak aktivitas yang kami lakukan, kecuali swafoto atau
foto bersama. Hari mulai menuju sore. Pengaruh perut kosong yang belum diisi makan siang mempengaruhi juga
gairah peserta rupanya. Di jalan menuju pantai ini banyak penjual pisang goring. Jadilah kami memborong pisang
goring yang harum, manis, dan renyah.
Hari kedua kami berada di Kota Ambon. Hari ini, Minggu 13 mei 2018. Acara kami setelah sarapan di Hotel, kami
mengikuti Ekaristi di Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Ambon. Seperti pada umumnya banguna gereja besar
seperti katedral , selalu mempunyai aura keagungan tersendiri. Demikian pua dengan Katedral Santo Fransiskus
Xaverius, Ambon ini. Bangunan ini terletak di Jalan Patimura, Kota Ambon. Bangunan ini klasik dan masih terawat
serta megah, tepatnya agung. Di halaman samping gereja ada relief yang mengisahkan tentang awal mula misionaris
tiba di Ambon, termasuk para misionaris yang tewas terbunuh oleh tentara Jepang pada Perang Dunia II, hingga
siapa Uskup Ambon sekarang ini.

Selesai Misa kami menuju luar kota untuk menuju Desa Morela. Destinasi kami berikutnya ke Pantai Liang. Setelah
itu kami pergi untuk menyaksikan atraksi Bambu Gila di Desa Hila. Di desa ini pula kami mengunjungi salah satu
benteng peninggalan penjajah Belnda di Ambon yang dibangun pada tahun 1512. Benteng Amsterdam itulah
namanya. Benteng ini berbentuk layaknya rumah biasa yang terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama menjadi tempat
tidur para prajurit. Lantai kedua digunakan sebagai ruang pertemuan dan lantai ketiga adalah pos pemantau. Selain
dari lantai tiga bangunan utama, masih ada sebuah menara yang juga digunakan untuk memantau keadaan sekitar.
Sayang keadaan di dalam benteng kurang terawatt dan bau asap rokok.

Hari ketiga ke Pulau Ela. Sebelum menuju ke sana, kami mampir dulu di Desa Larike untuk melihat belut morea.
Belut raksasa ini, dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Desa Larike, Desa ini terkenal hingga mancanegara
dengan habitat alami dari "Morea" atau Belut Raksasa, yang hidup alami di sungai, belut ini tidak dimakan oleh
masyarakat setempat karena dianggap keramat oleh mereka, belut yang jumlahnya hingga ratusan ekor itu hidup
alami di sepanjang sungai yang jernih, berkembang biak di bawah bebatuan sungai, dan diberi makan ikan oleh
warga setempat maupun turis yang datang berkunjung untuk melihat dan bermain-main dengan belut raksasa
tersebut, Morea atau belut ini sangatlah jinak, hingga sebagian orang mencoba mengangkatnya meski tubuhnya yang
licin seringkali membuat mereka yang mengangkatnya kerepotan.

Setelah selesai bermain dengan Morea, kami melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan keluar dari Desa Larike,
kami melihat dan singgah sejenak di "Batu Layar". Dua buah batu (tepatnya karang) setinggi kurang lebih 5 meter
yang terletak di pinggir pantai, yang jika dilihat dari kejauhan, layaknya layar dari sebuah kapal.

Akhirnya kami sampai di penyebrangan untuk menuju Pulau Nusa Ela. Keindahan PulauTig3 kerap disejajarkan
dengan Maldives. Kawasan ini memang masih belum seramai Pulau Dewata, itulah yang menyebabkan keindahan
Pulau Tiga masih begitu terjaga dari tangan-tangan manusia. Di Pulau Tiga memang tidak banyak fasilitas
akomodasi yang bisa kita temukan. Satu-satunya resort yang paling terkenal di Pulau Tiga adalah Nusa Ela Resort.
Sebagai satu-satunya penginapan yang ada di kawasan Pulau Tiga, tak heran jika Nusa Ela Resort memasang tarif
yang cukup mahal untuk tempat dan pelayanan mereka.

Hari terakhir di Ambon, tak ada yang kami tuju secara spesifik. Pada buku acara tercantum ada kunjungan ke Gua
Maria Airlouw. Namun, secara sepihak, agen perjalanan meniadakannya dengan alasan jalannya terlalu kecil.
Dugaan saya ini agen tidak mau repot dan tidak mau keluar uang. Akhirnya kami berputar-putar di pasar tradisional
yang kata Andre, kernet bis I itu sangat rawan copet.

Dari banyak ketidakpuasan dalam perjalanan kali ini, kami tetap bersyukur dan bergembira karena atas kebersamaan
kami sebagai keluarga besar. Kami bersyukur atas tanah air kami, Indonesia tercinta. (Ch. Enung Martina)

Tags: #ambon manise, #propinsi maluku